Anda di halaman 1dari 21

A.

Kelebihan
A.1. Tidak Mengeluarkan Emisi Berbahaya (Zero Emission)
Sebuah sistem fuel cell hanya akan mengeluarkan uap air apabila memakai
hidrogen murni. Tetapi ketika memakai hidrogen hasil
darireforming hidrokarbon/fosil (misal: batu bara, gas alam, dll) maka harus
dilakukan uji emisi untuk menentukan apakah sistem tersebut masih dapat
dikategorikan zero emission. Menurut standar yang dikeluarkanUnited
Technologies Corporation (UTC) pada tahun 2002, maka sebuah sistem fuel
cell dapat dikategorikan zero emission ketika mengeluarkan emisi pencemar
udara yang sangat rendah, dengan kriteria sbb: NOx =< 1 ppm, SO2 =< 1 ppm,
CO2 =< 2 ppm.

Tabel 1. Emisi Pencemar Udara dari Jenis-Jenis Fuel Cell (Bluestein, 2002)

Catatan: PEM (Polimer Electrolyte Membrane), PAFC (Posporic Acid Fuel


Cell), SOFC (Solid Oxide Fuel Cell), MCFC (Molten Carbonate Fuel Cell), 1 lb
(pon) = 0,45 kg). Selain itu, sistem ini juga tidak mengeluarkan suara (tidak
berisik), kecuali suara dari beberapa peralatan pendukung seperti pompa, kipas,
kompresor, dll.
A.2. Efisiensi Tinggi (High efficiency)

Oleh sebab fuel cell tidak menggunakan proses pembakaran dalam konversi
energi, maka efisiensinya tidak dibatasi oleh batas maksimum temperatur
operasional (tidak dibatasi oleh efisiensi siklus Carnot). Hasilnya, efisiensi
konversi energi pada fuel cell melalui reaksi elektrokimia lebih tinggi
dibandingkan efisiensi konversi energi pada mesin kalor (konvensional) yang
melalui reaksi pembakaran.

Gambar 1. Perbandingan Efisiensi Fuel Cell dengan Mesin Konvensional


(micro-vett.it, 09/10/2006)
A.3. Cepat Mengikuti Perubahan Pembebanan (Rapid load following)
Fuel cell memperlihatkan karakteristik yang baik dalam mengikuti perubahan
beban. Sistem Fuel cell yang menggunakan hidrogen murni dan digunakan pada
sebagian besar peralatan mekanik (misal: motor listrik) memiliki kemampuan
untuk merespon perubahan pembebanan dengan cepat.
A.4. Temperatur Operasional Rendah

Sistem fuel cell sangat baik diaplikasikan pada industri otomotif yang beroperasi
pada temperatur rendah. Keuntungannya adalah fuel cellhanya memerlukan
sedikit waktu pemanasan (warmup time), resiko operasional pada temperatur
tinggi dikurangi, dan efisiensi termodinamik dari reaksi elektrokimia lebih baik.
A.5. Reduksi Transformasi Energi
Ketika fuel cell digunakan untuk menghasilkan energi listrik maka fuel cell
hanya membutuhkan sedikit transformasi energi, yaitu dari energi kimia
menjadi energi listrik. Bandingkan dengan mesin kalor yang harus mengubah
energi kimia menjadi energi panas kemudian menjadi energi mekanik yang akan
memutar generator untuk menghasilkan energi listrik. Fuel cell yang
diaplikasikan untuk menggerakkan motor listrik memiliki jumlah transformasi
energi yang sama dengan mesin kalor, tetapi transformasi energi pada fuel
cell memiliki efisiensi yang lebih tinggi.

Gambar 2. Transformasi Energi Untuk Keluaran Energi Mekanik (microvett.it, 09/10/2006)


A.6. Waktu Pengisian Hidrogen Singkat

Sistem fuel cell tidak perlu penyetruman (recharge) layaknya baterai. Tetapi
sistem fuel cell harus diisi ulang dengan hidrogen, dimana prosesnya lebih cepat
dibandingkan penyetruman baterai. Selain itu, baterai tidak dapat dipasang
dalam jumlah besar pada mesin otomotif untuk meningkatkan performance
karena akan semakin menambah beban pada kendaraan tersebut.

Gambar-010 Stasiun Pengisian Hidrogen (Stefan Geiger, 2004)


B. Kekurangan
B.1. Hidrogen
Hidrogen sulit untuk diproduksi dan disimpan. Saat ini proses produksi
hidrogen masih sangat mahal dan membutuhkan input energi yang besar
(artinya: efisiensi produksi hidrogen masih rendah). Untuk mengatasi kesulitan
ini, banyak negara menggunakan teknologireforming hidrokarbon/fosil untuk
memperoleh hidrogen. Tetapi cara ini hanya digunakan dalam masa transisi
untuk menuju produksi hidrogen dari air yang efisien.
B.2. Sensitif pada Kontaminasi Zat-asing
Fuel cell membutuhkan hidrogen murni, bebas dari kontaminasi zat-asing. Zatasing yang meliputi sulfur, campuran senyawa karbon, dll dapat menonaktifkan
katalisator dalam fuel cell dan secara efektif akan menghancurkannya. Pada

