Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

MANFAAT KALSIUM DAN ASPIRIN UNTUK


MENCEGAH PREEKLAMPSIA

Disusun oleh :
Neni Setiyowati
20154011016
Pembimbing
dr. H. Bambang Basuki, Sp. OG (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
SMF ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
2015

REFERAT

MANFAAT KALSIUM DAN ASPIRIN UNTUK


MENCEGAH PREEKLAMPSIA
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik di Bagian
Ilmu Kebidanan dan Kandungan RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh :
Neni Setiyowati
20154011016
Diajukan kepada :
dr. H. Bambang Basuki, Sp. OG (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
SMF ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
2015

HALAMAN PENGESAHAN

REFERAT
MANFAAT KALSIUM DAN ASPIRIN
UNTUK MENCEGAH PREEKLAMPSIA

Disusun oleh:
Neni Setiyowati
20154011016

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada : November 2015

Dokter Pembimbing

Dr. H. Bambang Basuki, Sp.OG (K)

BAB I

PENDAHULUAN
Preeklampsia merupakan gangguan kehamilan spesifik yang mempengaruhi
3-8% perempuan hamil di seluruh dunia dan merupakan penyebab utama morbiditas
dan mortalitas maternal dan perinatal. Menurut The American College of
Obstetricians and Gynecologist, preeklampsia didefinisikan sebagai tekanan darah
sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg yang terjadi setelah umur kehamilan
20 minggu pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal, ditambah
dengan proteinuria.
Meskipun patogenesis preeklampsia masih belum jelas, hipertensi pada
preeklampsia sebagian diduga merupakan hasil dari aktivasi endothelium maternal
yang menyebabkan vasokonstriksi dalam menanggapi suatu toksin plasenta.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa kekurangan kalsium mungkin merupakan faktor
risiko bagi perkembangan preeklampsia dan beberapa studi menunjukkan bahwa
suplementasi kalsium bisa mengurangi risiko perkembangan preeklampsia hingga
50%. Efek menguntungkan dari kalsium yang paling ditandai adalah pada wanita
dengan asupan kalsium harian rendah (<1000 mg / hari) dan pada wanita yang
memiliki faktor risiko menderita preeklampsia seperti nuliparitas atau mempunyai
riwayat keluarga preeklampsia. Studi terbaru menunjukkan bahwa suplementasi
kalsium juga bermanfaat bagi bayi yang dilahirkan dengan mencegah kelahiran
prematur dan mengurangi hipertensi sistolik dan risiko diabetes.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Bujold dkk menemukan bahwa pemberian
aspirin dosis rendah pada atau sebelum umur kehamilan 16 minggu bisa mencegah
50% preeklampsia dan 55% FGR. Telah dikemukakan bahwa terapi dosis rendah
asam asetilsalisilat menghambat tromboksan lebih dari produksi prostasiklin sehingga
melindungi terjadinya vasokonstriksi dan pembekuan darah patologis di plasenta.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Menurut The American College of Obstetricians and Gynecologist,
preeklampsia didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik
90 mmHg yang terjadi setelah umur kehamilan 20 minggu pada wanita yang
sebelumnya memiliki tekanan darah normal, ditambah dengan proteinuria.
Proteinuria didefinisikan sebagai adanya 0,3 g protein dalam urin selama 24 jam atau
sama dengan 1+ dipstick. Preeklamsia berat didiagnosis jika selain kriteria di atas,
terdapat satu atau lebih kriteria berikut:
-

tekanan darah sistolik 160 mmHg, atau tekanan darah diastolik 110 mmHg.
Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah

sakit dan sudah menjalani tirah baring.


proteinuria berat, yaitu terdapat 5 g protein atau lebih selama 24 jam atau 3 +

pada dipstick
oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500 ml selama 24 jam
gangguan otak maupun gangguan penglihatan
edema paru atau sianosis
nyeri epigastrium atau nyeri kuadran kanan atas
gangguan fungsi hati
trombositopenia
Pertumbuhan janin terhambat atau fetal growth restriction
Preeklampsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante,

