Anda di halaman 1dari 25

PERUBAHAN PERILAKU PADA MASYARAKAT PULAU PENYENGAT

NASKAH PUBLIKASI
Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana

MUHAMMAD MAULANA
NIM : 100569201028

JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNG PINANG
2015

SURAT PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

Muh
HM M.Ed
N1DN. 10 l 058007

Siti Arleta, MA
NI:DN. 1006048303

Yang bertanda tangan dibawah ini adalah Dosen Pembimbing


Skripsi rnahasiswa yang disebut dibawah ini:

Nama

: MUHAMMAD MAULANA

NIM

: 100569201028

Jurusan/Prodi : Sosiologi
Alamat

: Jin. Megat Ali km 10 Perum Mutiara bintan Blok I, No. 35- Tanjungpinang

Nomor TELP : 081325547744


Email

: nuthammad.maulanasr(4gmail.com

Judul Naskah : PERLTBAHAN PERILAKU PADA MASYARAKAT


PULAU PENYENGAT
Menyatakan bahwa judul tersebut sudah sesuai dcngan aturan tats tulis naskah ilmiah dan
untuk dapat diterbitkan.

Tanjungpinang, 2 Agustus 2015


Yang menyatakan,
Dosen Pembimbing 1

Dosen Pembimbing II

Perubahan Perilaku Pada Masyarakat Pulau Penyengat

Muhammad Maulana
Mahasiswa Sosiologi, FISIP UMRAH, Muhammad.maulanasr@gmail.com
Siti Arieta M.A
Dosen Sosiologi, FISIP UMRAH,
Muhammad Yusuf HM, M.Ed
Dosen Sosiologi, FISIP UMRAH,
Abstrak
Pulau Penyengat pada saat ini telah dijadikan daerah wisata unggulan kota Tanjungpinang
yang telah tercantum dalam peraturan walikota no. 23 tahun 2015 dan menjadi cagar budaya oleh
kementrian budaya dan pariwisata no. 14 tahun 2014. Untuk itu tidak terlepas pula peran
masyarakat Pulau Penyengat dalam mensukseskan Pulau Penyengat sebagai daerah wisata, pada
saat ini masyarakat Pulau Penyengat mengalami suatu perubahan sosial, ekonomi, maupun
perilaku atau kebiasaan dalam kehidupan kesehariannya baik perubahan untuk lebih baik maupun
perubahan yang bersifat kemunduran pada masyarakat Pulau Penyengat itu sendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perubahan yang terjadi pada
masyarakat Pulau Penyengat. Alasan peneliti memilih objek penelitian ini dikarenakan Pulau
Penyengat merupakan bunda tanah melayu yang memiliki potensi adat, budaya, serta banyaknya
terdapat cagar budaya yang memiliki nilai sejarah kerajaan riau lingga dan pada masyarakat Pulau
Penyengat sendiri pula terdapat berbagai perubahan-perubahan dalam kehidupan kesehariannya.
Konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep teori yang dikemukakan oleh
Ferdinan Tonnies tentang perubahan sosial dan kebiasaan, Soejono Soekanto tentang masyarakat
dan Cohen tentang parisiwasa dalam pandangan sosiologis. Teori ini memperkuat analisa
penelitian terhadap Perubahan dalam masyarakat Pulau Penyengat yang telah dijadikan daerah
wisata di Kota Tajungpinang.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik
pengambilan data purposive sampling. Dengan teknik pengumpulan data melalui teknik
wawancara.diharapkan dapat menggali dan memperoleh gambaran lebih dalam mengenai faktafakta yang terjadi dilapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi
pada masyarakat Pulau Penyengat disebabkan oleh faktor eksternal maupun internal pada
masyarakat Penyengat itu sendiri, perubahan tersebut ada yang memiliki sifat kemajuan namun ada
juga perubahan yang memiliki sifat kemunduran, perubahan tersebut tidak begitu memiliki dampak
yang besar terhadap masyarakat Pulau Penyengat namun menjadikan stagnan dalam perkembangan
masyarakat Pulau Penyengat itu sendiri. Hal ini sesuai konsep dalam penelitian ini, terjadinya
perubahan dalam masyarakat lokal pada daerah yang telah dijadikan obyek wisata.
Kata Kunci : Mayarakat Pulau Penyengat, Daerah wisata, Cagar budaya, Perubahan Perilaku ,
Kebiasaan, Obyek wisata Tanjungpinang.

Behavioral Changes In Society Penyengat Island

Muhammad Maulana
Mahasiswa Sosiologi, FISIP UMRAH, Muhammad.maulanasr@gmail.com
Siti Arieta M.A
Dosen Sosiologi, FISIP UMRAH,
Muhammad Yusuf HM, M.Ed
Dosen Sosiologi, FISIP UMRAH,

Abstract
Nowdays Penyengat island have become a top of tour area in Tanjungpinang city that
have been listed in Mayors rule. Number 23 years 2015 and become cultural heritage by culture
and ministry n0.14 years 2014. Therefore being apart from society role in that place, nowdays
Penyengat island society have changed from social changing, economic , as well as their behaviour
in their life such as a good changed or a bad changed from penyengat society island.
This research had to know a changing that happened to Penyengat society. The reason of
this research have to choose researchs object. Because Penyengat island is the mother land of
melayu has culture potential and many more, that have a value history of Riau Lingga Kingdom
and Penyengat society And the changing of cultural life behaviour. The concept of this theory used
in this research expressed by Ferdinan Tonnies about a changing of social and behaviour, Soejono
Soekanto about society and Cohen about tourism in social logic perspective. This theory developes
analitic of research to changed in Penyengat society has become a tourism place in Tanjungpinang
City.
This research used descriptivequalitative method by the technic of data retrieval
purposive sampling. By this technic through by interviews technic be expected to gain perpective
deeper about facts that happened in that situation. This research showed that a changing to
Penyengat society caused by a external as well as internal factor to themselves, the changing have
motivated , however there is a changing that have declined behaviour, that was not have a big
impact to Penyengat society. However become a stagnant progress to themselves. In case this
concept fit in this research happened to the changing of local society there become tourism place.

Keyword : Penyengat Island society, tourism place, cultural heritage, changing behaviour,
behaviour, tourism object in Tanjungpinang.
B AB I
PENDAHULUAN

memanfaatkan potensi yang dimiliki. Ibu


kota Provinsi Kepulauan Riau terletak di
Kota Tanjungpinang yang memiliki 8 obyek

A. Latar Belakang
Provinsi Kepulauan Riau memiliki

wisata

salah

satunya

adalah

Pulau

strategis

Penyengat, Pulau Penyengat merupakan

dikarenakan berbatasan langsung dengan

pulau kecil yang memiliki panjang 2.000

Negara

dan

meter dan lebar 850 meter atau 3,5 km2

Singapura, pada kondisi tersebut sangat

dan berjarak 2 km yang dipisahkan oleh

letak

geografis

yang

tetangga

menguntungkan

sangat

yaitu

Kepulauan

Malaysia
Riau

dalam 3

lautan dari Kota Tanjungpinang.

