Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

MENENTUAN KANDUNGAN UNSUR PADA CUPLKAN LINGKUNGAN


DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON (AAN)

FEYDRI FERDITA DERA


NIM: H211 12 275

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

Page 0

LEMBAR PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)
MAHASISWA JURUSAN FISIKA FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Dilakukan di Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) Jakarta, disetujui untuk
dilaporkan sebagai bagian dari Praktek Kerja Lapangan tahun 2016 yang
dilaksanakan mulai tanggal 11 Januari sampai 11 Februari 2016. Dengan nama
mahasiswa sebagai berikut :

FEYDRI FERDITA DERA

H211 12 275

Makassar, April 2016

Mengetahui
Pengampuh Mata Kuliah II

Pengampuh Mata Kuliah I

Prof.Dr.rer.nat.H.Wira Bahari Nurdin


NIP. 196709231991031001

Prof. Dr. Syamsir Dewang, M.Eng.Sc


NIP. 196301111990021001

Disetujui
Ketua Jurusan Fisika
FMIPA UNHAS

Dr. Tasrief Surungan, M.Sc.


NIP. 196702221992031003

Page 1

KATA PENGANTAR

Salam Sejahtera
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa oleh
karena kasih dan penyertaan-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan karya
tulis ilmiah ini sebagai bagian dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) Fisika Medik
Universitas Hasanuddin tahun ajaran 2015/2016.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang
tua atas segala doa dan dukungan selama PKL ini berlangsung maupun pada saat
penyusunan karya tulis ilmiah ini. Penulis juga mengucapkan trima kasih yang
tak terhingga kepada:
1. Seluruh instansi Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi
Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTKMR-BATAN) , terkhusus bidang
Keselamatan Lingkungan yang sudah mengizinkan penulis melaksanakan
PKL selama kurang lebih 1 bulan.
2. Bapak Muji Wiyono, S.ST selaku pembimbing di Pusat Teknologi
Keselamatan dan Metrologi Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional
(PTKMR-BATAN) sehingga penulis dapat melakukan PKL dan dalam
menyusun karya tulis ilmiah ini dengan baik.
3. Bapak Dekan Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alama
Universitas Hasanuddin beserta staf.
4. Ketua Jurusan Fisika Bapak Dr. Tasrief Surungan, M.sc beserta staf.

Page 2

5.

Bapak Prof. Dr. Syamsir Dewang, M.Eng,Sc dan Bapak Prof. Dr. rer.nat.
H Wira Bahari Nurdin selaku dosen mata kuliah Pramktek Kerja

Lapangan.
6. Rekan- rekan Fisika Medik Universitas Hasanuddin.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini banyak
terdapat kekurangan baik dari segi isi maupun teknik penulisannya. Oeh karena
itu penulis sangat mengharapkan setiap saran dan kritik yang dapat membangun
kesempurnaan dalam karya tulis ilmiah ini.

Makassar, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Page 3

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ 1
KATA PENGANTAR ....................................................................................... 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 4
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ................................................................................ 6-7
I.2 Tujuan Penelitian .................................................................................8
I.3 Batasan Masalah.................................................................................. 8
I.4 Manfaat Penelitian....8
BAB II GAMBARAN UMUM PUSAT TEKNOLOGI KESELAMATAN
DAN METROLOGI RADIASI BADAN TENAGA NUKLIR
NASIONAL

(PTKMR-BATAN)

II.1.Sejarah Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi9-11


II..2. Visi dan Misi.....11
II.3. Tujuan dan Sasaran..11-12
II.4. Struktur Organisasi12-15
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
III.1 Analisis Aktivasi Neutron............................................................ 16-17
III.2

Prinsip

Analisi

Aktivasi

Neutron.................................................18-21
III.3 Validasi dan Estimasi Ketidakpastian Pada Metode AAN.......... 2123

Page 4

III.4.

Peluruhan

Radioaktif........................................................23-28
III.5.

Aktivitas

Radiasi........................................................................ 28-29
III.6.

Interaksi

Sinar

Gamma

dengan

Materi........................................29-30
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
IV.1

Waktu

dan

Tempat

Penelitian...........................................................31
IV.2.

Alat

dan

Bahan

Penelitian.......................................................31-32
IV.3.Prosedur Kerja
Penelitia...............................................................32-35
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
V.1Hasil......................................................................36-45
V.2Pembahasan..........................................................46-52
BAB VI PENUTUP
VI.1Kesimpulan...............................................................53
DAFTAR PUSTAKA..54-55
Foto kegiatan PKL
Lampiran Nilai Lapangan
Page 5

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sejak ditemukannya oleh George Hevesy dan Hilde Levi 72 tahun yang lalu,
teknologi analisis aktivasi neutron (AAN) telah mempunyai kontribusi yang besar,
baik untuk ilmu pengetahuan maupun untuk kesejahteraan umat manusia.
Penggunaan Teknik AAN untuk identifikasi dan analisis keberadaan unsur-unsur
kelumit dalam berbagai jenis bahan, telah banyak dilakukan. Teknik ini
didasarkan pada reaksi penangkapan neutron termal oleh inti target yang akan
menghasilkan inti tereksitasi.
Permasalahan lingkungan akibat berbagai aktivitas industri dan transportasi
semakin meningkat. Demikian pula perhatian berbagai pihak terhadap
permasalahan ini. Terkait dengan tuntutan penyelesaian permasalahan lingkungan,
sangat penting dilakukan analisis terhadap berbagai sampel lingkungan seperti
Page 6

sampel partikulat udara, air, tanah, sedimen dan sampel biologi lainnya. Hal ini
bertujuan agar dapat diketahui secara pasti karakteristik sampel lingkungan
tersebut sehingga dapat dijadikan dasar dalam melakukan tindakan preventif dan
penanggulangannya. Untuk memperoleh hasil analisis yang akurat dan presisi
diperlukan suatu metode analisis yang valid dan terpercaya. Analisis aktivasi
neutron (AAN) merupakan salah satu teknik analisis nuklir yang memiliki
keunggulan, non desktrutif, multi elemen, sensitif dan limit deteksi mencapai orde
nanogram. Teknik ini mampu menganalisis unsur-unsur runutan dalam berbagai
matriks sampel. Aplikasi teknik AAN pada berbagai sampel lingkungan telah
berkembang secara pesat dan memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan
metode analisis konvensional lain diantaranya mampu menganalisis sampel
meskipun bobot yang sangat kecil ~10 mg dan jumlah sampel dapat mencapai
ratusan atau lebih.
Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi Badan Tenaga Nuklir
Nasional (PTKMR-BATAN) adalah lembaga perintah non-kementerian yang
berada di bawah dan bertanggung jawab langsung ke presiden merupakan pusat
penelitian

dan

pengembangan

adalah

sebagai

tempat

penelitian

dan

pengembangan memberikan wadah untuk kerja praktek ini. Praktek kerja


lapangan ini juga merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh
mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA Universitas Hasanuddin. Dengan adanya mata
kuliah ini mahasiswa diharapkan bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan
selama perkuliahan.

Page 7

Di dalam praktek kerja lapangan ini akan dilakukan penentuan kandungan unsur
pada cuplikan lingkungan dengan metode Analisis Aktivasi Neutron. Iradiasi
cuplikan dilakukan di Rabbit System Reaktor G.A. Siwwabesy PRSG-BATAN
Kawasan Puspiptek Serpong dan alat ukur yang digunakan adalah Spektrometer
Gamma HPGe dan software Genie 2000 untuk anlisis spektrum.