intra, dan postpartum. Pembagian preeklampsia menjadi berat dan ringan tidaklah
berarti adanya dua penyakit yang jelas berbeda, sebab seringkali ditemukan penderita
dengan preeklampsia ringan dapat mendadak mengalami kejang dan jatuh dalam
koma. Gambaran klinik preeklampsia bervariasi luas dan sangat individual. Kadangkadang sukar untuk menentukan gejala preeklampsia mana yang timbul lebih dahulu.
Secara teoritik urutan-urutan gejala yang timbul pada preeklampsia ialah
edema, hipertensi, dan terakhir proteinuria. Dari semua gejala tersebut, timbulnya
hipertensi dan proteinuria merupakan gejala yang paling penting. Namun, sayangnya
penderita seringkali tidak merasakan perubahan ini. Bila penderita sudah mengeluh

adanya gangguan nyeri kepala, gangguan penglihatan, atau nyeri epigastrium, maka
penyakit ini sudah cukup lanjut. Preeklampsia berat dengan impending eklampsia
adalah preeklampsia berat disertai gejala-gejala subjektif berupa nyeri kepala hebat,
ganggua visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan progresif tekanan
darah.
B. FAKTOR RISIKO
Terdapat banyak faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan,
diantaranya :
1. Primigravida, primipaternitas
2. Hiperplasentosis, misalnya mola hidatidosa, kehamilan multiple, diabetes
3.
4.
5.
6.

mellitus, hidrops fetalis, bayi besar


Umur yang ekstrim
Riwayat keluarga pernah menderita preeklampsia/eklampsia
Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
Obesitas

C. PATOFISOLOGI
Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan
jelas. Teori-teori yang sekarang banyak dianut adalah :
1. Teori Kelainan Vaskularisasi Plasenta
Pada kehamilan normal, dengan sebab yang belum jelas, terjadi invasi
trofoblas ke dalam lapisan otot arteri spiralis yang menimbulkan degenerasi
lapisan otot tersebut sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis. Invasi trofoblas juga
memasuki jaringan sekitar arteri spiralis, sehingga jaringan matriks menjadi
gembur dan memudahkan lumen arteri spiralis mengalami distensi dan dilatasi.
Distensi dan vasodilatasi lumen arteri spiralis ini memberi dampak penurunan
tekana darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada
daerah utero plasenta. Akibatnya, aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi
jaringan juga meningkat, sehingga dapat menjamin pertumbuhan janin dengan
baik. Proses ini dinamakan remodeling arteri spiralis.
Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas
pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot
arteri spiralis menjadi tetap kaku dank eras sehingga lumen arteri spiralis tidak

memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis


relatif mengalami vasokonstriksi, dan terjadi kegagalan remodeling arteri
spiralis, sehingga aliran darah uteroplasenta menurun dan terjadilah hipoksia
dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan menimbulkan perubahanperubahan yang dapat menjelaskan patogenesis HDK selanjutnya.
2. Teori Iskemia Plasenta, Radikal Bebas, dan Disfungsi Endotel
Iskemia Plasenta dan Pembentukan Oksidan / Radikal Bebas
Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan
(disebut juga radikal bebas). Oksidan atau radikal bebas adalah senyawa
penerima electron atau atom/molekul yang mempunyai electron yang tidak
berpasangan. Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia
adalah radikal hidroksil yang sangat toksis, khususnya terhadap membran sel
endotel pembuluh darah. Sebenarnya produksi oksidan pada manusia adalah
suatu proses normal, karena oksidan memang dibutuhkan untuk perlindungan
tubuh. Adanya radikal hidroksil dalam darah mungkin dahulu dianggap
sebagai bahan toksin yang beredar dalam darah, maka dahulu hipertensi
dalam kehamilan disebut toxaemia.
Radika hidroksil akan merusak membran sel yang mengandung banyak asam
lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak selain akan
merusak membran sel, juga akan merusak nukleus dan protein sel endotel.
Produksi oksidan (radikal bebas) dalam tubuh yang bersifat toksis selalu

diimbangi dengan produksi antioksidan.


Peroksida Lemak sebagai Oksidan pada Hipertensi dalam Kerhamilan
Pada hipertensi dalam kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan,
khususnya peroksida lemak meningkat, sedangkan antioksidan, missal
vitamin E pada hipertensi dalam kehamilan menurun, sehingga terjadi
dominasi kadar oksidan peroksida lemak yang relatif tinggi.
Peroksida lemak sebagai radika bebas yang sangat toksis ini akan beredar di
seluruh tubuh dalam aliran darah dan akan merusak membran sel endotel.

