Anda di halaman 1dari 9

2.

Pertumbuhan Mikroorganisme
Pertumbuhan diartikan sebagai penambahan dan dapat dihubungkan

dengan penambahan ukuran, jumlah bobot, masa, dan banyak parameter lainnya
dari suatu makhluk hidup. Penambahan ukuran atau masa suatu sel individual
biasanya terjadi pada proses pendewasaan (maturasi) dan perubahan ini pada
umumnya bersifat sementara (temporer) untuk kemudian dilanjutkan dengan
proses multiplikasi dari sel tersebut. Multiplikasi terjadi dengan cara pembelahan
sel. Pertumbuhan pada umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan
juga lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk
mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang
relative singkat dan sempurna (Irianto, 2007).
Istilah pertumbuhan bakteri lebih mengacu kepada pertambahan jumlah sel
bukan mengacu kepada perkembangan individu organisme sel. Bakteri memiliki
kemampuan untuk menggandakan diri secara eksponensial dikarenakan sistem
reproduksinya adalah pembelahan biner melintang, dimana tiap sel membelah diri
menjadi dua sel. Bakteri merupakan organisme kosmopolit yang dapat kita jumpai
di berbagai tempat dengan berbagai kondisi di alam ini. Mulai dari padang pasir
yang panas, sampai kutub utara yang beku kita masih dapat menjumpai bakteri.
Namun bakteri juga memiliki batasan suhu tertentu dia bisa tetap bertahan hidup,
ada tiga jenis bakteri berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu
lingkungannya:
1. Mikroorganisme psikrofil yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu
yang dingin, dapat tumbuh paling baik pada suhu optimum dibawah 200C.
2. Mikroorganisme mesofil, yaitu mikroorganisme yang dapat hidup secara
maksimal pada suhu yang sedang, mempunyai suhu optimum di antara 20 0
sampai 500C.
3. Mikroorganisme termofil, yaitu mikroorganisme yang tumbuh optimal atau
suka pada suhu yang tinggi, mikroorganisme ini sering tumbuh pada suhu
diatas 400C, bakteri jenis ini dapat hidup di tempat-tempat yang panas bahkan
di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini dapat ditemukan, pada tahun

1967 di yellow stone park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air
panas bersuhu 93-940C.
Pertumbuhan mikroorganisme berselsatu (uniseluler) berbeda dengan
mikroorganisme yang bersel banyak (multiseluler). Pada individu multiseluler bila
sel-selnya

membelah,

individunya

bertambah

menjadi

banyak.

Pada

mikroorganisme uniseluler pembelahan berarti bertambah banyaknya individu


atau sel tersebut, jadi dalam hal ini pembelahan berarti multiplikasi. Setiap sel
tunggal

setelah

mencapai

ukuran

tertentu

akan

membelah

menjadi

mikroorganisme yang lengkap, mempunyai bentuk dan sifat fisiologis yang sama.
Pertumbuhan jasad hidup, dapat ditinjau dari duasegi, yaitu pertumbuhan sel
secara individu dan pertumbuhan kelompok sebagai satu populasi.
Pertumbuhan mikroorganisme dapat ditinjau dari dua sudut,
yaitu:

pertumbuhan

pertumbuhan

individu

populasi.

bertambahnya

dan

pertumbuhan

Pertumbuhan individu

koloni
diartikan

atau

sebagai

ukuran tubuh, sedangkan pertumbuhan populasi

diartikan sebagai bertambahnya kuantitas individu


populasi

atau

bertambahnya

ukuran

koloni.

dalam suatu

Namun

demikian

pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel tunggal) sulit diukur dari


segi pertambahan panjang, luas, volume, maupun berat, karena
pertambahannya sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat (lebih
cepat

dari

satuan

waktu

mengukurnya),

mikroorganisme yang demikian satuan pertumbuhan

sehingga

untuk

sama dengan satuan

perkembangan.
Pertumbuhan fungi multisel (jamur benang) dan mikroorganisme multisel
lainnya dapat ditunjukan dengan cara mengukur panjang garis tengah (diameter)
biakan,

luas

biakan,

dan berat kering biakan.

