Anda di halaman 1dari 21

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

REFERAT
Maret 2016

PLANTAR FASCITIS

OLEH :

Nur Indah Pratiwi S.Ked

PEMBIMBING :

dr. Henry Tanzil, Sp.Ot, M.Kes

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman sampul .....................................................................

Daftar isi
ii
Lembar Pengesahan ..

iii

REFERAT
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J

DEFENISI PLANTAR FASCITIS.............................................................


ANATOMI.................................................................................................
ETIOLOGI................................................................................................
PATOFISIOLOGI......................................................................................
GEJALA KLINIS......................................................................................
DIAGNOSIS..............................................................................................
DIAGNOSIS BANDING..........................................................................
PENATALAKSANAAN............................................................................
REHABILITASI MEDIK..........................................................................
PROGNOSIS.............................................................................................

1
1
2
5
7
8
9
14
17
19

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

20

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Nur Indah Pratiwi

Judul Refarat : Plantar Fascitis


Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Maret 2016

Pembimbing,

(dr. Henry Tanzil, Sp.Ot, M.Kes)

PLANTAR FASCITIS
HEEL PAIN
A. DEFINISI

Plantar fascitis merupakan suatu inflamasi fascia plantaris yang disebabkan oleh
cedera yang berulang. Terjadi karena penguluran yang berlebihan dan penekanan saat
kaki menyangga beban berat badan hingga mengakibatkan fascia mengalami kerobekankerobekan kecil pada jaringannya. Plantar fascitis merupakan masalah muskuloskeletal
yang dipicu oleh beberapa faktor, yaitu umur, jenis kelamin, berat badan (overweight atau
obesitas), degeratif, anatomi kaki seperti flat foot atau pes cavum, aktivitas fisik, aktivitas
berjalan mengunakan alas kaki, etnik, dan ras1.
Plantar fascitis merupakan peradangan yang terjadi pada fascia plantaris di
anteromedial dari tuberositas calcaneus. Pada keadaan ini pasien akan merasakan nyeri
pada tumit terutama saat bangun tidur. Nyeri dapat merupakan akibat : tekanan mekanis
(yang lebih mungkin terjadi kalau kaki rusak bentuknya), radang sendi atau kekakuan,
lesi tulang setempat, iskemia perifer dan ketegangan1.
B. ANATOMI

Kerangka kaki terdiri dari 3 bagian, yaitu: Tarsal, Metatarsal dan falangs.
Calcanues merupakan bagian dari tulang tarsal yang paling besar dan terletak
pada bagian belakang kaki untuk menahan berat badan. Mempunyai enam permukaan
dan berartikulasi dengan dua tulang tarsal lainnya yaitu talus di atasnya dan tulang
kuboid ke arah kaki bagian tengah. Bagian belakang dari calcaneus adalah tuberositas
calcanues dan merupakan titik insersi tendon calcaneus (tendon Achilles). Calcaneus
berfungsi sebagai tumpuan utama dari komplek muskulus gastrocnemius dan muskulus
soleus, juga berfungsi untuk memberikan fondasi atau menyokong berat badan2.
Fascia plantaris merupakan suatu serabut kaku yang berasal dari bawah kulit
tumit dan melebar sepanjang telapak kaki sampai ke jari-jari kaki. Fascia plantaris dapat
gampang ditemukan di bawah kaki, terutama ketika jari-jari kaki dorsofleksi (ke atas).
Fascia plantaris terdiri dari tiga bagian yaitu bagian central, medial dan lateral. Bagian
medial merupakan serabut yang paling sering menimbulkan keluhan pada kasus fascitis
plantaris2.
C. ETIOLOGI
Masalah utama penyebab plantar fascitis umumnya berdasarkan klasifikasi bagian
dari tumit yang terasa nyeri yaitu penyakit pada calcaneus (Osteomyelitis, tumor, paget's
disease), arthritis pada persendian subtalar, post calcaneus bursitis, rufture tendon
calcaneus, paratendinitis calcaneus, tender heel pad dan plantar fasciitis)3.

