Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Peningkatan aktivitas manusia di muka bumi telah mendorong terjadinya pemanasan

global (Gloabal Warming). Global Warming adalah peningkatan suhu dipermukaan bumi
dikarenakan adanya peningkatan efek rumah kaca terutama disebabkan oleh pencemaran
udara[1].
Salah satu komponen yang mencemari udara adalah gas CO2, semakin banyak
produksi CO2 maka udara semakin tercemar. Kapal adalah salah satu pengahasil CO2 ketika
dioperasikan.
Hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian ini yaitu untuk mengurangi
konsumsi bahan bakar kapal sehingga mengurangi produksi CO2, yaitu dengan cara
mengurangi hambatan kapal ( Drag Reduction )
Drag reduction adalah salah satu masalah terpenting dalam bidang teknik
(Engineering) terutama bagi para peneliti hidrodinamik kapal. Banyak sekali metode yang
digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Dua metode yang paling populer adalah
penambahan polymers dan microbubbles di lambung kapal. Pada penelitian kali ini
difokuskan pada pemberian microbubble.
Microbubble adalah gelembung dalam fluida cair dengan ukuran diamater dibawah
200 m[2]. Microbubble banyak digunakan juga untuk beberapa aplikasi lain seperti
pemisahan minyak dari air, pengolahan limbah, proses pembersihan mikroorganisme pada
tiram dan kerang laut, teknologi pemindaian penyakit, dan bahkan untuk pembasuhan badan.
Microbubble dapat dihasilkan dengan beberapa metoda dengan karakteristik yang
berbeda-beda. Metoda tersebut antara lain dengan elektrolityc microbubble generator, porous
plate (PP), ventury tube type bubble generator, dan spherical body in a flowing water tube.
Penelitian McCormick dan Bhattacharyya (1973)[3] dengan menggunakan elektrolisis kawat
tembaga untuk menghasilkan microbubble telah menjadi pioneer dalam studi mengenai
frictional drag reduction. Metoda ini dinilai sebagai metoda yang memiliki efisiensi energi
tinggi dan konstruksi yang lebih sederhana dari teknik-teknik lainnya. Dalam eksperimen ini
teknik yang digunakan untuk mengetahui pengaruh pemberian microbubble terhadap drag
reduction adalah Uji Tarik Kapal Model. Karya tulis ilmiah ini mempresentasikan peneletian
eksperimental mengenai pengaruh pemberian microbubble pada lambung model kapal

2
dengan perbedaan kecepatan model kapal yang diberikan serta perbedaan sarat terhadap
tahanan total yang dibandingkan dengan model kapal pada keadaan standard dalam uji tarik
model kapal.
1.2

PERUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana pengaruh peletakkan injeksi microbubble terhadap pengurangan
hambatan total?
b. Seberapa besar perbedaan nilai tahanan total pada perbedaan sarat kapal?

1.3

TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui pengaruh pengurangan hambatan kapal pada kapal model tanker dan

barge dengan berbagai posisi injeksi.


1.4

KEGUNAAN

Penelitian

ini

diharapkan

dapat

menjadi

upaya

pengembangan

kreativitas

mahasiswa dalam menciptakan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi


Indonesia dengan memunculkan solusi dari permasalahan

yang ada, khususnya

permasalahan hambatan kapal.


Metode ini diharapkan dapat diaplikasikan secara langsung oleh dunia industry untuk

memberikan dampak positif terhadap perkembangan dunia perkapalan modern.


Tersedianya metode ini dapat membantu masyarakat dunia dalam mencari solusi
penghematan energi serta dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat berlayarnya
suatu kapal.

1.5

LUARAN YANG DIHARAPKAN

a. Penggunaan microbubble diharapkan menjadi solusi tepat dalam mengurangi


hambatan gesek yang terjadi pada badan kapal
b. Penggunaan microbubble dapat meningkatkan ke-ekonomisan pada saat kapal
berlayar
c. Penggunaan microbubble dapat meminimalisasi jumlah

power yang harus

dikeluarkan kapal, sehingga hal ini juga berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar.
d. Ke-ekonomisan jumlah power pada kapal juga berakibat terhadap berkurangnya
dampak lingkungan yang ditimbulkan

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Hambatan
Hambatan (resistance) adalah gaya hambat yang dialami oleh sebuah kapal pada saat

melaju di atas air pada kecepatan tertentu. Secara garis besar hambatan yang dialami oleh
sebuah kapal adalah sebagai berikut.

Gambar 2.1 Komponen-komponen tahanan kapal.[4]


Hambatan kapal inilah yang mendasari para perancang untuk melakukan banyak
penelitian, terutama dalam hubungannya dengan penghematan bahan bakar. Gambar 2.2
adalah seluruh metode yang digunakan untuk melakukan penghematan terhadap bahan bakar.

