Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES PERKEMBANGAN

EMBRIO MAMALIA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Struktur Perkembangan Hewan II
Yang dibina oleh Ibu Dra. Nursasi Handayani, M.Si

Oleh :
Kelompok 5
Offering C
1. Ariadna Safitri

(150341607210)

2. Miftakhul Roqhmah

(150341603883)

3. Respati Satriyanis

(150341601110)

4. Septian Dwi Pramono

(150341600502)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Perkembangan Embrio pada Mamalia ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Dra. Nursasi
Handayani M.Si selaku Dosen mata kuliah Sistem Perkembangan Hewan II
Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang yang telah memberikan tugas ini
kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai proses perkembangan embrio pada
mamalia yang pada prosesnya terdiri dari berbagai tahap. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Malang, Oktober 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada hampir semua mahluk hidup suatu generasi baru dimulai dari suatu
telur yang telah difertilisasi (dibuahi), atau zigot yaitu suatu sel hasil
penggabungan dari sel induk betina dan sel induk jantan, dimana masing-masing
induk berperan dalam menentukan sifat-sifat individu baru yakni dalam hal
ukuran, bentuk, perlengkapan fisiologis dan pola perilakunya. Pada proses
perkembangan manusia melalui berbagai tahap yang dimulai dari gametogenesis
pada masing-masing induk, dimana induk jantan mengalami spermatogenesis
(proses pembentukan sperma), dan induk betina mengalami oogenesis ( proses
pembentukan ovum). Setelah terjadi vertilisasi (proses peleburan dua gamet
sehingga terbentuk individu dengan sifat genetik yang berasal dari kedua
induknya) maka akan terbentuk zigot. Zigot akan mulai membentuk suatu
organisme yang multiseluler yang dilakukan dengan proses-proses pembelahan.
Pembelahan awal yang terjadi disebut sebagai blastulasi, dimana sel yang
merupakan hasil fertilisasi antara dua induk mengalami pembelahan. Setelah
beberapa kali mengalami pembelahan sinkron, embrio kemudian membentuk
suatu bola yang disebut morulla. Setelah embrio menjalani tahap pembelahan dan
pembentukan blastula, embrio akan masuk kedalam suatu tahapan yang paling
kritis selama masa perkembangannya, yaitu stadium grastula. Grastulasi (proses
pembentukan grastula) ditandai dengan perubahan susunan yang sangat besar dan
sangat rapi dari sel-sel embrio. Grastulasi akan menghasilkan suatu embrio yang
mempunyai tiga lapisan lembaga yaitu lapisan endoderm disebelah dalam,
mesoderm disebelah tengah dan ektoderm disebelah luar. Dalam perkembangan
selanjutnya, ketiga lapisan lembaga akan membentuk jaringan-jaringan khusus
dan organ-organ tubuh, dimana proses ini disebut organogenesis. Organ pertama
yang terbentuk adalah jantung. Perkebangan embrio manusia sangatlah kompleks
dimana pada awalnya hanya satu sel kemudian berkembang menjadi individu
yang terdiri dari miliaran sel. Oleh karena itu, perlu suatu pembelajaran khusus
mengenai perkembangan manusia

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fertilisasi
Sel telur mamalia di kelilingi oleh lapisan ekstra seluler tebal yang
deisebutzona pelusida. Langkah pertama fertilisasi adalah perlekatan sperma
secaralonggar di permukaan zona pelusida. Peristiwa itu diikuti oleh pengikatan
spermadengan zona pelusida. Ikatan yang terbentuk sangat spesifik dan erat.
Reseptor pengikatan sperma ada di zona pelusida sedang protein spesifik
pengikatan seltelur terdapat dalam membran plasma sperma. Ribuan sperma dapat
melekatkesatu sel telur yang sama. Sperma yang melekat lalu menyelesaikan
reaksiakrosom yang merupakan proses persiapan penyatuan sperma dan sel
telur.Membran terluar dari struktur dua lapis akrosomal melekat dan berfusi
denganmembran plasma sperma di tempat-tempat sepanjang bagian tepi kepala
sperma. Reaksi akrosomal melepaskan enzim-enzim hidrolitik (akrosin)
yangmemungkinkan sperma bergerak melalui zona pelusida ke sel telur.
Terowonganyang sangat sempit dihasilkan oleh sperma selama perjalanannya
menembus zona tersebut.
Setelah

berhasil

melewati

zona

pelusida

sperma

tiba

di

terowongan perivitelin yang memisahkan sel telur dengan zona pelusida. Satu
spermamenjalani fusi dengan sel telur melalui penyatuan membran akrosomal
posterior sperma dengan membran plasma sel telur. Halangan yang terbentuk
secara cepatdapat mencegah polispermi (fertilisasi satu sel telur oleh lebih dari
satu sperma) kemuungkinan terjadi akibat perubahan-perubahan potensial listrik
pada membransel telur setelah masuknya sperma. Masuknya sperma mengaktifasi
sel telur dannukleusnya. Pronukleus sperma menyatu dengan pronukleus sel telur.
Granulakortikal di bagian tepi sitoplasma sel telur berfusi dengan membran
plasma, dan berbagai enzim dilepaskan ke dalam rongga perivitelin. Enzim-enzim
itulah yangmenyebabkan zona pelusida menjadi kaku dan hilang kemampuannya
untuk mengikat sperma. Sehingga dengan adanya zona pelusida yang menjadi
kaku inidapat mencegah polispermi. Fertilisasi mamalia berlangsung dalam
oviduk.

2.2. Tahapan Perkembangan Embrio


Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage), stadium
morula (morulasi), stadium blastula (blastulasi), stadium gastrula (gastrulasi), dan
stadium organogenesis.
2.2.1 Stadium Cleavage (Pembelahan)
Cleavage adalah pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit
yang lebih kecil yang di sebut blastomer. Stadium cleavage merupakan
rangkaian mitosis yang berlangsung berturut-turut segera setelah terjadi
pembuahan yang menghasilkan morula dan blastomer
Sel telur mamalia berukuran sangat kecil dan paling kecil di antara sel
telur dunia hewan. Sebagai contoh, zigot manusia hanya berukuran 100
mikron. Selain itu perkembangan embrio mamalia terjadi di dalam tubuh
induknya. Proses pembelahan zigot mamalia paling lambat dibandingkan
kelompok hewan lainnya, yaitu memakan waktu 12-24 jam untuk setiap kali
pembelahan. Stadium pembelahan terjadi pada saat embrio digerakkan
kedalam uterus. (Surjono,2001).
Ada beberapa perbedaan pembelahan mamalia dibanding hewan
lainnya. Pertama pembelahannya berjalan sangat lambat. Pembelahan
pertama selesai sekitar 36 jam stelah fertilisasi, pembelahan kedua sekitar 60
jam, dan pembelahan ketiga sekitar 72 jam. Sumbu pembelahan terorientasi
secara acak, dan semua blastomer berukuran sama. Peristiwa penting selama
perkembangan awal mamalia adalah proses pemadatan (compaction), yang
terjadi pada tahapan delapan sel. Sebelum pemadatan, sel-sel embrio awal
terbungkus secara longgar, setelah pemdatan sel-sel itu menempel secara erat
satu sama lain. Pemdatan melibatkan produksi protein baru pada permukaan
sel, termasuk protein yang disebut kadherin. Kedua, tipe pembelahannya
yaitu pada pembelahan pertama terjadi secara normal yaitu melalui bidang
meridional, pada pembelahan kedua lain dari biasanya, yaitu satu blastomer
membelah secara meridional, sedangkan blastomer lainnya membelah secara
ekuatorial. Tipe pembelahan seperti ini disebut holoblastik rotasional.
(Surjono,2001)

Gambar 2.1 Perbandingan stadium pembelahan dini (A) echinodermata dan (B)
mamalia (Gilbert, 1985).
Setelah terjadi penetrasi sperma ke oosit di ampula oviduk, meiosis
dilanjutkan dan pembelahan segera dimulai. Tahap perkembangan selanjutnya
adalah pembelahan yang berlangsung terus menerus tanpa istirahat, dengan
tidak diikuti oleh pertambahan volume, sehingga menghasikan banya sel
dengan ukuran sangat kecil. Lambatnya pembelahan embrio mamalia,
kemungkinan terkait dengan mulai aktifnya gen pada awal pembelahan yang
selanjutnya dihasilkan protein spesifik untuk keperluan perkembangan
embrio. Pada manusia gen aktif pertama kali terjadi pada embrio tahap 4 sel
dan 8 sel.
Yang paling berbeda yaitu pada periode kompaksi. Pada stadium 8 sel
hubungan antar blastomer cukup longgar dan banyak mengandung ruang
antarsel. Namun pada pembelahan selanjutnya tingkah laku blastomer
mengalami perubahan yang drastis. Blastomer-blastomer ini tiba-tiba
berhimpitan, mempererat hubungan antar blastomer sehingga membentuk
bola yang padat. Sel sel dibagian dalam embrio berhubungan satu sama lain
dengan gap junction memungkinkan terjadinya perlaluan molekul dan ion

