Anda di halaman 1dari 19

Hepatitis B et causa Infeksi Okupasional

Putri Primastuti Handayani (102013477)


Email : putri_muhendra@live.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061

Pendahuluan
Ilmu kedokteran kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kedokteran yang berhubungan
denga diagnosis, penatalaksanaan, dan pencegahan penyakit yang disebabkan atau ditimbulkan
akibat bahaya yang terjadi di tempat kerja. Oleh sebab itu, seorang dokter perusahaan harus
terampil dalam ilmu kedokteran preventif dan kuratif yang dapat diterapkan di lingkungan
tempat kerja.1
Menurut data CDC 2007, satu diantara 20 orang di negara ini akan terkena infeksi
hepatitis B. Tidak ada terapi untuk saat ini, tetapi ada vaksi untuk mencegah hepatitis B. Virus
dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia sekitar kira-kira 7 hari. Virus ini seharusnya menjadi
konsen pada industri pelayanan kesehatan dan industri lain yang berhubungan dengan darah
manusia ataupun produk darah. Bagi industri dimana pekerja sering kontak dengan darah
ataupun produk darah, edukasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan.2
Penyakit Kerja Akibat Pajanan Biologis
Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 dinyatakan
bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus diselenggarakan di semua tempat kerja,
khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit
atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang.3
Berbeda dengan pajanan lainnya, pajanan biologis tidak memiliki nilai ambang/ NAB,
karena pada pajanan terendah sekalipun, apabila mikroorganismenya sangat virulen dan daya
tahan tubuh sedang rendah maka dapat menimbulkan penyakit.3

Penyakit akibat kerja karena pajanan biologis adalah penyakit yang disebabkan pajanan
biologis yang terjadi akibat kontak langsung dengan bahan kerja, proses kerja, dan lingkungan
kerja. Pajanan biologis dapat terjadi karena akibat:3

Proses kerja dan bahan kerja


Bila pekerja terpajan bahan biologis karena bekerja langsung dengan bahan biologis
tersebut ataupun merupakan hasil langsung dari proses kerja yang dilakukan pekerja.

Lingkungan kerja
Bila pekerja terpajan lingkungan yang tercemar pajanan biologis yang berasal langsung
dari proses kerja di tempat kerja. Ini termasuk penyakit akibat kerja. Sebagai contoh,
penyakit hepatitis pada petugas laboratorium kesehatan.
Bila pekerja terpajan bahan biologis akibat tercemarnya lingkungan kerja oleh suatu
bahan biologis yang tidak langsung akibat proses kerja seperti hygene dan
pemeliharantempat kerja yang tidak baik bukan merupakan PAK. Contohnya penyakit
hepatitis pada pekerja pabrik sepatu.
Pajanan biologis yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja terdiri dari: (1) golongan

mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, jamur; (2) vertebrata seperti ternak dan binatang
liar; (3) invertebra (serangga); (4) binatang dalam air.3
Centers for Disease Control/CDC mengkategorikan berbagai penyakit di tingkat
Biohazard, Level 1 menjadi risiko minimum dan Level 4 menjadi risiko ekstrim. Laboratorium
dan fasilitas lainnya dikategorikan sebagai BSL (Biosafety Level) 1-4. Pemabagiannya adalah:4

Biohazard Level 1: Bakteri dan virus termasuk Bacillus subtilis, hepatitis, Escherichia
coli, varicella (cacar air), serta beberapa kultur sel dan bakteri non-menular. Pada
tingkat ini tindakan pencegahan terhadap bahan biohazardous yang dimaksud adalah
minimal, kemungkinan besar melibatkan sarung tangan dan beberapa jenis
perlindungan wajah.

Biohazard Level 2: Bakteri dan virus yang menyebabkan hanya penyakit ringan bagi
manusia, atau sulit untuk kontak melalui aerosol dalam pengaturan laboratorium,

seperti hepatitis A, B, dan C, influenza A, penyakit Lyme, salmonella, gondok,


campak, scrapie, demam berdarah. "Pekerjaan diagnostik rutin dengan spesimen klinis
dapat dilakukan secara aman di Biosafety Level 2, menggunakan Biosafety Level 2
praktek dan prosedur.

