Anda di halaman 1dari 19

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

REFERAT
MEI 2015

SKABIES

OLEH :

DEVI RATNA PRATIWI S.Ked


NUR INDAH PRATIWI S.Ked

PEMBIMBING :

dr. Wiwiek Dewiyanti Habar, Sp. KK, M.Kes


TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
1

HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :
Nama

: Devi Ratna Pratiwi


Nur Indah Pratiwi

Judul Refarat : Skabies


Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Mei 2015

Pembimbing,

(dr. Wiwiek Dewiyanti Habar, Sp. KK, M.Kes)

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamin puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala Rahmat, Berkat dan Karunia-Nya. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad
SAW beserta sahabat dan keluarganya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Refarat ini dengan
judul Skabies sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Selama persiapan dan penyusunan referat ini rampung, penulis mengalami kesulitan
dalam mencari referensi. Namun berkat bantuan, saran, dan kritik dari berbagai pihak akhirnya
Refarat ini dapat terselesaikan.
Secara Khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terimakasih yang mendalam kepada
dr. Wiwiek Dewiyanti Habar, Sp. KK, M.Kes. selaku pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktu dengan tekun dan sabar dalam membimbing, memberikan arahan dan koreksi
selama penyusunan tugas ini hingga selesai.
Semoga amal dan budi baik dari semua pihak mendapatkan pahala dan rahmat yang
melimpah dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan refarat ini terdapat banyak
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik
dan saran untuk menyempurnakan penulisan yang serupa dimasa yang akan datang. Saya
berharap sekiranya referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin

Makassar, Mei 2015


Hormat Kami

Penulis

SKABIES
A. DEFINISI
Skabies adalah infeksi parasit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes
scabiei varietas hominis, suatu arthropoda dari ordo Acarina1,2,3. Prevalensi diseluruh
dunia diperkirakan sekitar 300 juta kasus setiap tahun, walaupun ini mungkin perkiraan
yang berlebihan. Skabies terjadi pada semua jenis kelamin, pada semua umur, pada
semua kelompok etnis1.
Merupakan parasit golongan antropoda yang secara spesifik menyerang manusia.
Parasit ini juga bisa didapatkan pada hewan seperti anjing dan hewan-hewan lainnya.
Tungau betina dewasa berukuran 0,3-0,4 mm dan bertanggungjawab pada manifestasi
klinis yang dialami penderita4.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang
terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati , kadang-kadang masih dapat hidup beberapa
hari dalam terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 mm permenit
sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50.
Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas,
biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva
ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar ke permukaan dan menjadi
dewasa di folikel rambut. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2
bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur
sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari1,2,3,5.
B. EPIDEMIOLOGI
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemik skabies. Banyak faktor
yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah,

hygiene yang buruk, hubungan seksual yang hubungannya promiskuitas, kesalahan


diagnosis dan perkembangan dermatografi serta ekologik2. Skabies merupakan masalah
kesehatan yang biasa terjadi pada negara berkembang, dimana prevalensinya bisa
mencapai lebih dari 50% pada beberapa kelompok, dan prevalensinya diperkirakan
mencapai 300 juta kasus di dunia. Penelitian terakhir menunjukkan prevalensi tertinggi
yaitu pada remaja dan anak usia sekolah. Namun, belakangan didapatkan insidennya
meningkat pada orang-orang lanjut usia6.
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitasi terhadap
sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi.
Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukan papul, vesikel,
urtika, dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi
sekunder7.
C. ETIOPATOGENESIS

Gambar 1. Tungau skabies dan telurnya


Sumber. Diambil dari kepustakaan 10
Sarcoptes scabei termasuk filum Anthropoda, kelas Arachnidal, ordo Acarina,
super famili Sarcoptes. Infestasi Sarcoptes scabei pada manusia disebut Sarcoptes scabei
var hominis. Badan tungau skabies berbentuk oval dengan bagian dorsoventral yang
datar. Betina dewasa berukuran panjang 0,4 mm dan lebar 0,3 mm. jantan dewasa
berukuran lebih kecil, dengan panjang 0,2 mm dan lebar 0,15 mm. badan tungau
berwarna putih suram dan terdapat gambaran gelombang transversal yang jelas. Pada
5

bagian dorsal ditutupi rambut-rambut halus dan duri-duri, yang disebut dentikel. Tungau
dewasa mempunyai empat pasang kaki, dua pasang kaki depan sebagai alat untuk
melekat. Pada tungau betina, terdapat rambut-rambut halus yang disebut setae di ujung
dua pasang kaki belakang, sedangkan pada tungau jantan terdapat rambut-rambut halus di
ujung pasangan kaki ketiga dan alat perekat di ujung kaki keempat2,3,4,8.
Kopulasi antara tungau jantan dan betina dewasa terjadi di permukaan korneum.
Setelah kopulasi, Sarcoptes betina yang sudah mengalami fertilisasi membuat
terowongan pada malam hari sepanjang 2-3 mm per hari untuk meletakkan telurnya.
Terowongan tidak terbatas pada stratum korneum saja tetapi masuk juga ke bawah dalam
epidermis tetapi tidak lebih dalam dari stratum granulosum. Telur dan feses di deposit di
belakang Sarcoptes betina di dalam terowongan. Setiap Sarcoptes betina dapat
menghasilkan 1-4 telur per hari dan 40-50 telur selama hidupnya (4-6 pekan). Selama itu
ia tidak keluar dari terowongannya. Dalam 2-3 hari telur menetas menjadi larva dan
keluar dari terowongan. Larva kemudian menjadi nympha dalam 3-4 hari, kemudian
menjadi Sarcoptes dewasa jantan dan betina dalam 4-7 hari. Terjadi kopulasi lagi dan
Sarcoptes betina membuat terowongan lagi sedangkan yang jantan mati2,3,4,8.
Jumlah tungau dewasa pada seorang penderita skabies biasanya kurang dari 20,
kecuali pada crusted scabies (dulu dikenal sebagai Norwegian scabies) yang dapat
ditemukan lebih dari satu juta tungau3,5.

Gambar 2. Siklus hidup Sarcoptes Scabei


Patogenesis munculnya manifesasi klinis adalah terjadinya hipersensitivitas tipe
cepat dan tipe lambat untuk terjadinya lesi. Untuk infestasi hanya memerlukan kurang
lebih 10 tungau. Pada infestasi pertama, untuk terjadinya gatal harus ada sensitasi
terhadap Sarcoptes scabei dulu. Sensitasi terjadi dalam beberapa minggu. Pada reinfestasi
gatal sudah dapat dirasakan dalam 24 jam. Terlibatnya hipersensitivitas tipe lambat pada
terjadinya papul dan nodul yang meradang, berdasarkan pada perubahan histologis dan
kelaziman ditemukan limfosit T pada infiltrat kulit. Temuan imunologis lain yaitu adanya
IgG dan IgM yang tinggi dan IgA rendah dalam serum dan kembali normal setelah
pemberian terapi7,9,10.
Kelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan7.
D. GEJALA KLINIS
Kelainan kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes scabei sangat bervariasi,
dapat menyerupai dermatitis dengan disertai papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan

garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Meskipun demikian
kita dapat menemukan gambaran klinis berupa keluhan subyektif dan obyektif yang
spesifik. Diketahui ada 4 tanda utama (cardinal sign) pada infestasi skabies, yaitu:
1. Pruritus Nocturna
Adanya gatal hebat pada malam hari, keadaan ini disebabkan karena
meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas. Sensasi
gatal yang seringkali mengganggu tidur dan penderita menjadi gelisah3,4,7,10.
2. Menyerang sekelompok orang
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah
keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam sebuah
pemukiman yang padat penduduknya, tungau dapat menular hampir ke seluruh
penduduk. Perlu diperhatikan di dalam kelompok mungkin akan ditemukan individu
yang hiposensitasi, walaupun terinfestasi oleh parasit sehingga tidak menimbulkan
keluhan klinis akan tetapi menjadi pembawa/carier bagi individu lain3,,7.
3. Adanya terowongan (kunikulus/kanalikuli)
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabei sangat bergantung pada kemampuannya
meletakkan telur, larva dan nimfa di dalam stratum korneum, oleh karena itu parasit
sangat menyukai bagian kulit yang memiliki stratum korneum yang relatif lebih
longgar dan tipis. Terowongan biasanya berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata
panjang 1 cm, berwarna putih abu-abu, pada ujung terowongan ditemukan papul atau
vesikel. Bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi
dan lain-lain)3,4,7,10.
4. Menemukan Sarcoptes scabei
Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh kemungkinan
besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa maupun skibala dan ini
merupakan hal yang paling diagnostik. Akan tetapi, kriteria yang keempat ini agak

susah ditemukan karena hampir sebagian besar penderita pada umumnya datang
dengan lesi yang sangat variatif dan tidak spesifik3,4,7,10.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 cardinal sign di atas7.
Selain itu, sebuah eritomatosa difus dapat terjadi dan merupakan reaksi
hipersinsitivitas terhadap antigen tungau. Parapathognomonic lesi adalah terowongan
yang tipis, seperti benang, struktur linear yang panjangnya 1-10 mm dan merupakan
terowongan yang disebabkan oleh gerakan dari tungau di stratum korneum4,9,10.
Skabies Norwegian (skabies berkrusta) memiliki bentuk yang ditandai dengan
dematosis berkrusta pada tangan dan kaki, kuku yang dismorfik, dan skuama yang
generalisata. Betuk ini sangat menular, tetapi rasa gatalnya sangat sedikit. Tungau dapat
ditemukan dalam jumlah sangat besar. Penyakit ini biasanya terdapat pula pada penderita
retardasi mental, kelemahan fisik, gangguan imunologik dan psikosis9,10.

Gambar 3. Tempat predileksi pada penderita skabies

Sumber. Diambil dari kepustakaan 9 dan10


Tempat predileksi biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang
tipis, yaitu: sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian dalam,
lipat ketiak bagian depan, aerola, umbilikus, bokong, genitalia eksterna pria (scrotum),
lipatan paha, parut bagian bawah, dan pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan
telapak kaki. Terowongan paling mudah ditemukan pada lipatan tangan, pergelangan, sisi
lateral telapak tangan. Nodul-nodul skabies jarang terjadi, muncul pada genitalia,
terutama pada penis dan skrotum, khususnya pinggang, axilla dan areola9,10.
Transmisi tungau ini adalah melalui kontak langsung kulit ke kulit. Migrasinya
membutuhkan setidaknya 5 menit. Dengan alasan ini sehingga jabat tangan atau pelukan
tidak dimasukkan sebagai faktor resiko. Infeksinya paling sering menyebar pada
kelompok dengan kondisi yang sesak/padat dalam jangka waktu lama. Selain itu bisa
juga melalui kontak tidak langnsung (melalui benda-benda) seperti pakaian, handuk,
sprei, bantal, dan lain-lain5,6,9,10,11.
E. DIAGNOSIS BANDING
Skabies merupakan the great immitator, karena menyerupai banyak penyakit kulit
dengan keluhan gatal. Diagnosis bandingnya ialah prurigo, pedikulosis korporis,
dermatitis, dan lain-lain. Setiap dermatitis yang mengenai daerah areola, selain penyakit
Paget, harus dicurigai pula adanya skabies. Skabies krustosa dapat menyerupai dermatitis
hiperkeratosis, psoriasis, dan dermatitis kontak7,10,12,.
Beberapa penyakit kulit yang memiliki gambaran gejala yang hampir sama
dengan skabies adalah:
1) Prurigo

