Anda di halaman 1dari 20

SISTEM PENGENDALIAN INTERAL

DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA


STUDI KASUS KPKNL MALANG
Disusun Oleh:
Abdul Hamid Hudalil Muttaqin | 01
Anggi Yusuf | 06
Dimas Gita Firmansyah | 15
Inelva Riani | 25
Prasetyo Widiyantoro | 31
Ramhat Adi Nugroho | 32
Unggul Aji Mulyo | 38

Kelas 9D Alih Program

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN


2016

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kementerian Keuagan sebagai salah satu intansi pemerintahan yang menjadi pilot
project reformasi birokrasi. Adanya proses penataaan ulang birokrasi, dari level tertinggi
hingga level terendah dan melakukan berbagai terobosan baru dalam mengubah paradigma
dalam Kementerian Keuangan. Seiring dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008
tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) didefinisikan sebagai proses yang
integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan dan
seluruh pegawai untuk mencapai keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi
melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset
negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Adapun komponen dalam
Sistem Pengendalian Intern adalah lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas
pengendalian, informasi dan komunikasi serta monitoring atas pengelolaan aset negara harus
dibangun secara memadai.
Dijabarkan

lebih

lanjut

dalam

Keputusan

Menteri

Keuangan

Nomor

152/KMK.09/2011 dan Nomor 32/KMK.09/2013. Tujuan diterbitkannya Keputusan Menteri


Keuangan tersebut untuk mewujudkan SPIP yang kuat dalam internal Kementerian
Keuangan. Dalam rangka meningkatkan pengendalian suatu organisasi maka dibentuklah
Unit Kepatuhan Internal pada masing-masing unit eselon I Kementerian Keuangan yang
bertugas untuk memantau pengendalian internal dan tolak ukur atas peraturan/SOP yang
berlaku. Dengan demikian diharapkan seluruh pegawai dan pimpinan harus memahami dan
melaksanakan dengan sungguh-sungguh tugas serta tanggung jawab pengendalian kegiatan
masing-masing.
B. Rumusan Masalah
Makalah ini disusun berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Sistem Pengendalian Internal?
2. Bagaimana sejarah terbentuknya Unit Kepatuhan Internal di lingkungan Kementerian
Keuangan?
3. Apa saja Implementasi atas Sistem Pengendalian Internal dan Kepatuhan Internal di
KPKNL?
C. Tujuan
2

Berdasarkan dengan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan di atas,tujuan
yang diharapkan oleh penulis sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian Sistem Pengendalian Internal.
2. Mengetahui sejarah terbentuknya Unit Kepatuhan Internal di lingkungan Kementerian
Keuangan.
3. Mengetahui Implementasi atas Sistem Pengendalian Internal dan Kepatuhan Internal
di KPKNL.

LANDASAN TEORI
A. Pengertian Sistem Pengendalian Internal
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 dijelaskan bahwa Sistem
Pengendalian Internal adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang
dilakukakan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan
keyakinan yag memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan
efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap
peraturan

perundang-undangan.

Sistem

Pengendalian

Internal

Pemerintah

harus

diselenggarakan menyeluruh di lingkungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Untuk


mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel,
menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian
atas penyelenggaraa kegiatan pemerintah. SPIP terdiri dari unsur lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan
pengendalian intern.
Sebagaimana bentuk penguatan sistem pengendalian internal, dijelaskan dalam KMK
Nomor 130/KMK.09/2011 tentang kebijakan pengawasan intern Kementerian Keuangan
menjelaskan pembangunan dan penguatan fungsi pengendalian intern di lingkungan
Kementerian Keuangan dilaksanakan melalui peningkatan penerapan pengendalian intern
oleh pimpinan dan seluruh pegawai di Kementerian Keuangan. Selain itu dalam KMK
Nomor 152/KMK.09/2011 tentang peningkatan penerapan pengendalian intern di lingkungan
Kementerian Keuangan dijelaskan bahwa pimpinan dan seluruh pegawai Kementerian
Keuangan harus meningkatkan penerapan pengendalian intern dalam setiap pelaksanaan
tugas dan fungsinya. Pelaksanaan Pemantauan Pengendalian Intern diterapkan pada level
kegiatan (transactional level), dengan memilik kegiatan tertentu berdasarkan berbagai
pertimbangan faktor risiko. Untuk dapat melaksanakan pemantauan tersebut dengan baik,
setiap unit eselon I harus melaksanakan berbagai tahapan yang terdiri dari: penunjukan unit
kerja, pengembangan perangkat pemantauan, pelatihan SDM, pelaksanaan pemantauan, dan
evaluasi atas pelaksanaan pemantauan.
B. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) merupakan salah satu unit eselon I di
Kementerian Keuangan yang bertugas dalam manajemen aset dan special mission
pengelolaan kekayaan negara. Adapun visi dan misi DJKN sebagai beikut.
4

Visi adalah Menjadi pengelola kekayaan negara yang profesional dan akuntabel untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Misi terdiri dari:
1. Mewujudkan optimalisasi penerimaan, efisiensi pengeluaran, dan efektivitas pengelolaan
kekayaan negara.
2. Mengamankan kekayaan negara secara fisik, administrasi, dan hukum.
3. Meningkatkan tata kelola dan nilai tambah pengelolaan investasi pemerintah
4. Mewujudkan nilai kekayaan negara yang wajar dan dapat dijadikan acuan dalam berbagai
keperluan.
5. Melaksanakan pengurusan piutang negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
6. Mewujudkan lelang yang efisien, transparan, akuntabel, adil, dan kompetitif sebagai
instrumen jual beli yang mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat.
Struktur Organisasi Vertikal DJKN:

Sebagaimana dalam KMK Nomor 152/KMK.09/2012 dijelaskan tentang unit kerja dan
tugas pemantauan pengendalian intern pada DJKN adalah sebagai berikut:

Dilingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Unit Kepatuhan Internal


dibentuk dalam rangka untuk menjalankan amanah ketentuan dimaksud yang kehadiranya
diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi, terjaganya kepatuhan
terhadap hukum dan peraturan, serta meningkatnya reputasi organisasi dan kepercayaan para
pemangku kepentingan. Berdasarkan PMK Nomor 206/PMK.01/2014 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Keuangan, Unit Kepatuhan Internal berada di Sekretariat Direktorat
Jenderal, dilaksanakan oleh Bagian Organisasi dan Kepatuhan Internal c.q. Subbagian
Kepatuhan Internal dan Evaluasi Hasil Pemeriksaan. Pada Kantor vertikal DJKN, Unit
Kepatuhan Internal di Kanwil berada di Bidang Kepatuhan Internal, Hukum dan Informasi
dan di Seksi kepatuhan Internal pada KPKNL. Dia bertugas melakukan pemantauan
pengendalian intern, pengelolaan kinerja, pengelolaan risiko, kepatuhan terhadap kode etik
dan disiplin, tindak lanjut hasil pengawasan, serta perumusan rekomendasi perbaikan proses
bisnis.