Faktor yang mempengaruhi plantar fascitis:


1. Pola kaki datar terjadi gerakan pronasi sehingga terjadi penegangan fascia sisi
medial.
2. Lengkungan kaki yang tinggi, sehingga mengakibatkan pemendekan pada fascia
plantaris.
3. Pola hidup memiliki penggaruh yang besar terjadinya plantar fascitis seperti;
kebiasaan berdiri dalam jangka waktu yang lama dan kebiasaan berjalan jauh
dengan menggunakan alas kaki yang keras.
Sedangkan faktor lainnya, adalah:
1. Obesitas menyebabkan penumpuan berat beban yang besar pada kaki, terutama
daerah tumit yang menerima persentase tekanan yang besar sehingga perlekatan
struktur fascia mengalami penekanan berlebihan.
2. Over use plantar fascia akan menyebabkan penguluran yang berlebihan pada
fascia plantaris.
3. Pada degenerative terjadi penurunan healing respon dan penurunan elastisitas
jaringan sehingga mempengaruhi kelenturan fascia plantaris.
Selain faktor di atas juga terdapat faktor berupa bentuk telapak kaki. Kaki pes
cavum memiliki tekanan yang berlebih pada fascia plantaris selama heel strike ke
midstance, sedangkan kaki yang pes planus akan memberikan penekanan pada fascia
selama midstance ke terminal stance dan juga pada saat toe off3.
Sedangkan bentuk pada kaki flat foot atau pronated flat dapat menimbulkan
perubahan liganment dari calcaneus sehingga mempengaruhi arkus plantaris dalam
aktifitas saat menumpu berat badan ketika berdiri atau berjalan. Bentuk kaki flat foot

disebabkan otot-otot intrinsik plantaris tidak memadai yang mengakibatkan terlalu


teregangnya ligamen sehingga arcus plantaris menjadi collaps. Bila hal ini teijadi, maka
talus pronasi dan dapat tergeser ke medialis dari calcaneus, Pada akhirnya dapat merubah
bentuk susunan ossa tarsi yang terlibat os.Calcaneus, os.Naviculare dan os. Cuboideum3.
Pasien yang menderita plantar fascitis umumnya terjadi pada:
72% wanita
74% overwight
87% berumur di atas 30 tahun
43% pekerja yang berdiri lebih dari 6 jam sehari atau berjalan
Baru mulai olahraga setelah beberapa tahun tidak olahraga (mendadak)
Pasien dengan plantar fascitis mempunyai lapisan bagian tumit yang lebih tipis dan
overpronasi saat berjalan4. Dan penyebab penyakit tersebut:
36% tidak diketahui
18% karena overweight dan obes
15% karena berjalan
12% karena berlari
10% karena perubahan aktivitas
5% terjadi saat kecelakaan
4% oleh karena sepatu
D. PATOFISIOLOGI
Fascia plantaris merupakan jaringan kolagen seperti tendon yang terletak di
sepanjang tungkai sampai telapak kaki. Dalam keadaan normal, fascia plantaris bekerja
seperti shock-absorbing bowstring yaitu menyangga lengkung dalam kaki. Akan tetapi,
jika tegangan pada serabut-serabut tersebut terlalu besar, maka dapat terjadi robekan kecil
di serabut-serabut tersebut3.
Pada saat inflamasi di fascia plantaris akan menyebabkan nyeri ketika melakukan
aktivitas, seperti berjalan, berlari, dan berdiri dalam waktu yang lama. Jika dibiarkan
terjadi inflamasi dalam waktu yang lama maka akan menimbulkan abnormal pada
crosslink yang akan mengakibatkan penurunan fleksibilitas pada ankle dan kadangkadang juga mengakibatkan terbentuknya osteosfit pada calcaneus bagian medial3.