10

Prurigo ialah erupsi popular kronik dan rekurens. Terdapat berbagai macam
prurigo, yang tersering terlihat ialah prurigo herba, disusul oleh prurigo nodularis.
Gejala klinis yang tampak umumnya berupa nudul-nodul sebesar kacang polong atau
lebih besar. Garukan terus menerus menimbulkan erosi,ekskoriasi, krusta,
hiperpigmentasi dan likenifikasi. Tempat predileksinya di ekstremitas bagian
ekstensor dan simetrik, dapat meluas ke bokong dan perut, muka dapat pula terkena7.
2) Pedikulosis Korporis
Pedikulosis ialah infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh
Pediculus (tergolong family Pediculidae). Pediculus ini merupakan parasit obligant
artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan hidup. Gejala
klinisnya berupa bekas-bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang
dengan garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang timbul infeksi sekunder dengan
pembesaran kelenjar getah bening regional7.
3) Pioderma
Merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman positif- Gram,
terutama streptokokus dan stafilokokus. Gejala klinisnya berupa gatal dengan
efloresensi bulla sampai krusta7.
4) Dermatitis
Dermatitis adalah peradangan kulit sebagai respon terhadap pengaruh eksogen
atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik
(eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal7.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis pasti ditegakkan dari pemeriksaan mikroskop dengan menemukan
tungau, telur, atau butiran faeces. Salah satu elemen tersebut harus ditemukan, karena
infestasi ini sering underdiagnosed (skabies dapat menyerupai dermatosis pruritus), atau
overdiagnosed sehingga menyebabkan penyakit lain diobati dengan skabisid. Untuk
mengidentifikasi terowongan secara cepat dapat diteteskan gentian violet pada area yang
11

terinfestasi, lalu dibersihkan dengan alkohol. Terowongan akan terlihat lebih gelap dari
kulit disekitarnya karena akumulasi tinta. Teknik pemeriksaan mikroskopis dengan
meneteskan setetes minyak mineral di atas terowongan dan kemudian mengerok secara
longitudinal denga pisau scalpel nomor 15 sepanjang terowongan, hati-hati jangan
sampai berdarah. Kerokan lalu diletakkan pada kaca objek dan diperiksa di bawah
pembesaran 10x3,4,8.
Metode diagnostik lain mencakup dermoskopi yang dapat digunakan untuk
memeriksa tungau secara in vivo. Pada situasi diagnostik yang sulit dan kasus atopik,
polymerase chainreaction (PCR) dapat digunakan sebagai alat diagnostik, dengan cara
mendeteksi DNA tungau dari krusta kutaneus3,10.
Diagnosis pasti skabies ditegakkan dengan ditemukannya tungau melalui
pemeriksaan mikroskop, yang dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain:
1. Kerokan kulit
Kerokan kulit dilakukan dengan mengangkat atap terowongan atau papula
menggunakan scalpel nomor 15. Kerokan diletakkan pada kaca objek, diberi minyak
mineral atau minyak emersi, diberi kaca penutup dan dengan pembesaran 20x atau
100x dapat dilihat tungau, telur atau fecal pallet3,10.
2. Mengambil tungau dengan jarum
Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap (kecuali
pada orang kulit hitam pada titik yang putih) dan digerakkan tangensial. Tungau akan
memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar4,5.
3. Epidermal shave biopsy
Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai antara ibu jari dan jari
telunjuk, dengan hati-hati diiris puncak lesi dengan scalpel nomor yang 15 dilakukan
sejajar dengan permukaan kulit. Biopsy dilakukan sangat superfisial sehingga tidak
terjadi perdarahan dan tidak perlu anastesi. Spesimen diletakkan pada gelas objek lalu
ditetesi minyak mineral dan diperiksa dengan mikroskop3,4,11.

