Anda di halaman 1dari 7

Lansia

Lansia umumnya digunakan untuk pria dan wanita yang telah berusia lanjut (> 65 tahun). Lansia
dibagi lagi berdsarkan usia maka pembagiannya dapat berupa usia tua (65-74 tahun), usia sangat tua
(75-84 tahun), dan yang tertua berusia (lebih tua dari 85 tahun). Geriatri adalah cabang kedokteran
yang berhubungan dengan masalah dan penyakit yang berhubungan dengan orang lanjut usia dan
proses penuaan. Lansia cenderung ditandai dengan keadaan gagalnya seorang dalam
mempertahankan kesetimbangan terhadap kesehatan dan kondisi stres fisiologis. Peningkatan status
kesehatan dan kebugaran lansia dapat dilakukan dengan olahraga.
Ruang Lingkup
Dengan bertambahnya usia, kondisi dan fungsi tubuh akan semakin menurun. Pada tahun 2004 lebih
dari 50% dari orang tua di Amerika Serikat memiliki setidaknya satu jenis kecacatan penyakit kronis
(fisik atau nonfisik), dan beberapa dan gangguan yang umum. Penurunan status kesehatan umum dan
mobilitas yang berkurang berpengaruh negative pada kemampuan orang tua untuk melaksanakan
aktivitas sehari-hari, sehingga tingkat keluhan penyakit kronis pun akan semakin meningkat.
Prevalensi tinggi dari penyakit kronis ini memunculkan peningkatan perawatan dalam kesehatan dan
medis dan ketergantungan pada layanan medis dan alat bantuan hidup serta peningkatan biaya.
Penyakit utama yang menyerang lansia dan paling mahal biaya pengobatannya adalah penyakit
jantung, kanker, trauma, gangguan mental, dan gangguan paru, sedangkan jatuh adalah penyebab
utama cedera, cacat, dan kematian orang tua. Pada tahun 2030 diperkirakan sekitar 72 juta orang di
Amerika Serikat akan berusia lebih dari 65, dan akan mewakili sekitar 20% dari populasi yang ada,
dan seseorang mencapai usia 65 dianggap memiliki harapan hidup rata-rata 18,5 tahun.

Fisiologi dan Patofisiologi


Perubahan anatomis dan fisiologis beberapa sistem organ pada lansia dapat menyebabkan risiko
kecacatan fungsional dan kematian dini. Penurunan fungsi organ ini dapat disebabkan karena
penyakit kronis yang dialami. Selain daripada itu diet, faktor lingkungan serta faktor genetic turut
mempengaruhi dalam perubahan atau penurunan fungsi organ pada lansia. Tabel efek penuaan pada
perubahan sistim organ karena kurangnya aktivitas fisik dapat dilihat pada table dibawah ini :
Tabel 1 Tabel penuaan pada perubahan sistim organ
Sistem Organ
Efek
Otot yang Menempel 1. Sarcopenia: hilangnya massa, kekuatan, kecepatan kontraksi, dan
Tulang
kontrol yang disebabkan hipoplasia dan atrofi
2. Hipertrofi berkaitan dengan hilangnya kompensasi dari unit
motoric.
3. Myosin fenotipe (peningkatan pelambatan isoform)
4. Peningkatan risiko osteoporosis, kerapuhan, patah tulang, dan
arthritis
5. Penurunan fleksibilitas