Secara aktual patofisiologi dari plantar fascitis berawal dari stress yang
menyebabkan penguluran yang berlebihan dari fascia plantaris. Faktor yang
menyebabkannya yaitu kurangnya fleksibilitas dari plantar fascia dan tightness otot-otot
gastrocnemius atau soleus. Lemahan dari otot-otot intrinsik kaki dan yang utama yaitu
m.tibialis posterior pada ankle, penambahan berat badan atau aktivitas yang berat,
kekurangan propriosepsi atau adanya deformitas dari struktur kaki, seperti: pes cavus dan
flat foot. Hal tersebut akan mengakibatkan tarikan pada fascia, sehingga terjadi
kerobekan dan timbul iritasi pada fascia plantaris3.
Nyeri pada plantar fascitis merupakan jenis nyeri inflamasi karena plantar fascitis
merupakan proses inflamasi akibat adanya stress mekanik. Adanya penekanan dan gaya
regang yang konstan dan berulang menyebabkan fascia mengalami iritasi pada tendon
periosteal atau kerobekan pada tempat perlekatannya sehingga timbul inflamasi.
Inflamasi dapat dikatakan sebagai penyebab utama dari nyeri pada plantar fascitis3.
Proses inflamasi menyebabkan jaringan di sekitar lesi memproduksi mediator
inflamasi yang dapat menyebabkan aktivasi nosiseptor sehingga merangsang serabut
saraf aferen bermyelin tipis (serabut saraf A delta dan tipe C). Impuls tersebut dibawa ke
ganglia akar saraf dorsalis dan merangsang produksi 'T" substance yang memicu
terjadinya reaksi radang. Kemudian impuls tersebut dibawa ke cornu dorsalis medula
spinalis dan dikirim ke level SSP yang lebih tinggi melalui traktus spinothalamicus. Pada
level SSP yang lebih tinggi (corteks sensorik, hipothalamus & limbic system) impuls
tersebut mengalami proses interaksi yang kemudian menghasilkan suatu perasaan
subyektif yang dikenal dengan persepsi nyeri3.
Mekanisme penurunan kemampuan fungsional pada plantar fascitis:

Plantar fascitis adalah nyeri yang ditandai pada bagian calcaneus yang ditandai
dengan inflamasi atau radang pada perlekatan apponeurosis plantaris bagian bawah dari
tuberositas calcaneus akibat penguluran yang berlebih dan terus menerus pada fascia
plantaris3.
Jika dibiarkan inflamasi pada apponeurosis plantaris tersebut akan menimbulkan
abnormal crosslink yang menimbulkan adhesion pada interfiber sehingga berdampak
terhadap penurunan fleksibilitas pada fascia plantaris. Muscle imbalance menyebabkan
otot menjadi tidak seimbangan dalam mempertahankan kestabilan dan fungsional ankle
saat melakukan aktivitas dengan kaki. Sehingga otot deep posterior tibia akan bekerja
lebih berat saat ankle memasuki fase mid stance ke toe off ketika bejalan dan berlari.
Sehingga otot akan cepat lelah dan beban kontraksi berlebih secara terus menerus3.
Rasa nyeri pada medial calcaneus akibat plantar fascitis saat beraktivitas akan
menyebabkan pasien membatasi gerakaknnya sehingga pasien menjadi hipomobile.
Akibat membatasi gerakan ankle saat beraktivitas membuat pasien mengalami kesulitan
saat akan memasuki fase mid stance saat berjalan3.
Peningkatan zat iritan akibat nyeri yang timbul juga akan menyebabkan
konduktifitas saraf menurun sehingga koordinasi intermuscular pada otot mengalami
penurunan, akibatnya gerakan menjadi tidak efisien dan efektif yang berdampak terhadap
keseimbangan saat berjalan dan fungsional ankle menurun. Sehingga menjadi antalgic
gait3.
E. GEJALA KLINIK
Gejala plantar fascitis berkembang pelan-pelan dan semakin sakit dalam
seminggu sampai 2 tahun. Rasa sakit semakin berat dan terfokus di bawah tumit. Pasien
sering mengeluhkan rasa sakit yang sangat berat di bawah tumit terutama ketika berdiri

saat bangun tidur pagi hari atau mencoba berdiri setelah istirahat. Rasa sakit sesudah
istirahat sangat tajam dan berkurang setelah 5-10 menit (85%). Rasa sakit terasa pada
tuberculum calcaneus medialis atau di tumit. Rasa sakit bisa perlahan-lahan tanpa riwayat
trauma akut. Rasa sakitnya dapat dipicu saat berdiri lama, berjalan lama, ditekan dengan
jari dan hal lainnya yang menambah kontraksi fascia plantaris4.
Pasien mengatakan rasa sakit yang semakin berat seiring berjalannya hari. Rasa
sakit tumpul dan biasanya berada di bawah tumit. Sehingga dari kebanyakan kasus
plantar fascitis, keluhan yang paling sering dialami adalah rasa sakit yang meningkat
dengan drastis pada area fascia plantaris. Umumnya terjadi pada waktu pagi hari saat
penderita berjalan beberapa langkah awal. Ada beberapa kondisi yang dapat
menyebabkan hal ini, tapi plantar fascitis merupakan kondisi yang paling sering. Pasien
mengatakan bahwa rasa sakit terjadi sepanjang hari atau saat berjalan atau berdiri. Rasa
sakit juga terjadi bila telapak kaki ditekan dengan jari tangan4,5.
F. DIAGNOSIS
Diagnosis plantar fascitis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan

penunjang.

