Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENGILANGAN MINYAK BUMI


1.1. Pendahuluan
Minyak bumi merupakan suatu cairan kental berwarna coklat gelap atau kehijauan yang mudah
terbakar. Minyak bumi biasanya berasal dari jasad renik lautan, tumbuhan atau makhluk hidup lain
yang telah mati, terkubur dan berubah menjadi bebatuan. Tidak semua bagian dalam bumi
mengandung minyak bumi, oleh sebab itu proses pengolahan minyak bumi merupakan suatu proses
yang cukup panjang.
Untuk memperoleh minyak bumi, perlu dilakukan eksplorasi yang bertujuan untuk
menemukan perkiraan lokasi yang berpotensi mengandung banyak minyak bumi. Biasanya kegiatan
eksplorasi ini dilakukan dengan cara membuat peta topografi pada daerah-daerah yang akan diselidiki,
kemudian contoh batuan pada daerah yang akan diselidiki tersebut diambil untuk dianalisa di
laboratorium.
Setelah dilakukan eksplorasi, proses selanjutnya adalah melakukan penyelidikan geofisika
yang bertujuan untuk memperkirakan lokasi yang mengandung minyak bumi secara ilmiah dengan cara
membuat getaran-getaran kecil di bawah tanah. Pada bagian bawah tanah yang tidak berpori, dikenal
sebagai antiklinal atau cekungan. Bagian ini terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan paling bawah berupa
air, lapisan atasnya mengandung minyak, dan lapisan paling atas biasanya terdapat suatu rongga yang
mengandung gas alam. Jika bagian cekungan ini mengandung banyak minyak bumi, proses
pengambilannya dapat dilakukan dengan cara pengeboran.
Hasil pengeboran sumber minyak bumi menghasilkan minyak mentah yang harus diproses
terlebih dahulu karena minyak mentah ini masih mengandung air dan pengotor-pengotor lain yang
perlu dipisahkan terlebih dahulu. Komponen utama dari minyak mentah ini adalah campuran golongan
senyawa hidrokarbon misalnya alkana, alkena, alkuna, aromatik, naftalena, dll. Senyawa-senyawa ini
memiliki rantai karbon yang panjangnya berbeda-beda, sehingga titik didihnya pun akan berbeda-beda.
Semakin panjang rantai karbon yang dimiliki senyawa tersebut, titik didihnya akan semakin tinggi.
Berdasarkan teori inilah, maka proses pemisahan komponen-komponen minyak mentah dilakukan
dengan cara distilasi bertingkat.

1.2. Proses Pengolahan Minyak Mentah


Minyak mentah hasil pengeboran berupa cairan pada suhu dan tekanan atmosfir biasa,
campuran senyawa hidrokarbon yang terkandung di dalamnya memiliki titik didih yang beragam, dari
suhu yang paling rendah hingga suhu yang paling tinggi. Sebagai contoh,

titik didih senyawa

hidrokarbon alkana cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah atom karbon di dalam
molekulnya. Karena adanya perbedaan titik didih inilah, komponen-komponen dalam minyak mentah
hasil pengeboran dipisahkan dengan cara distilasi bertingkat.
Distilasi bertingkat (fraksionasi) merupakan proses penyulingan menggunakan fraksi-fraksi
pendinginan sesuai dengan rentang titik didih campuran yang diinginkan. Fraksi-fraksi yang diperoleh
merupakan campuran hidrokarbon yang mendidih pada rentang suhu tertentu. Berikut ini akan
dijelaskan proses pengolahan minyak mentah dengan proses distilasi bertingkat.
a) Pengolahan Tahap Pertama (Primary Process)
Minyak mentah hasil pengeboran diumpankan dalam kolom distilasi untuk dipisahkan
berdasarkan titik didihnya. Komponen dengan titik didih lebih tinggi akan tetap berwujud cairan
sedangkan komponen dengan titik didih lebih rendah akan menguap. Semakin ke atas, suhu dalam
menara fraksionasi semakin rendah sehingga komponen dengan titik didih lebih tinggi akan

mengembun dan terpisah, sedangkan komponen dengan didih lebih rendah akan terus naik.
Proses ini berlangsung secara terus-menerus sehingga komponen yang berada pada bagian
paling atas menara adalah komponen yang berwujud gas pada suhu kamar. Hasil fraksionasi
minyak bumi terbagi atas beberapa macam, yaitu:
1. Fraksi Pertama
Fraksi ini merupakan fraksi paling ringan dari minyak mentah, yaitu minyak bumi
dengan titik didih antara 30oC dan berwujud gas. Gas yang dihasilkan berupa LNG (liquid
natural gas) dengan komponen utama propana (C3H8) dan butana (C4H10). Selain LNG,
dihasilkan juga LPG (liquid petroleum gas) dengan komponen utama metana (CH4) dan etana
(C2H6).
2. Fraksi Kedua

Pada fraksi ini dihasilkan petroleum eter yaitu minyak bumi dengan titik didih lebih
kecil dari 90oC dan berfasa gas. Gas ini akan masuk ke kolom pendinginan pada suhu antara
30oC-90oC sehingga akan mencair dan dialirkan ke sebuah penampungan. Petroleum eter
merupakan campuran alkana dengan rantai C5H12-C6H14.
3. Fraksi Ketiga
Fraksi ini menghasilkan bensin yaitu fraksi dari minyak bumi dengan titik didih kurang
dari 175oC. Bensin ini merupakan campuran alkana dengan rantai C6-C9.
4.