Komposisi tubuh

Terjadi penurunan massa padat dan cair, peningkatan lemak, massa


tulang berkurang sehingga meningkatkan risiko osteoporosis
Kardiovaskular
Hilangnya elastisitas dari aorta dan berkurangnya kapasitas dilatori.
Hal ini menyebabkan meningkatnya resistensi ketika ventrikel kiri
memompa sehingga tekanan sistolik dan afterload meningkat. Selain
itu akan terjadi juga penurunan dalam tekanan diastolik Keadaan ini
akan berakhir dengan yang disebut Isolated aortic incompetence
atau rendahnya performa puncak jantung (denyut jantung dan stroke
volume) dan ditambah dengan peningkatan lemak tubuh sehingga
menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Metabolisme
Terjadi ketidakpekaan terhadap insulin dan intoleransi glukosa
sehingga menyebabkan peningkatan risiko diabetes tipe 2 diikuti
dengan prevalensi obesitas yang tinggi
Pernafasan
Terjadi penurunan aktifitas paru (VC, FEV1) yang menyebabkan
berkurangnya kapasitas ventilasi maksimal hingga 35% dan
berkurangnya kapasitas inspirasi dan ekspirasi. sehingga jumlah udara
yang masuk ke paru-paru mengalami penurunan.
Syaraf
Berkurangnya stimulus penyempitan arteri visceral untuk redistribusi
darah ketika berolahraga; berkurangnya stimulasi cardiac ~
adrenergik; defisit saraf pusat yang menyebabkan penurunan kognisi,
memori, kemampuan belajar, waktu reaksi, dan tidur; perubahan
kecondongan dan keseimbangan tubuh; peningkatan risiko demensia
dan Alzheimer; berkurangnya pendengaran dan penglihatan.
Pelepasan
dan Berkurangnya pelepasan energy sehari-hari yang disebabkan oleh
Penyerapan Energi
berkurangnya tingkat metabolism dasar yang berkaitan dengan
berkurangnya massa tubuh non-lemak dan peningkatan massa lemak;
rendahnya asupan kalori dan protein
Thermoregulation
Penurunan kemampuan untuk mengatur suhu tubuh saat menghadapi
homeostasis; penurunan jumlah keringat per kelenjar keringat aktif;
Berkurangnya respon peningkatan aliran darah selama olahraga yang
disebabkan struktur dan respon pembuluh darah kulit; berkurangnya
kemampuan untuk mengurangi aliran darah splanchnic ketika
beraktifitas.
Tabel 7.2
Sistem
Kardiovaskular

Pernafasan

Perubahan
Kondisi Normal
- Denyut jantung lebih rendah
- Tekanan darah sistolik dan diastolic meningkat
Kondisi Bekerja Maksimal
- Denyut jantung lebih rendah
- Output jantung lebih rendah
- Selisih oksign arteri-vena berkurang
- Volume pompa jantung tetap
- Konsumsi oksign berkurang
- Respon kardiovaskular terhadap stiumulasi adregenic
berkurang
Kondisi Bekerja Maksimal
- Titik ventilasi puncak berkurang

Otot Skeletal

Metabolisme
Thermoregulation

Volume hembusan berkurang


Frekuensi bernafas bertambah
Kapasitas vital berkurang
Volume residu meningkat
Massa dan kekuatan otot berkurang
Elastisitas antar jaringan otot berkurang
Keseimbangan berkurang
Koordinasi berkurang
Kepadatan tulang berkurang
Toleransi terhadap glukosa berkurang
Aktifitas insulin berkurang
Kecepatan metabolism berkurang
Rasa haus berkurang
Aliran darah berkurang

Pertimbangan Medis dan Klinis


Seiring bertambahnya usia seseorang semakin sering berhubungan dengan medis baik untuk
pencegahan maupun pengobatan. Berikut pembahasannya.
Kondisi Medis yang Kronis
Penyakit kronis yang paling sering terjadi pada lansia adalah penyakit jantung koroner, arthritis,
hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas. Diantaranya hipertensi, adalah penyakit yang paling umum
penyebab utama kematian.
Sejarah dan Pemeriksaan Medis
Untuk seseorang yang memiliki resiko tinggi dokter harus memastikan hasil pemeriksaan baik untuk
riwayat kesehatan menyeluruh maupun pemeriksaan fisik. American College of Sports Medicine
merekomendasikan laki-laki dengan usia >45tahun dan wanita >55 perlu melakukan pemeriksaan
fisik sebelum melakukan program latihan fisik dengan intensitas tinggi (yaitu > 70% VO 2 max).
sedangkan untuk lansia penilaian dilakukan berdasarkan risiko diantaranya sistem kardiovaskular
dan musculoskeletal.. sedangkan untuk penilaian lain dapat ditanyakan mengenai aktifitas yang
biasanya dilakukan sehari hari seperti kemampuan mandi, berpakaian, dan masuk dan keluar dari
tempat tidur. Dalam hal ini kuisioner standart seperti Skala Aktifitas Fisik Yale, yang dirancang
khusus untuk penduduk lanjut usia dapat digunakan untuk menilai tingkat aktivitas.
Pemeriksaan Diagnostik
Banyak orang tua memiliki riwayat jatuh, lemah, dan kemampuan untuk melakukan aktifitas seharihari sangat terbatas Keadaan ini tidak selalu menghalangi seseorang dari berpartisipasi olahraga,
tetapi hal tersebut harus diperhatikan saat pemeriksaan pralatihan. Kelincahan, koordinasi,
kemampuan gerak, dan keseimbangan harus dinilai untuk mengidentifikasi mereka yang berisiko
jatuh. Misalnya, kesulitan berdiri dari kursi, kesulitan yang nampak saat berjalan lambat, dan
kemampuan untuk menjaga keseimbangan. Goniometer dapat digunakan untuk memperoleh
pengukuran rentang gerak (Range of Motion/ROM) di sendi seperti pinggul, pergelangan kaki, lutut,
bahu, dan siku.
Pemeriksaan Olahraga

Lansia dengan resiko Rendah-moderat dapat berpartisipasi dalam latihan ini dengan intensitas
sedang, atau didefinisikan sebagai latihan dengan intensitas 3-6 persamaan metabolik (Metabolic
Equivalent/MET), atau 40% sampai 60% puncak VO 2, tanpa perlu pemeriksaan latihan. Untuk
proses identifikasi, individu harus menyelesaikan kuesioner untuk mengidentifikasi kondisi yang ada
yang mungkin menghalangi latihan selain itu konsultasi dengan dokter atau tes latihan dapat
direkomendasikan sebelum orang mulai program latihan. Jika seseorang memiliki satu atau lebih
faktor risiko atau tanda-tanda atau gejala dari penyakit arteri koroner, atau jika dia ingin memulai
program latihan intensitas tinggi, evaluasi latihan (pemeriksaan fisik dan tes latihan) harus dilakukan.
Evaluasi latihan dapat meliputi review kontraindikasi absolut dan relatif untuk menuju latihan.
Kontraindikasi umum pada orang tua termasuk peningkatan tekanan darah istirahat (diastolik> 115
mm Hg atau sistolik> 200 mmHg), kelainan katup jantung moderat; kelainan elektrolit; ektopi
ventrikel kompleks; aneurisma ventrikel; penyakit metabolik seperti diabetes tidak terkontrol,
neuromuskuler, muskuloskeletal, dan gangguan arthritis.
Pada lansia dengan risiko obesitas, osteoporosis, hipertensi, tingkat kebugaran aerobik rendah,
keseimbangan rendah, ketidakstabilan dalam berjalan, inkoordinasi neuromuskuler, dan gangguan
visi dan pendengaran. Pelatih profesional harus mempertimbangkan ini ketika memilih protokol
latihan-pengujian (92,93. Bersepeda bias jadi pertimbangan bagi mereka dengan masalah
keseimbangan atau koordinasi. Melakukan tes latihan pada jam-jam pagi mungkin yang terbaik,
karena kebanyakan orang tidak selelah daripada di sore hari (86). Tingkat latihan maksimal selama
tes latihan bertingkat bagi seorang individu lansia mungkin kurang dari 7 METs. Protokol pengujian
intensitasnya ditingkatkan sedikit demi sedikit (1,0-2,0 MET per tahap) Protokol populer yang sesuai
dengan parameter ini meliputi protokol Naughton dan Blake, serta peningkatan bersepeda dari 25
sampai 30 W per tahap.
Tabel 7.3 Evaluasi Percobaan Pralatihan
Test
Berdiri
kursi

Penilaian
dari Berdiri sendiri dari kursi
tanpa bantuan dan tanpa
menggunakan tangan
Naik tangga
Menaiki dan menuruni satu
anak tangga 23 cm dalam
10 detik
Berjalan cepat
Berjalan 6 meter

Nilai keluaran
Kemampuan
Waktu yang dibutuhkan

Batas Resiko
Tidak Mampu
> 2 detik

Kemampuan
Jumlah langkah

Tidak mampu
< 3 kali di 10 detik

Waktu
< 0,6 m per detik
Jumlah Langkah
RPE
Detak Jantung
Tekanan darah
Abnormalitas jalan, seperti
ketidak simetrisan
Berjalan tandem Berjalan bersama sepanjang Jumlah kesalahan (keluar > delapan kesalahan
garis 5 meter, jarak 5 jalur, menabrak penguji dll)
centimeter
Berdiri
satu Berdiri dengan satu kaki
Kemampuan
< 2 detik
kaki
Waktu
Jangkauan
Jarak maksimal yang bisa Inchi
fungsional
diraih satu lengan dengan
tetap berada di posisi yang

sama dalam keadaan berdiri


Permainan up Berdiri dari kursi, berjalan 3 Waktu
and go
meter, kembali ke kursi dan
duduk lagi
Range
of Menggunakan gonio meter Derajat
Motion
ukurlah: shoulder abduction
(SA),shoulder flexion (SF),
extension (SE); elbow
Flexion (EP), extension
(EE) ;hip flexion (HF),
extension
(HE);
knee
flexion (KP), extension
(KB); ankle dorsiflexion
(DF), plantar flexion (PF)