Dari hasil observasi lapangan (2

mengakibatkan

kevakuman

dalam

Maret 2014) melihat bahwa pada awalnya

organisasi-organisasi tersebut. Dari berbagai

solidaritas

Penyengat

perubahan yang terjadi pada masyarakat

memiliki solidaritas yang sangat kuat hal itu

Pulau Penyengat sehingga peneliti tertarik

dapat dilihat pada kegiatan kerja bakti atau

untuk mengangkat judul Perubahan perilaku

gotong royong setiap bulannya namun

pada masyarakat Pulau Penyengat.

sekarang perlahan baik kegiatan gotong

B. Perumusan Masalah

masyarakat

Pulau

royong maupun budaya gotong royong

Rumusan masalah dalam penelitian ini

semakin memudar bahkan sudah sangat

adalah sebagai berikut :

jarang dilakukan, dimulai dari semakin


berkurangnya masyarakat untuk hadir dalam

Bagaimana perubahan perilaku pada


masyarakat Pulau Penyengat?

kegiatan tersebut hingga bahkan hanya


tinggal beberapa orang saja, Begitu pula hal
nya

dalam

berorganisasi

anggota

C. Tujuan Penelitian

dari

Berdasarkan perumusan diatas,

organisasi tersebut juga kurang antusias

dapat dijabarkan tujuan dan kegunaan yang

dalam menjalani tugasnya masing-masing

ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

hal itu dapat dilihat pada kehadiran dan

untuk mengetahui bagaimana

tindakan pada saat berbagai organisasi

perubahan

tersebut mengadakan rapat akhirnya

masyarakat Pulau Penyengat..

perilaku

pada

D. Kegunaan Penelitian
a. Teoritis
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat
memaparkan keadaan fakta dilapangan
yang

sesuai

dengan

teori

yang

dikemukakan oleh Ferdinan Tonnies


tentang perubahan sosial dan arti dari
kebiasaan yang dilakukan masyarakat.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah pengetahuan tentang kondisi
masyarakat

dalam

permasalahan

perubahan secara sosiologis yang terjadi


pada masyarakat Pulau Penyengat.
b. Praktis

sendiri maupun Pemerintah daerah untuk

Hasil penelitian ini diharapkan berguna

menghadapi perubahan perilaku yang

sebagai rekomendasi dan bahan masukan

terjadi pada masyarakat Pulau Penyengat,

kepada Masyarakat Pulau Penyengat

agar

tercapai

dan

sesuai

dalam

memajukan daerah wisata sejarah dan

bersama. Dalam penelitian ini lebih

religius di Pulau Penyengat yang mana

difokuskan kepada masyarakat

telah dinobatkan sebagai daerah wisata

kelurahan

unggulan

Tanjungpinang

kota

Tanjungpinang

dan

Penyengat

kota

yang

memiliki

perubahan perilaku dalam masyarakat

Provinsi Kepulauan Riau.

pulau Penyengat itu sendiri.

Bagi peneliti, untuk menambah ilmu


pengetahuan serta dapat juga mengetahui
perubahan perilaku pada masyarakat

3. Konsep kewirausahaan

Pulau Penyengat.

Kepariwisataan merupakan segala


sesuatu yang berhubungan dengan
penyelenggaraan

pariwisata,

kepariwisataan juga mencakup wisata,


obyek

wisata,

wisatawan,

dan

pariwisata. Yang mana hal ini


difokuskan

kepada

kepariwisataan

pengaruh

terhadap

perubahan

perilaku masyarakat Pulau Penyengat

E. Konsep Operasional

F. Metode Penelitian

Dalam permasalahan yang akan

1.

Jenis Penelitian

diangkat oleh peneliti yaitu perubahan

Penelitian

adalah

deskriptif

perilaku masyarakat. Maka hal-hal yang

kualitatif Bogdan dan Taylor (dalam

perlu

Moleong, 2010: 4), menjelaskan metode

dioperasionalkan

adalah

sebagai

berikut :
1.

ini

kualitatif merupakan sebuah prosedur

Perubahan perilaku masyarakat

penelitian

yang

deskriptif

berupa

menghasilkan
kata-kata

data

tertulis

maupun lisan dari orang-orang maupun

Perubahan sosial dapat dikatakan

perilaku yang dapat diamati.

sebagai suatu perubahan dari gejalagejala sosial yang ada pada masyarakat,
2.

dari yang bersifat individual sampai

Lokasi Penelitian
Lokasi yang akan digunakan untuk

yang lebih kompleks.

melakukan penelitian ini adalah disalah


2.

Masyarakat

satu

Masyarakat merupakan kumpulan


individu-individu

yang

obyek

wisata

unggulan

kota

Tanjungpinang yaitu Pulau Penyengat.

memiliki

Penentuan lokasi ini dilakukan secara

tempat tinggal yang sama di suatu

purposive (sengaja).

kawasan tertentu dan memiliki tujuan


3. Jenis Data

a.

Data Primer

Data primer merupakan sumber

Teknik penentuan informan yang

data yang diperoleh langsung dari

digunakan

sumber

menggunakan

pertama

(responden).

Data

dalam

penelitian

Purposive

ini

Sampling,

primer di sini diperoleh dari hasil

memilih informan (masyarakat Pulau

wawancara, catatan-catatan penelitian,

Penyengat) yang mengetahui informasi

rekaman dari para informan dari proses

secara mendalam untuk menjadi sumber

Tanya jawab, serta mendengar dan

data sehingga kemungkinan pilihan

melihat.

informan

dapat

berkembang

sesuai

dengan kebutuhan.
b.

Data Skunder
Data sekunder merupakan sumber
data

yang

diperoleh

melalui

5. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

studi

Adapun teknik dan alat pengumpul data

kepustakaan yaitu dari dokumen baik

yaitu berupa observasi, wawancara, dan

literature, laporan-laporan, arsip, data

dokumentasi.

dari penelitian terdahulu dan berbagai


data yang berkenaan dengan penelitian
ini.

Untuk

penelitian

ini

a.

data

Observasi
Dalam

observasi

ini,

sekundernya antara lain bersumber dari

menggunakan

laporan monografi Kelurahan Pulau

(participant observer) di mana peneliti

Penyengat, serta Dinas Pariwisata Kota

benar-benar terlibat dalam keseharian

Tanjungpiang.

informan (Bungin 2007).


b.

4. Populasi Dan Sampel

observasi

peneliti

Wawancara
Wawancara

Sesuai dengan penelitian kualitatif

partisipasi

langsung

tidak menggunakan pendekatan populasi

mendalam

dan sampel, tetapi lebih pendekatan

instrument penelitian berupa pedoman

intensif kepada informan yang akan di

wawancara

jadikan data sebagai bahan penelitian.

terlampir

Dalam

informan

pertanyaan yang sifatnya terbuka agar

merupakan subjek yang menjadi sumber

lebih terarah dengan tujuan dapat

peneliti dalam mendapatkan informasi

menggali informasi yang akurat dari

sebagai data yang diperlukan sesuai

informan (Suyanto, 2008:55).

penelitian

ini

dengan

dan

(interview
yang

menggunakan
guide),

berisikan

dan
daftar

dengan permasalahan dan kebutuhan


peneliti.

c.

Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk
memperoleh

data-data

untuk

melengkapi data primer, yang

berhubungan dengan geografi dan

berbeda

demografi wilayah setempat.

(www.perpustakaancyber.com).

dari

keadaan

sebelumnya.

Adapun perubahan sosial menurut para ahli


adalah :

6. Teknik Analisa Data


Metode yang digunakan dalam

Menurut William F. Ogburn (2006:262)

penulisan ini penulis lebih menitikberatkan

ruang lingkup perubahan-perubahan sosial

pada analisa secara kualitatif. Analisa data

meliputi unsusr-unsur kebudayaan baik yang

kualitatif dilakukan bila data empiris yang

material maupun yang immaterial. Menurut

diperoleh yaitu berupa kumpulan berupa kata

Kingsley Davis (2006:262) Perubahan sosial

telah dikumpulkan dalam berbagai macam

sebagai perubahan-perubahan yang terjadi

bentuk yaitu observasi, wawancara serta

dalam struktur dan fungsi masyarakat.

dokumentasi untuk menganalisa data yang

Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh

diperoleh

Dalam

dalam

dengan

majikan

dari

menganalisa

hasil

penelitian.

data harus

sesuai

hubungan
dan

antara

seterusnya

buruh

dengan

menyebabkan

perspektif ataupun teori yang digunakan,

perubahan-perubahan

bertujuan agar penelitian lebih spesifik dan

ekonomi dan poltik. Menurut Maclver

tidak menyimpang.

