Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sumber energi merupakan sesuatu yang memiliki kemampuan untuk
menyimpan atau menghasilkan energi. Ada banyak macam jenis energi serta
sumber energi yang ada di dunia ini. Masing-masing dari sumber tersebut
memiliki kapasitas yang berbeda-beda.
Energi merupakan kebutuhan penting umat manusia, karena setiap aktivitas
yang dilakukan pasti berhubungan dengan energi. Sebagai contoh sederhana,
memasak nasi kita membutuhkan energi seperti energi listrik, mengendarai mobil
kita juga membutuhkan energi seperti bahan bakar minyak. Seperti halnya
manusia industri-industri juga membutuhkan energi untuk menjalankan peralatan
operasional pada pabrik. Sementara, jenis energi ini banyak dimanfaatkan oleh
umat manusia adalah energi yang berasal dari fosil yang biasa kita sebut sebgai
minyak bumi.
Jenis energi yang berasal dari fosil tersebut merupakan energi yang tidak
bisa untuk diperbarui. Karena hal tersebut, maka dimungkinkan akan terjadi
kelangkaan energi tersebut di masa depan atau bahkan mungkin juga energi yang
menjadi penopang utama bagi kehidupan sehari-hari bagi manusia akan habis.Jika
hal ini berlangsung berkepanjangan, dan manusia tidak bergegas untuk
menggunakan energi alternatif sebagai pengganti, saat cadangan minyak bumi
yang ada telah habis, maka manusia akan menjadi kesulitan karena terlalu
bergantung pada sumber energi tersebut, dalam hal ini dalah energi fosil. Sebagai
salah satu solusi permasalahan ini adalah energi terbarukan yang salah satunya
adalah energi angin.
Banyak sekali orang membuat kincir angin dan kincirair untuk dikonversi
menjadi energi listrik. Oleh karena itu dengan mengetahui proses konversi
energy angin menjadi energy listrik dapat menjadikan bahan pertimbangan

dalam mengembangkan energy angin menjadi salah satu sumber energy


alternative yang terbarukan dan tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa yang dimaksud dengan energi angin ?
2. Apa yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Angin ?
3. Apa pengertian dari Turbin Angin ?
4. Jelaskan manfaat dari energi angin ?
5. Bagaimana pemanfaatan energi angin sebagai cadangan energi baik di
Indonesia maupun dunia ?
1.3 Tujuan percobaan
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan energi angin
2. Menjelaskan yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Angin
3. Menjelaskan pengertian dari Turbin Angin
4. Menjelaskan manfaat dari energi angin
5. Menjelaskan pemanfaatan energi angin sebagai cadangan energi baik
di Indonesia maupun dunia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Energi Angin


Angin adalah pertukaran sejumlah massa udara yang diakibatkan oleh
fenomenatermal. Sumber energy termal pendorong adalah matahari. Karena
matahari memanaskan permukaan bumi secara tidak merata, maka terbentuklah
angin
Energi merupakan suatu kekuatan yang dimiliki oleh suatu zat sehingga
zat tersebut mempunyai pengaruh pada keadaan sekitarnya. Menurut mediumnya
dikenal banyak jenis energi. Diantaranya, energi gelombang, energi arus laut,
energi kosmos, energi yang terkandung pada senyawa atom, dan energienergi lain yang bila dimanfaatkan akan berguna bagi kebutuhan manusia.
Salah satu dari energi tersebut adalah energi angin yang jumlahnya tak terbatas
dan banyak digunakan untuk meringankan kerja manusia. Angin memberikan
energi gerak sehingga mampu menggerakkan perahu layar, kincir angin, dan bisa
dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik yaitu berupa turbin angin. Keberadaan
energi angin ini terdapat di lapisan atmosfer bumi yang banyak mengandung
partikel udara dan gas. Lapisan troposfer merupakan lapisan atmosfer terendah
bumi dan dilapisan ini semua peristiwa cuaca termasuk angin terjadi.
Energi angin adalah energi yang terkandung pada massa udara yang
bergerak. Energi angin berasal dari energi matahari. Pemanasan bumi oleh sinar
matahari menyebabkan perbedaan massa jenis () udara. Perbedaan massa
jenis ini menyebabkan perbedaan tekanan pada udara sehingga akan terjadi aliran
fluida dan menghasilkan angin. Perbedaan tekanan yang terjadi yaitu dari udara
bertekanan rendah ke tekanan yang tinggi dan atau sebaliknya dari tekanan tinggi
ke tekanan rendah. Kondisi aliran angin dipengaruhi oleh medan atau permukaan
bumi yang dilalui oleh aliran angin dan perbedaan temperatur permukaan bumi.

2.1.1

Asal Energi Angin


Semua energi yang dapat diperbaharui dan bahkan energi pada bahan bakar

fosil kecuali energi pasang surut dan panas bumi-berasal dari Matahari. Matahari

meradiasi 1,74 x 1.014 kilowatt jam energi ke Bumi setiap jam. Dengan kata lain,
Bumi menerima 1,74 x 1.017 watt daya. Sekitar 1-2 persen dari energi tersebut
diubah menjadi energi angin. Jadi, energi angin berjumlah 50-100 kali lebih
banyak daripada energi yang diubah menjadi biomassa oleh seluruh tumbuhan
yang ada di muka Bumi.
Karena matahari memanaskan permukaan bumi secara tidak merata, maka
terbentuklah angin. Angin merupakan udara yang bergerak; udara yang berpindah
tempat, mengalir dari tempat yang dingin ke tempat yang panas dan dari tempat
yang panas mengalir ke tempat yang dingin, demikian terus-menerus. Angin
adalah proses alam yang berlaku secara skala kecil dan skala besar, secara lingkup
daerah dan dunia. Di lapisan atmosfir bawah udara dingin mengalir dari daerah
kutub menuju daerah khatulistiwa dan di lapisan atmosfir atas udara hangat
mengalir dari khatuistiwa menuju daerah kutub. Jika Bumi tidak berotasi pada
sumbunya, maka udara akan tiba di kutub utara dan kutub selatan, turun ke
permukaan lalu kembali ke khatulistiwa. Udara yang bergerak inilah yang
merupakan energi yang dapat diperbaharui, yang dapat digunakan untuk memutar
turbin dan akhirnya dapat menghasilkan listrik.

2.1.2 Proses Terjadinya Angin


Angin terjadi bila terdapat pemanasan permukaan bumi yang tak sama oleh
sinar matahari. Di siang hari udara di atas lautan relatif lebih dingin daripada
daratan. Sinar matahari menguapkan air lautan dan diserap lautan. Penguapan dan
absorsi sinar matahari di daratan kurang sehingga udara di atas daratan lebih
panas. Dengan demikian udara di atas mengembang,jadi ringan dan naik ke atas.
Udara dingin yang lebih berat turun mengisi kekurangan udara di daratan, maka
terjadilah aliran udara yang disebut angin dari lautan ke daratan tepi pantai. Di
malam hari peristiwa yang sebaliknya terjadi, angin di permukaan laut mengalir
dari pantai ke tengah lautan dan peristiwa inilah yang dimanfaatkan oleh para
nelayan untuk mencari ikan di lautan. Angin di lereng gunung juga terjadi
demikian. Pada sekitar puncak pegunungan lebih dulu panas dibandingkan dengan
4

daerah lembah. Karena perbedaan panas ini sehingga menimbulkan perbedaan


tekanan yang akhirnya timbul angin biasa yang disebut angin lembah dan angin
gunung.
Ada dua faktor utama sirkulasi global yaitu radiasi matahari dan
rotasi bumi dengan atmosfir. Variasi musiman adalah disebabkan kemiringan
sumbu bumi pada bidang pergerakan bumi mengelilingi matahari. Radiasi surya
lebih besar per satuan luas ketika matahari menyinari langsung tepat di atas,
disana terjadi perpindahan panas dari daerah dekat khatulistiwa menuju kutub.
Karena bumi berotasi pada sumbunya dan disana konservasi momentum sudut,
angin akan bergeser sebagaimana pergerakan sepanjang arah longitudinal.

Gambar 1. Sirkulasi Atmosfer secara Umum, dan pada Belahan Bumi


Bagian Utara
(Sumber: Vaughn Nelson. [6], hal 34)

Angin lokal disebabkan perbedaan tekanan lokal dan juga dipengaruhi


topograpy, gesekan permukaan disebabkan gunung, lembah dan lain lain.
Variasi harian disebabkan perbedaan temperatur antara siang dan malam.
Perbedaan temperatur daratan dan lautan juga mengakibatkan angin sepoi
sepoi, bagaimanapun angin tidak mengalir sangat jauh di daratan,

Gambar 2. Angin Laut (Siang) dan Angin Darat (Malam)


(Sumber: Vaughn Nelson [6], hal 34)

2.2 Pembangkit Listrik Tenaga Angin


2.2.1 Pengertian Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Pembangkit listrik tenaga angin, yang diberi nama Wind Power System
memanfaatkan angin melalui kincir, untuk menghasilkan energi listrik. Alat ini
sangat cocok sekali digunakan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil.
Secara umum, sistem alat ini memanfaatkan tiupan angin untuk memutar motor.
Hembusan angin ditangkap baling-baling, dan dari putaran baling-baling tersebut
akan dihasilkan putaran motor yang selanjutnya diubah menjadi energi listrik.
Wind Power System ini terdiri dari empat bagian utama, yaitu rotor,
transmisi, elektrikal, dan tower. Bagian rotor terdiri dari baling-baling dengan
empat daun, bentuknya seperti baling-baling pesawat. Dengan bentuk seperti ini
diharapkan energi angin yang tertangkap bisa maksimal agar bobotnya lebih
ringan. Baling-baling ini dibuat dengan diameter 3,5 dan bahannya dibuat dari
fiberglass.
Untuk mendapat hembusan angin, baling-baling diletakkan pada tower
setinggi delapan meter. Sedangkan pada bagian transmisi digunakan sistem
kerekan dan tali, sistem transmisi ini digunakan untuk menyiasati kekuatan angin
yang kecil. Karena kecepatan angin di Indonesia relatif kecil, transmisi ini sangat
menguntungkan untuk meningkatkan putaran sebagai pengubah energi digunakan
alternator dua fase 12 volt, energi listrik yang dihasilkan oleh alternator dapat
disimpan dalam aki.
Sementara kapasitas daya yang didapat sebesar 1,5 KW. Wind Power
System telah diuji coba oleh para mahasiswa di pantai kenjeran, kurang dari satu
jam hasil dari percobaan tersebut sudah dapat menghasilkan energi listrik untuk
menyalakan TV dan lampu sampai 100 watt.
2.2.2

Sejarah Perkembangan Tenaga Angin

Sejarah perkembangan pembangkit angin dengan kincir angin dapat


diuraikan disini :
a. Sekitar tahun 1890 Negara Denmark sudah mulai memanfaatkan tenaga
untuk memompa air maupun membangkitkan tenaga listrik guna mmenuhi
kebutuhan industri susu yang terletak terpencar dan yang semakin
berkembang khususnya didaerah yang tidak tersedia bahan bakar lokal.
Dalam periode 1890-1945 produksi kincir angin kebanyakan berkapasitas 5
KW meskipun ada beberapa yang berkapasitas lebih besar.
b. Dengan berakhirnya Perang Dunia II, kebutuhan akan tersedianya tenaga
listrik diperkirakan akan meningkat, sedangkan persediaan bahan bakar fosil
tidak mencukupi sehingga di beberapa Negara Eropa mulai memikirkam
untuk memanfaatkan sumber energi pengganti lain termasuk sumber energi
angin dan prototype yang telah diproduksi berkapasitas 100 KW.
c. Sejak tahun 1958 penelitian mengenai tenaga angin mulai ditinggalkan
karena

berkembangnya

teknologi

tenaga

nuklir

yang

nampaknya

mempunyai prospek yang lebih baik, serta telah stabilnya penyediaan bahan
bakar konvensional yang harganya relatif lebih murah dan mungkin
besarnya ukuran unit pembangkit listrik tenaga termis yang ternyata lebih
menguntungkan.
d. Sejak melandanya krisis energi tahun 1973 pada saat harga bahan bakar
minyak mulai melonjak dan pada saat bersamaan masyarakat di negaranegara maju mulai memberikan tanggapan negatif pada pembangunan
pembangkit-pembangkit listrik tenaga nuklir khususnya mengenai hal
bahaya pencemaran lingkungan maka sejak itu energi angin mulai mendapat
perhatian lagi dalam perkembangannya.
Di Indonesia, tenaga angin telah dikembangkan pemanfaatannya sejak tahun
1979 yang dimulai dengan penelitian-penelitian dan pengukuran data angin serta
konsep-konsep teknologi sesuai dengan kondisi dan energi angin yang tersedia di
Indonesia.

2.2.3

Komponen Komponen Alat Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Komponen komponen alat pembangkit listrik tenaga angin pada


umumnya terdiri dari :
a. Alat Pengukur Kecepatan Angin
Dalam mengetahui seberapa besar kecepatan hembusan suatu angin maka
perlu suatu alat/parameter pengukur kecepatan angin itu. Alat yang sering
digunakan dalam mengukur kecepatan angin biasa disebut anemometer.
Adapun jenis daripada alat pengukuran kecepatan angin (anemometer) adalah:

Anemometer jinjingan
Anemometer jinjingan adalah alat ukur kecepatan angin yang cara kerjanya

berdasarkan tekanan dinamik ( . .V2 ). Tetapi alat ukur ini kurang teliti dalam
pembacaan.

Gambar 3. Anemometer Jinjingan

Anemometer setengah bola


Anemometer setengah bola adalah alat ukur kecepatan angin dengan

menggunakan kincir setengah bola. Dimana mangkok setengah bola ini akan
berfungsi untuk menangkap angin sehingga dapat menggerakkan kincir dan
seberapa besar kecepatan angin itu dapat dilihat dari kecepatan putaran kincir.

Gambar 4. Anemometer Setengah Bola

Anemometer propeller
Anemometer propeller adalah alat ukur kecepatan angin dengan

menggunakan kincir model pesawat kecil, mengikuti arah angin dan propeller
yang mengukur kecepatan arah angin itu.

Gambar 5. Anemometer Propeller


Baik anemometer setengah bola maupun propeller tidak tepat dalam
mengukur kecepatan angin. Perputaran mangkuk setengah bola atau propeller
lebih cepat disaat angin kencang dan lebih lambat saat hembusan angin kurang.
b. Blades (Bilah Kipas)
Kebanyakan turbin angin mempunyai 2 atau 3 bilah kipas. Angin yang
menghembus menyebabkan turbin tersebut berputar.
c. Brake (Rem)
Suatu rem cakram yang dapat digerakkan secara mekanis, dengan tenaga
listrik atau hidrolik untuk menghentikan rotor atau saat keadaan darurat.
d. Controller (Alat Pengontrol)
Alat Pengontrol ini menstart turbin pada kecepatan angin kira-kira 12-25
km/jam, dan mematikannya pada kecepatan 90 km/jam. Turbin tidak beroperasi di
atas 90 km/jam, karena angina terlalu kencang dapat merusakkannya.
e. Gear box (Roda Gigi)
Roda gigi menaikkan putaran dari 30-60 rpm menjadi kira-kira 1000-1800
rpm yaitu putaran yang biasanya disyaratkan untuk memutar generator listrik.

f. Generator
Generator pembangkit listrik, biasanya sekarang alternator arus bolak-balik.
g. High-speed shaft (Poros Putaran Tinggi)
Menggerakkan generator.
h. Low-speed shaft (Poros Puutaran Rendah)
Poros turbin yang berputar kira-kira 30-60 rpm.
i. Nacelle (Rumah Mesin)
Rumah mesin ini terletak di atas menara . Di dalamnya berisi gear-box,
poros putaran tinggi / rendah, generator, alat pengontrol, dan alat pengereman.
j. Pitch (Sudut Bilah Kipas)
Bilah kipas bisa diatur sudutnya untuk mengatur kecepatan rotor yang
dikehendaki, tergantung angin terlalu rendah atau terlalu kencang.
k. Rotor
Bilah kipas bersama porosnya dinamakan rotor.
l. Tower (Menera)
Menara bisa dibuat dari pipa baja, beton, rangka besi. Karena kencangnya
angin bertambah dengan ketinggian, maka makin tinggi menara makin besar
tenaga yang didapat.
m. Wind direction (Arah Angin)
adalah turbin yang menghadap angin, desain turbin lain ada yang mendapat
hembusan angin dari belakang.
n. Wind vane (Tebeng Angin)
Mengukur arah angin, berhubungan dengan penggerak arah yang memutar
arah turbin disesuaikan dengan arah angin.
o. Yaw drive (Penggerak Arah)
Penggerak arah memutar turbin ke arah angin untuk desain turbin yang
menghadap angina. Untuk desain turbin yang mendapat hembusan angina dari
belakang tak memerlukan alat ini.

10

p. Yaw motor (Motor Penggerak Arah)


Motor listrik yang menggerakkan penggerak arah.

2.3 Turbin Angin


Turbin angin

merupakan

mesin

dengan

sudu

berputar

yang

mengonversikan energi kinetik angin menjadi energi mekanik. Jika energi


mekanik digunakan langsung secara permesinan seperti pompa atau grinding
stones,

maka

mesin (turbin) disebut

windmill. Jika energi mekanik

dikonversikan menjadi energi listrik, maka mesin disebut turbin angin atau wind
energy converter (WEC).
Ekstraksi potensi angin adalah sebuah upaya kuno dimulai dengan kapaltenaga angin, pabrik gandum dan grinding stone. Kini turbin angin lebih
banyak

digunakan untuk menyuplai kebutuhan listrik masyarakat dengan

menggunakan prinsip konversi energi dan memanfaatkan sumber daya alam


yang dapat diperbaharui yaitu angin. Walaupun sampai saat ini pembangunan
turbin angin masih belum dapat menyaingi pembangkit listrik konvensional,
contohnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga
diesel (PLTD), pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan sebagainya. Turbin
angin masih dikembangkan oleh para ilmuwan karena dalam waktu dekat
manusia akan dihadapkan dengan masalah kekurangan sumber daya alam tak
terbaharui, contohnya minyak bumi, batubara dan sebagainya sebagai bahan
dasar untuk membangkitkan energi listrik.
2.3.1

Perkembangan Teknologi Kincir Angin


Pada era 1970-an, energi angin hanya menempati porsi yang kecil dalam

penyediaan energi. Penggunaannya masih sebatas pada pembangkitan energi


mekanik untuk penggilingan produk biji-bijian dan penggerak pompa air
disamping sebagian kecil yang digunakan sebagai charger baterai.
Pada era 1980-an perkembangan energi angin mulai meningkat, namun
masih terkendala pada pemilihan bahan teknik, kerumitan perawatan dan sulit
11

untuk di integrasikan dengan sistem ketenagalistrikan nasional. Disamping itu,


turbin angin juga menimbulkan turbulensi yang mempengaruhi unjuk kerja turbin
yang berada pada arah down wind dari turbin terdepan.
Kelemahan-kelemahan tersebut satu persatu dapat diatasi, sehingga
perkembangan teknologi energi angin semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Namun demikian, pengembangan teknologi angin pada kapasitas super Mega
Watt, masih terkendala pada skala ekonomis pengembangan turbin, dimana
dengan semakin besarnya ukuran diameter kincir angin (wind turbin), akan
tercapai suatu situasi dimana biaya produksi untuk pembuatan wind turbin
tersebut nilainya jauh lebih besar dari tingkat keuntungan yang akan diperoleh.

Gambar 6. Perkembangan Teknologi Energi Angin, EERE 2008


2.3.2

Jenis Turbin Angin


Turbin angin sebagai mesin konversi energi dapat digolongkan

berdasarkan prinsip aerodinamik yang dimanfaatkan rotornya. Berdasarkan


prinsip aerodinamik, turbin angin dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Jenis drag yaitu prinsip konversi energi yang memanfaatkan selisih
koefisien drag.
2. Jenis lift yaitu prinsip konversi energi yang memanfaatkan gaya lift.
Pengelompokan turbin angin berdasarkan prinsip aerodinamik pada rotor
yang dimaksud yaitu apakah rotor turbin angin mengekstrak energi angin
memanfaatkan gaya drag dari aliran udara yang melalui sudu rotor atau
rotor angin mengekstrak energi angin dengan memanfaatkan gaya lift yang
12

dihasilkan aliran udara yang melalui profil aerodinamis sudu. Kedua prinsip
aerodinamik yang dimanfaatkan turbin angin memiliki perbedaan putaran
pada rotornya, dengan prinsip gaya drag memiliki putaran rotor relatif rendah
dibandingkan turbin angin yang rotornya menggunakan prinsip gaya lift.
Berdasarkan prinsip kerjanya (aerodinamik), turbin angin dibedakan atas
dua macam yaitu :
1. Turbin angin yang memanfaatkan gaya Lift
Turbin angin ini memanfaatkan gaya Lift yang terjadi pada penampang
rotornya untuk berputar dan mengkonversikan energi yang diterimanya.
Turbin angin jenis ini umumnya menggunakan airfoil sebagai penampang
rotornya. Contohnya adalah turbin angin tipe Savonius.
2. Turbin angin yang memanfaatkan gaya Drag
Turbin angin ini memanfaatkan gaya drag yang terjadi pada penampang
rotornya untuk berputar dan mengkonversikan energi yang diterimanya. Turbin
angin jenis ini umumnya menggunakan penampang yang lebih besar dan
lebih luas dibandingkan dengan turbin angin yang memanfaatkan gaya Lift
.Contohnya adalah turbin angin tipe Darrieus H rotor.
Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah berdasarkan arah putaran
pada rotornya. Turbin angin yang memanfaatkan gaya lift rotornya berputar
melawan arah angin sedangkan pada turbin angin yang memanfaatkan gaya
drag, rotornya berputar searah dengan arah angin. Perbedaan turbin angin yang
bekerja berdasarkan gaya lift dan gaya drag ditunjukkan sebagai berikut:

13

Gambar 7. Contoh Turbin Angin Yang Memanfaatkan Gaya Drag


(Sumber : Schubel, 20012)

Arah Putaran turbin


Gambar 8. Contoh turbin angin yang memanfaatkan gaya Lift
(Sumber : Schubel, 2012)
Jika dilihat dari arah sumbu rotasi rotor, turbin angin dapat dibagi menjadi
dua bagian yaitu:
1. Turbin Angin Sumbu Horizontal (TASH)

Gambar 9. Turbin Angin Horizontal

14

Turbin angin megawatt pertama didunia berada di Castleton, Vermont.


Turbin angin sumbu horizontal (TASH) memiliki rotor utama dan generator listrik
dipuncak menara. Turbin berukuran kecil diarahkan oleh sebuah baling baling
angin (baling baling cuaca) yang sederhana, sedangkan turbin berukuran besar
pada umumnya menggunakan sebuah sensor angin yang digandengkan ke sebuah
servo motor. Sebagian besar memiliki sebuah gearbox yang mengubah perputaran
kincir yang pelan menjadi lebih cepat berputar.
Karena sebuah menara menghasilkan turbulensi di belakangnya, turbin
biasanya diarahkan melawan arah anginnya menara. Bilah bilah turbin dibuat
kaku agar mereka tidak terdorong menuju menara oleh angin berkecepatan tinggi.
Sebagai tambahan, bilah bilah itu diletakkan didepan menara pada jarak tertentu
dan sedikit dimiringkan.
Karena turbulensi menyebabkan kerusakan struktur menara, dan reabilitas
begitu penting, sebagian besar TASH merupakan mesin upwind (menurut jurusan
angin) dibuat karena tidak memerlukan mekanisme tambahan agar mereka tetap
sejalan dengan angin, dan karena disaat angin berhembus sangat kencang, bilah
bilahnya bisa ditekuk sehingga mengurangi wilayah tiupan mereka dan dengan
demikian juga mengurangi resintensi angin dari bilah bilah itu.
2. Turbin Angin Sumbu Vertikal (TASV)

Gambar 10. Turbin Angin Darrieus 30 m di Kepulauan Magdalen.


Turbin angin sumbu vertical atau tegak (TASV) memiliki poros atau sumbu
rotor utama yang disusun tegak lurus. Kelebihan utama susunan ini adalah turbin
tidak harus diarahkan ke angin agar menjadi efektif. Kelebihan ini sangat berguna
15

di tempat tempat yang arah anginnya sagat bervariasi. VAWT mampu


mendayagunakan angin dari berbagai arah.
Turbin angin sumbu vertical merupakan turbin angin yang sumbu
rotasinya tegak lurus terhadap permukaan bumi.
Dengan sumbu yang vertical, generator serta gearbox bisa ditempatkan
didekat tanah, jadi menara tidak perlu menyokongnya dan lebih mudah diakses
untuk keperluan perawatan. Tapi ini menyebabkan sejumlah desain menghasilkan
tenaga putaran yang berdenyut. Drag(gaya yang menahan pergerakkan sebuah
benda padat melalui fluida (zat cair atau gas) bisa saja tercipta saat kincir
berputar).
Karena sulit dipasang diatas menara, turbin sumbu tegak sering dipasang
lebih dekat ke dasar tempat ia diletakkan, seperti tanah atau puncak atap sebuah
bangunan. Kecepatan angin lebih pelan pada ketinggian yang rendah, sehingga
yang tersedia adalah energi angin yang sedikit. Aliran udara di dekat tanah dan
obyek yang lain mampu menciptakan aliran yang bergolak, yang bisa
menyebabkan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan getaran, diantaranya
kebisingan dan bearing wear yang akan meningkatkan biaya pemeliharaan atau
mempersingkat umur turbin angin. Jika tinggi puncak atap yang dipasangi menara
turbin kira kira 50% dari tinggi bangunan, ini merupakan titik optimal bagi
energi angin yang maksimal dan turbulensi angin yang minimal.
Turbin angin poros vertikal atau yang lebih dikenal dengan vertical axis
wind turbine (VAWT) memiliki ciri utama yaitu keberadaan poros tegak lurus
terhadap arah aliran angin atau tegak lurus terhadap permukaan tanah. TASV
terdiri dari beberapa tipe yang paling umum dijumpai yaitu: Savonius Rotor,
Darrieus Rotor, Giromill, dan H-Rotor.

a.

Savonius Rotor

16

Gambar 11. Savonius wind turbine


(Sumber:// http.www. wikipedia.org)
Turbin angin ini mempunyai konstruksi sederhana yang ditemukan oleh
sarjana Finlandia bernama Sigurd J. Savonius (1922). Turbin yang termasuk
dalam kategori TASV ini memiliki rotor dengan bentuk dasar setengah silinder.
Konsep turbin angin savonius cukup sederhana, prinsip kerjanya berdasarkan
differential drag windmill. Pada perkembangan selanjutnya, savonius rotor tidak
lagi berbentuk setengah silinder tetapi telah mengalami modifikasi guna
peningkatan performance dan efisiensi.
b.

Darrieus Rotor

Gambar 12. Darrieus wind turbine


(Sumber:// http.www. wikipedia.org)
Merupakan salah satu TASV dengan efisiensi terbaik serta mampu
menghasilkan torsi cukup besar pada putaran dan kecepatan angin yang tinggi.
Turbin angin Darrieus mengaplikasikan blade dengan bentuk dasar aerofoil
NACA. Mengacu pada bentuk blade, prinsip kerja turbin angin Darrieus
memanfaatkan gaya lift

yang terjadi ketika permukaan airfoil

NACA

dikenai aliran angin. Kelemahan utama dari turbin angin Darrieus yaitu yakni
17

memiliki torsi awal berputar yang sangat kecil hingga tidak dapat melakukan
self start. Pada aplikasiya, Darrieus wind turbin selalu membutuhkan perangkat
bantuan untuk melakukan putaran awal. Perangkat bantu yang digunakan berupa
motor listrik atau umumnya lebih sering menggunakan gabungan turbin angin
Savonius pada poros utama.
c. Giromill

Gambar 13. Giromill wind turbin helical


(Sumber://http.www. google.com)

Bentuk pengembangan lanjut turbin angin Darrieus dengan latar belakang


untuk meminimalisasi kekurangan. Turbin angin Giromill memiliki tiga
konfigurasi bentuk blade, yaitu: straight, helical twisted V, atau curved bladed.
d.

Turbin angin Darieuss H-Rotor


Bentuk pengembangan lanjut dari turbin angin

tipe Darrieus dengan

keperluan produksi daya yang kecil. Turbin angin Darrieus memiliki torsi rotor
yang relatif rendah tetapi putarannya lebih tinggi dibanding dengan turbin angin
Savonius sehingga lebih diutamakan untuk menghasilkan energi listrik.

18

Gambar 14. Turbin angin Darieuss H-Rotor


(Sumber : Dokumen penulis)

Gambar 15. Jenis-Jenis Turbin Angin Sumbu Vertikal


(Sumber: Wind Turbines, Eric Hau)
2.4 Manfaat Dari Energi Angin
Beberapa manfaat dari energi angin adalah :
1.
Sebagai energi alternatif pengganti energi konvensional

19

Gambar 16. Kincir Angin


Berdasarkan catatan, Indonesia menggunakan bahan bakar fosil sebesar
hampir 70% dari total energi primer, dan 84% dari total bahan bakar
pembangkit listrik. Dengan terbatasnya kapasitas simpanan bahan bakar
fosil yang ada di Indonesia, energi angin mutlak diperlukan. Peningkatan
penggunaan energi angin tersebut bahkan akan bertambah krusial jika
Indonesia bertekad untuk melestarikan sumber daya alamnya untuk generasi
yang akan datang.
2.

Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Gambar 17. Siklus Energi Angin Menjadi Energi Listrik


Dengan adanya Turbin angin, kita bisa memanfaatkan energi angin sebagai
pembangkit listrik tenaga angin. Kini turbin angin lebih banyak digunakan
untuk mengakomodasi kebutuhan listrik masyarakat, dengan menggunakan
prinsip konversi energi dan menggunakan sumber daya alam yang dapat
diperbaharui yaitu angin.
Walaupun sampai saat ini pembangunan turbin angin masih belum dapat
menyaingi pembangkit listrik konvensonal (Contoh: PLTD,PLTU,dll),
turbin angin masih lebih dikembangkan oleh para ilmuwan karena dalam
waktu dekat manusia akan dihadapkan dengan masalah kekurangan sumber
daya alam tak terbaharui (Contoh : batubara, minyak bumi) sebagai bahan
dasar untuk membangkitkan listrik.

20

Dengan Demikian adanya energi angin sebagai energi nonkonvensional.


Bisa menggantikan energi bahan bakar fosil, sebagai sumber daya energi di
muka bumi ini. seperti pembangkitan listrik yang telah kita bahas tadi.
3. Sebagai Akomodasi di bidang Pertanian

Gambar 18. Kincir Angin Pertanian


Selain sebagai pembangkit listrik, kincir angin juga digunakan untuk
mengakomodasikan kebutuhan para petani dengan memanfaatkan energi
angin yang bermanfaat bagi para petani dalam melakukan penggilingan
padi, dan juga digunakan untuk memompa air untuk mengairi sawah.
Dengan demikian bisa kita bahwa energi angin bisa bermanfaat sebagai
pembangkit tenaga listrik yang murah dan sangat membantu dalam
akomodasi pertanian serta bisa menggantikan bahan bakar energi fosil yang
digunakan sebagai bahan dasar utama pembangkit listrik.
4.

Keperluan Irigasi

21

Gambar 19. Pemanfaatan Kincir Angin Sebagai Irigasi


Saluran irigasi air pada saat ini masih sangat dibutuhkan, terutama untuk
warga pedesaan yang mata pencaharian utamanya dari bertani dan
berternak. Sedangkan didaerah tersebut terdapat potensi alam berupa air
permukaan. Sehingga nantinya diharapkan dapat menjamin ketersediaan air
untuk pertanian pada saat musim kemarau.
Dan isu tentang efek rumah kaca yang berdampak pada kemarau panjang
membuat petani sulit mendapatkan air untuk mengaliri sawahnya.
Penggunaan mesin diesel air yang berbiaya cukup mahal (pembelian mesin
dan solar) dan dampak buruk terhadap manusia dan lingkungan (penyakit
dan udara kotor akibat asap).
5.

Sebagai Akomodasi di bidang Perikanan

Gambar 20. Kincir Angin Untuk Perikanan


Biasanya di pertambakan perikanan, orang menggunakan motor listrik
sebagai penggerak air kolam. Hal tersebut pastinya membutuhkan daya
listrik yang cukup besar. Berbeda dengan penggunaan kincir angin
sederhana untuk penggerak kolam, tidak menggunakan energi listrik,

22

melainkan menggunakan energi angin yang tentunya lebih efisien dan


ramah lingkungan, serta dapat menghemat penggunaan daya listrik.

BAB III
CADANGAN ENERGI ANGIN DI INDONESIA DAN DI DUNIA
3.1 Cadangan Energi Angin Di Indonesia
Indonesia, Negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan
mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu 80.791,42 km merupakan
wilayah potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin, namun
saying potensi ini nampaknya belum dilirik oleh pemerintah.
Table 1. Potensi Tenaga Angin di Indonesia

Kelas

Kecepatan

Daya

Angin ( m/s

Spesifik

( W/m2 )

Kapasitas

Lokasi

( kW )

( wilayah )

23

Skala
Kecil

Jawa, NTT,
2.5 4.0

< 75

s/d 10

NTB,
Maluku,
Sulawesi

Skala

NTB, NTT,

Menenga
h

Sulsel,
4.0 5.0

75 150

10 100

Sultra,
Selatan

Skala

Jawa
Sulsel,

Besar

NTB, NTT,
>5.0

>150

>100

Pantai
Selatan

Jawa
Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan,
Energi
Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (KESDM 2008)
Pemanfaatan angin di Indonesia masih kurang karena rata-rata kecepatan
angin di Indonesia yang masih lambat. Selain itu keluaran dari PLTB frekuensinya
tidak tetap karena profil angin yang selalu berubah-ubah. Tetapi secara umum
Indonesia bisa jadi memiliki potensi energi angin karena memiliki garis pantai
sehingga berhembus angin laut dan angin darat.
Ditengah potensi angin melimpah di kawasan pesisir Indonesia, total
kapasitas terpasang dalam system konversi energi angin saat ini kurang dari 800
kilowatt. Di seluruh Indonesia, lima unit kincir angina tau turbin angin
pembangkit berkapasitas masing masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun.
Tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas sama menyusul dibangun di empat
lokasi, masing masing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit dan
Nusa Penida, Bali serta Bangka Belitung yang masing masing satu unit.
Mengacu pada kebijakan energi nasional, maka pembangkit listrik tenaga bayu
(PLTB) ditargetkan mencapai 250 megaawatt (MW) pada tahun 2025.

24

Minyak bumi, gas alam, dan batubara memiliki keunggulan bila dilihat
kelimpahan dan jumlahnya yang tersedia di alam dalam waktu yang relatif
singkat. Kesemua bentuk energi tersebut dapat langsung digunakan dan
menghasilkan energi yang menjadi penopang hampir separuh kebutuhan energi
di dunia. Kegiatan manusia di zaman sekarang ini mengharuskan penggunaan
berbagai jenis energi

untuk menghasilkan listrik dan sebagai bahan bakar

kendaraan. Meskipun begitu, terdapat beberapa kelemahan pada penggunaan


minyak bumi, gas alam dan batu bara.
Penggunaannya terus menerus akan membuat sumber energi ini akan
segera habis bila tidak ditemukan sumber lain mengingat waktu yang dibutuhkan
untuk menghasilkan energi ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Selain
itu, proses penggunaan ini menghasilkan dampak lain yang tidak diinginkan
yaitu polusi berupa gas beracun seperti karbon dioksida(CO2), karbon
monoksida(CO) dan gas beracun lainnya. Salah satu isu tentang pemanasan
global menjadi indikator atas kelemahan

penggunaan jenis energi

ini.

Kelemahan lain dari jenis energi ini adalah ketersediaanya yang terbatas di
alam.

Hal

ini

mengharuskan

manusia

melakukan

efisiensi

dalam

pemanfaatannya.

Gambar 21. Aliran angin yang terjadi di Indonesia


(Sumber : http://www.bmkg.go.id/ )
Bentuk lain dari energi yang tersedia di alam yaitu energi surya, energi air,
energi angin, energi panas bumi, dan energi pasang surut air laut. Keuntungan

25

dari jenis energi ini adalah jenis energi ini merupakan energi yang berkelanjutan
(dapat digunakan terus menerus), mudah ditemukan hampir di seluruh dunia dan
tidak menghasilkan polusi. Pemanfaatan jenis energi ini secara maksimal akan
menjadi alternatif apabila di kemudian hari sumber energi seperti minyak bumi,
gas alam dan batu bara habis. Meskipun begitu, jenis energi ini memiliki
kelemahan yaitu ketersediaannya yang bervariasi(jumlahnya tidak tetap
sepanjang waktu). Adapun pemakaian energi di Indonesia ditunjukkan oleh
gambar berikut:

Gambar 22. Penggunaan energi di Indonesia dari total 1080 SBM


(Sumber : Indonesia outlook 2010, Pusdatin ESDM)
3.2 Cadangan Energi Angin Di Dunia
Pemanfaatan energi angin merupakan pemanfaat energi terbaharukan yang
paling berkembang saat ini. Berdasarkan data dari WWEA (World Wind Energy
Association) samapai dengan tahun 2007 perkiraan energi listrik yang dihasilkan
oleh turbin angin mencapai 93.85 Giga Wats, menghasilkan lebih dari 1 % dari
total kelistrikan secara global.

26

Gambar 23. Grafik Konversi Energi Angin


Gambaran tentang penggunaan energi di seluruh dunia ditunjukkan oleh
gambar berikut :

Gambar 24. Penggunaan energi di dunia dari total 143.851 pettawatthour


(Sumber : http://www.energibc.ca)
Sebagai perbandingan, berikut ini ditunjukkan negara negara yang telah
memanfaatkan energi angin untuk membangkitkan listrik .

Gambar 25. Negara yang telah memanfaatkan turbin angin sebagai pembangkit
listrik
(Sumber : Global wind statistic,2012)

27

Gambar 26 . Total kapasitas turbin angin yang sudah terpasang di dunia


( Sumber : http://www.gwec.net )

Amerika, Spanyol dan China merupakan Negara terdepan dalam


pemanfaatan energi angin. Diharapkan pada tahun 2010 total kapasitas
pembangkit listrik tenaga angin secara global mencapai 170 Giga Watt.
1. Amerika
Negara ini telah memanfaatkan tenaga angin cukup lama. Semenjak negara
ini cukup mempersiapkan berbagai peralatan pembangkit pada tempattempat yang ditargetkan dimana dapat didapat dengan jumlah sangat
maksimal,telah ada dan dalam jumlah sangat banyak untuk pembangkit
listrik bertenaga angin dan terbukti hal ini sangat menguntungkan mereka
dari ketergantungan terhadap energi minyak bumi yang harus mereka impor
dari negara lain dan dalam jumlah yang semakin signifikan.dan juga
,mereka dapat mengurangi tingkat polusi dengan angka yang sangat besar
pula.
2. India
Tenaga angin telah mengkonstribusi sekitar 5% dari total kebutuhan energi
di India , Dengan trend kebutuhan yang kian meningkat Beberapa ahli
memprediksi bahwa India akan menjadi salah satu negara yang paling maju
dan akan melampaui beberapa negara mju lainnya dalam beberapa tahun
kedepan dalam pemanfaatan sumber energi alternative.
3. German

28

Negara ini sangat tergantung pada sumber energi hijau ini dan lebih dari
10% dari total kebutuhan nergi di negara itu dicukupi dengan energi tenaga
angin.
4. Perancis
Negara ini juga masuk dalam puncak daftar negara-negara yang
menggunakan energi hijau yang paling maju Perancis bukan hanya
memanfaatkan energi angin untuk mencukupi kebutuhan energi akan tetapi
juga memanfaatkan energi samudera sebagai sumber cadangan energi.
5. Spanyol
Penggunaan tenaga angin telah meluas dengan kincir anginnya hampir
diseluruh penjuru Spanyol. Negara ini telah berkomitmen untuk melidungi
kelangsungan lingkungan dan lebih dari 10% kebutuhan energi didapatkan
dari tenaga angin.
6. Inggris raya(UK)
Tingkat effisiensi dari operasional kincir angin di negara ini cukup tinggi
karena dilokasikan pada tempat yang memiliki ketersediaan angin cukup
tinggi .Selain itu jumlahkincir angin dengan jumlah yang cukup signifikan ,
dan mencukupi sekitar 1-2% dari seluruh cadangan nergi nasional negara itu
didapat dari energi angin.
7. China
Karenamemiliki populasi yang sangat tinggi,China telah memulai untuk
mencari sumber energi alternatif termasuk sekarang pemanfaatan energi
angin seperti sekarang ini. Jumlah kincir angin semakin lama semakin
meningkat di China dan mereka cukup efisien dalam memanfaatkannya.
8. Denmark
Hampir tidak ditemukan masalah pencemaran di negara itu , karena di
Denmark sekitar 20% kebutuhan energi listrik dicukupi dengan tenaga
kincir angin .Dengan tingkat efisiensi yang cukup tinggi dalam pemanfaatan
energi alternative.
9. Italia

29

Menjadi ramah lingkungan dan berorientasi kedepan dengan menjaga


kelestarian alam, Italia selalu berusaha memanfaatkan energi alternatif
sebagai salah satu cara terbaik dan paling bijaksana untuk kelangsungan
hidup.
10. Portugal
Bahkan untuk negara sekecil ini berusaha memanfaatkan total kebutuhan
energi listriknyasekitar 11% dari kekuatan angin , sepengetahuan saya 10
tahun yang lalu mereka juga memanfaatkan kekuatan energi gelombang
dengan generator pelamis

30

BAB IV
PENUTUP

4.1Kesimpulan
Angin adalah udara yang bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang
rendah, yang terjadi dialam.

Energi angin adalah pemanfaatan angin sebagai

sumber energi. System energi angin adalah perubahan energi kinetic


(pergerakkan) dari angin menjadi energi mekanik atau listrik yang bisa
dimanfaatkan untuk kepentingan praktis
Angin dikendalikan oleh energi dari matahari, merupakan udara yang
bergerak, sehingga ia mempunyai energi gerak yakni energi kinetic. Alat yang
umum digunakan dalam pengukuran kecepatan angin disebut anemometer. Energi
angin dimanfaatkan sebagai salah satu energi pembangkit listrik melalui kincir
angin atau turbin angin untuk menghasilkan listrik.
Pada Pembangkit Listrik Tenaga Angin digunakan beberapa sistem
kelistrikan yaitu sistem kelistrikan lepas jaringan, terhubung dengan baterai,
terhubung tanpa baterai, dan langsung tanpa baterai. Turbin angin merupakan
mesin dengan sudu berputar yang mengonversikan energi kinetik angin menjadi
energi mekanik. Yang dibedakan menjadi turbin angin berdasarkan prinsip
aerodinamik ( turbin angin dengan gaya drag dan turbin angin dengan gaya lift )
dan turbin angin berdasarkan sumbu rotornya ( turbin angin sumbu horizontal dan
turbin angin sumbu vertikal ).
4.2 Saran

31

Dari makalah yang penulis buat, adapun saran yang dapat penulis
sampaikan adalah Hendaknya pemerintah lebih memperhatikan pemanfaatan
energi terbarukan seperti energi angin ini yang memiliki sistem pengolahan yang
sederhana, dan kepada para pembaca semoga makalah ini bermanfaat untuk
menambah wawasan.
DAFTAR PUSTAKA
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16171/4/Chapter%20I.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_angin
http://renewableenergyindonesia.wordpress.com/2008/03/05/pembangkit
listrik-tenaga-angin/ http://id.wikipedia.org/wiki/Turbin_angin
http://www.scribd.com/doc/23628350/Konversi-Energi-Angin
Astu Pudjanarso & Djati Nursuhud, Mesi Konversi Energi, 2006,
Yogyakarta: Andi offset
Sasongko, Firman. 2009. Dampak Lingkungan Pembangkit Listrik Tenaga
Angin
Bastomi Akhwan .2011. Simulasi konvensi energi angin menjadi energi
listrik pada turbin angin. Malang
Daryato . 2007. Energi Masalah dan Pemanfaatannya Bagi Kehidupan
Manusia. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
Ati, Harmoni. 1992. Pengantar Ilmu Alamiah Dasar. Depok : Gunadarma
Anonim. 2012. Energi angin. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Ketenagalistrikan, Energi baru, Terbarukan dan Konservasi energi.
Diunduhdarihttp://www.p3tkebt.esdm.go.id/
Kusniana D. 2008. Kondisi riil kebutuhan energi di Indonesia dan sumbersumber energi alternatif terbarukan. Direktorat Jenderal Listrik dan
Pemanfaatan Energi. Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Diunduh dari http://repository.ipb.ac.id/bitstream/

32