Anda di halaman 1dari 12

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Seperti kita, mikroorganisme dapat menggunakan makanan sebagai sumber
nutrisi dan energi. Mereka mendapatkan unsur-unsur kimia yang merupakan
biomassa mikroba, molekul-molekul penting untuk pertumbuhan organisme yang
tidak dapat mensintesis, dan substrat tersebut yang dapat digunakan sebagai
sumber energi. Mikroorganisme mendapat nutrisi juga dari medium tumbuhnya.
Tabel 1. Hasil pengamatan Medium
Nama
bahan

Larutan
aq (ml)

Berat
serbuk

Nacl
Fisiol
ogis

250 ml

2,125
gram

NA

100 ml

2,814
gram

Berwarna
kuning
cream,
butiran
halus,
berbau
amis

NB

100 ml

1,3
gram

Warna
kuning
pucat,
beraroma

Sebelum
dilarutkan
Warna
putih,
tekstur
kasar,
serbuk,
tidak
beraroma

Karakteristik
Setelah
dilarutkan
Larutan
bening,
tidak
beraroma,
tidak ada
endapan
dan
larutan
homogen
Berwarna
kuning
lemon,
terdapat
buih,
berbau
amis,
akuades
dan NA
terlarut,
tidak ada
endapan

Warna
bening
tanpa bau,
tidak ada

Setelah
disterilkan
Larutan
tetap
bening,
dan tidak
beraroma

Tidak ada
perubahan
warna
maupun
aroma dan
masih
tetap
homogen,
setelah
didinginka
n media
memadat
karena ada
kandungan
agar
Warna
bening,
tidak
berbau,

Komposisi
media
Sodium
chloride
100 %

Powder
1,0 gram,
yeast
extract 2,0
gram,
pepton 5,0
gram,
sodium
chloride
5,0 gram,
agar 15,0
gram

Peptic
digest
animal
tissue 5,00

seperti
kaldu

endapan
dan
homogen

PCA

100 ml

1,75
gram

Warna
putih
keruh
kekuninga
n aroma
seperti
keju,
serbuk

Warnanya
kuning,
aroma
seperti
keju, ada
endapan

PDA

100 ml

3,9
gram

Warna
putih
kekuninga
n, bau
seperti
kentang

Warna
kuning
keruh,
aroma
kentang,
tidak ada
endapan,
homogen

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

larut dan
homogeny
(terjadi
kegagalan
pembuatan
medium)
akibat
kesalahan
pada
pembacaa
n neraca
analitik
seharusny
a larutan
berwarna
kuning
dan
berbau
kaldu
Warna
kuning
bening,
berbau
seperti
keju, ada
endapan(ti
dak
homogen)
Warna
kuning
keorenan
keruh,
aroma
kaldu
kentang,
terdapat
endapan,
dan tidak
homogen

gm/ltr,
sodium
chloride
5,00
gm/ltr,
yeast
extract 1,5
gm/ltr,
beef
extract
1,500
gm/ltr,
pH=7,4
+/- 0,2 at
25oC
distilled
water/ltr

Trypton
5,0 g/l,
yeast
extract 2,5
g/l,
glucose
1,0 g/l,
agar 9,0
g/l.
Potato I
fussion
from 200
gram 4
gram
potato
extract,
dextrose
20 gram,
agar 15
gram

Medium medium diatas dibuat dengan takaran yang berbeda-beda.


Semua medium tersebut punya takaran masing-masing Penimbangan takaran
medium sebelum dibuat bisa dengan menggunakan neraca analitik agar
takarannya tepat. Jika tidak sesuai dengan takaran akan menghambat pertumbuhan
mikroorganisme yang dibiakkan, karena komponen nutrisinya tidak sesuai dengan
yang diharapkan mikroorganisme tersebut. Selain itu jika pemakaiannya
berlebihan akan kurang efisien, karena harga medium tersebut sangat mahal.
Setelah medium ditimbang, selanjutnya melakukan pembuatan media. Identifikasi
media dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari masing-masing media.
Identifikasinya telah disebutkan pada Tabel 1. pengamatan.
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa terdapat empat media yang
digunakan dalam praktikum ini yaitu NA, NB, PCA dan PDA dan ada Nacl
fisiologis sebagai penyangga pH. Masing-masing media ini mempunyai
karakteristik, komposisi, dan fungsi yang berbeda.
4.1 Pembuatan Medium NA
Tabel 2. Hasil pengamatan NA
Nama
bahan

