Anda di halaman 1dari 4

CH 3 : The Development and Future of Management Accounting in Japan atnd the USA:

A Comparison of Management Philosophies


Perubahan akuntansi manajemen setelah PD II terjadi di Jepang dan AS, dimana Jepang
memulainya dengan memperkenalkan sistem baru yang memisahkan antara kepemilikan dan
manajemen sedangkan AS memperkuat sistem perencanaan menjadi sebuah pondasi penting.
Kedua perubahan ini memperkenalkan persebaran pengendalian akuntansi dan perubahan
akuntansi manajemen terhadap perubahan lingkungan yang ada.
Jepang mulai terkenal dengan sistem Genka kikaku (cost design) dan Kaizen
(continuous cost improvement). Perusahaan Jepang menaruh sistem pengecekan internal pada
basis modernisasi perusahaan. Perubahan dari rasionalisasi ke struktur menjadi perubahan
karakter utama dalam akuntansi manajemen di Jepang. Hal inilah yang menghasilkan
triangle system yaitu hubungan antara pemerintah, bank, dan perusahaan. Jepang
mengandalkan faktor kualitas manusia yang unggul di produktivitas dibandingkan dengan
ketergantungan pada manajer strategik profesional.
Sedangkan di AS akuntansi manajemen berubah dengan lebih mementingkan strategi
atau perencanaan. Teori informasi memegang peranan penting, tidak hanya informasi
akuntansi tapi informasi non akuntansi juga yang berkaitan dengan lingkungan bisnis. AS
mengembangkan sebuah model yaitu CVP analisis. Model analisis ini didesain dengan
informasi yang ada atau sebagai sebuah sistem informasi yang mendukung pengambilan
keputusan dalam manajemen.
CH 5 : Transplanting Japanese Management Accounting and Cultural Relevance
Komunitas bisnis Jepang percaya bahwa penetrasi suksesnya berasal dari sistem
manajemennya yang sukses. Banyak manajer non-Jepang menerapkan sistem ini di
negaranya namun mendapatkan kritik karena adanya benturan budaya.
Hubungan antara akuntansi dan budaya mendapatkan perhatian penting dalam
literatur akuntansi, dimana di Jepang budaya kolektivitas lebih kental dibanding dengan
budaya AS yang lebih cenderung individualis. Ketika luasnya kultur dihubungkan langsung
dengan konsep sempit praktek pengendalian anggaran, sangat sulit untuk merefleksikan
komplesitas penuh dari budaya.
Kultur organisasi sangat kuat dipengaruhi oleh formasi organisasi modern yang
ditentukan dari perkembangan pasar ekonomi, dimana fungsi manajemen menjadi lebih
terspesialisasi dan terdesentralisasi sebagai divisi sosial dari tenaga kerja yang lebih luas.
Manajemen Jepang terdiri dari visible maangement, sebuah sistem produksi baru dan target
costing. Teamwork dan kontrol kualitas total terutama telah ditransplantasikan ke negara
lainnya sementara kontrol atas strategi jangka panjang dan investasi kebijakan telah
dipertahankan di Jepang. Metode manajemen ini punya hubungan erat dengan budaya
Jepang. Jelas bahwa transfer budaya nasional ini menyebabkan masalah yang lebih serius
daripada transfer budaya organisasi.
Dilihat dari biaya transfer, proses 'Japanization' sangat mahal karena pelatihan dan
seconding biaya manajer Jepang adalah faktor utama dalam transfer biaya. Tingkat biaya
transfer menunjukkan sulitnya implementasi akuntansi manajemen ke negara-negara lain dan