Biohazard Level 3: Bakteri dan virus yang dapat menyebabkan parah penyakit fatal
pada manusia, tapi untuk yang vaksin atau perawatan lain ada, seperti anthrax, virus
West Nile, Venezuela ensefalitis kuda, virus SARS, TBC, tifus, demam Rift Valley,
HIV, Rocky Mountain spotted fever, demam kuning, dan malaria. Di antara
parasitesPlasmodium falciparum, yang menyebabkan Malaria, dan Trypanosoma cruzi,
yang menyebabkan trypanosomiasis, juga berada di bawah tingkat ini.

Biohazard Level 4: Virus dan bakteri yang menyebabkan penyakit fatal pada manusia,
dan yang vaksin atau perawatan lain yang tidak tersedia, seperti demam hemoragik,
virus Marburg, virus Ebola, hantaviruses, Lassa demam virus, Crimean-Kongo demam
berdarah, dan penyakit hemoragik.

Diagnosis Klinis
Anamnesis
- Identitas
Identias perlu ditanyakan untuk memastikan bahwa pasien yang dihadapi adalah memang
benar pasien yang dimaksud5. Identitas biasanya meliputi nama lengkap pasien, umur atau
tanggal lahir, jenis kelamin. nama orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab,
alamat pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama. Hasil skenario pasien seorang
perempuan berumur 25 tahun, bekerja sebagai perawat di IGD RS. X selama 10 tahun.
-

Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien pergi ke

dokter5. Dari kasus didapatkan keluhan utama pasien adalah lemas dan sering merasa demam
sejak 5 hari yang lalu.
-

Riwayat penyakit sekarang

Demam hilang timbul (menggigil), mual dan kembung, nafsu makan berkurang, buang
air kecil warnanya pekat seperti teh, belum konsumsi obat.
-

Riwayat penyakit dahulu


Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan antara

penyakit yang pernah diderita dengan penyakit sekarang.


-

Riwayat keluarga,
Dapat digunakan untuk memperkuat diagnosis. Karena biasanya penularan suatu penyakit

berasal dari keluarga sendiri yang terjangkit atau karena faktor genetik pada penyakitpenyakit yang terpaut gen.5
-

Riwayat sosial,
Termasuk tentang pekerjaan pasien. Pada umumnya jenis pekerjaan juga berperan penting

dalam penyebab timbulnya penyakit. Sesuai dengan skenario pada pasien seorang perawat di
IGD RS. X selama 10
Untuk memastikan kemunculan gejala dalam hubungannya dengan pekerjaan perlu
ditanyakan: apakah gejala yang timbul membaik pada saat istirahat atau liburan?, apakah
terdapat pekerja lain yang menderita gejala yang sama di lingkungan kerja?, apakah terjadi
pajanan debu, uap, atau partikel-partikel zat kimia yang beracun di lingkungan kerja?.1
Kemudian pertanyaan kronologis tentang pekerjaan terdahulu sampai sekarang,
mengenai: deskripsi lingkungan tempat kerja, infromasi tentang bahan yg dipakai, proses
kerja, produk yang dihasilkan serta tata cara penanganan limbah, lama bekerja di masingmasing tempat kerja, deskripsi tugas dan jadwal waktu kerja/shift, jumlah hari absen dan
alasannya, penggunaan APD, prosedur pemeriksaan fisik sebelum masuk kerja, adanya
pekerjaan lain disamping pekerjaan utama (misalnya kerja malam hari).1
Pertanyaan spesifik yang ada hubungannya dengan pajanan penyakit akibat kerja seperti:
pernah bekerja di laboratorium, seberapa sering terpajan dengan jarum suntik, menangani
pasien kontak langsung dengan cairan tubuh (keringat,darah).1

