Anda di halaman 1dari 7

PEMBAHASAN

MENAKSIR TINGKAT PENYIMPANGAN POPULASI


Auditor harus manaksir di muka tingkat penyumpangan populasi untuk merancanakan
ukuran sampel yang tepat. Apabila taksiran tingkat penyimpangan populasi atau estimated
population exception rate (EPER) rendah, maka ukuran sampel relative kecil akan memuaskan
tingkat penyimpangan yang bisa ditoleransi sebagaimana ditetapkan auditor, karena hanya
diperlukan satu tingkat ketepatan taksiran yang rendah. Auditor sering menggunakan hasil audit
tahun sebelumnya untuk menaksir EPER.
MENENTUKAN UKURAN SAMPEL AWAL
Ada empat faktor yang menentukan ukuran sampel awal untuk sampling audit, yaitu: ukuran
populasi, TER, ARACR, dan EPER. Ukuran populasi bukan faktor yang signifikan dan biasanya
bisa diabaikan terutama apabila populasinya besar. Setelah ketiga faktor yang mempengaruhi
ukuran ditentukan, auditor dapat memutuskan ukuran sampel awal.
Sensitivitas Ukuran Sampel Terhadap Suatu Perubahan dalam Faktor Penentu
Untuk memahami konsep yang melandasi sampling dalam pengauditan, kita harus
memahami pengaruh dari kenaikan atau penurunan yang terjadi pada salah satu dari keempat
faktor yang menentukan ukuran sampel, dengan asumsi bahwa faktor lainnya konstan.
Pengaruh Perubahan Faktor Penentu Terhadap Ukuran Sampel
Jenis perubahan

Pengaruh terhadap ukuran sampel

Kenaikan risiko bisa diterima untuk penetapan risiko

awal
Turun

pengendalian terlalu rendah


Kenaikan tingkat penyimpangan bisa ditoleransi
Kenaikan taksiran tingkat penyimpangan populasi
Kenaikan ukuran populasi
MEMILIH SAMPEL

Turun
Naik
Naik (pengaruhnya kecil)

Setelah auditor menentukan ukuran sampel awal untuk penerapan sampling audit, auditor
harus memilih unsur-unsur dalam populasi yang akan diikiutsertakan dalam sampel. Auditor
dapat melakukan pemilihan sampel dengan metode probabilistik dan non-probabilistik.
MELAKSANAKAN PROSEDUR AUDIT
Auditor melaksanakan prosedur audit dengan memeriksa unsur-unsur dalam sampel untuk
menentukan apakah unsur tersebut konsisten dengan difinisi dari atribut dan dengan mencatat
semua penyimpangan yang ditemukan. Apabila prosedur audit telah selesai diterapkan pada
sampel auditor telah memiliki suatu ukuran sampel dan sejumlah penyimpangan untuk setiap
atribut.
GENERALISASI DARI SAMPEL KE POPULASI
Tingkat penyimpangan sampel atau sample exception rate (SER) dapat dengan mudah
dihitung dari hasil sampel sesungguhnya. SER sama dengan jumlah penyimpangan
sesungguhnya dibagi dengan ukuran sampel sesungguhnya.
Tidaklah tepat bagi auditor untuk menyimpulkan bahwa tingkat penyimpangan populasi
sama dengan tingkat penyimpangan sampel, karena hanya dengan sekilas saja mereka identic.
Untuk metode non-statistik auditor bisa menggunakan dua cara untuk melakukan generalisasi
dari sampel populasi:
1. Tambahkan suatu taksiran kesalahan sampling ke SER sehingga diperoleh tingkat batas
atas penyimpanan terhitung (CUER) untuk suatu ARACR tertentu. Sungguh sulit bagi
auditor untuk menaksirkan taksiran kesalahan sampling dengan sampling non-statistik
karena untuk melakukan itu dibutuhkan pertimbangan auditor, oleh karena itu pendekatan
ini jarang dilakukan.
2. Kurangkan suatu tingkat penyimpangan sampel dari tingkat penyimpangan bisa
ditoleransi sehingga bisa diketahui kesalahan sampling terhitung: (TER-SER), dan
evaluasi apakah cukup besar untuk mengambil kesimpulan bahwa tingkat penyimpangan
populasi sesungguhnya bisa diterima. Dalam pendekatan ini auditor tidak perlu membuat
taksiran tingkat batas atas penyimpangan terhitung (CUER).
MENGANALISIS PENYIMPANGAN

Sebagai tambahan atas penentuan SER untuk setiap atribut dari mengevaluasi apakah
penyimpangan sesungguhnya (yang tidak diketahui) kemungkinan lebih besar dari tingkat
penyimpangan bisa ditoleransi, auditor harus menganalisis penyimpangan individual untuk
menentukan titik lemah dalam pengendalian inheren yang memungkinkan terjadinya
penyimpangan.
MEMUTUSKAN AKSEPTABILITAS POPULASI
Pada saat melakukan generalisasi dari sampel ke populasi, kebanyakan auditor yang
menggunakan sampling non-statistik mengurangkan SER dari TER dan megevaluasikan apakah
selisihnya (kesalahan sampling terhitung) cukup besar. Apabila auditor berkesimpulan bahwa
selisih cukup besar, maka pengendalian yang diuji dapat digunakan untuk mengurangi penetapan
risiko pengendalian sebagaimana direncanakan dengan asumsi analisis yang cermat tentang
penyimpangan tidak menunjukan kemungkinana masalah signifikan lain dalam pengendalian
internal.
Apabila auditor berpendapat bahwa TER-SER adalah terlalu kecil untuk menyimpulkan
bahwa populasi bisa diterima, atau apabila SER lebih besar dari TER, auditor harus mengikuti
salah satu dari empat tindakan berikut:
1. Merevisi TER atau ARACR
Alternatif ini hanya diikuti apabila auditor berkesimpulan bahwa spesifikasi aslinya
terlalu konservatif. Melonggarkan TER maupur ARACR akan sulit untuk dipertahankan
apabila seandainya auditor direview oleh pengadilan atau oleh komisi. Auditor harus
mengubah persyaratan ini hanya setelah ia melakukan pertimbangan yang cermat.
2. Memperbesar ukuran sampel
Peningkatan dalam ukuran sampel akan berpengaruh pada penurunan kesalahan
sampling apabila tingkat penyimpangan sampel sesungguhnya tidak meningkat. Sudah
barang tentu SER bisa menigkat atau menurun apabila dipilih lagi tambahan unsur.
Peningkatan ukuran sampel akan tepat apabila auditor berkeyakinan bahwa sampel asli
tidak representatif, atau apabila diperlukan untuk mendapatkan bukti bahwa
pengendalian berjalan dengan efektif.
3. Merevisi penetapan risiko pengadilan
Apabila hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantive transaksi tidak
mendukung penetapan risiko pengendalian pendahuluan, auditor harus merevisi
3

penetapan risiko pengendalian ke atas. Hal ini kemungkinan berakibat auditor menaikan
pengujian substansi transaksi dan pengujian detil atas saldo.
4. Berkomunikasi dengan komite audit dan manajemen
Komunikasi diperlukan, bersamaan dengan salah satu dari ketiga tindakan diatas,
bagaimanapun bentuk penyimpangannya. Apabila auditor memutuskan bahwa
pengendalian internal tidak berjalan dengan efektif, manajemen harus diberi info
secepatnya. Apabila pengujian dilaksanakan sebelum akhir tahun buku, hal tersebut
dapat memberikan kesempatan kepada manajemen untuk melakukan perbaikan sebelum
tahun buku berakhir. Auditor harus melakukan komunikasi tertulis kepada pihak-pihak
yang berwenang.
PENDOKUMENTASIAN YANG MEMADAI
Auditor harus menyimpan catatan yang memadai tentang prosedur-prosedur yang telah
dilakukan, metode yang telah digunakan dalam memilih sampel dan pelaksanaan pengujian, hasil
yang diperoleh dari pengujian dan kesimpulan yang dicapai. Dokumentasi diperlukan baik untuk
sampling statistik maupun non-statistik untuk mengevaluasi hasil dari semua pengujian dan
untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan audit jika diperlukan.
SAMPLING AUDIT STATISTIK
Metode sampling statistik yang paling umum digunakan untuk pengujian pengendalian dan
pengujian substantif transaksi adalah sampling atribut. (Sampling atribut yang dimaksud adalah
sampling atribut statistik. Sampling non-statistik juga mempunyai atribut, yaitu karakteristik
dalam populasi yang akan diuji, tetapi istilah sampling atribut hanya digunakan dalam sampling
statistik).
DISTRIBUSI SAMPLING
Auditor mendasarkan inteferensi statistik pada distribusi sampling. Distribusi sampling
adalah frekuensi distribusi hasil dari seluruh sampel yang mungkin dari suatu ukuran tertentu
bisa dicapai dari suatu populasi yang berisi sejumlah karakteristik spesifik. Distribusi sampling
memungkinkan auditor untuk membuat pernyataan probabilitas terhadap kemungkinan
keterwakilan setiap sampel yang ada dalam distribusi.
PENERAPAN SAMPLING ATRIBUT
4