(2006:263)

dalam

perubahan

organisasi

sosial

adalah

perubahan dalam hubungan sosial (social


relationships)

BAB II
KERANGKA TEORI

terhadap

Perubahan sosial dapat dilihat dari segi


keseimbangan

sebagai

keseimbangan

perubahan
(equilibrium)

hubungan sosial.

A. Perubahan Perilaku Masyarakat


terganggunya

atau

Adapun Ferdinan Tonnies memandang

diantara

bahwa masyarakat berubah dari masyarakat

kesatuan sosial walaupun keadaan relative

sederhana yang mempunyai hubungan yang

kecil. Perubahan ini meliputi struktur,

erat dan kooperatif, menjadi tipe masyarakat

fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua

yang besar yang memiliki hubungan yang

aspek yang dihasilkan dari interaksi antar

terspesialisasi dan impersonal. Tonnies tidak

manusia,

yakin bahwa perubahan-perubahan tesebut

organisasi,

atau

komunitas,

termasuk dalam hal budaya.


Adanya

selalu membawa kemajuan. Dia melihat

pengenalan teknologi, cara

adanya fragmentasi sosial (perpecahan dalam

mencari nafkah, migrasi, pengenalan ide

masyarakat), individu menjadi terasing, dan

baru, dan munculnya nilai-nilai sosial yang

lemahnya

lama merupakan beberapa contoh perubahan

langsung dari perubahan sosial budaya

sosial dalam aspek kehidupan. Dengan kata

kearah individualisasi. Ferdinand Tonnies

lain, perubahan sosial merupakan suatu

terkenal akan teorinya yang dinanamakan

perubahan menuju keadaan baru yang

gemeinschaft

ikatan

dan

sosial

sebagai

gellschaft,

gemeinschaft diasosiasikan sebagai

akibat

dimana

kelompok

atau

asosiasi

sedangkan

orang lain. Menurut Ferdinand Tonnies

gellschaft diartikan masyarakat. Menurut

kebiasaan mempunyai arti, yaitu sebagai

tonnies, gemeinschaft merupakan situasi

berikut:

yang

aspirtif,

menunjukan pada suatu kenyataan yang

memiliki peran dan terkadang sebagai

bersifat objektif. Misalnya, kebiasaan untuk

kebiasaan asal yang mendominasi kekuatan

bangun pagi, kebiasaan untuk tidur siang

sosial. Gemeinschaft lahir dari

dalam

hari, kebiasaan untuk minum kopi sebelum

gesellschaft

mandi dan lain-lain. Artinya adalah, bahwa

berorientasi

individu.

pada

nilai,

Sedangkan

Kebiasaan

dalam

arti

yang

merupakan sebuah konsep yang menunjuk

seseorang

biasa

pada hubungan angota masyarakat yang

perbuatan

tadi

memiliki ikatan yang lemah, kadangkala

kemudian kebiasaan dalam arti kebiasaan

antar individu tidak saling mengenal nilai,

tersebut dijadikan kaidah bagi seseorang,

norma, dan sikap menjadi kurang berperan

yang diciptakannya untuk dirinya sendiri.

dengan baik, biasanya gesellschaft lebih

Dalam hal ini, orang yang bersangkutanlah

cenderung kepada perubahan mikro atau

yang menciptakan suatu prilaku bagi dirinya

perubahan yang bersifat kecil. (Nanang

sendiri. Dan kebiasaan dalam arti sebagai

Martono, 2011:53).

perwujudan kemauan atau keingginan untuk

Menurut
kebudayaan
mencangku

E.B

Tylor

adalah

(2003:50),

kompleks

pengetahuan,

melakukan
dalam

cara

perbuatanhidupnya,

berbuat sesuatu.

yang

Jadi, kebiasaan tersebut menunjukan

kepercayaan,

pada suatu gejala bahwa seseorang di dalam

kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan

tindakan-tindakannya

lain

serta

melaukan hal-hal yang teratur baginya.

didapapatkan

Kebiasaan-kebiasaan yang baik akan diakui

oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

serta dilakukan pula oleh orang-orang lain

Adapun Selo Soemardjan dan Soelaeman

yang bermasyarakat.

kemampuan-kemampuan

kebiasaan-kebiasaan

merumuskan

yang

kebudayaan

sebagai

selalu

inggin

hasil

karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya

B. Masyarakat (community)

masyarakat menghasilkan teknologi dan

Berkenaan dengan definisi masyarakat

kebudayaan kebendaan atau kebudayaan

tidak terlepas dari ciri-ciri masyarakat itu

jasmaniah

sendiri, adapun menurut Santoso (2006:84)

(material

culture)

yang

diperlukan oleh manusia untuk menguasai

masyarakat

alam

serta

berbagai hal, misalnya ada masyarakat yang

hasilnya dapat diabadikan untuk keperluan

hanya terdiri dari 2/3 keluarga yang saling

masyarakat. (Soerjono, 2006:151).

tergantung. Masyarakat sangat dispealisasi,

sekitarnya

agar

kekuatan

Kebiasaan merupakan cara bertindak


seseorang

anggota

masyarakat

sangat

berbeda-beda

dalam

artinya para anggota hanya bergerak di

yang

dalam lapangan yang terbatas dari aktivitas

kemudian diakui dan mungkin diikuti oleh

produktif. Akan tetapi, ada pula masyarakat

yang bergerak lebih luas dari aktivitas

dalam kehidupan masyarakat Melayu yaitu

produktif.

berbahasa Melayu, beradatistiadat Melayu,


dan beragama Islam.
C. Konsep Pariwisata
Begitu

luasnya

aspek-aspek

yang

termasuk dalam pariwisata, menyebabkan


begitu banyaknya hal-hal yang memerlukan
kajian sosiologis. Dari banyaknya aspek
yang dapat dikaji, Cohen (1984) dalam (I
Gde Pitana, 2005: 50) mengelompokannya
dalam 4 wilayah kajian yaitu :
a.

Wisatawan

b.

Hubungan antara wisatawan dengan


masyarakat lokal

c.

Struktur dan fungsi sistem pariwista

d.

Dampak-dampak pariwisata
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI
PENELITIAN

A. Gambaran Umum Kelurahan


Penyengat
1. Gambaran Umum Perilaku Masyarakat
Pada abad ke-18 (delapan belas)
Pulau Penyengat merupakan pusat kerajaan
Melayu Riau Lingga sehingga pada saat ini
mayoritas masyarakat Penyengat merupakan
suku Melayu dan berbahasa Melayu dalam
kehidupan sehari-hari, sedangkan Agama
Islam yang telah lama menjiwai kebudayaan
Melayu

menjadi

ketentuan-ketentuan

ukuran,
yang

nilai-nilai,

menyelaraskan

tindakan-tindakan atau perilaku penduduk


setiap hari. Sehingga terkenal istilah adat
bersendikan

syara,

syara

bersendikan

Kitabullah (Al Quranil Azim), hal ini terkait


dengan adanya tiga prinsip pokok

Kegiatan

kemasyarakatan

organisasi sosial juga berjalan dengan baik

dilakukan oleh masyarakat dengan cara

dan

bergotongroyong bersama, sistem gotong-

dinamis

karena

menerapkan

azas

kepentingan bersama.

royong ini merupakan salah satu tradisi


2. Penduduk dan mata pencaharian

budaya yang seharusnya dipertahankan dan


tetap terjaga dengan baik. kehidupan sosial

Penduduk adalah orang-orang yang

masyarakat Pulau Penyengat sangat baik hal


ini

dapat

dilihat

dari

berada di dalam suatu wilayah yang terikat

kehidupan

oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling

bermasyarakat, saling tolong menolong,

berinteraksi satu sama lain secara terus

sopan santun, ramah tamah dan memiliki

menerus. Dalam sosiologi, penduduk adalah

respon yang baik terhadap pengunjung yang


datang

Musyawarah

mufakat

kumpulan manusia yang menempati wilayah

dalam

geografi dan ruang tertentu. Maka dari itu,

mengambil keputusan untuk kepentingan

penduduk merupakan faktor yang sangat

bersama juga terlihat pada saat diadakan

penting dalam menunjang pembangunan

pertemuan antar warga di RT, RW, dan

disuatu

lingkungan tempat tinggal lainnya. Kegiatan

daerah,

tidak

terkecuali

pada

masyarakat di Pulau Penyengat.