I.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Secara umum, tujuan pelaksanaan PKL ini adalah untuk menerapkan ilmu yang
diperoleh selama perkuliahan ke dalam dunia kerja. Selain itu untuk memenuhi
beban satuan kredit semeter (SKS) yang harus ditempuh sebagai persyaratan
akademik di Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin Makassar.
1.2.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari praktek kerja lapangan ini adalah :
1. Menentukan unsur dari setiap Cuplikan dengan menggunakan metode
Analisis Aktivasi Neutron.

1.3.Batasan Masalah

Page 8

Praktek kerja lapang ini dibatasi pada penentuan kandungan unsur yang
terkandung pada cuplikan lingkungan dengan metode analisis aktivasi neutron
menggunakan spektromer gamma HPGe untuk mencaccah (counting) cuplikan.
I.4. Manfaat
I.4.1. Manfaat bagi instansi
Mengetahui unsur-unsur yang terkandung pada cuplikan -1 cuplikan -8 cuplikan A
dan cuplikan B.

I.4.2 Manfaat bagi Penulis


Penulis dapat mengetahui tentang prinsip Analisis Aktivasi Neutron dan
spektrometer gamma,
BAB II
GAMBARAN UMUM PUSAT TEKNOLOGI KESELAMATAN DAN
METROLOGI RADIASI BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
(PTKMR-BATAN)

II.1.Sejarah Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi


Pusat

Teknologi

Keselamatan

dan

Metrologi

Radiasi

(PTKMR)

merupakan salah satu unit kerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional yang berada di
Pusat Penelitian Tenaga Nuklir (PPTN) Pasar Jumat Jakarta Selatan. Ditinjau dari
sejarah

dan perkembangannya, PTKMR-BATAN sebagai unit Eselon II di

lingkungan Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Tenaga Nuklir telah mengalami

Page 9

beberapa kali tahapan mulai dari tahap penyiapan dan tahap penyempurnaan
organisasi. Hal ini sejalan dengan perkembangan organisasi BATAN.
a.

Tahap Penyiapan ( 1974-1978)


Tahun
1974

Uraian
Pembentukan proyek Standardisasi, Kalibrasi, dan Instrumentasi
(SKIN) yang mempunyai tugas utama mendirikan Laboratorium

1978

Kalibrasi dan Standardisasi.


Proyek SKIN diperluas menjadi proyek Peningkatan Keselamatan
Radiasi untuk Kesehatan Masyarakat (PPKR) dengan tugas utama
membangun dan mengoperasikan laboratorium acuan nasional di
bidang keselamatan. PPKR ini berperan sebagai embrio terbentuknya
Pusat Dosimetri dan Standardisasi (PDS)

b. Tahap Penyempurnaan (1980-sekarang)


Tahun
1980

Uraian
Terbentuknya Pusat Standardisasi dan Dosimetri (PDS) berdasarkan
Keppres No. 14 Tahun 1980 yang dijabarkan dalam Surat Keputusan
Dirjen BATAN No. 31/DJ/13/IV/1981 Tanggal 13 April 1981.
Tanggal 13 April 1981 inilah yang ditetapkan sebagai awal berdirinya

1985

unit Pusat Dosimetri dan Standardisasi.


Terbentuknya Pusat Standardisasi dan Penelitian Keselamatan
Radiasi (PSPKR) berdasarkan Keppres No. 85 Tahun 1985 yang
dijabarkan lebih lanjut dalam surat keputusan Dirjen BATAN No.

1988

127/DJ/XII/1986.
PSPKR disempurnakan menjadi Puslitbang Keselamatan Radiasi dan
Biomedika Nuklir (P3KRBiN) berdasarkan Keppres No. 197 Tahun

Page 10

1998 yang dijabarkan lebih lanjut dalam Surat Keputusan Dirjen


2005

BATAN No. 127/DJ/XII/1986.


Berdasarkan Peraturan Kepala BATAN No. 392/KA/XI/2005 tanggal
24 November 2005, P3KRBin disempurnakan menjadi Pusat
Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) yang
mempunyai tugas melakukan penelitian dan pengembangan di bidang
dosimetri, biomedika, teknik nuklir kedokteran, dan pelaksanaan
pelayanan

2014

metrologi

radiasi,

serta

pelayanan

pengendalian

keselamatan kerja dan kesehatan.


Berdasarkan Peraturan Kepala BATAN Nomor 14 Tahun 2013
tentang Organisasi dan Tata Keraja Badan Tenaga Nuklir Nasional
dimana BATAN terdiri atas:
a. Kepala;
b. Sekretariat Utama;
c. Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir;
d. Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir;
e. Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir;
f. Inspektorat;
g. Pusat Pendidikan dan Pelatihan; dan
h. Pusat Standardisasi dan Mutu Nuklir.
BATAN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di
bidang

penelitian,

pengembangan

dan

pendayagunaan

ilmu

pengetahuan dan teknologi nuklir sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan.
II..2. Visi dan Misi

Page 11

Visi PTKMR adalah menjadi pusat acuan nasional dan regional di bidang
teknologi keselamatan dan metrologi radiasi serta aplikasi teknologi nuklir bidang
kesehatan. Misi PTKMR adalah melaksanakan penelitian pengembangan, dan
pelayanan keselamatan dan metrologi radiasi serta aplikasi teknologi nuklir
dibidang kesehatan
II.3. Tujuan dan Sasaran
Tujuan PTKMR adalah meningkatkan hasil penelitian dan pengembangan
kesehatan, keselamatan dan metrologi radiasi yang bermutu tinggi serta layanan
masyarakat yang prima. Sasaran strategik PTKMR adalah diperoleh hasil
penelitian dan pengembangan biomedika nuklir, keselamatan dan metrologi
radiasi.
II.4. Struktur Organisasi
BATAN terdiri atas:
1. Kepala
Kepala mempunyai tugas memimpin BATAN dalam melaksanakan tugas
dan fungsi BATAN.
2. Sekretariat Utama:
Sekretariat Utama adalah unsur pembantu pemimpin yang berada
dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala.
Sekretariat Utama dipimpin oleh Sekretaris Utama.

Page 12

Sekretariat Utama mempunyai tugas melaksanakan koordinasi


pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi
kepada seluruh unit organisasi di lingkungan BATAN.

3. Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir:


Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir adalah unsur
pelaksana sebagian tugas dan fungsi BATAN di bidang penelitian dan
pengembangan sains dan aplikasi teknologi nuklir, yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala.
Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir dipimpin oleh
Deputi.
Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir mempunyai tugas
melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang
penelitian dan pengembangan sains dan aplikasi teknologi nuklir.

4. Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir:


Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir adalah unsur pelaksana
sebagian tugas dan fungsi BATAN di bidang pengembangan teknologi
energi nuklir dan daur bahan nuklir, yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala.
Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir dipimpin oleh Deputi.

Page 13

Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir mempunyai tugas


melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang
pengembangan teknologi energi nuklir dan daur bahan nuklir.

5. Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir:


Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir adalah unsur
pelaksana sebagian tugas dan fungsi BATAN di bidang pendayagunaan
teknologi nuklir, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Kepala.
Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir dipimpin oleh Deputi.
Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir mempunyai tugas
melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang
pendayagunaan teknologi nuklir.

6. Inspektorat:
Inspektorat adalah Unsur Pengawas yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala.
Inspektorat secara administratif dikoordinasikan oleh Sekretaris Utama.
Inspektorat dipimpin oleh Inspektur.
Inspektorat mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern di
lingkungan BATAN.