BAGIAN PEMBAHASAN

A. Sejarah Terbentuknya Unit Pengawas Internal DJKN


Setiap organisasi memerlukan pengendalian internal agar tujuan organisasi dapat
tercapai. Nilai-nilai Kementerian Keuangan merupakan pedoman bagi seluruh pegawai
Kementerian Keuangan untuk berperilaku dan melaksanakan tugasnya dengan Integritas,
Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan. Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara (DJKN) merupakan unit eselon I di Kementerian Keuangan yang memiliki pemangku
kepentingan (stakeholder) beragam, mulai dari Satuan Kerja Kementerian/Lembaga, Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD), BUMN/BUMD, kreditor maupun debitor. Dengan
beragamnya stakeholder tersebut, maka unit pengawas internal di lingkungan Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tata kelola
pemerintahan yang baik / good governance yang sudah menjadi tuntutan dari masyarakat
pengguna layanan.
Untuk mewujudkan penguatan peran unit kepatuhan internal, maka diperlukan
pemberdayaan peran dan fungsi pengawas internal menjadi suatu hal yang mutlak untuk
direalisasikan. Peran dan fungsi unit pengawas internal di Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara (DJKN) yang jelas dan terarah, secara tidak langsung akan meningkatkan efektivitas
pelaksanaan pengawasan tugas pokok dan fungsi oleh atasan langsung dan memudahkan
koordinasi dengan aparat pengawas fungsional seperti Badan Pemeriksan Keuangan dalam
menyelesaikan suatu hasil pemeriksaan.
Pemberdayaan peran dan fungsi pengawas internal tersebut dapat diwujudkan dengan
pembentukan suatu unit khusus yang menangani pengawasan internal di lingkungan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Unit pengawas internal tersebut dibentuk
sampai di unit vertikal Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
Keberadaan unit pengawas internal ini untuk memastikan seluruh pegawai Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) memenuhi target kinerja yang telah ditetapkan serta
mematuhi kode etik, peraturan disiplin pegawai, menerapkan nilai-nilai Kementerian
Keuangan dan ketentuan yang berlaku dalam organisasi agar dapat menekan sekecil mungkin
segala bentuk penyimpangan dan penyalahguanaan wewenang.
Pembentukan unit pengawas internal tersebut juga dapat memperhatikan putusan
Mahkamah Konstitusi No. 77/PUU-IX/2011 pokok perkara pengujian UU No. 49 Prp Tahun
1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut
9

secara tersirat menyatakan bahwa BUMN tidak perlu menyerahkan piutangnya kepada
Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN).
Memperhatikan putusan dari Mahkamah Konstitusi tersebut dapat memberi ruang bagi
Kantor

Pusat

Direktorat

Jenderal

Kekayaan

Negara

untuk

membentuk

seksi

pengawas/kepatuhan internal sampai di kantor vertikal menggantikan Seksi Piutang Negara,


yang sebagian besar tugas pokok dan fungsinya banyak berkurang dengan adanya putusan
Mahkamah Konstitusi tersebut. Sedangkan sebagian tugas pokok dan fungsi dari Seksi
Piutang Negara dapat disatukan dengan Seksi Hukum dan Informasi yang dapat dirubah
namanya menjadi Seksi Piutang Negara, Hukum, dan Informasi.
Pelaksanaan reorganisasi terkait putusan Mahkamah Konstitusi No. 77/PUU-IX/2011
pokok perkara pengujian UU No. 49 Prp Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara
(PUPN) dapat dimanfaatkan untuk penguatan peran unit pengawas internal di Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) mulai dari tingkat kantor pusat sampai di level kantor
vertikal. Penguatan peran unit pengawas internal tersebut dengan membentuk organisasi
pengawas internal yang dipimpin pejabat eselon II (dua) atau direktur. Struktur organisasi
Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) untuk penguatan peran unit
pengawas internal dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Sekretariat Direktorat Jenderal;
2. Direktorat Barang Milik Negara;
3. Direktorat Piutang Negara, Kekayaan Negara Dipisahkan dan Kekayaan Negara LainLain;
4. Direktorat Organisasi dan Kepatuhan Internal (OKI);
5. Direktorat Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi;
6. Direktorat Penilaian;
7. Direktorat Lelang; dan
8. Direktorat Hukum dan Hubungan Masyarakat.
Bagian Organisasi dan Kepatuhan Internal (OKI) mempunyai tugas melaksanakan
koordinasi penyusunan rencana kerja, rencana strategik, laporan akuntabilitas kinerja, dan
implementasi pengelolaan kinerja Direktorat Jenderal, pelaksanaan urusan organisasi dan
ketatalaksanaan, pemantauan dan pengembangan konsep penjaminan kualitas pelaksanaan
prosedur, koordinasi dan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan aparat pengawasan
fungsional dan pengaduan masyarakat, serta koordinasi dan implementasi manajemen risiko
Direktorat Jenderal.

