Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH LAJU ALIR

3.3 Service
Pada tahap ini, air sadah dialirkan melalui kolom sehingga terjadi pertukaran ion dalam air
sadah dengan ion dalam resin. Air sadah yang digunakan adalah MgSO 4 9000 ppm yang dibuat dengan
cara melarutkan 27 gram MgSO4 padat dalam tiga liter air demin. Berikut ini skema tahap service yang
di lakukan :

Figure 1 Skema Tahap Service

Pada saat awal, isi tangki yang berisi air demin dibuang lalu diganti dengan larutan air sadah
MgSO4 9000 ppm yang telah dibuat. 100 ml air sadah MgSO 4 yang telah melewati kolom yang berisi
resin ditampung kemudian dibuang terlebih dahulu karena air yang ditampung pertama kali masih
mengandung sisa air demin pada saat pengaturan laju alir kolom. Setelah itu, 100 ml air sadar MgSO 4
keluaran kolom berikutnya ditampung, diambil 10 ml untuk titrasi pertama dan diambil 10 ml lagi
untuk titrasi ke dua. Sebelum di titrasi, masing-masing larutan ditambahkan sedikit EBT (Eriochrome
Black T) dan larutan buffer. EBT digunakan sebagai indikator sedangkan larutan buffer yang
ditambahkan berfungsi untuk menjaga pH larutan 10 karena indikator EBT yang digunakan untuk
mentitrasi logam Mg2+ akan bekerja optimal pada pH antara 8-10. [4] Titrasi dilakukan hingga diperoleh
volume EDTA untuk titrasi konstan sebanyak tiga kali.
Pada saat air sadah MgSO4 dilewatkan pada kolom penukar ion, terjadi pertukaran ion dalam
air sadah (Mg2+) dengan ion dalam resin (Na+). Reaksi yang terjadi adalah :
Mg2+ + 2 Na-R Mg-R + 2 Na+

Untuk mengetahui efisiensi pertukaran ion dalam resin, perlu dibuat kurva breakthrough yang
menggambarkan hubungan antara banyaknya ion Mg2+ yang lolos melewati resin dengan volume air
sadah MgSO4 yang telah melewati kolom. Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh kurva breakthrough
service gabungan sebagai berikut :

Kurva Breakthrough Service


1
0.8
0.6
Ce/Co

15 ml/min

0.4

25 ml/min

0.2
0
0

500

1000

1500

2000

2500

3000

Volume Air Sadah (mL)

Figure 2 Kurva Breakthrough Service Gabungan

Berdasarkan grafik di atas, secara umum dapat diketahui bahwa kurva breakthrough terbagi atas tiga
bagian antara lain :
a) Pada tahap awal service, resin dapat mengikat ion Mg 2+ dengan sangat baik
sehingga hampir tidak ada ion Mg 2+ yang lolos melewati resin. Akibatnya,
nilai Ce/Co ( perbandingan ion Mg2+ yang lolos terhadap Mg2+ total) bernilai
sangat kecil bahkan mendekati nol.
b) Karena jumlah ion yang diikat semakin banyak, lama kelamaan jumlah ion
logam Mg2+ yang lolos melewati resin semakin banyak sehingga nilai Ce/Co
nya semakin meningkat.
c) Pada tahap service terakhir, resin telah jenuh dan tidak mampu mengikat ion
Mg2+ sehingga seluruh ion Mg2+ dapat lolos melewati resin. Akibatnya harga
Ce/Co nya konstan.
Pertukaran ion Mg2+ dan Na+ dapat terjadi karena perbedaan afinitas / gaya tarik menarik
antara ion Mg2+ dalam air sadah dengan ion Na + dalam resin. Berdasarkan hukum Coulomb,

[6]

dapat

diketahui bahwa gaya tarik menarik antara ion Mg 2+ lebih besar dua kali lipat dibandingkan dengan ion

Na+, akibatnya selektivitas resin dengan Mg 2+ lebih besar bila dibandingkan dengan ion Na + yang
menyebabkan ion Mg2+ dapat berdifusi ke dalam resin.
Variasi yang dilakukan pada percobaan ini adalah variasi laju alir air sadah. Berdasarkan teori
yang ada, laju alir mempengaruhi waktu kontak resin dengan ion yang dipertukarkan. Semakin lambat
laju alir, semakin banyak ion air sadah yang dapat dipertukarkan. Akibatnya, proses difusi antara ion
dalam resin dengan ion dalam larutan dapat terjadi dengan sempurna. Berikut ini persamaan yang
menghubungkan koefisien difusivitas, waktu kontak dan banyaknya ion yang dapat diadsorp. [3]
Difusion and Ion Exchange Kinetics, Teh Fu Yen page 146

dC
ao
=kf (CCe )
dt
v
Ct

o t

dC
a
=kf
(CCe)
v
Co

dt
0

( CtCe )(CoCe)
o
a
=kf t
v
ln
(CoCe)
ao
ln
=kf t
(Ct Ce)
v
o

( CoCe ) =e

kf

a
t
v

(CtCe)