Palpasi

pada

tuberculum

calcaneus

medial

biasanya

menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit biasanya berada pada insersi serabut fascia plantaris
centralis, dengan rasa sakit yang tidak jelas saat penekanan calcaneus dari medial ke
lateral. Foto roentgen proyeksi lateral dan anteroposterior menggambarkan kaki bagian
belakang dan depan, juga menggambarkan kelainan tulang seperti fraktur, tumor atau
osteofit di calcaneus. Radiografi ditunjukkan untuk menunjang diagnosis klinik4.
Tes yang dapat dilakukan untuk mendukung diagnosis:
1. Penggunaan Tape. Jika penggunaan tape secara langsung mengurangi rasa sakit,
menunjukkan bukti bahwa tekanan pada fascia adalah penyebab dari rasa sakit.
2. Pemakaian bantalan kertas setebal 1 inchi pada tumit (atau menegangkan otot
betis) dapat menghilangkan rasa sakit, hal ini menunjukkan kurangnya

fleksibilitas pada otot betis sebagai penyebab tekanan yang kuatpada fascia
plantaris.
3. Pemakaian bantalan lunak bisa mengurangu sakit, diagnosis masih bisa mengarah
ke plantar fascitis, namun penyebabnya bisa juga berupa tekanan fracture atau
jaringan heep pad atrophy yang kurang menopang.
4. Langkah berikut bisa mengurangi rasa sakit dan memperkuat arah diagnosis
bahwa tekanan pada fascia plantaris adalah penyebab utama rasa sakit.
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat digunakan untuk menetapkan diagnosis
plantar fascitis adalah pada scanning tulang menunjukkan peredaran darah yang tinggi
pada fascia yang mengarah ke tumit, terutama jika rasa sakit memburuk. Jika scanning
tulang positif, hal ini menandakan stress fracture, infeksi atau adanya perlukaan operasi.
Jika scanning tulang negatif, hal ini mungkin menunjukkan terlukanya saraf atau adanya
plantar fascitis. Pemeriksaan laboratorium juga dapat digunakan untuk mencari
kemungkinan arthritis, tapi tidak dapat digunakan sebagai konfirmasi plantar fascitis.
Pada pemeriksaan MRI ditemukan penebalan fascia, sehingga pemeriksaan dengan MRI
menjadi standar untuk mengetahui adanya fraktur, ruptur fascia plantaris atau infeksi.
Ultrasound dapat digunakan sebagai alat diagnosis untuk melihat ketebalan fascia. Pada
pemeriksaan ditemukan fascia yang menebal 2 kali lipat4.
G. DIAGNOSIS BANDING
Penyebab lain rasa sakit pada tumit adalah sciatica, tarsal tunnel syndrome,
entrapment of the lateral plantar nerve, rupture of plantar fascia, calcaneal stress
fracture dan apophysitis calcaneal (Severs disease)4,6.
1. Tarsal tunnel syndrome
Tarsal tunnel syndrome disebabkan kompresi nervus tibialis posterior yang
berasal dari malleolus medial bagian posterior melewati anteromedial menuju
calcaneus. Canal struktur fibro-osseous terdiri dari flexor retinaculum madial,
bagian posterior talus dan calcaneus lateralis, dan malleolus anterior medial.

Tendon tibialis posterior, flexor digitorum longus dan musculus flexor hallucis
longus, nervus tibialis posterior, beserta arteri dan vena masuk ke dalam rongga
tersebut, kompresi nervus tibialis posterior dapat menimbulkan rasa terbakar4.
Kondisi ini dapat disebabkan kompresi nervus tibialis posterior oleh massa
jaringan lunak, callus dari fraktur malleolus medial, inflamasi tendon yang
melewati canal tarsal dengan pronasi berlebihan akan menyebabkan tekanan pada
tendon tibialis posterior dan nervus yang bersangkutan. Rasa sakit sering berupa
rasa baal sekitar plantar dan bagian medial tumit. Tarsal tunnel syndrome juga
disebut posterior tibial nerve neuralgia. Rasa sakit tidak berkurang dengan
istirahat, juga dirasakan baal pada jari-jari kaki. Nervus tibialis posterior berperan
dalam mempersarafi sensoris, dan pasien biasanya kesulitan dalam menunjukkan
lokasi spesifik bagian yang sakit pada tumit. Berbeda dibandingkan pasien dengan
rasa sakit pada plantar fascitis, pada tarsal tunnel syndrome rasa sakit yang
semakin berat saat berdiri dan berjalan setelah istirahat, dalam waktu yang lama
dan tidak menunjuk secara spesifik rasa sakit pada insersio serabut fascia
plantaris medialis4.
Pemeriksaan fisik seperti palpasi nervus tibialis posterior dari proksimal
ke bagian distal malleolus medial melewati bagian anterior calcaneus. Pasien
mengatakan rasa tidak nyaman seperti terbakar yang menjalar dari proksimal betis
(Vallex sign) atau distal jari-jari kaki (Tines sign). Pemeriksaan terhadap struktur
telapak kaki yang dapat menyebabkan gangguan biomekanik. Gaya berjalan yang
abnormal dapat menyebabkan tekananyang besar pada isi dari terowongan tarsal
posterior, sehingga terjadi iritasi nervus tibialis posterior. Pemeriksaan kecepatan
hantaran saraf dan test electromyographic dapat mendukung diagnosis tarsal

tunnel syndrome. Terapi konservatif seperti mengurangi berjalan, NSAID, terapi


peregangan dan penggunaan orthotic dapat mengurangi gejala. Pasien yang tidak
ada respon terhadap terapi konservatif dapat dilakukan tindakan operasi
dekompresi canal tarsal4.
2. Entrapment of the leteral plantar nerve
Terjepitnya cabang pertama nervus plantar lateralis, yang mempersarafi
musculuc abductor digiti, menyebabkan rasa sakit pada plantar tumit medial.
Lokasi terjepitnya saraf berada antara musculus abductor hallucis, musculus
plantaris cuadratus, menimbulkan sensasi terbakar pada plantar tumit yang
timbul saat aktifitas dan tetap saat istirahat. Palpasi pada area ini dapat
menimbulkan rasa sakit dengan sensasi baal. Pengobatan konservatif untuk
plantar fascitis sangat efektif untuk mengatasi kondisi seperti ini4,6.
3. Ruptur fascia plantaris
Ruptur fascia plantaris merupakan penyebab yang jarang yang
menimbulkan rasa sakit pada plantar. Rasa sakit yang berat pada arkus medial
karena trauma fisik. Beberapa pasien salah didiagnosis sebagai plantar fascitis dan
tidam sukses diterapi dalam beberapa bulan dengan injeksi steroid. Pemeriksaan
fisik dengan palpasi didapatkan berkurangnya fascia plantaris atau berkurangnya
area bagian distal fascia. Rasa sakit yang berat saat palpasi fascia plantaris terasa
sangat signifikan pada distal processus medial dari tuberositas calcaneus. Cara
jalan yang pincang yang menunjukkan ekstremitas yang terkena. Penanganan
berupa imobilisasi dengan tidak boleh menumpu berat pada tungkai bawah dan
NSAID. Imobilisasi selama 4 sampai 6 minggu4,6.
4. Stress fraktur calcaneus
Rasa sakit pada tumit yang akut karena stress fraktur calcaneus hampir
sama seperti plantar fascitis. Rasa sakit yang tiba-tiba muncul pada aktifitas