10

Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Organisasi dan Kepatuhan Internal pada


Sekretariat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara menyelenggarakan fungsi :
1. Menyiapkan bahan penataan organisasi, analisis jabatan, uraian jabatan serta
penyusunan jabatan fungsional di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
(DJKN);
2. Menyiapkan bahan penyusunan prosedur dan metode kerja, tata naskah persuratan
dinas dan standardisasi teknis Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN);
3. Menyiapkan bahan pembakuan prestasi dan sarana kerja, penyusunan rumusan produk
hasil kerja, standar norma waktu dan standar beban kerja;
4. Menyiapkan bahan koordinasi penyusunan rencana kerja dan rencana strategik
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN);
5. Menyiapkan bahan penyusuanan laporan kegiatan dan laporan akuntabilitas kinerja
Sekretariat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) serta koordinasi
penyusuanan laporan akuntabilitas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN),
serta koordinasi dan implementasi pengelolaan kinerja Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara (DJKN);
6. Menyiapkan bahan monitoring dan pengembangan penjaminan kualitas pelaksanaan
prosedur, serta koordinasi dan implementasi manajemen risiko Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara (DJKN);
7. Menyiapkan bahan tanggapan, laporan dan tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan
aparat pengawasan fungsional; dan
8. Analisis atas kebenaran laporan pengaduan masyarakat dan penyiapan bahan tindak
lanjut atas pengaduan masyarakat.
Bila digambarkan struktur organisasi Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara (DJKN) hasil reorganisasi untuk penguatan unit pengawas internal adalah sebagai
berikut:

11

Sedangkan untuk tingkat wilayah, struktur organisasi Kantor Wilayah Direktorat


Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) untuk penguatan unit pengawas internal adalah sebagai
berikut:

Untuk instansi vertikal Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) hasil
reorganisasi dalam rangka, penguatan unit pengawas internal adalah sebagai berikut:

Pembentukan unit pengawas internal tersebut perlu diperkuat sampai dengan pada level
kantor vertikal, atau di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) yang tugas
dan pokok fungsinya secara khusus menangani pengawasan internal, Unit pengawasan
internal tersebut memiliki visi sebagai berikut : Menjadi unit pengawas internal yang
profesional dan independen, memberikan nilai tambah dan meningkatkan kinerja Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), serta mengawal terciptanya Good Governance / tata
kelola pemerintahan yang baik, untuk mencapai tujuan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
(DJKN) yang berlandaskan nilai-nilai Kementerian Keuangan.

12

Memperhatikan uraian susunan organisasi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara


(DJKN) di atas, unit pengawas internal di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
(DJKN) dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dilaksanakan oleh
Bagian Organisasi dan Kepatuhan Internal c.q. Subbagian Kepatuhan Internal dan
Evaluasi Hasil Pemeriksaan;
2. Pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dilaksanakan
oleh Bagian Umum c.q. Subbagian Kepegawaian;
3. Pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dilaksanakan oleh
Kepala KPKNL c.q. Subbagian Umum.
Pelaksanaan pengawasan/pengendalian internal di lingkungan Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara (DJKN) pada dasarnya telah berjalan dengan baik, namun masih perlu
disempurnakan dengan cara membentuk unit pengawas internal khusus yang bertugas
mengawasi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara berdasarkan nilai-nilai Kementerian Keuangan.
B. Implementasi Sistem Pengendalian Internal dan Kepatuhan Internal di DJKN,
Studi Kasus KPKNL Malang
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian menciptakan suasana pengendalian dalam suatu
organisasi dan mempengaruhi kesadaran personal organisasi tentang pengendalian.
Lingkungan

pengendalian

merupakan

landasan

untuk

semua

komponen

pengendalian intern yang membentuk disiplin dan struktur.