Keterangan :

Co : konsentrasi awal ion air sadah


Ce : konsentrasi ion air sadah yang lolos melewati resin
Ct : konsentrasi ion air sadah yang lolos melewati resin saat t
kf : koefisien difusivitas
ao : luas area pertukaran ion
v : volume total air sadah yang tertampung sesudah melewati resin
t : waktu kontak

dC
dt

: laju pengurangan konsentrasi ion air sadah

Berdasarkan persamaan di atas, dapat diketahui bahwa banyaknya konsentrasi ion yang
teradsorp (Co-Ce) berbanding lurus dengan koefisien difusivitas (kf) dan waktu kontak air sadah
dengan resin (t). Oleh sebab itu, banyaknya ion yang dapat diserap oleh resin bergantung pada waktu
kontak resin dengan larutan yang akan dipertukarkan ionnya.
Berdasarkan hasil percobaan, nilai efisiensi resin pada laju alir 15 ml/menit sebesar 89,33%
sedangkan pada laju alir 25 ml/menit sebesar 87,95%. Berdasarkan nilai efisiensi resin ini dapat
diketahui bahwa ion yang dapat diserap oleh resin dengan laju alir 15 ml/menit lebih banyak
dibandingkan dengan laju alir 25 ml/menit karena efisiensi resin dihitung dengan cara membandingkan
banyaknya ion Mg2+ yang dapat diserap oleh resin dengan ion Mg 2+ total dalam larutan MgSO4 9000
ppm.
Dari kurva breakthrough gabungan yang didapat, dapat diketahui bahwa luas area di bawah
kurva pada laju alir 15 ml/menit lebih kecil bila dibandingkan dengan laju alir 25ml/menit Luas area di
bawah kurva menunjukkan banyaknya ion logam yang tidak dapat diserap oleh resin oleh sebab itu,
semakin besar luas area di bawah kurva semakin sedikit ion logam Mg 2+ yang dapat diserap oleh resin.
Berdasarkan teori yang ada, perbandingan antara kurva pada laju alir yang lambat dengan laju
alir yang cepat adalah sebagai berikut. [3]
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa hasil percobaan yang diperoleh telah bersesuaian

Figure 3 Kurva Breakthrough , Teh Fu Yen page 153

dengan teori yang ada di mana kurva pada laju alir yang lambat kurvanya lebih curam bilang

dibandingkan dengan kurva pada laju alir yang lebih cepat. Berdasarkan hasil percobaan, kurva dengan
laju alir 15 ml/menit lebih curam bila dibandingkan dengan kurva pada laju alir 25 ml/menit. Hal ini
disebabkan karena pada laju alir yang lebih lambat, banyaknya ion yang dapat diserap lebih banyak
akibatnya perbedaan konsentrasi ion yang dapat melewati resin tiap selang volume yang telah
ditentukan akan lebih besar bila dibandingkan dengan laju alir yang lebih cepat.
Berdasarkan grafik sebelumnya, dapat diketahui bahwa resin dengan laju alir yang lebih
lambat akan lebih cepat jenuh (exhaustion) bila dibandingkan dengan laju alir yang lebih besar.
Berdasarkan hasil percobaan, dapat diketahui bahwa pada laju alir 15 ml/menit, resin lebih cepat jenuh
dibandingkan dengan laju alir 25 ml/menit. Hal ini disebabkan karena pada laju alir 15 ml/menit,
banyaknya ion yang dapat diserap oleh resin lebih banyak. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai Vop /
volume operasi resin yaitu volume saat nilai Ce/Co nya konstan. Pada nilai Ce/Co konstan, hal ini
menunjukkan bahwa resin sudah tidak dapat lagi mempertukarkan ion dalam air sadah MgSO 4. Oleh
karena ini, Vop ini menunjukkan volume saat resin pertama kali jenuh.
Berdasarkan hasil percobaan, harga Vop untuk laju alir 15 ml/menit adalah 1700 ml sedangkan
pada laju alir 25 ml/menit Vop nya 2500 ml. Hal ini menunjukkan bahwa resin pada laju alir
15ml/menit lebih cepat jenuh bila dibandingkan dengan resin pada laju alir 25 ml/menit. Dapat
disimpulkan bahwa hasil percobaan yang didapat telah cukup bersesuaian dengan teori yang ada.