Pertumbuhan bakteri dan

mikroorganisme unisel lainnya dapat ditunjukan dengan cara menghitung


jumlah sel setiap koloninya maupun mengukur kandungan senyawa tertentu
yang dihasilkan. Waktu yang dibutuhkan dari mulai tumbuh sampai berkembang
dan menghasilkan individu baru disebut waktu generasi. Contoh : waktu generasi
bakteri E. Coli sekitar 17 menit, artinya dalam 17 menit satu E. Coli menjadi
dua atau lebih E. Coli. Untuk mikroorganisme yang membelah, misalnya
bakteri, maka waktu generasi diartikan sebagai selang waktu yang dibutuhkan

untuk membelah diri menjadi dua kali lipat. Beberapa faktor yang mempengaruhi
waktu generasi yaitu :
1.

Tahapan pertumbuhan mikroorganisme, misalnya seperti tersebut di atas yang


menyatakan bahwa satu sel bakteri menjadi 2 sel bakteri memerlukan rentang
waktu yang berbeda ketika 128 sel bakteri menjadi 256 sel

2.

Takson mikroorganisme (jenis, spesies, dll), misalnya bakteri Escherichia coli


dalam saluran pencernakan manusia maupun binatang umumnya mempunyai
waktu generasi 15 - 20 menit sedangkan bakteri lain (misalnya Salmonella
typhi) mempunyai waktu generasi berjam-jam.

2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme


Menurut Volk dan Wheeler (1993), faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan pada mikroorganisme adalah sebagai berikut:
1.

Faktor Fisik
a.

Pengaruh Temperatur
Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam

kehidupan. Beberapa jenis mikroba dapat hidup di daerah temperatur yang


luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. Pada umumnya batas
daerah tempetur bagi kehidupan mikroba terletak di antara 0oC dan 90oC,
sehingga untuk masin -masing mikroba dikenal nilai temperatur minimum,
optimum dan maksimum. Temperatur minimum suatu jenis mikroba ialah
nilai paling rendah dimana kegiatan mikroba asih berlangsun. Temperatur
optimum adalah nilai yang paling sesuai /baik untuk kehidupan mikroba.
Temperatur maksimum adalah nilai tertinggi yang masih dapat digunakan
untuk aktivitas mikroba tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang
paling minimal.
b.

Kelembaban dan Pengaruh Kebasahan serta Kekeringan


Mikroba mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya

untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi di


atas 85%, sedangkan untuk jamur di perlukan kelembaban yang rendah
dibawah 80%. Banyak mikroba yang tahan hidup di dalam keadaan kering
untuk waktu yang lama, seperti dalam bentuk spora, konidia, artospora,
klamidospora dan kista.

Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk


hidupnya, biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau
kelembaban relatif. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada aw 0,998-0,6.
c.

Pengaruh perubahan nilai osmotik


Tekanan osmose sebenarnya sangat erat hubungannya dengan

kandungan air. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka


selnya akan mengalami plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran
sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. Apabila
diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami
plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel, sel
membengkak dan akhirnya pecah.
Berdasarkan

tekanan

osmose

yang

diperlukan

dapat

dikelompokkan menjadi mikroba osmofil, adalah mikroba yang dapat


tumbuh pada kadar gula tinggi, (2) mikroba halofil, adalah mikroba yang
dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi, (3) mikroba
halodurik, adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi
tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar garamnya dapat
mencapai 30 %.
d.

Kadar ion hidrogen (pH)


Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Beberapa bakteri

dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). Untuk menumbuhkan


mikroba pada media memerlukan pH yang konstan, terutama pada
mikroba yang dapat menghasilkan asam. Misalnya Enterobacteriaceae dan
beberapa Pseudomonadaceae. Oleh karenanya ke dalam medium diberi
tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan. Buffer merupakan
campuran garam mono dan dibasik, maupun senyawa-senyawa organik
amfoter.

Sebagai

contoh

adalah

buffer

fosfat

anorganik

dapat

mempertahankan pH diatas 7,2. Cara kerja buffer adalah garam dibasik


akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan
ion OH-.
e.