sehari-hari. Rasa sakit saat kompresi calcaneus leteral dan medial. Rasa sakit
fraktur dimulai dari awal aktifitas dan selama aktifitas. Rasa sakit seperti itu
jarang ada pada pasien plantar fascitis. Pengobatan konservatif seperti edukasi
pasien untuk membatasi aktifitas karena akan memperburuk pasa sakit. Pasien
disarankan menggunakan sepatu athletic (untuk mengurangi tekanan pada
tumit)4,6.
5. Calcaneus apophysitis
Calcaneal apophysitis (Severs disease) biasanya terdapat pada anak lakilaki usia 6-10 tahun, terutama yang obesitas dan melakukan aktifitas berat. Rasa
sakit berada pada bagian posterior calcaneus dan rasa sakit bertambah berat
setelah aktifitas olahraga. Palpasi pada posterior calcaneus sekeliling insersio
tendon Achilles biasanya menimbulkan rasa sakit lokal. Tendon Achilles tegang
dengan kemampuan dorsofleksi yang terbatas, yang menyebabkan pasien berjalan
dengan bertumpu pada jari-jari kaki untuk mengurangi rasa sakit. Penanganan
berupa pijat dengan es dan NSAID, diikuti dengan latihan peregangan untuk
mencapai kemampuan dorsofleksi maksimal. Imobilisasi dengan orthotic
digunakan pada pasien aktif dan tidak patuh terhdap pengobatan4,6.
6. Sciatica
Rasa sakit pada tumit berasal dari sciatica karena tekanan pada nervus L5S1, yang mempersarafi tungkai bawah bagian posterior, gluteal, kaki-kaki bagian
anterior, posterior, dan lateral serta tumit. Nervus ini berperan dalam ankle
patellar reflex (APR). Rasa sakit tajam yang menjalar dari bawah pantat dan
posterior tungkai bawah dan distal tumit4,6.
7. Penyakit sistemik
Rasa sakit pada sendi dapat terjadi pada berbagai macam kondisi inflamasi
sistemik, seperti rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, psoriatic arthritis,

Reiters syndrome, gout, dan systemic lupus erythematosus. Gonorrhea dan


tuberculosis juga dapat menyebabkan rasa sakit pada tumit, walau jarang terjadi.
Sebagian basar pasien dengan penyakit sistemik disertai sakit sendi dan inflamasi
pada bagian lain, tapi gejala biasanya awalnya berasal dari tumit. Anamnesis dan
pemeriksaan fisik dapat menyimpulkan suatu penyakit arthritis. Contohnya,
seorang laki-laki muda yang mengatakan rasa sakit tumit bilateral dan mempunyai
riwaya konjungtivitis atau urethritis lebih dari 1 bulan, menggambarkan Reiters
disease4,6.
Rasa sakit tumit pada pasien dengan riwayat psoriasis dan rasa sakit yang
asimetris pada sendi interfalang distal pada jari tangan dan kaki, menunjukkan
kemungkinan psoriatic arthritis. Jika rasa sakit berasal dari sistemik, pengobatan
awal harus ditujukan untuk penyakit primernya4.
H. PENATALAKSANAAN
Penanganan plantar fascitis dibagi dua, yaitu konservatif dan operatif. Sebelum
diputuskan melakukan tindakan operasi sebaiknya dilakukan tindakan konservatif
terlebih dahulu. Hampir sebagain besar, rasa sakit pada plantar fascitis dapat dihilangkan
dengan pengobatan konservativ. Sebagian lagi memerlukan tindakan operatif. Walau
tidak semua rasa sakit dapat hilang pada pengobatan konsirvatif4.
1. Konservatif
Pengobatan konservatif plantar fascitis ditujukan untuk mengatasi komponen
inflamasi yang menyebabkan ketidaknyamanan dan faktor biomekanik yang
menyebabkan gangguan. Edukasi pasien sangat penting. Pasien harus mengerti
penyebab dari rasa sakit termasuk faktor biomekanik5.
Langkah-langkah penanganan konservatif dapat dikategorikan sebagai berikut5,8:
Teknik penggunaan taping,
Penggunaan sepatu athletic,
Stretching (peregangan) dan Straigthening (pelurusan)
Penunjang arch (bentuk kaki) dan orthotics
Night Splints

