Anda di halaman 1dari 12

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Psoriasis merupakan penyakit inflamasi noninfeksius yang kronik pada kulit
dimana produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan kurang-lebih enam
hingga sembilan kali lebih besar dari pada kecepatan yang normal. Sel-sel dalam
lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat, dan sel-sel yang baru terbentuk
bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik atau plak
jaringan epidermis yang profus. (Smeltzer & Bare, 2002).
Psoriasis merupakan penyakit radang kulit kronik dan rekuren / kambuhan,
ditandai dengan adanya bercak-bercak kemerahan dengan sisik putih yang kasar
dan tebal.(httt//www.sinarharapan.co.id)
Psoriasis adalah suatu penyakit radang kulit yang kronis. Penyakit ini ditandai
dengan bercak-bercak merah dengan sisik kasar dan tebal. Penyakit tersebut
dianggap sebagai suatu penyakit gangguan kekebalan tubuh, yang dipengaruhi
terutama oleh sel T (salah satu jenis sel darah putih). Sel T yang teraktivasi akan
berinteraksi dengan sel kulit (terutama keratinosit) dan mengakibatkan
pembentukan kulit yang tebal dan bersisik.
(www.suarapembaharuan.com)
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa psoriasis adalah
penyakit kelainan pada kulit yang bersifat kronik dan residif yang penyebab
pastinya sampai saat ini masih belum jelas. Penyakit ini ditandai dengan
terjadinya pergantian kulit epidermis atau proses keratinisasi yang begitu cepat
dari biasanya, sehingga menimbulkan lesi kulit berupa skuama dan plak. Penyakit
psoriasis ini tidak mengancam jiwa, namun dapat menurunkan kualitas hidup
karena dapat membuat penderitanya menjadi kurang percaya diri bila tidak
dirawat dengan baik.

Klasifikasi
Klasifikasi didasarkan pada pola-pola klinis,Pada psoriasis didapatkan beberapa
pola-pola klinis berikut ini menurut Brown & Burns (2005):

a. Psoriasis plak klasik


Ini merupakan pola yang paling sering dijumpai. Bisa berupa plak
merah tunggal atau multipel, dengan diameter yang bervariasi mulai dari beberapa
milimeter sampai beberapa centimeter, dan dengan permukaan yang berskuama.
Bila dikerok dengan hati hati maka skuama akan terlihat seperti memantulkan
cahaya, memberi efek seperti perak ( akibat terjadinya parakeratosis pada stratum
korneum ). Gosokan yang lebih keras akan menyebabkan timbulnya pendarahan
bintik pada kapiler.
Plak plak ini dapat timbul dibagian tubuh manapun, tetapi psoriasis
mempunyai tempat predileksi pada permukaan ekstensor : lutut, siku, dan dasar
tulang belakang. Lesi seringkali benar benar simetris. Relatif jarang didapatkan
pada wajah. Kulit kepala dan kuku sering terkena dan atropati bisa juga terjadi.
Plak-plak cenderung menjadi kronis dan stabil dengan sedikit
perubahan dari hari ke hari. Akan tetapi, plak-plak tersebut perlahan-lahan bisa
meluas dan bersatu dengan daerah yang berdekatan. Dapat juga hilang dengan
cara spontan. Kadang-kadang psoriasis juga ditemukan pada tempat terjadinya
trauma atau pembentukan jaringan parut, keadaan ini dikenal sebagai fenomena
kobner atau isomorfik, yang merupaka suatu gambaran yang khas tetapi tidak
patognomonik. Paparan dengan radiasi UV atau sinar matahari alama sering kali
memperbaiki psoriasis.
Walaupun sering dikatakan bahwa psoriasis itu tidak gatal tetapi
menurut pengalaman kami banyak pasien mengeluh rasa gatal yang hebat dan
kebanyakan pasien mengalami rasa gatal pada waktu-waktu tertentu. Bahkan
sebenarnya dalam bahsa yunani spora berarti gatal. Beberapa bentuk psoriasis
(misalnya, gutata, fleksural) lebih cenderung menyebabkan iritasi.

Psoriasis vulgaris
b. Psoriasis kulit kepala
Psoriasis pada kulit kepala sering ditemukan : pada kenyataannya kulit
kepala mungkin merupakan satu-satunya yang terkena. Kadang-kadang sulit
untuk dapat membedakan antara psoriasis pada kulit kepala dengan dermatitis
seboroik berat, tetapi psoriasis umunya lebih tebal. Sebagai pegangan utama,
apabila kita dapat merasakan lesi yang terdapat pada kulit kepala sekaligus
melihatnya, maka kelainan itu kemungkinan adalah psoriasis.
Lesi-lesi bervariasis dari hanya satu atau dua plak sampai berupa suatu
lembaran skuama yang tebal dan menutupi seluruh permukaan kulit kepala.
Kadang-kadang skuama bisa menjadi sangat tebal dan tertancap dalam gumpalan
besar yang menempel pada rambut. Keadaan ini disebut dengan pitiriasis
amiantasea. Bisa terjadi kerontokan rambut temporer pada psoriasis kulit kepala
yang parah.
c. Psoriasis kuku
Kelainan pada kuku sering didapatkan, dan merupakan petunjuk diagnosis
yang penting apabila lesi pada kulit hanya ada beberapa, atau tidak khas.
Perubahan pada kuku hampir selalu terjadi pada psoriasis atropatik.
Terdapat dua kelainan yang dapat terjadi bersama-sama maupun sendirisendiri, yaitu lekukan (pitting) dan onikolisis. Cekungan kuku pada psoriasis
relatif besar dan tidak teratur, berbeda dengan yang terdapat pada alopesia areata.
Onikolisis pada awalnya menimbulkan daerah kemerahan yang gelap yang
dikelilingi bagian yang berwarna merah muda seperti warna ikan salmon, tetapi
kemudian warna kuku berubah menjadi ciklat atau kuning. Kadang-kadang terasa

sakit. Kelainan kuku ini terutama onikolisis dapat juga timbul tanpa ditemukannya
tanda lain (psoriasis).
Kadang-kadang perubahan pustular terjadi pada ujung jari dan kuku
(kadang disebut dengan akrodermatitis kontinua) perubahan yang serupa dapat
menyertai pustulosis palmo_plantar kronis pada psoriasis bentuk eritrodermik atau
pustular, keseluruhan kuku bisa menjadi kasar dan berubah warna.
d. Psoriasis gutata
Psoriasis gutata sering timbul mendadak, dan dapat menyertai suatu
infeksi, terutama infeksi streptokokus pada tenggorokan. Hal tersebut merupakan
cara umum timbulnya psoriasis, terutama pada usia dewasa muda.
Gutata (guttate) dalam bahasa latin berarti tetesan. Kebanyakan lesi
berukuran sekitar satu sentimeter dan biasanya warna lebih pucat bila
dibandingkan dengan bercak psoriasis yang telah mantap, setidaknya pada fase
awal. Diagnosis banding yang utama adalah pitriasis rosea, paling mudah
dibedakan dengan adanya skuama parakeratosis pada psoriasis, dan bentuk lesinya
(bulat pada psoriasis gutata, oval pada pitriasis rosea). Pada psoriasis gutata dapat
timbul rasa gatal.
Lesi-lesi pada psoriasis gutata sering cepat hilang, tetapi pada beberapa
pasien bisa membesar dan menjadi plak yang menetap.

Psoriasis gutata
e. Psoriasis fleksural
Psoriasis fleksural dapat menyertai lesi plak yang khas, namun juga dapat
terlihat tersendiri, atau berkaitan dengan kelainan-kelainan pada kulit kepala dan
kuku. Lesi bisa ditemukan pada daerah lipat paha, celah pada bayi sumbing (natal
cleft), aksila, umbilikus dan lipatan dibawah payudara. Selalu didapatkan adanya

maserasi, dan skuama pada permukaan kulit sering hilang, meninggalkan


penampakan erimatosa yang seperti daging. Kelainan ini sulit dibedakan dengan
dermatitis seboroik fleksural, sehingga carilah kelainan pada kuku atau tanda
psoriasis ditempat lain. Beberapa dermatolog percaya terdapat satu fase dimana
kedua kelainan saling tumpang tindih, yang kemudian disebut dengan kelainan
sebo-psoriasis.
Psoriasis fleksural sering terasa gatal. Berhati-hatilah terhadap kemungkinan
adanya sensitifitas kontak sekunder karena pemakaian obat-obat anti gatal yang
dijual bebas.
f. Brittle psoriasis (psoriasis yang rapuh)
Kadang-kadang anda akan menghadapi pasien psoriasis dimana tidak
adanya plak yang tebal dan stabil, tetapi yang ada adalah daerah berskuama tipis
yang tidak stabil. Lesi bisa timbul secara de novo atau berkembang secara
mendadak pasien psoriasis yang kelainannya stabil selama bertahun-tahun. Salah
satu penyebab keadaan seperti ini adalah terapi steroid sistemik (sering digunakan
untuk kelainan yang lain), sedangkan steroid topikal yang poten dapat juga
menyebabkan psoriasis yang stabil menjadi keras namun rapuh (brittle).
Maksud dari brittle psoriasis adalah bahwa lesi bisa menyebar ke seluruh
tubuh dengan cepat, terutama apabila diobati dengan obat-obatan yang poten dan
mengarah pada terjadinya eritroderma atau bahkan psoriasis pustular akut.
g. Psoriasis eritrodermik
Apabila plak-plak psoriasis menyatu dan mengenai sebagian besar atau
seluruh kulit, maka akan timbul eritroderma atau dermatitis eksfoliatif.
Psoriasis mungkin menjadi eritrodermik dalam proses yang berlangsung dengan
lambat dan tidak dapat dihambat, atau sangat cepat. Kadang-kadang psoriasis
erotridermik dapat timbul de novo. Obat-obat steroid sistemik atau topikal yang
poten bisa mempercepat terjadinya psoriasis eritrodermik.
h. Psoriasis pustular akut (Von Zumbusch)
Keadaan ini sangat serius. Pasien dengan atau tanpa psoriasis sebelumnya
secara tiba - tiba terserang eritema yang menyebar luas, dan ditumpangi dengan
adanya pustula. Pustula ini bisa bergabung membentuk danau-danau yang berisi
pus. Pustula ini steril.

Pasien mengalami panas tinggi yang naik turun, kelihatan parah dan
merasa tidak sehat, serta didapatkan leukositosis. Apabila pasien tidak segera
diobati, maka penyakitnya akan bertambah parah dan mungkin bisa meninggal,
seringkali akibat terjadinya infeksi sekunder.
i. Pustulosis palmo-plantar kronis
Masih diperdebatkan tentang apakah ada hubungan antara kelainan ini
dengan bentuk-bentuk yang lain dari psoriasis. Tindakan biopsi memperlihatkan
gambaran patologis berbentuk serupa psoriasis, tetapi tidak umum bagi pasien
untuk terserang pustulosis palmo-plantar kronis yang berkaitan tipe-tipe lain dari
psoriasis.
Perubahan yang khas terdiri dari bercak-bercak tersebut lambat laun
berubah menjadi coklat, berskuama, dan mengelupas. Kondisi tersebut biasa
terasa tidak nyaman dan sakit, alih-alih gatal.
Lesi bisa didapatkan dalam ukuran kecil saja pada satu tangan atau kaki,
atau bisa juga menutupi seluruh permukaan kedua telapak tangan dan telapak
kaki. Kelainan ini bisa menyebabkan pasien tidak mampu menggunakan
ekstermitasnya yang terserang penyakit tersebut.
B. ETIOLOGI
Sebagai salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemukan, psoriasis
menjangkiti kurang-lebih 2% populasi (Camp,1992). Diperkirakan bahwa
keadaan ini berasal dari cacat herediter yang menyebabkan over produksi kreatin.
Meskipun penyebab primernya tidak diketahui, kombinasi susunan genetik yang
spesifik dan rangsangan dari lingkungan dapat memicu terjadinya penyakit
tersebut. Dimana terjadi kelainan pada HLA yang menyebabkan penurunan
produksi antibody. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa proliferasi sel
diantarai oleh sistem imun. Periode stress emosional dan ansietas turut
memperburuk keadaan, sementara trauma, infeksi serta perubahan musim dan
hormonal merupakan faktor pemicu. Awitan psoriasis dapat terjadi pada segala
usia kendati lebih sering dijumpai diantara usia 10 dan 30 tahun (stiller, 1994).
Psoriasis memiliki kecenderungan untuk membaik sendiri dan kemudian muncul
kembali secara periodik di sepanjang usia penderitanya (Smeltzer & Bare, 2002).

Etiologi belum diketahui, yang jelas ialah waktu pulih (turn over time)
epidermis dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lainnya 27
hari. Pada sebagian pasien terdapat faktor herediter yang bersifat dominan. Faktor
fisik dikatakan mempercepat terjadinya residif.
Infeksi fokal mempunyai hubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis,
yaitu psoriasis gutata. Hubungannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas. Pernah
dilaporkan kasus-kasus psoriasis gutata yang menyembuh setelah dilakukan
tonsilektomi. (Mansjoer, 2000)
Walaupun digambarkan sebagai penyakit proliferasi epitel jinak, pada
kenyataannya psoriasis disebabkan oleh gangguan autoimun. Limfosit T
diaktifkan dalam berespon terhadap rangsangan tak dikenal terkait dengan sel
langerhans kulit. Pengaktifan sel T menyebabkan pembentukan sitokinin
proinflamatori termasuk faktor nekrosis tumor alfa, dan faktor pertumbuhan yang
merangsang proliferasi sel abnormal dan pergantiannya. Waktu pertukaran normal
sel epidermis adalah sekitar 28-30 hari pada psoriasis, epidermis dibagian yang
terkena diganti setiap 3-4 hari. Pertukaran sel yang cepat ini menyebabkan
peningkatan derajat metabolisme dan peningkatan aliran darah ke sel untuk
menunjang metabolisme tersebut. Peningkatan aliran darah menimbulkan eritema.
Pertukaran dan proliferasi yang cepat tersebut menyebabkan terbentuknya sel-sel
yang kurang matang. Trauma ringan pada kulit dapat menimbulkan peradangan
berlebihan sehingga epidermis menebal dan terbentuklah plak
C. FAKTOR PENCETUS
1. Trauma
Psoriasis pertama kali timbul pada tempat-tempat yang terkena trauma, garukan,
luka bekas operasi, bekas vaksinasi, dan sebagainya. Kemungkinan hal ini
merupakan mekanisme fenomena Koebner. Khas pada psoriasis timbul setelah 714 hari terjadinya trauma.
2. Infeksi

Pada anak-anak terutama infeksi Streptokokus hemolitikus sering menyebabkan


psoriasis gutata. Psoriasis juga timbul setelah infeksi kuman lain dan infeksi virus
tertentu, namun menghilang setelah infeksinya sembuh.
3. Sinar matahari
Walaupun umumnya sinar matahari bermanfaat bagi penderita psoriasis namun
pada beberapa penderita sinar matahari yang kuat dapat merangsang timbulnya
psoriasis. Pengobatan fotokimia mempunyai efek yang serupa pada beberapa
penderita.
4. Obat-obatan
Antimalaria seperti mepakrin dan klorokuin kadang-kadang dapat
memperberat

psoriasis,

bahkan

dapat

menyebabkan

eritrodermia.

Memburuknya dan induksi psoriasis selama pengobatan dengan AMs.


AMs

menghambat

transglutaminase

di

kulit

yang

diduga

bisa

mempengaruhi proliferasi sel kulit


Lithium yang dipakai pada pengobatan penderita mania dan depresi telah
diakui sebagai pencetus psoriasis.Lithium menyebabkan penipisan inositol
monophosphat

mengakibatkan

kalsium.Tingkat

kalsium

yang

perubahan
rendah

dalam

menyebabkan

homeostatis
peningkatan

proliferasi keratinosit.
Obat telan tertentu antara lain obat anti hipertensi tipe bloker 2
menyebabkan

penurunan

cAMP

intraepidermal

menyebabkan

intraepidermal menyebabkan keratinosit berlebihan.


D. MANIFESTASI KLINIS
a. Bercak Eritema dengan Skuama
Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi dengan skuama
diatasnya. Eritema berbatas tegas dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan
serinbg eritema yang ditengah menghilang dan hanya terdapat dipinggir. Skuama
berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar
kelainan bervariasi mulai dari lentikular, numular sampai plakat dan dapat
berkonfluensi. Jika seluruhnya atau sebagian besar lentikular disebut psoriasi

gultata, biasanya terdapat pada anak-anak dan dewasa muda dan umumnya terjadi
setelah adanya infeksi akut oleh streptokok.
b. Fenomena Tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin., Auspitz dan Kobner (isomorfik).
Kedua fenomena yang disebut lebih dahulu yang dianggap khas, sedangkan yang
terakhir tak khas, hanya kira-kira 47% yang positif dan dapat didapati pula pada
penyakit lain, misalnya liken planus dan veruka plana juvenilis.
Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warna menjadi putih setelah
digores, akibat berubahnya indeks bias cahaya pada lapisan skuama. Cara
menggores dapat dilakukan dengan pinggir gelas alas. Pada fenomena Auspitz
tampak

serum

atau

darah

berbintik-bintik

akibat

papilomatosis.

Cara

mengerjakannya secara berikut: skuama yang berlapis-lapis itu dikerok dengan


pinggir gelas alas hingga skuama habis. Pengerokan harus dilakukan perlahanlahan karena jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan yang berbintikbintik, melainkan perdarahan yang merata. Trauma pada kulit normal pasien
psoriasis, misalnya garukan dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan
kelainan psoriasis dan disebut fenomena kobner.
c. Nail Pit
Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku, yakni sebanyak kira-kira 50%,
yang khas adalah pitting nail (nail pit) berupa lekukan-lekukan miliiar. Kelainan
yang tak khas ialah kuku yang keruh, tebal, bagian distal terangkat karena terdapat
lapisan tanduk dibawahnya, dan onikolisis.
d. Kelainan pada sendi
Selain menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula
menyebabkan kelainan pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat
predileksi pada sendi interfalangs distal. Banyak terdapat pada usia 30-50 tahun.
Sendi membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks.
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk memperlambat pergantian epidermis,
meningkatkan resolusi lesi psoriatik dan mengendalikan penyakit tersebut.

Pendekatan terapeutik harus berupa pendekatan yang dapat dipahami oleh pasien,
pendekatan ini harus bisa diterima secara kosmetik dan tidak mempengaruhi cara
hidup pasien. Terapi psoriasis akan melibatkan komitmen waktu dan upaya oleh
pasien dan mungkin pula keluarganya.
Ada tiga terapi yang standar:
1. Terapi topikal
Preparat

yang

dioleskan

secara

topikal

digunakan

untuk

melambatkan aktivitas epidermis yang berlebihan tanpa mempengaruhi


jaringan lainnya. Obat-obatannya mencakup preparat ter, anthralin, asam
salisilat dan kortikosteroid. Terapi dengan preparat ini cenderung
mensupresi epidermopoisis (pembentukan sel-sel epidermis).
Formulasi ter mencakup losion, salep, pasta, krim dan sampo. Rendaman
ter dapat menimbulkan retardasi dan inhibisi terhadap pertumbuhan
jaringan psoriatik yang cepat. Terapi ter dapat dikombinasikan dengan
sinar ultraviolet-B yang dosisnya ditentukan secara cermat sehingga
menghasilkan radiasi dengan panjang gelombang antara 280 dan 320
nanometer (nm). Selama fase terapi ini pasien dianjurkan untuk
menggunakan kacamata pelindung dan melindungi matanya. Pemakaian
sampo ter setiap hari yang diikuti dengan pengolesan losion steroid dapat
digunakan untuk lesi kulit kepala. Pasien juga diajarkan untuk
menghilangkan sisik yang berlebihan dengan menggosoknya memakai
sikat lunak pada waktu amndi.
Anthralin adalah preparat (Anthra-Derm, Dritho-Crme, Lasan) yang
berguna untuk mengatasi plak psoriatik yang tebal yang resisten terhadap
preparat kortikosteroid atau preparat ter lainnya.
Kortikosteroid

topikal

dapat

dioleskan

untuk

memberikan

efek

antiinflamasi. Setelah obat ini dioleskan, bagian kulit yang diobati ditutup
dengan kasa lembaran plastik oklusif untuk menggalakkan penetrasi obat
dan melunakkan plak yang bersisik.
2. Terapi intralesi
Penyuntikan

triamsinolon asetonida intralesi

(Aristocort,

Kenalog-10, Trymex) dapat dilakukan langsung kedalam berck-bercak

psoriasis yang terlihat nyata atau yang terisolasi dan resisten terhadap
bentuk terapi lainnya. Kita harus hati-hati agar kulit yang normal tidak
disuntuik dengan obat ini.
3. Terapi sistemik
Metotreksat bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA
dalam sel epidermis sehingga mengurangi waktu pergantian epidermis
yang psoriatik. Walaupun begitu, obat ini bisa sangat toksik, khususnya
bagi hepar yang dapat mengalamim kerusakan yang irreversible. Jadi,
pemantauan melalui pemeriksaan laboratorium harus dilakukan untuk
memastikan bahwa sistem hepatik, hematopoitik dan renal pasien masih
berfungsi secara adekuat.
Pasien tidak boleh minum minuman alkohol selama menjalani pengobatan
dengan metotreksat karena preparat ini akan memperbesar kemungkinan
kerusakn hepar. Metotreksat bersifat teratogenik (menimbulkan cacat fisik
janin) pada wanita hamil.
Hidroksiurea menghambat replikasi sel dengan mempengaruhi sintesis
DNA. Monitoring pasien dilakukan untuk memantau tanda-tanda dan gejal
depresi sumsum tulang.
Siklosporin A, suatu peptida siklik yang dipakai untuk mencegah rejeksi
organ yang dicangkokkan, menunjukkan beberapa keberhasilan dalam
pengobatan kasus-kasus psoriasis yang berat dan resisten terhadap terapi.
Kendati demikian, penggunaannya amat terbatas mengingat efek samping
hipertensi dan nefroktoksisitas yang ditimbulkan (Stiller, 1994).
Retinoid oral (derivat sintetik vitamin A dan metabolitnya, asam vitamin
A) akan memodulasi pertumbuhan serta diferensiasi jaringan epiterial, dan
dengan demikian pemakaian preparat ini memberikan harapan yang besar
dalam pengobatan pasien psoriasis yang berat.
Fotokemoterapi. Terapi psoriasis yang sangat mempengaruhi keadaan
umum pasien adalah psoralen dan sinar ultraviolet A (PUVA). Terapi
PUVA meliputi

pemberian

preparat

fotosensitisasi

(biasanya

8-

metoksipsoralen) dalam dosis standar yang kemudian diikuti dengan


pajanan sinar ultraviolet gelombang panjang setelah kadar obat dalam

plasma mencapai puncaknya. Meskipun mekanisme kerjanya tidak


dimengerti sepenuhnya, namun diperkirakan ketika kulit yang sudah
diobati dengan psoralen itu terpajan sinar ultraviolet A, maka psoralen
akan berkaitan dengan DNA dan menurunkan proliferasi sel. PUVA bukan
terapi tanpa bahaya; terapi ini disertai dengan resiko jangka panjang
terjadinya kanker kulit, katarak dan penuaan prematur kulit.
Terapi PUVA mensyaratkan agar psoralen diberikan peroral dan setelah 2
jam kemudian diikuti oleh irradiasi sinar ultraviolet gelombang panjang
denagn intensitas tinggi. (sinar ultraviolet merupakan bagian dari spektrum
elektromagnetik yang mengandung panjang gelombang yang berkisar dari
180 hingga 400 nm).
Terapi sinar ultraviolet B (UVB) juga digunakan untuk mengatasi plak
yang menyeluruh. Terapi ini dikombinasikan dengan terapi topikal ter
batubara (terapi goeckerman). Efek sampingnya serupa dengan efek
samping pada terapi PUVA.
Etretinate (Tergison) adalah obat yang relatif baru (1986). Ia adalah
derivat dari Vitamin A. Bisa diminum sendiri atau dikombinasi dengan
sinar ultraviolet. Hal ini dilakukan pada penderita yang sudah bandel
dengan obat obat lainnya yang terdahulu.