Membran sel endotel lebih mudah mengalami kerusakan oleh peroksida


lemak karena letaknya langsung berhubungan dengan aliran darah dan
mengandung banyak asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh sangat
rentan terhadap oksidan radikal hidroksil, yang akan berubah menjadi
peroksida lemak.

Disfungsi Sel Endotel


Akibat sel endotel terpapar peroksida lemak, maka terjadi kerusakan sel
endotel, yang kerusakannya dimulai dari membrane sel endotel. Kerusakan
membrane sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi endotel, bahkan
rusaknya seluruh struktur sel endotel. Keadaan ini disebut disfungsi
endotel. Pada waktu terjadi kerusakan sel endotel yang mengakibatkan
disfungsi endotel maka akan terjadi :
- Gangguan metabolisme prostaglandin, karena salah satu fungsi sel endotel
adalah
-

memproduksi

prostaglandin,

yaitu

menurunnya

produksi

prostasiklin (PGE2) yang merupakan suatu vasodilator kuat.


Agregasi sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami kerusakan.
Agregasi sel trombosit ini adalah untuk menutup tempat-tempat di lapisan
endotel yang mengalami kerusakan. Agregasi trombosit ini memproduksi
tromboksan (TXA2) yang merupakan suatu vasokonstriktor kuat. Pada
keadaan normal, perbandingan kadar prostasiklin (sebagai vasodilator)
lebih tinggi daripada kadar tromboksan. Pada preeklampsia

kadar

tromboksanlebih tinggi daripada kadar prostasiklin sehingga terjadi


-

vasokonstriksi dengan terjadi kenaikan tekanan darah.


Perubahan khas pada sel endotel kapilar glomerulus
Peningkatan permeabilitas kapiler
Peningkatan produksi bahan-bahan vasopresor, yaitu endotelin. Kadar NO

(vasodilator) menurun, sedangkan endotelin (vasokonstriktor) meningkat.


- Peningkatan faktor koagulasi.
3. Teori Intoleransi Imunologik antara Ibu dan Janin
Dugaan bahwa faktor imunologik berperan terhadap terjadinya
hipertensi dalam kehamilan terbukti dengan fakta sebagai berikut :

Primigravida mempunyai risiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam

kehamilan jika dibandingkan dengan multigravida.


Ibu multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai risiko lebih besar
terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami

yang sebelumnya
Seks oral mempunyai risiko lebih rendah terjadinya hipertensi dalam
kehamilan. Lamanya periode hubungan seks saat kehamilan ialah makin
lama periode ini, makin kecil terjadinya hipertensi dalam kehamilan.
Pada perempuan hamil normal, respon imun tidak menolak adanya

hasil konsepsi yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya human
leukocyte antigen protein G (HLA-G), yang berperan penting dalam modulasi
respon imun, sehingga si ibu tidak menolak hasil konsepsi (plasenta). Adanya
HLA-G pada plasenta dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel
Natural Killer (NK) ibu.
Selain itu, adanya HLA-G akan mempermudah invasi sel trofoblas ke
dalam jaringan desidua ibu, di samping untuk menghadapi sel Natural Killer.
Pada plasenta hipertensi dalam kehamilan, terjadi penurunan ekspresi HLA-G.
Berkurangnya HLA-G di desidua daerah plasenta, menghambat invasi
trofoblas ke dalam desidua. Invasi trofoblas sangat penting agar jaringan
desidua menjadi lunak dan gembur sehingga memudahkan terjadinya dilatasi
arteri spiralis.

HLA-G juga merangsang produksi sitokin, sehingga

memudahkan terjadinya reaksi inflamasi. Kemungkinan terjadi ImmuneMaladaptation pada preeklampsia.