Merencanakan Sampel
1. Menetapkan tujuan pengauditan. Sama, baik untuk sampling atribut maupun sampling
non-statistik.
2. Memastikan apakah sampling audit bisa diterapkan. Sama, baik untuk sampling atribut
maupun sampling non-statistik.
3. Merumuskan atribut dan kondisi penyimpangan. Sama, baik untuk sampling atribut
maupun sampling non-statistik.
4. Merumuskan populasi. Sama, baik untuk sampling atribut maupun sampling non-statistik.
5. Merumuskan unit sampling. Sama, baik untuk sampling atribut maupun sampling nonstatistik.
6. Merumuskan tingkat penyimpangan bisa ditoleransi. Sama, baik untuk sampling atribut
maupun sampling non-statistik.
7. Menetapkan risiko bisa diterima untuk penetapan risiko pengendalian terlalu rendah.
Konsep untuk perumusan risiko sama, baik untuk sampling statistik maupun sampling
non-statistik, metode untuk mengkualifikasi biasanya berbeda. Untuk sampling nonstatistik, auditor biasanya menggunakan risiko yang bisa diterima yaitu rendah, medium,
atau tinggi. Dalam metode sampling atribut, auditor biasanya menetapkan suatu jumlah
tertentu. Metode ini berbeda karena auditor perlu mengevaluasi hasil secara statistik.
8. Menaksirkan tingkat penyimpangan populasi. Sama, baik untuk sampling atribut maupun
sampling non-statistik.
9. Menentukan ukuran sampel awal. Ada empat faktor yang menentukan ukuran sampel
awal, baik untuk sampling statistik maupun non-statistik, yaitu: ukuran sampel, TER,
ARACR, dan EPER. Dalam sampling atribut, auditor menentukan ukuran sampel dengan
menggunakan program computer atau tabel yang dikembangkan dengan formula statistik.

Penggunaan Tabel
Apabila auditor akan menggunakan untuk menentukan ukuran sampel awal, harus diikuti
empat tahap berikut:
i.
ii.
iii.

Pilih tabel yang cocok dengan ARACR.


Tentukan lokasi TER pada bagian atas tabel .
Tentukan lokasi EPER pada kolom paling kiri .

iv.

Baca kolom TER yang sesuai ke bawah hingga memotong baris EPER yang sesuai.
Angka yang tertulis dalam titik perpotongan itu menunjukan ukuran sampel awal.

Pengaruh dari Ukuran Populasi


Teori statistik menunjukan bahwa pada populasi dimana diterapkan sampling atribut, ukuran
populasi hanya menjadi pertimbangan kecil dalam penentuan ukuran sampel. Mengingat bahwa
kebanyakan auditor menggunakan sampling atribut untuk populasi yang besar, maka
pengurangan ukuran sampel untuk populasi yang lebih kecil diabaikan.
Memilih Sampel dan Melaksanakan Prosedur Audit
10. Memilih sampel. Berbeda dengan metode non-statistik, pemilihan sampel pada metode
statistika harus menggunakan metode probabilistic. Untuk sampling atriut bisa
menggunakan metode sampling acak secara sederhana atau metode sistematika.
11. Melaksanakan prosedur audit. Sama, baik untuk sampling atribut maupun sampling nonstatistik.
Menilai Hasil
12. Generalisasi dari sampel ke populasi. Untuk sampling atribut auditor menghitung batas
presisi atas (CUER) pada suatu ARACR tertentu dengan menggunakan program
computer khusus atau menggunakan tabel yang dibangun dari formula statistika.
Menggunakan Tabel
i.

Memilih tabel yang sesuai dengan ARACR yang ditetapkan auditor. ARACR ini harus

ii.

sama dengan ARACR yang digunakan untuk menentukan ukuran sampel awal.
Menentukan lokasi jumlah penyimpangan sesungguhnya yang ditemukan dalam pegujian

iii.
iv.

audit pada bagian atas tabel.


Menentukan lokasi ukuran sampel sesungguhnya pada kolom paling kiri.
Baca kolom jumlah penyimpangan sesugguhnya yang sesuai ke bawah sampai memotong
baris ukuran sampel yang sesuai angka yang tercantum pada titik perpotongan CUER.

KEBUTUHAN AKAN PERTIMBANGAN PROFESIONAL


Salah satu kritik terhadap pemakaian sampling statistik adalah bahwa metode statistic telah
mengurangi pertimbangan professional auditor. Perbandingan tentang 14 tahapan yang dibahas
pada bab ini untuk sampling non-statistik dan sampling atribut menunjukan
6

bahwa kritik

tersebut tidak sepenuhnya benar. Apabila diterapkan dengan benar, sampling atribut menuntut
auditor untuk menggunakan pertimbangan professional pada berbagai tahapan.

DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Al.Haryono. 2014. Auditing (Pengauditan Berbasis ISA). Buku 1. Edisi II.
Yogyakarta:Unit Penerbitan dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.