Pada tahun 1989 jumlah penduduk

masyarakat

Penyengat

yang

dapat

penyengat sebanyak 2.026 jiwa namun pada

meningkatkan kualitas hidup masyarakat di

tahun 2014 pertumbuhan penduduk pada

Kelurahan Penyengat untuk jauh dari angka

masyarakat Pulau Penyengat mengalami

buta huruf, perubahan perilaku, maupun

penambahan tidak begitu signifikan atau

perubahan ekonomi pada generasi Pulau

masih tergolong normal yaitu dengan jumlah

Penyengat.

2.628 jiwa dengan perbandingan kelahiran

Setelah pendidikan tentunya mata

dan kematian, dengan luas wilayah Pulau

pencarian tidak kalah pentingnya dalam

Penyengat yang memiliki panjang 2.000

pembangunan dan kesejahteraan ekonomi

meter dan lebar 850 meter maka jumlah

dalam masyarakat Pulau Penyengat, Mata

penduduk Penyengat juga masih belum

pencarian adalah pekerjaan yang dilakukan

mengalami kepadatan penduduk namun jika


dilihat

dari

pertumbuhan

seseorang untuk memenuhi kebutuhannya

penduduk

sehari-hari, mata pencaharian penduduk

masyarakat Pulau Penyengat mengalami

Penyengat bisa dikatakan cukup beraneka

penambahan muskipun dalam jumlah yang


sedikit.
Tingkat pendidikan di Kelurahan
Penyengat sangat baik dikarenakan dari
umur 18

56 tahun tidak pernah sekolah

dapat digolongkan tidak ada. Hal ini


tentunya telah tergambar bahwa sudah ada
kesadaran

pentingnya

pendidikan

pada

ragam, dengan adanya mata pencarian yang

beberapa budayawan mengartikan melayu

ditekuni maka angka pengangguran pada

adalah suatu sifat rendah hati dari orang-

masyarakat Penyengat dapat ditekan atau

orang melayu sebagaimana sifat pohon yang

diminimalisir,

bekerja

melayukan diri. Sedangkan masyarakat suku

masyarakat Penyengat dapat menciptakan

lainnya kebanyakan adalah perantauan baik

kesejahteran sosial dan ekonomi.

sengaja untuk menempati Pulau Penyengat

tentunya

dengan

maupun

Dari jumlah masyarakat yang ada

dikarenakan

masyarakat

tentunya dapat pula kita lihat dari suku yang

asli

mengharuskan

ada di Pulau Penyengat, Secara historis pada

menikah

dengan

Penyengat

mereka

sehingga

untuk bertempat

tinggal di Pulau Penyengat.

abad ke 18 Pulau Penyengat merupakan


pusat pemerintahan kerajaan Riau Lingga

3. Sarana dan Prasarana Penduduk Pulau

yang memiliki hubungan khusus antara

Penyengat

Singapore

dan

Malaysia,

dimana

kita

Jalan merupakan sarana terpenting

ketahui bahwa rakyat pada masa kerajaan

pada masyarakat untuk beraktifitas dalam

tersebut adalah bersuku melayu, sehingga

kesehariannya,

tidak aneh jika pada saat ini Pulau


Penyengat

masih

masyarakat

bersuku

didominasi
melayu,

kondisi

jalan

di

Pulau

Penyengat masih dikatakan belum optimal

oleh

dikarenakan konsidi jalannya yang terbuat

adapun

dari susunan paplingblok yang kurang

melakukan iuran bulanan dimana iuran

merata dan perencanaan jalan lingkar juga

tersebut sebagian dilakukan untuk kebutuhan

masih terbengkalai dalam pembangunannya.

bersama

yang

membantu

partisipasi

organisasi

terhadap masyarakat penyengat apa bila ada

Dalam prasarana tidak terlepas dari


kendaraan

maupun

yang

fasilitas

meninggal

dunia

maupun

melaksanakan acara pernikahan.

kebutuhan dalam aktifitas masyarakat seharihari, Dengan adanya masyarakat Penyengat

B. Pulau Penyengat berdasarkan sejarah

yang

dan sebagai obyek wisata

menggunakan

tentunya

fasilitas

mempermudah

tersebut
masyarakat

Secara historis Pulau Penyengat

Penyengat untuk beraktifitas, dari pengguna

juga

fasilitas tersebut mereka membentuk suatu


organisasi

dengan

tujuan

dikarenakan

mempererat

tersebut

diberinama

(Organisasi

Penambang

Organisasi

Ojek

Perahu

Penyengat,

hubungan

pada

abad

yang

khusus

ke-18

Pulau

Penyengat merupakan pusat pemerintahan

solidaritas untuk mencapai tujuan bersama,


organisasi

memiliki

Riau Lingga sehingga Singapura, Pulau

OPPM

Penyengat, dan Malaysia merupakan suatu

Motor),

imperium dibawah kerajaan Riau Lingga,

Organisasi

mengingat sejarah Pulau Penyengat sebagai

Becak Penyengat, dan Organisasi Nelayan,


dari organisasi tersebut terdiri dari ketua,
sekretaris, bendahara dan anggota, mereka

10

salah satu pusat Pemerintahan Kerajaan Riau

2013, hal ini tentunya didukung oleh upaya

Lingga Johor dan Pahang maka pada saat ini

pemerintah daerah untuk menjadikan Pulau

di Pulau Penyengat

Penyengat sebagai daerah wisata ungguan

banyak ditemukan

berbagai tapak peninggalan sejarah berupa

Kota Tanjungpinang.

potensi

wisatawan

cagar

budaya

bangunan-bangunan

yang

berwujud

mancanegara

kunjungan
mengalami

Masjid,

penurunan setiap tahunnya, hal ini tentunya

Istana, Makam dan situs-situs bersejarah

tidak sejalan dengan perencanaan pemerintah

lainnya sehingga Pulau Penyengat telah

daerah untuk menjadikan pulau Penyengat

ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya

sebagai

oleh Kementrian Budpar No. 14 Tahun 2014

Tanjungpinang.

(www.budpar.co.id),

sangat

Pemerintah berkomitmen untuk menggali

mendukung potensi dunia pariwisata untuk

potensi pariwisata yang ada di Pulau

dikembangkan secara profesional.

Penyengat baik obyek wisata maupun nilai

Setiap

arsitektural,

jumlah

kondisi

ini

tahunnya

priwisata

diseimbangkan

ini

di

Pulau

Penyengat

untuk

Sudah ada kesadaran pentingnya

HASIL DAN PEMBAHASAN

pendidikan

A. Karakteristik Informan

pada

masyarakat

Penyengat,

dengan terbatasnya jumlah informan yang


diambil

Karakteristik informan merupakan

secara

acak

untuk

masalah

pendidikan pada tingkat SLTA memang tidak

profil sumber data yang diharapkan agar

kita jumpai hal itu dikarenakan generasi

dapat menggambarkan pemahaman terhadap

senior atau generasi tua di Penyengat sangat

data dari hasil penelitian, sehingga dapat

sulit untuk melanjutkan sekolah tingkat akhir

diletakkan pertimbangan-pertimbangan yang

hal itu dikarenakan keterbatasan ekonomi

logis dan proporsional atas hasil penelitian

maupun

ini. Dari kategori pengelompokan informan

sulitnya

mendapatkan

fasilitas

pendidikan, namun pada generasi muda

dalam penelitian ini pada awalnya peneliti

penyengat saat ini sudah banyak yang telah

menemukan 15 informan setelah itu peneliti

melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi,

mengklasifikasi lagi menjadi 4 (empat)


benar-benar

saat

mancanegara.

BAB IV

yang

pada

kota

kembali untuk wisatawan local maupun

kembali

peningkatan jumlah wisatawan pada tahun

informan

Namun

unggulan

kedepannya sehingga menjadi daya tarik

pada tahun 2011 mengalami penurunan


dapat

wisata

budaya yang ada, sehingga menunjang

wisatawan

domestik mengalami peningkatan muskipun


namun

daerah

tentunya dengan sadarnya akan pendidikan

mendukung

pada

dalam penelitian ini.

masyarakat

Penyengat

dapat

meningkatkan kualitas hidup untuk jauh dari

1. Berdasarkan Tingkat Pendidikan

angka

Informan

maupun perubahan

11

buta

huruf,

perubahan

perilaku,

ekonomi pada generasi masyarakat Pulau

terbilang mapan sehingga dapat merubah

Penyengat.

kebiasaan

hidup

sederhana

menjadi

masyarakat konsumtif.
2.

Berdasarkan

Tingkat

Pendapatan

Informan

3.

Tingkat

penghasilan

Berdasarkan Usia Informan

Peneliti

informan

lebih

mendominasikan

terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan

informan yang memiliki usia diatas empat

Upah

kota

puluh tahun, hal ini dikarenakan informan

Tanjungpinang yang tertuang dalam Surat

yang berusia diatas empat puluh tahun lebih

Keputusan Gubernur 1281 pada tahun 2014

mengetahui perubahan yang terjadi di Pulau

yaitu

Penyengat baik Perubahan sosial maupun

Minimun

sebesar

Kota

Rp.

(UMK)

1.955.000,-.

Dalam

memenuhi kebutuhan hidup berkeluarga

perubahan

prilaku

pada zaman modern pada masyarakat kota

masyarakat

Pulau

Tanjungpinang

kategori

peneliti mendapatkan hasil perbandingan

mampu dari segi ekonomi. Ini membuktikan

pada masa lalu dengan masa sekarang untuk

bahwa taraf hidup penghasilan informan

mendapatkan hasil dari apa yang ingin

masuk

dalam

atau

sikap

Penyengat

pada

sehingga

diteliti.
B. Aktifitas Umum dan Karakteristik
Masyarakat Pulau Penyengat
Sejauh

ini

kehidupan

berpakaian, tutur bahasa, bahkan tingkah


laku sekalipun dan adat istiadatnya.

sosial

Namun

seiring

berkembangnya

masyarakat Pulau Penyengat sangat baik hal

zaman, pola pikir, jadinya Pulau Penyengat

ini

sebagai

dapat

dilihat

dari

kehidupan

obyek

wisata,

dan

kemajuan

bermasyarakat, saling tolong menolong,

teknologi serta masuknya kebudayaan lain

sopan ramah dan memiliki respon yang baik

yang dibawa oleh masyarakat Penyengat

terhadap

datang.

yang telah merantau atau telah mengenal

Sedangkan untuk kehidupan ekonominya

budaya luar maupun budaya luar yang masuk

beragam mulai yang pendapatan tinggi,

secara tidak langsung yang diadopsi oleh

menengah

masyarakat

pengunjung

rendah,

sehingga

ini

latar

belakang

menimbulkan beberapa perubahan yang

ekonomi mulai dari pekerja wira swasta,

terjadi pada masyarakat Penyengat baik itu

pegawai

perubahan

beragamnya
negeri,

pedagang,

juga

Penyengat

hal

disebabkan

dan

yang

nelayan,

sosial,

ekonomi,

maupun

berkebun dan berternak. Sedangkan untuk

perubahan perilaku. Hal ini tidak hanya

budaya yang ada di Pulau Penyengat ini juga

membawa suatu perubahan yang bersifat

bermacam-macam

positif namun juga membawa perubahan

masyarakat

yang

tetapi
berdomisili

dikarnakan
di

Pulau

Penyengat, maka budaya yang dimiliki lebih


banyak ke budaya melayu, mulai dari

12

yang bersifat negatif, masyarakat penyengat

lokalitas dari kelompok masyarakat Melayu

yang awalnya bergotong royong pada saat ini

di

sudah jarang melakukan kegiatan gotong

Kepualaun

royong sebagaimana awalnya, selain itu

Penyengat. Mereka umumnya menyadari

terjadi

pengambilan

adanya variasi bahasa Melayu ini, bahkan

keputusan yang mana dilakukan secara

mereka dapat mengetahui asal si pembicara

mufakat dan bermusyawarah, tapi pada saat

dengan mendengarkan ucapan atau logat

ini

jarang

bahasa Melayunya. Selain itu, juga terdapat

dilakukan dan pada saat ini pengambilan

variasi dalam hal tradisi atau adat-istiadat

keputusan tersebut lebih sering dilakukan

yang berlaku dalam kebudayaan Melayu di

oleh beberapa tokoh setempat dikarenakan

Kepualaun Riau. Hal ini menandakan bahwa

antusias masyarakat Pulau Penyengat sudah

sebuah

mulai luntur untuk bermufakat.

mempunyai suatu tradisi dan bahasa Melayu

juga

perubahan

musyawarah

tersebut

sudah

masing-masing
Riau

daerah

di

Provinsi

khususnya

kelompok

di

masyarakat

Pulau

Melayu

yang relatif berbeda dengan kelompok


masyarakat

C. Perubahan Perilaku pada Masyarakat


Pulau Penyengat

digunakan

mengikuti

lainnya.

Variasi

kebudayaan Melayu menghasilkan variasi


identitas khusus orang Melayu yang penuh

Berbagai dialog bahasa Melayu


yang

Melayu

dengan keterbukaan, yang dilandasi oleh

perbedaan

prinsip hidup bersama dalam perbedaan.


Selain bersifat terbuka, masyarakat

Prinsip ini memiliki kemiripan dengan

Melayu juga tetap memegang teguh identitas

Bhinneka Tunggal Ika.

kemelayuannya.

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang


diterapkan

masyarakat

Melayu

Dengan

keterbukaannya,

penuh

tersebut

muncul

sebagai

selama

berabad-abad

Hal

ini

digunakan untuk menunjukkan keyakinan


masyarakat Melayu akan adat-istiadat dan

dari

budayanya. Begitu pentingnya adat-istiadat

pengalaman sejarah kebudayaan Melayu


yang

Kitabullah".

kan Melayu Hilang di Bumi". Kalimat itu

perbedaan
hasil

Bersendikan

Syarak

Gurindam Dua Belas (1847), bahwa "Tak

yang bersifat terbuka dan mempunyai


mengakomodasi

dan

lain, Raja Ali Haji pernah berujar dalam

dengan

keterbukaan. Ciri-ciri kebudayaan Melayu


kemampuan

Syarak,

berpegang teguh pada ajaran Islam. Di sisi

unsurnya dan secara bersama-sama hidup


yang

Bersendikan

tidak, tradisi kebudayaan Melayu tetap

perbedaan yang terdapat dalam unsurkehidupan

Melayu

menyiratkan bahwa, secara langsung atau

kebudayaan Melayu dapat mengakomodasi

dalam

tradisi

sendiri, ada semacam ungkapan "Adat

ini

menyebabkan terbentuknya tradisi yang


majemuk.

Dalam

bagi

telah

orang

Melayu,

sehingga

timbul

ungkapan lain, yaitu "Biar Mati Anak,

berhubungan dengan kebudayaan asing

Jangan Mati Adat" atau "Biar Mati Istri,

(non-Melayu).

13

Jangan Mati Adat". Semua ungkapan itu

bertujuan untuk menghidupkan kembali

diucapkan secara turun-temurun dan telah

kondisi perekonomian di setiap sudut Pulau

mendarah-daging bagi orang Melayu

Penyengat, bukan hanya berpusat pada satu

Dalam
perubahan

perilaku

rangka

titik saja, yaitu dermaga yang sekarang.

adanya

masyarakat

Pulau

1. Perubahan Perilaku pada masyarakat

Penyengat yang dinobatkan sebagai daerah

Pulau Penyengat

wisata unggulan Kota Tanjungpinang, maka


Pemerintah

Kota

Tanjungpinang

Sdr. Said Sukrillah (25 tahun)

juga

mengatakan bahwa ada perubahan sosial di

mendukung pulau penyengat sebagai wisata

Pulau Penyengat yang bersifat mikro melalui

unggulan Kota Tanjungpinang karena Pulau


Penyengat
objek

harus

dipertahankan

wisata

religi.

kebiasaan

sebagai

kebiasaan apa bila ditanya selalu menjawab


tak ade muskipun yang menjawabnya itu

sebagai

memiliki tujuan maupun lagi mengerjakan

langkah awal, pada tahun 2015 akan

sesuatu namun kebiasaan mengatakan tak

dibangun dermaga masuk dan keluar Pulau

ade selalu menjadi jawaban dari berbagai

Penyengat di tempat yang berbeda. Hal ini


menurut

Sdr.

Said

Sukrillah

disebabkan

oleh

interaksi

Penyengat

kepada

orang

hal

masyarakat

awalnya masyarakat Penyengat memiliki

harus bisa merangsang peningkatan kondisi


masyarakatnya,

pada

Pulau Penyengat itu sendiri, yang mana pada

Pembangunan

kepariwisataan di Pulau Penyengat juga


perekonomian

berinteraksi

pertanyaan orang lain kepadanya dan

itu

terdapat di Masjid Penyengat dan pada saat

masyarakat

ini dengan kemajuan teknologi sebagian

diluar

masyarakat sudah dapat informasi ada warga

kelompok mereka sendiri, pernyataan ini

yang meninggal dunia lebih cepat dari

juga di paparkan oleh Ferdinan Tonnies

pengumuman yang diberikan dari pengeras

(Nanang Martono, 2011:53) bahwa biasanya

suara di masjid Penyengat, bahkan dengan

gesellschaft

kepada

ada social media ataupun Hp warga Pulau

perubahan mikro atau perubahan yang

Penyengat yang sedang berpergian pun sudah

bersifat kecil, dimana hal ini perubahan yang

dapat diberitahukan hal ini juga sams sesuai

terjadi

dengan teori yang di kemukakan oleh

lebih

tidak

lain

cenderung

harus

memiliki

dampak

perubahan besar namun juga ada suatu

Ferdinan

perubahan
perubahan

yang

bersifat

dalam

2011:53) bahwa biasanya gesellschaft lebih

berinteraksi

pada

cenderung kepada perubahan mikro atau


perubahan yang bersifat kecil, dimana hal ini
perubahan yang terjadi tidak harus memiliki

dimana

pada

dampak perubahan besar namun juga ada

awalnya

suatu perubahan yang bersifat kecil seperti

masyarakat penyengat untuk mendapatkan


informasi

ketika

ada

Martono,

seperti

Perubahan sosial di Pulau Penyengat


kecil

(Nanang

kecil

masyarakat Pulau Penyengat tersebut.

bersifat

Tonnies

warga

perubahan dalam perkembangan cara

Penyengat

meninggal dunia dari pengeras suara yang

14

berinteraksi untuk mendapatkan informasi

namun juga terjadi pada perubahan yang

pada masyarakat Pulau Penyengat.

bersifat negatif sepeti terjadinya penurunan


pada solidaritas masyarakat Penyengat itu

Jika dibandingkan pada tahun 19902004

solidaritas

masyarakat

sendiri. Hal ini sesuai pula dengan apa yang

penyengat

dikatakan

semakin memudar, yang mana hal ini juga

Martono,

dikatakan oleh Ferdinan Tonnies (Nanang


berubah

dari

2011:53)

Tonnies
bahwa

(Nanang

gemeinschaft

merupakan situasi yang berorientasi pada

Martono, 2011:53) yang memandang bahwa


masyarakat

Ferdinan

nilai, aspiratif, memiliki peran dan terkadang

masyarakat

sebagai kebiasaan asal yang mendominasi

sederhana yang mempunyai hubungan yang

kekuatan sosial yang bersifat solid atau

erat dan kooperatif, menjadi tipe masyarakat

positif.

yang besar yang memiliki hubungan yang

Gemeinschaft

lahir

dari

dalam

individu. Sedangkan gesellschaft merupakan

terspesialisasi.

sebuah

konsep

yang

menunjuk

pada

Dari hasil wawancara diatas pula

hubungan angota masyarakat yang memiliki

terbukti bahwa perubahan sosial yang terjadi

ikatan yang lemah, kadangkala antar individu

di Pulau Penyengat bukan hanya terjadi pada

tidak saling mengenal nilai, norma, dan sikap

perubahan

menjadi kurang berperan dengan baik,

yang

positif

yaitu

adanya

handphone sebagai alat yang mempermudah

biasanya gesellschaft lebih cenderung

masyarakat Penyengat untuk berkomunikasi,


kepada perubahan mikro atau perubahan
yang

bersifat

kecil

(Nanang

Pada dasarnya masyarakat melayu

Martono,

merupakan masyarakat pesisir dan mayoritas

2011:53).

pekerjaannya adalah melaut atau nelayan

Masyarakat

Penyengat

sehingga segala aktifitas mereka banyak

memiliki

dilakukan dipesisir, kondisi seperti itu

kebiasaan duduk dikedai kopi dari awal

menjadikan mereka terbiasa untuk bersantai

hingga saat ini masih sering dilakukan pada


masyarakat

Pulau

Penyengat

dalam mengisi waktu luang atau melepas

terutama

lelah mereka setelah melaut di siang hari,

penambang, penarik becak, maupun tukang

setelah bercampurnya masyarakat berbagai

ojek, hal ini sesuai dengan pendapat


Ferdinan
bahwa

Tonnies
dalam

(Soejono,

2006:157)

masyarakat

memiliki

suku

di

Penyengat

tentunya

juga

memberikan sedikit perbandingan penilaian


terhadap suku aslinya. Namun pada saat ini

kebiasaan dalam arti yang menunjukan pada

tidak bisa dikatakan semua masyarakat

suatu kenyataan yang bersifat objektif.

melayu

Misalnya, kebiasaan untuk bangun pagi,

khususnya

Pulau Peyengat

itu

pemalas, karena itu hanya prajudis atau

kebiasaan untuk tidur siang hari, kebiasaan

prasangka sementara hal itu dapat kita lihat

untuk minum kopi sebelum mandi dan lain-

pada halnya ketika kita menilai orang

lain. Artinya adalah, bahwa seseorang biasa


melakukan perbuatan-perbuatan tadi dalam
cara hidupnya.

15

minang itu pelit dan maka tidak semua

dalam arti sebagai perwujudan kemauan

orang minang itu pelit ada dari mereka yang

atau keingginan untuk berbuat sesuatu.

dermawan begitu juga dengan masyarakat

Ada pula informan Sdr. Said

melayu pada sekarang ini apalagi jika dilihat

Sukrillah (25 tahun) mengatakan bahwa,

dari pekerjaan masyarakat Penyengat saat

betol ape yang awak cakap, orang kite ni

ini sudah tidak didominasi lagi sebagai

memang dikenal banyak beramah tamah

nelayan sudah banyak berbagai pekerjaan

contohnye aje kalau kite nak keluar rumah

yang digelutinya, tentunya kebiasaan yang

ade aje tetangge negor tanye juge nak

dinyatakan oleh informan Bapak Ibrahim


Sulaiman

(66

dengan

tahun)

Ferdinan

juga

sependapat

Tonnies

(Soejono,

kemane padahal kalau kite pike tak penteng


lah mereke tau kan? Tapi itu lah bukti kalau
orang kite ni masih mempertahankan ramah

2006:157) dimana kebiasaan dalam arti

tamah tu, hanye saje jawabannye kalau dulu

kebiasaan tersebut dijadikan kaidah bagi

ditanye nak kemane kite jawab taka de

seseorang, yang diciptakannya untuk dirinya


sendiri.

Dalam

hal

ini,

orang

kalau sekarang itu kawan tak pekhnah lagi

yang

denga memang macam pertanyaan awak

bersangkutanlah yang menciptakan suatu

tadi (wawancara pada tanggal 4 April

prilaku bagi dirinya sendiri. Dan kebiasaan

2015).
Menurut

informan

Said

hari, kebiasaan untuk minum kopi sebelum

Sukrillah (25 tahun) Masyarakat Penyengat

mandi dan lain-lain. Artinya adalah, bahwa

khususnya

dengan

seseorang

biasa

kebiasaan beramah tamah dan berbasa-basi

perbuatan

tadi

baik

maupun

Kebiasaan dalam arti kebiasaan tersebut

bermasyarakat yang mana kebiasaan ini

dijadikan kaidah bagi seseorang, yang

masih tetap terjaga sampai saat ini, menurut

diciptakannya untuk dirinya sendiri. Dalam

Ferdinan

2006:157)

hal ini, orang yang bersangkutanlah yang

kebiasaan dalam arti sebagai perwujudan

menciptakan suatu prilaku bagi dirinya

kemauan atau keingginan untuk berbuat

sendiri. Dan kebiasaan dalam arti sebagai

sesuatu. Tentu kebiasaan ini sangat singkron

perwujudan kemauan atau keingginan untuk

karena apa bila masyarakat Penyengat tidak

berbuat sesuatu, yang mana kebiasaan ini di

memiliki kemauan untuk beramah tamah

paparkan oleh Ferdinan Tonnies (Soejono,

maka kebiasaan tersebut tidak akan ada pada

2006:157).

melayu

itu

terkenal

dalam

Tonnies

Sdr.

pergaulan

(Soejono,

masyarakat Penyengat.
Dari

hasil

wawancara

diatas

terbukti bahwa adanya kebiasaan dalam arti


yang menunjukan pada suatu kenyataan yang
bersifat objektif. Misalnya, kebiasaan untuk
bangun pagi, kebiasaan untuk tidur siang

16

melakukan
dalam

cara

perbuatanhidupnya.

1. Pengaruh wisatawan terhadap perilaku

pada masyarakat Penyengat juga tertera pada

masyarakat lokal

pendapat
Soekanto

Pada saat ini hubungan sosial pada


sedemikian

sebagaimana
memiliki

solid

awalnya,

pengaruh

dan

terhadap

(Santoso,

Soerjono

2006:84)

yang

ditandai dengan adanya hubungan sosial

sering

pariwisata

Soekanto

mengatakan bahwa didalam masyarakat

masyarakat Penyengat masih terjalin namun


tidak

Soejono

antara anggota kelompok masyarakat.

juga

Dengan

solidaritas

dijadikannya

Pulau

Penyengat

masyarakat penyengat itu sendiri sebagai

sebagai wisata unggulan secara langsung

mana dikatan oleh informan Bapak Raja

berdampak terhadap perubahan perilaku

Ibrahim Sulaiman (66 tahun) disaat ia

masyarakat Pulau Penyengat baik secara

membutuhkan transportasi becak namun

ekonomi maupun sosial, hal ini senada

bersamaan dengan datangnya wisatawan

dengan yang diungkapkan oleh salah satu

penarik becak lebih memilih membawa

informan Bapak Imam Tufandi (42 tahun)

wisatawan dari pada mayarakat penyengat

bahwa,

sendiri

saya sangat senang atas telah dijadikannya

terlebih

memiliki

ikatan

persaudaraan dengan perbandingan tarif

Pulau Penyengat sebagai warisan dunia

wisatawan lebih mahal dari masyarakat

serta

lokal, dalam hubungan sosial yang terjadi

Tanjungpinang, jika kita lihat dari sudut

pandang

pengusaha

tentunya

akan

usaha

serta

memberikan

peluang

meningkatkan

perekonomian

menjadi

obyek

wisata

di

Kota

Informan Bapak Imam Tufandi (42


tahun)

masyarakat

menanggapi

dijadikannya

Pulau

positif

terhadap

Penyengat

sebagai

setempat dimana seperti yang kita lihat saat

daerah wisata dikarenakan hal tersebut

ini sudah mulai banyak tumbuh UKM di

memberikan

Pulau Penyengat baik itu usaha seperti saya

pengembangan dan perubahan ekonomi

maupun usaha makanan, muskipun tidak

pada masyarakat Penyengat, tentunya dari

semua

dapat

hal tersebut terjadinya interaksi terhadap

memanfaatkan kondisi ini tetapi semakin

masyarakat setempat kepada wisatawan

lama masyarakat Penyengat sudah semakin

yang datang baik secara langsung maupun

sadar akan peluang tersebut sehingga setiap

tidak langsung, hal ini juga sejalan dengan

tahunnya selalu bertambah pulak jumlah

apa yang dikatakan oleh Cohen (1984)

saingan saya, hehehe. Saya ni pendatang

dalam ( I Gde Pitana, 2005: 50) yang

dari Pacitan (Jawa Timur) ul, iya saya ni

mengelompokan aspek-aspek dalam wisata

bukan asli orang Penyengat, tapi udah

terhadap pandangan sosiologi salah satunya

lama...ya sekitar tahun 1990an lah dan

adalah

dapat pulak istri orang Penyengat ni

wisatawan dengan masyarakat lokal.

makanya

masyarakat

saya

yang

menetap

di

sini

(wawancara pada tanggal 17 Mei 2015).

17

dampak

terjadinya

positif

terhadap

hubungan

antara

Menurut

informan

Sdr.

Said

Sebagaimana
Penyengat,

kepulau Penyengat tidak hanya datang

berseberangan dengan Kota Tanjung Pinang

melihat sejarah dan sisa puing-puing yang

(Kepri) menyimpan berbagai warisan salah

menjadi saksi kemegahan kerajaan riau

satunya nasehat berupa Gurindam Dua

lingga maupun kemegahan Masjid Raya

Belas, yang nilai-nilainya masih relevan

Sultan Riau Penyengat saja yang memiliki

hingga saat ini. Gurindam Dua Belas karya

keunikan

yang

sastrawan Melayu pada awal abad 19, Raja

bercampurkan putih telur namun masih ada

Ali Haji, merupakan kebijaksanaan lokal

nilai yang merupakan daya tarik wisatawan

(local wisdom) masyarakat Melayu-Bugis.

untuk berkunjung ke Pulau Penyengat seperti

Sebagai akar dari sastra Melayu yang

Pernyataannya sebagai berikut,

tertulis, Gurindam Dua Belas membahas

pembutannya

pulau

Pulau

Sukrillah (25 tahun) wisatawan yang datang

dalam

sebuah

diketahui
kecil

yang

persoalan akidah dan tasawuf, syariat Islam,

Pulau Penyengat ni unik wak, selaen

rukun Islam, budi pekerti atau akhlak, serta

menyimpan banyak sejarah kerajaan awal

konsep pemerintahan. Gurindam yang terdiri

bahase Indonesia juge dari sini wak, seni

dari kata pengantar dan 12 pasal yang

gurindamnye, budayenye, dan ade juge seni

berisikan penjelasan mengenai berbagai

musik tapi sayangnye orang kite ni belom

mampu lagi menonjolkan itu semue wak


(wawancara pada tanggal 5 April 2015).
kehidupan

manusia.