Riwayat kesehatan lingkungan. Dan terakhir mengenai industri lain di sekeliling tempat
kerja (tingkat polusi lingkungan, pajanan limbah indsutri/percikan zat beracun dari tempat
lain).1
Pada skenario diketahui bahwa nyonya X, 32 tahun, seorang perawat sejak 10 tahun yang
lalu. Datang dengan keluhan lemas dan sering demam sejak 5 hari lalu. Demam diketahui
hilang timbul disertai menggigil, disertai mual dan kembung. Air kencing juga gelap seperti
air teh. Di lingkungan sekitar tempat bekerja tidak ada yang menderita hal serupa.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat temuantemuan dalam anamnesis. Teknik pemeriksaan fisis meliputi pemeriksaan visual atau
pemeriksaan pandang (inspeksi), pemeriksaan raba (palpasi), pemeriksaan ketok (perkusi) dan
pemeriksaan dengar menggunakan stetoskop (auskultasi).5
Pemeriksaan fisik dilaksanakan seperti pada penyakit umum lainnya, yaitu pemeriksaan
fisik secara umum dengan menitikberatkan pada pemeriksaan sistem organ yang diperkirakan
terpengaruh akibat pajanan zat-zat kimia yang diduga menjadi etiologi penyakit akibat kerja.
Pada skenario diketahui hasil pemeriksaan fisik sebagai berikut:
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran

: compos mentis

TTV

: 120/75, 70 x/menit, 22 x/menit, 37,80C

Sklera

: ikterik

Konjungtivitis : tidak anemis


Abdomen

: hepar teraba membesar 1 jari di bawah arcus costa, lien tidak teraba

Akral dingin
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit akibat kerja dapat dibagi menjadi pemeriksaan
laboratorium umum dan khusus. Pemeriksaan laboratorium umum adalah: (1) Pemeriksaan lab

rutin, misalnya pemeriksaan darah rutin, urin rutin, foto rontgen toraks, EKG; (2) Pemeriksaan
labarotorium non spesifik akibat pemajanan misalnya: pemeriksaan fungsi hati sebagai indikasi
pajanan terhadap zat hepatotoksik.1
Pemeriksaan laboratorium khusus meliputi (1) Pemeriksaan laboratorium spesifik akibat
pajanan, (2) Tes untuk suatu kelainan genetika dapat dilakukan dengan tes sensitivitas, (3)
perubahan kromosom.1
Tes Fungsi Hati
Tes fungsi hati yang standar meliputi penentuan kadar beberapa enzim hati dalam serum
yang mungkin dilepaskan sel hati yang rusak ke dalam aliran darah. Pemeriksaan biokimiawi
yang penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar AST/ALT. Pasien dengan kadar
AST/ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh karena
itu pasien dengan AST/ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi.6
Virus atau bakteri yang menginfeksi manusia masuk ke aliran darah dan terbawa sampai
ke hati. di sini agen infeksi menetap dan mengakibatkan peradangan dan terjadi kerusakan sel-sel
hati (hal ini dapat dilihat pada pemeriksaan SGOT dan SGPT). akibat kerusakan ini maka terjadi
penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin sehingga terjadi disfungsi hepatosit dan
mengakibatkan ikterik. peradangan ini akan mengakibatkan peningkatan suhu tubuh sehingga
timbul gejala tidak nafsu makan (anoreksia).6
Pemeriksaan serologi
1

HBsAg
Diagnosis infeksi hepatitis B terutama dengan mendeteksi hepatitis B surface antigen
(HBsAg) dalam darah. Kehadiran HBsAg berarti bahwa ada infeksi virus hepatitis B
aktif. Menyusul suatu paparan pada virus hepatitis B, HBsAg menjadi terdeteksi dalam
darah dalam waktu empat minggu. Pada individu-individu yang sembuh dari infeksi virus
hepatitis B akut, eliminasi atau pembersihan dari HBsAg terjadi dalam waktu empat
bulan setelah timbulnya gejala-gejala.Infeksi virus. Hepatitis B kronis didefinisikan
sebagai HBsAg yang menetap lebih dari 6 bulan.6

Anti-HBs

Setelah HBsAg dieliminasi dari tubuh, antibodi-antibodi terhadap HBsAg (anti-HBs)


biasanya timbul. Anti-HBs ini menyediakan kekebalan pada infeksi virus hepatitis B
yang

berikutnya. Sama seperti individu-individu yang telah berhasil divaksinasi

terhadap virus hepatitis B mempunyai anti-HBs yang dapat diukur dalam darah.6
3

Anti-HBc
HBc hanya dapat ditemukan dalam hati dan tidak dapat terdeteksi dalam darah.
Kehadiran dari jumlah-jumlah yang besar dari hepatitis B core antigen dalam hati
mengindikasikan suatu reproduksi virus yang sedang berlangsung. Ini berarti bahwa
virus aktif. Antibodi terhadap hepatitis B core antigen, dikenal sebagai antibodi hepatitis
B core (anti-HBc) yang terdeteksi dalam darah ada dua macam yakni IgM dan IgG.6