Larutan
aq (ml)

Berat
serbuk

NA
(Nutri
en
Agar)

100 ml

2,814
gram

Karakteristik
Sebelum
Setelah
dilarutkan dilarutkan
Berwarna Berwarna
kuning
kuning
cream,
lemon,
butiran
terdapat
halus,
buih,
berbau
berbau
amis
amis,
akuades
dan NA
terlarut,
tidak ada
endapan

( Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

Setelah
disterilkan
Tidak ada
perubahan
warna
maupun
aroma dan
masih
tetap
homogen,
setelah di
dinginkan
media
memadat
karena ada
kandungan
agar

Komposisi
media
Powder
1,0 gram,
yeast
extract 2,0
gram,
pepton 5,0
gram,
sodium
chloride
5,0 gram,
agar 15,0
gram

Nutrien

agar

(NA)

adalah

medium

yang

digunakan

untuk

menumbuhkan bakteri yang umum. Media ini merupakan media sederhana yang
terbuat dari Powder 1,0 gram, yeast extract 2,0 gram, pepton 5,0 gram, sodium
chloride 5,0 gram, agar 15,0 gram dan 100ml akuades. Kandungan pepton dan
beef ekstrak tersebut digunakan sebagai komponen yang penting bagi
pertumbuhan bakteri karena kandungan protein hewaninya yang tinggi.
Karakteristik NA sebelum dilarutkan berwarna kuning cream,
teksturnya berupa butiran halus dan berbau amis. NA dibuat dengan cara
melarutkannya kedalam akuades yang telah dipanaskan. Sebelumnya untuk
menghindari kegagalan pembuatan medium NA terlebih dahulu ditimbang dengan
menggunakan

neraca

analitik.

Setelah

ditimbang

dimasukkan

kedalam

Erlenmeyer berisi akuades yang sudah dipanaskan sebelumnya saat dipanaskan


Erlenmeyer disumbat untuk menghindari kontaminasi, saat NA dilarutkan
kedalam akuades ternyata karakteristiknya berubah yaitu berwarna kuning lemon,
terdapat buih, berbau amis, akuades dan NA terlarut, tidak terbentuk endapan.
Kemudian NA juga disterilisasi di dalam autoclave selama kurang lebih 15 menit.
Setelah disterilisasi medium NA tidak mengalami perubahan apapun pada
karakteristiknya hanya saja larutan tersebut saat dikeluarkan dari pendingin,
menjadi padat karena saat dikeluarkan medium tidak langsung diamati
perubahannya, sehingga kemungkinan selain memang didalam medium tersebut
terdapat agar bisa saja medium tersebut memadat akibat perbedaan suhu setelah
keluar dari pendingin.
4.2 Pembuatan Medium Nacl Fisiologis
Tabel. 3 hasil pengamatan NaCl Fis
Nama
bahan

Larutan
aq (ml)

Berat
serbuk

Nacl
Fisiol
ogis

250 ml

2,125
gram

Karakteristik
Sebelum
Setelah
dilarutkan dilarutkan
Warna
Larutan
putih,
bening,
tekstur
tidak
kasar,
beraroma,
serbuk,
tidak ada
tidak
endapan
beraroma
dan

