Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target
seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Taala. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok
yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak
mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk
menduduki posisi terhormat di mata Allah Subhanahu Wa Taala. Rasulullah
Salallahu Alaihi Wasallam pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga
seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang
sempurna dan akhlak yang mulia.
Al-Fairuzabadi berkata: Ihsan adalah tingkatan ibadah yang paling tinggi,
karena ia adalah inti keimanan, ruhnya, sekaligus kesempurnaannya. Dan semua
tingkatan lainnya terkandung di dalam ihsan. Allah Swt. berfirman: Tidak ada
Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. Ar-Rahmn: 60). Ihsan di dalam
niat, yaitu membersihkan niat dari segala tujuan duniawi, menguatkannya dengan
tekad yang tidak pernah menurun, dan mensucikannya dari segala kotoran yang
dapat merusak niatnya. Sedangkan ihsan dalam prilaku, yaitu memelihara prilaku
dengan penuh semangat serta menjaganya agar tidak melenceng.1
Latar belakang terbuatnya makalah ini karena banyaknya seorang muslim
yang memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, yang
seharusnya dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari
keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman,
Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi
Wassallam.

1 Ahmad Musthafa Mutawali, Juz Kedua, Cet, Pertama, Tarbiyah Al-Auld f al-Islm,(Qhirah:
Dr Ibn al-Jauizi, 1426 H/ 2005 M), h. 16.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dengan uraian latar belakang diatas penulis hendak menyajikan
makalah yang berkisar pada permasalahan hadis sahih, hasan dhaif dan maudhu
yang bertitik tolak pada permasalahan, sebagai berikut:
1.2.1 Apa definisi ihsan?
1.2.2 Bagaimana konsep ihsan dalam Al-Quran?
1.2.3 Bagaimana tingkatan ihsan?
1.2.4 Bagaimana wujud atau aspek ihsan?
1.2.5 Bagaimana macam-macam ihsan?
1.2.6 Bagaimana keutamaan ihsan?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini, yaitu untuk mengetahui:
1.3.1
1.3.2
1.3.3
1.3.4
1.3.5
1.3.6

Apa definisi ihsan.


Bagaimana konsep ihsan dalam Al-Quran.
Bagaimana tingkatan ihsan.
Bagaimana wujud atau aspek ihsan.
Bagaimana macam-macam ihsan.
Bagaimana keutamaan ihsan.

BAB II
PEMBAHASAN
IKHSAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

2.1 DEFINISI IKHSAN


Ihsan (I) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti kesempurnaan
atau terbaik. Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang
menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu
membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa
sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Pengertian Ihsan secara etimologi dalam buku Triologi Islam ( Islam, Iman
dan ihsan) terjemahan dari buku The Vision Of Islam karya Saciko Murata dan
William C. Chittik ialah: Ihsan berasal dari kata husna, yang menunjuk pada
kualitas sesuatu yang baik dan indah. Dalam kamus dinyatakan bahwa kata
husna, dalam pengertian yang umum, bermkna setiap kualitas yang positif
(kebajikan, kejujuran, indah, ramah, menyenangkan, selaras, serasi dll.). lawan
kata husna adalah qabih (sifat yang menjijikkan) dan suu ( buruk atau jahat).
Banyak kamus yang tidak mempertimbangkan kata husn, yang menjadi
sinonom dari kata khair. Husna adalah kebikan yang tidak dapat dilepaskan dari
keindahan dan sifat-aifat yang memikat, sementara itu kata khair merupakan suatu
kebaikan yang memberikan kegunaann konkret, sekalipun sesuatu tersebut tidak
indah dan tidak bersifat memikat atau ia semata berati lebih baik dari pada
alternatif lain-nya. Kita sering meliha kata khair dalam bentuk perbandingan kata
sifat.
Al-Quran menggunakan kata hasanat, dari akar kata yang sama dengan
husna, pada makna suatu perbuatan atau sesuatu hal yang bersifat biak atau indah.
Lawan dari kata sayiat, suatu perbuatan atau suatu hal yang buruk. Sebuah hasana
dapat dilakukan oleh manusia dan Tuhan, sedangkan sayiat hanya dilakukan oleh
manusia.2
Sedangkan secara bahasa, pengertian Ihsan dapat kita ketahui langsung dari
hadits jibril diatas yaitu
2 Saciko Murata, William C. Chittik, Triologi Islam (Islam,Iman dan ihsan), terj. Ghufron. A.
Masadi, (Jakarta: Pt Raja Grafindo, 1997), h.294-295.


Artinya:
Hendaklah kamu beribahdah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya,
jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihat kamu.3
Ada juga yang menyatakan bahwa ihsan itu ialah: Melakukan ibadah
dengan khusyuk, ikhlas dan yakin bahawa Allah sentiasa mengawasi apa yang
dilakukannya.
Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia
mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain.
Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu,
kedudukan dan badannya.4 Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu
Iman, Islam, dan Ihsan. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak
memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus
dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian.
Orang yang Muhsin dia adalah seseorang yang dapat melihat al-Haq/Allah
yang bersifatkan dengan sifat seorang hamba, maka hamba melihat-Nya berada
dibalik sifat-sifatnya dengan tanpa perbedaan, dengan penuh keyakinan. Maka ia
tidaklah melihat al haqiqah dengan haqiqah. Karena Allah taala yang
memperlihatkan sifat padanya dengan sifatnya.5 Dimana dalam pengertian di atas
mereka telah menjadikan makna muraqabah / perasaan diri terhadap pengawasan
Allah dengan penglihatan kepada Allah yang sebenarnya di segala hal.6
2.2 KONSEP IHSAN DALAM AL-QURAN
3 Imam Muslim, al-Jamiush Shahih, CD al-Maktabah al-Syamilah, Global Islamic Software.
4 Majmu fatawa (3/216-219); Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
5 (Lihat Istilah Al Kasani hal 53).
6 (Lihat Lathaaif Ilam, 1/178).

Dalam Al-Qur`an, terdapat seratus enam puluh enam (166) ayat yang
berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu
makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ihsan ini, hingga mendapat
porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an.
Ihsan berasal dari kata yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan
bentuk masdarnya adalah , yang artinya kebaikan. Allah Subhanahu Wa
Taala berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.


Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan
jika kamu berbuat jahat. Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.........
(Al-Isra: 7)

...


.... dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan
yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk
Allah Subhanahu Wa Taala. Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang
senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Taala. Sebab,
ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Ihsan adalah
mashdar dari

yang memiliki dua makna:


( aku

1. Kata Ahsana itu bersifat transitif dengan sendirinya. Seperti ucapan:

artinya

adalah ( aku membaguskannya) dan


menyempurnakannya).



Ihsan yaitu kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan
jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu. (HR.
Muslim, Kitab Iman 1/37)
Makna ini kembali kepada membaguskan ibadah dan menyempurnakannya;
melaksanakan ibadah sebagaimana yang dicintai oleh Allah dalam bentuk yang
paling sempurna, dengan merasakan muraqabah Allah didalamnya, menghadirkan
keagungan-Nya disaat memulai hingga mengakhirinya.
2. Makna kedua adalah bersifat transitif dengan huruf jarr

()

seperti ucapan

artinya saya telah menyampaikan kebaikan atau manfaat

kepadanya. Jadi maknanya adalah menyampaikan berbagai macam manfaat kepada


makhluk, masuk kedalam makna ini berbuat baik (ihsan) kepada hewan

Adapun yang dimaksud ihsan bila dinisbatkan kepada peribadatan kepada


Allah adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululluah shalallahu alaihi
wa sallam dalam hadist Jibril :
Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? Beliau menjawab, Kamu
menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak
melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu. (H.R. Muslim 102).7
Dalam hadits Jibril, tingkatan Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan mengenai ihsan yaitu Engkau
beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak
mampu melihat-Nya, Allah akan melihatmu. Itulah pengertian ihsan dan
rukunnya.
Syaikh Abdurrahman as Sadi rahimahullah menjelaskan bahwa ihsan
mencakup dua macam, yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan
dalam menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah
maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi
7 Lihat Syarh Tsalaatsatil Ushuul 95-96, Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin.

oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam hak makhluk adalah dengan menunaikan hakhak mereka. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah.
Yang hukumnya wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil
dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah misalnya memberikan bantuan
tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang. Salah satu
bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat
jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.8
2.3 TINGKATAN IHSAN
Syaikh Sholeh Alu Syaikh hafidzahullah menmberikan penjelasan bahwa
inti yang dimaksud dengan ihsan adalah membaguskan amal. Batasan minimal
seseorang dapat dikatakan telah melakukan ihsan di dalam beribadah kepada
Allah yaitu apabila di dalam memperbagus amalannya niatnya ikhlas yaitu
semata-mata mengharap pahala-Nya dan sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu
alaihi wa sallam. Inilah kadar ihsan yang wajib yang harus ditunaikan oleh setiap
muslim yang akan membuat keislamannya menjadi sah. Adapun kadar ihsan yang
mustahab (dianjurkan) di dalam beribadah kepada Allah memiliki dua tingkatan,
yaitu :
2.3.1

Tingkatan Muroqobah
Yakni seseorang yang beramal senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan

oleh Allah dalam setiap aktivitasnya. Ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu
alaihi wa sallam (jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia
melihatmu). Tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu
memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah melihatnya. Tingkatan
inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan
shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia
memperbagus shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana Allah firmankan dalam
surat Yunus,

8 Lihat Bahjatu Qulubil Abraar 168-169, Syaikh Abdurrahman as Sadi.


........

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat
dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan
Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya (QS. Yunus:
61)

2.3.2

Tingkatan Musyahadah
Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, yaitu seseorang senantiasa

memeperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dengan


sifat-sifat tersebut. Inilah realisasi dari sabda Nabi (Kamu menyembah Allah
seakan-akan kamu melihat-Nya).Pada tingkatan ini seseorang beribadah kepada
Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan
di sini bukanlah melihat dzat Allah, namun melihat sifat-sifat-Nya, tidak
sebagaimana keyakinan orang-orang sufi. Yang mereka sangka dengan tingkatan
musyahadah adalah melihat dzat Allah. Ini jelas merupakan kebatilan. Yang
dimaksud adalah memperhatikan sifat-sifat Allah, yakni dengan memperhatikan
pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang hamba sudah memiliki
ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan
semua tanda kekuasaan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah
tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan.9
K.H. Abdul Rahim Arsyad memberikan penjelasan tentang konsep tingkatan
ibadah hubungannya dengan ihsan baik dalam hubungan kepada Allah SWT,
sesama manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Adapun tingkatan tersebut ada
tiga, yaitu:
9Lihat Syarh Arbain an Nawawiyah penjelasan hadist ke 2, Syaikh Sholeh Alu Syaikh.

1) Allah SWT. seolah-olah melihat kita


Jika kamu tidak mampu beribadah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu. Tingkatan ini merupakan tingkatan ibadah dari
seseorang yang lari dari adzab dan siksanya. Dan hal ini lebih rendah
tingkatannya daripada tingkatan yang pertama, karena sikap ihsannya didorong
dari rasa diawasi, takut akan hukuman. Sehingga, dari sini, ulama salaf
berpendapat bahwa, "Barangsiaa yang beramal atas dasar melihat Allah
Subhanahu wa Ta'ala, maka dia seorang yang arif, sedang siapapun yang bermal
karena merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia seorang yang ikhlas
(mukhlis).10
2) Seorang hamba seakan-akan melihat Allah SWT. (Ka-Annaka Taraahu)
Ada keterangan yang mengatakan tafakkaru fi kholkillah wala tatafakkaru
fi dzatillah artinya, Tafakurlah (berpikirlah) tentang ciptaan Allah dan jangan
membayangkan Dzat Allah, karena Allah tidak bisa tersentuh dengan bayangan
kita. Orang yang beribadah dalam tingkatan ini seakan merasa melihat dan
menyaksikan Allah SWT. secara langsung. Allah terasa benar-benar hadir dalam
setiap ibadah yang dilakukannya. Ini merupakan tingkatan ibadah orang-orang
yang benar (shiddiqqin).
Sesuatu yang kita bayangkan merupakan bagian dari cadangan
pengetahuan yang pernah masuk dalam memori kita. Dari cadangan
pengetahuan itu, kita bisa membentuk pengetahuan baru. Padahal bentuk Allah
tidak ada di dalam memori kita dan kalaupun ada, itu pasti buatan kita dari
cadangan pengetahuan yang sudah tersimpan dalam memori.
Oleh karena itu, Allah laisa kamitslihi syaiun, Allah itu tidak bisa
diserupakan dengan apa pun juga. Lihat saja tanda-tanda kekuasaan, keagungan,
dan kebesaran Allah yang ada di alam semesta bukan membayangkan Dzat-Nya
Yang Maha-suci. Jadi, yang dimaksud Beribadahlah kamu kepada Allah
seolah-olah kamu melihat Allah bukanlah membayangkan Dzat Allah Swt.,
10 an-Najar (2014), hal.41-43

melainkan bersungguh-sungguhlah dalam melakukan kewajiban-kewajiban kita


karena Allah Maha Melihat apa pun yang kita kerjakan.
3) Melihat Allah SWT.
Konsep di atas sejalan dengan konsep wahdatul wujud ibnu Arabi. Wahdatul
wujud merupakan faham bahwa manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu
kesatuan wujud. Menurut faham ini bahwa setiap sesuatu yang ada memiliki dua
aspek, yaitu aspek luar dan aspek dalam .Aspek luar disebut makhluk(al- Khalq)
aspek dalam disebut Tuhan (al haqq). Menurut faham ini aspek yang sebenarnya
ada hanyalah aspek dalam (Tuhan) sedangkan aspek luar hanyalah bayangan dari
aspek dalam tersebut.11
Konsep Wahdat al-adyan memandang bahwa sumber agama adalah satu,
yaitu hakikat Muhammadiyyah. Konsekuensinya semua agama adalah tunggal dan
semua itu kepunyaan Allah. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ibadah
yang benar hendaknya seorang abid memandang semua apa saja sebagai bagian
dari ruang lingkup realitas dzat Tuhan yang Tunggal.
Melaksanakan ibadah dengan konsep wahdatul wujud adalah pencapaian
paling tinggi dalam sebuah ibadah. Ibadah dengan konsep ini hanya mampu
dilakukan oleh seorang sufi yang mendapatkan ilham dari Allah SWT. Selain ibnu
Arabi terdapat seorang sufi yang memiliki dan mengalami konsep serupa yaitu alHallaj. Beliau adalah seorang sufi, dalam pengalaman spiritualnya al-Hallaj
menemukan jalan untuk melepaskan dahaga rohaninya, al-Baghdadi menyuruhnya
untuk menunaikan ibadah haji. Disaat melaksanakan ibadah haji, al-Hallaj
menemukan sebuah ilham, bukan inspirasi, yang membawanya pada kesadaran
"penyatuan antara dia dan Allah. Ilham itu sudah tentunya merupakan hal pribadi
yang tak tersentuh oleh orang yang tidak mengalaminya. Intisari dari ilham yang
dia temukan itulah yang disebut Wahdatul Wujud.
Menurut al-Hallaj di antara hamba dan Tuhan terdapat garis pemisah yang
menegaskan hakikat masing-masing. Garis pemisah itu sangat dekat, yaitu yang
menyembah dan yang disembah (al-Abid wal Mabud). Pada keadaan dimana
ingatan hanya tertuju kepada Allah semata-mata, dan menolak selain Allah,
11 M. Jamil. Cakrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran dan Kontekstualitas, (Jakarta: GP
Press, 2007), h.109.

10

termasuk diri sendiri, maka al-Abid pun lenyap, dan tinggallah al-Mabud.
Kebaqaan al-Mabud merupakan hasil dari fananya al-Abid. Pada titik inilah
garis pemisah dan pembeza hakikat pun hilang, sehingga pada hakikatnya yang
menyembah dan yang disembah adalah satu. Bahwa yang dimaksud oleh al-Hallaj
adalah al-Abid melebur masuk kedalam al-Mabud, dan bukan al-Mabud
merasuki tubuh al-Abid. Jika kesadaran al-Abid masih zahir, maka tidak fanalah
dia, dan jika fana maka al-Mabud lahyang zahir dan al-Abid menjadi batin atau
rahasia yang tersembunyi dibalik kebesaran Allah Swt.
Sangat penting untuk disadari bahwa mula-mula para sufi melakukanapa
yang diistilahkan dengan takhalli atau penyucian jiwa, sebahagian menyebutnya
tazkiyatunnafs. Kemudian tahalli, yakni menghiasi diri dengan amal shalih.
Takhalli bagi para sufi adalah zuhud dan tahalli adalah bertarikat. Bertarikat dan
berzuhud merupakan esensi dari kehidupan sufi. Mereka berzuhud demi menolak
segala sesuatu selain Allah, dan bertarikat demi mendekatkan diri kepada Allah,
dengan melalui amal shalih tentunya. Akan tetapi tingkatan beramal mereka
bukan pada tataran menggugurkan kewajiban semata, melainkan karena cinta dan
kerinduan kepada Allah. Sebagai hasilnya adalah tahalli, atau marifat.
2.4 WUJUD ATAU ASPEK DALAM IHSAN
Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah
ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan
dalam ihsan
a. Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua
jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar,
yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak
akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan
ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat
(menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa
memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan olehNya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya,

11

karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan
sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan.
b. Muamalah
Ihsan dijelaskan Allah Subhanahu Wa Taala. pada surah An-Nisaa ayat 36,
yang berbunyi sebagai berikut,


Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga
yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri.
c. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan
muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia
telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits
yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan
melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah
12

senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka
sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah
menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan
dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang yang diperoleh dari
hasil maksimal ibadahnya maka kita akan menemukannya dalam muamalah
kehidupannya.

Bagaimana

ia

bermuamalah

dengan

sesama

manusia,

lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri.


Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah mengatakan dalam sebuah hadits, Aku
diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.

2.5 MACAM-MACAM IHSAN


Dilihat dari macam-macamnya, setidak-tidaknya ada tiga macam ihsan,
yaitu ihsan kepada Allah, ihsan kepada manusia dan ihsan kepada segala sesuatu.
Dilihat dari macam-macamnya, setidak-tidaknya ada tiga macam ihsan, yaitu
ihsan kepada Allah, ihsan kepada manusia dan ihsan kepada segala sesuatu.
2.5.1

Ihsan kepada Allah


Ihsan kepada Allah adalah berbuat baik bahkan yang terbaik dalam

mengabdi kepada Allah. Dalam hal ini, ketika beribadah kepada Allah terutama
ketika shalat, ia benar-benar merasakan seakan-akan berhadapan dan melihat
Allah. ikap ihsan kepada Allah adalah sikap yang khusyu dalam beribadah, dan
merasakan Allah begitu dekat dengannya, sehingga ia merasakan selalu dalam
pengawasan Allah Swt.
2.5.2

Ihsan Kepada Manusia


Ihsan kepada manusia adalah berbuat baik kepada orang lain dengan niat

yang tulus, tanpa pamrih dan penuh kasih sayang. Sikap ihsan ini pernah
dicontohkan oleh Nabi Saw di masa hidupnya hingga menjelang wafatnya. Sikap

13

ihsan kepada sesama manusia adalah bersikap lembut dan kasih sayang kepada
orang lain, meski orang lain tersebut pernah memperlakukan dirinya dengan tidak
baik. Mengenai sikap ihsan kepada manusia ini, Nabi Saw pernah bersabda:


:
( )

Nabi Saw bersabda: sesungguhnya ihsan itu adalah engkau berbuat baik
kepada orang yang telah berbuat buruk kepadamu. Dan tidaklah disebut
ihsan jika engkau berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik
kepadamu (Tafsir Ibn Abi Hatim, Vol.54 hal.119)
Allah suka kepada manusia yang bisa bersikap ihsan kepada sesama manusia,
lebih-lebih jika sikap ihsan itu dilakukan terhadap kedua orang tuanya. Secara
khusus Allah memerintahkannya dengan firmanNya:



Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
(QS. Al Isra, 23)
Betapa mulianya berbuat ihsan kepada kedua orang tua hingga Nabi Saw
bersabda:

14




Ridha Allah tergantung kepada ridha kedua orang tua dan murka Allah
tergantung kepada murka kedua orang tua (HR. Al-Tirmidzi. Ibn Hibban
dan al-Hakim mensahihkannya).
Di sini Allah dan RasulNya menegaskan bahwa Allah menyukai orangorang yang berbuat ihsan kepada sesama manusia, terutama kepada kedua orang
tuanya.
2.5.3

Ihsan kepada hewan dan lainnya


Selain ihsan kepada Allah dan sesama manusia, kita juga diperintahkan

untuk berbuat ihsan kepada yang lain, seperti ihsan kepada hewan dan alam di
sekitarnya. Ihsan di sini adalah berbuat sesuatu dengan cara yang baik, santun dan
penuh kasih sayang. Nabi Saw bersabda:



Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berbuat baik
(ihsan) pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan
baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik (HR.
Muslim)
Berdasarkan hadits tersebut kita diwajibkan berbuat ihsan dalam segala hal.
Jika ihsan kepada Allah dilakukan dengan melakukan ibadah yang khusyu,
merasakan adanya kedekatan dengan Allah, sehingga seakan-akan sedang
beraudensi dengan Allah, dan ihsan kepada manusia dengan berbuat kasih sayang
kepada sesama tanpa pamrih, tulus dan ikhlas meski pernah diperlakukan tidak
baik, maka ihsan kepada yang lain termasuk kepada hewan adalah dengan cara
yang santun dan kasih sayang. Misalnya saat mau menyembelih hewan, maka cara
bersikap ihsan kepadanya adalah dengan mempersiapkan pisau yang tajam
sehingga tidak terlalu menyakitkan saat menyembelihnya.
2.6 KEUTAMAAN IHSAN
2.6.1 Allah SWT. Beserta Orang-Orang Yang Berbuat Ihsan
15

Allah Subhanahu wa Taala berfirman,


Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang
yang berbuat ihsan. (QS. An Nahl: 128).
Dalam ayat ini Allah menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang
bertakwa kepada Allah, yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi
segala yang haram. Kebersamaan Allah dalam ayat ini adalah kebersamaan yang
khusus. Kebersamaan khusus yakni dalam bentuk pertolongan, dukungan, dan
petunjuk jalan yang lurus sebagai tambahan dari kebersamaan Allah yang umum
(yakni pengilmuan Allah). Makna dari firman Allah ( dan orang-orang yang
berbuat ihsan) adalah yang mentaati Rabbnya, yakni dengan mengikhlaskan niat
dan tujuan dalam beribadah serta melaksankanan syariat Allah dengan petunjuk
yang telah dijelasakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.12
Dalam ayat lain Allah berfirman,


Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan. (Al
Baqarah:195)
Ketika menafsirkan ayat ini Syaikh As Sadi menjelaskan bahwa ihsan
pada ayat ini mecakup seluruh jenis ihsan. Hal ini karena tidak ada
12 Lihat Husuulul Mamuul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul hal.41, Syaikh Sholeh al Fauzan.

16

pembatasan pada ayat ini. Maka termasuk di dalamnya ihsan dengan harta,
kemuliaan, pertolongan, perbuatan memerintahkan yang maruf dan
mencegah dari yang mungkar, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan
perbuatan ihasan lain yang diperintahkan oleh Allah. Termasuk di
dalamnya juga adalah ihsan dalam beribadah kepada Allah. Hal ini
sebagaimnan sabda Nabi Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia
2.6.2

melihatmu..
Memperoleh Ampunan Allah SWT

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak


nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang
besar.
Untuk ayat,


Terdapat penafsiran lainnya dari para ulama. Intinya, ada empat penafsiran
mengenai ayat ini:
1. Mereka takut pada Allah, namun mereka tidak melihat-Nya. Inilah
pendapat mayoritas ulama.
2. Mereka sangat takut akan siksa Allah walaupun mereka tidak melihatNya. Inilah pendapat Maqotil.
3. Mereka takut pada Allah ketika tidak ada satu pun yang menyaksikan
mereka. Inilah pendapat Az Zujaj.
4. Mereka takut pada Allah jika mereka bersendirian (tidak tampak di
hadapan manusia) sebagaimana mereka takut jika mereka berada di
hadapan manusia. Inilah pendapat Abu Sulaiman Ad Dimasyqi.
Tafsiran ketiga telah dijelaskan pada point sebelumnya. Tafsiran ketiga ini
hampir sama dengan tafsiran keempat. Sedangkan tafsiran pertama dan kedua
hampir sama. Untuk tafsiran pertama inilah yang kita sering lihat pada terjemahan

17

Al Quran (termasuk terjemahan DEPAG RI) sebagaimana pendapat jumhur


(mayoritas) ulama. Sehingga biasanya ayat tersebut diartikan:


Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak
nampak oleh mereka. (QS. Al Mulk: 12)
2.6.3

Pahala Surga dan Melihat Wajah Allah SWT


Barangsiapa yang memiliki sifat ihsan tersebut, maka dia tergolong orang-

orang yang Allah terangkan dalam firman-Nya:


Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya (melihat wajah Allah taala) (QS Yunus: 26) Allah akan
bersamanya, memberinya petunjuk, membimbingnya, serta menolongnya
dalam setiap urusannya.13
Allah Taala juga berfirman:


13 Taisiirul Kariimir Rahmaan tafsir surat al Baqarah 195, Syaikh Abdurrahman as
Sadi.

18

Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya


serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah
menyediakan bagi siapa yang berbuat ihsan (kebaikan) diantaramu pahala
yang besar. (QS. Al Ahzab: 29)

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dalam Al-Qur`an, terdapat seratus enam puluh enam (166) ayat yang
berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu
makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ihsan ini, hingga mendapat

yang

yang

porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Ihsan berasal dari kata
artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah
artinya kebaikan.

Allah Subhanahu Wa Taala berfirman dalam Al-Qur`an

mengenai hal ini.


Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan
jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.........
(Al-Isra: 7)

...



19

.... dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ihsan adalah mashdar dari

yang memiliki dua makna:



( aku

1. Kata Ahsana itu bersifat transitif dengan sendirinya. Seperti ucapan:


artinya adalah
( aku
menyempurnakannya).

membaguskannya)

2. Makna kedua adalah bersifat transitif dengan huruf jarr

dan

( )seperti ucapan

artinya saya telah menyampaikan kebaikan atau manfaat


kepadanya. Jadi maknanya adalah menyampaikan berbagai macam manfaat
kepada makhluk, masuk kedalam makna ini berbuat baik (ihsan) kepada hewan

. Adapun kadar ihsan yang mustahab (dianjurkan) di dalam beribadah


kepada Allah memiliki dua tingkatan, yaitu Tingkatan Muroqobah dan Tingkatan
Musyahadah.
Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah
ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan
dalam ihsan yaitu: ibadah, muamalah dan akhlak
Dilihat dari macam-macamnya, setidak-tidaknya ada tiga macam ihsan,
yaitu ihsan kepada Allah, ihsan kepada manusia dan ihsan kepada segala sesuatu.
a. Ihsan kepada Allah,
b. Ihsan kepada manusia,
c. Ihsan kepada hewan dan lainnya,
Keutamaan Ihsan
a. Allah SWT. Beserta Orang-Orang Yang Berbuat Ihsan
b. Memperoleh Ampunan Allah SWT
c. Pahala Surga dan Melihat Wajah Allah SWT
3.2 SARAN

20

Semoga makalah ini bermanfaat buat para pembaca. Karya ini masih jauh
dari kesempurnaan. Olehnya itu penulis mengharap kritik dan saran pembaca.
Demikian, Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman as Sadi. Taisiirul Kariimir Rahmaan Tafsir Surat al Baqarah 195


Ali Rifan dkk, 2012. Indonesia Hari Esok. Obsesi Pers: Purwokerto.
Jamil, M. 2007. Cakrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran dan Kontekstualitas.
Jakarta: GP Press.
Muhfathurrahman. Word press. Com /2012 /09 /09 /ihsan
Murata, Saciko & William C. Chittik. 1997. Triologi Islam (Islam, Iman dan
Ihsan). terj. Ghufron. A. Masadi. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Muslim, Imam. al-Jamiush Shahih. CD al-Maktabah al-Syamilah, Global Islamic
Software.
Naim, Ngainun. 2011. Dasar-dasar Komunikasi Pendidikan. Ar-Ruzz Media:
Jogjakarta.
Syaikh Abdurrahman as Sadi.Bahjatu Qulubil Abraar 168-169,
Syaikh Sholeh al Fauzan. Husuulul Mamuul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul
Syaikh Sholeh Alu Syaikh. Syarh Arbain an Nawawiyah penjelasan hadist ke 2.
Syarh Tsalaatsatil Ushuul 95-96, Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin.

21

22