Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR ISI

Halaman

Daftar Isi............................................................................................................................. 1
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang............................................................................................................. 2
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................... 2
1.3 Maksud dan Tujuan..................................................................................................... 2
BAB II KASUS KEMATIAN MURSINAH.................................................................... 3
2.1 Kematian Mursinah.................................................................................................... 3
2.1.1 Proses Penyelidikan dan Penyidikan.......................................................... 3
2.1.2 Temuan Komnas HAM................................................................................ 5
2.1.3 Upaya Tindak Lanjut Penuntasan Kasus Marsinah................................. 5
2.2 Kasus Marsinah merupakan Pelanggaran HAM..................................................... 6
2.2.1 Dasar Yuridis ............................................................................................ 6
2.2.2 Fakta fakta Kejadian ................................................................................ 6
2.2.3 Laporan Komnas HAM Tahun 2007.......................................................... 6
2.3 Proses Pengajuan Novum ........................................................................................... 7
BAB III
Simpulan............................................................................................................................. 8
Daftar Pustaka................................................................................................................... 9

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya) pabrik tempat
kerja Marsinah resah karena ada kabar kenaikan upah menurut Sudar Edaran Gubernur Jawa
Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh
sebesar 20% dari upah pokok. Pada minggu-minggu tersebut, Pengurus PUK-SPSI PT. CPS
mengadakan pertemuan di setiap bagian untuk membicarakan kenaikan upah sesuai dengan
himbauan dalam Surat Edaran Gubernur.
Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali
staf dan para Kepala Bagian. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya
untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin
Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak
mogok.
Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan
mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka
bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga
pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Para satpam juga mengibasibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil
meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.
Aparat dari koramil dan kepolisian sudah berjaga-jaga di perusahaan sebelum aksi
berlangsung. Selanjutnya, Marsinah meminta waktu untuk berunding dengan pengurus PT.
CPS. Perundingan berjalan dengan hangat. Dalam perundingan tersebut, sebagaimana
dituturkan kawan-kawannya. Marsinah tampak bersemangat menyuarakan tuntutan. Dialah
satu-satunya perwakilan dari buruh yang tidak mau mengurangi tuntutan. Khususnya tentang
tunjangan tetap yang belum dibayarkan pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,per hari sesuai dengan kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah
perundingan yang melelahkan tercapailah kesepakatan bersama.
Namun, pertentangan antara kelompok buruh dengan pengusaha tersebut belum berakhir.
Pada tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan
dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa dasar atau alasan yang jelas, pihak tentara mendesak
agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena
tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK
di tempat yang sama.
Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan
rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10
malam, Marsinah lenyap. Marsinah marah saat mengetahui perlakuan tentara kepada kawankawannya. Selanjutnya, Marsinah mengancam pihak tentara bahwa Ia akan melaporkan
perbuatan sewenang-wenang terhadap para buruh tersebut kepada Pamannya yang berprofesi
sebagai Jaksa di Surabaya dengan membawa surat panggilan kodim milik salah seorang
kawannya. Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya
sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 9 Mei 1993

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah,
yaitu:
a. Apa kasus Mursinah?
b. Apakah kasus Mursinah merupakan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia?
c. Apakah ada Novum dalam kasus ini dan bagaimana proses pegajuannya

1.3 Maksud dan Tujuan


Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah penulis dapat memberikan informasi berkaitan
tentang kasus yang dialami oleh Mursinah dan untuk memenuhi tugas makalah Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn).

BAB II
Kasus Kematian Mursinah
2.1 Kematian Mursinah

Mursinah merupakan seorang aktivis Hak Asasi Manusia dari golongan buruh yang
memperjuangkan hak-hak dan keadilan terhadap buruh .Mayatnya ditemukan di gubuk petani
dekat hutan Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Ia yang tidak lagi bernyawa ditemukan
tergeletak dalam posisi melintang. Sekujur tubuhnya penuh luka memar bekas pukulan benda
keras. Kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin karena diseret dalam keadaan terikat.
Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada
bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang
sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan
lemas, mengenaskan.
2.1.1 Proses Penyelidikan dan Penyidikan
Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk
melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung
jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan
beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.
Delapan petinggi PT CPS (Yudi Susanto, 45 tahun, pemilik pabrik PT CPS Rungkut dan
Porong; Yudi Astono, 33 tahun, pemimpin pabrik PT CPS Porong; Suwono, 48 tahun,
kepala satpam pabrik PT CPS Porong; Suprapto, 22 tahun, satpam pabrik PT CPS Porong;
Bambang Wuryantoyo, 37 tahun, karyawan PT CPS Porong; Widayat, 43 tahun, karyawan
dan sopir di PT CPS Porong; Achmad Sutiono Prayogi, 57 tahun, satpam pabrik PT CPS
Porong; Karyono Wongso alias Ayip, 37 tahun, kepala bagian produksi PT CPS Porong)
ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari, 26 tahun,
selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami
siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui
sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat
skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah.
Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim
dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D.
Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam
pembunuh Marsinah.
Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat
pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat
pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI. Pasal yang dipersangkakan Penyidik Polda Jatim
terhadap para tersangka dalam Kasus Marsinah tersebut antara lain Pasal 340 KUHP, 255
KUHP, 333 KUHP, hingga 165 KUHP jo Pasal 56 KUHP.
Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS)
menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik,
lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita,
Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.
4

Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain
itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan
Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi,
Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan
(bebas murni) Jaksa / Penuntut Umum. Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya
telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa
penyelidikan kasus ini adalah "direkayasa".
2.1.2 Temuan Komnas HAM
Tim Komnas HAM dalam penyelidikan awal melihat ada indikasi keterlibatan tiga
anggota militer dan seorang sipil dalam kasus
pembunuhan Marsinah. Salah satu anggota Komnas HAM Irjen Pol. (Purn) Koesparmono
Irsan mengemukakan, agar kasus itu bisa terungkap harus ada keterbukaan semua pihak
dengan berlandaskan hukum, bukan masalah politik. Ia beranggapan, jika masalah itu dibuka
secara tuntas maka kredibilitas siapa saja akan terangkat. "Yang jelas Marsinah itu dibunuh
bukan mati dhewe, tentu ada pelakunya, mari kita buka dengan legawa. Makin terbuka
sebetulnya kredibilitas siapa saja makin terangkat. Tidak ada keinginan menjelekkan yang
lain," katanya. Ia mengakui bahwa kasus yang sudah terjadi tujuh tahun lalu itu hampir
mendekati kedaluwarsa untuk diproses secara hukum. Kendala yang dihadapi kepolisian
saat ini adalah masalah pengakuan dari semua pihak. "Mau nggak mengakui sesuatu yang
memang terjadi. Makanya saya kembalikan, mari tegakkan hukum, jangan politiknya. Kalau
hukum itu 'kan tidak mengenal Koesparmono, atau pangkatnya apa, tetapi yang ada adalah
orang yang melakukan. Kalau ini dibawa ke suatu arena politik yang ada solidaritas politik,"
katanya.
Temuan lain Komnas HAM yaitu dalam proses penangkapan dan penahanan para terdakwa
dalam Kasus Marsinah itu melanggar hak asasi manusia. Bentuk pelanggaran yang
disebutnya bertentangan dengan KUHAP itu, antara lain, adanya penganiayaan baik fisik
maupun mental. Komnas HAM mengimbau, pelaku penganiayaan itu diperiksa dan ditindak.