Page 14

7. Pusat Pendidikan dan Pelatihan:


Pusat Pendidikan dan Pelatihan berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Kepala.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan secara administratif dikoordinasikan
oleh Sekretaris Utama.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan mempunyai tugas melaksanakan
program dan evaluasi pendidikan dan pelatihan, penyelenggaraan
pelatihan, dan pengembangan jabatan fungsional yang berada di bawah
pembinaan BATAN.

8. Pusat Standardisasi dan Mutu Nuklir:


Pusat Standardisasi dan Mutu Nuklir berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Kepala.
Pusat Standardisasi dan Mutu Nuklir secara administratif
dikoordinasikan oleh Sekretaris Utama.
Pusat Standardisasi dan Mutu Nuklir mempunyai tugas melaksanakan
standardisasi, jaminan mutu nuklir serta akreditasi dan sertifikasi.

Page 15

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
III.1 Analisis Aktivasi Neutron.
Analisis Aktivasi Neutron ditemukan pada tahun 1963 ketika Hevesy
(Hungaria) dan Levi (Denmark) menemukan bahwa sampel yang mengandung
unsur tanah jarang menjadi sangat radioaktif setelah terpapar oleh suatu sumber
neutron. Dari observasi tersebut, mereka segera menyadari bahwa suatu reaksi inti
yang dilakukan terhadap sampel dan diikuti dengan pengukuran radioaktivitas
mempunyai potensi untuk digunakan dalam identifikasi kualitatif dan kuantitatif
kandungan unsur-unsur yang terdapat didalam sampel

Page 16

[1]

Analisis Aktivasi Neutron merupakan teknik analisis yang didasarkan pada


pengukuran sinar gamma karakteristik yang diemisikan oleh isotop-isotop dalam
sampel melalui proses iradiasi dengan neutron.
Analisis Aktivasi Neutron (AAN) didasarkan pada iradiasi suatu nuklida
stabil AZ dengan Neutron melalui reaksi ini AZ (n,)A+1Z. Unsur radioaktif ini
akan memancarkan radiasi sinar gamma yang karakteristik. Radioaktif ini
dinamakan radioaktivitas imbas.
Besarnya Radioaktivitas imbas suatu nuklida pada saat setelah iradiasi
dapat dihitung dengan persamaan

[1]

:
(3.1)

Dimana A0 = Radioaktivitas imbas pada saat iradiasi selesai.


Nc = Jumlah cacahan pada puncak energi .
= Konstanta Peluruhan.
tD = selisih waktu setelah iradiasi dan mulai pencacahan.
tC = waktu pencacahan.
Dalam kegiatan ini digunakan teknik analisis aktivasi neutron dengan metode
pembanding (komparatif). Pada metode ini, standar dan sampel diiradiasi
bersama-sama sehingga diperoleh kondisi yang sama pada saat iradiasi. Sehingga
kadar unsur dalam sampel dapat dihitung dengan membandingkan aktivitas

Page 17

sampel (Asampel) dengan aktivitas standar (Astd) yang diketahui kadarnya.


Perhitungan kadar unsur dalam sampel dihitung dengan persamaan [1]:

(3.2)
Dimana Wsampel = massa sampel (mg)
Wstd = massa standar (mg)
Asampel = Aktivitas sampel (Bq)
Astd = Aktivitas standar (Bq)

III.2 Prinsip Analisi Aktivasi Neutron

Gambar III.1. Prinsip PGNAA/PGFNAA dan Teknik NAA

Page 18

Ketika neutron berinteraksi dengan target ini melalui tumbukan non


elastik, suatu senyawa inti terbentuk dalam keadaan tereksitasi. Energi eksitasi
senyawa inti bergantung pada energi ikatan antara neutron dengan inti. Senyawa
inti akan segera terde-ekstasi membentuk konfigurasi yang lebih stabil melalui
peluruhan satu atau lebih sinar gamma karakteristik. Pada beberapa kasus,
konfigurasi baru tersebut akan membentuk inti radioaktif yang juga akan terdeekstasi (atau meluruh) dengan mengemisikan sinar gamma tunda yang
karakteristik denga laju reaksi yang lebih lambat sesuai dengan waktu paro inti
radioaktif tersebut. Waktu paro dapat berkisar antara sepersekian detik hingga
beberapa tahun bergantung pada spesi radioaktif tertentu [2].
Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG) merupakan struktur organisasi yang
mengemban tugas mengelola dan mengoperasikan reaktor RSG-GAS dengan
selamat. PRSG juga bertugas mempromosikan, mengelola dan mengembangkan
fasilitas iradiasi di reaktor RSG-GAS. Fasilitas iradiasi Rabbit System merupakan
fasilitas iradiasi yang digunakan untuk produksi radioisotop dan penelitian
analisis aktivasi neutron. Ada dua jenis Rabbit System, yaitu Hydraulic
RabbitSystem

dan

Pneumatic

Rabbit

System.

Hydraulic

RabbitSystem

menggunakan air sebagai media pengangkut kapsul iradiasi, sedangkan Pneumatic


Rabbit System menggunakan gas nitrogen. Di samping sebagai media
pengangkut, air dan nitrogen tersebut berfungsi sebagai pendingin kapsul selama
iradiasi berlangsung. Fasilitas iradiasi tersebut dapat digunakan untuk iradiasi
sampel dengan waktu singkat (beberapa detik) sampai waktu relatif panjang (4-6
jam) [7].

Page 19

Apabila unsur-unsur stabil dalam cuplikan diiradiasi dengan neutron, ada


bermacam-macam reaksi inti yang dapat terjadi. Reaksi yang paling sering terjadi
dan yang paling banyak digunakan dalam AAN adalah reaksi neutron-gamma (n,
g) seperti dalam contoh berikut 127I + 1n 128I + g Pemilihan reaksi untuk
mengaktifkan cuplikan yang tepat diperlukan fasilitas iradiasi yang bersesuaian.
Ada tiga jenis fasilitas iradiasi neutron yaitu: reaktor nuklir, akselerator dan
sumber neutron isotopik (Isotopic Neutron Source). Pada reaktor nuklir pada
umumnya menggunakan bahan bakar uranium, yang mempunyai dua isotop utama
yaitu 235U dan 238U. Inti 235U apabila menyerap neutron akan mengalami
pembelahan menjadi dua inti baru sambil melepaskan 2 atau 3 neutron seperti
reaksi inti berikut

[8]

X + Az 11 AZ 22Y + 2 ( atau 3 ) 01n


1
U + 235
92 0n

Neutron yang dihasilkan langsung dari pembelahan uranium mempunyai


energi yang sangat tinggi yang disebut neutron cepat dengan energi diatas 0,1
MeV. Energi neutron tersebut tidak efektif untuk mengiradiasi cuplikan. Untuk
mendapatkan neutron dengan energi lebih rendah, dalam reaktor nuklir diperlukan
moderator dengan bahan-bahan yang mempunyai berat atom ringan seperti air, air
berat (D2O) dan grafit untuk memperlambat gerakan neutron menjadi neutron
epitermal (0,2 eV 0,1MeV) dan neutron termal (di bawah 0,2 eV). Neutron
termal tersebut adalah yang paling efektif untuk mengiradiasi cuplikan. Aktivitas
imbas pada cuplikan yang diiradiasi pada reaktor nuklir dihitung menggunakan
persamaan

[8]

Page 20

A = Nfs (1- e-0,693.t /T )

(3.3)

dengan :
A : aktivitas imbas pada saat iradiasi selesai (Bq).
N : cacah butir atom nuklida yang diiradiasi.
f : flux neutron (neutron cm-2 s-1).
: tampang serapan neutron (cm2).
T : waktu iradiasi.
T : waktu paro nuklida radioaktif hasil iradiasi.
Sedangkan kandungan unsur dalam cuplikan setelah diiradiasi dan dicacah
dihitung dengan persamaan [8].
W cuplikan =

CPS cuplikan
X W standar
CPS standar

(3.4)

dengan :
Cpscuplikan : laju cacah bersih cuplikan(cps).
Cpsstandar : laju cacah bersih SRM (Standard Referen Material)(cps).
Wcuplikan : kandungan unsur dalam cuplikan (mg/kg).
Wstandar

: kandungan unsur dalam SRM (mg/kg).

Ketidakpastian pengukuran (uncertainty) kandungan unsur dalam cuplikan


(Wcuplikan) dengan tingkat kepercayaan 95 % dihitung dengan persamaan : [4,
5]
Untuk memvalidasi hasil analis kandungan unsur pada cuplikan sedimen
digunakan SRM 2704dan pada cuplikan soil digunakanSRM 2709a, dengan
menghitung bias relatif menggunakan persamaan berikut :

Page 21

bias relatif =

nilai analis nilai sertifikat


100
nilai sertifikat

(3.5)

III.3 Validasi dan Estimasi Ketidakpastian Pada Metode AAN


Untuk memenuhi sistem mutu litbang, maka peralatan yang digunakan
baik peralatan uji maupun peralatan ukur serta metode pengujian yang digunakan
harus terverifikasi, kalibrasi dan telah divalidasi sesuai program jaminan mutu
litbang. Metode pengujian yang digunakan adalah metode standar yang
dikembangkan tetapi sudah divalidasi dengan standar baku Standar Refrence
Material (SRM), dengan demikian sistem mutu litbang harus disiapkan dan
diterapkan sesuia pedoman KNAPPP 02-2002 [3].
Suatu laboratorium analisis perlu melakukan penelitian dan pengujian
terhadap suatu bahan untuk memperoleh data-data yang memenuhi persyaratan
BSN-101-1991 agar dapat menujang pengakuan keberadaan laboratorium
pengujian dan kalibrasi dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat
yang memerlukan jasa pengujian untuk menggunakan alat tersebut. Salah satu alat
uji yang diperlukan dalam rangka mempertahankan sertifikat akreditasi adalah
ketidakpastian pengukuran, sehingga diperoleh pengakuan dari pengguna yang
dituangkan dalam sertifikat mutu dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Setiap
nilai yang diperoleh dari suatu pengukuran kuantitatif hanya merupakan suatu
perkiraan terhadap nilai benar (true value) dari sifat yang diukur. Dalam hal ini
diperlukan suatu indikator mutu yang dapat diterapkan secara universal,
tetap/sesuai (consistent), dapat diukur serta mempunyai arti yang jelas dan tidak
Page 22

samar-samar. Indikator yang memenuhi persyaratan tersebut adalah ketidakpastian


(uncertainly) yang merupakan suatu parameter yang menyatakan rentang/kisaran
yang didalamnya diperkirakan terletak nilai benar dari sifat yang diukur. Untuk
penetuan konsentrasi dalam cuplikan dengan metoden AANC, digunakan rumus
umum sesuai persamaan berikut:

C=

mN A Y
( 1eta ) etd ( 1etc )
a
BA

Dimana:
f = Fluks Neutron,
s = Tampang lintang reaksi,
I = Tetapan peluruhan,
ta = Waktu iradiasi,
td = Waktu tunda (coolling time),
tc = waktu pencacahan,
m = massa cuplikan,
a = kelimpahan relatif isotop cuplikan
NA = Bilangan Avogadro,
BA = Berat atom unsur cuplikan

Page 23

(3.6)

Persamaan (4) tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dan persamaan akhir
AANC. Untuk perhitungan konsentrasi dalam penelitian digunakan metode relatif
atau komparatif, maka diperlukan cuplikan satndar SRM yang telah diketahui
konsentrasi dengan pasti cuplikan standar dan cuplikan (unknown) diaktivasi
bersama-sama, sehingga mendapatkan paparan neutron yang sama sehingga
persamaan (4) dapat disederhanakan menjadi

mX =

Cx
xm
Cs s

(3.7)
Dimana:
mx = Massa unsur dalam cuplikan,
ms = Massa Cuplikan Standar,
Cx = Cacah pada cuplikan,
Cs = Cacah pada cuplikan standar
III.4. Peluruhan Radioaktif
a. Peluruhan Radiasi-
Radiasi partikel- umumnya terjadi pada unsur berat, yaitu unsur
yang nomor massanya besar (Z 83) dan energi ikatnya rendah, misalnya
peluruhan plutonium 236. Partikel dinyatakan sebagai inti atom helium
( 2He4 ) dan inti 94Pu236 yang mengalami peluruhan sebagai berikut [4]:
236
4
232
+Q
94Pu
2He + 92U

Page 24

Pada saat partikel- di pancarkan maka nomor atom akan berkurang dua
dan nomor massanya akan berkurang empat. Pada dasarnya partikel-
dipancarkan dengan satu energi, namun dalam spektrum partikel- tampak ada
satu kelompok energi radiasi partikel-, dengan perbedaan energi yang sangat
kecil. Perbedaan energi yang sangat kecil ini disebabkan oleh perbedaan tingkat
energi inti turunan. Inti yang meluruh dengan memancarkan partikel- dengan
energi yang lebih rendah, berubah menjadi inti turunan yang ada dalam keadaan
tereksitasi partikel- dengan energi yang tertinggi berubah menjadi inti turunan
yang ada dalam keadaan tingkat dasar. Inti yang ada dalam keadaan tereksitasi
segera membuang energi eksitasinya dalam bentuk radiasi sinar- menuju ke
tingkat dasar. Perlu diketahui bahwa hanya beberap saja radionuklida pemancar
partikel- yang juga memancarkan radiasi-, misalnya

226

Ra yang dalam

peluruhannya memancarkan dua kelompok energi partikel- yang disertai denga


radiasi- [4].
Tabel 3.1. Beberapa contoh radionuklida pemancar-[4]
Jenis Radionuklida
241
Am (Americium)
212
Bi (Bismuth)
239
Pu (Plutonium)
210
Am (Polonium)
226
Ra (Radium)
238
U (Uranium)
232
Th (Thorium)

Energi yang dipancarkan (MeV)


5,48
6,10
5,16
5,30
4,78
4,20
4,01

b. Peluruhan Radiasi-
Partikel- dapat terjadi dalam proses pada waktu inti memancarkan
elektron (peluruhan--) atau (positron-+ ). Pada peristiwa peluruhan-- (-1e0)
seakan akan neutron di dalam inti berubah menjadi proton dengan melemparkan

Page 25

elektron keluar dari inti, seperti yang ditunjukkan pada persamaan reaksi tersebut
[4]

1
0
n0
1H + -1e
+
Pada peluruhan- (Positron) seakan akan dianggap sebagai hasil proses
1

perubahan proton menjadi neutron, yang ditunjukkan sebagai berikut [4]:


1
0
0
1H
1n + +1e + v (antineutrino)
Peluruhan radionuklida yang memancarkan radiasi-+ hanya dapat
berlangsung jika perbedaan massa antara atom induk yang netral dengan atom
turunannya sedikitnya sama dengan 1,022 MeV, jika tidak maka akan terjadi
penangkapan elektron (electron capture) karena tidak ada energi kinetik untuk
partikel-+. Waktu paro rata-rata positron bebas umumnya relatif pendek. Jika
positron bebas bertemu dengan elektron yang berada disekitarnya, maka kedua
partikel tersebut dan setelah itu hilang. Energi yang berasal dari massa kedua
partikel tersebut berubah menjadi foton [4].
Tabel 3.2. Beberapa contoh radionuklida pemancar-[4]
Jenis Radionuklida
3