Fraksi Keempat
Pada fraksi ini dihasilkan nafta yaitu fraksi minyak bumi dengan titik didih kurang dari

200oC dan berwujud gas. Nafta atau bensin berat merupakan campuran alkana dengan rantai
C9-C12.
5. Fraksi Kelima
Pada fraksi ini dihasilkan kerosin atau lebih dikenal sebagai minyak tanah yaitu
minyak bumi dengan titik didih kurang dari 275 oC. Kerosin merupakan campuran alkana
dengan rantai C12-C15.
6. Fraksi Keenam
Pada fraksi ini dihasilkan minyak gas atau solar yaitu minyak bumi dengan titik didih
kurang dari 375oC yang merupakan campuran alkana dengan rantai C15-C16.
7. Fraksi Ketujuh
Fraksi ini merupakan fraksi residu yaitu minyak mentah cair yang dipanaskan pada
suhu di atas 375oC sehingga akan terjadi penguapan. Pada fraksi ini, dihasilkan minyak
pelumas (C16-C20), digunakan untuk pelumas mesin, paraffin (C 21-C24) untuk membuat lilin,
serta aspal ( > C36 ) yang digunakan untuk pelapis jalan raya.

Figure 1 Proses Pemisahan Minyak Mentah, sumber :


http://ichsanrizqia17994.weebly.com/blog/proses-pengolahan-minyak-bumi-minyakmentah-dan-komposisinya

b) Pengolahan Tahap Kedua


Tahap ini bertujuan untuk mengolah hasil pemisahan minyak mentah dari unit pengolahan
tahap pertama yaitu untuk menghasilkan berbagai macam jenis bahan bakar minyak (BBM) secara
masal dan dengan kualitas yang baik. Pengolahan ini meliputi proses perubahan struktur kimia seperti
pemecahan molekul/proses cracking , proses penggabungan molekul seperti proses polimerisasi dan
alkilasi, perubahan struktur molekul atau proses reforming, dll.
1. Proses Konversi Struktur Kimia
Proses ini bertujuan untuk merubah struktur kimia hidrokarbon menjadi hidrokarbon lain
melalui proses kimia antara lain melalui proses cracking, alkilasi, polimerisasi, alkilasi, reformasi,
isomerisasi.

a) Proses Perengkahan (Cracking)


Proses ini bertujuan untuk memecah molekul hidrokarbon menjadi molekul hidrokarbon yang
lebih kecil sehingga titik didihnya lebih rendah serta stabil. Proses perengkahan ini dapat dilakukan
melalui berbagai cara, antara lain melalui perengkahan thermal, yaitu perengkahan yang dilakukan
menggunakan suhu dan tekanan tinggi saja, perengkahan katalitik yang menggunakan panas dan
katalisator untuk mengubah distilat yang memiliki titik didih tinggi menjadi bensin atau kerosin,
Perengkahan dengan hydrogen atau lebih dikenal sebagai hydro-cracking merupakan gabungan
antara perengkahan thermal dengan katalitik dengan cara mengontakkan gas hidrogen pada fraksi
hidrokarbon tak jenuh. Perengkahan jenis ini menghasilkan elpiji, nafta, kerosin, avtur dan solar
dengan jumlah dan mutu yang lebih baik bila dibandingkan dengan proses perengkahan thermal atau
katalitik saja.
b) Proses Alkilasi
Alkilasi merupakan proses penggabungan dua macam hidrokarbon isoparafin sehingga
dihasilkan minyak dengan angka oktan yang lebih tinggi untuk dijadikan bensin atau avgas.
c) Polimerisasi
Proses ini bertujuan untuk menggabungkan molekul-molekul hidrokarbon dalam bentuk gas
misalnya etilen atau propena menjadi senyawa nafta ringan. Polimerisasi merupakan proses
penggabungan monomer untuk membentuk molekul tunggal yang disebut sebagai polimer.
d) Proses Reformasi
Proses ini bertujuan untuk mengubah nafta menjadi produk yang lebih mudah menguap seperti
olefin dengan oktan yang lebih tinggi.
e) Isomerisasi
Proses ini bertujuan untuk mengubah susunan molekul hidrokarbon tanpa menambah atau
mengurangi rantai C yang dimiliki hidrokarbon tersebut. Sebagai contoh, hidrokarbon dengan rantai
lurus dibuat bercabang sehingga menghasilkan produk dengan oktan yang lebih tinggi. Proses ini dapat
mengubah n-butana menjadi isobutana yang digunakan sebagai bahan baku dalam proses alkilasi.