mesin kalor pembakaran dalam (internal combustion engine), masuknya zatasing tersebut tidak menghalangi konversi energi melalui proses pembakaran.
B.3. Harga Katalisator Platinum Mahal
Fuel cell yang diaplikasikan pada industri otomotif memerlukan katalisator
yang berupa Platinum untuk membantu reaksi pembangkitan listrik. Platinum
adalah logam yang jarang ditemui dan sangat mahal. Berdasarkan survei
geologis ahli USA, total cadangan logam platinum di dunia hanya sekitar 100
juta kg (Bruce Tonn and Das Sujit, 2001). Dan pada saat ini, diperkirakan
teknologi fuel cell berkapasitas 50 kW memerlukan 100 gram platinum sebagai
katalisator (DEO, 2000). Misalkan penerapan teknologi fuel cell berjalan baik
(meliputi: penghematan pemakaian platinum pada fuel cell, pertumbuhan pasar
fuel cell rendah, dan permintaan platinum rendah) maka sebelum tahun 2030
diperkirakan sudah tidak ada lagi logam platinum (Anna Monis Shipley and R.
Neal Elliott, 2004). Untuk itulah diperlukan penelitian untuk menemukan jenis
katalisator alternatif yang memiliki kemampuan mirip katalisator dari platinum.
B.4. Pembekuan
Selama beroperasi, sistem fuel cell menghasilkan panas yang dapat berguna
untuk mencegah pembekuan pada temperatur normal lingkungan. Tetapi jika
temperatur lingkungan terlampau sangat dingin (-10 s/d -20 C) maka air murni
yang dihasilkan akan membeku di dalamfuel cell dan kondisi ini akan dapat
merusak membran fuel cell (David Keenan, 10/01/2004). Untuk itu harus
didesain sebuah sistem yang dapat menjaga fuel cell tetap berada dalam kondisi
temperatur normal operasi.

Gambar-011 Tes Mobil Bermesin Fuel Cell pada Kondisi Bersalju


B.5. Teknologi Tinggi & Baru
Perlu dikembangkan beberapa material alternatif dan metode konstruksi yang
baru sehingga dapat mereduksi biaya pembuatan sistem fuel cell(harga
komersial saat ini untuk pembangkit listrik dengan fuel cell ~$4000/kW) (Javit
Drake, 29/03/2005).

Tabel-007 Biaya Investasi, Operasional, Pemeliharaan Jenis Jenis Fuel


Cell (Anna Monis Shipley and R. Neal Elliott, 2004)

Diharapkan dimasa depan dapat dihasilkan sebuah sistem fuel cell yang lebih
kompetitif dibandingkan mesin bakar/otomotif konvensional (harga saat ini:
$20/kW) dan sistem pembangkit listrik konvensional (harga saat ini: $1000/kW)
(Matthew M. Mench, 24/05/2001). Teknologi baru tersebut akan mampu

menghasilkan reduksi biaya, reduksi berat dan ukuran, sejalan dengan


meningkatnya kehandalan dan umur operasi (lifetime) sistem fuel cell.
Penggunaan sistem fuel cell dalam industri otomotif minimal harus memiliki
umur operasi 4.000 jam (ekivalen 100.000 mil pada kecepatan 25 mil per jam)
dan dalam industri pembangkit listrik minimal harus memiliki umur operasi
40.000 jam (Matthew M. Mench, 24/05/2001).
B.6. Ketiadaan Infrastruktur
Infrastruktur produksi hidrogen yang efektif belum tersedia. Tersedianya
teknologi manufaktur dan produksi massal yang handal merupakan kunci
penting usaha komersialisasi sistem fuel cell.
Melambungnya harga BBM tak membuat penggunaan bahan bakar fosil berkurang. Memang sudah
saatnya dipikirkan mencari pengganti BBM. Teknologi fuel cell bisa menjadi salah satu alternatif. Namun
entah kapan realisasinya.
Sumber energi alternatif sudah lama didengungkan untuk segera dipakai. Bahkan Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pada tahun 2020 mendatang penggunaan energi
alternatif sudah mencapai lima persen. Kebijakan ihwal energi alternatif pun tak kalah banyak. Dari sisi
teknologi dan ketersediaan bahan baku juga sudah tak diragukan lagi.
Salah satu teknologi yang ditawarkan adalah fuel cell yang berbahan bakar dasar hidrogen. "fuel
cell adalah perangkat elektronika yang mampu mengonversi perubahan energi bebas suatu rekasi
elektronikia menjadi energi listrik," jelas Isdiriyani Nurdin, peneliti sekaligus pengajar di Departemen
Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi mengenai teknologi fuel cell di Balai
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, akhir pekan silam.
Prinsip kerja fuel cell adalah proses elektrokimia di mana hidrogen dan oksigen digunakan sebagai bahan
bakar. Komponen utama fuel cell terdiri dari elektrolit berupa lapisan khusus yang diletakkan di antara
dua buah elektroda. Proses kimia yang disebut pertukaran ion terjadi di dalam elektrolit ini dan
menghasilkan listrik serta air panas. fuel cellmenghasilkan energi listrik tanpa adanya pembakaran dari
bahan bakarnya, sehingga tidak ada polusi.
Kendala
Berbeda dengan baterai, fuel cell tidak hanya menyimpan tetapi juga menghasilkan energi listrik secara
berkesinambungan selama masih ada pasokan bahan bakar. Kelebihan teknologi yang oleh Isdiriyani ini

diindonesiakan menjadi sel tunam adalah efisiensinya, tidak bising, hampir tak menghasilkan bahan
pencemar sama sekali, serta banyak pilihan bahan bakar.
Walau demikian, dari sisi teknis dianggap hidrogen merupakan bahan bakar paling ideal bagi sel tunam.
Menurut Isdiriyani ini disebabkan hidrogen mempunyai kandungan energi per satuan berat tertinggi di
antara berbagai jenis bahan akar. Yang menjadi masalah adalah proses menghasilkan hidrogen. Walau
hidrogen merupakan unsur yang paling banyak terdapat di alam semesta namun keberadaannya terikat
sebagai senyawa oksida. Maka untuk menghasilkan gas hidrogen diperlukan tenaga listrik yang sebagian
besar dihasilkan dari sumber energi penyebab polusi.
Masalah lain yang akan timbul jika hidrogen digunakan sebagai bahan bakar adalah kebutuhan
infrastruktur untuk pendistribusian hidrogen ke tempat penggunanya. "Alternatifnya adalah membangun
tempat pengisian ulang bahan bakar beserta dengan pembangkitnya sekaligus," papar Isdiriyani. Inilah
yang banyak dilakukan di sejumlah negara maju yang sudah mengaplikasikan sel tunam sebagai bahan
bakar kendaraan.
Di banyak negara maju, teknologi sel tunam sudah bukan barang baru lagi. Negara seperti Amerika
Serikat (AS), Jepang, Jerman atau Inggris telah mengembangkan teknologi ini sejak lama. Di negara ini
yang menjadi pemicu pemakaian hidrogen sebagai bahan bakar kendaraan adalah isu lingkungan dan
konservasi energi. Produsen kendaraan seperti General Motors (GM) misalnya sudah merilis prototipe
mobil berbahan bakar hidrogen. Mobil yang rencananya akan komersial pada tahun 2010 ini
menggunakan sel tunam berbentuk wafer yang berfungsi memisahkan atom hidrogen menjadi proton dan
elektron. Dengan memakai elektron sebagai arus listrik, digabungkan proton dengan oksigen dari udara,
sehingga hasil sampingnya hanya uap air.
Untuk menghasilkan tenaga penggerak mobil diperlukan rangkaian yang terdiri dari 372 sel wafer. Kendati
sudah mampu mengaplikasikan teknologi tersebut, bukan berarti semuanya berjalan mulus. GM
mengklaim bahwa berkendara di atas tangki hidrogen mampat amat tidak nyaman dibanding dengan di
atas tangki bensin. Mobil yang sempat dipamerkan dalam ajang North American International Auto Show
ini dapat menempuh jarak hampir 500 kilometer sebelum harus mengisi ulang bahan bakar. Selain ada
kendala di bidang kenyamanan, mobil hidrogen ini relatif mahal, yakni sekitar 700.000 dolar AS.
Bulan lalu, perusahaan asal Kanada meluncurkan generator sel tunam model E8 Portable Power yang
berisi dua buah modul sel tunam Powerstack MC250. Pembangkit listrik portabel ini mempunyai
kapasitas 2,4 kW dengan tegangan 48 Vdc pada arus 50 A dan efisiensi listrik lebih dari 50 persen.
Pembangkit ini ditujukan bagi penerapan stasioner seperti back up untuk tanggap darurat bagi pengguna
komersial maupun militer.
Komputer Hidrogen
Bukan hanya kendaraan bermotor saja yang dianggap layak memanfaatkan sel tunam, melainkan juga
bidang teknologi informasi (TI). Produsen komputer jinjing (laptop) Jepang misalnya, mengembangkan
teknologi ini pada sejumlah produknya. Tidak semua sel tunam bisa dipakai untuk alat elektronik portabel,
hanya sel tunam metanol langsung (direct methanol fuel cell) yang termasuk sel tunam alkalin saja yang

bisa. Apabila diproduksi secara masal maka harga sel tunam bisa bersaing dengan baterai Lithium-ion
yang kini banyak digunakan. Densitas energinya bahkan bisa 5-10 kali lebih besar baterai Lithium-ion.
Bagaimana di Indonesia" Achyar Umri, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) menyatakan sel tunam hanya sebagai konverter alias pembangkit saja. Bahan bakar
utamanya adalah hidrogen yang sumbernya sangat banyak di Indonesia. "Posisi Indonesia di tingkat Asia
dalam penghasilan energi per kapitanya masih sangat rendah. Padahal sumber energi alternatif tersebar
begitu banyak,? ujar Achyar. Hidrogen dianggap seba
gai energi alternatif paling ideal karena hidrogen merupakan bahan universal dengan jumlah tak terbatas
dan yang jelas ramah lingkungan.
Namun bagaimana dengan kebijakan pemerintah sendiri?
Kebijakan di bidang energi alternatif memang sudah cukup banyak. Evita Legowo, Kepala Pusat
Penelitian dan Pengembangan Teknik Minyak dan Gas ESDM menekankan pihaknya amat mendukung
pengembangan teknologi sel tunam berbahan dasar hidrogen. Ia bahkan mengajak semua pihak yang
berkepentingan untuk mendiskusikan langkah kebijakan apa yang perlu diambil demi terealisasinya
aplikasi teknologi tersebut. Masalah adalah: apabila di negara maju yang sudah berhasil
mengaplikasikannya saja teknologi tersebut masih berupa prototipe, berarti bagi Indonesia masih
dibutuhkan jalan panjang dan berliku.

Anda mungkin pernah mendengar tentang teknologi fuel cell. Pada tahun
2003,

Presiden

Amerika

Bush

mengumumkan

sebuah

program

yang

disebut Hydrogen Fuel Initiative (HFI). Initiatif ini bertujuan untuk mengembangkan
kendaraan yang ramah lingkungan dan hemat biaya dan sumber energi dari kendaraan
tersebut adalah hidrogen (fuel cell).
Amerika Serikat telah mendedikasikan dana sekitar lebih dari satu miliar dolar
untuk penelitian fuel cell ini. Jadi apa sebenarnya fuel cell itu?dan Mengapa
Amerika serikat berani mengucurkan dana miliaran dollar hanya untuk teknologi
fuel cell ini?
Fuel cell adalah perangkat konversi energi elektrokimia. Sebuah sel bahan bakar
mengubah bahan kimia hidrogen dan oksigen sehingga menghasilkan listrik DC.
Fuel cell ini menghasilkan tenaga listrik secara efisien dan tanpa polusi. Tidak
seperti sumber energi yang menggunakan bahan bakar fossil.
Perangkat elektrokimia lain yang telah kita kenal selama ini adalah baterai.
Sebenarnya prinsip kerja fuel cell mirip dengan prinsip baterai yang mengubah
energi kimia menjadi energi listrik. Hanya saja aliran bahan kimia di baterai
tidak terus mengalir sehingga akan terputus dan membuat kita untuk mengisi
ulang baterai tersebut. Sedangkan pada fuel cell, aliran bahan kimia mengalir

terus ke dalam sel secara sirkulasi sehingga tidak pernah terputus. untuk lebih
dekatnya mari kita lihat tipe-tipe dari teknologi fuel cell terlebih dahulu:

Tipe-Tipe Fuel Cell

Ada beberapa jenis fuel cell, masing-masing menggunakan bahan kimia yang
berbeda. Fuel cell biasanya diklasifikasikan berdasarkan suhu operasi mereka
dan jenis elektrolit yang mereka gunakan. Beberapa jenis fuel cell ada yang
digunakan untuk pembangkit listrik stasioner. Selain itu juga berguna untuk
aplikasi portabel kecil atau untuk menyalakan mobil. Berikut di bawah ini adalah
tipe-tipe dari fuel cell:

Polymer Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC)


Departemen Energi amerika serikat (DOE) sangat fokus untuk meriset PEMFC
karena jenis ini yang mempunyai peluang besar untuk aplikasi transportasi.
PEMFC memiliki kepadatan daya yang tinggi dan suhu operasi yang relatif
rendah (60 sampai 80 derajat Celsius) sehingga tidak butuh waktu lama untuk
pemanasan dalam menghasilkan listrik.

Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)


SOFC ini adalah tipe yang paling cocok untuk digunakan dalam skala besar
pembangkit listrik stasioner yang dapat menyediakan listrik untuk pabrik atau
kota. Jenis fuel cell ini beroperasi pada suhu yang sangat tinggi (700 sampai
1.000 derajat Celsius). Mungkin Suhu tinggi ini lah yang akan menjadi sedikit
masalah ketika fuel cell sedang beroperasi karena fuel cell akan pecah jika tiba
tiba mati. Namun, jenis SOFC ini sangat stabil bila digunakan secara terus
menerus. Bahkan, SOFC telah menunjukkan masa operasi terpanjang dari setiap
sel bahan bakar dalam kondisi operasi tertentu. Suhu yang tinggi juga memiliki
keuntungan karena uap yang dihasilkan oleh sel bahan bakar dapat disalurkan
ke turbin untuk menghasilkan listrik yang lebih banyak. Proses ini disebut cogenerasi panas dan daya (CHP) dan meningkatkan efisiensi keseluruhan sistem.

Alkaline Fuel Cell (AFC)

Jenis AFC Ini adalah salah satu desain tertua untuk kategori fuel cell. Program
luar angkasa Amerika Serikat telah menggunakan mereka sejak 1960-an.
Kekurangan AFC ini sangat rentan terhadap kontaminasi dengan zat lain
sehingga membutuhkan hidrogen murni dan oksigen. Selain itu, AFC juga sangat
mahal sehingga jenis fuel cell yang satu ini tidak mungkin dikomersialkan.

Molten-Carbonate Fuel Cell (MCFC)

Seperti SOFC, jenis ini juga paling cocok untuk pembangkit listrik stasioner
besar. Mereka beroperasi pada 600 derajat Celcius dan mereka dapat
menghasilkan uap yang dapat digunakan untuk menghasilkan tenaga lebih.

Phosphoric-Acid Fuel Cell (PAFC)


fuel cell asam fosfat ini memiliki potensi untuk digunakan dalam sistem tenagagenerasi kecil stasioner. Ia beroperasi pada suhu yang lebih tinggi dari fuel cell
PEMFC sehingga memiliki waktu yang lebih lama dalam hal pemanasan dari
kondisi awal. Hal ini lah yang membuat PAFC ini tidak cocok untuk digunakan
dalam sistem mobil.

Direct-Methanol Fuel Cell (DMFC)


fuel cell metanol ini sebanding dengan PEMFC dalam hal suhu operasi hanya
saja kurang efisien. DMFC membutuhkan jumlah platinum yang relatif besar
untuk bertindak sebagai katalis.
Dari keseluruhan tipe fuel cell diatas amerika paling berfokus riset pada tipe
PEMFC sebagai sumber energi pada kendaraan di masa mendatang.
Polymer exchange membrane fuel cell (PEMFC)merupakan salah satu teknologi
fuel cell yang paling menjanjikan untuk digunakan sumber energi dalam
kehidupan sehari-hari kita seperti mobil, bus dan bahkan mungkin rumah kita.
PEMFC menggunakan salah satu reaksi yang paling sederhana dari setiap fuel

cell.

Dalam Gambar di atas Anda dapat melihat ada empat elemen dasar dari sebuah
PEMFC:

Anoda
Anoda memiliki beberapa fungsi untuk membebaskan elektron dari molekul
hidrogen sehingga mereka dapat digunakan dalam sebuah sirkuit eksternal yang
memiliki saluran ke dalam untuk membubarkan gas hidrogen di atas permukaan
katalis.

Katoda
Katoda memiliki saluran untuk mendistribusikan oksigen ke permukaan katalis.
Hal ini juga menyebabkan elektron kembali dari sirkuit eksternal ke katalis, di
mana mereka dapat bergabung kembali dengan ion hidrogen dan oksigen untuk
membentuk air.

Elektrolit
Elektrolit adalah membran pertukaran proton. Bahan ini diperlakukan khusus
hanya untuk mengalirkan ion bermuatan positif dan membran menghadang
aliran elektron. pada PEMFC, membran harus terhidrasi agar dapat berfungsi
secara stabil.

Katalis
Katalis adalah bahan khusus yang memfasilitasi reaksi oksigen dengan
hidrogen. Katalis ini biasanya terbuat dari platinum nanopartikel yang sangat
tipis dan dilapisi dengan kertas karbon atau kain.

Efficiency Fuel Cell

Pengurangan polusi adalah salah satu


tujuan utama dari teknologi fuel cell. Dengan membandingkan sistem fuel cell
dengan sistem mobil bensin dan mobi listrik bertenaga baterai, Anda dapat
melihat bagaimana fuel cell dapat meningkatkan efisiensi mobil pada saat
ini. Karena dari semua sistem sumber energi mobil di atas memiliki banyak
komponen yang sama yaitu ban, transmisi, dan sebagainya, kita akan
mengabaikan bagian mobil dan membandingkan efisiensi mereka sampai ke
titik dimana daya dan torsi yang dihasilkan. Mari kita mulai dengan mobil
dengan sistem fuel cell.
Jika sistem fuel cell ini didukung dengan hidrogen murni maka ia memiliki
potensi efficiency hingga 80 persen. Itu artinya fuel cell ini mampu mengonversi
80 persen dari kandungan energi hidrogen menjadi energi listrik. Namun, kita
masih perlu untuk mengubah energi listrik tersebut menjadi kerja mekanik agar
ban mobil bisa berjalan. Hal ini dilakukan dengan motor listrik dan inverter.
Untuk efisiensi motor / inverter kita asumsikan sekitar 80 persen. Jadi kita
memiliki efisiensi 80 persen dalam menghasilkan listrik dan efisiensi 80 persen
untuk mengubahnya menjadi energi mekanik. Dan secara keseluruhan jika
dijumlahkan maka efficiency sistem fuel cell ini sekitar 64 persen. Sedangkan
Honda FCX yang masih menjadi kendaraan konsep dilaporkan hanya memiliki
efisiensi energi sekitar 60 persen.
Selanjutnya, kita akan menganalisa tentang efisiensi mobil bensin dan mobil
listrik.

Efisiensi

mobil

bertenaga

bensin

pada

kenyataannya cukup rendah. Semua panas yang keluar sebagai gas buang atau
yang masuk ke radiator banyak terbuang sia sia. Mesin mobil bensin ini juga
banyak dibebani untuk memutar berbagai equipment yaitu pompa, kipas angin
dan generator. Jadi efisiensi keseluruhan mesin bensin dapat diperkirakan
sekitar 20 persen. Artinya, hanya sekitar 20 persen dari konten thermal energi
bensin diubah menjadi energi mekanik.
Sedangkan mobil listrik bertenaga baterai memiliki efisiensi cukup tinggi.
Efisiensi Baterai diperkirakan sekitar 90 persen dan efisiensi motor listrik dan
inverter sekitar 80 persen. Hal ini memberikan efisiensi secara keseluruhan
sekitar 72 persen.
Tapi itu bukan keseluruhan cerita. Listrik yang digunakan untuk menyalakan
mobil harus dihasilkan terlebih dahulu pada suatu tempat. Jika energi tersebut
itu dihasilkan di pembangkit listrik yang menggunakan proses pembakaran batu
bara dan bukan angin, nuklir, tenaga air, ataupun tenaga surya maka efisiensi
dari mobil listrik ini hanya sekitar 40 persen jika kita hitung dari bahan bakar
yang dibutuhkan oleh pembangkit listrik dikonversi menjadi listrik hingga
menjadi energi mekanik yang digunakan untuk menggerakkan ban mobil. Selain
itu, proses pengisian mobil juga harus diubah dari arus listik bolak-balik (AC)
menjadi arus listrik searah (DC). Proses pengisian ini memiliki efisiensi sekitar
90 persen.
Jadi, jika kita melihat sistem tersebut secara keseluruhan maka efisiensi mobil
listrik sekitar 72 persen untuk sistem mobil dan 40 persen untuk pembangkit
listrik lalu 90 persen untuk sistem pengisian mobilnya. maka jika kita lihat
secara keseluruhan maka akan diperkirakan sebesar 26 persen. Sebenarnya
efisiensi secara keseluruhan pada mobil listrik ini masih bervariasi dan