12

4. Kuretase terowongan
Kuretase superfisial mengikuti sumbu panjang terowongan atau puncak papul
kemudian kerokan diperiksa dengan mikroskop, setelah diletakkan di gelas objek dan
ditetesi minyak mineral4,5,11.
5. Tes tinta Burowi
Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan
alkohol, maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis yang karakteristik,
berbelok-belok, karena ada tinta yang masuk. Tes ini tidak sakit dan dapt dikerjakan
pada anak dan pada penderita yang non-kooperatif4,8.
6. Tetrasiklin topikal
Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai. Setelah
dikeringkan selama 5 menit kemudian hapus larutan tersebut dengan isopropyl
alkohol. Tetrasiklin akan berpenetrasi ke dalam melalui stratum korneum dan
terowongan akan tampak dengan penyinaran lampu wood, sebagai garis linear
berwarna kuning kehijauan sehingga tungau dapat ditemukan4.
7. Apusan kulit
Kulit dibersihkan dengan eter, kemudian diletakkan selotipe pada lesi dan
diangkat denga gerakan cepat. Selotipe kemudian diletakkan diatas gelas objek (enam
buah dari lesi yang sama pada satu gelas objek) dan diperiksa dengan mikroskop4.
8. Biopsi plong (punch biopsy)
Biopsi berguna pada lesi yang atipik, untuk melihat adanya tungau atau telur.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jumlah tungau hidup pada penderita dewasa
hanya sekitar 12, sehingga biopsi berguna bila diambil dari lesi yang meradang.
Secara umum digunakan punch biopsy, tetapi biopsi mencukur epidermis adalah lebih
sederhana dan biasanya dilakukan tanpa anastesi lokal pada penderita yang tidak
kooperatif3,4,11.
G. PENATALAKSANAAN

13

Untuk mengobati skabies perlu diberikan penjelasan kepada pasien dan


keluarganya bahwa penyakit skabies mudah sekali menular, sehingga semua individu
yang berkontak atau serumah harus diobati walaupun gejala belum ada. Obat topikal
sebaiknya diberikan setelah mandi karena hidrasi kulit. Pakaian, sprei, handuk dan alat
tidur lain hendaknya dicuci dengan air panas. Dapat juga dimasukkan ke dalam kantong
plastik, dibiarkan dalam satu minggu maka tungau akan mati3,4,8.
Terapi topikal pada skabies yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
1) Krim Permetrin: suatu skabisid berupa piretroid sintesis yang efektif pada manusia
dengan toksisitas rendah, bahkan dengan pemakaian yang berlebihan sekalipun dan
obat ini telah dipergunakan lebih dari 20 tahun. Krim permetrin ditoleransi dengan
baik, diserap minimal dan tidak diabsorbsi sistemik, serta dimetabolisasi dengan
cepat. Penggunaan obat ini biasanya pada sediaan krim dengan kadar 1% untuk terapi
tungau pada kepala dan kadar 5% untuk terapi tungau tubuh. Studi menunjukkan
penggunaan permetrin 1% untuk tungau daerah kepala lebih baik dari lindane karena
aman dan tidak diabsorbsi secara sistemik. Cara pemakaiannya dengan dioleskna
pada seluruh area tubuh dari leher ke bawah dan dibilas setelah 8-14 jam. 12 bila
diperlukan, pengobatan dapat diulang setelah 5-7 hari kemudian. Permetrin tidak
dianjurkan pada bayi usia < 2 bulan atau pada wanita hamil4,5,8,10,11.
2) Lindane 1%: lindane memiliki angka penyembuhan hingga 98% dan diabsorbsi
secara sistemik pada penggunaan topikal terutama pada kulit yang rusak. Sediaan
obat ini biasanya sebanyak 60 mg. cara pemakaiannya adalah dengan dioleskan dan
dibiarkan selama 8 jam. Sama seperti pada permetrin, kadang diperlukan pengolesan
ulang 1 minggu setelah terapi pertama. Salah satu kekurangan obat ini adalah
absorbsi secara sistemik terutama pada bayi, anak, dan orang dewasa dengan
kerusakan kulit yang luas. Lindane memiliki efek samping yaitu toksis pada sistem
14