Anti-Inflammatory Agents
Iontophoresis
Corticosteroid Injections
2. Operatif
Terapi konservatif yang telah dijelaskan harus dilakukan selama beberapa bulan
sebelum dilakukan operasi. Operasi diindikasikan pada pasien yang gagal dengan
pengobatan konservatif dan pasien yang masih merasakan sakit setelah terapi. Pada
operasi dapat dilakukan plantar fasciotomi tanpa exostectomi inferior calcaneus.
Endoskopi plantar fasciotomi kurang traumatik daripada operasi terbuka4.
Operasi biasanya tidak diperlukan untuk plantar fascitis. Rasa sakit pada sebagian
besar pasien (95%) dengan plantar fascitis dapat sembuh dengan terapi non operasi.
Operasi dipertimbangkan setelah terapi non bedah selama 6 bulan tapi tidak membaik
dan rasa sakit yang membatasi aktifitas sehari-hari. Operasi meliputi pemotongan
(pelepasan) bagian fascia plantar ligament untuk mengurangi tekanan dan meredakan
inflamasi. 70-80% rasa sakit pada pasien plantar fascitis dapat diatasi dengan
tindakan operasi4.
Endoscopic plantar fasciotomy adalah teknik surgery yang megutamakan
ketepatan tinggi, tapi tidak sulit dilakukan apabila semua parameter diikuti dengan
benar. Lokal anastesi diperlukan karena proses operasi hanya singkat saja (kira-kira
memakan waktu 10-15 menit). Hematosis secara komplit diperlukan sebelum
prosedur dilakukan, hal ini dapat diperoleh dengan menggunakan Esmarck bandage
dan ankle tourniquet. Penempatan cannular secara benar adalah inti dari prosedur ini,
ditandai dengan 1-2mm distal, atau anterior dan inferior calcaneal exotosis, atau
medial calcaneal tubercle bila tidak ada rasa sakit. Penempatan ini dapat diukur
dengan 2 arah. Dari posterior ke anteroir, dan dari inferior ke superior dari ujung kulit
yang bersangkutan4.
Komplikasi operasi pada plantar fascitis:

Terlepasnya fascia plantaris yang besar


Pada operasi dilepaskan 30-50% fascia plantaris. Lepasnya fascia plantaris
yang berlebih selama operasi menyebabkan bentuk telapak kaki datar

karena kehilangan lengkung telapak kaki4.


Terluka nervus kaki
Terdapat saraf-saraf kecil sepanjang fascia plantaris. Saraf-saraf ini walau
dilindungi, akan rusak selama operasi dalam melepaskan fascia plantaris.
Sebagian kecil pasien akan mengeluh sakit atau baal pada lokasi tersebut

setelah operasi plantar fascitis4.


Infeksi
Infeksi merupakan komplikasi yang mungkin terjadi setelah operasi.
Sehingga diperlukan operasi yang baik dan diberikan antibiotik yang

adekuat untuk mencegah terjadinya infeksi4.


Untuk pasien-pasien post-operative harus beristirahat atau mengurangi aktivitas
fisik selama 6-8 minggu untuk memperbolehkan fascia melewati proses refibrose.

Dalam membuat keputusan operasi pada plantar fascitis harus mempertimbangkan


beberapa hal, seperti keparahan kondisi pasien, kesuksesan terapi sebelumnya,
dan keterbatasan dalam membatasi pekerjaan atau aktifitas olahraga4.
I. REHABILITASI MEDIK
Tujuan rehabilitasi medik adalah untuk mencegah kecacatan, mengembalikan
kelainan fungsi dan mental pasien seoptimal mungkin serta malatih pasien menggunakan

fungsi yang masih tersisa semaksimal mungkin. Dan beberapa yang disarankan untuk
penderita plantar fascitis adalah4:
Kontras bath (bak air hangat dan air dingin)
Hindari berjalan kaki/ berlari yang berlebihan
Kurangi berat badan
Hindari berjalan tanpa alas kaki
Pilih alas kaki yang nyaman untuk dipakai (alas yang lunak)
Selain itu, masih ada beberapa cara yang disarankan untuk mengatasi plantar fascitis.
Yaitu dengan memanfaatkan penggunaan Teknologi Intervensi Fisioterapi, yaitu3,7:

MicroWave Diatermy
MicroWave Diatermy bertujuan untuk meningkatkan elastisitas jaringan
otot, juga menurunkan tonus otot lewat normalisasi noci sensorik, kecuali

hipertonik otot akibat emosional7.