HBeAg, anti-HBe,
HBeAg dan antibodi-antibodinya, anti-HBe, adalah penanda-penanda (markers) yang
bermanfaat untuk menentukan kemungkinan penularan virus oleh seseorang yang
menderita infeksi virus hepatitisB kronis. Mendeteksi keduanya HBeAg dan anti-HBe
dalam darah biasanya adalah eksklusif satu sama lain. Sesuai dengan itu, kehadiran
HBeAg berarti aktivitas virusyang sedang berlangsung dan kemampuan menularkan pada
yang lainnya, sedangkan kehadiran anti HBe menandakan keadaan yang lebih tidak
aktif dari virus dan risiko penularan yang lebih kecil.6

HBV DNA
Penanda yang paling spesifik dari replikasi dan aktivitas virus hepatitis B. Metode yang
digunakan adalah PCR. Tujuan mengukur hepatitis B virus DNA biasanya adalah untuk
menentukan apakah infeksi virus hepatitis B aktif atau tidak aktif (diam). Perbedaan ini
dapat dibuat berdasarkan jumlah hepatitis B virus DNA dalam darah. Tingkat-tingkat
yang tinggi dari DNA mengindikasikan suatu infeksi yang aktif, dimana tingkat-tingkat
yang rendah mengindikasikan suatu infeksi yang tidak aktif (tidur). Jadi,pasien-pasien
dengan penyakit yang tidur (tidak aktif) mempunyai kira-kira satu juta partikel-partikel
virus per mililiter darah, sedangkan pasien-pasien dengan penyakit yang aktif mempunyai
beberapa milyar partikel-partikel per mililiter.6

Pada skenario, tuan X telah melakukan pemeriksaan penunjang ALT dan AST. Yang
dikatakan bermakan apabila terjadi peningkatan 2x dari nilai normal. Apabila telah terjadi
peningkatan dari ALT dan AST dapat dikatakan bahwa telah adanya kerusakan hati.
Tabel 1. Intepretasi Marker.6

Pajanan
Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada bahan yang
digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja. Pada umumnya faktor
penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan:6
o Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang tinggi, vibrasi,
penerangan lampu yang kurang baik
o Golongan kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja maupun yang
terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan, atau
kabut
o Golongan biologis : bakteri, virus atau jamur (infeksi)
o Golongan fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataaan tempat kerja dan cara kerja
o Golongan psikososial: lingkungan kerja yang mengakibatkan stres
Penyakit hati dalam praktik kesehatan kerja tidak jauh berbeda dengan masalah yang dihadapi.
Secara umum, sel hati dapat dirusak (efek hepatoseluler) dan mekanisme transpor dari dan ke sel
hati dapat terhambat (efek obstruktif). Kedua kelainan ini dapat berlanjut menjadi sakit kuning.

Pajanan utama di tempat kerja yang berhubungan dengan penyakit hati adalah bahan kimia dan
agen infeksi.6
1

Agen kimia
Beberapa hepatotoksin bekerja dengan menyebabkan penyakit akut saat terjadi pajanan.
Hal ini biasanya disebabkan pajanan tersebut yang berat tapi pada kasus lain, seperti pada
kasus yang jarang yaitu keracunan fosfor kuning, walaupun dalam pajanan yang kecil,
efek yang terjadi dapat merupakan bencana besar dengan kematian sel hati yang luas.
Kini, kebanyakan pajanan di tempat kerja relatif rendah sehingga apapun efek yang
terjadi mungkin disebabkan pajanan kronis dosis rendah yang mengarah ke penyakit
keracunan hati kronis.

Agen penyebab infeksi


Pekerja laboratorium yang harus memproses organisme atau spesimen biologis yang
terinfeksi merupakan kelompok yang dapat terpajan berbagai jenis agen penyebab
infeksi. Beberapa agen tersebut akan menyebabkan sebagaian kelainan patologi berupa
hati.

