Anda di halaman 1dari 15

REVALUASI AKTIVA TETAP

BERDASARKAN SEWA GUNA


USAHA DENGAN HAK OPSI &
TANPA HAK OPSI
Oleh : Kelompok 1
Fauni Maharani

: 1501103010112

Fauza Aliya

: 1501103010113

Erlita

: 1501103010111

Riza Mulyana

1301103010004
Chairanisa Natasha Miraza

1301103010021
: 13011030100

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
judul Revaluasi Aktiva Tetap berdasarkan Sewa Guna Usaha (Leasing) dengan Hak Opsi
(Operating Lease) dan Tanpa Hak Opsi (Capital/Finance Lease)

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH.........................................................................
1.3 TUJUAN PENULISAN..........................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN SEWA GUNA USAHA..............................................................................
2.2 PERLAKUAN PERPAJAKAN UNTUK SEWA GUNA USAHA.....................................
2.2.1

Penjualan dan Penyewaan Kembali.................................................

2.3 PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK SEWA GUNA USAHA.......................................


2.3.1

Perlakuan Akuntansi oleh Perusahaan Sewa Guna Usaha...............

2.3.2

Perlakuan Akuntansi oleh Penyewa Guna Usaha.............................

2.4 PERENCANAAN PAJAK UNTUK SEWA GUNA USAHA.............................................


2.4.1

Membeli secara Langsung atau melalui Sewa Guna Usaha.............

2.4.2

Penjualan dan Penyewaan Kembali.................................................

2.5 PERBANDINGAN

ANTARA

SEWA

GUNA

USAHA

DENGAN

PEMBELIAN LANGSUNG.....................................................................
2.6 PERBANDINGAN ASET YANG SUDAH DIMILIKI SEBAIKNYA
DIREVALUASI,

TIDAK

DIREVALUASI

ATAU

DIJUAL

DISEWAKAN KEMBALI........................................................................

BAB III PENUTUP

DAN

3.1

KESIMPULAN..............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.....................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Berkembangnya dunia bisnis saat ini, kebutuhan dana menjadi hal yang tak dapat
dielakkan lagi baik oleh kalangan usahawan perseorangan maupun usahawan yang tergabung
dalam suatu badan hukum di dalam mengembangkan usahanya maupun didalam
meningkatkan mutu produknya, sehingga dapat dicapai suatu keuntungan yang memuaskan
maupun tingkat kebutuhan bagi kalangan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut,
saat ini semakin banyak orang yang mendirikan suatu lembaga pembiayaan yang bergerak di
bidang penyediaan dana atau pun barang yang akan dipergunakan oleh pihak lain di dalam
mengembangkan usahanya.
Lembaga pembiayaan tersebut merupakan lembaga keuangan nonbank. Yang
membedakan lembaga pembiayaan dengan bank adalah bank mengambil dana secara
langsung dari masyarakat sedangkan lembaga pembiayaan tidak mengambil dana secara
langsung dari masyarakat. Salah satu lembaga pembiayaan yang berkembang pesat saat ini
adalah sewa guna usaha atau biasa disebut juga dengan Leasing. Saat ini, leasing merupakan
salah satu cara perusahaan memperoleh asset atau kepemilikan tanpa harus melalui proses
yang berkepanjangan. Semuanya telah diatur oleh perusahaan leasing yang disediakan oleh
berbagai perusahaan.
Leasing juga merupakan salah satu langkah penghindaran resiko tinggi yang saat ini
sudah disadari oleh para usahawan yang ada. Bila dilihat dari propspek kebutuhan
pembangunan, usaha leasing jelas dapat berkembang pesat dan memainkan peranan aktif
sebagai lembaga keuangan baru,yang khusus bergerak dalam penyediaan barang modal,
sebagai alternative sumber pembiayaan suatu perusahaan bisnis dan mempunyai harapan
untuk memenuhi kebutuhan pasarnya yang luas.
Perusahaan yang menggunakan leasing sebaiknya harus merencanakan pajak yang
dikeluarkan untuk pembiayaan leasing bagi perusahaan menjadi serendah mungkin. Pilihan

untuk membeli barang modal langsung atau menyewa barang modal dengan hak opsi sangat
berkaitan dengan perencanaan pajak, secara legal baik peraturan menteri keuangan ataupun
peraturan standar akuntansi keuangan (PSAK).

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini
adalah :
1. Perlakuan perpajakan untuk sewa guna usaha
2. Perlakuan akuntansi untuk sewa guna usaha
3. Perbedaan membeli secara langsung atau sewa guna dengan hak opsi
4. Perbandingan aktiva yang sudah dimiliki sebaiknya direvaluasi, tidak direvaluasi atau
di jual dan disewakan kembali
1.3 TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui peraturan perpajakan dalam sewa guna usaha
2. Untuk mengetahui peraturan akuntansi dalam sewa guna usaha
3. Untuk mengetahui perbedaan membeli secara langsung atau sewa guna dengan hak
opsi
4. Untuk mengetahui perbandingan aktiva yang sudah dimiliki sebaiknya direvaluasi,
tidak direvaluasi atau di jual dan disewakan kembali

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

PENGERTIAN SEWA GUNA USAHA


Perusahaan sewa guna usaha di Indonesia lebih dikenal dengan nama Leasing. Kegiatan

utamanya adalah bergerak di bidang pembiayaan untuk keperluan barang-barang modal yang
diinginkan oleh nasabah. Pembiayaan yang dimaksud jika seorang nasabah membutuhkan
barang-barang modal seperti peralatan kantor atau mobil dengan cara disewa atau dibeli
secara kredit dapat diperoleh diperusahaan leasing. Pihak Leasing dapat membiayai
keinginan nasabah dengan perjanjian yang telah disepakati kedua pihak.
Perusahaan Leasing dapat diselenggarakan oleh atau badan usaha yang berdiri sendiri.
Keterbatasan perusahaan leasing adalah tidak boleh melakukan kegiatan yang dilakukan oleh
bank seperti memberikan simpanan dan kredit dalam bentuk uang.
Pengertian sewa guna usaha secara umum adalah perjanjian antara lessor (perusahaan
leasing) dengan lessee (nasabah) di mana pihak lessor memyediakan barang dengan hak
penggunaan oleh lessee dengan imbalan pembayaran sewa untuk jangka waktu tertentu.
Sedangkan pengertian sewa guna usaha sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan
No. 1169/KMK.01/1991 adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang
modal, baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna
usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu
tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Yang dimaksud dengan finance lease
adalah kegiatan sewa guna usaha dimana lessee pada akhir masa kontrak mempunyai hak
opsi untuk membeli objek sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati.
Sebaliknya, operating lease tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna
usaha.

2.2

PERLAKUAN PERPAJAKAN UNTUK SEWA GUNA USAHA

Dalam pasal 2, 3, dan 4 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMMK.01/1991


kegiatan sewa guna usaha dapat digolongkan sebagai finance lease (sewa guna usaha dengan
hak opsi) maupun dengan operating lease (sewa guna usaha tanpa hak opsi).
Sewa guna usaha digolongkan sebagai finance lease apabila memenuhi semua kriteria berikut
ini :
1. jumlah pembayaran sewa-guna-usaha selama masa sewa-guna-usaha pertama
ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan
barang modal dan keuntungan lessor.
2. masa sewa-guna-usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang
modal Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan 7
(tujuh) tahun untuk Golongan bangunan.
3. perjanjian sewa-guna-usaha memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.
Kegiatan sewa-guna-usaha digolongkan sebagai sewa-guna-usaha tanpa hak opsi apabila
memenuhi semua kriteria berikut :
1. jumlah pembayaran sewa-guna-usaha selama masa sewa-guna-usaha pertama tidak
dapat menutupi harga perolehan barang modal yang disewa-guna-usahakan ditambah
keuntungan yang diperhitungkan oleh lessor.
2. perjanjian sewa-guna-usaha tidak memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.

Perlakuan Pajak Penghasilan bagi lessee sesuai dengan pasal 16 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1
berikut :

1. selama masa sewa-guna-usaha, lessee tidak boleh melakukan penyusutan atas barang modal yang dis
menggunakan hak opsi untuk membeli.

2. setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut, lessee melakukan pe
adalah nilai sisa (residual value) barang modal yang bersangkutan.

3. pembayaran sewa-guna-usaha yang dibayar atau terutang oleh lessee kecuali pembebanan atas ta
dikurangkan dari penghasilan bruto lessee sepanjang transaksi sewa-guna-usaha tersebut memenuhi
ini.

4. dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang ditentukan dalam Pasal 3 Kepu

melakukan koreksi atas pembebanan biaya sewa-guna-usaha tersebut dan memperlakukannya sebagai
5. Lessee tidak memotong Pajak Penghasilan Pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha.
2.2.1 Penjualan dan Penyewaan Kembali
Hal-hal yang berkaitan dengan penjualan dan penyewaan kembali adalah sebagai berikut :

1. Untuk penjualan dan penyewaan kembali tanpa hak opsi, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masukan
harus dibayar kembali.