2.1.3 Upaya Tindak Lanjut Penuntasan Kasus Marsinah


Setelah melalui proses kasasi di MA yang menghasilkan keputusan bebas murni
terhadap para terdakwa dalam Kasus Marsinah tersebut diatas, tidak serta merta
menghentikan tuntutan masyarakat luas bahkan internasional melalui ILO, yang senantiasa
menuntut pemerintah RI untuk tetap berupaya mengusut tuntas Kasus Marsinah yang dalam
catatan ILO dikenal dengan sebutan kasus 1713.
Komitmen pemerintah RI dalam mengusut tuntas kasus tersebut pada awalnya diperlihatkan
pada saat pemerintahan era Presiden Abdurrahman Wahid yang memberikan perintah kepada
Kapolri agar melakukan penyelidikan dan penyidikan lanjutan guna mengungkap Kasus
Marsinah. Begitu juga pada saat pemerintahan era Presiden Megawati Soekarno Putri yang
juga memiliki komitmen yang sama untuk tetap berupaya menuntaskan Kasus Marsinah.
Namun, sampai dengan saat ini, Kasus Marsinah belum terungkap.

2.2 Kasus Marsinah merupakan Pelanggaran HAM.


2.2.1 Dasar Yuridis

a. Pasal 1 butir ke-1 UU No. 39 tahun 1999


Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan
manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan Pemerintah, dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
b. Pasal 1 butir ke-6 UU No. 39 tahun 1999
Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang
termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak sengaja, atau kelalaian yang secara
melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi
manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak
mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan
benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
c. Pasal 9 butir ke-1 UU No. 39 tahun 1999
Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf
kehidupannya.
2.2.2 Fakta fakta Kejadian
a. Mayat Marsinah ditemukan di gubuk petani dekat hutan Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei
1993. Posisi mayat ditemukan tergeletak dalam posisi melintang dengan kondisi sekujur
tubuh penuh luka memar bekas pukulan benda keras, kedua pergelangannya lecet-lecet,
tulang panggul hancur karena pukulan benda keras berkali-kali, pada sela-sela paha
terdapat bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul dan pada
bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah.
b. Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan Kasus Marsinah tersebut oleh Polri
termasuk temuan Komnas HAM, didapatkan fakta bahwa kematian Marsinah diduga keras
dilatarbelakangi tindakan Marsinah yang sangat vokal saat unjuk rasa di PT CPS dalam
rangka menuntut kenaikan gaji buruh dan keberaniannya menentang perlakuan aparat TNI
AD di Kodim Sidoarjo yang secara sewenang-wenang dan tanpa hak meminta beberapa
buruh PT CPS menandatangani surat PHK yang pada akhirnya menyebabkan Marsinah
dibunuh oleh pihak tertentu untuk meredam aksi buruh di beberapa tempat lainnya di
Indonesia saat itu.
2.2.3 Laporan Komnas HAM Tahun 2007
Pembunuhan terhadap pegiat HAM adalah pelanggaran HAM yang tergolong serius, oleh
karena itu ketidaktuntasan kasus ini akan menjadi bukti betapa lemahnya pemerintah di
kalangan intelejen dan pro status quo untuk mengungkap kasus-kasus pembunuhan para
6

pembela HAM seperti kasus aktivis buruh Marsinah, wartawan Udin, aktivis Aceh Jaffar
Siddik, hakim Syaifuddin dan Theys H. Eluay dan kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya.
2.3 Proses Pengajuan Novum
Apabila ada Novum (Bukti Baru) dalam kasus Marsinah, dapat diajukan melalui
mekanisme Peninjauan Kembali (PK) yang prosesnya dilakukan dengan cara permintaan PK
tersebut diajukan pemohon kepada panitera Pengadilan Negeri (PN) yang memutus perkara
tersebut dalam tingkat pertama. Selanjutnya PK tersebut diteruskan oleh PN kepada
Mahkamah Agung (MA) (vide pasal 264 KUHAP), dengan catatan bahwa jangka waktu
daluwarsa dalam kasus dimaksud belum terlampaui / lewat, dalam Kasus Marsinah ini,
mengingat pasal KUHP dengan ancaman hukuman terberat yang diterapkan yaitu pasal 340
KUHP, yaitu pidana mati atau penjara seumur hidup, maka jangka waktu daluwarsanya
adalah 18 (delapan belas) tahun (vide pasal 78 butir 1 ke-4 KUHP), yang jatuh pada tanggal 9
Mei 2011.
Pemohon yang dapat mengajukan PK tersebut, apabila berpegang pada ketentuan pasal 263
ayat (1) KUHAP, yaitu hanya terpidana atau ahli warisnya, itu pun hanya berlaku terhadap
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (kracht van gewjisde),
kecuali putusan bebas (vrijspark) atau lepas dari segala tuntutan hukum (onslag rechts
vervolging). Sehingga, apabila hanya mengacu secara eksplisit terhadap ketentuan dimaksud,
maka PK dalam kasus dimaksud tidak dapat dilakukan karena putusan terhadap para
terdakwa adalah bebas dari segala dakwaan dan permohonan PK pun tidak diperkenankan
dilakukan oleh Jaksa / Penuntut Umum.
Namun, apabila merujuk pada yurisprudensi yang ada yaitu putusan MA No. 55
PK/Pid/1996, tanggal 25 Oktober 1996, yang menerima secara formal permintaan PK oleh
Jaksa / Penuntut Umum dalam kasus Muchtar Pakpahan yang juga digunakan oleh Kejaksaan
Agung RI pada pengajuan PK dalam Kasus Munir atas nama terdakwa Pollycarpus dengan
putusan PK bahwa terdakwa Pollycarpus terbukti secara sah dan meyakinkan telah
melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir sebagaimana dimaksud dalam pasal 340
KUHP, dimana putusan tersebut membatalkan putusan MA No. 1185 K/Pid/2006, tanggal 3
Oktober 2006, yang hanya menghukum terdakwa Pollycarpus karena bersalah telah
melakukan tindak pidana menggunakan surat palsu dan membebaskannya dari dakwaan
melanggar pasal 340 KUHP.
Disamping Itu, dalam PK Kasus Munir, Jaksa / Penuntut Umum juga menggunakan dasar
yuridis dari ketentuan pasal 23 ayat (1) UU No. 4 tahun 2004 yang menyatakan bahwa pihakpihak yang bersangkutan dapat mengajukan PK kepada MA, yang dalam hal ini diartikan
oleh Kejaksaan Agung RI bahwa pihak-pihak yang bersangkutan tersebut termasuk Jaksa /
Penuntut Umum demi kepentingan umum.
Oleh karena itu, dalam Kasus Marsinah pun, Jaksa / Penuntut Umum dapat mengajukan PK.

BAB II
SIMPULAN
Mursinah merupakan seorang aktivis Hak Asasi Manusia dari golongan buruh yang
memperjuangkan hak-hak dan keadilan terhadap buruh. Ia ditemukan telah menjadi mayat
padatanggal 9 Mei 1993.
Berdasarkan uraian tentang definisi HAM pada pasal 1 butir ke-1 jo pasal 9 butir ke-1
UU No. 39 tahun 1999, dikaitkan dengan dengan adanya fakta kejadian tersebut diatas, serta
didukung oleh pernyataan Komnas HAM dalam laporan tahunannya pada tahun 2007, maka
pembunuhan terhadap Marsinah dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM,
namun bukan termasuk dalam kategori pelanggaran HAM berat (vide pasal 7 UU No. 26
tahun 2000), sebagaimana halnya dalam kasus pembunuhan aktifis HAM lainnya yaitu antara
lain Munir yang dalam nampak dalam proses hukumnya dengan diterapkannya pasal-pasal
dalam KUHP tentang pembunuhan, bukan pasal-pasal dalam UU No. 26 tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM.

DAFTAR PUSTAKA
1. www. tempointeraktif.com
2. M. Yahya Harahap, S.H. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP;
pemeriksaan sidang pengadilan, banding, kasasi dan peninjauan kembali.Penerbit
Sinar Grafika/Edisi Kedua Cetakan Keenam 2005/Jakarta.
3. UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM.
4. UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
5. www. scribd.com/doc/24532924/STUDI-KASUS-MARSINAH