Lingkungan pengendalian pada KPKNL Malang adalah lingkungan dalam
keseluruhan organisasi yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk
penerapan pengendalian intern dan manajemen yang sehat. Dari struktur organisasi
di KPKNL Malang, struktur organisasi mengacu pada struktur organisasi kantor
pusat Direktorat Jenderal Keuangan Negara. Berdasarkan struktur tersebut,
kebutuhan dari kegiatan dan pelayanan di KPKNL Malang belum terpenuhi secara
sempurna. Hal ini dikarenakan tidak adanya posisi sekretaris dan bagian pelayanan
yang menunjang kegiatan pelayanan KPKNL Malang.
Bagian sekretaris bertugas merekap setiap berkas yang masuk dan keluar. Posisi
sekretaris di KPKNL Malang pada kenyataannya sudah ada, namun tidak ada di
dalam struktur organisasi atau pegawainya bukan dari pegawai negeri sipil sesuai
spesifikasinya. Sedangkan bagian pelayanan bertugas untuk melayani setiap satuan
13

kerja yang mengajukan permohonan ke KPKNL Malang yang berada pada lokasi
loket terdepan (front office). Dalam hal ini bagian pelayanan diisi bergantian setiap
tiga hari oleh dua orang perwakilan dari bagian Pengelola Kekayaan Negara (PKN),
penilaian, lelang dan piutang
Job description atau uraian pekerjaan yang ada sudah dilakukan dengan baik
oleh masing-masing pemegang jabatan. Komitmen setiap pegawai terhadap
kompetensi sudah ada, karena KPKNL Malang merupakan instansi pemerintah yang
karyawannya merupakan individu-individu yang sudah berkompeten di bidangnya.
Pendelegasian wewenang dan tugas sudah jelas dengan lembar disposisi dari kepala
KPKNL kepada bagian yang ditugaskan sesuai fungsi terkait. Sebagai salah satu
instansi pemerintah, hubungan kerja yang baik dengan instransi lain juga sudah
terlaksana dengan baik. Selain itu, bagian kepatuhan internal (KI) juga menunjang
kepatuhan pegawai sesuai dengan job description yang ada.
2. Risiko Pengendalian
a. Penilaian Risiko
Penilaian risiko dilakukan melalui identifikasi dan analisis atas risiko (apa
yang bisa salah) pada tahapan-tahapan kegiatan (transaksional). Risiko yang
telah teridentifikasi kemudian dianalisis untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap pencapaian tujuan. Pendekatan ini akan menghasilkan kegiatan
pengendalian yang sifatnya rutin atau berjalan terus-menerus.
Faktor-faktor yang dievaluasi (tingkat entitas):
1) Sasaran unit kerja telah disusun dan dikomunikasikan
2) Telah dilakukan penilaian risiko yang meliputi perkiraan signifikansi dari
suatu risiko, penilaian kemungkinan terjadinya, dan penanganannya
3) Adanya mekanisme untuk mengantisipasi, mengidentifikasi, dan bereaksi
terhadap perubahan yang dapat menghasilkan dampak besar dan menyebar
pada unit kerja
b. Kategori Risiko
Kategori yang digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasikan risiko
adalah sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.09/2008
yang terdiri dari 5 kategori, yaitu Strategis dan Kebijakan, Operasional,
Kepatuhan, Fraud, dan Finansial.

14

c. Pengukuran Risiko
Risiko diukur dari 2 dimensi pengukuran yaitu konsekuensi dan
kemungkinan yang kombinasinya menghasilkan level risiko. Baik konsekuensi,
kemungkinan maupun level risiko memiliki tiga tingkatan yaitu rendah, sedang,
dan tinggi. Masing-masing level tersebut dapat disimbolkan dengan angka :
1) Risiko rendah dengan angka 1;
2) Risiko sedang dengan angka 2;
3) Risiko tinggi dengan angka 3.
Konsekuensi diukur berdasarkan tingkat pengaruh risiko terhadap
pencapaian tujuan, sedangkan kemungkinan diukur berdasarkan tingkat
kemungkinan keterjadian risiko. Untuk menentukan tingkat konsekuensi dan
kemungkinan risiko tersebut digunakan parameter sebagaimana diuraikan pada
tabel berikut:

15

Adapun level risiko ditentukan melalui kombinasi antara tingkat konsekuensi


dan kemungkinan sebagaimana disajikan dalam tabel berikut:

3. Aktivitas Pengendalian
Kegiatan pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dapat membantu
memastikan dilaksanakannya arahan pimpinan instansi pemerintah untuk merespon
risiko. Kegiatan pengendalian diselenggarakan sesuai dengan ukuran, kompleksitas,
dan sifat dari tugas dan fungsi unit kerja yang bersangkutan.
Pimpinan Instansi Pemerintah wajib menyelenggarakan kegiatan pengendalian
sesuai dengan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi Instansi
Pemerintah yang bersangkutan. Penyelenggaraan kegiatan pengendalian sekurangkurangnya memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. kegiatan pengendalian diutamakan pada kegiatan pokok Instansi Pemerintah;
b. kegiatan pengendalian harus dikaitkan dengan proses penilaian risiko;
c. kegiatan pengendalian yang dipilih disesuaikan dengan sifat khusus Instansi
Pemerintah;
d. kebijakan dan prosedur harus ditetapkan secara tertulis;
e. prosedur yang telah ditetapkan harus dilaksanakan sesuai yang ditetapkan secara
tertulis; dan
f. kegiatan pengendalian dievaluasi secara teratur untuk memastikan bahwa
kegiatan tersebut masih sesuai dan berfungsi seperti yang diharapkan.
Kegiatan pengendalian sebagaimana dimaksud terdiri atas:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

reviu atas kinerja Instansi Pemerintah yang bersangkutan;


pembinaan sumber daya manusia;
pengendalian atas pengelolaan sistem informasi;
pengendalian fisik atas aset;
penetapan dan reviu atas indikator dan ukuran kinerja;
pemisahan fungsi;
otorisasi atas transaksi dan kejadian yang penting;
pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian;
pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya;
16

j. akuntabilitas terhadap sumber daya dannpencatatannya; dan


k. dokumentasi yang baik atas Sistem Pengendalian Intern serta transaksi dan
kejadian penting
4. Informasi dan Komunikasi
Dalam rangka pencapaian tujuan instansi, peranan informasi dan komunikasi
sangat penting, karena bil ada stagnasi dijalur informasi dan komunikasi maka
kegagalan pencapaian tujuan isntansi bisa terjadi. Kegagalan dikarenakan media
yang tersedia tidak optimal atau gangguan pada Sumber Daya Manusia.
Suatu organisasi memperoleh, menghasilkan, dan menggunakan informasi yang
berkualitas dan relevan untuk mendukung fungsi pengendalian intern. Pengaturan
penggunaan BMN di KPKNL mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor
246/PMK.02/2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan Barang Milik
Negara. Secara teknis proses penggunaan BMN yang dilakukan KPKNL sudah
sesuai dengan aturan yang berlaku.
Organisasi maupun instansi secara internal mengkomunikasikan informasi,
termasuk tujuan dan tanggung jawab untuk pengendalian intern. Dalam
melaksanakan tugas, KPKNL mengacu kepada PMK Nomor 170/PMK.01/2012
tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal DJKN dan KMK
No.598/KM.1/2013 tentang Uraian Jabatan Struktural Instansi Vertikal di
Lingkungan DJKN. Dalam hal ini penyampaian informasi yang dilakukan oleh
KPKNL mengenai tanggung jawab, wewenang, dan aturan-aturan yang berlaku
sudah tertulis secara jelas. Dalam website DJKN, terdapat daftar informasi oublik
yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala dan daftar informasi publik
yang disediakan setiap saat. Namun pada pelaksanaannya, ada beberapa kebijakan
yang tidak dilakukan dengan baik, yaitu penyebaran informasi mengenai seksi yang
bertugas pada bagian pelayanan. Sekretaris yang seharusnya menjadwal setiap seksi
yang bertugas di bagian pelayanan kurang memberikan informasi. Selain itu dari
masing-masing seksi juga kurang mencari tahu mengenai penjadwalan tersebut.
Komunikasi dengan pihak eksternal di KPKNL sudah cukup baik, dengan cara
melaksanakan sosialisasi terkait penggunaan BMN pada setiap satuan kerja. Hal ini
dilakukan dua kali dalam setiap tahun. Sosialiasi ini berguna untuk pemahaman
satuan kerja atas BMN yang dikelola oleh KPKNL.
17