juga yang berdampak pada profitabilitas afiliasi Jepang. Oleh karena itu, biaya transfer juga
merupakan kriteria penting dari implementasi keberhasilan manajemen.
CH 6 : Asian Economic Growth and Management Accounting
Pada pertengahan 1980an, akuntansi manajemen Jepang menarik perhatian dunia seperti
fenomena gelembung ekonomi Jepang. Akuntansi manajemennya dianggap berkontribusi
kepada rating pertumbuhan yang tingi pada ekonomi Jepang. Perusahaan Jepang percaya
bahwa ekonomi AsiaVakan terus tumbuh dengan dukungan dari sistem akuntansi manajemen
mereka. Sayangnya, dengan devaluasi baht Thailand, antusiasme untuk sistem akuntansi
manajemen Jepang telah berkurang. Resesi ekonomi Asia sekarang telah berubah menjadi
masalah ekonomi dunia.
Perkembangan akuntansi manajemen di Jepang terbagi menjadi 4 tahap, tahap
pertama adalah menentukan sistem aplikasi akuntansi manajemennya, kedua bagaimana
efisiensi manajemen berdasarkan pada manajemen ilmiah, ketiga memaksimalkan profit
berdasarkan proses pengendalian dan pengambilan keputusan, dan keempat adalah integrasi
akuntansi manajemen dan manajemen organisasional.
Berdasarkan feedback pemikiran pengendalian, performa aktual dibandingan dengan
rencana awal dan standar setelah selesai dari aksi berdasarkan rencana yang telah dorevisi.
Variansi juga di koreksi berdasarkan berbagai metode. Sebaliknya seperti reflektif dan
aktivitas reaktif, pengendalian feed forward adalah prefentif dan proaktif. Manajer yang
menganjurkan pengendalian ini mengadopsi berbagai metode untuk merubah rencana secara
teratur dan proses rencana pengendalian tak henti-hentinya disesuaikan dengan perubahan
lingkungan dan untuk performa yang diharapkan.
CH 7 : Japanese Management Accounting and its Effects on the Asian-Pacific Region
Secara umum, afiliasi luar negeri Jepang di negara-negara Asia yang buruk dikarenakan
faktor padat karya dan produktivitas rendah di dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di
Amerika Utara yang capitalintensive, dimana produktivitas kerja yang tinggi. Namun, ada
beberapa perbedaan dalam hasil keuangan dan produktivitas antara negara ASEAN dan NIEs.
Meskipun rasio peralatan modal dan produktivitas modal dan tenaga kerja yang relatif rendah
di ASEAN, namun ROI mereka tinggi. Tingginya profitabilitas di ASEAN negara didasarkan
terutama pada pergantian cepat dan biaya tenaga kerja yang rendah.
Perusahaan di negara-negara Asia memiliki manajemen tradisional agak terbelakang
dari teknik akuntansi seperti kontrol anggaran dan standar costing . Namun, pertumbuhan
ekonomi yang cepat dan pergeseran untuk orientasi ekspor di negara ini memaksa mereka
untuk menggabungkan biaya rendah dengan kualitas tinggi dan memperkenalkan sistem
manajemen dari perusahaan Jepang dan AS yang memberi mereka dukungan modal dan
teknologi. Secara khusus, objek utama pengendalian kualitas adalah untuk
mengimplementasikan JIT dalam kondisi biaya tenaga kerja yang rendah.
Baru-baru ini, perusahaan di Asia telah melakukan reorganisasi sistem manajemen
mereka untuk menyesuaikannya dengan kondisi ekonomi baru dimana kekurangan tenaga
kerja dan upah yang lebih tinggi, dan ketatnya persaingan di pasar internasional. Mungkin
sulit bagi mereka untuk meningkatkan kualitas produk dengan mengorbankan tenaga kerja

murah. Oleh karena itu, mereka bersemangat dalam mengimpor seluruh sistem JIT dan target
costing.

AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN


ES : ES : Japanese (and Asian) Management Accounting by A. Nishimura

Dosen: Etambang Nahartyo, Ph.D., CMA, Akt.

Disusun Oleh:
M.Amrullah Reza Putra Tara

15/391649/PEK/21095

Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis


Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
2016