4. Teori Adaptasi Kardiovaskular
Pada hamil normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan-bahan
vasopressor. Refrakter berarti pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan
bahan vasopressor, atau dibutuhkan kadar vasopressor yang lebih tinggi untuk
menimbulkan respons vasokonstriksi. Pada kehamilan normal terjadi refrakter
pembuluh darah terhadap bahan vasopresor adalah akibat dilindungi oleh
adanya

sintesis prostaglandin pada sel endotel pembuluh darah. Hal ini

dibuktikan bahwa daya refrakter terhadap bahan vasopressor akan hilang bila
diberi prostaglandin sintesa inhibitor (bahan yang menghambat produksi
prostaglandin). Prostaglandin ini di kemudian hari ternyata adalah
prostasiklin.
Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap
bahan vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap
bahan-bahan vasopresor. Artinya, daya refrakter pembuluh darah terhadap
bahan vasopresor hilang hingga pembuluh darah menjadi sangat peka
terhadap bahan vasopresor. Banyak peneliti telah membuktikan bahwa
peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor pada hipertensi
dalam kehamilan sudah terjadi pada trimester pertama. Peningkatan kepekaan
pada kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan. Fakta ini
dapat dipakai sebagai prediksi akan terajdinya hipertensi dalam kehamilan.
5. Teori Genetik
Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. Genotipe
ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial
jika dibandingkan dengan genotipe janin. Telah terbukti bahwa pada ibu yang
mengalami preeklampsia, 26% anak perempuannya akan mengalami
preeklampsia pula, sedangkan hanya 8% anak menantu mengalami
preeklampsia.
6. Teori Defisiensi Gizi ( Teori Diet)
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kekurangan defisiensi
gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian yang
penting yang pernah dilakukan di Inggris ialah penelitian tentang pengaruh diet
pada preeclampsia beberapa waktu sebelum pecahnya Perang Dunia II.
Suasana serba sulit mendapat gizi yang cukup dalam persiapan perang
menimbulkan kenaikan insidensi hipertensi dalam kehamilan.
Penelitian terakhir membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan, termasuk
minyak hati halibut, dapat mengurangi risiko preeclampsia. Minyak ikan yang
mengandung banyak asam lemak tidak jenuh yang dapat menghambat produksi

tromboksan, menghambat aktivasi trombosit, dan mencegah vasokonstriksi


pembuluh darah.
Beberapa peneliti telah melakukan uji klinik untuk memakai konsumsi
minyak ikan atau bahan yang mengandung asam lemak tak jenuh dalam
mencegah preeclampsia. Hasil sementara menunjukkan bahwa penelitian onio
berhasil baik dan mungkin dapat dipakai sebagai alternatif pemberian aspirin.
Beberapa peneliti juga menganggap bahwa defisiensi kalsium pada diet
perempuan hamil mengakibatkan risiko terjadinya preeklampsia/eklampsia.
Penelitian di Negara Ekuador Andes dengan metode uji klinik, ganda tersamar,
dengan membandingkan pemberian kalsium dan placebo. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ibu hamil yang diberi suplemen kalsium cukup, kasus
yang mengalami preeclampsia adalah 14% sedang yang diberi glukosa 17%.
7. Teori Stimulus Inflamasi
Teori ini berdasarkan fakta bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam
sirkulasi darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi.
Pada kehamilan normal plasenta juga melepaskan debris trofoblas sebagai
sisa-sisa proses apoptosis dan nekrotik trofoblas, akibat reaksi stress oksidatif.
Bahan-bahan ini sebagai bahan asing yang kemudian merangsang
timbulnya proses inflamasi. Pada kehamilan normal, jumlah debris trofoblas
masih dalam batas wajar, sehingga reaksi inflamasi juga masih dalam batas
normal. Berbeda dengan proses apoptosis pada preeclampsia, dimana pada
preeclampsia terjadi peningkatan stres oksidatif, sehingga produksi debris
apoptosis dan nekrotik trofoblas juga meningkat. Makin banyak sel trofoblas
plasenta, misalnya pada plasenta besar, pada hamil ganda, maka reaksi stress
oksidatif akan sangat meningkat. Keadaan ini menimbulkan beban reaksi
inflamasi dalam darah ibu menjadi jauh lebih besar, dibanding reaksi
inflamasi pada kehamilan normal. Respon inflamasi ini akan mengaktivasi sel
endotel dan sel-sel makrofag/granulosit, yang lebih besar pula, sehingga
terjadi

reaksi

sistemik

preeclampsia pada ibu.

inflamasi

yang

menimbulkan

gejala-gejala

Redman menyatakan bahwa disfungsi endotel pada preeklampsia


akibat produksi debris trofoblas plasenta berlebihan tersebut di atas,
mengakibatkan aktivitas leukosit yang sangat tinggi pada sirkulasi ibu.
Peristiwa ini oleh Redman disebut sebagai kekacauan adaptasi dari proses
inflamasi intravascular pada kehamilan yang biasanya berlangsung normal
dan menyeluruh.
D. PENCEGAHAN PREEKLAMPSIA
Yang dimaksud pencegahan ialah upaya untuk mencegah terjadinya
preeklampsia pada perempuan hamil yang mempunyai risiko terjadinya
preeklampsia. Preeklampsia adalah suatu sindroma dari proses implantasi
sehingga tidak secara keseluruhan dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan
1.

dengan nonmedical dan medical.