2. Atas penyewaan kembali barang modal tersebut, maka lessor harus memungut Pajak Pertambahan Nil
3. Pengalihan tanah dan bangunan sewa guna usaha :
A. saat lessee menjual kepada lessor, lessee dikenakan PPh 5 % dari nilai jual (nilai akta) atau
digunakan untuk menghitung PBB jika nilai jual lebih rendah dari NJOP.
B. Saat lessor menjual kepada lessee, lessor dikenakan PPh 5% dari nilai opsi.
Contoh kasus sewa guna tanpa hak opsi :

Lessor PT ABC meng-SGU-kan mesin golongan II dengan harga. pokok Rp 200.000.000,00 kepada PT DEF

bulan dan nilai sisa barang setelah periode leasing adalah nihil. Dalam kontrak SGU tidak tercantum klausul
mesin tersebut dengan harga murah pada akhir periode SGU. Pembayaran per bulan Rp8.000.000,00.
Perlakuan Pajaknya sebagai berikut :

Jumlah seluruh pembayaran yang akan diterima lessor PT ABC sebesar Rp 8.000.000,00 x 24 bulan = Rp 19

kecil dari jumlah pokok mesin sebesar Rp 200.000.000,00. Selain itu tidak ada klausa pilihan bagi penyewa
akhir periode leasing.
Oleh karena itu SGU ini tergolong SGU tanpa hak opsi (Operating Lease) atau sewa menyewa biasa .
Lessor : PT ABC

Lessee : PT DEF

Menerima pendapat sewa setiap bulan = Membayar sewa = 8.000.000


8.000.000
Memungut PPN 10% = 800.000

Membayar PPN = 800.000

Dipotong PPh 23 = (480.000)

Memotong PPh 23 = (480.000)

Diterima dari Lessee = 8.320.000

Dibayar ke Lessor = 8.320.000

Menyusutkan mesin per tahun =


50.000.000
Contoh kasus sewa guna dengan hak opsi :

Lessor PT ABC meng-SGU-kan mesin golongan II (masa manfaat 8 tahun) dengan harga pokok Rp 200.0

Jangka waktu leasing 36 bulan dan nilai sisa barang setelah periode leasing adalah nihil. Dalam kontrak S

lessee untuk membeli mesin tersebut dengan harga murah pada akhir periode SGU. Pembayaran per bulan Rp
pokok hutang leasing sebesar Rp 5.555.555,00 dan bunga Rp 2.444.445,00.
Perlakuan pajaknya sebagai berikut :

Jumlah seluruh pembayaran yang akan diterima lessor PT ABC sebesar Rp 8.000.000,00 x 36 bulan = Rp 28

menutupi harga pokok mesin sebesar Rp 200.000.000,00 dan nilai sisa barang setelah periode leasing. Sel

penyewa untuk memiliki mesin tersebut. Jangka waktu leasing adalah 3 tahun (36 bulan) sedangkan bar

memenuhi syarat Finance Lease karena untuk barang golongan II jangka waktu leasing minimal 3 tahun.
maka SGU ini tergolong SGU dengan hak opsi (Finance Lease).
Lessor : PT ABC :
Mencatat piutang Leasing sebesar

= Rp 288.000.000

Menerima pendapatan bunga / bulan

= Rp

2.444.445

Menerima pelunasan pokok / bulan

= Rp

5.555.555

Jumlah yang diterima

= Rp

8.000.000

Tidak menyusutkan mesin;


Mendebet Biaya Penyisihan Piutang Leasing 2,5% dari saldo piutang leasing (Deductible Expense). Lessee :
Membayar leasing = Rp 8.000.000,00 (Deductible Expense)
Tidak menyusutkan mesin;
Tidak memungut PPh Pasal 23.

2.3

PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK SEWA GUNA USAHA

Berdasarkan PSAK Nomor 30 tentang Standar Akuntansi Sewa Guna Usaha 2002, dalam menentukan j

utama yang digunakan adalah asas makna ekonomi. Suatu transaksi sewa guna usaha akan dikelom
dengan hak opsi apabila memenuhi semua syarat-syarat berikut ini :

1. Lessee memiliki hak opsi untuk membeli aset yang disewagunausahakan pada akhir masa sewa gu
disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha.

2. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh lessee ditambah dengan niali sisa mencakup pen
modal serta bunganya sebagai keuntungan lessor (full payout lease).
3. Masa sewa guna usaha minimum 2 tahun.

Apabila salah satu syarat diatas tidak terpenuhi, maka transaksi tersebut dikelompokkan sebagai se

usahan tanpa hak opsi. Transaksi leasing yang dikelompokkan ke dalam financial lease atau sewa

dikenakan pajak penghasilan maupun pajak pertambahan nilai. Tetapi transaksi yang tergolong ope
kepada lessor merupakan objek pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.
2.3.1 Perlakuan Akuntansi oleh Perusahaan Sewa Guna Usaha (Lessor)
A. Finance lease

1. Penanaman neto dalam aktiva yang disewagunausahakan harus diperlakukan dan dicatat sebagai penana

penanaman neto tersebut terdiri dari Jumlah piutang sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) y

sewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha dikurangi dengan pendapatan sewa guna usaha y
income), dan simpanan jaminan (security deposit).

2. Selisih antara piutang sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) dengan harga perolehan
diperlakukan sebagai pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui (unearned lease income).

3. Pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui harus dialokasikan secara konsisten sebagai pendapata
tingkat pengembalian berkala (periodic rate of return) atas penanaman neto perusahaan sewa guna usaha.

4. Apabila perusahaan sewa guna usaha menjual barang modal kepada penyewa guna usaha sebelum berakh

perbedaanantara harga jual dengan penanaman neto dalam sewa guna usaha pada saat penjualan dilakuk
keuntungan atau kerugian periode berjalan.

5. Pendapatan lain yang diterima sehubungan dengan transaksi Sewa Guna Usaha harus diakui dan dicatat seb
B. Operating lease

1. Barang modal yang disewagunausahakan harus diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva sewa guna usaha b

2. Pembayaran sewa guna usaha (lease payments) selama tahun berjalan yang diperoleh dari penyewa gun

pendapatan sewa. Pendapatan sewa harus diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus sepanjang
pembayaran sewa guna usaha mungkin dilakukan dalam Jumlah yang tidak sama setiap periode.
3. Penyusutan aktiva yang disewagunausahakan harus dilakukan dalam Jumlah yang layak
berdasarkan taksiran masa manfaatnya.

4. Kalau aktiva yang disewagunausahakan dijual maka perbedaan antara nilai buku dan harga jual harus dia
atau kerugian tahun berjalan.
2.3.2 Perlakuan Akuntansi oleh Penyewa Guna Usaha (Lessee)
A. Capital Lease
1. Transaksi sewa guna usaha diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa

dari seluruh pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh penyew

guna usaha. Selama masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna usaha dialokasikan dan dicatat

sewa guna usaha dan beban bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban

2. Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari pembayaran sewa guna usaha adalah t
perusahaan sewa guna usaha atau tingkat bunga yang berlaku pada awal masa sewa guna usaha.

3. Aktiva yang disewagunausaha harus diamortisasi dalam Jumlah yang wajar berdasarkan taksiran masa man

4. Kalau aktiva yang disewagunausaha dibeli sebelum berakhirnya masa sewa guna usaha, maka perbedaan
dengan sisa kewajiban dibebankan atau dikreditkan pada tahun berjalan.

5. Kewajiban sewa guna usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan jangka panjang sesuai dengan p
penyewa guna usaha.

6. Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewaan kembali (sales and leaseback) maka transaksi terseb

transaksiyang terpisah yaitu transaksi penjualan dan transaksi sewa guna usaha. Selisih antara harga jua

harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan. Amortisasi atas keuntunga

harus dilakukan secara proporsional dengan biaya amortisasi aktiva yang disewagunausaha apabila leaseba

merupakan capital lease atau secara proporsional dengan biaya sewa apabila leaseback merupakan operatin
B. Sewa Menyewa Biasa (Operating lease)

Pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan merupakan biaya sewa yang diakui dan dicatat berdasar

sewa guna usaha, meskipun pembayaran sewa guna usaha dilakukan dalam Jumlah yang tidak sama setiap pe
2.4 PERENCANAAN PAJAK UNTUK SEWA GUNA USAHA
Perencanaan pajak dapat digunakan untuk aset tetap yang baru akan dibeli maupun aset tetap yang telah

akan dibeli pertimbangannya adalah membeli secara lansgung (tunai atau kredit) atau dengan menyewa. Sed

dimiliki pertimbangannya adalah mempertahankannya, melakukan revaluasi, atau dijual dan disewagunausah
2.4.1 Membeli Secara Langsung atau Melalui Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi
Hal pokok yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pajak untuk hal ini, antara lain sebagai berikut :

1. Apabila membeli secara langsung maka jumlah yang dapat dibiayakan dalam rangka menghitung pe
penyusutan.

2. Besarnya beban penyusutan antara lain ditentukan oleh metode penyusutan dan umur ekonomis ya
perpajakan.

3. Apabila membeli secara sewa guna usaha, maka semua biaya yang dikeluarkan untuk membaya
dibiayakan pada tahun yang bersangkutan.