Dalam PP Nomor 60 tahun 2008, pasal 42 ayat (2) menyebutkan bahwa yntuk
menyelenggarakan komunikasi yang efektif, pimpinan Instansi Pemerintah harus
sekurang-kurangnya: (a) menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan
sarana komunikasi; dan (b) mengelola, mengembangkan, dan memperbarui sistem
informasi secara terus menerus.Untuk mendukung pelayanan informasi publik, maka
dibentuklah Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, PPID
adalah pejabat yang bertanggung jawab di bidang penyimpanan, pendokumentasian,
penyediaan, dan/atau pelayanan informasi di Badan Publik. Adapun pejabat yang
ditunjuk untuk menjabat sebagai PPID di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara

berdasarkan

Keputusan

Menteri

Keuangan

(KMK)

Nomor

278/KMK.01/2012 tentang Penunjukan PPID adalah Direktur Hukum dan


Hubungan Masyarakat. Dalam pelaksanaan keterbukaan Informasi Publik, seluruh
jajaran pejabat publik harus menjadi lebih transparan, bertanggung jawab, dan
berorientasi pada pelayanan rakyat yang sebaik-baiknya karena pelaksanaan
keterbukaan Informasi Publik bukan sematamata tugas PPID saja, tetapi menjadi
tugas Badan Publik beserta seluruh sumber daya manusianya. Dengan demikian,
pelaksanaan

keterbukaan

Informasi

Publik

diharapkan

dapat

mendorong

penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih demokratis.


Direktorat Jenderal Kekayaan Negara sebagai Badan Publik yang memiliki
tugas utama merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di
bidang kekayaan negara, piutang negara, dan lelang, memiliki stakeholders yang
sebagian besar berasal dari institusi pemerintah dalam hal ini Kementerian
Negara/Lembaga (K/L) karena terkait dengan pelaksanaan tusi sebagai pengelola
Barang Milik Negara. Selain itu, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara juga
memiliki stakeholders yang berasal dari masyarakat umum. Hal ini berkaitan
dengan pelaksanaan tugas dan fungsi pelayanan lelang dan pengurusan piutang
negara. Selama tahun 2015 lalu, dari sejumlah permohonan informasi yang ditangani
oleh PPID DJKN, sebagian besar berasal dari masyarakat umum (LSM, kuasa
hukum pihak tereksekusi, dan pribadi) yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas
DJKN dalam pengelolaan kekayaan negara, pelayanan lelang dan pengurusan
piutang negara.
Selama tahun 2015, PPID DJKN telah menetapkan Daftar Informasi Publik
pada DJKN yang tertuang dalam Keputusan Pejabat Pengelola Informasi dan
18

Dokumentasi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Nomor 1/PPID.KN/2015


