Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Maqamat dalam Ilmu Tasawuf berarti kedudukan hamba dalam pandangan
Allah berdasarkan apa yang telah diusahakannya. Disamping itu maqamat berarti
jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin
dengan Allah. Menurut al-Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumad-Din, maqamat
terdiri dari delapan tingkat, yaitu taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, ridha
dan makrifat.
Ketika kita memfokuskan pandangan kepada semua amal hati, sebenarnya
semua itu adalah dasar dan materi iman yang mencuat darinya, maka kita akan
menemukan bahwa tidak ada maqam yang paling komprehensif dengan cakupan
atas semua ilmu dan amal sebuah hati daripada Tawakal kepada Allah SWT.
Diantara semua amal tersebut Tawakal adalah sesuatu yang paling kokoh dan
diantara kedudukan-kedudukan itu, dia adalah yang paling mulia.
Tawakal adalah suatu kondisi yang menggabungkan antara ilmu dan iman.
Tidak mungkin seorang hamba tidak membutuhkan tawakal, baik tawakal kepada
Allah yang di Tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, atau tawakal kepada
sesama makhluk yang lemah seperti dirinya. Tidak memiliki kuasa memberikan
manfaat

atau

bahaya.

Tidak

memiliki

kekuasaan

untuk

mematikan,

menghidupkan, dan membangkitkan kembali yang telah mati. Itulah sebuah


maqam yang sama sekali tidak bisa diabaikan begitu saja oleh setiap manusia
selama-lamanya.
Dia tinggal memilih, apakah bertawakal kepada Allah atas segala sesuatu,
Dia memberi pahala dan tidak diberi balasan untuk-Nya, ataukah bertawakal
kepada makhluk yang pasti lemah seperti dirinya sendiri. Atas dasar inilah saya
menaruh perhatian yang sangat besar untuk menjelaskan maqam yang sangat
mulia bagi tawakal kepada Allah, sehingga Ibnu Abbas menyebutnya sebagai inti

iman. Sedangkan Said jabir mengatakan, Tawakal adalah separuh dari iman,
sedangkan Al-Fudhail bin Iyadh menyifatinya, Tawakal adalah pangkal ibadah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimana pengertian tawakkal?
1.2.2 Bagaimana sumber Al-Quran dan Hadis tentang tawakkal?
1.2.3 Bagaimana rukun-rukun tawakkal?
1.2.4 Bagaimana derajat-derajat tawakkal?
1.2.5 Bagaimana macam-macam tawakkal?
1.2.6 Bagaimana ciri-ciri orang tawakkal?
1.2.7 Bagaimana manfaat sikap tawakkal?
1.2.8 Bagaimana hikmah sikap tawakkal?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini, yaitu untuk mengetahui:
1.3.1
1.3.2
1.3.3
1.3.4
1.3.5
1.3.6
1.3.7
1.3.8

Pengertian Tawakkal.
Sumber Al-Quran Dan Hadis Tentang Tawakkal.
Rukun-Rukun Tawakkal.
Derajat-Derajat Tawakkal.
Macam-Macam Tawakkal.
Ciri-Ciri Orang Tawakkal.
Manfaat Sikap Tawakkal.
Hikmah Sikap Tawakkal.

BAB II
PEMBAHASAN
IKHSAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN
2.1 PENGERTIAN TAWAKKAL
2

2.1.1

Arti Etimologis
Kata tawakkal diambil dari bahasa Arab yang berarti

menyerahkan, mempercayakan, atau mewakilkan.1 Di dalam kamus besar bahasa


Indonesia, tawakal berarti berserah (kepada kehendak Allah Swt) dengan segenap
hati percaya kepada Allah Swt dalam segala penderiataan, cobaan, sesudah
berikhtiar baru berserah kepada Allah Swt, pengalaman pahit di hadapi dengan
sabar.2
2.1.2

Arti Terminologis

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari
keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar
meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya
Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan
inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah.
Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu
dan Maha Bijaksana.3
Dengan demikian, tawakkal kepada Allah bukan berarti penyerahan diri
secara mutlaq kepada Allah, melainkan penyerahan diri yang harus didahului
dengan ikhtiar secara maksimal. Abu Muthy Balkhy berkata kepada Hatim
al-Ashom : Betulkah engkau berjalan tanpa bekal di hutan ini hanya sematamata bertawakal ? Jawabnya : Tidak, aku bepergian jauh pasti berbekal, Lalu
apa bekalnya ? Jawabnya : Empat perkara bekalku, yaitu :
1. Aku yakin bahwa dunia seisinya adalah milik allah SWT
2. Semua makhluk adalah hamba-Nya
3. Segala usaha/bekerja adalah semata hanya faktor penyebab saja,
sedangkan rizqi ada di tangan Tuhan

1Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), Cet. I, h.
120.
2Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indnesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1990), h. 908.
3 Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoriqot & Tashowwuf
(Surabaya: Bintang Usaha Jaya), 55

4. Dan aku yakin bahwa : Ketentuan-Nya pasti berlaku bagi semua


makhluk4
Kata Abu Muhty : Itulah bekal yang paling baik, karena bekalmu itu
sanggup menempuh perjalanan yang sangat jauh (akhirat), maka tiada artinya jika
hanya perjalanan diatas bumi (dunia).5
Secara terminologis, berbagai definisi tawakkal telah dikemukakan oleh
para ahli dan ulama. Definisi tersebut antara lain:
1. Imam al-Ghazliy mendefinisikan bahwa tawakkal adalah menyandarkan diri
kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya
dalam kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang
dan hati yang tentram.
2. Hamka mengartikan bahwa tawakkal adalah menyerahkan segala urusan atau
perkara ikhtiar dan usaha kepada Allah swt karena kita lemah dan tak
berdaya.6
3. Menurut Imam Ahmad bin Hambal
Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan
yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan
pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan
merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.7
4. Ibnu Qoyim al-Jauzi
Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan
menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya,
berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya,
berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala kecukupan
4Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoriqot & Tashowwuf,
h. 55.
5Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoriqot & Tashowwuf.
6M. Ishom Elsaha dan Saiful Hadi, Sketsa Alquran, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2005) h.
738.
7 Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337

bagi dirinya, dengan tetap melaksanakan sebab-sebab (baca ; faktor-faktor


yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk
dapat memperolehnya.8
5. Adapun menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah menyerahkan diri kepada
Allah swt setelah berusaha keras dan berikhtiar serta bekerja sesuai dengan
kemampuan dan mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.
Jadi, pengertian tawakkal bukan berarti tinggal diam, tanpa kerja dan usaha,
bukan menyerahkan semata-mata kepada keadaan dan nasib dengan tegak
berpangku tangan duduk memekuk lutut, menanti apa-apa yang akan terjadi. 9
Melainkan bekerja keras dan berjuang untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian
baru menyerahkan diri kepada Allah supaya tujuan itu tercapai berkat rahmat dan
dan inayahnya.
2.2 SUMBER AL-QURAN DAN HADIS TENTANG TAWAKKAL
Semua perintah dalam bertawakkal, biasanya selalu didahului oleh perintah
melakukan sesuatu. Firman Allah SWT :

...

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal
kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159).10
Oleh rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya sebagai berikut :

:

:

8 (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya bidalail minal Kitab was
Sunnah, 1975 : 254)
9Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2006), Cet. VII, h.
45.
10QS. Ali Imran: 159

Umar r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda :


Andaikan kamu bertawakkal (menyerah) kepada Allah dengan sungguhsungguh, niscaya Allah akan memberi rizky kepadamu sebagaimana burung
yang keluar pagi dengan perut kosong (lapar) dan kembali pada senja hari
dalam keadaan sudah kenyang. (HR. Turmudzi).11
2.3 RUKUN-RUKUN TAWAKKAL
Tawakal tidak didapati kecuali sesudah mengimani empat hal yang
merupakan rukun-rukun tawakal.
2.3.1

Beriman bahwa Al Wakil Maha Mengetahui segala apa yang dibutuhkan

2.3.2

oleh si muwakkil (yang bertawakal).


Beriman bahwa Al Wakil Maha Kuasa dalam memenuhi kebutuhan

2.3.3
2.3.4

muwakkil.
Beriman bahwa Dia tidak kikir.
Beriman bahwa Dia memiliki cinta dan rahmat kepada muwakkil.12
Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat.

Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah
janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang
benar, yaitu:
a. Bertawakal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman:


Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan
kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah
Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai
dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud: 123).

11Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoriqot & Tashowwuf
(Surabaya: Bintang Usaha Jaya), h. 54.
12Imam Khomeini, Insan Ilahiah; Menjadi Manusia Sempurna dengan Sifat-sifat
Ketuhanan : Puncak Penyingkapan Hijab-hijab Duniawi (Jakarta : Pustaka Zahra, 2004),
210

b. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan semua


permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan
hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Allah berfirman,


Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah
menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan
bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.
Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah
diri. (QS. Ibrahim: 12).
c. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang
hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah
dengan hatinya. Allah berfirman,





Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan
(yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 3).
d. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba
dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua
urusannya kepada Allah. Allah berfirman,




Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, Cukuplah
Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku
bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arsy yang agung.(QS.
At-taubah: 129).

Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas


dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan akalnya serta seluruh
kekuatannya akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua amalan.
Dengan besarnya tawakal kepada Allah akan memberikan keyakinan yang besar
sekali bahkan membuahkan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi
tantangan dan ujian yang berat. Sebagaimana Allah taala berfirman:



Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada
yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki
kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya.
Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus: 107)
Dengan mendasarkan diri pada keyakinan bahwa hanya Allah saja yang
dapat memberikan kemudharatan maka seorang mukmin tidak akan gentar dan
takut terhadap tantangan dan ujian yang melanda, seberapapun besarnya, karena
dia yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang berusaha dan
menyandarkan hatinya hanya kepada Allah. Dengan keyakinan yang kuat seperti
inilah muncul mujahid-mujahid besar dan ulama-ulama pembela agama Islam
yang senantiasa teguh di atas agama Islam walaupun menghadapi ujian yang
besar, bahkan mereka rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk agama Islam.
Tawakal yang sebenarnya kepada Allah Taala akan menjadikan hati seorang
mukmin ridha kepada segala ketentuan dan takdir Allah, yang ini merupakan ciri
utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Akan merasakan
kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Taala sebagai Rabb-

nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam sebagai rasulnya
Setiap hari, dalam setiap sholat, bahkan dalam setiap rakaat sholat kita
selalu membaca ayat yang mulia, Iyyaka nabudu wa iyyaka nastain; hanya
kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta
pertolongan Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati
dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah
kita serahkan seluruh urusan kita.
Allah taala berfirman

....

.....Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benarbenar beriman. (QS. al-Maidah: 23).
Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menyandarkan hati sematamata kepada Allah, karena tawakal adalah termasuk ibadah.
2.4 DERAJAT-DERAJAT TAWAKKAL
2.4.1 Keyakinannya kepada Allah seperti keyakinannya kepada wakil yang telah
dikenal kebenarannya, kejujurannya, perhatian, petunjuk dan kasih
sayangnya.
2.4.2 Keadaanya terhadap Allah SWT seperti keadaan anak kecil kepada ibunya.
Ia tidak mengenal selain ibunya dan segala urusan hanya
mengandalkannya. Ia adalah pikiran pertama yang terlintas dihatinya.
Kedudukan ini menuntut manusia untuk tidak berdoa dan tidak memohon
kepada selain Allah SWT. Kerena percaya pada kemurahan-Nya dan kasih
sayang-Nya.
2.4.3 Seperti pucatnya orang sakit, yang bisa terus berlangsung dan terkadang
lenyap. Jika engkau katakan apakah hamba boleh berencana dan
mengandalkan sebab-sebab.
Maka ketahuilah bahwa kedudukan ketiga menolak perencanaan secara
berlangsung selama ia tetap dalam keadaan itu. Kedudukan kedua menolak
perencanaan, kecuali dari segi pengandalan kepada allah SWT dengan berdoa dan
merengek seperti anak kecil yang hanya memanggil ibunya.13
13Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2004), 247

2.5 MACAM-MACAM TAWAKKAL


Tawakal dibagi menjadi dua macam, antara lain :
2.5.1

Tawakal kepada Allah


Macam-macam Tawakal kepada Allah, yaitu :

2.5.1.1 Tawakal kepada Allah dalam istiqamah dirinya dengan petunjukknya,


pemurnian tauhid.
2.5.1.2 Tawakal kepada Allah dalam penegakan agama Allah di muka bumi,
menaggulangi kehancuran, melawan bidah, berijtihad melawan orang
kafir, amar makruf nahi munkar.
2.5.1.3 Tawakal kepada Allah dalam rangka seorang hamba ingin mendapatkan
berbagai hajat dan bagian duniawi atau dalam rangka menghindari
berbagai hal yang tidak diharapkan dan berbagai musibah duniawi.
2.5.1.4 Tawakal kepada Allah dalam rangka mendapatkan dosa dan kekejian.
2.5.2 Tawakal kepada selain Allah
Bagian ini terbagi menjadi dua macam, yaitu :
2.5.2.1 Tawakal Bernuansa Syirik
Ini juga terbagi menjadi dua :
1. Tawakal kepada selain Allah Taala dalam hal yang tidak mampu
mensikapinya selain Allah azza wa Jalla, Seperti halnya orang-orang
yang bertawakal kepada orang-orang yang telah mati dan para thaghut
dalam rangka menyampaikan harapan tuntutannya berupa pemeliharaan,
penjagaan, rezeki dan syafaat.
2. Tawakal kepada selain Allah berkenaan dengan perkara-perkara yang
dimampui sebagaimana yang ia kira oleh orang yang bertawakal tersebut.
Ini adalah syirik kecil.
2.5.2.2 Perwakilan yang diperbolehkan

10

Yaitu ketika seseorang mewakilkan suatu pekerjaan yang dimampui kepada


orang lain. Dengan demikian orang yang mewakilkan itu mencapai sebagian apa
yang menjadi tututannya.14
2.6 CIRI-CIRI ORANG TAWAKKAL
Orang yang bertawakkal kepada Swt akan berprilaku antara lain :
2.6.1

Selalu bersyukur apabila mendapat nikmat dan bersabar jika belum atau

2.6.2
2.6.3
2.6.4

tidak tercapai apa yang diinginkannya.


Tidak pernah berkeluh kesah dan gelisah.
Tidak meninggalkan usaha dan ikhtiar untuk mencapai sesuatu.
Menyerahkan dirinya atas semua keputusan kepada Allah Swt setelah

2.6.5

melakukan usaha dan ikhtiar secara sempurna.


Menerima segala ketentuan Allah dengan rido terhadap diri dan
keadaannya.
Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada

orang lain.Dan sebagai tanda tawakal kita kepada Allah, kita yakin bahwa segala
sesuatu yang datang pada diri kita, adalah yang terbaik bagi kita. Tiada keraguan
sedikit pun di dalam hati, apabila mempunyai perasaan untuk menghindarinya,
segala sesuatu yang menimpa kita. Meskipun hal itu terasa pait dan pedih bagi
kita, kalau hal itu datang dari-Nya, tentulah hal itu yang terbaik bagi kita. Inilah
bentuk tawakal sesungguhnya.
Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya dan
memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Allah Maha Kuasa untuk
mengirimkan bantuan kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai cara, termasuk
cara yang bagi manusia tidak masuk akal. Allah adalah satu-satunya tempat
mengadu saat kita susah. Allah senantiasa mendengar pengaduan hamba-hambaNya. Dalam banyak hal, peristiwa-peristiwa di alam ini masih dalam koridor

14Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji, At-Tawakkal Alallah Taal (Jakarta : PT Darul Falah,
2006), 191-194.

11

sunnatulah. Artinya, masih dapat diurai sebab musababnya. Hal ini mengajarkan
kepada kita agar kita kreatif dan inovatif dalam kehidupan ini.15
2.7 MANFAAT SIKAP TAWAKKAL
Setelah kami jelaskan kedudukan tawakal, kami merasa senang untuk
menunjukkan sebagian buah yang agung yang bisa dipetik oleh orang yang
bertawakal setelah berhasil mewujudkan maqam kedudukan yang sangat tinggi
dan mulia ini. Hal terpenting diantaranya adalah :
2.7.1
2.7.2
2.7.3
2.7.4

Mewujudkan iman.
Ketenangan jiwa dan rehat hati.
Kecukupan dari Allah segala kebutuhan orang yang bertawakal.
Sebab terkuat dalam mendatangkan berbagai manfaat dan menolak

2.7.5
2.7.6

berbagai mudlarat.
Mewariskan cinta Allah kepada sang hamba.
Mewariskan kekuatan hati, keberanian, keteguhan dan menantang para

musuh.
2.7.7 Mewariskan kesabaran, ketahanan, kemenangan dan kekokohan.
2.7.8 Mewariskan rezeki, rasa ridha dan memelihara dari kekuasaan syetan
2.7.9 Sebab masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
2.8 HIKMAH SIKAP TAWAKKAL
2.8.1 Membuat seseorang penuh percaya diri
2.8.2 Memiliki keberanian dalam menghadapi setiap persoalan
2.8.3 Memiliki ketenangan dan ketentraman jiwa
2.8.4 Dekat dengan Allah dan menjadi kekasih-Nya, di pelihara, ditolong dan
dilindungi Allah. Firman Allah swt:

.... ...

....Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan


mencukupkan (keperluan)nya... (At-Thalaq: 3)
2.8.5

Diberikan rezeki yang cukup dan selalu berbakti dan taat kepada Allah
Swt.16

15 Supriyanto, Tawakal Bukan Pasrah (Jakarta : Qultum Media, 2010), 98-99


16Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985) Juz XII, h. 163.

12

Adapun mengenai keutamaan tawakal, dalam kitab "Shahihain" pada hadis


tentang 70.000 umat Islam yang akan masuk kedalam surga tanpa hisab,
dijelaskan bahwa orang-orang yang tidak memakai mantera, tidak percaya pada
ramalan, dan mereka hanya bertawakal kepada Allah, mereka itulah yang akan
masuk surga tanpa hisab. Diriwayatkan dari Umar bin Khatab bahwa Rasulullah
Saw bersabda " jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya
tawakal, maka Allah akan memberikan rezeki kepada kalian. Sebgaimana Allah
memberikan rezeki kepada burung, ia pergi dengan perut kosong dan pulang
dengan perut penuh berisi. (HR. Ibnu Majah).

13

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Tawakal dari segi bahasa artinya menyerah kepada Allah. Dan dari segi
istilah adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya
yang bulat kepada Allah bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur
segala-galanya. Tawakkal kepada Allah bukan hanya berarti penyerahan diri
secara mutlaq kepada Allah, melainkan penyerahan diri yang harus didahului
dengan ikhtiar secara maksimal.
Tawakal tidak didapati kecuali sesudah mengimani empat hal yang
merupakan rukun-rukun tawakal, yaitu beriman bahwa Allah Maha Mengetahui
segala apa yang dibutuhkan oleh orang yang bertawakal, beriman bahwa Allah
Maha Kuasa dalam memenuhi kebutuhan orang yang bertawakal, beriman bahwa
Allah tidak kikir, beriman bahwa Allah memiliki cinta dan rahmat kepada orang
yang bertawakal.
Orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan berkeluh kesah dan gelisah.
Ia akan selalau berada dalam ketenangan dan ketentraman, dan kegembiraan. Jika
ia memperoleh nikmat dan karuni adari Allah Swt, ia akan bersyukur dan jika
tidak ia akan bersabar. Ia menyerahkan semua keputusan, bahkan dirinya sendiri,
kepada-Nya. Penyerahan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan semata-mata
karena Allah Swt. Namun tidak berarti orang yang bertawakal harus
meninggalkan semua usaha dan ikhtiar. Usaha dan ikhtiar itu harus tetap
dilakukan, sedangkan keputusan terakhir di serahkan kepada Allah Swt.
3.2 SARAN
Semoga makalah ini bermanfaat buat para pembaca. Karya ini masih jauh
dari kesempurnaan. Olehnya itu penulis mengharap kritik dan saran pembaca.
Demikian, Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

14

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji, At-Tawakkal Alallah Taal (Jakarta : PT Darul


Falah, 2006).
Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994),
Cet. I.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indenesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1990)
Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985) Juz XII)
Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2004), 247
Imam Khomeini, Insan Ilahiah; Menjadi Manusia Sempurna dengan Sifat-sifat
Ketuhanan : Puncak Penyingkapan Hijab-hijab Duniawi (Jakarta : Pustaka
Zahra, 2004).
Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoriqot &
Tashowwuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya)
M. Ishom Elsaha dan Saiful Hadi, Sketsa Alquran, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2005)
QS. Ali Imran: 159
Supriyanto, Tawakal Bukan Pasrah (Jakarta : Qultum Media, 2010)
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2006), Cet.
VII.

15