Energi yang dipancarkan (MeV)


Maksimum
Rata-rata
0,0186
0,006
0,156
0,049
0,252
0,077
1,71
0,70
2,27
1,13

H (Tritium)
C (Karbon)
45
Ca (Kalsium)
32
P (Posfor)
90
Sr (Stronsium)
c. Peluruhan Radiasi-
Radiasi sinar-gamma merupakan radiasi elektromagnetik dengan energi
14

tinggi yang tidak bermuatan, dihasilkan dari inti atom tereksitasi yang mengikuti
proses peluruhan radioaktif, sebagai suatu cara membuang energi eksitasi untuk
menuju tingkat dasarnya. Karena sinar- tidak bermuatan dan bermassa, maka
muatan dan nomor atom inti tidak berubah dalam proses peluruhan radiasi-. Jika

Page 26

inti yang tereksitasi ini diberi lambang (AZ)*, maka suatu peluruhan radiasi- akan
menuju ke keadaan dasar dapat dinyatakan secara simbolik sebagai berikut [4]:
(AZ)*
(AZ + )
Kebanyakan inti tereksitasi yang mengalami peluruhan- memiliki waktu
paro sangat pendek yang tak terukur dalam orde 10 -14 detik. Namun ada beberapa
inti yang dalam keadaan eksitasi waktu paronya sangat panjang dan dapat terukur,
inti-inti tersebut disebut isomer dan keadaan eksitasinya disebut isomerik.
Tabel 3.3. Beberapa contoh radionuklida pemancar-[4]
Jenis Radionuklida
60
Co (Cobalt)
131
I (Yodium)
137
Cs (Cesium)
40
K (Kalium)

Energi yang dipancarkan (MeV)


1,17 dan 1,33
0,364 dan 0,638
0,662 dan 0,032
1,460

d. Radiasi-Neutron
Radiasi neutron terjadi pada pembelahan inti, misalnya pada reaktor nuklir
merupakan sumber neutron yang potensial. Sumber neutron yang berasal dari
gabungan

antara

zat

radioaktif

pemancar-

dengan

unsur

lain

yang

memungkinkan terjadinya reaksi inti yang menghasilkan neutron, misalnya


amerisium-berilium

(AmBe),

radium-berilium

(RaBe),

plutonium-berilium

(PuBe), dan polonium-berilium (PoBe). Selain itu neutron juga dapat dihasilkan
melalui proses reaksi inti melaui partikel bermuatan yang dipercepat dengan
mempercepat partikel yang khusus menghasilkan neutron. Pada reaksi neutron
massa akan berkurang satu, misalnya [4]:
137
1
136
54Xe
0n + 54Xe

(stabil)

Tetapan peluruhan () adalah kemungkinan terjadinya peluruhan setiap


atom unsur radioaktif, dinyatakan dalam per satuan waktu. Pada unsur radiaktif
yang mempunyai jumlah atom sebanyak N nuklida, kobolehjadian terjadinya

Page 27

peluruhan dari setiap nuklida dalam waktu dt adalah .dt. Apabila N adalah
jumlah nuklida yang belum meluruh pada suatu saat, dN adalah jumlah nuklida
yang meluruh dalam waktu dt, maka dapat dituliskan [5][6]:
dN = - dt N

( 3.8)

sehingga :
dN
N

N (t )

No

= - dt

dN
N

=-

dt
0

ln N(t) ln No = - .t

ln

N (t)
No

.t
= ln e

.t
N(t) = No e

(3.9)

Dengan No menyatakan jumlah nuklida radioaktif pada saat t=0 dan N(t)
menyatakan jumlah nuklida radioaktif pada saat t.
III.5. Aktivitas Radiasi
Aktivitas radiasi adalah besaran yang menyatakan jumlah peluruhan yang
terjadi per detik. Secara simbolik, aktivitas radiasi yang dinyatakan dengan A.
Sehingga secara matematis dapat dituliskan [5[[6]:

Page 28

A(t) =

dN

=
dt

dNo et

dt

t
= No e

= N(t)

(3.10)

Dengan A(t) adalah aktivitas radiasi pada saat t, sehingga aktivitas radiasi pada
saat t = 0 dapat dituliskan sebagai [5][6]:
Ao = No

(3.11)

.t
Oleh karena N(t) = No e

t
dan A(t) = No e
, maka diperoleh hubungan

:[5][6]
t

A(t) = Ao. e

(3.12)

Sejak tahun 1976 dalam Sistem satuan Internasional (SI), aktivitas radiasi
dinyatakan dalam satuan Becquerel (Bq) yang didefinisikan sebagai [5]:
1 Bq = satu disintegrasi inti per detik (dps= disintegrasi per second)
1 Ci = 3,7 x 1010 disintegrasi per detik
III.6. Interaksi Sinar Gamma dengan Materi
Sinar gamma merupakan radiasi yang keluar dari sumber yang mempunyai
daya tembus yang sangat besar, tidak bermuatan, tidak dibelokkan oleh medan
magnet

serta

tidak

bermassa.

Radiasi

gamma

Page 29

ini

merupakan

radiasi

elektromagnetik seperti halnya sinar x. Beda kedua radiasi ini terletak pada energi
dan sumbernya. Sinar gamma mempunyai energi diskrit sedangkan sinar-x
mempunyai energi kontinyu. Berdasarkan sumbernya maka sinar gamma berasal
dari inti atom yang meluruh ke keadaan stabil dengan energi lebih rendah.
Sedangkan sinar-xterjadi akibat adanya berkas elektron dengan kecepatan tinggi
memasuki medan inti dan terjadi pengereman akibat adanya gaya Coulomb.
Proses ini dikenal dengan Bremsstrahlung [5].
Foton seringkali mempunyai energi tunggal atau terbagi dalam beberapa
energi diskrit. Sinar gamma memiliki energi antara 0,1 MeV sampai 10 Mev,
dengan panjang gelombang antara 1,24.10-2 A sampai 1,24 A. (A=Amstrong).
Energi sinar gamma dapat dituliskan dengan relasi [5]:
E = h.

(3.13)

Dengan E merupakan energi sinar gamma (Joule), h merupakan konstanta planck


(J.s) dan merupakan frekuensi sinar gamma (s-1)
Dan panjang gelombang sinar gamma sebagai berikut [5]:

(3.14)
dengan merupakan panjang gelombang (m) dan c menunjukkan kecepatan
cahaya (m/s).

Page 30

Ada 3 interaksi yang penting dalam interaksi antara sinar gamma dengan materi.
Interaksi tersebut yaitu efek fotolistrik, hamburan compton dan produksi pasangan
[5]

BAB IV
METODOLOGI PELAKSANAAN

IV.1 Waktu dan Tempat


Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan di Pusat Teknologi Keselamatan dan
Metrologi Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTKMR-BATAN) mulai
tanggal 11 Januari 2016 sampai dengan 11 Februari 2016 di Laboratorium
Lingkungan dan Gedung Reaktor Serba Guna (RSG) Serpong.

IV.2. Alat dan Bahan


1V.2.1. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktek kerja lapang ini adalah :

Spektrometer Gamma HPGe

Rabbit System Reaktor

Vial Polietilen volume 0,273 ml

Page 31

Electic Balanced (Timbangan)

Spritus

Aluminium Foil

Kapsul

Plastik

Pakaian Laboratorium

Thermo Luminescent Dosimetri (TLD)

Sarung Tangan

Masker

Pinset

Alat tulis

1V.2.1. Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah:

SRM Marine Sediment 2702

SRM Coal Fly Ash

Cuplikan -1

Cuplikan -8

Cuplikan A

Cuplikan B

Page 32

Lignkungan 1 sampel yang digunakan untuk Iradiasi pendek,


menengah dan panjang adalah SRM Marine Sediment 2702 dan
Cuplikan -1.
Lingkungan 2 sampel yang digunakan untuk iradiasi pendek,
menengah dan panjang adalah SRM Marine 2702 dan Cuplikan -8.
Lingkungan 3 sampel yang digunakan untuk iradiasi pendek,
menengah dan panjang adalah SRM Coal Fly Ash dan Cuplikan A.
Lingkungan 4 sampel yang digunakan untuk iradiasi pendek,
menengah dan panjang adalah SRM Coal Fly Ash dan Cuplikan B

1V.3. Prosedur Kerja


Adapun prosedur kerja yang dilaksanakan adalah:

Preparasi Sampel
a. Sampel Uji Profisiensi yang di terima oleh Subbidang Keselamatan
Lingkungan PTKMR sudah dalam keadaan halus
b. Vial direndam dengan asam nitrat : air = 1 : 3 selama 24 jam,
dibilas dengan air aqubides hingga pH air bilasan = 7, dibilas
dengan aceton dan dikeringkan dengan lampu infra red. Perlakuan
ini berfungsi agar vial yang akan digunakan benar-benar steril.
c. Dilakukan penimbangan massa SRM dan Cuplikan sebanyak 3 kali
pengulangan, dengan menggunakan timbangan A & D GH-202
dengan ketelitian d=0,01/0,1 mg.

Page 33

d. Sampel tersebut ditimbang untuk Iradiasi pendek 11 mg, Iradiasi


menengah 17 mg, Iradiasi panjang 30 mg.
e. Menimbang Vial kosong pada electric balanced.
f. Sampel tersebut kemudian dimasukkan kedalam Vial dan
menimbangnya kembali di electric balanceed, sehingga didapatkan
berat dari masing masing sampel.
g. Sampel tersebut di seal dengan menggunakan batang pengaduk
yang telah dipanaskan dengan mnggunakan pemanas bunsen
(spritus) agar pada saat di masukan kedalam reaktor vial tersebut
tidak masuk air atau sampel tidak dapat keluar.
h. Memberikan kode pada tiap vial
i. Vial

yang

telah

diberikan

kode

dibungkus

lagi

dengan

menggunakan alumunium foil (untuk yang jangka menengah dan


jangka panjang), kemudian di berikan kode sesuai dengan sesuai
dengan kode yang ada pada vial tersebut.
j. Vial yang telah dibungkus aluminium foil, dibungkus lagi
aluminium foil secara keseluruhan secara melingkar dengan posisi
SRM (Standar Reference Material) berada ditengah, kemudian
diberikan kode.
k. Kemudian sampel-sampel tersebut dimasukan kedalam tabung
kapsul aluminium untuk jangka panjang, dan tabung kapsul biasa
untuk jangka pendek dan menengah.

Page 34

Kapsul tersebut dimasukkan kedalam reaktor selama 50 detik untuk yang


Iradiasi pendek, 20 menit untuk yang Iradiasi menengah dan 3 jam untuk
yang Iradiasi panjang.

Kalibrasi Spektrometer Gamma


a. Kalibrasi energi dengan memasukkan sumber standar. Sumber
standar yang digunakan dalam kalibrasi ini adalah

Pengukuran dan Evaluasi Sampel


a. Setelah dilakukan kalibrasi maka dilakukan pengukuran pada
sampel yang telah di Iradiasi, pengukuran pertama oleh sampel yang
jangka pendek pada lingkungan 1, setelah melakukan cooling
selama beberapa menit sampel tersebut dimasukan kedalam
Spektometer

Gamma

untuk

untuk

melakukan

pengukuran,

pengukuran tersebut dilakukan selama 2 menit dengan dead time


dibawah 20%, perlakuan yang sama juga di lakukan untuk sampel
lingkukan 2, 3, 4 dan Fly Ash PT Indonesia Power jangka pendek.

Page 35

b. Pengukuran untuk jangka menengah, setelah di Iradiasi selama 20


menit di coolingkan selama 1-2 hari, sedangkan untuk jangka
panjang setelah di Iradiasi selama 3 jam di coolingkan selama 7-14
hari. Kemudian itu dimasukan kedalam detektor (Spektrometer
Gamma).
c. Melakukan evaluasi dari hasil pengukuran tersebut

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
V.1 Hasil
Hasil cacahan menggunakan Spektrometer Gamma HPGe pada Cuplikan
-1, Cuplikan -8, Cuplikan A, dan Cuplikan B pada iradiasi pendek (45 detik) yang

Page 36

dianalisis menggunakan sofware Genie 2000 disajikan pada Tabel 5.1, Tabel 5.2,
Tabel 5.3,dan Tabel 5.4.
Tabel 5.1. Cacahan Cuplikan -1 pada Iradiasi Pendek
Kode /

Waktu

Nama

Energi

Waktu

Net Area

Massa

Cacah/

Unsur

(KeV)

Paro

(Cacahan)

Cuplikan

Durasi

L-1 (11,0

Cacah
10:06:10

mg)

(120

(detik)

Mn

1810,11

9.288

355073,80%

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,32
1434,05
1778,29
3083,73
320,33
1810,12

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

17443,31%
180081,17%
450081,42%
17,24,76%
910105,33%
357075,47%

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,56
1434,18
1778,32
3083,9
320,48
1810,21

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

28055,16%
3160109,05%
107001188,55%
2235,80%
95948,79%
231069,97%

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,92
1434,50
1778,56
3083,51
320,45
1810,92

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

542112,81%
1860141,42%
40600215,52%
27320,30%
843141,21%
213097,35%

detik)

L-2 (11,1

10:03:20

mg)

(120
detik)

L-3(11,1

10:00:18

mg)

(120
detik)

L-4 (11,07

9:57:04

Page 37

mg)

(120
detik)

L-5(11,0

10:22:45

mg)

(120

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1015,86
1434,97
1779,15
3083,94
321,25
1810,15

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

517116,73%
2840212,50%
93600344,72%
31427,12%
1480223,18%
296070,36%

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,46
1434,16
1778,36
3084,3
320,39
1811,08

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

23663,32%
30863,25%
13000124,28%
2619,61%
10177,55%
1540102,58%

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1015,63
1435,05
1779,30
3084,59
321,30
1810,37

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

351127,06%
3250242,26%
105000366,48%
28927,87%
1150205,89%
199068,34%

Mg
V
Al
Ca
Ti

1014,69
1434,37
1778,59
3083,39
320,55

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736

28979,75%
16100161,69%
44300225,31%
23820,25%
916,134,25%

detik)

L-6 (11, 0

10:16:16

mg)

(120
detik)

L-7 (11,09

10:19:58

mg)

(120
detik)

Tabel 5.2. Cacahan Cuplikan -8 pada Iradiasi Pendek


Kode

Waktu

Nama

Energi

Page 38

Waktu

Net Area

Sampel

Cacah/

(mg)

Durasi

L-20 (11,1

Cacah
10:44:21

mg)

(120 detik)

L-21 (11,1

Unsur

(KeV)

Paro
(detik)

Mn

1810,16

9.288

315073,35%

10:46:46

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,43
1434,17
1778,34
3083,5
320,34
1810,11

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

18444,14%
223087,40%
677094,50%
4162,14%
867108,69%
347073,11%

10:39:13

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,43
1434,17
1778,34
3083,1
320,32
1810,39

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

18444,14%
223087,40%
677094,50%
1823,57%
595107,83%
201068,00%

10:41:52

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,82
1434,46
1778,66
3083,89
320,51
1810,16

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

42185,31%
18100151,56%
46300230,54%
27319,47%
1030136,91%
210063,05%

11:14:17

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,70
1434,28
1778,42
3083,51
320,41
1810,13

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

43486,44%
1380110,54%
22800161,50%
21217,51%
53389,48%
333074,03%

Mg
V
Al

1014,62
1434,13
1778,33

34.056
13.500
8.064

22340,82%
299102,62%
11700120,16%

mg)

L-22 (11,0
mg)

L-23
(11,01 mg)

L-24 (11,0
mg)

Page 39

L-25

11:11:47

Ti
Mn

320,36
1810,23

20.736
9.288

1030103,04%
204062,57%

11:09:06

Mg
V
Al
Ca
Ti
Mn

1014,62
1434,32
1778,55
3083,89
320,38
1810,76

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736
9.288

44272,79%
1690134,77%
37100204,84%
24817,45%
681124,88%
175084,71%

Mg
V
Al
Ca
Ti

1015,28
1434,72
1778,96
3083,98
320,98

34.056
13.500
8.064
31.392
20.736

401107,34%
2440216,03%
75000300,56%
28723,09%
773168,26%

(11,07 mg)

L-26
(11,03 mg)

Tabel 5.3. Cacahan Cuplikan -A pada Iradiasi Pendek


Kode

Waktu

Nama

Energi

Waktu

Sampel

Cacah

Unsur

(KeV)

Paro

30622,82%

(mg)
L-39

Net Area

11:36:29

Mn

1810,07

(detik)
9.288

11:33:58

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,66
1434,16
1778,32
3083,28
1810,14

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

15845,76%
2300105,44%
16900136,13%
539,07%
16833,19%

11:28:10

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,73
1434,35
1778,46
3083,78
1810,88

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

22767,55%
3460142,50%
34300192,00%
49,911,18%
85381,45%

(11,02 mg)

L-40
(11,07 mg)

L-41
(11,09 mg)

Page 40

L-42 (11,1

11:31:33

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,50
1434,82
1778,96
3083,76
1810,24

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

397119,56%
2940201,68%
70200291,49%
59,514,86%
81058,05%

11:53:48

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,82
1434,37
1778,55
3083,60
1810,17

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

30873,24%
1820129,28%
29900190,68%
42,911,31%
38030,28%

11:51:23

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,86
1434,19
1778,37
3083,23
1810,19

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

28372,32%
3120117,96%
38030,28%
76,911,79%
97262,88%

11:48:36

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,71
1434,38
1778,47
3083,43
1810,45

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

31875,35%
1540116,11%
20700159,80%
50,811,08%
102071,32%

Mg
V
Al
Ca

1014,93
1434,58
1778,72
3084,36

34.056
13.500
8.064
31.392

303110,29%
2100166,37%
45500233,27%
40,511,83%

mg)

L-43
(11,00 mg)

L-44
(11,02 mg)

L-45
(11,06 mg)

Tabel 5.4. Cacahan Cuplikan -B pada Iradiasi Pendek


Kode

Waktu

Nama

Energi

Waktu

Sampel

Cacah

Unsur

(KeV)

Paro

1810,12

(detik)
9.288

(mg)
L-58

11:01:02

Mn

(11,05 mg)
Page 41

Net Area

35326,02%

L-59

13:55:51

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,63
1434,19
1778,41
3083,02
1810,41

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

26650,93%
2490102,87%
14800127,04
56,811,35%
24753,60%

13::58:33

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,56
1434,65
1778,85
3083,89
1810,40

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

441145,31%
5370203,74%
63800272,08%
99,313,52%
94161,44%

13:52:53

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,98
1434,21
1778,49
3083,96
1810,74

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

27156,50%
110092,21%
12800129,01%
49,310,38%
93881,78%

14:22:35

Mg
V
Al
Ca
Mn

1015,17
1434,91
1778,99
3083,14
1810,17

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

434100,07%
2600192,12%
62400275,28%
51,416,13%
358169,23%

14:19:55

Mg
V
Al
Ca
Mn

1014,63
1434,32
1778,49
3083,63
1810,23

34.056
13.500
8.064
31.392
9.288

27372,24%
3000126,83%
26200169,23%
69,911,39%
97062,17%

14:17:10

Mg
V
Al
Mn

1014,55
1434,41
1778,58
1810,57

34.056
13.500
8.064
9.288

18467,49%
1460102,83%
24200174,49%
79264,93

Mg
V

1014,34
1434,65

34.056
13.500

384113,02%
2510156,34%

(11,04 mg)

L-60
(11,07 mg)

L-61
(11,01 mg)

L-62
(11,06 mg)

L-63
(11,06 mg)

L-64
(11,02 mg)

Page 42

Al
Ca

1778,87
3082,95

8.064
31.392

51500248,79%
47,113,45%

V.2 . Pembahasan
Hasil validasi metode AAN dengan bahan standar SRM 2702 Marine Sediment
dan SRM 1633b Coal Fly Ash disajikan pada Tabel V.2.2, Tabel V.2.4, Tabel V.2.6
dan Tabel V.2.8. Nilai bias relatif berkisar antara 1.20% hingga 563.98%
.
Tabel V.2.1 Bias Relatif dengan SRM 2702 Pada Cuplikan Lingkungan 1
Cuplika

Nilai SRM 2702

Nilai pada

Bias Relatif

(mg/kg)
84.100 2.200
3.430 240
9.900 740
8.840 820
357,6 9,2
1757 58
8,41%0,22%
0,343%

Kontrol (mg/kg)
82.480

(%)
(1,93)
1,20
29,58
(25,73)
3,06
(1,60)
8,68

0,024%
0,990%

18.703

Unsur
n
1

Al
Ca
Mg
Ti
V
Mn
Al

3.471
12.828
6.565
369
1.729
92.878

563,98
Ca

(7,50)
Mg
Ti

0,074%
0,884%

14.964
8.114

0,082%

Page 43

421,93

V
Mn
Al

357,69,2
175758
8,41%0,22%
0,343%

218,42
(34,69)
8,68

376
1.957
141.761

563,98
Ca

0,024%
0,990%

11.633

Mg
V
Mn
Al

0,074%
357,69,2
175758
8,41%0,22%
0,343%

5.754
281
71
130.634

Ca

0,024%
0,990%

17.501

Mg
V
Mn

0,074%
357,69,2
175758

5.471
245
90

(7,50)

218,42
(34,69)
8,68
563,98
(7,50)
218,42
(34,69)

Dari data SRM di atas untuk lingkungan 1 kita dapatkan konsentrasi unsur dari
masing-masing unsur dan nilai rata-ratanya seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel V.2.2 konstrasi Unsur dan Nilai Rata-rata Lingkungan 1
RataNo

Unsur

Konsentrasi Unsur dalam target (g)


rata
L2
82.48

1
2

L3
122.4

L4
104.09

L6
91.39

L7
1.201.57

320.39

9
22.77

24.963

23.049

Al
Ca

43

3.471

33.846

30.190
5

12.82
3

Mg

Ti

8
6.565

19.884

15.008

9.157

56.893

22.754

4.007

4.780

46.13

11.085

14.515

Page 44

5
6

V
Mn

369
1.729

124
1.104

104
1.006

9
1.139
1.147

11.085
1.157

2.564
1.229

Tabel V.2.3 Nilai SRM lingkungan 2


Nilai
Kode

Unsur

Al
Ca
Mg
Ti
V
Mn
Al
Ca
Mg
Ti
V
Mn

L20

L24

kontrol

Bias Relatif

pada SRM

(%)

SRM

8,41%0,22%
0,343%0,024%
0,990%0,074%
0,884%0,082%
357,69,2
175758
8,41%0,22%
0,343%0,024%
0,990%0,074%
0,884%0,082%
357,69,2
175758

(mg/gr)
84.100
3.430
9.900
8.840
358
1.757
84.100
3.430
9.900
8.840
358
1.757

10,44
445,28
51,16
(8,22)
5,13
11,36
45,39
910,14
63,99
(51,37)
253,85
(39,80)

Tabel V.2.4 konstrasi Unsur dan Nilai Rata-rata Lingkungan 2


RataNo

Unsur

Al

Konsentrasi Unsur dalam target (g)


L21
92.87

L22
56.