Setelah
disterilkan
Larutan
tetap
bening,
dan tidak
beraroma

Komposisi
media
Sodium
chloride
100 %

larutan
homogen
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
NaCl Fisiologis merupakan medium yang digunakan untuk penyangga
pH agar sel bakteri tidak rusak akibat menurunnya pH lingkungan. Media ini
merupakan media sederhana yang terbuat dari sodium chloride 100 % yang
dilarrutkan dalam akuades mendidih.
Karakteristiknya sebelum dilarutkan NaCl Fisiologis berwarna putih
dan berbentuk serbuk halus yang tidak beraroma. Setelah dilarutkan Nacl
fisiologis larut dan tidak membentuk endapan, larutan tersebut tidak berwarna dan
tidak beraroma juga. Sama halnya dengan medium lainnya NaCl fisiologis
kemudian di sterilisasi dalam autoclave selama kurang lebih 15 menit, hasilnya
NaCl fis tidak mengalami perubahan saat sebelum di sterilisasi maupun sesudah
di sterilisasi.

Gambar 1. Medium NaCl Fisiologis


(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
4.3 Pembuatan Medium Nutrien Broth (NB)
Tabel 4. Hasil pengamatan NB
Nama
bahan

Larutan
aq (ml)

NB
100 ml
(Nutri
en
Broth)

Berat
serbuk

1,3
gram

Karakteristik
Sebelum
dilarutkan
Warna
kuning
pucat,
beraroma

Setelah
dilarutkan
Warna
bening
tanpa bau,
tidak ada

Komposi
si media
Setelah
disterilkan
Warna
bening,
tidak
berbau,

Peptic
digest
animal
tissue

seperti
kaldu

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)


Nutrient Broth merupakan

endapan
dan
homogen

medium

larut dan
homogen
(terjadi
kegagalan
pembuatan
medium)
akibat
kesalahan
pada
pembacaan
neraca
analitik
seharusnya
larutan
berwarna
kuning dan
berbau
kaldu

yang

5,00
gm/ltr,
sodium
chloride
5,00
gm/ltr,
yeast
extract
1,5
gm/ltr,
beef
extract
1,500
gm/ltr,
pH=7,4
+/- 0,2 at
25oC
distilled
water/ltr

digunakan

untuk

menumbuhkan berbagai mikroorganisme yang umum. Media ini merupakan


media sederhana yang terbuat dari komposisi Peptic digest animal tissue 5,00
gm/ltr, sodium chloride 5,00 gm/ltr, yeast extract 1,5 gm/ltr, beef extract 1,500
gm/ltr, pH=7,4 +/- 0,2 at 25oC distilled water/ltr.
NB berwarna kuning pucat dan beraroma seperti kaldu. NB dibuat dengan
cara yang sama dengan medium lainnya yaitu dengan dilarutkan dalam akuades
didalam erlenmeyer yang kemudian disumbat dan disterilkan dalam autoclave.
NB setelah dilarutkan berwarna bening tanpa bau, tidak ada endapan dan
homogen. Setelah disterilisasi serbuk media larut seluruhnya dalam air, berwarna
kuning dan menjadi jernih juga beraroma kaldu.

Gambar 2. Medium NB
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
Namun pada praktikum kali ini pembuatan medium NB mengalami
kegagalan

karena

kesalahan

dalam

pembacaan

neraca

analitik

saat

menimbangnya. Pada percobaan ini setelah dilarutkan NB larut dan homogen juga
tidak berbau dan tidah berwarna, begitupun setelah di sterilisasi, ini terjadi karena
NB yang dilarutkan takarannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Gambar 3. Medium NB yang gagal


(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

Gambar 4. Medium NB yang gagal dan berhasil


(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
Setelah diamati, ternyata NB hampir sama dengan NA. Namun, hal
yang membedakan diantara keduanya adalah NB digunakan untuk menumbuhkan
bakteri dalam medium cair sedangkan NA digunakan untuk menumbuhkan bakteri
dalam medium padat (agar).
4.4 Pembuatan Medium PCA (Plate Count Agar)
Tabel 5. Hasil pengamatan PCA
Nama
bahan
PCA
(Plate
Count
Agar)

Larutan
aq (ml)

Berat
serbuk

100 ml

1,75
gram

Sebelum
dilarutkan
Warna putih
keruh
kekuningan
aroma
seperti keju,
serbuk

Karakteristik
Setelah
dilarutkan
Warna
kuning,
aroma
seperti
keju, ada
endapan

Setelah
disterilkan
Warna
kuning
bening,
berbau
seperti
keju, ada
endapan
(tidak
homogen)

Komposi
si media
Trypton
5,0 g/l,
yeast
extract
2,5 g/l,
glucose
1,0 g/l,
agar 9,0
g/l.

