Anda di halaman 1dari 31

NEGARA AUTOKRASI MODERN

OLEH :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

I GD. PRAWIRA UTAMA


NI KD. DIAH MIANTAR1
AYUNI JAYANTI NINGRAT
KM. TRYA SURYA DAMAYANTI
IDA BAGUS ANGGA P
IDA BAGUS PRAYSTHA M

1414101029
1414101030
1414101031
1414101032
1414101033
1414101034

JURUSAN ILMU HUKUM


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2014
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatNya makalah yang berjudul

Negara Autokrasi Modern terselesaikan tepat pada

waktunya.
Makalah ini dibuat dalam susunan materi yang sangat sederhana. Maksud dari
penulis makalah ini terkait dengan peningkatan mutu dan kompetensi mahasiswa Ilmu
Hukum dalam mempelajari Negara Autokrasi Modern yang terkait dengan materi mata
kuliah Ilmu Negara. Penulis memberikan penjelasan mengenai pengertian, perbedaan antara
demokrasi modern dengan autokrasi modern serta cara - cara pembatasan kekuasaan
penguasa, sehingga para mahasiswa dapat lebih mudah untuk memperoleh penjelasan
mengenai materi tersebut. Karena keterbatasan kemampuan, penulis menyadari bahwa
penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah
ini nantinya berguna dan dapat dimanfaatkan. Sekian dan terima kasih.

Singaraja, 5 September 2014

Penulis

i
2

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
KATA PENGANTAR...............................................................................................ii
DAFTAR ISI ii

BAB 1. PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................2
1.3 Tujuan........................................................................................................2
1.4 Manfaat......................................................................................................2
BAB 2. PEMBAHASAN.........................................................................................4
2.1 Pengertian Negara Autokrasi Modern ......................................................4
2.2 Perbedaan antara Demokrasi Modern dengan Autokrasi Modern.............5
2.3 Cara - Cara Pembatasan Kekuasaan Penguasa........................................13
2.4

Jenis - Jenis Negara Autokrasi Modern...................................................23

BAB 3. PENUTUP................................................................................................25
3.1

Kesimpulan..............................................................................................26

3.2

Saran........................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA

i
3

i
4

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Negara autokrasi dalam bentuknya yang murni sebenarnya hanya kita
ketemukan pada jaman kuno, dan berarti di dalam negara itu kekuasaan
pemerintahannya hanya dipegang atau dijalankan oleh satu orang saja atau tunggal.
Autokrasi berasal dari kata auto yang berarti sendiri, sedangkan kratos/cratein
berarti kekuasaan. Jadi dapat disimpulkan autokrasi adalah negara dimana
pemerintahan negara itu benar-benar hanya dipegang atau dilaksanakan oleh satu
orang saja atau tunggal. Pada masa ini negara autokrasi yang masih murni tidak
dapat kita temukan lagi karena pada masa modern, pada negara autokrasi tersebut
disamping seorang tunggal yang memegang pemerintahan negara tersebut
ditemukan adanya sebuah badan perwakilan yang mendampingi kekuasaan kepala
negara.
Istilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno
pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari
sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti
dari istilah ini telah berubah seiring dengan waktu, dan definisi modern yang telah
berevolusi sejak abad ke-18 bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi di
banyak negara. Kata demokrasi berasal dari dua kata , yaitu demos berarti rakyat,
dan kratos/cratein berarti pemerintahan. Perkembangan demokrasi dimulai dari
demokrasi langsung, demokrasi kuno yang mulai timbul dan berkembang sejak
jaman Yunani kuno sampai perkembangannya mencapai demokrasi tidak langsung
dan demokrasi perwakilan atau demokrasi modern yang terjadi pada abad ke-17
dan 18. Demokrasi modern disebut dengan demokrasi kerakyatan, dari, oleh, dan
umtuk rakyat diatas pondasi kebebasan dan kesamaan derajat.
Negara autokrasi modern dan negara demokrasi modern saat ini dapat
dikatakan hampir sama, dalam arti bahwa kedua negara tersebut terdapat adanya
badan perwakilan.
Tetapi pada jaman1 modern ini boleh saja semua Negara menyatakan dirinya
sebagai negara autokrasi modern dan demokrasi modern. Lantas apa indikator yang
dapat dijadikan acuan suatu negara itu dapat dikatakan sebagai negara autokrasi

modern maupun negara demokrasi modern. Selanjutnya kita akan membahas


mengenai apa itu negara autokrasi modern, apa yang menjadi pembeda antara
negara autokrasi modern dan negara demokrasi modern, cara - cara yang dilakukan
dalam membatasi kekuasaan penguasa serta tokoh-tokoh yang mempelopori dari
masing-masing jenis negara autokrasi yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan, didapat rumusan masalah sebagai
berikut.
A. Pengertian Negara Autokrasi Modern ?
B.

Bagaimana perbedaan antara Negara Autokrasi Modern dengan Demokrasi


Modern ?

C. Bagaimana upaya / cara - cara pembatasan kekuasaan penguasa antara Negara


Autokrasi Modern dengan Negara Demokrasi Modern ?
D.

Siapa saja tokoh-tokoh yang mempelopori masing-masing jenis Negara


Autokrasi Modern?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, tujuan makalah
ini adalah sebagai berikut.
A. Untuk mengetahui pengertian Negara Autokrasi Modern.
B. Untuk mengetahui perbedaan antara Negara Autokrasi Modern dengan
Demokrasi Modern.
C. Untuk mengetahui cara - cara pembatasan kekuasaan yang dilaksanakan di
Negara Autokrasi Modern dengan Demokrasi Modern.
D. Untuk mengetahui siapa saja tokoh-tokoh yang mempelopori masing-masing
jenis Negara Autokrasi Modern yang ada.
1.4 Manfaat
Dalam mempelajari materi Negara Autokrasi Modern , kita akan dapat
mengetahui hal-hal sebagai berikut.
A. Kita dapat mengetahui apa itu Negara Autokrasi Modern.
B. Dapat mengetahui perbedaan antara Negara Autokrasi Modern dan Negara
Demokrasi Modern di lihat dari pandangan terhadap hakekat negara,
2

pandangan terhadap tujuan negara, dan pandangan terhadap dewan


perwakilan rakyat.

C. Dapat mengetahui tokoh-tokoh yang mempelopori masing - masing jenis


Negara Autokrasi Modern yang ada.

BAB 2
3

PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Negara Autokrasi Modern


Negara autokrasi modern sering disebut dengan sistem satu partai atau
berpartai tunggal. Negara autokrasi dalam pengertiannya yang asli atau kuno praktis
dewasa ini dapat dikatakan

sudah tidak ada, sedangkan pada beberapa abad yang

lampau, yang mungkin sisanya masih kita ketemukan dewasa ini, adalah yang disebut
autokrasi, ini pun sifatnya agak samar-samar karena Negara autokrasi modern ini
dalam perkembangannya pada zaman modern mengkamuflir dirinya

sedemikian

rupa, sehingga sepintas lalu dari segi luarnya kita melihat Negara tersebut seakanakan demokrasi modern.
Negara demokrasi modern dengan autokrasi modern tidaklah sama. Keduanya
memiliki perbedaan dalam pandangan tentang hakekat serta tujuan negara. Pada
negara autokrasi modern tujuan terakhirnya adalah menghimpun kekuasaan sebesar
mungkin pada tangan negara. Autokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang
kekuasaan politiknya dipegang oleh satu orang. Istilah ini diturunkan dari bahasa
Yunani autokrator yang secara literal berarti berkuasa sendiri atau penguasa
tunggal . Auto berarti sendiri, sedangkan kratos atau cratein berarti kekuasaan. Jadi,
negara autokrasi modern dalam artian yang murni adalah negara dimana pemerintahan
negara itu betul-betul hanya dipegang atau dilaksankan oleh satu orang saja. Zaman
sekarang, negara autokrasi yang sifatnya masih murni sudah tidak ada seperti pada
zaman kuno. Karena pada zaman modern, pada negara autokrasi tersebut disamping
seorang tunggal yang memegang pemerintahan negara itu didapati adanya sebuah
badan perwakilan yang mendampingi kekuasaan kepala negara tersebut. Jadi sepintas
Negara autokrasi pada zaman modern, sama dengan Negara demokrasi modern, dalam
arti bahwa pada kedua Negara tersebut terdapat adanya badan perwakilan.
Tetapi meskipun

demikian kita tidaklah dapat menyamakan badan

perwakilan yang ada pada Negara autokrasi modern itu dengan badan perwakilan dari
Negara demokrasi modern. Tidak dapat menyamakannya itu oleh karena antara
kedua badan perwakilan tersebut terdapat perbedaan-perbedaan yang sifatnya
pinsipiil, pokok. Dan inilah antara lain yang memberikan perbedaan antara
4

Negara autokrasi modern dengan Negara demokrasi modern, disamping


perbedaan-perbedaan lainnya.

2.2

Perbedaan antara Demokrasi Modern dengan Autokrasi Modern


Terdapatnya perbedaan antara badan perwakilan pada Negara autokrasi
modern dengan badan perwakilan pada Negara demokrasi modern tadi disebabkan
oleh beberapa hal, yang langsung berhubungan dengan Negara-negara tersebut.

Sebab-sebab itu antara lain :


a.Pandangan terhadap hakekat Negara
Mereka yang menyetujui atau mendukung Negara yang melaksanakan
sistem autokrasi, mengemukakan pandangannya, atau ajarannya, atau
doktrinnya, bahwa Negara itu pada hakekatnya adalah merupakan suatu
organisme. Negara dianggap sebagai sesuatu kesatuan yang mempunyai dasardasar hidup, serta kehidupan dan mempunyai kepentingan sendiri, serta
kepribadian sendiri. Hal-hal mana kadang-kadang malahan bertentangan
dengan kehidupan, kepribadian serta kepentingan rakyatnya. Jika sampai
terjadi demikian maka rakyatnyalah yang dikalahkan, sebab dalam Negara
yang melaksanakan system autokrasi ini rakyat atau individu tidak mempunyai
kepribadian serta kepantingan sendiri, terutama dalam hubungannya dengan
penyelenggaraan pemerintahaan Negara. Malahan dalam Negara autokrasi
timbul timbul anggapan bahwa kebahagian individu itu tergantung daripada
kebahagian Negara. Sedangkan Negara yang menyetujui atau mendukung
Negara yang melaksanakan system demokrasi, menggunakan pandangannya,
tau ajarannya atau doktrinnya,bahwa Negara itu pada hakekatnya adalah
merupakan suatu kumpulan atau kesatuan daripada para individu. Jadi disini
Negara sifatnya sekunder, sedangkan individulah yang primer. Dalam arti
bahwa individu mempunyai peranan yang pokok yang harus menentukan dan
mengusahakan kebahagiaan serta kesentausaan negara tergantung daripada
usaha inilah mereka dapat bahagia. Bahagia dalam arti yang seluas-luasnya,
sebab individu pada prinsipnya memiliki kebebasan serta kemerdekan untuk
menentukan kehidupan negara.

b. Pandangan terhadap tujuan Negara


Dalam sistem autokrasi, tujuan negara adalah menhimpun kekuasaan
5

sebesar-besarnya pada negara. Kekuasaan negara yang sebesar-besarnya pada


negara itu sesuai dengan hakekat negara berdasarkan pandangan autokrasi ialah
negara merupakan suatu organisme yang mempunyai kepentingan.

Dalam sistem demokrasi, tujuan negara adalah untuk mengusahakan


seerta menyelenggarakan kebahagiaan serta kesejahteraan rakyatnya. Oleh
karena itu, negara berkewajiban untuk mensejahterakan dan membahagiakan
para individu yang menjadi warga negaranya. Negara yang bertujuan untuk
mensejahterakan kehidupan negara dan warga negaranya disebut juga negara
kesejahteraan atau welfare state.
c.

Pandangan terhadap Dewan Perwakilan Rakyat


Perbedaan antara badan perwakilan rakyat pada negara autokrasi
modern dengan badan perwakilan demokrasi modern terletak pada :
Cara pengangkatan atau pemilihan daripada anggota-anggota badan
perwakilan rakyat tersebut. Pada Negara autokrasi modern, misalnya
pada Negara-negara fascist, pemilihan atau pengankatan anggota-anggota
badan perwakilan rakyat itu dimulai dari pengajuan calon-calon sementara
oleh kesatuan-kesatuan social yang ada di dalam Negara itu, dan yang
telah diakui secara syah oleh Negara. Kesatuan-kesatuan social ini
misalnya serikat-serikat kerja, golongan militer, kaum buruh dan
sebagainya. Nama-nama daripada calon sementara ini dimuat di dalam
sebuah daftar calon semntara, kemudiandaftar calon sementara ini dikirim
atau diajukan kepada Dewan Partai fascist, untuk dipilih dan dimuat ke
dalam daftar calon tetap. Dalam hal memilaih calon tetap ini Dewan Partai
mempunyai hak kebebasan, yaitu apabila dianggap perlu daftar calon itu
dapat ditambah dengan nama-nama orang baru yang terkemuka dari
golongan apa saja,dan bilamana ini juga dianggap perlu, mencoret nama
dalam daftar calon sementara tadi, dan menggantinya dengan nama-nama
yang dikehendaki oleh Dewan Partai selanjutnya daftar calon ttap tersebut
diajukan atau ditawarkan kepada rakyat pemilih. Demikianlah cara
pemilihan atau pengangkatan anggota-angota badan perwakilan rakyat dari
Negara autokrasi modern, yang antara lain pernah terjadi di italia pada
zaman fascistme dahulu.
Sedangkan pada negara-negara demokrasi modern, pemilihan atau
pengangkatan

anggota-anggota

badan

perwakilan

rakyat,

rakyat

mempunyai peranan yang penting, oleh karena itu mentukan secara


langsung siapa-siapakah yang akan terpilih duduk di kursi badan
perwakilan rakyat, yang akan memperjuangkan kepentingan rakyat,demi

kesejahteraan rakyat, Negara, nusa dan bangsa, dan oleh karena itu mereka
haruh tetap dijaga agar supaya tetap bersifat representative.
Sifat susunan daripada badan perwakilan rakyat. Sifat susunan daripada
badan perwakilan rakyat pada Negara autokrasi modern, sesuai dengan
pendapat mereka tentang hakekat Negara, yaitu bahwa Negara dianggap
sebagai suatu organisme, maka sifat susunan daripada badan perwakilan
rakyatnya adalah korporatif, oleh karena badan perwakilan rakyat tersebut
bukanlah merupakan wakil-wakil individu, melainkan merupakan wakil
daripada kesatuan-kesatuan sosial yang ada dan diakui syah oleh Negara
dalam masyarakat tersebut.
Sedangkan badan perwakilan rakyat pada Negara demokrasi modern
itu sifatnya adalah atomistis, oleh karena badan perwakilan rakyat tersebut
merupakan wakil-wakil daripada rakyat pemilih.
Sifat kekuasaan daripada badan perwakilan rakyat. Pada Negara
autokrasi modern badan perwakilan rakyat itu sebenarnya tidak
mempunyai kekuasaan apa-apa, oleh karena badan perwakilan rakyat
tersebut hanyalah merupakan pendukung saja tehadap keputusankeputusan yang telah diambil oleh badan eksekutif. Malahan ada yang
mengatakan bahwa badan perwakilan rakyat pada Negara autokrasi
modern itu hanya sebagai corong atau penggema saja daripada suara atau
keputusan-keputusan badan eksekutif. Jadi kekuasaan di dalam Negara
autokrasi modern itu sebenarnya ada pada badan eksekutif, dan disini pun
sesungguhnya yang memegang kekuasaan atau yang menentukan putusan
adalah hanya satu orang, yaitu pimpinan daaripada badan eksekutif
tersebut, yang di Italia pada zaman pemerintahan fascist disebut Capo del
Governo, atau Il Duce, yang artinya pemimpin. Di jerman pada
pemerintahan nazi pimpinan badan eksekutif disebut Fuhrer. Misalnya
Pada zaman pemerintahan hitler, saat itu bentuk Negara jerman adalah
nasional-sosialis, dimana pimpinan autoriter menjadi wujud daripada
7

Negara nasional-sosialis. Badan perwakilan rakyat disana disebut


Rijksdag, tidak lebih daripada suara kedua yang hanya mengulangi
pernyataan-pernyataan Fuhrer, Rijksdag hanya berkumpul atau bersidang

apabila Fuhrer menganggap perlu untuk memberitahukan secara lebih


hebat hal-hal mengenai kebijaksanaan kenegaraan yang dijalankan atau
yang akan dijalankan.
Tetapi bagaimanapun juga kuasanya orang yang demikian ini, oleh
karena tidak memperhatikan kepentingan golongan saja, yaitu bangsa
aria, sedangkan golongan lain ditindas dengan kejam, akhirnya akan
berantakan sendiri dalam umur yang pendek saja. Menurut Alfredo Rocco,
dia pernah menjabat mentri kehakiman italia pada jaman fascist, bahwa
kekuasaan eksekutif mempunyai kedudukan utama, pemerintah adalah
merupakan wakil daripada kekuasaan Negara seluruhnya, dan dengan
demikian badan eksekutif harus memenuhi tugas umum. Sedangkan kedua
kekuasaan lainnya, yaitu kekuasaan legeslatif da kekuasaan yudikatif
hannya merupakan kekuasaan khusus saja, jadi kedudukan sekunder. Jadi
badan legeslatif dan badan yudikatif hanya mempunyai tugas atau
kekuasaan tertantu yang sifatnya khusus, sedangkan badan eksekutif, c.q.
Fuhrer, mempunyai tugas atau kekuasaan yang tidak terbatas dan sifatnya
umum.
Di Jerman, pada zaman nazi, kekuasaan tidak berbeda. Pada zaman
itu, Rijksdag, yaitu parlemen Jerman, hanya merupakan corong saja untuk
menggemakan suara Fuhrernya. Hamper sama dengan keadaan di kedua
Negara tersebut di atas adalah keadaan di Republik Sovyet. Negara ini
juga mempunyai peraturan pemilihan badan perwakilan rakyat yang
sifatnya korporatif. Negara ini hanya berpartai satu, adanya partai-partai
lain sebagai oposisi tidak diperkenankan. Dalam praktek, system di
Republik Sovyet itu berjalan sebagai diktator yang teratur, denga
pemerintahan yang kuat. Sedangkan pada Negara demokrasi badan
perwakilan rakyat mempunyai kekuasaa nyata yaitu memegang kekuasaan
perundang-undangan. Sebagaimana telah diketahui, di dalam Negaranegara autokrasi modern itu hanya ada satu partai. Sesungguhnya keadaan
8 ini merupakan suatu contradiction in adjecto. Oleh Karena
yang demikian

istilah partai itu arti yan gsebenarnya adalah bagian, atau pihak, atau
golongan yang ada di dalam Negara itu, yang memperjuangkan tujuan-

tujuan kenegaraan tertentu. Kalau dalam Negara hanya ada satu pihak
saja,karena semuanya itu telah disamaratakan maka sama sekali tidak
terdapat lagi partai,atau syukurlah pihak itu, atau bagian itu kita sebut
partai. Sebenarnyalah bahwa dalam Negara-negara autokrasi modern itu,
apa yang dimnamakan partai itu tidak lain daripada alat kekuasaan yang
telah diatur dengan seksama, untuk memusnahkan adanya kemungkinan
pemberontakan tehadap Fuhrer.
Jadi sebenarnya adanya partai dalam Negara-negara autokrasi modern
itu hanya akan merupakan suatu alat kekuasaan saja daripada Negara, dan
dengan dipergunakan untuk menindas gerakan-gerakan yang menentang
Negara. Inilah yang sebenarnya merupakan kelemahan daripada Negara
yang bersistem autokrasi karena dengan demikian Negara lewat kepala
negaranya, tidak akan segan-segan melakukan keseganan apa saja, apabila
ada warga Negara atau suatu golongan yang mempunyai pendirian lain
dari pendirian partai, atau pendirian pemerintah. Jadi disini kepentingan
individu itu kuran mendapat perhatian dari pemerintah, atau malahan
mumngkin tidak mendapatkan perhatian sama sekali, karena yang
diperhatikan hanyalah kepentingan Negara saja.
Tetapi disamping kelemahan-kelemahan tersebut diatas, Negara yang
berpemerintahan autoritaire itu mengandung pula kebaikan-kebaikan,
yaitu adanya kemungkinan untuk mengambil keputusan keputusan secara
cepat, serta mengadakan tindakan-tindakan tegas seperluanya, terutama
dalam keadaan genting yang memerlukan perubahan-perubahan secara
radikal baik dalam bidang pemerintahan, ketatanegaraan, ekonomi, politik
maupun social. Perubahan-perubahan mana memang kadang-kadang perlu
diadakan secara radikal.
Memang demikian lah keadaan dari pada sesuatu system itu kadangkadang bersifat baik, tetapi kadang-kadang bersifat buruk, dan sifat-sifat
ini selalu tergantung pada keadaan dan cara melaksanakannya, juga
9

tergantung pada sudut peninjauan dari yang berkepentingan. Jadi tegasnya


tidaklah ada suatu system yang sifatnya itu sempurna, karena mesti suatu
system itu mengandung kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan.

Hanya saja bedanya suatu system itu mungkin mengandung kebaikanbaikan dari system lainnya. Kelebihan mana keadaan yang menentukan.
Demikian pula misalnya dictatorial tersebut di atas.
Dictator itu adalah bahwa kekuasaan pemerintah didalam Negara itu
hanya dipegang, dilaksanakan dan dipimpin oleh satu orang tunggal saja,
yang orang ini di sebut dictator. Maka sebenarnya istilah dictator proletar
itu adalah tidak tepat, dan menyalahin teori kenegaraan. Pemerintahan
dictatorial tidaklah mungkin dijalankan oleh satu golongan yang besar,
jadi kalok dikatakan dictator proletar, itu sebenarnya yang menjalankan
dictator itu bukanlah golongan itu, melainkan yang mejalankan itu adalah
pemimpinnya, jadi sebenarnya dia inilah diktatornya, dialah yang
mendikte, yaitu mendiktekan kehendak untuk dilaksanakan, dan
pelaksanaan ini disertai dengan kekerasan-kekerasan dan kekejamankekejaman.
Terhadap kebaikan Negara yang berpemerintahan autoritaire atau
dictatorial itu, ada yang tidak menyetujuinya, sarjana yang menyetujuinya
itu diantara lain adalah Bryce, oleh karena menurut beliau, keputusankeputusan atau tindakan-tindakan yang di ambil dengan cepat, lagi pula
hanya oleh satu orang itu dapat membahayakan keseimbangan Negara,
terlebih apa bila dia itu bertindak sebagai seorang dictator, yang merasa
mempunyai kekuasaan mutlak, ini sering menimbulkan keputusankeputusan dan, atau tindakan-tindakan yang sewenang-wenang.
Maka kita ikuti saja sebentar uraian Maurice Duverger mengenai
masalah ini. Beliau antara lain menyatakan bahwa sesungguhnya ada dua
macam prinsip pembatasan kekuasaan. Yang satu dengan yang lainnya itu
mrupakan perlawanan yang tegas, dan itu merupakan perlawanan yang
sebagaimana itu kita lihat terdapat di semua unsur mewujudkan
ketatanegaraan yautu system liberal, dan sistim autoriter. Pertentangan itu
asal mulanya sekali, yaitu ada istilah umum: Weltanschaung, yang prinsip10

prinsipnya saling berhadapan, dan yang tentang menentang sekeras itu


pula didalam konsekuensi-konsekuensinya. Terhadap adanya dua macam
Weltanschaung ini banyak sekali nama-nama yang menggambarakan 2

aliran tersebut oleh karena hampir setiap jaman, dan hamper setiap penulis
memberikan

nama

sendiri.

Malahan

kadang-kadang,

ini

yang

membingungkan mengacaukan, memberikan pengertian atau mungkin


hanya sebagai penafsiran yang berlainan, entah karena di sengaja atau
entah memang belum atau tidak mengerti pengertian yang sesungguhnya.
Maurice Duverger menanamkan kedua Weltanschaung tersebut, yang
satu individualisme, sedang yang lain kolektivisme. Nama-nama ini
menurut beliau katanya telah di pikir baik-baik, dan inilah yang tepat
karnanya yang tepat dipilih, sebab itulah yang mengemukakan masingmasing sendi dari pada masing-masing doktrin atau Weltanschaung
tersebut. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa doktrin kolektivisme
sebagai bagian dari pada satu perumpamaan atau postulat dasar yang
sering tidak pasti perumusannya dan kadang-kadang tidak tegas,
menyatakan bahwa individu-individu hanya unsur-unsur yang secara
bersama-sama mewujudkan kesatuan-kesatuan soasial, dan kesatuan itulah
yang benar-benar ada, yang benar-benar dapat dipandang sebagai suatu
kesatuan. Merurut doktrin ini kelompok atau kesatuan soasial serta
kehidupan soasial dapat disamakan dengan tubuh manusia, dan kehidupan
manusia.
Demikianlah hanya dengan manusia itu harus hidup didalam suatu
kesatuan atau masyarakat supaya hidupnya dapat sempurna. Karena
manusia yang hidup terlepas diluar kesatuannya, yaitu diluar masyarakat,
tentu akan mengalami ketidak sempurnaan didalam hidupnya.
Yaitu selanjutnya mengatakan bahwa cukup terang, bahwa doktrin
kolektivisme itu sam sekali bertentangan dengan segala maksud untuk
membatasi kekuasaan penguasa. Sebab para penguasa itu, di dalam
dokrtrin ini, merupakan penjelamaan daripada kesadaran dan kehendak
kesatuannya. Dan kekuasaan penguasa semata-mata bertujuan untuk
mematahkan segala perlawanan individu terhadap kepentingan kolektif.
11

Sebaliknya adalah doktrin individualisme. Doktrin ini menuju kepada


kesimpulan-kesimpulan yang tepat merupakan kebalikan daripada

kesimpulan-kesimpulan doktrin kolektivisme. Hal yang demikian ini


tidaklah mengherankan, sebab kedua-duanya adalah dimulai dari pangkal
yang tepat dan dapat bertentangan pula.
Menurut doktrin individualism, masyarakat adalah merupakan
kenyataan sekunder, sedangkan setiap manusia atau individu merupakan
kenyataan primer, atau kenyataan tinkat pertama, jadi individulah
merupakan kesatuan yang sifatnya fundamentil.
Memang tidaklah disangsikan lagi baha manusia itu suatu makhluk
yang jika terpisah seorang diri dari kesatuannya, tidak akan sangup
mencukupi semua kebutuhannya, sehingga hidup masyarakat itu
merupakan suatu keharusan. Ini seringkali merupakan suatu keharusan
yang menguntungkan, sebab masyarakat itu selalu memelihara nilai-nilai
peradaban dengan menyebarkan kebajikan-kebajikannya kepada anggotaanggota, yaitu individu.
Tetapi bagaimanapun juga individu itu tetap merupakan tujuan
tertinggi yang membawahkan sesuatu. Di sini kesatuan social, atau
masyarakat lalu menjadi terbatas peranannya, yaitu menjamin kesempatan
hidup kepada setiap manusia dan membuka jalan untuk perkembangan
yang selaras dengan watak-watak atau sifat-sifat yang sebenarnya.
Maka kalau doktrin kolektivisme menyatakan kehidupan dan hidup
manusia di dalam masyarakat itu tak ubahnya seperti kehidupan dan
hidupnya sel-sel di dalam tubuh manusia: sebagai imbangan daripada
postulat ini doktrin individualisme menyatakan bahwa kehidupan manusia
di dalam masyarakat itu disamakan dengan kumpulan lukisan-lukisan di
dalam suatu pameran seni lukis, dmna setiap lukisan itulah yang menjadi
pokok harga atau nilai, dan bukan simetri kumpulan seluruhnya.
Dengan pahamnya yang demikian itu doktrin individualisme
mengangap bahwa para penguasa semata-mata berkewajiban memelihara
12

kewajiban-kewajiban social yang perlu untuk perkembangan setiap


individu, dengan demikian akibatnya keperluan perkembangan individu
itulah yang menentukan batas-batas kekuasaan penguasa atau pemerintah.

Jadi setiap individu itu mempunyai saut lingkungan hidup sendiri, satu
lingkuangn kepribadian yang tidak dapat diganggu-gugat, atau dilanggar
oleh siapapun, khususnya oleh penguasa, dengan ketentuan bahwa bila
terjadi perselisihan antara indivudu dengan kesatuannya atau masyarakat
ada kemungkinan bahwa individu harus mengalah.
Dengan demikian maka para pendukung dokrin individualisme lalu
berusaha sekuat tenaga untuk memikirkan dan selanjutnya menemukan
cara-cara yang jitu untuk dapat membatasi kekusaan penguasa. Dan
memang sesungguhnyalah bahwa dalam teori kenegaraan masalah
mengenai cara pembatasan kekuasaan penguasa ini merupakan salah satu
masalah yang terpenting.
2.3

Cara - Cara Pembatasan Kekuasaan Penguasa


Menurut Maurice Duverger timbulnya dan terselenggaranya pembatasan
kekuasaan penguasa itu bukanlah karena hasil dari suatu pemikiran melainkan oleh
karena adanya kesulitan serta rintangan yang bersifat kebendaan atau materiil, yang
merintangi maksud penguasa unutk melaksanakan kekuasaannya. Ingat saja misalnya
bagaimana sifat mutlaknya kekuasaan dari raja-raja Djenggis Khan dan Tamarlan.
Bagaimanapun mutlaknya kekuasaan mereka itu, namun dalam jarak kira-kira 450 km
saja dari tempat dimana mereka itu bertakhta sudah tidak akan terasa lagi. Malahan di
dalam ibu kotanya saja, kalau sifat penindasannya itu melebihi dari kesanggupan
rakyat untuk menanggungnya, raja-raja seperti Djenggis Khan dan Tamarlan akan
selalu terancam timbulnya pemberontakan - pemberontakan yang sulit dilawan dan
dipadamkan dengan kekuatan - kekuatan pedang dan tombak laskar-laskarnya.
Tetapi, keadaan tidaklah statis, melainkan sebaliknya, keadaan selalu berubah
dan berkembang, terutama alat-alat lalu lintas ini mengalami perkembangan yang
pesat. Perkembangan ini adalah sangat menguntungkan bagi para penguasa karena
memberikan kepada para penguasa suatu alat penerangan dan pengawasan yang luar
biasa dan yang tidak ada taranya dalam abad-abad yang lampau. Orang akan lebih
mudah melaksanakan kekuasaan dan mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan
kekuasaan tersebut dalam suatu daerah yang luas dengan alat-alat lalu lintas yang
13

modern, daripada dalam suatu daerah yang sempit tetapi yang dalam daerah tersebut
belum ada alat-alat lalu lintasnya yang modern.

Demikian pula keadaannya perkembangan alat-alat persenjataan yang


semakin lama semakin canggih, dalam arti bahwa alat-alat persenjataan tersebut
hanya dapat dilayani oleh orang-orang tertentu, yaitu para ahli. Maka sejak itu :
barang siapa dapat memiliki kekuatan senjata, tentu dapat menyelamatkan diri dari
semua gerakan rakyat. Dan sejak itu pula orang tidak lagi membuat revolusi melawan
rakyat.
Lebih lebih dengan adanya pengawasan pemerintah atas persuratkabaran,
radio, film, pendidikan dan sebagainya. Tindakan tindakan ini semua merupakan
senjata yang ampuh bagi pengusaha untuk dengan leluasa melaksanakan propaganda
secara besar besaran, yang lama kelamaan sulit ditentang oleh rakyat. Ini semua
sebenarnya merupakan konsekuensi daripada perkembangan ilmu pengetahuan
modern, yang ada pada waktu itu ilmu pengetahuan memberikan kepada penguasa
suatu kekuasaan yang dapat mematahkan segala perlawanan yang bersifat materiil.
Maka dari itu suatu usaha untuk mendapatkan cara, dengan cara itu kekuasaan
penguasa dapat dibatasi, merupakan masalah yang maha besar, lebih lebih pada
waktu itu usaha tersebut sangat sulit dilakukan.
Menurut Maurice Duverger, ada tiga macam usaha untuk dapat melaksanakan
pembatasan kekuasaan penguasa itu, yang masing masing bergerak dalam lapangan
yang tersendiri. Tiga macam usaha tersebut ialah :
1. Usaha yang ditujukan untuk melemahkan atau membatasi kekuasaan penguasa
dengan secara langsung. Didalam usaha ini ada tiga macam cara yang umum
depergunakan , yaitu :
a

Pemilihan para penguasa


Pada waktu kita mempelajari atau membicarakan sistem
pemerintahan demokrasi, kita telah mengetahui bahwa pemilihan
para penguasa oleh rakyat yang akan diperintah, itu merupakan
salah satu cara yang paling mudah dan praktis untuk melaksanakan
dan mencapai maksud daripada prinsip pembatasan kekuasaan
penguasa. Tetapi harus disertai dengan syarat-syarat bahwa
pemilihan itu harus betul-betul bebas dan beres. Kalau memang
syarat-syarat tersebut dilakukan maka hal ini akan memaksa para
penguasa untuk memberikan pertanggung jawaban kepada rakyat.
14

Dan pertanggung jawaban itu bukanlah sekedar pertanggung


jawaban yang tidak ada sanksinya, melainkan pengertian
pertanggung adalah pertanggung jawaban politis, dengan sanksi

yang bersifatpolitis juga, dan sanksi ini yang paling berat ialah :
apabila kebijaksanaan penguasa itu tidak dapat diterima oleh
rakyat, maka penguasa akan kehilangan kekuasaannya, dan ini
berarti jatuhnya kekuasaan mereka. Tetapi apabila penguasa itu
mulai menyadari bahwa kekuasaan mereka itu sebenarnya mereka
peroleh dari rakyat, dan mulai saat itu pula menyegani rakyat,
maka ini adalah merupakan titik pangkal daripada kebijaksanaan
penguasa.
Meskipun pemilihan ini sebenarnya tidak dapat terlepas
dari kelemahan-kelemahan, ini tergantung daripada sistem
pemilihan dan sikap rakyat terhadap penguasa, namun pemilihan
tetap merupakan suatu cara yang paling tepat dan tegas untuk
membatasi kekuasaan penguasa.
b

Pembagian kekuasaan
Ini dikemukaan oleh Maurice Duverger sebagai salah satu cara
yang baik untuk membatasi atau melemahkan kekuasaan penguasa dengan
maksud untuk mencegah agar para penguasa itu jangan sampai
menyalahgunakan kekuasaannya atau bertindak sewenang-wenang dengan
melebaran cengkraman totaliternya atas rakyat. Dalam hal ini Maurice
Duverger telah memperingatkan pula akan ajaran Montesquieu yang
sangat termashyur, kemashyurannya ini disebabkan oleh ketegasan
daripada ajaran tersebut, yaitu : kekuasaan membatasi kekuasaan.
Diperingatkan pula oleh beliau bahwa pembagian kekuasaan, hendaknya
dipahami dalam pengertiannya yang luas, maksudnya tidak saja dalam arti
pemisahaan kekuasaan menurut tipe Trias Politika Klasik, yaitu bahwa
kekuasaan negara itu dibagi dalam atau menjadi kekuasaan : legislative,
eksekutif dan yudikatif, yang meskipun sudah barangtentu pengertian
yang terakhir itu ada kebaikannya, yaitu : sifat kebebasan kekuasaan
pengadilan dalam hubungannya dengan kedua kekuasaan yang lain, ini
misalnya dan terutama di negara-negara Anglo Saxon, sehingga para
warga negara terjamin betul terhadap pelanggaran-pelanggaran yang
15

dilakukan oleh penguasa.


Tetapi kita harus ingat akan adanya macam atau tipe pembagian
kekuasaan lain yang lebih baik daripada yang telah disebabkan. Demikian

misalnya, dan ini menurut para penganutnya sistem Dwi Dewan yang
dapat mencegah timbulnya pelanggarang yang mungkin timbul atau
terjadi pada sistem satu dewan. Begitulah juga misalnya sistem
tripartisme. Sistem Tripartisme sangat terkenal di Perancis pada tahu
1994-1947. Sistem ini pada hakekatnya berarti : penyerahan kekuasaan
kepada tiga partai terbesar yang turut didalamnya pembagian sektor-sektor
dalam lapangan usaha pemerintah dan yang masing-masing itu dibawah
pimpiman seorang presiden, dewan, menteri, tetapi yang sesungguhnya
hanya merupakan lambing saja. Jadi sistem ini pada hakekatnya mencegah
timbulnya dictator timbulnya dictator satu partai.
Di samping itu ada juga pendapat bahwa sistem federalisme dan
sistem desentralisasi dianggap sebagai cara-cara pembagian kekuasaan.
Karena yang terjadi disini adalah pembagian kekuasaan serta vertical, dan
tidak menjurus ke pembagian kekuasaan secara horizontal. Tetapi hal ini
menurut Maurice Duverger hasilnya akan sama sekali berbeda. Karena
beliau menegaskan bahwa hendaknya pengertian pembagian kekuasaan
itu janganlah dicampur adukkan dengan pengertian pemisahaan kekuasaan
tersebut di dalam lapangan pengadilan, yang oleh beliau disebutnya
control yurisdiksionil.
c

Control Yurisdiksionil
Dengan ini dimaksudkan ialah adanya peraturan-peraturan hukum yang

menentukan hak-hak atau kekuasaan tersebut, dan yang semuanya itu


pelaksanaannya diawasi dan dilindungi oleh organ-organ pengadilan dari
lembaga-lembaga lainnya dengan tujuan membatasi kekuasaan penguasa,
melainkan juga terjadi pemberian kekuasaan kepada lembaga pengadilan
untuk mengontrol, mengatur serta mengendalikan lembaga-lembaga politik
dan lembaga-lembaga administrasi.
Suatu control yurisdiksionil yang sempurna atau lengkap menurut
Maurice Duverger harus meliputi dua hal yaitu : Pertama, control atas sah
tidaknya tindakan-tindakan badan eksekutif agar dengan demikian tercegah
timbulnya

pelanggaran-pelanggaran terhadap undang-undang.

