Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM FISIOLOGI DAN TEKNOLOGI PASCA


PANEN
PENGARUH LUKA/MEMAR DAN UKURAN
TERHADAP LAJU RESPIRASI

Ernita Nurliani
05031281419091

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


JURUSAN EKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penanganan pasca panen merupakan upaya strategis dalam rangka
mendukung peningkatan produksi hasil panen. Buah-buahan mempunyai sifat
fisik yang berbeda. Perbedaan tingkat kematangan juga menyebabkan perbedaan
sifat fisik. Kerusakan yang terjadi pada buah-buahan yang telah dipanen,
disebabkan karena organ panenan tersebut masih melakukan proses metabolisme
dengan menggunakan cadangan makanan yang terdapat dalam buah tersebut.
Berkurangnya cadangan makanan tersebut tidak dapat digantikan karena buah
tersebut sudah terpisah dari pohonnya ataupun telah dicabut sehingga
mempercepat proses hilangnya nilai gizi buah. Sedangkan tingkat kerusakan buah
dipengaruhi oleh difusi gas ke dalam dan ke luar jaringan yang terjadi melalui
lentisel yang tersebar di permukaaan buah. Menghambat proses tersebut tentunya
secara teoritis dapat pula dilakukan sehingga dapat memperlambat laju perusakan
(Mutiarawati, 2007).
Kerusakan produk buah-buahan dapat disebabkan oleh tingginya laju
respirasi dan suhu penyimpanan serta penanganan pasca panen yang kurang baik.
Selama penyimpanan, hasil pertanian masih melakukan respirasi yakni proses
penguraian zat pati atau gula dengan mengambil oksigen dan menghasilkan
karbondioksida, air serta energi (Fransiska et. al., 2013).
Respirasi adalah suatu proses biologis, yaitu oksigen diserap untuk
digunakan pada proses pembakaran (oksidatif) yang menghasilkan energi diikuti
oleh pengeluaran sisa pembakaran berupa gas karbondioksida dan air. Substrat
yang paling banyak diperlukan tanaman untuk proses respirasi dalam jaringan
tanaman adalah karbohidrat dan asam-asam organik bila dibandingkan dengan
lemak dan protein (Paramita, 2010).
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh luka/memar
dan ukuran terhadap laju respirasi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Respirasi
Respirasi merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh mikroorganisme
hidup baik tumbuhan, manusia maupun hewan. Menurut Winarno (2004),
respirasi merupakan proses pernafasan dan metabolisme dengan menggunakan O 2
dalam pembakaran senyawa makromolekul seperti karbohidrat, protein dan lemak
yang akan menghasilkan CO2, air, dan sejumlah energi dengan persamaan sebagai
berikut.
C6H12O6 + 6O2

6CO2 + 6H2O + energi

Laju respirasi pada umumnya digunakan sebagai indikator laju


metabolisme pada komoditi pertanian. Produk hortikultura yang disimpan dalam
bentuk segar baik itu sayur-sayuran ataupun buah-buahan proses yang terjadi
dalam produk adalah respirasi. Dalam proses respirasi ini akan terjadi
perombakan gula menjadi CO2 dan air (H2O) (Yassin et al., 2013).
Respirasi dapat terjadi dengan adanya oksigen (respirasi aerobik) atau
dengan tidak adanya oksigen (respirasi anaerobik, sering disebut fermentasi). Laju
respirasi yang dihasilkan merupakan petunjuk yang baik dari aktifitas metabolis
pada jaringan dan berguna sebagai pedoman yang baik untuk penyimpanan hidup
hasil panen. Jika laju respirasi buah atau sayuran diukur dari setiap oksigen yang
diserap

atau

(development),

karbondioksida
ketuaan

dikeluarkan

(maturation),

selama

pemasakan

tingkat

perkembangan

(ripening),

kebusukan

(senescent), dapat diperoleh pola karakteristik repirasi. Laju respirasi per unit
berat adalah tertinggi untuk buah dan sayur yang belum matang dan kemudian
terus menerus menurun dengan bertambahnya umur (Thahir et al., 2010).
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Laju Respirasi
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi laju respirasi dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor eksternal (faktor lingkungan) dan faktor
internal. Faktor lingkungan antara lain temperatur, komposisi udara dan adanya

kerusakan mekanik, ketiga faktor ini merupakan faktor penting yang dapat
mempercepat laju respirasi. Sedangkan faktor internal antara lain jenis komoditi
(klimaterik atau non-klimaterik) dan kematangan atau tingkat umurnya, akan
menentukan pola respirasi yang spesifik untuk setiap jenis buah dan sayuran
(Nurjanah, 2009).