antara sel yang satu dengan sel yang lainnya. Sedangkan antar sel-sel bagian
luar berhubungan satu dengan tight junction, yang menghubungkan antar
membrane sel, juga berfungsi untuk mencegah pertukaran cairan antara
lingkungan dengan embrio dan menyebabkan terjadinya akumulasi cairan
didalam embrio (Surjono,2001).

Gambar 2.2 Perkembangan oosit partenogenetik yang diaktivasi dengan ethanol


dan 6-DMAP. A. Oosit dengan polarbodi I, B. Embrio tahap 2 sel, C.
Embrio tahap 4 sel, D. Embrio tahap 8 sel, E. Embrio tahap 16 sel
(morula), dan F. Blastosis (Mahendra, 2010).
Tahap embrio 8 sel membelah, menhasilkan Morula yang tersusun atas 16
sel embrio, terdiri atas sekelompok sel yang berukuran kecil disebut Inner Cell
Mass /ICM merupakan struktur sel yang nantinya akan berkembang menjadi
embrio, dikeliligi oleh sel-sel yang ukurannya lebih besar dinamakan tropoblas
(tropektoderm) yang nantinya akan berkembang menjadi jaringan bukan embrio,
yaitu korion yang memiliki fungsi antara lain (1) tempat penempelan embrio di
uterus, (2) untuk transportasi oksigen dan nutrisi dari induk, (3) mensekresikan
hormone agar uterus menerima embrio, (4) mensekresikan regulator untuk respon
imun sehingga induk tidak menolak embrio.

Gambar 2.3 Diagram skematik perubahan bentuk sel dan kompaksi embrio mencit
(Gilbert, 1985)
Sel-sel blastosis terdiri atas 2 kelompok yaitu inner cell mass atau ICM
dan outer cell mass dimana keduanya berbeda baik dalam morfologi , fungsi
maupun struktur kimianya. Sel-sel penyusun bagian luar blastosis (outer cell
mass) secara keseluruhan disebut trofoblas atau trofektoderm. Sel-sel tersebut satu
sama lain dihubungkan dengan tight junction. Kelompok sel-sel ini tidak
membentuk

embrio

melainkan

membentuk

jaringan

korion

penyusun

plasenta.trofoblas berfungsi menginduksi perubahan-perubahan khas pada


permukaan atas uterus ketika embrio implantasi. Sel penyusun ICM satu sama lain
berhubungan dengan gap junction. Sel ini kemudian hari akan membentuk embrio
dan sistem membran embrio. Sel-sel ICM selanjutnya akan memisahkan diri dan
membentuk lapisan tipis sel dibagian bawah ICM yang disebut hipoblas. Dan
bagian ICM yang tidak memisah disebut epiblas. (Surjono,2001)
Seperti blastula lainnya, blastula mamalia (blastosis) telah mempunyai
daerah daerah pembentuk alat. Epiblas membentuk bakal ektoderm epidermis,
ektoderm saraf, notokrda dan mesoderm; sedangkan hipoblas membentuk bakal
endoderm. seperti pada embrio ayam, epiblas anterior merupakan bakal endoderm
epidermis, kemudian sebelah posterior secara berturut-turut adalah bakal
endoderm saraf, notokorda, prekorda, dan yang paling posterior adalah bakal
mesoderm. (Surjono,2001)

Gambar 2.4 Bakal pembentuk alat blastula mamalia (Gilbert, 1985)


Surjono, Tien Wiati.2001. Perkembangan Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka.
Gilbert, .2003. Gastrulation Human. (online)

(http://dc172.4 shared.com/doc

/_7lovpn/preview.html), diakses 9 Maret 2010


Mahendra, A.P.W. 2010. Perkembangan Partenogenetik dari Oosit Mencit yang
Diaktivasi dengan Ethanol dan 6-DMAP Secara In Vitro. Veterinaria
medika 3(1):71.

Anda mungkin juga menyukai