Tabel 2. Agen Penyebab Infeksi yang Mengenai Hati.6


Agen penyebab infeksi/penyakit

Pekerjaan yang beresiko

Hepatitis A

Pekerja saluran limbah

Hepatitis B

Ahli patologi, petugas lab, petugas kamar


mayat

Hepatitis C

Petugas laboratorium

Leptospirosis

Pekerja limbah

Malaria

Pekerja yang terlibat dalam perjalanan dan


bekerja di daerah endemik

Yellow fever

Pekerja yang terlibat dalam perjalanan dan


bekerja di daerah endemik

Schistosomiasis

Pekerja

pertanian,

pekerja konstruksi

(bendungan, irigasi)

Jika dihubungkan dengan skenario, kemungkinan besar penyakit akibat kerja yang
diderita nyonya X adalah akibat pajanan biologis yang disebabkan agen infeksi, yakni virus
hepatitis B. Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa virus hepatitis B dapat merusak selsel hati yang ditandai dengan meningkatnya serum AST/ALT yang diketahui pada skenario.
Hubungan Diagnosis Klinis dengan Pajanan
Hepatitis B merupakan penyakit akibat kerja tersering di kalangan pekerja kesehatan,
labortorium, dan pekerja kesehatan masyarakat. Hepatitis B dapat menyebabkan hepatitis
fulminant dan juga dapat berakhir sebagai carier kronik sebanyak 10%. Pengidap carier kronik
memiliki resiko lebih tinggi terkena sirosis dan kanker hati. Prevalensi terkena HBV di antara
pekerja kesehatan lebih banyak 10 kali dibanding populasi umum.7
Darah mengandung titer tertinggi dari virus pada individu yang terinfeksi, dengan level
yang rendah pada berbagai macam cairan tubuh seperti: cairan serebrospinal, synovial, pleural,
peritoneal, pericardial, semen, sekret vagina, dan cairan amnion. Titer virus pada urin, feses, air
mata, dan saliva sangat rendah untuk memungkinkan penularan.7
Resiko transmisi HBV lewat jarum suntik kira-kira 30%. Bagaimanapun juga, lebih dari
50% infeksi akut HBV pada orang dewasa adalah tanpa gejala/asimptomatik. Mengingat bahwa,
10% dari infeksi akut HBV dapat berujung pada infeksi kronis. Sejumlah besar dari mereka
yang terinfeksi HBV akibat pekerjaan akan menjadi cronic asimptomatik carier.7
HBV dapat bertahan hidup setidaknya 1 bulan pada lingkungan yang kering pada
temperatur kering. Ini menimbulkan peluang tambahan bagi pekerja untuk mendapat HBV
infeksi ketika pekerja dengan luka terbuka, kulit terabrasi, atau mukosa membran yang kontak
dengan permukaan yang terkontaminasi. Faktanya, hampir semua infeksi okupasional tidak
memiliki cedera perkutan yang jelas untuk transmisi HBV ini.7
Prescreening tes serologi sebelum vaksinasi tidak direkomendasikan karena prevalensi
infeksi HBV di US rendah. Beberapa kelompok telah melembagakan penyaringan dari semua

penerima vaksin potensial dengan hepatitis b core antibodi ketika presentasi tinggi datang dari
daerah yang endemik hepatitis B. Antibodi core yang positif mengindikasikan lampau atau
sekarang sedang menderita infeksi HBV. Seharusnya test yang sesuai untuk permukaan antigen
demi mengidentifikasi apakah telah sembuh dari infeksi lampau.7
Walaupun vaksin hepatitis B yang original adalah derivat plasma, studi menunjukkan
bahwa tidak ada transmisi infeksi dari vaksini ini. Perkembangan vaksin rekombinan DNA pada
tahun 1986 menunjukkan bahwa lebih diterima dan lebih aman untuk vaksinasi massal bagi
pekerja kesehatan. Sejak 1991, telah direkomendasikan untuk melakukan vaksinasi pada bayi
baru lahir walaupun prevalensi dari hepatitis B kurang dari 0,5% dari populasi. Pada tahun yang
sama, terjadi penurunan infeksi okupasional berkat vaksinasi tersebut. Walaupun begitu, masih
ada beberapa pekerja yang menolak divaksinasi sehingga masih rentan terhadap infeksi ini.7
Eksposure yang dikenal untuk infeksi HBV adalah darah dan produk darah pada mereka
yang tidak divaksinasi atau dimana proteksi antibodi tidak berkembang memerlukan HBIG atau
hepatitis B immune globulin, yang mahal dan memerlukan dosis kedua pada 1 bulan berikutnya
kecuali jika vaksinasi hepatitis B diberikan sekaligus.7
Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan
gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Namun beberapa gejala yang
samar diantaranya adalah: lelah, hilang selera makan, sakit perut, urin menjadi gelap dan kulit
atau mata menjadi kuning yang disebut "jaundice" (jarang terjadi). Pada beberapa kasus dapat
ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada penderita
Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal. Walaupun pasien sirosis
sebagian besar memiliki lebih dari satu penyebab, hepatitis C kronis dan konsumsi alkohol berat
secara tradisional menjadi penyebab paling umum dari sirosis.7
Pada skenario, diketahui bahwa pekerjaan nyonya X bekerja sebagai perawat IGD. Baik
hepatitis B maupun C dapat menular melalui mikrolesi atapun tusukan jarum. Tetapi pada
umumnya hepatitis C tidak memberikan gejala dan AST/ALT cenderung normal. Prevalensi
hepatitis B dibanding C juga berbeda jauh. Dimana prevalensi hepatitis B lebih sering ditemukan
di Indonesia.7
Patofisiologi Hepatitis B

Penyebab hepatitis B Virus (HBV) adalah hepadnavirus. Ini adalah virus yang sangat
tahan terhadap suhu ekstrim dan kelembaban dan meneyerang sel hepatosit hati. HBV dapat
bertahan bila disimpan selama 15 tahun pada -20 C, selama 24 bulan pada -80 C, selama 6
bulan pada suhu kamar, dan selama 7 hari pada 44 C.5
Genom virus adalah sebagian beruntai ganda, DNA sirkular terkait dengan polimerase
DNA yang dikelilingi oleh nukleokapsid ikosahedral dan kemudian dengan amplop lipid.
Tertanam dalam lapisan ini banyak antigen yang penting dalam identifikasi penyakit dan
perkembangan. Dalam nukleokapsid adalah antigen hepatitis B inti (HBcAg) dan precore
hepatitis B e antigen (HBeAg), dan di amplop adalah antigen permukaan hepatitis B (HBsAg).5
Genom dari hepatitis B antara lain: S (the surface, envelop) yang mengkode protein S, C
( the core gen) yang mengkode protein nukleokapsid dan antigen, X (the x gene) yang mengkode
protein X, P (the polymerase gene) yang mengkode protein besar.5
Surface antigen. Gen S mengkodekan envelop virus. Ada 5 faktor penentu antigenik: (1)
umum untuk semua antigen permukaan hepatitis B (HBsAg), dan (2-5) d, y, w, dan r, yang secara
epidemiologis penting dan mengidentifikasi serotipe. Core gene (HBcAg) adalah protein yang
membungkus DNA virus. Hal ini juga dapat diekspresikan pada permukaan hepatosit, memulai
respon imun seluler.5
E antigen (HBeAg) yang juga dihasilkan dari wilayah di dekat dan gen
inti, adalah penanda replikasi virus aktif. Ini berfungsi sebagai umpan
kekebalan tubuh dan langsung memanipulasi sistem kekebalan tubuh;
sehingga ia terlibat dalam ketahanan virus. HBeAg dapat dideteksi pada
pasien dengan sirkulasi serum HBV DNA yang memiliki "wild type" infeksi.
Virus berkembang dari waktu ke waktu di bawah tekanan kekebalan tubuh. 5
X gene. Peran gen X adalah untuk mengkodekan protein yang bertindak sebagai
transactivators transkripsi yang membantu replikasi virus.5
Siklus hidup virus

Ada 5 tahapan yang telah diidentifikasi dalam siklus hidup virus infeksi hepatitis B dan
dibahas secara singkat di bawah:5

Tahap 1: Toleransi imun


Tahap ini, yang berlangsung sekitar 2-4 minggu pada orang dewasa yang sehat,
merupakan masa inkubasi. Replikasi virus aktif meskipun enzim aminotransferase sedikit
atau tidak ada peningkatan, serta tidak ada gejala.