> 10 detik
<90 (SA); <150
(SF); <20
(SE); <140 (EF);
<20 (EE);
; <90" (HF); jarak
10 (HE),
<:90 (KF) tidak
pada <10 (KB);
tidak
dapat
melakukan
DP dan PF

Pada lansia tingkat puncak jantung, volume pompa, cardiac output, dan VO2 lebih rendah pada orang
tua daripada orang muda. Karena output daya maksimal yang lebih rendah pada orang tua, pada
setiap tingkat kerja submaksimal, lansia lebih dekat dengan ambang batas anaerobik dibandingkan
dengan seseorang yang lebih muda. Output jantung di aktifitas maksimal umumnya 20% sampai
30% lebih rendah dibandingkan dengan individu yang lebih muda.
Lansia dengan gangguan mental seperti demensia atau penyakit Alzheimer dapat membatasi
kemampuannya untuk menentukan arah selama tes latihan bertingkat. Perlu dilakukan uji dalam
lingkungan yang nyaman, sebaiknya dengan orang akrab. Rekomendasi serupa dapat dibuat untuk
mereka yang memiliki gangguan mendengar atau penglihatan. Bagi lansia dengan kondisi tersebut
deskripsi latihan yang jelas seperti memberikan video atau audio sangat dianjurkan .
Berkenaan dengan kekuatan dan pengujian ROM, prosedur pengujian umum, seperti tes repetisi
maksimum tunggal (IRM), dapat digunakan. Tetapi karena tes IRM dapat meningkatkan risiko
cedera, pelatih profesional dapat mengelola evaluasi IRM dimodifikasi atau hanya memberikan
rekomendasi umum untuk pelatihan kekuatan sebelum memulai latihan pada sebagian besar individu
lanjut usia. Menggunakan alat beban adalah yang terbaik, karena mereka mengurangi kebutuhan
keseimbangan dan risiko cedera. Fokus evaluasi harus mencakup otot-otot yang digunakan untuk
aktifitas sehari-hari, seperti ekstensor hip, fleksor, dan abduktor; ekstensor lutut dan fleksor;
dorsifleksor pergelangan kaki dan fleksor planar; serta ekstensor bahu, fleksor, dan abcluctors (S3).
Perawatan Kondisi Kronis
Kebanyakan orang tua memiliki beberapa jenis penyakit kronis seperti hipertensi dan penyakit
jantung. Mereka terbatas dalam melakukan aktifitas sehari hari. Semakin tua seseorang, semakin
lebih umum kondisi ini terjadi. Mengubah gaya hidup santai ke gaya hidup aktif bisa menjadi suatu
tantangan namun hal ini memiliki potensi untuk menjaga kekuatan otot rangka dan daya tahan,
meningkatkan komposisi tubuh, meningkatkan kemampuan untuk melakukan aktifitas harian, dan
meningkatkan kualitas hidup.