2.3 Buah Klimaterik dan Non-Klimaterik


Berdasarkan laju respirasinya buah dibedakan menjadi dua yaitu buah
klimaterik (laju respirasi meningkat dengan tajam selama periode pematangan dan
pada awal senesen) dan non-klimaterik (tidak ada perubahan laju respirasi pada
akhir pematangan buah) (Zulkarnaen, 2009). Contoh buah klimaterik adalah
avokad, papaya, apel, pisang dan lain-lain sedangkan contoh buah non-klimaterik
adalah jeruk, nanas, durian, dan lain-lain (Ayimada, 2008).
Buah-buahan dapat dikelompokkan berdasarkan laju pernapasan mereka di
saat pertumbuhan sampai fase senescence menjadi kelompok buah-buahan
klimaterik dan kelompok buah-buahan non-klimaterik, seperti yang terlihat pada
tabel 1. Buah-buahan klimaterik yang sudah dewasa, selepas dianen secara normal
memperlihatkan laju penurunan pernafasan sampai tingkat minimal, yang diikuti
oleh hentakkan laju pernapasan yang cepat sampai ke tingkat maksimal, yang
disebut puncak pernapasan klimaterik (Fransiska et.al., 2013).
Tabel 1. Buah-buahan tropis klimaterik dan non-klimaterik
Buah Klimaterik
Advokad (Persea Americana )
Mangga (Mangivera indica)
Pisang (Musa sepientum)
Jambu (Psidium guajava)
Pepaya (carica papaya)
Markisa (Passi flora edulis)

Buah Non-Klimaterik
Apel (Malus domestica Borkh.)
Jeruk Bali (Citrus paradisi)
Lemon (Citrus lemonia)
Lychee (Litchi chinenses)
Orange (Citrus cinensis)
Nenas (Ananas comosus)

(Fransiska et.al., 2013).


2.3.1 Mangga
Buah mangga mengandung zat gizi yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
Mangga memiliki kandungan vitamin A, C dan E yang sangat bagus untuk
keremajaan kulit dan mencegah kanker karena didalam mangga terdapat
karotenoid yang disebut crytoxanthin. Komponen yang paling banyak ialah air

dan karbohidrat.Rasa asam pada buah mangga kemungkinan disebabkan oleh


adanya asama malat dan asam sitrat.Untuk lebih jelas berikut adalah tabel
kandungan zat kimia dan zat gizi dalam buah mangga. Energi sebesar 272
kalori,protein sebsar 0.51 g, lemak 0.27 g,karbohidrat 17 g,kalsium 10 mg ,pospor
11 mg, ferro 0.13 mg, vitamin A 389 mcg RE, vitamin B1, 0.058 mg dan vitamin c
65,00 mg (Annisa, 2012).
2.3.2 Pisang
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan Asia
Tenggara. Menurut Chandra et al (2011) pisang mengandung tiga jenis gula alami
yakni sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Pisang merupakan pilihan yang tepat untuk
meningkatkan energi seketika. Pisang juga mengandung serat, yang akan
membantu mempertahankan kadar glukosa dalam darah Anda, sehingga
memberikan sebuah sumber energi yang stabil selama jangka waktu yang lama.
Tidak hanya itu, pisang memiliki manfaat antara lain untuk ibu hamil, penderita
hipertensi, penderita sakitperut dan saluran pencernaan, luka bakar, penderita
anemia, meningkatkan konsentrasi dan untuk penderita depresi.
2.3.3 Apel
Apel diketahui mengandung beberapa vitamin dan mineral yang
bermanfaat bagi manusia. Sebutir apel berdiameter 5 -7 cm mengandung vitamin
A 900 IU/100 g, tiamin 7 mg, riboflavin 3 mg, niasin 2 mg, vitamin C 5 mg, 5
protein 3 g, energi 58 kalori, lemak 4 g, karbohidrat 14,9 g,kalsium 6 mg, besi 3
mg, fosfor 10 mg, dan kalium 130 mg. Di Indonesia apel tumbuh di dataran tinggi
yang kering dan curah hujan yang tidak terlalu tinggi. Curah hujan yang terlalu
tinggi dapat menimbulkan berbagai macam problem, terutama serangan jamur.
Tanah, suhu, dan kelembaban pun perlu mendapat perhatian agar apel dapat
tumbuh dengan baik (Untung, 2006).
2.3.4 Belimbing
Buah belimbing adalah salah satu contoh dari buah non-klimaterik. Buah
ini berasal dari India, namun saat ini belimbing sudah menyebar ke penjuru Asia