saraf pusat dengan keluhan utama kejang. Lindane sebaiknya tidak digunakan untuk
bayi, anak di bawah 2 tahun, dermatitis yang meluas, wanita hamil atau menyusui,
penderita yang pernah mengalami kejang atau penyakit neurologi lainnya4,5,8,10,11.
3) Sulfur: biasanya diresepkan sebagai sulfur presipitat (6%) dalam petrolatum. Sulfur
dipakai saat malam hari selama 3 malam dan dibersihkan secara menyeluruh 24 jam
terakhir. Kekurangannya membutuhkan pemakaian berulang, namum relatif aman,
efektif dan tepat untuk bayi berumur kurang dari 2 bulan dan selama kehamilan atau
menyusui10,11.
4) Benzil benzoat 25%: obat ini merupakan skabisid kerja cepat yang efektif terhadap
semua stadium namun tidak dijual bebas di Amerika Serikat. Penggunaannya
diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi
dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. Benzyl benzoate memiliki
keefektifan yang sama dengan lindane4,5,10,11.
5) Krim Kritamiton: dianggap tidak cukup efektif untuk mengobati skabies. Kualitas
krim ini dibawah permetrin dan efektivitasnya setara dengan benzyn benzoate atau
sulfur4,10,11.
Selain itu juga terdapat terapi sistemik, khususnya untuk penderita AIDS. Ivermektin
adalah suatu antiparasit yang disahkan oleh FDA untuk unchocerciasis dan
strongilodiasis pada manusia.ivermektin memiliki aktivitas spectrum luas pada
nematode dan arthropoda yang dapat digunakan pada hewan dan manusia serta obat
ini dapat digunakan pada terapi filariasis. Sejak tahun 1993 dilaporkan bahwa
ivermektin yang diberikan 1 atau 2 dosis oral 200 mg/kgBB menjadi terapi skabies
yan efektif pada penderita AIDS4,5. Penggunaan ivermektin ini tidak boleh pada
wanita hamil dan menyusui. Sediaan ivermektin topikal, yaitu larutan ivermektin 1%
dalam propilen-glikol juga sedang diteliti penggunaannya sebagai terapi alternative.

15

Penyakit yang serius akibat skabies jarang ditemukan, kecuali pada bayi dan
penderita skabies berkrusta. Tetapi pruritus dan infeksi yang ditimbulkan dapat
menjadi masalah dan memerlukan terapi khusus. Lesi dengan fecal pellet terkadang
member rasa gatal untuk beberapa saat setelah tungau mati. Hal ini memerlukan
pemberian antihistamin dan bila gatal tetap menganggu, dapat diberikan steroid oral
dalam waktu yang singkat. Bila didapatkan super infeksi oleh bakteri, antibiotik harus
diberikan. Terdapat istilah acarofobia yaitu penderita dengan delusi. Penderita mulai
merasa bahwa pada kulit mereka masih terdapat tungau meskipun telah diobati. Bila
gangguan ini berkelanjutan maka diperlukan bantuan dari kejiwaan4,5,10,11.
Edukasi pada pasien skabies:
1) Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2) Pengobatan yang diberikan dioleskan dikulit dan sebaiknya dilakukan pada
malam hari sebelum tidur.
3) Hindari menyentuh mata dan mulut denga tangan.
4) Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila
perlu direndam dengan air panas.
5) Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu walaupun
rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.
Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama
dan ikut menjaga kebersihan3,4,8,10,11.
H. PROGNOSIS DAN KOMPLIKASI
Skabies tidak sulit disembuhkan, tapi dalam beberapa kasus dapat timbul gatal
yang menetap dan infeksi sekunder. Infestasi jangka panjang dapat menimbulkan plak
hyperkeratosis yang timbul akibat infeksi dan transmisi kembali oleh Sarcoptes Scabei.
Jika infeksinya mencapai darah maka dapat menibulkan glomerulonephritis6,12. Pada
infeksi yang persisten dapat timbul Acarophobia9.
I. KESIMPULAN

16

Skabies adalah oenyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitasi
terhadap tungau Sarcoptes scabei varietas hominis. Tungau Sarcoptes scabei membuat
terowongan pada lapisan tanduk kulit dengan siklus hidup dari telur sampai bentuk
dewasa memerlukan waktu 8-12 hari. Tungau dapat menular melalui kontak langsung
(tidur bersama, hubungan seksual, atau kegiatan-kegiatan fisik dalam waktu yang cukup
lama) dan kontak tidak langsung (misalnya melalui perlengkapan tidur, pakaian, handuk,
atau yang lain).
Sarcoptes scabei menyebabkan reaksi kulit yang berupa eritem, papul atau vesikel
pada kulit. Gejala klinis skabies meliputi 4 cardinal sign, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Pruritus nocturnal, gatal pada malam hari


Menyerang secara berkelompok
Adanya terowongan
Menemukan tungau
Diagnosis klinis ditetapkan berdasarkan anamnesis adanya cardinal sign.

Diagnosis pasti ditegakkan denga menemukan tungau melalui pemeriksaan mikroskopis


melalui beberapa cara seperti kerokan kulit, mengambil tungau dengan jarum, epidermal
shave biopsy, kuretase terowongan, tes tinta Borowi, tetrasiklin topikal, apusan kilit dan
biopsi plong (punch biopsy).
Penatalaksanaan untuk skabies yang sering digunakan antara lain: krim permetrin,
lindane 15, sulfur presipitat 6%, benzyl benzoate 25%, krim krotamiton, ivermektin.
Untuk menghindari infeksi berulang, seluruh kontak dekat dengan pasien harus
dieradikasi. Baik baju, selimut, dan handuk harus dicuci dengan menggunakan air panas.

17

Terapi harus tuntas bagi penderita dan keluarga penderita yang memiliki gejala yang
sama.

DAFTAR PUSTAKA
1. Karthinkeyan K. Treatment Of Scabies: newer perspectives. India; 2004. Accept on:
http://www.postgramedj.com_content/018390/full
2. Burns D.A. Diseases Caused by Antropods and Other Noxious Animal. In: Burns T,
Brathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Textbook of Dermatology. 7th ed. Oxford, UK:
Blackwell publishing company, 2004. p. 1593-4
3. Currie B.J, Walton S.F. Problems in Diagnosing Scabies, Global Disease in Human and
Animal Population. Australia: Charles Darwin University; 2007. Accepted on:
http://cmr.asm.org/content/20/2/268/full.pdf
4. Estrada R. Scabies. In: Arenas R, Estrada R, editors. Tropical Dermatology. USA: Landes
bioscience, 2001. p. 207-212
5. Leone P.A. Scabies and Pediculosis. North Carolina: University of North Carolina and

North Carolin STD; 2007. Accepted on:


http://www.health.qld.gov.au/ph/documents/cdb/23496.pdf
6. Burgess I.F. Scabies. In: Williams H, Bigby M, Diepgen T, Herxheimer A, Naldi L,

Rzany B, editors. Evidence-based Dermatology. 1st ed. London: BMJ publishing group,
2003. p. 515-24
18

7. Sularsito A.S, Djuanda S. Skabies. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu

Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 6th ed. Jakarta:
2001. p. 122-25
8. Oakley A. Scabies: Diagnosis and Management. Tristram Clinik; 2014. Accepted On:
http://www.bpac.org.nz/BPJ/2009/february/docs/bpj19_scabies_pages_12-16.pdf
9. Sterry W, Paus R, Burgdorf W. Scabies. In: Dermatology, Thieme Clinical Companions.
5th ed. Germany: Thieme; 2006. p. 127-9
10. Wolff K, Johnson R.A. Mite Bites and Infestations, Scabies. In: Fitzpatricks Color Atlas
& Synopsis of Clinical Dermatology. 6th ed. USA: the McGraw-Hill companies, 2009. p.
868-76
11. Chosidow O. Scabies. Paris: Universe Pierre et Marie Curie; 2015. Accepted on:
http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMcp052784
12. Gawkrodger D.J. Scabies. In: Dermatology, An Illustrated Colour Text. 3rd ed.
Sheffield,UK: Churchill Livingstone,2003. p. 59

19