tergantung pada jenis pembangkit listrik yang digunakan. Jika sumber energi
listrik yang digunakan pada mobil listrik ini bersumber pada pembangkit listrik
tenaga air, angin, sinar matahari(solar cell), panas bumi(geothermal) yang pada
dasarnya adalah gratis maka efisiensi mobil listrik tersebut bisa kita katakan
sekitar 65 persen.
Para ilmuwan sekarang sedang meneliti dan mendesain penyulingan untuk terus
meningkatkan efisiensi dari sistem fuel cell. Satu pendekatan adalah untuk
menggabungkan fuel cell dengan baterai. Ford Motors dan Airstream sedang
mengembangkan sebuah kendaraan konsep yang diaktifkan oleh drivetrain fuel
cell hybrid bernama HySeries Drive.

Tantangan Dari Teknologi Fuel Cell


Teknologi fuel cell mungkin bisa menjadi salah satu jawaban untuk masalah kita
terhadap kebutuhan energi kita pada saat ini, tetapi para ilmuwan telah
mengungkapkan beberapa masalah utama, yaitu:

Biaya
Banyak dari potongan-potongan komponen fuel cell yang sangat mahal. Untuk
sistem PEMFC, membran pertukaran proton, katalis logam mulia (biasanya
platinum), lapisan difusi gas, dan pelat bipolar membentuk 70 persen dari
sistem biaya [Sumber: Penelitian Dasar Kebutuhan untuk Ekonomi Hidrogen].
Agar harganya kompetitif jika dibandingkan dengan kendaraan bertenaga
bensin maka sistem fuel cell harus memberikan biaya sebesar $ 35 per
kilowatt. Saat ini, harga produksi volume tinggi yang diproyeksikan sekitar $ 73
per kilowatt [Sumber: Garland].

Daya Tahan
Para peneliti harus mengembangkan PEMFC membran yang tahan lama dan
dapat beroperasi pada suhu lebih besar dari 100 derajat Celcius dan juga masih
berfungsi di sub-nol suhu ambien. Target suhu 100 derajat Celsius diperlukan
agar fuel cell memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk kotoran dalam bahan
bakar.

Hidrasi
Karena membran PEMFC harus terhidrasi untuk mentransfer proton hidrogen,
penelitian harus menemukan cara untuk mengembangkan sistem fuel cell yang
dapat terus beroperasi dalam suhu di bawah nol, lingkungan kelembaban
rendah dan suhu operasi yang tinggi. Pada sekitar 80 derajat Celsius, hidrasi
hilang tanpa sistem hidrasi tekanan tinggi.

Delivery
Rencana Teknis untuk fuel cell menyatakan bahwa teknologi compressor udara
yang tersedia saat ini tidak cocok untuk digunakan karena ini akan
menyebabkan sistem pengiriman bahan bakar hidrogen bermasalah.

Infrastruktur
Agar PEMFC kendaraan ini bisa menjadi alternatif bagi konsumen maka harus
ada generasi hidrogen dan infrastruktur pengiriman. Contoh Infrastruktur
tersebut adalah pipa, transportasi truk, stasiun pengisian bahan bakar dan
pembangkit hidrogen.

Safety
Ada juga masalah keamanan yang terkait dengan penggunaan fuel cell. Para
Insinyur harus merancang sistem pengiriman hydrogen ini secara aman dan
reliable.

Energi Hijau Berlimbah Uap Air


Dewi Martaningtyas (Kimia ITB)
MENINGKATNYA penguasaan ruang, waktu, dan materi menuntut semakin besarnya
sumber energi yang diperlukan. Sebut saja alat transportasi seperti mobil atau bus, alat
komunikasi seperti laptop, handphone dan televisi, peralatan rumah tangga, sampai
eskalator atau lift di gedung bertingkat. Semua benda tadi memerlukan energi. Tanpa
pasokan energi, segala jenis teknologi tersebut tidak akan berfungsi.