Pengaruh Sinar

Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan


setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh
mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m sampai 760 m , tidak
begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek
gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m sampai 300 m .
Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.
Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak
dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang
agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu.
Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar
ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan
bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau
virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat
terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas
pembungkus makanan, ruang-ruang penyimpan daging, ruang-ruang
pertemuan, gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu
tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu.
2.

Faktor Kimia
1.

Mengubah permeabilitas membran sitoplasma sehingga lalu lintasb


zat-zat yang keluar masuk sel mikroorganisme menjadi kacau.

2.

Oksidasi, beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel


tertentu sehingga fungsi unsur terganggu. Misal, mengoksidasi suatu
enzim.

3.

Terjadinya ikatan kimia, ion-ion logam tertentu dapat megikatkan diri


pada beberapa enzim. Sehigga fungsi enzim terganngu.

4.

Memblokir beberapa reaksi kimia,misal preparat zulfat memblokir


sintesa folic acid di dalam sel mikroorganisme.

5. Hidrolisa, asam atau basa kuat dapat menghidrolisakan struktur sel


hingga hancur.
6. Mengubah sifat koloidal protoplasma sehingga menggumpal dan
selnya mati.

Faktor zat kimia yang mempengaruhi pertumbuhan:


1.

Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis

2.

Formaldehida (CH2O)

3.

Alkohol

4.

Yodium

5.

Klor dan Senyawa Klor

6.

Zat Warna

7.

Obat Pencuci (Detergen)

8.

Sulfonamida

9.

Antibiotik

10. Garam-Garam Logam


3. Faktor-faktor Biologi
a.

Netralisme
Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling

mempengaruhi. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat
rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat, serta populasi
yang keluar dari habitat alamiahnya. Sebagai contoh interaksi antara
mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous
(indigenous), dan antar mikroba nonindigenous di atmosfer yang
kepadatan populasinya sangat rendah.
b.

Komensalisme
Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu

populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. Contohnya


adalah Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic
Methanobacterium.
c.

Sinergisme
Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu

kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam


substrat. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam
keperluan nutrisi bersama, maka disebut sintropisme. Sintropisme sangat

penting dalam peruraian bahan organik tanah, atau proses pembersihan air
secara alami.
d.

Mutualisme

Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya


saling tergantung dan sama-sama mendapat keuntungan. Mutualisme
sering disebut juga simbiosis. Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus)
dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan
tempatnya oleh spesies lain yang mirip. Contohnya adalah Lichenes
(Lichens), yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan
fungi. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan
energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. Senyawa organik
dapat digunakan oleh fungi (mycobiont), dan fungi memberikan bentuk
perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk
faktor tumbuh untuk algae.
e.

Kompetisi
Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya

mengalami kerugian. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup


dan pertumbuhannya. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang
menggunakan nutrien / makanan yang sama, atau dalam keadaan nutrien
terbatas. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum
dengan Paramaecium aurelia.
f.

Amensalisme
Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan

salah satu pihak dirugikan, pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh
apapun. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap
populasi mikroba lain. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam,
toksin, atau antibiotika. Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang
mengubah

etanol

menjadi

asam asetat.

Thiobacillus

thiooxidans

menghasilkan asam sulfat. Asam-asam tersebut dapat menghambat


pertumbuhan bakteri lain. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium
yang dapat menghambat populasi Nitrobacter.
g.

Parasitisme

Parasitisme terjadi antara dua populasi, populasi satu diuntungkan


(parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Umumnya parasitisme
terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. Ukuran parasit
biasanya lebih kecil dari inangnya. Terjadinya parasitisme memerlukan
kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif
lama. Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E.
coli. Jamur Trichoderma sp. memparasit jamur Agaricus sp.
h.

Predasi
Hubungan predasi terjadi apabila satu organisme predator

memangsa atau memakan dan mencerna organisme lain (prey). Umumnya


predator berukuran lebih besar dibandingkan prey, dan peristiwanya
berlangsung cepat. Contohnya adalah Protozoa (predator) dengan bakteri
(prey).

DAFTAR PUSTAKA

Irianto, Koes. 2007. Mikrobiologi. Bandung: Yrama Widya.


Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.