L23
56.707

Page 45

L25
122.27

L26
1.081.57

rata

281.91

8
18.70
2

Ca

144

Mg

4
5
6

Ti
V
Mn

4
8.114
376
1.957

34.684

32.513

67.940

124.16
129.641

3
14.96
3

3
1

13.147

16.442

16.235

12.145

14.587

4.273
726
982

3.039
90
1.037

4.299
1.265
1.058

3.546
1.117
900

4.654
715
1.187

Tabel.V.2.5 Nilai SRM Lingkungan 3


Nilai kontrol
Bias Relatif
Kode

Unsur

SRM

pada SRM
(%)

Al
Ca
L40

15,050,27%
1,510,06%
0,4820,008

(mg/gr)
150.500
15.100

(5,81)
(22,96)

4.820
296
132
150.500
15,100

19,38
(5,07)
(45,95)
1.338,65
(87,64)

Mg
V
Mn
Al
Ca

%
295,73,6
131,81,7
15,050,27%
1,510,06%
0,4820,008

Mg
V
Mn

%
295,73,6
131,81,7

L43

93,00
4.820
296
132

(61,88)
3.267,07

Tabel V.2.6 konstrasi Unsur dan Nilai Rata-rata Lingkungan 3


Kod

Unsur

Konsentrasi Unsur dalam target (g)

Rata-

Page 46

rata
L40

L41

L42

27.09
1

Al

141.761

L44

L45

2.165.16

2.004.4

32.844

874.259

Ca

11.633

7,53
1.998

1.883

4
1.876

26
1.188

3.716

Mg

5.754

13.588

13.495

1.867

7.203

8.381

281

99

115

113

92

140

Mn

71

4.724

4.550

4.438

4.583

3.673

Tabel.V.2.7 Nilai SRM Lingkungan 4


Nilai
Kode

Unsur

kontrol

Bias Relatif

pada SRM

(%)

SRM
(mg/gr)
150.5

Al

15,050,27%
00
15.1

Ca

1,510,06%

(22,96)
00
4.8

L58
Mg

L62

(5,81)

0,4820,008%

295,73,6

Mn
Al
Ca
Mg
V
Mn

131,81,7
15,050,27%
1,510,06%
0,4820,008%
295,73,6
131,81,7

20
296
132
150.500
15,100
4.820
296
132

19,38
(5,07)
(45,95)
(77,38)
(87,59)
13,87
(64,05)
3.469,11

Tabel V.2.8 konstrasi Unsur dan Nilai Rata-rata Lingkungan 4


Page 47

Konsentrasi Unsur dalam target (g)

Rata-

Unsur
No

rata

L59
Al

130.634

L60
33.67

L61

L63

L64

32.844

28.593

34.042

51.957

1.630
8.923
83
4.531

1.874
5.488
106
4.704

1.508
9.398
92
3.808

4.990
7.535
110
3.554

1
2
3
4
5

Ca
Mg
V
Mn

17.501
5.471
245
90

4,30
2.439
8.393
100
4.637

Page 48

BAB VI
PENUTUP

V.1. kesimpulan
Telah dilakukan percobaan dengan menggunakan metode AAN dengan
menggunakan Reaktor Serbaguna G.A Siwabessy dan Spektometer Gamma HPGe
untuk menganalisis unsur Al, Ca, V,Mn, Mg dan Ti dari cuplikan Sedimen Marine
dan cuplikan Coal Fly Ash. Teknik ini merupankan teknik yang sangat efektif
untuk mendeteksi unsur ringan seperti Al, Ca, V, Mn, Mg dan Ti.Untuk
lingkungan 1 yang memiliki konsentrasi unsur paling tinggi untukAl pada L7, Ca
itu terdapat pada L3, Mg pada L3, Ti pada L7, V pada L6 dan Mn pada L2.
lingkungan 2 yang paling tinggi konsentrasi unsurnya untukAl terdapat pada L6,
Ca terdapat pada L22, Mg terdapat pada L23,Ti terdapat pada L21, V terdapat
pada L6 dan Mn terdapat pada L6, lingkungan 3 yang paling tinggi konsentrasi
unsurnya untukAl terdapat pada L44, Ca terdapat pada L40, Mg terdapat pada
L41, V terdapat pada L40, dan Mn terdapat pada L41. Dan lingkungan 4 yang
paling tinggi konstrasi unsur untuk Al terdapat pada L59,Ca terdapat pada L59,
Mg terdapat pada L64, V terdapat pada L59 dan Mn terdapat pada L63.

Page 49

Daftar Pustaka

1. Damastuti Endah,dkk.2009.Komparasi Metode Analisis Neutron Dengan


Spektrometer Gamma Serapan atau Atom Pada Analisis Unsur Zn dalam
Sampel Makanan. Bandung
2. Sunardi,Darsono.2010.Analisis Aktivasi Neutron Gamma Seketika Unsur
C,N dan O Mengunakan Generator Neutron. Prosisding Seminar Nasional
AAN 2010.Serpong
3. Sunardi, Prihatin Samin.2010.Validasi Dan Estimasi Ketidakpastian Pada
Metode Analisis Aktivasi Neutron Cepat Untuk Unsur Cu, Fe, Al,Si Dalam
Cuplikan Sedimen. Prosisding Seminar Nasional AAN 2010.Serpong
4. Sastrosudarmo, Sutarman. 2014. Dasar Dasar Proteksi Radiasi dan
Pemantauan Radiasi Lingkungan. Jakarta.
5. Affandy. 1996. Skripsi Fisika Pengukuran Radionuklida Alam Pada
Bahan Bangunan Plasterboard Fosfogipsum dengan Menggunakan
Spektrometer Gamma. FMIPA Universitas Indonesia, Depok.
6. Akhadi, Mukhlis.2000. Dasar Dasar Proteksi Radiasi hal 12-22. Rineka
Cipta, Jakarta.
7. Sutrisno,dkk.2014. Penentuan Waktu Tempuh Kapsul Hydraulic Rabbit
System Jalur 2 (Jbb 02) Di Reaktor Rsg-Gas.jurnal Fisika.
8. Wiyono muji,dkk.2013.Uji Profisiensi Antar Laboraturium Dalam
Penetuan Unsur Pada Cuplikan Sedimen dan Soil Dengan Metode

Page 50

Analisis Aktivasi Neutron. Prosiding Seminar Nasional TAN 2013 PTABTBATAN. Yogyakarta

Page 51

LAMPIRAN FOTO KEGIATAN PKL


1. Gambar Preparasi Sampel
iradiasi

2. Sampel siap untuk

3. Proses Iradiasi

4. Proses Cooling

Page 52

5. Proses Pencacahan menggunakan


pencacahan
Spectrometer gamma HPGe

6. Mengelolah hasil

Page 53