4. Masa sewa guna usaha bisa lebih pendek dari umur ekonomis sehingga perusahaan dapat membiaya

dibandingkan apabila menggunakan penyusutan (penyusutan yang dipercepat). Masa sewa guna usah

tahun untuk barang modal golongan I,3 tahun untuk barang modal golongan II dan III, dan 7 tahun un
2.4.2 Penjualan dan Penyewaan Kembali

Pada saat penjualan dari lessee kepada lessor, lesse dikenakan PPh 5% dari nilai jual (nilai akta) atau N

digunakan untuk menghitung PBB jika nilai jual lebih rendah dari NJOP. Saat lessor menjual kepada lessee (p

PPh 5% dari nilai opsi. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah jika gedung dimiliki secara langsung, m

hanya beban penyusutan atas gedung yang harus dilakukan dalam jangka waktu 20 tahun. Apabila diperole

hak opsi maka semua biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran sewa baik atas tanah maupun bangunan dapa
2.5 PERBANDINGAN ANTARA SEWA GUNA USAHA DENGAN PEMBELIAN LANGSUNG

Besarnya perbandingan penghematan pajak antara sewa guna usaha dengan pembelian langsung s
membandingkan jumlah biaya yang dapat dikurangkan dalam rangka menghitung penghasilan kena pajak.

Untuk sewa guna usaha, biaya yang dapat dikurangkan adalah seluruh biaya sewa dan beban penyusutan

pembelian langsung adalah sebesar beban penyusutannya saja. Di samping dihitung berdasarkan nilai nom
tunai (PV).

Walaupun sewa guna usaha lebih mahal dari pembelian langsung, penghematan pajaknya juga lebih be
dibiayakan dan jangka waktu sewa guna usaha lebih pendek dari umur ekonomis.

2.6 PERBANDINGAN ASET YANG SUDAH DIMILIKI SEBAIKNYA DIREVALUASI, TIDAK DIR
DISEWAKAN KEMBALI
1. Jika perusahaan melakukan revaluasi, maka atas selisih lebih setelah revaluasi akan dikenakan PPh
merupakan dasar untuk melakukan penyusutan pada tahun bersangkutan dan seterusnya.

2. Tanah dan bangunan yang telah dimiliki tidak direvaluasi, sehingga untuk beban penyusutan
sebelumnya.

3. Apabila dilakukan penjualan dan penyewaan kembali dengan hak opsi, maka perusahaa pada saat
PPh final sebesar 5% dari nilai jual.

4. Untuk penjualan kembali tanah dan bangunan semua biaya yang dibayarkan kepada lessor dapat

tanah maupun bangunan. Pada saat akhir masa sewa dan pengambilan opsi dilakukan, perusahaan
atas nilai bangunan sesuai dengan nilai opsinya.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan ketentuan Pasal 3 huruf b Keputusan Menteri Keuangan Nomor
1169/KMK.01/1991 masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2 tahun untuk
barang modal Golongan I, 3 tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan 7 tahun

untuk Golongan Bangunan, jika suatu leasing tidak memenuhi ketentuan tersebut maka
leasing diperlakukan sebagai sewa biasa atau disebut operating lease.
Transaksi leasing yang dikelompokkan ke dalam financial lease atau sewa guna usaha
dengan hak opsi tidak dikenakan pajak penghasilan maupun pajak pertambahan nilai. Tetapi
transaksi yang tergolong operating lease atas pembayaran lesee kepada lessor merupakan
objek pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.
Harga perolehan tanah dan bangunan melalui penjualan dan penyewaan kembali lebih
mahal, tetapi semua biaya sewa boleh dibiayakan, baik biaya sewa atas tanah maupun
bangunan boleh disusutkan, sedangkan atas tanah tidak boleh disusutkan. Hal ini akan
memengaruhi besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan yang
bersangkutan. Dengan demikian, walaupun penjualan dan penyewaan kembali harga
perolehannya lebih mahal tetapi penghematan pajaknya juga yang paling besar, sehingga
alternatif ini sebaiknya dipilih oleh perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA