Anda di halaman 1dari 8

Peranan vitamin D terhadap rhinitis alergi

Datt Modh, Ashish Katarkar, Bhaskar Thakkar1, Anil Jain, Pankaj Shah,
Krupal Joshi

Pendahuluan
Rhinitis alergi (RA) adalah jenis yang paling umum dari rhinitis kronis,
mempengaruhi 10-20% dari populasi, dan terdapat bukti yang

menunjukkan bahwa

prevalensi gangguan ini meningkat.


RA yang berat telah dikaitkan dengan gangguan signifikan dalam kualitas hidup, tidur
dan prestasi kerja. Terdapat pengobatan yang baik tersedia untuk RA, termasuk antihistamin
dan kortikosteroid topikal. Namun dibutuhkan pilihan treatmen terbaru, terutama untuk
pilihan baru dan berhubungan dengan pengurangan efek samping. Prevalensi yabg bervariasi
antara negara-negara, mungkin karena perbedaan geografis dan aeroallergen.. Di India, RA
dianggap penyakit biasa , meskipun fakta bahwa gejala rinitis hadir pada 75% dari anak-anak
dan 80% dari asma orang dewasa.
Dalam beberapa tahun terakhir, di seluruh dunia peningkatan penyakit alergi telah
dikaitkan dengan vitamin D yang rendah. Schauber et al. menyatakan bahwa hubungan
antara tingkat serum vitamin D yang rendah dan peningkatan gangguan kekebalan tubuh
bukanlah suatu kebetulan. Pertumbuhan populasi telah mengakibatkan orang menghabiskan
lebih banyak waktu di dalam ruangan, yang menyebabkan kurang paparan sinar matahari dan
kulit kurang produksi vitamin D.
Untuk menyelidiki peranan vitamin D dalam pengobatan penyakit alergi dan asma,
beberapa telah melakukan studi terbaru. Namun hasilnya masih kontroversial. Kekurangan
vitamin D dapat diobati dan selanjutnya dapat mencegah terjadinya RA dan dengan demikian
mengurangi morbiditas. Studi sekarang ini, keadaan vitamin D di dalam pasien dengan RA
telah di bandingkan sebelum dan setelah pengobatan suplemen vitamin D (cholecalciferol 1000 IU).

MATERIAL DAN METODE


Studi desain dan populasi

Penelitian ini melibatkan pasien dengan RA, yang dirujuk ke Departemen THT di
lembaga kami selama periode 1 tahun antara Desember 2011 dan Desember 2012.

Sebanyak 21 pasien antara 15 dan 50 tahun , kedua jenis kelamin, memiliki riwayat
RA dilibatkan dalam penelitian . kriteria inklusi adalah pasien yang memiliki rewayat

RA dengan eosinophilia pada blood smear/nasal smear.


Semua pasien secara menyeluruh diwawancarai dan melakukan pemeriksaan THT

secara lengkap.
Total nasal symptoms score (TNSS) dicatat setelah dan sebelum pengobatan.
Serum vitamin D3 diukur sebelum dan sesudah pengobatan
Mereka menerima tablet fexofenadine (pada pasien yang memiliki skor TNSS 10)
dan flutikason semprot hidung (pada pasien yang memiliki TNSS skor 11) untuk
waktu yang singkat untuk meringankan fase akut tanpa vitamin D3 yang diikuti
suplementasi vitamin D3 (chole-kalsiferol 1000 IU) dalam kasus kekurangan selama

21 hari.
Kriteria terkain pasien eksklusi adalah mereka yang memiliki penyakit co-morbid
selain RA yang dapat mempengaruhi tingkat serum vitamin D. penyakit yang
termasuk seperti rheumatoid arthritis, cystic fibrosis, multiple sclerosis, ulcerative
colitis, penyakit Crohn, penyakit celiac, rakhitis, osteomalacia, sarkoidosis dan
disfungsi tiroid , dan termasuk individu yang telah menerima obat kortikosteroid,
barbiturat, bifosfonat, sulfasalazine, omega3 dan komponen vitamin D seperti

kalsium-D dikeluarkan.
Selain 21 pasien dari kelas bawah dan menengah antara 15 dan 50 tahun, kedua jenis
kelamin, memiliki sejarah RA dinilai dalam cara yang sama untuk TNSS sebelum
pengobatan dan diperlakukan dengan menggunakan kriteria yang sama yaitu
fexofenadine (pada pasien yang memiliki TNSS skor 10) dan flutikason nasal spray
(pada pasien yang memiliki TNSS skor 11) untuk jangkawaktu yang pendek tetapi
tanpa suplementasi vitamin D dan diikuti pula setelah periode tertentu. Pasca
perawatan TNSS dinilai dan dibandingkan.

PENGUKURAN

Sebelum dan setelah pengobatan , pasien dinilai gejala pada hidung mereka
(misalnya, rhinorrhea, hidung tersumbat, bersin-bersin, hidung gatal, anosmia)
menggunakan skala empat poin sebagai berikut: 0 = Tidak ada gejala yang jelas, 1 =
terdapat gejala tetapi tidak mengganggu, 2 = gejala yang pasti dan mengganggu tapi
dapat ditoleransi, 3 = gejala yang sulit untuk ditolerir. TNSS setiap pasien dihitung

dengan menjumlahkan gejala yang terdapat pada hidung pasien. (table 1)


Kadar vitamin serum D3 diukur dengan menggunakan Cobas E 411 (fully
automated) hormone-immunoassay analyzer. Metode Enhanced Chemi-luminance
digunakan pada instrument ini untuk pengukuran. Tingkat 25(OH) D lebih besar dari

30 ng/ml dianggap normal.


Ketika defisiensi vitamin D didefinisikan sebagai 25 (OH) D <20 ng /ml, insufisiensi
vitamin D didefinisikan sebagai 25 (OH) D antara 20 dan 30 ng / ml (Tabel 2). Pasien
dengan kadar serum vitamin D > 30 ng / ml dianggap normal dan dikeluarkan dari

penelitian.
Tindak lanjut penilaian klinis untuk score gejala pada hidung dan vitamin D serum
diperoleh setelah 21 hari selama pasien dengan kadar kekurangan vitamin D
diberikan dengan vitamin D3 (chole-kalsiferol 1000 IU).

Table 1 sistem Total nasal symptoms score (TNSS)


skor
rhinorrhea
obstruksi
bersin
gatal
anosmia
TNSS
0 - Absen, 1 - Ringan, 2 - Sedang, 3 Berat

Table 2 derajat status vitamin D


Status Vitamin D
Normal
Insufisiensi
Defisiensi

0-3
0-3
0-3
0-3
0-3
0-3
Out of 15

Serum level (ng/ml)


> 30
20-30
< 20

ANALISIS STATISTIK
Data dianalisis dengan menggunakan software SPSS (versi 17.0, SPSS, USA).
analisis statistik deskriptif dan uji statistic non-parametrik yang digunakan
HASIL
Mulanya ada 23 pasien. 2 dari mereka memiliki nilai > 30 ng / ml yaitu normal dalam
penelitian kami. Oleh karena itu mereka dikeluarkan. Dari 21 pasien yang terdaftar dalam
penelitian ini, 11 (52,38%) adalah laki-laki dan 10 (47,61%) adalah perempuan [Tabel 3].
Usia rata-rata pasien adalah 34,47 9,25 tahun. Distribusi pasien menurut umur diringkas
dalam Tabel 4.

Table 3. distribusi jenis kelamin


Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total

Jumlah
11
10
21

Persentase
52,38
47,61
100

Table 4. distribusi usia


Usia
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-50
Total

Jumlah
2
4
5
2
4
4
21

Persentase
9,52
19,04
23.8
9,52
19,04
19,04
100

Kadar rata-rata vitamin D adalah 18,03 5,61 ng / ml pada 21 pasien RA sebelum


mendapat pengobatan. Setelah pengobatan rata-rata vitamin D adalah 28,92 6,21 ng / ml
pada 15 pasien (71,42%) di mana tingkat vitamin D meningkat setelah diberikan
suplementasi vitamin D3 (chole-kalsiferol 1000 IU). Sisa 6 pasien (28,57%) menunjukkan
penurunan tingkat vitamin D.
Dari 21 pasien yang dievaluasi, 8 (38,09%) mengalami tanda dan gejala RA yang
berat (TNSS> 11), 10 (47,61%) dianggap moderat (TNSS: 7-10) dan 1 (4,76%) yang
diklasifikasikan dalam kelompok ringan (TNSS: 3-6) dan 2 (9,42%) adalah dengan TNSS: 02 [Tabel 5]. Dalam kelompok ini secara keseluruhan skor TNSS sebelum pengobatan adalah
10,6 2,65 dan setelah pengobatan skor TNSS menjadi 2,76 1,6 [Tabel 6]

Table 5. distribusi pasien berdasarkan TNSS sbelum dan setelah terapi

TNSS

Jumlah pasien
Sebelum terapi
8 (38,09)
10 (47,61)
1 (4,76)
2 (9,42)

> 11
7-11
3-6
0-2

Setelah terapi
0
1 (4,76)
8(38,09)
12 (57,14)

Table 6. perbandingan sebelum dan setelah terapi berdasarkan TNSS dan vitamin D
Grup studi
TNSS
Vitamin D (21 pasien)
Sebelum pengobatan
10,6 2,65
18 5,61
Setelah pengobatan
2,76 1,6
23,91 9,73
Perbedaan
7,84
5,91
Perbaikan setelah pengobatan pada TNSS ditunjukkan oleh pergeseranTNSS dari
pasien menjadi lebih rendah seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6. Tingkat rata-rata vitamin
D pasca perawatan adalah 22,1; 21,22 dan 25,86 pada kelompok pasien yang memiliki TNSS
7-10; 3-6 dan 0-2.
Peningkatan kadar serum vitamin D yang signifikan menggunakan "t-test" dalam
kelompok penelitian kami (P = 0,0104). Perbaikan klinis dalam hal pengurangan total skor
gejala pada hidung dinilai menggunakan Wicoxan signed rank test untuk penilaian sebelum
dan setelah pengobatan dalam kelompok penelitian kami di mana nilai P = 0,0001. Yang
menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara dua kelompok ini [Tabel 6].
Pasien dengan TNSS> 11 mempunyai tingkat vitamin D rata-rata 16,88 4,65 ng /
ml. Pasien-pasien ini membaik setelah di berikan pengobatan yang disarankan dengan nilai
TNSS setelah pengobatan (rata-rata) 3.77 1.92. Membaiknya tingkat vitamin D juga dicatat
dalam kelompok ini dengan tingkat rata-rata 21,54 9,17 ng / ml yang signifikan secara
statistik (P <0,05). Pengamatan ini berkorelasi dengan keparahan RA dengan defisiensi
vitamin D.
Dalam kelompok kontrol lain pasien tanpa suplementasi vitamin D, sebelum terapi
rata-rata skor TNSS adalah 11.04 1.93 yang mendapatkan perbaikan setelah pengobatan
anti-alergi menerapkan kriteria yang sama seperti untuk kelompok studi dan rata-rata skor
TNSS setelah terapi adalah 4.66 1.99. Pada kelompok kontrol, peningkatan TNSS juga
signifikan ketika dinilai oleh Wicoxan signed rank test ditunjukkan oleh nilai P = 0,0001
[Tabel 7].