Tenggara dan beberapa daerah di Eropa dan Amerika. Kandungan gizi dalam 100
gram belimbing adalah energy 35,00 kal, 7,70 gram karbohidrat, vitamin A 18,00
RE; vitamin B1 0,03 miligram,33,00 mg vitamin C. Selain itu, buah ini kaya akan
serat dan zat antioksidan (Alwiyah, 2011).
2.3.5 Pepaya
Pepaya merupakan tanaman buah berupa herba dari famili Caricaceae
yang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat bahkan kawasan sekitar
Mexsiko dan Coasta Rica. Tanaman pepaya banyak ditanam orang, baik di daeah
tropis maupun sub tropis. Di daerah-daerah basah dan kering atau di daerahdaerah dataran dan pegunungan (sampai 1000 m dpl). Buah pepaya merupakan
buah meja bermutu dan bergizi yang tinggi (Prihatman, 2010).
2.3.6 Jeruk
Tanaman jeruk dikenal dengan nama latin Citrus sinensis L. Tumbuhan ini
merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis. Buah
jeruk manis mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi, banyak mengandung vitamin
C untuk mencegah penyakit sariawan dan menambah selera makan. Selain
vitamin C, buah jeruk mengandung vitamin dan mineral lainnya yang berguna
untuk kesehatan. Bila kita memakan jeruk manis setiap hari, maka tubuh akan
sehat (Pracaya, 2010).
2.4 Kentang
Kentang merupakan tanaman umbi-umbian dan tergolong tanaman
berumur pendek. Tumbuhnya bersifat menyemak dan menjalar dan memiliki
batang berbentuk segi empat. Batang dan daunnya berwarna hijau kemerahan atau
berwarna ungu. Umbinya berawal dari cabang samping yang masuk ke dalam
tanah, yang berfungsi sebagai tempat menyimpan karbohidrat sehingga bentuknya
membengkak. Umbi ini dapat mengeluarkan tunas dan nantinya akan membentuk
cabang yang baru. Sayuran kentang biasanya dapat tumbuh baik pada lingkungan
dengan suhu yang rendah seperti pada daerah pegunungan. Kentang banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat (Aini, 2012).

BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 10 Oktober 2016
pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 09.30 WIB di Laboraturium Kimia Hasil
Pertanian (KHP), Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Sriwijaya.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah: 1) Beaker Glass, 2)
Buret, 3) Erlenmeyer, 4) Neraca Analitik, 5) Pipet Tetes, 6) Statis, 7) Toples.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1) HCL, 2) indikator
pp, 3) NaOH, 4) Mangga, 5) Pisang, 6) Belimbing, 7) Pepaya, 8) Apel, 9) Jeruk,
10) Kentang.
3.3 Cara Kerja
Cara kerja dalam praktikum kali ini adalah:
1. Masing-masing sampel dicuci sampai bersih kemudian dikeringkan.
2. Setelah sampel kering kemudian ditimbang menggunakan neraca analitik.
3. Memarkan buah apel dengan membantingkannya ke lantai. Kemudian sayat
buah belimbing dengan menggunakan pisau.
4. Masukkan buah apel, belimbing dan buah lainnya ke dalam toples.
5. Sebanyak 25 mL larutan NaOH dimasukkan ke toples tersebut menggunakan
erlenmeyer diamkan selama 2 jam.
6. Kemudian larutan NaOH yang ada dalam toples dikeluarkan dan ditetesi
indikator pp sebanyak 3 tetes.
7. Setelah ditetesi indikator pp, larutan NaOH dititrasi menggunakan HCL (N
HCL 0,05).