Susunan Latihan
Interaksi Klien Praktisi Klinik

Menurut studi epidemiologi ada hubungan antara dukungan sosial terhadap kesehatan mental dan
fisik seseorang. Selain itu, beberapa studi juga menunjukkan kurangnya dukungan sosial menjadi
faktor risiko utama untuk depresi, morbiditas, dan mortalitas. Keikutsertaan dalam program aktivitas
fisik yang diselenggarakan memberikan kesempatan yang baik untuk interaksi dan membentuk
jaringan sosial, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi untuk perasaan sehat dan
meningkatkan kualitas hidup dan kinerja fisik. Selain itu, sikap dukungan dari orang terdekat (yaitu,
pasangan, teman) terhadap program latihan sering dikaitkan berbanding lurus dengan kerajinan
lansia mengikuti program ini. Pelatih klinis profesional dapat membantu dengan mengidentifikasi
orang-orang yang membutuhkan dukungan sosial. Dalam pengaturan latihan terstruktur, pelatih
profesional juga harus siap untuk memberikan dukungan sosial untuk orang-orang dengan berbicara.
Contoh metode untuk meningkatkan interaksi sosial untuk orang tua yang berpartisipasi dalam
program latihan antara lain sistem "sobat" latihan, di mana individu dicocokkan dengan orang-orang
dari kemampuan yang sama, usia, dan ketertarikan ketika melakukan latihan; acara-acara sosial
termasuk piknik, pesta liburan, dan perayaan ulang tahun; dan penempatan peralatan olahraga yang
memungkinkan orang untuk saling berhadapan.
Program latihan dapat dimulai dengan rangkaian aktivitas berintensitas sedang. Pendekatan ini akan
memungkinkan kebanyakan orang untuk mencapai keberhasilan awal dengan latihan dan dapat
meningkatkan keteraturan dengan mengurangi rasa sakit, kelelahan, dan bahkan cedera.
Rekomendasi Latihan
Secara umum, gaya hidup aktif dapat mempertahankan dan meningkatkan kekuatan tulang otot dan
daya tahan, fleksibilitas, kebugaran kardiorespirasi, dan menghindari degradasi komposisi tubuh, dan
meningkatkan ketahanan terhadap penyakit kronis pada lansia
Latihan Kardiovaskular
ACSM-AHA menyarankan aktivitas fisik untuk lansia sebaiknya dilakukan setidaknya 5 hari per
minggu selama 30 menit pada intensitas sedang (<1% cadangan 70 denyut jantung atau 5 sampai 6
pada skala 10 point tenaga) atau intensitas kuat pada 3 hari per minggu untuk 2,0 menit. Latihan
kardiovaskular berguna untuk mengurangi risiko kematian dan pada orang dengan kesehatan kritis,
dandapat meningkatkan secara substansial kemampuan fungsional mereka. Laki-laki dan perempuan
lansia sehat dapat mulai meningkatkan kebugaran kardiorespirasi mereka dengan melakukan
pelatihan latihan aerobik
Kegiatan fisik dasar untuk lansia antara lain dalam bentuk berjalan (di luar ruangan, di dalam
ruangan, atau treadmill), bersepeda, berkebun, berenang (lap atau aerobik air), dan golf sambil
berjalan dengan keranjang tarik. Mereka yang tidak dapat melakukan kegiatan tersebut mungkin
berpotensi untuk melakukan kegiatan duduk - berdiri, bersepeda stasioner, dan kegiatan air. Tai chi,
pilates, yoga. Hindari kegiatan dengan intensitas tinggi seperti berjalan, dayung, menggunakan alatalat aerobik atau gravitasi, atau menggunakan steppers tangga. Untuk program latihan intensitas
rendah dapat dilakukan setiap hari. Intensitas yang lebih tinggi atau sesi olahraga berat (> 70%
cadangan denyut jantung atau 7-8 pada skala tenaga 10 point) dilakukan hanya 3-5 hari per minggu,
diperlukan pula waktu pemulihan yang cukup. Orang yang lebih tua dengan kapasitas latihan rendah
dapat mengambil manfaat dari beberapa sesi harian durasi pendek, sedangkan orang yang lebih
mampu bisa mendapatkan manfaat dari tiga sesi per minggu dengan rangkaian latihan yang
dilakukan sekali per hari. Intensitas yang tepat dapat diatur menggunakan perhitungan detak jantung,
persentase denyut jantung, atau metode perhitungan terhadap tenaga yang dirasakan (lihat bab 5)

Lansia yang sehat harus melakukan latihan minimal 30 menit, latihan yang dilakukan lebih dari 60
menit perlu dihindari karena dapat menyebabkan kelelahan. Dosis optimal dari latihan dan aktivitas
fisik belum sepenuhnya diklarifikasi dan kemungkinan bervariasi. Mengingat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi seperti genetik, usia, jenis kelamin, status kesehatan, komposisi tubuh, dan
faktor lainnya. Jika seseorang memulai program latihan secara menetap, memiliki penyakit kronis
yang parah, atau memiliki tingkat kebugaran yang sangat rendah, latihan minimal 30 menit terus
menerus mungkin tidak dapat dilakukan. Sesi minimal 10 menit perlu dilakukan dua atau tiga kali
sehari sesuai dalam. Pendekatan ini masih memberikan manfaat bagi kesehatan secara umum.
Selama tahap awal program latihan, intensitas haruslah rendah (denyut jantung 40-60% atau V02
cadangan). Periode ini penting untuk mendorong ketahanan terhadap aktivitas fisik. Intensitas dan
durasi dapat ditingkatkan setiap 2 sampai 3 minggu, ketika ketahanan sudah dicapai, sampai total
volume latihan yang diinginkan tercapai. Pelatih dengan klien lansia harus mengenali indikator
muskuloskeletal atau cedera ortopedi, kebosanan, dan penurunan toleransi latihan, yang dapat
menyebabkan penghentian pelatihan olahraga.