Kedua,

16

control agar undang-undang dan peraturan-peraturan hukum lainnya tidak


menyimpang dari undang-undang dasar atau konstitusi. Ini adalah salah satu
cara untuk menjaga agar parlemen, dimaksudkan badan pembuat undang-

undang, tidak melanggar ketentuanketentuan UUD atau konstitusi, dan


pernyataan hak-hak azasi warga negara. Untuk ini sistem Amerika
merupakan salah satu contohnya. Control yang disebutkan terakhir ini tidak
kurang pentingnya daripada control yang pertama. Lagipula dengan tidak
adanya control yang kedua ini, pengertian daripada UUD sama sekali akan
kehilangan azas-azasnya, dan yang akan menjadi rangakaian kata-kata saja
yang tidak ada artinya sama sekali kalau tidak ada lembaga-lembaga yang
mempertahankan dan menjaga kehormatan hukum tersebut.
2. Usaha yang kedua untuk membatasi kekuasaan penguasa ialah

menambah atau

memperkuat kekuasaan pihak yang diperintah. Jadi daya kesanggupan rakyat untuk
menolak pengaruh-pengaruh dari penguasa itu ditambah atau diperkuat. Tentu saja
pengaruh-pengaruh dari penguasa di sini dalam arti pengaruh-pengaruh yang
bermaksud melemahkan rakyat.
Sesungguhnya segala usaha untuk membatasi kekuasaan penguasa itu hanya
dilaksanakan selama masih ada pertentangan antara penguasa dengan rakyat yang
diperintahnya, dan pertentangan itu selalu mencerminkan sifat pokok dinamika social.
Untuk mencegah jangan sampai timbul atau terjadi penindasan dari pihak yang
pertama terhadap pihak yang kedua, orang dapat melemahkan pihak yang pertama
atau menambah kekuasaan atau kekuatan pihak yang kedua. Tetapi sesungguhnya
kedua usaha tersebut perbedaanya tidak selalu terang. Pemilihan umpannya ini adalah
salah satu cara dari usaha untuk membatasi kekuasaan penguasa dengan melemahkan
kekuasaan penguasa tersebut secara langsung. Tetapi sebaliknya ini juga merupakan
salah satu cara dari usaha untuk membatasi kekuasaan penguasa dengan menambah
atau memperkuat kekuasaan rakyat yang diperintah.
Salah satu cara yang disebut Maurice Duverger yang menurut sifanya memang
dimasukkan ke dalam golongan usaha yang kedua ialah yang dinamakan kekuasaan
pribadi. Dengan kekuasaan pribadi ini dimaksudkan oleh beliau adalah semua
lembaga yang diadakan dan dipimpin sendiri oleh warga negara, maksudnya oleh
rakyat, atau tegasnya oleh orang-orang yang diperintah itu sendiri, dan yang
memberikan kesempatan kepada mereka untuk menentang kehendak negara yang
merugikan rakyat. Ini misalnya, untuk jaman modern hak milik individual,
17

perkumpulan-perkumpulan, serta pers, dan sebagainya, kesemuannya ini merupakan


rintangan rintangan besar buat pelaksanaan kekuasaan mutlak dari penguasa, karena
dengan hal-hal itu kekuasaan yang diperintahkan menjadi bertambah kuat.

Tetapi sayang sekali cara ini bersamaan dengan perkembangan tehnik produksi,
condong kepada pengurangan kekuasaan pribadi secara berangsur-angsur, lalu
meghapuskannya, dan pada akhirnya berakibat pengurangan kemerdekaan dan
otonomi para warga negara secara langsung, dan ini yang paling membahayakan yaitu
timbulny ancaman dari pembatasan kekuasaan penguasa secara tidak langsung, yang
meniadakan alat-alat terkuat atau cara-cara terkuat yang dapat mencegah perluasan
kekuasaan para penguasa. Untuk ini Maurice Duverger mengemukakan contok klasik,
yaitu keadaan negara orang Liliput dengan raksasa Gulliver sebagai rajanya.
Sementara itu memang para warga negara atau rakyat yang diperintah tidak
sama sekali dilucu kekuasaannya, oleh karena ada prosedur demokrasi semi langsung
yang memberi kepada rakyat suatu lat untuk mengambil suatu tindakan yang kuat di
dalam menghadapi penguasa. Pada umumnya pengertian demokrasi semi langsung ini
haruslah dipelajari dalam hubungannya dengan sistem pemilihan para penguasa, sebab
sistem ini terletak di antara sistem demokrasi langsung dengan demokrasi perwakilan
atau demokrasi modern. Dalam sistem ini demokrasi langsung, rayat sendiri secara
langsung menjalankan kekuasaan; di dalam demokrasi perwakiln rakyat menyerahkan
kekuasaanya kepada wakil-wakilnya untuk dilaksanakan, sedangkan dalam demokrasi
semi langsung rakyat membagi kekuasaanya dengan para wakil-wakilnya, dalam arti
bahwa rakyat dapat memaksa para penguasa dengan suara inisiatif untuk mengurus
sesuatu hal maupun rakyat dengan hak referendum ata hak veto dapat menuntut untuk
meretifisir dulu keputusan-keputusan penguasa sebelum keputusan-keputusan itu
dijalankan.
Jadi dengan demikian jelaslah bahwa sistem demokrasi semi langsung yang
dimaksud oleh Maurice Duverger itu tidak ada hubungannya dengan pemilihan para
penguasa, dan bahwa adanya persamaan antara demokrasi langsung, demokrasi semi
langsung, dan demokrasi perwakilan itu bersifat azasi. Lagipula sistem-sistem : hak
inisiatif, hak referendum, dan hak veto itu tidak ada halangannya, jadi dapat
dipergunakan atau dilaksanakan dala suatu sistem pemerintahan autokrasi, dimana
para penguasa itu terjamin kekuasaanya, misalnya oleh aturan-aturan keturunan.
Sehingga dalam arti kata yang setepat-tepatnya demokrasi semi langsung kehilangan
sifat demokrasinya.
18
Apa yang dikemukaan
oleh Maurice Duverger sangat tepat, bahwa apa yang
menjadi tujuan pokok daripada prosedur tersebut di atas adalah memberikan alat
kepada para warga negara untuk mmenjamin terlaksananya pembatasan kekuasaan

penguasa. Oleh karena memang prosedur atau cara di atas dapat secara langsung
menahan keputusan-keputasan penguasan. Negara yang pertama-tama mendapatkan
dan kemudian mengembangkan prosedur tersebut, kita dapat mempelajari
pelaksanaannya di dalam praktek ketatanegaraan Swiss.
Tetapi bagaimanapun juga suatu sistem atau cara itu tidak dapat terlepas dari
keberatan-keberatan tertentu. Adapun keberatan-keberatan sistem
sistem referendum :
1. Sistem tersebut lambat jalannya.
2. Sistem tersebut di dalamnya

di Swiss, yaitu

mengandung kecenderungan

untuk

menimbulkan semangat konservatif, artinya dimana mana rakyat selalu


mencurigai hal-hal yang baru.
3. Kelemahan yang paling berat ialahadanya resiko timbulnya sikap masa
bodoh atau acuh tak acuh di kalangan rakyat pemilih apabila terlalu sering
diadakan pemungutan suara, baik pemungutan suara untuk referendum
obligator maupun untuk referendum fakultatif.
Selanjutnya Maurice Duverger mengatakan bahwa orang harus mengakui
kekurangan kekurangan, atau kelemahan- kelemahan yang nyata ini. Tetapi di
samping itu orang harus mengakui pula bahwa di dalam neraca ujian, maksudnya
setelah diadakan perbandingan baik-buruknya sistem tersebut, ternyata bahwa unsurunsur yang baik lebih kuat daripada unsur-unsur yang buruk.
3.

Usaha yang ketiga di dalam melaksanakan pembatasan kekuasaan penguasa, dapat


juga dipertimbangkan suatu usaha mengendalikan kealiman-kealiman pihak penguasa
dari masyarakat atau negara yang satu, terhadap masyarakat atau negara yang lain,
dengan mengusahakan adanya semacam intervensi oleh penguasa dari masyarakat
atau negara yang lain, dan intervensi ini harus dilakukan/dilaksanakan secara timbal
balik. Jadi tegasnya diadakan pengawasan secara timbal balik.
Usaha ini disebut : pengendalian atau pembatasan secara federalism. Ini pada
azasnya terjadi pada pembatasan kekuasaan oleh penguasa, oleh penguasa lain, di
dalam menjalankan kekuasaan atas bangsa yang dikuasainya. Usaha ini dapat
dibedakan dalam dua cara, yaitu : 1) Pembatasan kekuasaan penguasa secara
federalisme

yang bersifat intern atau dalam negeri, 2) Pembatasan kekuasaan


19

penguasa yang diselenggarakan oleh pengawasan internasional. Contoh yang


melaksanakan kekuasan secara intern adalah Swiss dan Amerika Serikat. Kedua
negara ini terjadi atau tersusun atas negara-negara (kecil) yang masing-masing masih

memilki kebebasan-kebebasan, negara-negara ini yang dimaksudkan adalah negaranegara bagian, di Amerika Serikat, sedangkan di Swiss namanya kanton. Pemerintah
atau penguasa dari negara-negara bagain atau kanton-kanton tersebut mempunyai
kekuasaan-kekuasaan atau hak-hak yang besar sekali untuk membatasi kekuasaan
serta tindakan-tiindakan pemerintah federal atau pemerintah pusat. Tegasnya apa yang
dimaksudkan diatas ialah : bahwa tiap-tiap negara bagian atau kanton-kanton itu
masih mempunyai wewenang utnuk mengurus urusan-urusan tertentu dan yang
demikian ini merupakan suatu jaminan yang sangat besar terhadap pelanggaranpelanggaran yang dilakukan leh pemerintah federal atau pemerintah pusat.
Jadi ini dapat dianggap sebagai suatu variasi pembagian kekuasaan secara
vertical, sebagai awan daripada pembagian kekuasaan secara horizontal, oleh karena
pada hakekatnya sistem tersebut diatas, di Amerika Serikat dan Swiss, berakibat
adanya pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat, yaitu pemerintah federal,
dengan pemerintah negara-negar bagaian atau kanton-kanton. Tetapi sementara itu
perlu dimengerti bahwa sistem federalism adalah jauh mengatasi pengertian sistem
pembagian kekuasaan. Tetapi dengan mengembalikan sistem federalisme ke tingkat
tehnik daripada pembagian kekuasaan, sesungguhnya orang telah melakukan
kesalahan sebab antara kedua sistem kedua sistem itu azasnya sangat berbeda.
Sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, kita ketahui bahwa federalisme
adalah suatu usaha untuk membatasi kekuasaan penguasa, jadi suatu usaha untuk
menjaga agar rakyat yang dikuasai itu tidak dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh
kekuasaan pusat, yang dimaksudkkan adalah jangan sampai pemerintah pusat itu
mempunyai kekuasaan yang bersifat absolut dan bertindak sewenang-wenang. Dan
kalau di sini terjadi pembagian kekuasaan, itu yang dimaksudkan adalah bahwa
masing-masing pemerintah negara bagian atau kanton itu menjaga keistimewaannya
dan ke otonomiannya agar dapat mengimbangi dan membatasi kekuasaan pemeriintah
pusat, atau pemerintah federal yang sebenarnya terdiri atas mereka sendiri.
Sedangkan dalam sistem pembagian kekuasaan itu memang betul-betul
diadakan pembagian kekuasaan dari pemerintah pusat kepada berbagai organ. Jadi
negara yang bersangkutan sifat susunannya adalah tunggal, yang kemudian kekuasaan
negara di sini tidak hanya dipegang oleh satu organ melainkan dibagi-bagi, di
20
distribusikan kepada beberapa
organ.
Menurut Maurice Duverger menyuburkan federalisme itu adalah suatu cara

yang jitu untuk memelihara demokrasi serta kebebasan, dan sekaligus membuka
kesempatan yang sebesar-besarnya kepada perkembangan keduanya. Ada orang yang

berpendapat bahwa federalisme yang berdasarkan tertorial

dapat disertai dan

diselamatkan oleh federalisme tehnik, kemudian akan menjelma di dalam negara itu
perusahaan-perusahaan, universitas-universitas, dan sebagainya.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa pikiran ini adalah tepat. Oleh karena itu,
perlu dianjurkan. Hanya saja perlu diperingatkan bahwa federalisme itu tidak boleh
bersifat dibuat-buat, dan bahwa yang dapat menikmati otonomi sejati itu adalah hanya
kesatuan-kesatuan social yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Pendapat Maurice
Duverger tersebut kurang dapat diterima, karena :
1. Federalisme bukanlah cara yang baik untuk memelihara demokrasi dan
kebebasan. Kalau tokoh itu benar, kiranya yang dimaksud demokrasi dan
kebebasan itu adalah demokrasi dan kebebasan liberal, yang sudah tidak pantas
lagi dengan alam modern, lebih-lebih dengan alam demokrasi yang kita
laksanakan di negara kita sekarang ini, yaitu demokrasi Pancasila dimana yang
2.

menjadi intinya adalah musyawarah dan mufakat.


Terhadap pendapat yang menyatakan bahwa yang dapat menikmati otonomi sejati
itu hanya kerukunan-kerukunan atau kesatuan-kesatuan social atau lebih besar
lagi yang dimaksudkan itu adalah negara-negara bagian atau kanton-kanton, yang
sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang hidup. Pendapat yang demikian ini
kiranya dapat didampingi, hanya saja perlu kami utarakan bahwa yang dapat
menjamin terselenggaranya itu bukannya federalism territorial ataupun
federalism territorial yang disertai federalism tehnik yang ini menurut Maurice
Duverger merupakan cara yang baik, melainkan juga sistem desentralisasi.
Selanjutnya suatu federalisme itu tidak hanya terbatas pada suatu
negara saja, tetapinegara itu sendirilah yang menjadi anggotanya dan yang
harus diawasi. Jadi ini adalah suatu pengawasan atau control internasional.
Tetapi control semacam ini menurut Maurice Duverger belum ada, dan
kekurangan ini benar-benars dirasakan oleh rakyat seluruh dunia dan
sesungguhnya pembentukannya menjadi salah satu pekerjaan yang paling
mendesak yang harus dipikirkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Maka kalau pengawasan internasional itu telah tercapai, maka apa
yang dikatakan oleh Maurice Duverger bahwa prinsip lama tentang non
investasi dalam urusan intern sesuatu negara harus dihapuskan, karena
21

intervensi adalah suatu syarat

untuk dapat tercapainya organisasi

internasional, tetapi disini hendaknya harus diingat dan ditegaskan bahwa


yang dapat diintervensi itu hanyalah hal-hal atau urusan-urusan yang tidak

merintangi jalan rakyat tau bangsa menuju kea rah kemerdekaan, jadi
tegasnya dengan adanya intervensi ini jangan sampai mengganggu usaha
bangsa ke arah kemerdekaan, karena justru Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) harus mengusahakan, menjamin dan memperluas jalan ini.
Jadi pertama-tama sudah harus ditentukan batas minimum daripada
hak-hak dasar yang harus dijamin untuk semua orang oleh konstitusi dan
peraturan-peraturan hukum yang lainnya dari negara-negara yang
bersangkutan. Sepertinya kemerdekaan berpikir, kemerdekaan bergerak
dan sebagainya.
Setelah itu PBB harus mempunyai satu organisasi pengawasan yang
baik dan lengkap dan yang harus dilindungi oleh imunitet diplomatic
istimewa, jadi mempunyai kebebasan untuk mendatangi semua negara
anggota, untuk mengadakan pengawasan, penyelidikan sambil menerima
laporan-laporan dari negara-negara yang bersangkutan, yaitu negara-negara
anggota dan mereka ini selanjutnya harus dapat mengundang pengadilan
unternasional untuk bersidang dan memutuskan dengan khidmat semua
pelangggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh negara anggota.
Keputusan dewan pengadilan negara diteruskan kepada dewan keamanan
untuk dilaksanakan dengan baik. Dan agar segala sesuatunya dapat
dilaksanakan dengan baik pula, maka apa yang dinamakan hak veto dan
cara apa saja yang dapat merintangi pelaksanaan itu harus ditiadakan.
Kalau peraturan ini dapat dilaksanakan, maka akan segera berakhirlah
riwayat PBB yang hany bersifat sebagai satu kimpulan diplomat-diplomat
yang akademis dan tidak dicacuhkan oleh seluruh rakyat di dunia. Menjadi
suatu lembaga internasional yang berjiwa, yang didukung dengan penuh
semangat oleh berjuta-juta rakyat dunia.
Terhadap apa yang telah diuraikan diatas, Maurice Duverger
menyatakan bahwa gambarannya itu agak bersifat utopis, dan mengakui
pula bahwa dalam melaksanakan prinsip-prinsip tadi tentu akan
mendapatkan rintangan-rintangan yang maha hebat. Tetapi hal yang
demikian ini memang sudah merupakan suatu konsekuensi yang harus
diterima oleh setiap hal yang baru, oleh semua kemajuan yang biarpun
22

hanya sedikit saja merombak kebiasaan-kebiasaan yang sudah berakar. Dan


dapat pula dipastikan bahwa orang harus melakukan usaha yang lama dan
berat, dalam tingkatan-tingkatan yang progresif dan harus diatur satu

persatu sebelum mencapai sistem yang dituju. Tetapi kalau kita dengan
bersungguh-sungguh dan yakin akan tercapai tujuan tersebut, rasanya
dalam waktu yang singkat kita akan memperoleh hasilnya, setidaknya
sebagian daripada yang dituju. Untuk ini maka terlebih dahulu harus ada
kemauan, tekad, serta keyakinan yang kuat.
2.4
Jenis - Jenis Negara Autokrasi Modern
Fasisme Italia
Tokoh fasisme Italia adalah Benito Mussolini. Fasisme adalah suatu
gerakan partai politik di Eropa Barat, yang muncul dari kemiskinan akibat Perang
Dunia I, baik yang menang maupun yang kalah perang. Akibat kemiskinan
merajalela di satu pihak, sementara di pihak lain usaha pemerintah untuk
mengatasi hal itu pun belum nampak hasilnya, maka timbul rasa tak percaya
terhadap pemerintah. Hal inilah yang mengakibatkan krisis keungan Italia saat
itu. Guna mengatasi krisis tersebut, gerakan ini berusaha menyatukan tiga
partai/golongan yang ada di Italia sebelum Perang Dunia I, yaitu partai nasional,
partai syandicatisme, dan partai agama.

Nazisme Jerman
Tokoh nazisme Jerman adalah Adolf Hitler. Nazi sebenarnya
adalah sebuah partai. Nama lengkap partai tersebut adalah Nationa
Sozialistiche Deutsche Arbeiter Partai (NSDAP), yaitu partai buruh
yang semula bernama Deutsche Arbeiter Parta (DAP). Adolf Hitler
semula sebagai anggota DAP, namun karena pengaruhnya dan
kecakapannya berbicara, maka akhirnya ia terpilih sebagai pemimpin
parta. Setelah menjadi pemipin nama DAP berubah menjadi NSDAP.
Latar belakang timbulnya Nazisme Jerman akibat kekalahan Jerman
pada Perang Dunia I serta tekanan - tekanan negara sekutu terhadap
Jerman, yang oleh Jerman dipandang sebagai penghinaan. Kehadiran
Hitler untuk memperbaiki itu lewat kekerasan.

Komunisme Uni Soviet


Uni Soviet Sosialitas Republik (USSR) adalah negara sosialis kaum
buruh dan peTani. 23
Paham sosialis yang dianut USSR ini berasal dari paham
sosialis Eropa. Timbulnya sosialisme di Eropa adalah akibat dari Revolusi
Industri pada abad XVIII, yang mengakibatkan banyak menggunakan tenaga
mesin daripada tenaga manusia.
1

Akibat pengangguran tersebut maka banyak buruh yang mencari


pekerjaan, sedangkan lapangan kerja sedikit, akibatnya nasib buruh terlantar.
Untuk membela nasib buruh inilah lahir gerakan sosialisme. Tokoh - tokoh
gerakan ini adalah Karl Marx dan Friedrich Engels. Keduanya adalah penganut
golongan Hegelian-Kiri, yaitu golongan yang berusaha menarik kesimpulan yang
bersifat ateis dan revolusioner dari filsafat Hegel. Marx dan Engels pada tahun
1848 menulis Communistisch Manifest atau Manifesto Komunis, yang kemudian
disalin dalam berbagai bahasa, dan dipelajari di berbagai negara.
Khusus mengenai negara-negara komunis ini sering pula disebut
bahwa sistem pemerintahan yang berlaku adalah demokrasi rakyat atau terkadang
pula disebut demokrasi sentralisme, maka kenyataan mengaburkan arti deokrasi
itu sendiri. Akan tetapi, jika dilihat kenyataanya bahwa yang berlaku hanyalah
satu partai, dan pemerintahannya di tangan satu orang, maka jelaslah bahwa
apapun nama yang disandang negara itu adalah tergolong negara autokrasi.

24

BAB 3
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Istilah autokrasi berasal dari kata auto dan kratein yang berarti
memerintah sendiri tanpa tandingan. Negara autokrasi

berarti negara yang

diperintah oleh satu orang. Perbedaan anatara demokrasi modern dan autokrasi
modern terletak pada tiga hal :
1.

Pandangan terhadap hakikat negara

2.

Pandangan terhadap tujuan negara

3.

Pandangan terhadap Dewan Perwakilan Rakyat


Menurut Maurice Duverger, ada tiga macam usaha untuk dapat
melaksanakan pembatasan kkuasaan penguasa itu, yang masing-masing bergerak
dalam lapangan yang tersendiri. Tiga macam usaha tersebut sebagai berikut.
1.

Usaha yang pertama ditujukan untuk melemahkan atau membatasi


kekuaaan penguasa
dengan cara langsung.
25

2.

Usaha yang kedua untuk menambah atau memperkuat kekuasaan pihak


yang diperintah.

3.

Usaha yang ketiga didalam melaksanakan pembatasan kekuasaan


penguasa, dapat juga dipertimbangkan suatu usaha untuk mengendalikan,
kealiman-kealiman pihak penguasa dari masyarakat atau negara yang satu,
terhadap masyarakat atau negara lain, dengan mengushakan adanya
semacam intervensi oleh penguasa dari masyarakat atau negara lain dan
harus dilaksanakan secara timbal balik.
Adapun jenis - jenis Negara Autokrasi, yaitu : Fasisme Italia (Benito

Mussolini) , Nazisme Jerman (Adolf Hitler) , dan Komunisme Uni Soviet (Karl
Marx dan Friedrich Engels).
3.2 Saran

26

DAFTAR PUSTAKA
Seohino S.H.; 1996; Ilmu Negara; Yogyakarta; Liberty; Cetakan keempat.

27