Ultrasound
Pada penggunaan ultrasound, frekuensi rendah biasanya digunakan dan
disarankan pada cedera jaringan yang dalam, denga daya serap dengan
kedalaman jaringan 3-5cm, sedangkan dengan frekuensi 3Mhz biasanya
digunakan pada lesi superficial dengan kedalaman jaringan 1-2cm. Pada
saat gelombang ultrasound masuk ke dalam tubuh, maka akan terjadi efek
termal dan mekanik dalam tubuh. Pengaruh termal dari ultrasound adalah
untuk memperlambat dan mengurangi nyeri, peningkatan jaringan
relaksasi, aliran darah lokal, dan kerusakan jaringan parut serta membantu
mengurangi peradangan lpkal. Sedangkan pengaruh efek mekanik dari
ultrasound yaitu adanya pengaruh dari kavitasi dan streaming akustik pada
ultrasound yang memberikan dampak fisiologis pada jaringan berupa
degranulasi sel mast, peningkatan kadar kalsium intraseluler, stimulasi
aktivitas

fibroblast

mengakibatkan

peningkatan

sintesis

protein,

peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan peningkatan kekuatan


tarikan kolagen3,7.
Dampak ultrasound antara lain untuk mengurangi inflamsi, meningkatkan
metabolisme lokal, mengurangi nyeri otot dan spasme, mempercepat
penyembuhan serta meningkatkan penyembuhan scars tissue. Waktu
penggunaan ultrasound kira-kira selama kurang lebih 3-5 menit.,
tergantung dari luas area yang mengalami gangguan3.
Efek thermal ultrasound menimbulan vasodilatasi pembuluh darah
sehingga terjadi perbaikan sirkulasi darah pada fascia sehingga zat-zat
iritan penyebab nyeri dapat terangkut dan masuk kembali ke dalam aliran
darah. Dengan hilangnya zat-zat iritan tersebut maka sensasi nyeri juga
akan berkurang. Efek thermal juga merangsang serabut saraf yang
menimbulkan efek sedatif sehingga terjadi pengurangan nyeri7.
Efek mekanik menimbulkan micromassage yang dapat melunakkan
abnormal crosslink yang terdapat pada fascia dan serabut otot sehingga
dapat melepaskan perlengketan jaringan. Maka iritasi pada serabut saraf
akan berkurang dan jaringan yang rusak akan mengalami penyembuhan7.

Terapi Latihan
Terapi latihan merupakan suatu usaha pengobatan fisioterapi yang dalam
pelaksanaannya menggunakan latihan-latihan gerak tubuh secara aktif
maupun pasif. Dengan diberikan terapi latihan dapat menjaga dan
meningkatkan kekuatan otot, melancarkan peredaran darah, meningkatkan
lingkup gerak sendi, mencegah kontraktur dan mencegah atrofi otot3.

J. PROGNOSIS
Pasien yang tidak membaik setelah pengobatan konservatif selama 9 sampai 12
bulan, disarankan untuk operasi. Kegagalan operasi dalam menanggulangi penyakit ini

adalah 2% sampai 35%. Kegagalan biasanya ditandai dengan memburuknya rasa sakit
dalam satu tahun terakhir, rasa sakit pada tumit yang menetap. Sebagian pasien mengeluh
rasa sakit yang tidak berkurang setelah operasi mungkin disebabkan karena komplikasi
seperti infeksi dan lain-lain4.

DAFTAR PUSTAKA
1. Price S A, Wilson L M. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Edisi ke-6. Jakarta: EGC, 2005.
2. Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono T, Rudiman R. Buku Ajar Ilmu
Bedah. Edisi ke-3. Jakarta: EGC, 2010.
3. http://emedicine.medscape.com/article/86143-overview. Fascitis Plantaris.
(diakses tanggal 02 Maret 2016).

4. http://www.ahlibedahorthopedic.com/artikel-191-2-plantar-facitis.html.
Plantar Fascitis. (diakses tanggal 02 Maret 2016).
5. Black J M, Hawks J H. Medical- Surgical Nursering, Clinical Management for

Positive Outcomes. 8th ed. Singapore: Saunders, 2009.


6. http://www.podiatrytoday.com/a-guide-to-the-differential-diagnosis-of-heel-pain.
A Guide toThe Differential Diagnosis Of Heel Pain. (diakses tanggal 02 Maret
2016).
7. Sari Devi P. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Calcaneus Spur di RSUP
Surdjito Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Yogyakarta. 2012.

8. Dandy D J, Edwards D J. Essential Orthopaedics and Trauma. 5th ed. UK:


Churchill Livingstone, Elsevier, 2009.