Tahap 2: Imun aktif


Dikenal juga sebagai tahap pembersihan imun, reaksi inflamasi dengan efek sitopatik
terjadi. HBeAg dapat diidentifikasi dalam serum, dan penurunan kadar HBV DNA
terlihat pada beberapa pasien yang membersihkan infeksi. Durasi tahap ini untuk pasien
dengan infeksi akut adalah sekitar 3-4 minggu (periode gejala). Untuk pasien dengan
infeksi kronis, 10 tahun atau lebih sebelum sirosis berkembang, pembersihan imun
berlangsung, HCC berkembang, atau varian HBeAg-negatif kronis muncul.

Tahap 3: Infeksi kronis aktif


Pada tahap ketiga, tahap infeksi kronis aktif, host dapat menargetkan hepatosit
yang

terinfeksi dan HBV. Replikasi virus rendah atau tidak lagi diukur dalam serum,

dan anti-HBe dapat dideteksi. Tingkat aminotransferase berada dalam kisaran referensi.

Hal ini

kemungkinan besar pada tahap ini bahwa integrasi genom virus ke dalam

host genom

hepatosit berlangsung. HBsAg masih hadir dalam serum.

Tahap 4: Penyakit kronis


Munculnya penyakit kronis HBeAg-negatif dapat terjadi dari tahap tidak aktif kronis
infeksi (stadium 3) atau langsung dari tahap aktif / pembersihan imun (tahap 2).

Tahap 5: Pemulihan

Pada tahap kelima, virus tidak dapat dideteksi dalam darah dengan tes DNA atau
HBsAg, dan antibodi terhadap berbagai antigen virus telah diproduksi.

Jumlah Pajanan
Untuk memastikan seberapa terpapar pasien dengan pajanan biologis dipastikan dengan
mengukur kadar pajanan tersebut dalam darah, dimana pada pajanan biologis tidak memiliki
NAB/nilai ambang batas sebagaimana ada pada pajanan kimia. Pada pajanan biologi ditentukan
oleh daya tahan atau virulensi dari mikroorganisme tersebut.1

Tabel 3. Intepretasi Pajanan Virus Hepatitis dalam Darah.3

Peranan Faktor individu


Langkah kelima dalam diagnosis okupasi adalah mencari tahu apakah ada kaitannya
dengan peranan faktor individu itu sendiri seperti status kesehatan fisik, kesehatan mental, dan
hygene perseorangan. Status kesehatan fisik misalnya apakah ada riwayat penyakit keturunan
dkeluarga, alergi, ataupun atopi. Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat
pekerjaannya, yang dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD, riwayat
adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai
riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih sensitif
terhadap pajanan yang dialami.1

Pada skenario, diketahui bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit kronis
ataupun penyakit serupa. Jadi penyakit yang di derita nyonya X ini kemungkinan besar tidak ada
kontribusi genetik. Hasil anamnesis didapatkan keterangan bahwa dalam bekerja di IGD RS,
nyonya X sering gunakan sarung tangan kadang juga tidak.
Peranan Faktor Lain
Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Seperti misalnya hobi,
kebiasaan sehari hari, pekerjaan sambilan. Apakah penderita mengalami pajanan lain yang
diketahui dapat merupakan penyebab penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak
selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja.1

Diagnosis Okupasi
Berdasarkan 7 langkah diagnosis penyakit akibat kerja dapat disimpulkan bahwa hepatitis
b yang diderita pasien adalah didapatkan akibatnya adanya transmisi dari mikrolesi ketika
nyonya X ini bekerja di IGD RS. Jadi hepatitis B yang dialami, dapat disebutkan sebagai
penyakit akibat kerja (PAK).

Penatalaksanaan
Tabel 4. Tatalaksana Hepatitis B.8
HbeAg

HBV DNA

ALT

Terapi

2xBANN

Efikasi

(>105)
+

terhadap

terapi

rendah
Observasi

bila

ALT

meningkat
+

2xBANN

-Mulai terapi dengan :


interferon alfa,lamivudin
atau adefovir
-End point
terapi

serokonversi

HBeAg dan timbulnya anti


HBe.
-

>2BANN

Durasi

terapi

Interferon selama 16
-Mulai terapi dengan :
interferon
-End point
terapi : normalisasi kadarALT
dan

HBV

DNA

(pemeriksaanPCR)

tidak

terdeteksi-Durasi

terapi

:Interferon selama satu


tahun

Pada skenario, diketahui adanya peningkatan AST dan ALT, menurut kaidah diatas seharusnya
dilakukan terapi antivirus, tetapi sebaiknya dipastikan terlebih dahulu titer virus di dalam darah
dengan melakukan pemeriksaan serologi. Karena tidak semua hepatitis B bisa diterapi.

Pencegahan
Primer
Melaksanakan kewaspadaan standar. Seperti pengendalian lingkungan berupa proses alat sesuai
standar, dekontaminasi, pencucian, dan sterilisasi, membersihkan permukaan dari barang yang
terkontaminasi cairan tubuh.3
Sekunder
Penggunaan alat pelindung diri. Seperti menggunakan sarung tangan pada waktu
melakukan tindakan yang memungkinkan kontak dengan cairan tubuh atau mencuci alat yang
telat terkontaminasi, menggunakan alas kaki tertutup, menggunakan alat pelindung wajah
(google mask) bila melakukan tindakan yang memungkinkan terkena cipratan vaksinasi. Bagi
yang kulitnya terpajan harus dilakukan mencuci bersih dengan air dan sabun. Untuk mata hidung
atau mulut bilas dengan air selama 10 menit. Kalau tertusuk atau tersayat cuci dengan air dan
sabun, biarkan darah mengalir kemudian luka ditutup. Lakukan pemeriksaan HbsAg pada
sesudah terpajan dan 6 bulan berikutnya.3
Jadwal yang sering untuk vaksinasi hepatitis B adalah 0,1 dan 6 bulan. Mereka yang telah
hanya satu/dua dosis tidak perlu mengulang series, mereka hanya perlu melengkapi dosis yang
telah mereka terima ( seperti vaksin lain yang memerlukan dosis tambahan).3

Tersier
Deteksi dini. Pada petugas kesehatan dianjurkan pemeriksaan laboratorium (fungsi liver,
status vaksinasi hepatitis/HbsAg). Pada dasarnya ada 2 jenis pemeriksaan kesehatan berkala,

yaitu: (1) Pemeriksaan berkala umum yang dilakukan terhadap seluruh pekerja sebagai bagian
program pemeliharaan kesehatan karyawan, atau bila dicurigai terjadinya suatu kemungkinan
gangguan kesehatan akibat berbagai kondisi kerja yang memadai.1,3
(2) Pemeriksaan kesehatan yang dihubungan dengan ancaman gangguan kesehatan di
lingkungan kerja tertentu yang beresiko tinggi, dilaksanakan secara berkala untuk memantau
pekerja tertentu yang bekerja dalam kondisi spesifik.1,3
Kesimpulan
Berdasarkan diagnosis 7 langkah okupasi dapat ditarik kesimpulan bahwa penyakit hati
yang diderita nyonya X adalah akibat pajanan biologi yang dia terima di tempat kerjanya. Hal ini
disebabkan karena saat menangani pasien, perawat ini kadang lalai dalam menggunakan sarung
tangan. Untuk memastikan apakah hepatitis B sedang aktif atau tidak diperlukan pemeriksaan
serologi lebih lanjut guna penatalaksaan hepatitisnya lebih lanjut.

Daftar pustaka
1

Harrianto R. Kesehatan kerja. Jakarta: EGC; 2008. h. 2,16-7.

Healey, Bernard J. Introduction to occupational health in public health practice. San


Fransisco: A Wiley Imprint; 2009. p. 206-7

Kementerian Kesehatan RI. Penyakit akibat kerja karena pajanan biologi. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2011. h. 3-5,16-8.

Gish RG, Locarnini S. Chronic hepatitis b viral infection. In: Yamada T. 5th ed. Oxford:
Blackwell Publishing; 2009.p. 2112-38.

Merkum, H. M. S. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisik. FKUI: Jakarta;2000.h.23-29

Jeyaratnam J. Buku ajar kedokteran kerja. Jakarta: EGC; 2009. h. 212.

Shanahan JF, Barahona M, Boyle PJ. Current occupational and environment medicine.
America; McGraw-Hill Companies Inc. p. 266-7.

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Ilmu penyakit dalam.
Jakarta: Internal Publishing; 2009. h. 1521-24.

Anda mungkin juga menyukai