Modern Hull
Power Plan
Fuel Improvement
New Propellers

Air Lubrication

Gambar 2.2 metode pengurangan konsumsi bahan bakar [4]


Cara yang digunakan untuk analisa hambatan sebuah kapal adalah dengan metode
Froude[5] dimana hambatan dibagi menjadi dua komponen sehingga dapat diextrapolasi
secara terpisah dari model kapal ke kapal sebenarnya. Dua komponen hambatan tersebut
adalah:
1. Hambatan gesek (skin friction resistance) disebabkan oleh kekentalan air dan
merupakan fungsi reynouls number.
2. Hambatan sisa (residuary resistance), disebabkan oleh terbentuknya gelombang
karena gerakan kapal dan merupakan fungsi froude number.
Untuk memudahkan perhitungan, hambatan total (R) dihitung dengan menggunakan
koefisien hambatan C, yang merupakan fungsi dari luas permukaan basah (S), kecepatan
kapal (V), dan masa jenis air () dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
R

1
C. .S .V 2
2

Rt R f R r

(2.1)
. (2.2)

Koefisien C menunjukkan komponen hambatan yaitu t (hambatan total); f (hambatan


gesek); r (hambatan sisa). Koefisien hambatan gesek dari model dihitung berdasarkan

5
koefisien hambatan gesek dari suatu plat datar yang mempunyai panjang dan luasan yang
sama sedangkan hambatan total didapatkan dari pengukuran di towing tank. Selanjutnya
koefisien hambatan sisa didapat dari pengurangan hambatan total dengan hambatan gesek
model tersebut.
C r CT C f

.... (2.3)

Gambar 2.3 Gaya gesek fluida melalui benda [6]


Gambar 2.3 menunjukkan bagaimana Drag dipengaruhi oleh bentuk dari sebuah benda.
Untuk benda plat rata akan mempunyai drag yang lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk
benda yang bulat.
2.2

Lapisan Batas
Lapisan batas diartikan sebagai daerah fluida yang dekat dengan permukaan benda

padat. Bila di sepanjang suatu pelat datar terdapat aliran yang homogen, maka kecepatan
fluida tepat pada permukaannya adalah nol Karena adanya gaya gesek yang memperlambat
gerakan fluida, sehingga terjadi lapisan tipis di dekat pelat tersebut. Di dalam lapisan batas,
kecepatan fluida U naik dari nol di pelat hingga mencapai harga maksimumnya yang sesuai
dengan kecepatan di dalam aliran luar tanpa gesekan U . Tebal lapisan batas adalah jarak dari
dan tegak lurus permukaan benda ke titik yang di titik tersebut kecepatan aliran mencapai
harga yang sama dengan harga kecepatan aliran tanpa viskositas (inviscid flow) yang
ekivalen. Dalam praktek, kecepatan ini kadang-kadang diambil sebesar 99% kecepatan aliran
tanpa viskositas.

Gambar 2.4 Lapisan Batas disepanjang permukaan bidang [6]


Penerapan hukum momentum untuk element volume yang berada tepat di belakang
pelat menunjukan bahwa momentum yang hilang persatuan waktu harus sama dengan
tahanan yang dialami pelat tersebut. Ini menghasilkan persamaan sebagai berikut untuk
elemen volume tersebut :
0 U (U m U )dy 0x 0 dx R

.... (2.18)

R adalah tahanan pada bagian pelat yang terletak antara 0 dan x,

adalah tegangan geser

pada dinding dan sama dengan :


u

0
y

.... (2.19)

Angka nol di bawah menunjukan harga pada dinding, yaitu untuk y = 0. Disini ,R sama
dengan tahanan gesek RF, yang juga dapat dinyatakan sebagai :
R F C F (1 2 V 2 ) S

... (2.20)

CF

= Koefisien tahanan gesek spesifik atau koefisien drag.

= Massa jenis.

= kecepatan pelat relatif terhadap aliran.

= Permukaan basah pelat.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Metode dan Model Penelitian


Metode Pelaksanaan yang digunakan adalah metode rekayasa. Pelaksanaan ini

ditujukan kepada pembuktian bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang telah
ditentukan. Pelaksanaan penelitian bermula dari penentuan spesifikasi rancangan

yang

7
memenuhi

spesifikasi dan

memilih alternatif

terbaik

serta

membuktikan bahwa

rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi dan
efektivitas alat. Model yang akan digunakan adalah penelitian lapangan dimana dilakukan
pengukuran secara langsung dan data disajikan dalam bentuk tabel, grafik dan dilakukan
analisis untuk melihat pengaruh variabel terhadap rancangan.
3.2

Prosedur Pembuatan Alat

Perancangan model
kapal jenis Tanker
& Barge

Selesai

Perancangan sistem
komponen
microbubble

Perakitan sistem
komponen microbubble
pada model kapal jenis
Tanker & Barge

Uji coba system


microbubble pada kapal
model menggunakan uji
tarik

Kalibrasi
komponen
microbubble

Gambar 3.1 Diagram Kerja Pembuatan Alat


3.3

Prinsip Kerja

Alat yang dibutuhkan untuk pengujian adalah kapal model jenis tanker dan barge, motor
elektrik, kamera, load cell, dan kompressor. Perbandingan total hambatan kapal model
dilakukan dengan membandingkan kapal tanpa microbubble dan kapal dengan microbubble.
Pengujian dilakukan pada kecepatan yang berbeda. Selama pengujian, kapal model ditarik
menggunakan motor elektrik pada kecepatan konstan. Gaya tarik diukur menggunakan load
cell transducer. Load cell dikaitkan ke kapal dan ditarik dengan kabel. Load cell ditempatkan
di tengah kapal model. Data interface digunakan untuk mengetahui besar gaya tarik saat
dilakukan uji coba. Injeksi microbubble diletakkan di sekitar bagian tengah kapal bagian
bawah. Jarak antara injector satu ke injector yang lain ditentukan 5 cm. Posisi injector
divariasikan tiga posisi. Diameter injector yang digunakan sebesar 0,5 mm.

Gambar 3.2 Setup Peralatan

Gambar 3.3 Posisi Injeksi pada Kapal Model

BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN