Anda di halaman 1dari 1

2.5.

2 Faktor Penderita
1. Variasi anatomi
Variasi anatomi foramen maupun syaraf antar individu dapat menjadi penyebab
kegagalan anestesi local. Foramen yang dituju pada teknik anestesi nerve blok tidak diketahui
kepastian letaknya tergantung setiap individu. (Yadav & Kumar, 2010)
2. Psikologis pasien
Penyebab psikologis seperti cemas dan ketakutan dapat menjadi factor penyebab
kegagalan anestesi. Hormon-hormon yang berhubungan dengan kecemasan seperti eprinefrin
dapat mencegah anestesi lokal bekerja dengan baik pada beberapa orang. Pengaruh anestesi
lokal mungkin tertunda, atau mungkin terlalu cepat hilang. penggunaan obat sedative pada pasien
dapat mengurangi kemungkinan kegagalan anestesi karena pasien dalam keadaan tenang. Salah
satunya benzodiazepine sebagai sedative yang juga dapat mengurangi mengurangi toksisitas
anestesi lokal ketika dimetabolisme tubuh (Yadav & Kumar, 2010).
3. Inflamasi
Infeksi dapat mencegah anestesi lokal bekerja secara efektif. Keradangan yang
disebabkan oleh asidosis jaringan dapat menghambat hidrolisis anestesi local. Hal ini akan
mengurangi pembebasan basis alkaloid bebas yang penting untuk anestesi yang efektif. Selain
itu, keradangan akut juga menyebabkan perubahan vaskuler yang ditandai dengan vasodilatasi,
peningkatan permeabilitas, dan melambatnya aliran darah, yang disebabkan oleh tindakan
berbagai mediator inflamasi. Vasodilatasi perifer akan menyebabkan menurunnya konsentrasi
anestesi pada daerah yang diinjeksi yang mempengaruhi menurunnya efektifitas anestesi (Yadav
& Kumar, 2010).

Daftar pustaka:
Yadav P, Kumar RV. 2010. Evaluation of local anaesthetic failures in dental practice. Journal of
international Oral Health. Vol 2 issue 4.