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)


Plate Count Agar (PCA) merupakan medium yang digunakan untuk
menumbuhkan bakeri dan jamur. Media ini merupakan media sederhana yang
terbuat dari Trypton 5,0 g/l, yeast extract 2,5 g/l, glucose 1,0 g/l, agar 9,0 g/l.

PCA berwarna putih keruh kekuningan aroma seperti keju, serbuk.


Pembuatannya sama dengan medium lain. Setelah dilarutkan dalam akuades yang
sudah dipanaskan PCA berwarna kuning dan terlihat keruh, beraroma seperti keju
dan belum sepenuhnya larut (ada endapan). Setelah disterilisasi berwarna kuning
bening, berbau seperti keju dan ada endapan (tidak homogen).

Gambar 5. Medium PCA


(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
4.5 Pembuatan Medium PDA (Potato Dextrose Agar)
Tabel 6. Hasil pengamatan PDA
Nama
bahan

Larutan
aq (ml)

PDA
100 ml
(Potato
Dextros
Agar)

Berat
serbuk
3,9
gram

Karakteristik
Sebelum
Setelah
dilarutkan
dilarutkan
Warna putih Warna
kekuningan, kuning
bau seperti
keruh,
kentang
aroma
kentang,
tidak ada
endapan,
homogen

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

Setelah
disterilkan
Warna
kuning
keorenan
keruh,
aroma
kaldu
kentang,
terdapat
endapan,
dan tidak
homogen

Komposi
si media
Potato
Ifussion
from 200
gram 4
gram
potato
extract,
dextrose
20 gram,
agar 15
gram

Potato Dextrose Agar (PDA) merupakan medium yang digunakan untuk


mengidentifikasi jamur, seperti kapang dan kamir. Media ini merupakan media
sederhana yang terbuat dari Potato Ifussion from 200 gram 4 gram potato extract,
dextrose 20 gram, agar 15 gram. Selain itu PDA digunakan untuk enumerasi yeast
dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan. PDA mengandung sumber
karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2%
glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik
untuk pertumbuhan bakteri.
PDA berwarna putih kekuningan dan berbentuk serbuk halus juga
beraroma seperti kentang. Saat dilarutkan dalam akuades yang sudah dipanaskan
berwarna kuning keruh, aroma kentang, tidak ada endapan, dan homogen. Setelah
disterilisasi serbuk media larut seluruhnya dalam air, berwarna kuning keorenan
keruh, aroma kaldu kentang, terdapat endapan, dan tidak homogen.

Gambar 6. Medium PDA


(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini:
1. Untuk menumbuhkan mikroorganisme terdapat beberapa media, diantaranya
NA, NB, PCA dan PDA, dan NaCl Fisiologis.
2. Nutrient agar (NA) berfungsi untuk menumbuhkan bakteri yang umum
dalam media padat, NB (Nutrient Broth) berfungsi untuk menumbuhkan
bakteri yang umum dalam media cair. PCA (Plate Count Agar) berfungsi
untuk menumbuhkan bakteri dan jamur. PDA (Potato Dextrose Agar)
berfungsi untuk menumbuhkan Kapang dan Khamir, NaCl Fisiologis untuk
penyangga pH agar sel bakteri tidak rusak akibat menurunnya pH
lingkungan.
3. Kegagalan pembuatan medium bisa disebabkan oleh beberapa faktor salah
satunya kesalahan pembacaan neraca analitik saat penimbangan.

DAFTAR PUSTAKA
Adams, Martin R and Maurice O. Moss. 2008. Food Microbiology Third Edition.
The Royal Society of Chemistry. UK.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi pangan I. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sumanti, Debby M. dkk. 2014. Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan.
Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Universitas Padjadjaran