Pencegahan dengan Nonmedikal
Cara yang paling sederhana ialah melakukan tirah baring. Di Indonesia tirah
baring masih diperlukan pada mereka yang mempunyai risiko tinggi
terjadinya preeklampsia meskipun tirah baring tidak terbukti mencegah
terjadinya preeklampsia dan mencegah persalinan preterm. Restriksi garam
tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeklampsia.
Hendaknya diet ditambah suplemen yang mengandung : a) minyak ikan yang
kaya dengan asam lemak tidak jenuh, misalnya omega-3 PUFA, b)
antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, -karoten, CoQ10, N-Asetilsistein,
asam lipoik, dan c) elemen logam berat seperti zink, magnesium, kalsium.
2. Pencegahan dengan Medikal
Pencegahan dapat pula dilakukan dengan pemberian obat meskipun belum
ada bukti yang kuat dan sahih. Pemberian diuretic tidak terbukti mencegah
terjadinya preeklampsia bahkan memperberat hipovolemia. Antihipertensi
tidak terbukti mencegah terjadinya preeklampsia.
Pemberian kalsium :1500-2000 mg/hari dapat dipakai sebagai suplemen pada
risiko tinggi terjadinya preeklampsia. Selain itu dapat pula diberikan zink
200 mg/hari, magnesium 365 mg/hari. Obat antitrombotik yang dianggap
dapat mencegah preeklampsia ialah aspirin dosis rendah rata-rata di bawah

100 mg/hari, atau dipiridamole. Dapat juga diberikan obat-obat antioksidan,


misalnya vitamin C, vitamin E, -karoten, CoQ 10, N-Asetilsistein, asam
lipoik.
E. HUBUNGAN ANTARA ASUPAN KALSIUM DENGAN PREEKLAMPSIA
Status nutrisi berhubungan langsung dengan peningkatan risiko kejadian
preeklampsia, termasuk kadar kalsium dalam serum yang rendah. Sumplementasi
kalsium selama kehamilan direkomendasikan untuk pencegahan preeklampsia
pada perempuan dengan asupan kalsium yang rendah dan perempuan yang
memiliki risiko tinggi (misalnya perempuan dengan diabetes, penyakit ginjal, dan
penyakit autoimun).
Danielle dkk (2014) melakukan studi observasional tentang hubungan
faktor diet dengan hipertensi gestasional dan preeklampsia. Pencarian sistematis
dilakukan menggunakan MEDLINE dan EMBASE untuk mengidentifikasi studistudi relevan yang dipublikasikan dari tahun 1948 (MEDLINE) atau 1966
(EMBASE) sampai dengan akhir Mei 2014. Kriteria inklusi pada riview
sistematis ini adalah studi observasional (termasuk case control dan cross
sectional, retrospective, dan cohort prospective) dari perempuan usia reproduktif
dalam hubungannya dengan faktor diet (sebagai paparan) dan hipertensi
gestasional serta preeklampsia (sebagai outcome). Faktor diet yang termasuk di
sini adalah asupan energi, nutrisi, atau makanan, atau pola diet secara
keseluruhan, dengan kombinasi atau tanpa kombinasi dengan suplemen diet.
Kriteria eklusi pada penelitian ini adalah studi-studi yang melaporkan suplemen
diet tidak dengan kombinasi asupan diet, atau diuji dengan biomarket asupan diet.
Lalu dihitung perbedaan rata-rata tertimbang / WMD ( Weighted Mean
Differences) dari asupan dietnya, termasuk asupan kalsium. Hasil penelitian ini
adalah dari 23 studi cohort dan 15 case control, yang mana 16 dapat dimasukkan
ke dalam meta-analisis.
Dari tiga studi case control dan tujuh studi cohort yang bisa dimasukkan
dalam meta analisis berkaitan dengan asupan kalsium melaporkan asupan kalsium