Table 7. efek suplemen vitamin D


Modalitas pengobatan
Rata-rata

TNSS
sebelum Rata-rata

Perbedaan
setelah

Pengobatan

terapi
anti-alergi
10,6 2,65

terapi
2,76 1,6

7,84

4,66 1,99

6,34

diikuti oleh suplemen


vitamin D
Pengobatan

anti-alergi

saja

suplemen

tanpa

11,04 1,93

vitamin D
DISKUSI
Di dalam RA , banyak sel radang, termasuk sel mast, T-sel CD4-positif, B-sel,
makrofag, dan eosinofil, berinfiltrasi ke lapisan hidung setelah terpapar alergen (paling
sering udara tungau debu partikel kotoran, residu kecoa, dan serbuk sari). Selama fase awal
respon kekebalan tubuh terhadap allergen para mediator dan sitokin yang dilepaskan akan
memicu respon inflamasi selular lebih lanjut selama 4-8 jam berikutnya (akhir fase respon
inflamasi) yang menghasilkan gejala berulang (biasanya kongesti hidung). Infiltrasi sel
inflamasi terbukti baik dalam bentuk musiman dan tahunan , meskipun besarnya perubahan
seluler ini agak berbeda pada RA musiman dan tahunan.
T-sel yang menginfiltrasi mukosa hidung didominasi T helper (Th) 2 secara alami dan
melepaskan sitokin (misalnya interleukin [IL] -3, IL-4, IL-5, dan IL-13) yang mendorong
imunoglobulin E (IgE) diproduksi oleh sel plasma. produksi IgE, pada kesempatannya,
memicu pelepasan mediator, seperti histamin dan leukotrien, yang mengarah ke pelebaran
arteriol , meningkatan permeabilitas pembuluh darah, gatal-gatal, rhinorrhea (hidung meler),
sekresi mokus, dan kontraksi otot polos.
Dalam penelitian kami, pasien dengan RA menunjukkan kekurangan vitamin D yang
ditunjukkan oleh tingkat vitamin D rata-rata 18,03 5,61 ng / ml sebelum pengobatan. Hasil
ini menunjukkan pentingnya menilai vitamin D pada pasien RA. Terdapat penelitian lain
yang baru-baru telah dilakukan dan mendukung fakta yang dinyatakan oleh Arshi et al.
Prevalensi defisiensi vitamin D yang parah secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan
RA daripada populasi normal. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Moradzadeh et
al. prevalensi kekurangan vitamin D yang parah secara signifikan lebih besar pada pasien
dengan RA daripada populasi normal (30% vs 5,1%; P = 0,03) menunjukkan bahwa ada
hubungan antara tingkat

serum vitamin D

dan RA. Hasil ini mungkin menunjukkan

perbedaan yang halus dalam hal metabolisme vitamin D atau sensitivitas pada pasien alergi,
sebagai hipotesis oleh Wjst dan Hypponen
Dalam penelitian diterangkan , kami memberikan supplement kepada pasien RA yang
memiliki defisiensi vitamin D dengan suplemen oral vitamin D (chole-kalsiferol-1000 IU)

dan pasien tersebut dilakukan evaluasi status klinis RA mereka . Terdapat peningkatan total
skor dari gejala hidung dan serum vitamin D pada pasien seperti yang disimpulkan dari studi
yang disajikan. Ketika perbaikan klinis dibandingkan pada kelompok kontrol di mana
suplemen vitamin D tidak diberi, mereka menunjukkan perbedaan 6,34 pada skor TNSS
yang mana lebih rendah dari kelompok studi kami yang menunjukkan perbedaan 7.84 pada
skor TNSS. Ketika kedua kelompok dibandingkan secara statistik menggunakan MannWhitney U-test, P = 0,0001, dimana

menunjukkan perbedaan yang signifikan antara

kelompok studi dan kelompok kontrol.