Teknologi konvensional menggunakan minyak bumi sebagai sumber energi dipandang


kurang efisien serta menimbulkan polusi udara. Pembakaran minyak bumi
menghasilkan karbon monoksida (CO) dan karbondioksida (CO2) yang berbahaya.
Sebagai solusi, baru-baru ini telah dikembangkan teknologi fuel cell yang terus
mengalami riset dan pengembangan di beberapa negara maju. Teknologi fuel cell ini
dipandang lebih efisien, tidak menimbulkan polusi seperti halnya pembangkit energi
tenaga minyak bumi.
Beberapa negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Prancis
sudah mulai menerapkan teknologi fuel cell pada pembangkit energi di gedung-gedung
bertingkat dan rumah tangga, bus, mobil, atau alat-alat elektronik seperti PDA dan
handphone dalam bentuk prototipe. Bahkan, beberapa pihak sudah mengomersialkan
teknologi ini seperti yang dilakukan pabrikan Toyota dan Mercedes benz.
Dana yang dibutuhkan dalam mengembangkan dan mewujudkan teknologi energi yang
ramah lingkungan membutuhkan investasi yang sangat besar. Baru-baru ini pemerintah
Cina bekerja sama dengan UNDP (United Nations Development Program) dan GEF
(Global Environment Fund) akan memesan enam unit bus tenaga fuel cell sebagai
bentuk kepedulian pemerintah Cina dalam meminimalkan polusi udara. Total investasi
yang dikeluarkan sekira 33 juta dolar AS. Bus ini akan mengalami uji coba, layaknya di
negara-negara maju yang telah mencoba prototipe bus fuel cell selama lima tahun.
Teknologi sederhana
fuel cell adalah alat konversi energi elektrokimia yang akan mengubah hidrogen dan
oksigen menjadi air, secara bersamaan menghasilkan energi listrik dan panas dalam
prosesnya. fuel cell merupakan suatu bentuk teknologi sederhana seperti baterai yang
dapat diisi bahan bakar untuk mendapatkan energinya kembali, dalam hal ini yang
menjadi bahan bakar adalah oksigen dan hidrogen.
Layaknya sebuah baterai, segala jenis fuel cell memiliki elektroda positif dan negatif
atau disebut juga katoda dan anoda. Reaksi kimia yang menghasilkan listrik terjadi
pada elektroda. Selain elektroda, satu unit fuel cell terdapat elektrolit yang akan
membawa muatan-muatan listrik dari satu elektroda ke elektroda lain, serta katalis yang
akan mempercepat reaksi di elektroda. Umumnya yang membedakan jenis-jenis fuel
cell adalah material elektrolit yang digunakan. Arus listrik serta panas yang dihasilkan
setiap jenis fuel cell merupakan produk samping reaksi kimia yang terjadi di katoda dan
anoda.

Karena energi yang diproduksi fuel cell merupakan reaksi kimia pembentukan air, alat
konversi energi elektrokimia ini tidak akan menghasilkan efek samping yang berbahaya
bagi lingkungan seperti alat konversi energi konvensional (misalnya proses pembakaran
pada mesin mobil). Sedangkan dari segi efisiensi energi, penerapan fuel cell pada
baterai portable seperti pada handphone atau laptop akan sepuluh kali tahan lebih lama
dibandingkan dengan baterai litium. Dan untuk mengisi kembali energi akan lebih cepat
karena energi yang digunakan bukan listrik, tetapi bahan bakar berbentuk cair atau gas.
Cara kerja suatu unit fuel cell dapat diilustrasikan dengan jenis PEMFC (proton
exchange membrane fuel cell). Jenis ini adalah jenis fuel cell yang menggunakan reaksi
kimia paling sederhana. PEMFC memiliki empat elemen dasar seperti kebanyakan
jenis fuel cell.
Pertama, anoda sebagai kutub negatif fuel cell. Anoda merupakan elektroda yang akan
mengalirkan elektron yang lepas dari molekul hidrogen sehingga elektron tersebut
dapat digunakan di luar sirkuit. Pada materialnya terdapat saluran-saluran agar gas
hidrogen dapat menyebar ke seluruh permukaan katalis.
Kedua, katoda sebagai kutub elektroda positif fuel cell yang juga memiliki saluran yang
akan menyebarkan oksigen ke seluruh permukaan katalis. Katoda juga berperan dalam
mengalirkan elektron dari luar sirkuit ke dalam sirkuit sehingga elektron-elektron
tersebut dapat bergabung dengan ion hidrogen dan oksigen untuk membentuk air.
Ketiga, elektrolit. Yang digunakan dalam PEMFC adalah membran pertukaran proton
(proton exchange membrane/PEM). Material ini berbentuk seperti plastik pembungkus
yang hanya dapat mengalirkan ion bermuatan positif. Sedangkan elektron yang
bermuatan negaif tidak akan melalui membran ini. Dengan kata lain, membran ini akan
menahan elektron.
Keempat, katalis yang digunakan untuk memfasilitasi reaksi oksigen dan hidrogen.
Katalis umumnya terbuat dari lembaran kertas karbon yang diberi selapis tipis bubuk
platina. Permukaan katalis selalu berpori dan kasar sehingga seluruh area permukaan
platina dapat dicapai hidrogen dan oksigen. Lapisan platina katalis berbatasan
langsung dengan membran penukar ion positif, PEM.
Pada ilustrasi cara kerja PEMFC, diperlihatkan gas hidrogen yang memiliki tekanan
tertentu memasuki fuel cell di kutub anoda. Gas hidrogen ini akan bereaksi dengan
katalis dengan dorongan dari tekanan. Ketika molekul H2 kontak dengan platinum pada

katalis, molekul akan terpisah menjadi dua ion H+ dan dua elektron (e-). Elektron akan
mengalir melalui anoda, elektron-elektron ini akan membuat jalur di luar sirkuit fuel
cell dan melakukan kerja listrik, kemudian mengalir kembali ke kutub katoda pada fuel
cell.
Di sisi lain, pada kutub katoda fuel cell, gas oksigen (O2) didorong gaya tekan kemudian
bereaksi dengan katalis membentuk dua atom oksigen. Setiap atom oksigen ini memiliki
muatan negatif yang sangat besar. Muatan negatif ini akan menarik dua ion H+ keluar
dari membran PEM, lalu ion-ion ini bergabung dengan satu atom oksigen dan elektronelektron dari luar sirkuit untuk membentuk molekul air (H2O).
Pada satu unit fuel cell terjadi reaksi kimia yang terjadi di anoda dan katoda. Reaksi
yang terjadi pada anoda adalah 2 H2 --> 4 H+ + 4 e-. Sementara reaksi yang terjadi
pada katoda adalah 2 + 4 H+ + 4e- --> 2 H2O. Sehingga keseluruhan reaksi pada fuel
cell adalah 2H2 + O2 --> 2 H2O. Hasil samping reaksi kimia ini adalah aliran elektron
yang menghasilkan arus listrik serta energi panas dari reaksi.
Satu unit fuel cell ini menghasilkan energi kurang lebih 0,7 volt. Karena itu untuk
memenuhi energi satu baterai handphone atau menggerakkan turbin gas dan mesin
mobil, dibutuhkan berlapis-lapis unitfuel cell dikumpulkan menjadi satu unit besar yang
disebut sebagai fuel cell stack.
Pengembangan "fuel cell"
Para peneliti terus mengembangkan teknologi fuel cell agar lebih efisien, tidak mahal,
dan mudah digunakan. Sistem fuel cell banyak mengalami pengembangan pada jenis
elektrolitnya. Adanya perubahan jenis elektrolit juga merekayasa jenis material dan
sistem elektrodanya. Beberapa jenis elektrolit yang telah dikembangkan para penemu
antara lain cairan alkali (alkali fuel cell/AFC), cairan karbonat (molten carbonate fuel
cells/MCFC), asam fosfat (phosphoric acid fuel cells/PAFC), membran pertukaran
proton (proton exchange membrane fuel cells/PEMFC), serta oksida padat (solid
oxide fuel cells/SOFC).
Kebutuhan bahan bakar fuel cell juga bergantung pada jenis elektrolit tersebut,
beberapa membutuhkan gas hidrogen murni. Sehingga dibutuhkan suatu alat yang
disebut reformer untuk memurnikan bahan bakar hidrogen. Sedangkan pada elektrolit
yang tidak membutuhkan gas hidrogen murni, dapat bekerja efisien pada temperatur

tinggi. Dan pada beberapa elektrolit cair, membutuhkan tekanan tertentu untuk
mendorong gas hidrogen.
Bahan bakar yang biasanya menggunakan gas hidrogen bertekanan tinggi atau
hidrogen cair bagi fuel cell, mulai mengalami perubahan seiring berkembangnya
teknologi reformer. Sehingga tak perlu membawa tabung gas hidrogen atau hidrogen
cair yang mudah meledak serta mahal. Salah satu jenis bahan bakar yang digunakan
adalah metanol yang diubah reformer menjadi gas hidrogen.
Teknologi reformer terbaru adalah menggunakan natrium borohidrida cair untuk
menghasilkan gas hidrogen murni. Seperti yang dikembangkan perusahaan Millenium
Cell. Reaksi kimia teknologi ini dapat digambarkan sebagai berikut :
NaBH4 (aqueous solution) + 2H2O katalis 4H2 + NaBO2 (aqueous solution) + panas
Teknologi perusahaan ini menunjukkan beberapa potensi kelebihan antara lain, natrium
borohidrida (sodium borohydride/SBH) adalah material tidak mudah terbakar pada suhu
dan tekanan ruang, dan tidak perlu murni dan dapat dilarutkan dengan air, sehingga
mudah dibawa, dapat mengontrol produksi hidrogen, waktu beroperasi lebih lama.
Katalis itu juga tidak menunjukkan kerusakan selama lebih dari 600 jam operasi
reformer sehingga lebih tahan lama, gas hidrogen bebas dari produksi sulfur atau
karbon, serta natrium borat yang dihasilkan dapat digunakan kembali untuk membentuk
natrium borohidrida pada energi tertentu.
Saat ini, penerapan fuel cell sebagai sumber energi sudah banyak digunakan di seluruh
belahan dunia, antara lain pada mesin mobil, bus, baterai portable untuk handphone,
laptop, PDA, pembangkit energi listrik, atau generator-generator pada gedung-gedung,
rumah sakit, bandara, dan rumah tangga. Sementara di Indonesia, pengembangan fuel
cell baru memasuki tahap pengembangan pembangkit listrik skala kecil atau sekira 2
kW dan akan dikomersialisasikan tahun 2005.
Konsorsium fuel cell di Indonesia saat ini telah menghimpun berbagai lembaga dan
institusi penelitian konversi energi, dan mulai melibatkan kalangan industri seperti
Pertamina dan Medco group. Peran industri dan kebijakan pemerintah sangat
berpengaruh bagi pengembangan teknologi fuel cell dalam rangka pasokan energi bagi
masyarakat Indonesia. Sangat dibutuhkan strategi pemasaran serta investasi bagi riset
dan pengembangan alat konversi energi ini.

Kesempatan Indonesia untuk menerapkan fuel cell dalam rangka meningkatkan sektor
industri tanpa merusak sektor pertanian dan perkebunan. Bayangkan berjuta-juta mobil
lalu-lalang tanpa menghasilkan asap beracun, melainkan uap air yang mampu
melestarikan dan menghijaukan dunia.***