tentang Penetapan Daftar Informasi Publik pada Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara tanggal 6 November 2015. Selain Daftar Informasi Publik, untuk
mendukung pelayanan informasi yang terus berkembang, PPID DJKN sedang
menyusun revisi Daftar Informasi Dikecualikan serta revisi Standar Prosedur
Operasi (Standard Operating Procedures) Pelaksanaan Tugas Pejabat Pengelola
Informasi dan Dokumentasi pada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara.
Semangat untuk memberikan kepuasan pada pemangku kepentingan seiring
dengan pelaksanaan program layanan informasi, Direktorat Hukum dan Humas
menyelenggarakan layanan Information Desk dan Call Center (IDCC) yang telah
digulirkan sejak November 2012 lalu. Selama tahun 2015 lalu, Subdit Hubungan
Masyarakat dengan Koordinasi langsung di bawah Direktur Hukum dan Humas
DJKN, telah melakukan beberapa kegiatan layanan informasi maupun edukasi
kepada masyarakat. Kegiatan tersebut antara lain: 1. Visit DJKN Melanjutkan
program tahun sebelumnya yang bertujuan memperkenalkan DJKN kepada kalangan
muda, DJKN menerima kunjungan kerja anak pegawai DJKN dalam kegiatan
Liburan ke DJKN dan visit dari mahasiswa Universitas Diponegoro. 2. DJKN
Goes to Campus 3. Sosialisasi PPID DJKN ke Kantor Vertikal Guna mendukung
layanan informasi melalui PPID DJKN, pada tahun 2015, Direktorat Hukum dan
Humas selaku PPID DJKN terus mengupayakan agar seluruh kantor vertikal mampu
memberikan layanan informasi yang maksimal, baik melalui mekanisme kehumasan
maupun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan
Informas Publik.
5. Pemantauan
Dalam proses pencapaian tujuan instansi, unsur pemantauan tidak bisa
diabaikan dari proses,karena tanpa pemantauan maka perbaikan secara dini atas halhal yang menggangu pencapaian tujan sulit dilakukan. Pemantauan ini dapat
dilaksanakan Pimpinan Instansi atau hasil pemantauan Pemeriksa Internal Instansi
yang bersangkutan.
Kepatuhan Internal di KPKNL bertugas sebagai penilai aktivitas dan melakukan
pengendalian supaya kinerja dari masing-masing karyawan sesuai dengan SOP.
Setiap dua minggu sekali, seksi Kepatuhan Internal (KI) melakukan cek langsung
terhadap atribut pengendalian, seperti paraf, tanda tangan, dan verifikasi. Apabila
19

terjadi kesalahan, Seksi Kepatuhan Internal (KI) berhak mengingatkan karyawan


dengan cara mengajukan nota dinas ke kepala KPKNL, kemudian kepala KPKNL
menerbitkan disposisi menghimbau untuk melaksanakan perbaikan kinerja akan
tugas yang sesuai.
Dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya tujuan
organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalam pelaporan keuangan,
pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan maka setiap pimpinan dan
pegawai di lingkunan DJKN harus berupaya meningkatkan penerapan pengendalian
intern dalam setiap pelaksanaan tugas dan fungsi sebagaimana diamanatkan dalam
PP Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Untuk
mendukung tercapainya tujuan organisasi tersebut telah ditetapkan KMK152/KMK.09/2011 tentang Peningkatan Penerapan Pengendalian Intern di
Lingkungan Kementerian Keuangan dan KMK-32/KMK.09/2013 tentang Kerangka
Kerja Penerapan Pengendalian Intern dan Pedoman teknis Pemantauan Pengendalian
Intern di Lingkungan Kementerian Keuangan. DJKN telah menetapkan Rencana
Pemantauan Tahunan (RPT) Tahun 2016 melalui Kepdirjen Nomor 111/KN/2016
tentang Rencana Pemantauan Tahunan Pengendalian Intern DJKN Tahun 2016
sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan pemantauan pengendalian intern di
lingkungan DJKN. Pelaksanaan pemantauan pengendalian intern dilakukan dengan
cara evaluasi terpisah yang terdiri dari kegiatan:
a. Pemantauan pengendalian Utama; dan
b. Pemantauan efektivitas implementasi dan kecukupan rancangan pengendalian
intern
Sekretaris DJKN harus menyusun perangkat pemantauan atas kegiatan yang telah
ditetapkan dalam RPT DJKN Tahun 2016 sebagai acuan untuk melaksanakan
pemantauan pengendalian intern di lingkungan DJKN. Penjelasan terkait
pengendalian utama yang dipantau beserta dokumen yang harus diperhatikan serta
jadwal pemantauan dan pengendalian intern KPKNL akan dijelaskan dalam
LAMPIRAN.

20