2. Proses Ekstraksi
Proses ini bertujuan untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak berdasarkan perbedaan daya larut
menggunakan suatu pelarut (solvent) misalnya SO 2. Dengan dilakukannya proses ekstraksi, volume
produk yang dihasilkan menjadi lebih banyak dan mutunya akan lebih baik bila dibandingkan dengan
proses pemisahan melalui distiliasi bertingkat saja.
3. Proses Kristalisasi
Proses ini bertujuan untuk memisahkan fraksi-fraksi hidrokarbon berdasarkan perbedaan titik
lelehnya (melting point).
4. Pembersihan Produk dari Kontaminan (Treating)
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kontaminan seperti senyawa korosif atau bau tak
sedap hasil proses pengolahan minyak tahap pertama maupun lanjutan. Kontaminan ini dapat
dihilangkan menggunakan kaustik soda, tanah liat, atau proses hidrogenasi.

1.3. Produk Hasil Pengilangan Minyak Bumi


Berikut ini merupakan produk-produk yang dihasilkan dari pengilangan minyak bumi
1. LPG (Liquefied Petroleum Gas)
LPG merupakan salah satu produk hasil penyulingan minyak mentah dengan kandungan utama
berupa hidrokarbon ringan yaitu propana dan butana juga sejumlah kecil etana dan pentana.
2. Avtur (Aviation Turbine)
Avtur merupakan bahan bakar untuk pesawat yang menggunakan mesin turbin. Avtur terbuat
dari kerosin atau minyak tanah. Keunggulan avtur dibandingkan dengan bahan bakar lain yaitu
memiliki volatilitas yang lebih kecil sehingga kemungkinan hilangnya bahan bakar dalam jumlah yang
besar akibat penguapan pada saat pesawat berada di ketinggian dapat diminimalisir. Agar dapat
digunakan sebagai bahan bakar pesawat turbin, avtur harus memiliki beberapa kriterai antara lain
memiliki titik beku maksimal -47oC dan titik nyala minimum 38oC.
3. Avgas (Aviation Gasoline)

Avgas merupakan bahan bakar yang digunakan untuk pesawat bermesin piston. Avgas
merupakan hasil penyempurnaan dari bensin yang dikembangkan titik nyala, titik beku serta volatilitas
nya. Selain digunakan sebagai bahan bakar pesawat, avgas juga digunakan sebagai bahan bakar mobil
balap. Kualitas avgas ditentukan berdasarkan anti knock yang biasanya ditunjukkan berdasarkan nilai
oktan.
4. Bensin
Bensin merupakan produk pengilangan minyak bumi dengan komponen utama berupa oktana
dan n-heptana. Kualitas bensin ditunjukkan dengan nilai oktan. Untuk menambahkan angka oktan pada
bensin, ditambahkan zat aditif yang disebut dengan TEL (Tetra Ethyl Lead) serta MTBE (Methyl
Tertiary Butyl Ether).
5. Kerosin
Kerosin atau lebih dikenal sebagai minyak tanah diperoleh melalui proses distilasi bertingkat
minyak bumi pada suhu 150-275oC. Kerosin memiliki rantai karbon C 12-C15. Untuk mengurangi kadar
belerang pada kerosin, kerosin harus diolah dalam unti hydrotreater sedangkan kualitasnya
ditingkatkan pada unit hydrocracking.
6. Solar
Solar biasanya digunakan untuk bahan bakar kendaraan atau mesin-mesin industri yang
menggunakan mesin diesel. Solar diperoleh melalui proses distilasi bertingkat minyak mentah pada
suhu 200-300oC. Solar memiliki warna kekuning-kuningan atau tidak berwarna, tidak mudah menguap
pada suhu normal, serta memiliki kandungan sulfur yang lebih tinggi dibandingkan dengan bensin dan
kerosin. Kualitas dari solar dinyatakan dengan bilangan cetane yang menunjukkan kemampuan

pembakaran serta kemampuan mengontrol jumlah ketukan yang terjadi pada mesin. Semakin
tinggi bilangan cetane pada solar maka semakin tinggi pula kualitas solar tersebut. Umumnya,
jumlah bilangan cetane pada solar yang ditujukan sebagai bahan bakar mesin kendaraan jauh
lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah cetane pada solar untuk mesin-mesin industri.
7. Aspal
Aspal merupakan fraksi berat minyak bumi atau residu dan biasanya diolah menjadi dua jenis
yaitu aspal padat dan aspal cair. Aspal adalah hidrokarbon yang kental serta adhesive, berwarna coklat
hitam, tahan terhadap air serta mengandung sulfur, oksigen dan klor yang sangat tinggi.