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Hasil dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
4.1.1 Tabel Hasil Uji Pengaruh Luka/Memar terhadap Kecepatan Respirasi
Bahan
Belimbin
g
Luka
Mangga
Memar
Apel
Memar
Jeruk
Baik
Pisang
Baik
Pepaya
Luka
Blanko

Pengamatan
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Ml HCl

1
130
2 jam
8.8
370
2 jam
4.3
130
2 jam
10.3
130
2 jam
7.4
80
2 jam
3.4
970
2 jam
2.6
8

Pengamatan Hari Ke2


3
4
125
120
115
2 jam
2 jam
2 jam
6
2.1
7.5
340
380
370
2 jam
2 jam
2 jam
2.2
1.2
5.2
90
160
160
2 jam
2 jam
2 jam
7.9
3.7
14
120
120
100
2 jam
2 jam
2 jam
6.1
4.2
16.2
110
120
110
2 jam
2 jam
2 jam
3.1
1.6
7
1000
1000
1000
2 jam
2 jam
2 jam
2
1.3
0.4

5
100
2 jam
1.1
400
2 jam
1.7
110
2 jam
5.6
110
2 jam
5.2
100
2 jam
1.2
920
2 jam
0

4.1.2 Tabel Hasil Uji Pengaruh Ukuran Terhadap Kecepatan Respirasi


Bahan
Kentang
kecil
Kentang
sedang
Kentang
besar
Blanko

Pengamatan
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Berat buah (g)
Lama inkubasi
ml HCl
Lama inkubasi
ml HCL

1
30
2 jam
9.3
80
2 jam
8.3
330
2 jam
6.9
2 jam
8.9

Pengamatan Hari Ke2


3
4
30
30
50
2 jam
2 jam
2 jam
9.4
7.5
18.6
80
70
60
2 jam
2 jam
2 jam
7.5
6.2
15.7
320
320
350
2 jam
2 jam
2 jam
5.8
2.7
12.6

5
21.67
2 jam
6.7
110
2 jam
6.4
330
2 jam
4.5

4.2 Pembahasan
Bahan pangan selepas panen masih memiliki kemampuan untuk
melangsungkan kehidupan seperti buah dan sayur, proses kehidupannya terus
berlangsung sampai terjadi kebusukan. Proses tersebut adalah respirasi, yang
merupakan salah satu proses biologis. Pada proses ini oksigen di udara diserap
untuk digunakan pada proses pembakaran yang menghasilkan energi dengan
diikuti pengeluaran sisa pembakaran dalam bentuk air dan gas karbondioksida.
Semua hasil-hasil pertanian masih melakukan proses ini setelah panen dan proses
metabolisme lain. Bahan-bahan yang masih melakukan proses-proses seperti itu
dikelompokkan sebagai benda yang masih hidup selepas di panen. Proses
metabolisme yang terus berlangsung selepas panen mengakibatkan terjadinya
perubahan-perubahan, baik secara fisik, kimia maupun biologis yang mengarah ke
tanda-tanda kerusakan. Apabila dibiarkan dan akibat proses yang tidak terkontrol
serta penanganan yang kurang serius, metabolisme itu akan menyebabkan
rusaknya bahan pangan yang mengarah ke kebusukan dan peningkatan jumlah
mikroba sehingga produk tersebut menjadi rusak, baik kuantitatif maupun
kualitatif yang pada akhirnya menyebabkan kehilangan harapan untuk bisa
menyiapkan dan menyimpan pangan dalam waktu yang lama. Banyak faktor yang
dapat menyebabkan kerusaakan pada bahan pangan ini, salah satunya adalah
peningkatan laju respirasi. Memar/luka dan ukuran buah dapat mempengaruhi laju
respirasi dari buah. Untuk itulah praktikan melaksanakan praktikum kali ini, guna
mengetahui pengaruh luka/memar dan ukuran terhadap laju respirasi.
Praktikum pertama yaitu pengaruh luka/memar terhadap laju respirasi.
Adapun sampel yang disiapkan yaitu buah pisang, apel, belimbing, pepaya, jeruk
dan mangga. Keenam sampel ini diberikan perlakukan yang berbeda. Belimbing
dan pepaya diberikan perlakuan dengan cara diberikan sayatan sehingga
memberikan luka pada jaringan buah. Buah mangga dan apel diberikan perlakuan
dengan cara membantingkan buah ke lantai, sehingga buah mengalami memar.
Sedangkan buah pisang dan jeruk dibiarkan dalam keadaan baik. Pengamatan
dilakukan selama 5 hari. Dari hasil pengamatan yang didapatkan, diketahui bahwa
buah yang diberikan perlakuan dengan sayatan memiliki laju repirasi yang
tertinggi diantara buah lainnya. Laju respirasi yang tinggi ini dapat diketahui dari

banyaknya gas CO2 yang dikeluarkan oleh buah dan terikat oleh NaOH 0,05 N.
Perlakuan pemberian luka pada buah pepaya dan belimbing dapat meningkatkan
produksi hormon etilen akibat dari rusaknya jaringan buah. Luka pada buah akan
meningkatkan tekanan pada biosintesis etilen (wounded ethylene) dan kematangan
buah akan semakin cepat. Produksi etilen sangat erat hubungannya dengan laju
respirasi. Etilen mempunyai pengaruh yang tidak diinginkan pada kualitas dari
buah-buahan segar. Etilen merupakan suatu gas yang dalam kehidupan tanaman
dapat digolongkan sebagai hormon yang aktif dalam pertumbuhan. Etilen dapat
meningkatkan permeabilitas membran sel dan membran partikel sub-seluler,
sehingga membuat substrat lebih mudah dicapai oleh enzimnya. Hal ini
menyebabkan kematangan pada buah akan dan terus berlanjut hingga buah
mengalami kebusukan. Buah pepaya pada hari ke-5 penyimpanan menunjukkan
kebusukan. Jaringan dari buah pepaya diketahui menjadi lembek dan berlendir,
serta telah ditumbuhi oleh jamur. Hal ini merupakan efek dari laju respirasi yang
tinggi, sehingga membuat pepaya mengalami kebusukan. Buah mangga dan apel
yang diberikan perlakuan dimemarkan juga menunjukkan laju respirasi yang
tinggi, walaupun laju respirasinya lebih rendah dari buah yang diberi perlakuan
luka. Mememarkan buah dapat memecahkan sel tanaman, sehingga enzim yang
tadinya terperangkap di dalam vakuola keluar dan berinteraksi dengan substrat
yang terdapat di sitoplasma sel tmbuhan. Bertemunya substrat dan enzim ini akan
mempercepat dalam pemasaakan buah. Selanjutnya yaitu buah pisaang dan jeruk
yang disimpan dalam keadaan baik. Buah pisang laju respirasinya lebih tinggi
dibandingkan dengan buah jeruk. Hal ini dikarenakan buah pisang merupakan
buah klimaterik, sedangan jeruk merupakan buah non-klimaterik. Pada buah
pisang setelah lima hari penyimpanan terdapat bintik-bintik coklat pada kulitnya.
Hal ini dikarenakan produksi gas etilen dapat meningkatkan aktivitas enzim
katalase, perokdiase dan amilase pada buah. Enzim ini apabila bereaksi dengan
oksigen akan menimbulkan warna ataupun bintik coklat pada buah.
Praktikum kedua yaitu pengaruh ukuran terhadap laju respirasi. Pada
percobaan kali ini sampel yang digunakan adalah kentang dengan berbagai ukuran
(besaar, sedang, kecil). Berdasarkan hasil yang didapatkan, kentang besar
memiliki laju respirasi tertinggi, diikuti oleh kentang kecil dan kentang sedang.

Seharusnya, semakin besar ukuran suatu buah / sayuran, semakin tinggi pula laju
respirasi. Hal ini desebabkan karena, semakin besar buah/sayur maka luas
permukaan dari buah/sayur tersebut. Semakin besar luas permukaan kentang,
maka semakin besar pula kesempatan kentang untuk terpapar gas oksigen.
Oksigen akan meningkatkan aktivitas dari etilen, sehingga mempercepat proses
metabolisme yang ditandai dengan banyaknya CO2 yang dihasilkan. Akan tetapi
laju respirasi dari kentang berbagai ukuran ini tidak terlalu tinggi dibandingkan
dengan laju respirasi dari buah. Buah-buahan laju respirasinya lebih tinggi
dikarenakan kandungan enzim pemecah karbohidrat yang lebih kompleks
(banyak) dibandingkan dengan enzim yang terdapat pada sayur-sayuran.

BAB 5
KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Proses metabolisme yang terus berlangsung selepas panen mengakibatkan
terjadinya perubahan-perubahan, baik secara fisik, kimia maupun biologis
yang mengarah ke tanda-tanda kerusakan.
2. Laju respirasi yang tinggi ini dapat diketahui dari banyaknya gas CO 2 yang
dikeluarkan oleh buah dan terikat oleh NaOH 0,05 N.
3. Perlakuan pemberian luka pada buah pepaya dan belimbing dapat
meningkatkan produksi hormon etilen akibat dari rusaknya jaringan buah.
Luka pada buah akan meningkatkan tekanan pada biosintesis etilen (wounded
ethylene) dan kematangan buah akan semakin cepat.
4. Mememarkan buah dapat memecahkan sel tanaman, sehingga enzim yang
tadinya terperangkap di dalam vakuola keluar dan berinteraksi dengan substrat
yang terdapat di sitoplasma sel tumbuhan.
5. Semakin besar luas permukaan kentang, maka semakin besar pula kesempatan
kentang untuk terpapar gas oksigen. Oksigen akan meningkatkan aktivitas dari
etilen, sehingga mempercepat proses metabolisme yang ditandai dengan
banyaknya CO2 yang dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA

Annisa, Adhi Pamila. 2012. Karakteristik Fisiologi Pisang dalam Penyimpanan


Atmosfer Termodifikasi. Jurnal Teknik Pertanian Lampung Vol. 2, No. 1,
Feb-Mei: 1 6
Ayimada, Elisa. 2010. Pengaruh Tingkat Kematangan dan Suhu Penyimpanan
Terhadap Mutu Buah Terong Belanda (Cyphomandra betacea). J. Hort.
Indonesia 2(1):14-20. April 2011. 14
Chandra, La Choviya. 2011. Kajian Susut Berat dan Pengembangan Model Laju
Respirasi Buah Pisang Dalam Penyimpanan Hipobarik. Jurnal Teknologi
Pertanian, Vol. 6 No. 2 (Agustus 2005) 101-111.
Fransiska, A., Rofandi Hartanto, Budianto Lanya dan Tamrin. Karakteristik
Fisiologi Manggis (Garcinia Mangostana L.) dalam Penyimpanan
Atmosfer Termodifikasi. Jurnal Teknik Pertanian Lampung Vol. 2, No. 1,
Feb-Mei: 1 6. Lampung :Universitas Negeri Lampung.
Mutiarawati. 2007. Penanganan pasca Panen hasil pertanian. UNPAD Press:
Bandung.
Nurjanah, Elisa. 2009. Pengaruh Tingkat Kematangan dan Suhu Penyimpanan
Terhadap Mutu Buah Terong Belanda (Cyphomandra betacea). J. Hort.
Indonesia 2(1):14-20. April 2011. 14
Paramita, Octavianti. 2010. Pengaruh Memar terhadap Perubahan Pola
Respirasi, Produksi Etilen dan Jaringan Buah Mangga (Mangifera Indica
L) Var Gedong Gincu pada Berbagai Suhu Penyimpanan. Jurnal
Kompetensi Teknik Vol. 2, No.1, Novemberi 2010. Semarang : Universitas
Negeri Semarang.
Thahir, Muliaty, Badron Zakaria, Elly Ishak dan Rauf Patong. 2010. Pola
Respirasi Mangga (Mangifera Indica) Var Arumanis. Sains & Teknologi,
Agustus 2005, Vol 5. No 2: 73-84.
Winarno. 2004. Optimalisasi Cara Pemeraman Buah Cempedak (Artocarpus
Champeden). Informatika Pertanian, Vol. 23 No.1, Juni 2014 : 35 46.
Bogor : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen.
Yassin et al. 2013. Pengaruh Komposisi Gas Terhadap Laju Respirasi Pisang
Janten Pada Penyimpanan Atmosfer Termodifikasi. Jurnal Teknik
Pertanian Lampung Vol. 2, No. 3: 147 160.
Zulkarnaen, M. 2009. Proses Deegrening (Penguningan) pada Buah Klimaterik
dan non-Klimaterik. Jurnal Agriteh Vol.1 No.1, tahun 2009. Malang :
Universitas Muhamadiyah Malang.