Tiap-tiap

pasalnya

keserasiaan

dan

kebahagiaan

dengan

berisikan nasehat yang menyentuh jiwa dan

lingkungan dalam dimensi sosial, budaya,

kesadaran

alam dan ilmu.

masyarakat.

berbagai
Dengan

lapisan
adanya

dalam
berbagai

Berdasarkan

keunikan yang tersimpan di Pulau Penyengat


tentunya

menjadikan

rasa

kenyataannya

dengan

disimpulkan bahwa dengan dijadikannya


Pulau Penyengat sebagai daerah wisata

banyaknya

secara keseluruhan membawa perubahan

potensi yang dimiliki, masyarakat Pulau

terhadap

Penyengat pada saat ini belum mampu untuk


mengoptimalkan

potensi

tersebut

ekonomi.

pulau

Aktivitas

perekonomian

beragam. Perbedaan jenis mata pencaharian

dipaparkan oleh Kodhyat (1998) dalam

ini dipengaruhi oleh keadaan alam yang ada

(http://assharrefdino.blogspot.com,2013:11),

dan keahlian yang dimiliki oleh masyarakat

pariwisata adalah perjalanan dari suatu

serta pengaruh dari dijadikannya Pulau

tempat ketempat lain, bersifat sementara,


atau

masyarakat

masyarakat Pulau Penyengat saat ini sangat

hal ini sesuai dengan definisi pariwisata yang

perorangan

perilaku

penyengat baik secara sosial maupun

untuk

mendapatkan nilai jual kedunia pariwisata,

dilakukan

wawancara

yang telah diuraikan diatas dapat pula

penasaran

wisatawan untuk berkunjung kesana, namun


pada

hasil

Penyengat sebagai wisata unggulan kota

kelompok,

Tanjungpinang. Sedangkan jenis mata

sebagai usaha mencari keseimbangan atau

18

pencaharian penduduk yang utama adalah

penulisan

nelayan,

kesimpulan

pegawai

swasta,

pertanian,

skripsi
bahwa

ini

dapat

masyarakat

ditarik
Pulau

wiraswasta, perdagangan, buruh, dan sektor

Penyengat pada umumnya mengalami suatu

informal.

perubahan

Secara

umum

tingkat

sosial

seperti

disebutkan

perekonomian masyarakat Pulau Penyengat

Ferdinan Tonnies, dimana masyarakat Pulau

termasuk baik, dan mayoritas penduduk usia

Penyengat mengalami suatu perubahan yang

produktif memiliki pekerjaan sesuai dengan

bersifat gemeinschaft dan gesellschaft. hal

keahlian dan keinginannya,

tersebut dikarenakan adanya faktor

masyarakat

Penyengat juga memiliki hubungan secara

pendidikan,

langsung maupun tidak langsung terhadap

berbaurnya dengan masyarakat luar, maupun

wisatawan

dijadikannya

yang

berkunjung

ke

Pulau

Penyengat.

perkembangan
Pulau

zaman,

Penyengat

sebagai

daerah wisata kota Tanjungpinang. Dengan


pendidikan tentunya mampu merubah pola

BAB V
PENUTUP

pikir pada masyarakat Penyengat dalam


kehidupan

A. Kesimpulan
Bersadarkan

sehariannya,

berbaurnya

masyarakat Penyengat terhadap masyarakat

hasil

penelitian

dan

luar juga menjadikan suatu perbandingan

pembahasan sebagaimana diuraikan pada

cara hidup agar tidak monoton dan

bab-bab sebelumnya, pada bagian akhir


berkembang, dijadikannya Pulau Penyengat

masyarakat itu sendiri untuk merubahnya

sebagai daerah wisata kota Tanjungpinang

hal tersebut juga dapat berubah dikarenakan

tentunya

adanya

dapat

merubah

perekonomian

masyarakat Penyengat untuk lebih baik.


kemajuan melainkan ada perubahan yang
bersifat negatif seperti lunturnya ambisi dan
pada

masyarakat

Pulau

Penyengat. Dalam perilaku dari kebiasaan


masyarakat Pulau Penyengat ada yang
mengalami perubahan maupun ada juga
yang

masih

dikarenakan

bertahan
situasi

dan

hal

tersebut

kondisi

yang

berbeda seperti hilangnya kebiasaan tidur


siang pada masyarakat Pulau Penyengat
dikarenakan tuntutan pekerjaan maupun
hilangnya

kebiasaan

jawaban

Penyengat

dengan masyarakat lainnya.

Perubahan tersebut tidak selalu membawa

solidaritas

masyarakat

atas

pertanyaan yang mengatakan taka ade


yang disebabkan perwujudan atas kesadaran

19

berbaur

B. Saran

meningkatkan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah


dijelaskan pada bab sebelumnya, adapun

solidaritas

yang

pernah ada.
2.

saran yang bisa diberikan adalah


1.

kembali

Mengingat adanya pengaruh positif Pulau


Penyengat sebagai daerah wisata unggulan

Agar budaya daerah, adat istiadat dan

terhadap perekonomian masyarakat pulau

bahasa melayu tidak luntur dimakan zaman

penyengat,

sebaiknya peran serta tokoh masyarakat

sebaiknya

memunculkan

sangat dibutuhkan untuk senantiasa berbagi

masyarakat

kebudayaan

daerah

lebih
serta

senantiasa melestarikan cagar budaya yang

pengalaman dan informasi tentang sejarah

ada di Pulau Penyengat hal ini diharapkan

Pulau Penyengat kepada para Pemuda Pulau

dapat membuat para pengunjung terkesan

Penyengat. Selain itu masyarakat penyengat

dan selalu berniat untuk datang kembali ke


Pulau Penyengat.

20

DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku
Abdulsyani. 2002. Sosiologi Skematika Teori Dan Terapan. PT Bumi Aksara : Jakarta
Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar. PT Rineka Cipta : Jakarta
Bungin. Burhan. 2006. Sosiologi komunikasi Teori, Paradigma & Diskursus Teknologi
komunikasi di Masyarakat. Kencana : Jakarta
Martono, Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial Perspektif Klasik, Modern, Pomodern, dan
Poskolonial. PT RajaGrafindo Persada : Jakarta
Paul B. Horton, Chester L. Hunt. 1984. Sosiologi, Sixth Edition. PT Gelora Aksara Pratama :
Jakarta
Pitana, I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Andi : Yogyakarta
Raharjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan Dan Pertanian. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta
Santoso, Slamet. 2006. Dinamika Kelompok. PT Bumi Angkasa : Jakarta
Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. LP3S : Jakarta
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. PT RajaGrafindo Persada :
Jakarta Skripsi
Meitya Yulianty. 2005. Partisipasi Masyarakat dalam memelihara benda cagar budaya di Pulau
Penyengat sebagai upaya pelestarian warisan budaya melayu. Tesis. Semarang :
Universitas Diponegoro
Internet
http://assharrefdino.blogspot.com/2013/11/pengertian-pariwisata-menurut-para-ahli.html, diakses
pada tanggal 26 Juli 2015, pukul 19.40
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pulau Penyengat, diakses pada tanggal 28 Oktober 2014, pukul
14.29
http://perpustakaancyber.blog.com/2013/05/pengertian-perubahan-sosial-contoh-dampak.html,
diakses pada tanggal 29 Oktober, pukul 20.27
http://www.wisatakandi.com/2011/11/undang-undang-ri-no-10-tahun-2009.html, diakses pada
tanggal 18 September 2014, pukul 15.02
www.budpar.go.id, diakses pada tanggal 17 September 2014, pukul 14.18

21

Dokumen :
Kantor Kelurahan Penyengat. 2014. Data Monografi Kelurahan Penyengat.
Kecamatan Tanjungpinang Kota
Pedoman Teknik Penulisan Usulan Penelitian dan Skripsi Serta Ujian Sarjana Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

22