pada kasus HDP dan bukan kasus HDP (Gambar 1a dan b). Hasil dari studi case
control secara konsisten menunjukkan asupan kalsium yang dilaporkan lebih
rendah pada kasus HDP dibandingkan dengan bukan kasus HDP, tetapi secara
statistik tidak signifikan (WMD = -39,89, 95% CI; I2 36,6%; P = 0,21). Hasil dari
studi cohort menunjukkan asupan rata-rata kalsium dilaporkan lebih rendah
secara signifikan dari 56 mg / hari (95% CI) pada kasus pre-eklampsia
dibandingkan dengan bukan kasus preeklampsia. Perbedaan rata-rata secara
keseluruhan sebanyak 44 mg/hari didapatkan pada perempuan dengan HDP (95%
CI) dengan heterogenitas (P = 0,02).
Empat studi case control dan dua studi cohort melaporkan perkiraan
hubungan asupan kalsium dan HDP yang mana tiga studi case control bisa
dimasukkan dalam meta-analisis. Asupan kalsium tertinggi (kira-kira > 1600 mg /
hari ) dibandingkan dengan asupan terendah (kira-kira <1000 mg / hari) secara
konsisten menunjukkan peluang yang lebih rendah untuk hipertensi gestasional
(OR = 0,63, 95% CI, P = 0.53) dan keseluruhan HDP (OR = 0,76, 95% CI, P =
0,79).
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh.
Kalsium dibutuhkan di semua jaringan tubuh, khususnya tulang. Kebutuhan
kalsium kurang lebih 1000 mg per hari. Namun wanita menopause harus
mendapatkan 1500 mg kalsium per hari. Hormon paratiroid mengontrol tingkat
kalsium dalam darah. Jika tingkat ini turun di bawah poin tertentu, hormone ini
dilepas dalam aliran darah dan meningkatkan kalsium darah dengan beberapa
cara. Karena kalsium penting bagi kesehatan otak, sel tulang akan berkorban
untuk memastikan jumlah kalsium yang memadai dalam darah.
Penelitian ini juga mengamati asupan kalsium dilaporkan lebih rendah pada
wanita dengan HDP dibandingkan dengan perempuan tanpa HDP. Meskipun
secara statistik tidak signifikan setelah penyesuaian untuk faktor pembaur, studi
ini secara konsisten menunjukkan penurunan peluang untuk pre-eklampsia pada
asupan kalsium yang tinggi. Telah dihipotesiskan bahwa kalsium mempengaruhi

HDP dengan mengurangi konsentrasi hormon paratiroid, yang menurunkan kadar


kalsium bebas di intraseluler, yang menghasilkan kontraktilitas otot polos dan
vasokonstriksi. Kalsium juga telah ditunjukkan mempengaruhi aliran darah
uteroplasenta dan fetoplasenta dengan mengurangi resistensi di arteri uterina dan
arteri umbilikal.

Figure 1. Difference in unadjusted calcium intake (mg/day) between cases (gestational


hypertension, pre-eclampsia and gestational hypertension or pre-eclampsia) and non-cases
(reference) reported in casecontrol and cohort studies.

Figure 2. Adjusted association between calcium intake (highest versus lowest category of
intake (reference) and hypertensive disorders of pregnancy based on casecontrol studies.
Meta-analysis of 5 studies from 3 articles with data from 2,203 pregnant women, including
430 gestational hypertension and 387 pre-eclampsia cases. For each study, the center of
each square indicates the odds ratio, and the horizontal line indicates the 95% confidence
interval; the area of the square is proportional to the weight that the individual study
contributes to the overall pooled odds ratios; and the diamonds are pooled odds ratios (for
each outcome and overall).

F. MANFAAT ASPIRIN UNTUK MENCEGAH PREEKLAMPSIA


Nama kimia aspirin adalah asam asetil salisilat. Asam asetil salisilat yang
lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin merupakan salah satu senyawa yang
secara luas digunakan sebagai obat analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi. Selain
itu, dosis aspirin 80 mg per hari (dosis tunggal dan rendah) dapat menghasilkan
efek antiplatelet (penghambat agregasi trombosit). Secara normal, trombosit
tersebar dalam darah dalam bentuk tidak aktif, tetapi menjadi aktif karena
berbagai rangsangan. Efek antiplatelet aspirin adalah dengan menghambat sintesis

tromboksan A2 (TXA2) dari asam arakidonat dalam trombosit oleh adanya proses
asetilasi ireversibel dan inhibisi siklooksigenase, suatu enzim penting dalam
sintesis prostaglandin dan tromboksan A2.
Peter von Dadelszen melakukan review sistematis dan studi meta-analisis
tentang pemberian awal aspirin dosis rendah untuk pencegahan preeklampsia
berat maupun preeklampsia ringan. Kutipan yang relevan diambil dari Embase,
PubMed, the Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL), dan
Web of Science dari tahun 1965 sampai Oktober 2011. Studi meta-analisis ini
hanya mencakup studi prospektif, acak, dan uji coba terkontrol. Populasi dalam
penelitian ini adalah ibu hamil yang berisiko menderita preeklampsia, diterapi
dengan aspirin dosis rendah dimulai pada atau sebelum umur kehamilan16
minggu. Aspirin dosis rendah didefinisikan sebagai 50 sampai 150 mg asam
asetilsalisilat harian, tunggal atau dalam kombinasi dengan 300 mg dipiridamol,
agen antiplatelet lain. Kelompok kontrol mendapatkan plasebo atau tanpa terapi.
Pencarian literatur diidentifikasi dari 7941 studi yang memenuhi syarat,
dan sejumlah 352 studi ditinjau ulang. Studi yang memnuhi kriteria inklusi
sejumlah 15 studi tetapi hanya empat yang disertakan (392 perempuan) untuk
analisis akhir karena tersedia informasi tentang preeklampsia ringan dan
preeklampsia berat. Dalam tiga penelitian, kelompok kontrol secara acak
mendapatkan plasebo dan dalam studi keempat, tidak mendapatkan terapi.
Pemberian aspirin dimulai pada atau sebelum umur kehamilan 16 minggu
berhubungan dengan penurunan secara signifikan risiko preeklampsia secara
keseluruhan (RR: 0,52, 95% CI: 0,38-0,76, p <0,01) dan risiko preeklamsia berat,
tetapi tidak untuk preeklampsia ringan.

Tabel 1. Risiko Relatif Preeklampsia Berat dan Preeklampsia Ringan


Dikaitkan dengan Penggunaan Dosis Rendah Aspirin Pada atau Sebelum
Umur Kehamilan 16 Minggu.

Prevalensi
Outcome
Preeklampsia
Berat
Preeklampsia
Ringan

Risiko Relatif
(95% Confidence

Nilai p

dari Outcome
Aspirin

Kontrol

Intervals)

2.0

12.6

0.22

<0.001

16.9

22.0

0.81

0.63

BAB III
PEMBAHASAN

Salah satu tanda preeklampsia adalah adanya disfungsi atau aktivasi sel
endotel dalam menanggapi 'racun' dari plasenta. Necrotic trophoblastic debris (NTD)
mungkin merupakan salah satu racun plasenta dan aktivator lain dari sel endotel
termasuk sitokin inflamasi. Suplemen kalsium menunjukkan efek perlindungan
terhadap risiko terjadinya preeklamsia namun tidak diketahui mekanismenya dengan
jelas.
Dari studi terbaru menujukkan bahwa suplementasi kalsium mampu
mencegah atau menghambat aktivasi dari sel-sel endotelial, hal ini merupakan
kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Q. Chen, dkk (2013) Dalam studinya, Q.
Chen dkk melakukan eksplan plasenta yang dikultur dengan interleukin-6 (IL-6)
dalam berbagai konsentrasi dari kalsium. Resultan debris trofoblas akan terpapar
dengan sel-sel endotelial. Sehingga sel-sel endotelial akan terpapar dengan aktivator
termasuk NTD, IL-6 dan sera preeklampsi yang muncul pada berbagai konsentrasi
kalsium dan aktivasi dari sel endotelial tersebut dimonitor menggunakan quantifying
cell surface markers dengan ELISA.
Peningkatan kadar kalsium tidak mencegah induksi IL-6 akibat penumpahan
NTD dari eksplan plasenta tetapi mencegah aktivasi sel endotel dalam merespon IL6, preeklampsia sera, atau NTD. Penurunan kadar kalsium secara langsung akan
menginduksi aktivasi sel-sel endotelial. Penghambatan sintetase nitrat oksida
menghambat kemampuan kadar kalsium yang tinggi dalam melindungi aktivasi sel
endotel. Aktivitas sel endotel oksida nitrat sintetase diblokir dengan LN-nitroarginine
metil ester.

Hasil penelitian ini menunjukkan kadar kalsium tidak mempengaruhi


penumpahan trofoblas debris tetapi penting terhadap aktivasi sel endotel dan
suplementasi kalsium berpotensi membalikkan aktivasi sel endotel pada wanita
preeklampsia. Hasil ini dapat dipakai dalam menjelaskan manfaat dari suplemen
kalsium dalam pengurangan risiko pengembangan preeklampsia dan memberikan
dukungan mekanistik secara in-vitro tentang suplementasi kalsium pada wanita yang
berisiko.
Aspirin dosis rendah mengurangi risiko keseluruhan preeklampsia,
terutama preeklampsia berat dengan risiko relatif 90%. Namun, penggunaan aspirin
tidak berhubungan secara signifikan terhadap pengurangan risiko relatif preeklamsia
ringan. Ada kemungkinan bahwa pada onset awal, aspirin dosis rendah meningkatkan
plasentasi sehingga mengurangi risiko preeklamsia berat. Penjelasan lain adalah
bahwa dalam semua kasus preeklamsia ada gangguan plasentasi, tetapi spektrum
gangguan plasenta tercermin dalam keparahan manifestasi klinis dari penyakit ini.
Bujold dkk menemukan bahwa pemberian aspirin dosis rendah pada atau
sebelum umur kehamilan 16 minggu bisa mencegah 50% preeklampsia dan 55%
FGR. Telah dikemukakan bahwa terapi dosis rendah asam asetilsalisilat menghambat
tromboksan lebih dari produksi prostasiklin sehingga

melindungi terjadinya

vasokonstriksi dan pembekuan darah patologis di plasenta. Penggunaan aspirin dosis


rendah dpada awal kehamilan telah dikaitkan dengan peningkatan resistensi aliran
darah arteri uterina, yang menunjukkan remodeling arteri spiralis. Oleh karena itu,
dibuat hipotesis bahwa aspirin dosis rendah lebih efektif dalam pencegahan
preeklamsia berat daripada preeklampsia ringan.

KESIMPULAN

Asupan kalsium pada wanita yang menderita hipertensi dalam kehamilan


lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang tidak menderita hipertensi dalam
kehamilan. Selain itu, penurunan kadar kalsium secara langsung akan menginduksi
aktivasi sel-sel endothelial. Kadar kalsium tidak mempengaruhi penumpahan
trofoblas debris tetapi penting terhadap aktivasi sel endotel dan suplementasi kalsium
berpotensi membalikkan aktivasi sel endotel pada wanita preeklampsia.
Aspirin dosis rendah mengurangi risiko keseluruhan preeklampsia, terutama
preeklampsia berat dengan risiko relatif 90%. Namun, penggunaan aspirin tidak
berhubungan secara signifikan terhadap pengurangan risiko relatif preeklamsia
ringan.

DAFTAR PUSTAKA

Chen, Q., Zhang, Y., Tong, M. (2013). Pre-Treatment with Calcium Prevents Endothelial Cell
Activation Induced by Multiple Activators, Necrotic Trophoblastic Debris or IL-6 or
Preeclamptic Sera: Possible Relevance to the Pathogenesis of Preeclampsia. Elsevier
Cunningham FG, Gilstrap LC, Gant NF, Hauth JC, Leveno KJ, Wenstrom KD. Hipertensi
dalam Kehamilan. In : William Obstetrics. 23 rd ed. New York: Mc GrHill;2012.p.740794
Danelszen, V., Vaiman, D., Tapp, S. (2012). Early Administration of Low-Dose Aspirin for
the Prevention of Severe and Mild Preeclampsia : A Systemic Review and Metaanalysis. American Journal of Perinatology.
Muh. Dikman. Hipertensi dalam Kehamilan Dalam : Winjosastro H
Saifuddin AB,
Rachimhadhi T, editor Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Jakarta : Yayasan bina pustaka
sarwono Prawirohardjo; 2010. hal.530-561
Schoenaker, AJM., Soedamah, S., Mishra, D. (2014).The Association between Dietary
Factors and Gestasional Hypertenson and Preeclampsia: A Systemic Review and
Meta-analysis of Observational Studies. BMC Medicine.