Dilihat dari internet medical database tidak ada penelitian serupa yang dilakukan
sebelumnya. Studi kami dan hasilnya lebih penting daripada penelitian lain yang disebutkan
di atas yang

menunjukkan korelasi antara AR dan vitamin D karena mereka tidak

membandingkan sebelum dan sesudah pengobatan dan korelasi klinis.


Peningkatan status alergi dapat dikaitkan dengan efek imunomodulator vitamin D
pada sistem kekebalan tubuh: Vitamin D mengatur aktivitas berbagai sel imun, termasuk
monosit, sel dendritik, T dan B limfosit, serta fungsi immune sel epitel . Selain itu, beberapa
sel kekebalan mengekspresikan vitamin D-activating enzymes dan memfasilitasi konversi
lokal vitamin D tidak aktif menjadi calcitriol aktif dengan parakrin berikutnya dan efek
autokrin.
25 (OH) D serum dan vitamin D yang rendah pada individu mempengaruhi mediasi
sel imun alergi seperti T-sel dan fungsi kekebalan tubuh dari sel-sel yang menghambat alergi
seperti sel epitel, orang dapat berspekulasi bahwa vitamin D berperan dalam pengembangan
alergi. ilmuwan pertama yang menghipotesiskan hubungan antara asupan gizi vitamin D dan
alergi adalah Wjst dan Dold pada tahun 1999.
PENGARUH VITAMIN D TERHADAP IMUNITAS BAWAAN
Respon system imun bawaan terdiri dari semua mekanisme yang melawan infeksi,
tetapi tidak memerlukan pengakuan spesifik patogen. Beberapa aspek imunitas bawaan
dipengaruhi oleh vitamin D.
Ekspresi dari pattern recognition receptor, yang mengaktifkan respon imun bawaan
seperti reseptor Toll-like (TLR) pada monosit dihambat oleh Vitamin D, yang menyebabkan
penekanan peradangan TLR-mediated. Vitamin D menginduksi autophagy di makrofag
manusia, yang membantu dalam pertahanan terhadap infeksi oportunistik. Peptida
antimikroba endogen dalam sel epitel di kulit dan paru-paru diinduksi oleh Vitamin D,
sehingga memperkuat barrier terhadap alergen lingkungan.
PENGARUH VITAMIN D TERHADAP IMUNITAS ADAPTIF

Limfosit seperti T-sel dengan Th1 dan Th2 polarisasi adalah komponen utama dalam
kekebalan adaptif dan vitamin D memodulasi fungsi mereka.
Sitokin pro-inflamasi rilis dari mononuklear sel-sel darah perifer secara umum dan
dari T-sel din diturunkan secara khusus oleh vitamin D. Selain itu, proliferasi sel-T ditekan
oleh vitamin D melalui penurunan produksi sitokin Th1. Vitamin D meningkatkan produksi
IL-10 dan menurun produksi IL-2 , sehingga meningkatkan keadaan responsif hipo pada T
regulatory cells Efek yang juga terlihat dengan terapi anti-alergi seperti kortikosteroid atau
imunoterapi alergen.
PENGARUH VITAMIN D PADA SEKRESI IgE, SEL MAST DAN EOSINOFIL.
Vitamin D juga mempengaruhi fungsi limfosit B dan memodulasi respon imun
humoral termasuk sekresi IgE.
Sel allergy-mediating seperti sel mast dan eosinofil juga merupakan target vitamin D:
Peningkatan sintesis kulit vitamin D meningkatkan produksi IL-10 di sel mast, yang
mengarah ke pada supresi peradangan kulit.
KESIMPULAN
Terdapat korelasi antara serum vitamin D dan RA. Vitamin D menjadi rendah pada
pasien RA. Suplementasi vitamin D pada pasien tersebut mengubah perjalanan alami RA
terhadap perbaikan klinis yang signifikan. Meskipun studi lebih banyak dan dengan jumlah
pasien yang lebih banyak harus dilakukan untuk memvalidasi peran terapi suplementasi
vitamin D bersama dengan pengobatan awal anti alergi.