Anda di halaman 1dari 5

Konsep Pesantren Sains (Trensains), Reformasi

Pembelajaran Sains Pada Sistem Pendidikan Berbasis


Pesantren
Abdul Ghofur
Annisaa Cahya Sugiarti
Rahmania Avianti
Mahasiswa S2 pendidikan Sains Universitas Negeri Surabaya

Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang konsep Pesantren Sains (Trensains) sebagai suatu gagasan
reformasi pesantren saat ini. Dimana sebelumnya pola pendidikan pesantren dan proses pembelajaran pada masa
klasik masih menggunakan sistem tradisional. Bahkan hingga kini sistem tersebut tetap dipertahankan oleh sebagian
pesantren, walaupun sebagian yang lain sudah memodifikasinya dengan metode-metode modern yang lebih
sistematis dan efektif.Gagasan Trensains (Pesantren Sains) yaitu menjadikan al Quran sebagai sumber kajian
utama dalam pembelajaran khususya pada pelajaran sains kealaman (natural sains) dan menjadikan al Quran
sebagai basis epistemologi dalam pengembangan sains. Gagasan tersebut diadopsi dari pemikiran Agus Purwanto
dalam wacana pengembangan ilmu kontenporer. Gagasan itu kemudian mereformasi konsep pendidikan pesantren
klasik (salaf) maupun pesantren modern (kholaf). Metode pembelajaran Trensains yaitu sebuah metode
pembelajaran yang tidak menggabungkan materi pesantren dengan ilmu umum sebagaimana pesantren modern,
tetapi mengambil kekhususan pada pemahaman Al Qur'an, Al Hadist dan sains kealaman serta interaksinya.
Analisis ayat-ayat kauniah, kegiatan observasi ayat-ayat semesta, dan parktikum sains berbasis ayat al Quran
adalah ciri khas pembelajaran sains pada konsep Trensains. Kegiatan pembelajaran yang dirancang dan diharapkan
dalam jangka panjang mampu menghasilkan para ilmuan, teknolog, dan dokter yang memiliki basis al Quran yang
kokoh. Konsep inilah yang kemudian mereformasi sistem pendidikan pesantren dan juga pengajaran sains di
beberapa pesantren besar di Indonesia.
Kata kunci: Konsep Pesantren Sains, Ayat-Ayat Kauniah, dan Pembelajaran Sains.
PENDAHULUAN
Artikel ini ditulis sebagai hasil interpretasi atas
buku Ayat-ayat Semesta (AAS) dan Nalar Ayat-Ayat
Sesmesta (NAAS) yang ditulis oleh Agus Purwanto,
D.Sc dan jurnal Transformasi Corak Edukasi Dalam
Sistem Pendidikan Pesantren Dari Pola Tradisi Ke Pola
Modern yang ditulis Ahmad Syamsu Rizal pada
Jurnal Pendidikan Agama Islam-Taklim, vol. 9 No 22011.
Penulis Jurnal diatas berusaha menjelaskan
tentang corak pendidikan model pesantren dalam
perkembangan selama satu abad, yaitu terjadinya
perubahan-perubahan secara signifikan menyangkut ke
tujuh aspek sistem pendidikan, dimana tujuh aspek
pendidikan tersebut masih besifat tacid. Pada abad 21
ini lebih bersifat eksplisit dan dituliskan dalam bentuk
visi misi.
Pada jurnal tersebut dijelaskan bahwa materi
dan struktur kurikukum pesantren pada awalnya hanya
memuat ilmu pengetahuan agama saja, pada zaman
sekarang cakupannya lebih luas dengan memasukkan
ilmu pengetahuan umum, disamping ilmu pengetahuan
agama. Sistem gradasi pada mulanya merujuk pada
kitab-kitab islam klasik, sampai perkembangannya
menjadi perjenjangan pertahun. Demikian pula pada
pendekatan edukasi dari yang lebih bersifat doktrin
menjadi yang bersifat terbuka dan self driven. Model

pembelajaran yang diterapkan dari bentuk teacheroriented menjadi lebih bervariasi dengan banyak model
yang bersifat active learning. Namun interaksi edukatif
dan lingkungan pendidikan berbasis agama dan
berwatak regius masih tetap dipertahankan.
Dalam perkembangannya, pesantren
tidak
serta merta mengadopsi teori-teori pendidikan modern
yang dicurigai merusak tatanan yang sudah ada.
Pesantren hanya mengambil hal baru dan hal yang baru
tersebut memang lebih baik, namun pesantren tetap
mempertahankan tradisi dan ciri khasnya. Hal ini
dikenal dengan prinsipal-muhafadoh bil qodim al
sholih wal akhdzu bil-jadid al-aslah, yaitu memelihara
peninggalan lama yang baik dan mengambil hal yang
baru yang ternyata lebih baik. Dengan prinsip ini lamakelamaan pendidikan pesantren mengalami penyesuaian
dengan pendidikan modern. Penyesuaian tersebut
melalui proses adopsi dan adaptasi terhadap tuntutan
zaman namun tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dan
tujuan.
Jika pesantren pada perkembangannya
menyesuaikan diri dengan pendidikan modern, maka
pada kurikulumnya juga mengalami pergeseran. Pada
struktur kurikulum tersebut
juga
memasukkan
pelajaran umum termasuk pelajaran sains. Pertanyaan
yang muncul adalah bagaimanakah konsep pendidikan
yang ideal untuk pesantren saat ini. Bagimanakah cara

Konsep Pesantren Sains (Trensains), Reformasi Pembelajaran Sains Pada Sistem Pendidikan Berbasis Pesantren

mengajarkan sains yang selaras dengan prinsip-prinsip


pendidikan pesantren. Untuk menjawab pertanyaan
tersebut dalam artikel ini, penulis mencoba megusulkan
pandangan baru tentang reformasi pendidikan pesantren
dan pola-pola pengajaran sains dengan mengadopsi
pemikiran Agus Purwanto pada buku AAS dan NAAS
tentang konsep pesantren sains sebagai paradigma baru
pada pendidikan pesantren.

Saat ini konsep tersebut lebih dikenal dengan


istilah Pesantren Modern yang mengajarkan ilmu sains,
sosial, dan ilmu-ilmu umum yang lain. Namun jika
ditinjau dari konten yang dipelajari belum ditemukan
pesantren yang fokus mempelajari sains dengan ayatayat kauniyah sebagai objek kajiannya, serta belum
ditemui pesantren yang
menempatkan al Quran
sebagai basis epistemologi dalam pengembangan sains.
Padahal didalam al Quran itu sendiri terdapat banyak
informasi terkait dengan sains dan jumlahnya jauh lebih
banyak dari pada informasi tentang hukum islam
(Fiqih).
Pemikiran Agus Purwanto Dalam Wacana
Perkembangan Ilmu Kontenporer.
Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta
adalah dua buku yang membahas ayat-ayat kauniah
yang didalamnya digunakan sebagai sumber ilmu
pengetahuan. Ayat-ayat al Quran digunakan sebagai
sumber ilmu pengetahuan untuk melahirkan teori dalam
ilmu pengetahuan. Ayat-ayat al Quran digunakan
sebagai sumber ilmu pengetahuan atau yang biasa
disebut sebagai epistemologi ilmu.
Nalar Ayat-Ayat Semesta banyak menjelaskan
tentang teori ilmu pengetahuan modern yang kemudian
diuraikan melalui pendekatan wahyu. Sebagian lain ada
yang menguraikan ayat-ayat kauniah yang digunakan
sebagai sumber inspirasi atau sebagai epistemologi yang
lahir dari wahyu. Seperti dalam surah Az Zumar yang
membahas tentang delapan pasang hewan ternak yang
diturunkan dari langit. Apa maksud hewan turun dari
langit? Mengapa diturunkan, langit yang mana? Apakah
dari bintang, bulan atau benda langit mana? Dari
inspirasi tersebut menurut Agus Purwanto dapat lahir
teori baru atau muncul bidang ilmu baru yang bisa
disebut dengan ilmu astrogenetika atau astrobiologi.
Dari sini ilmuwan para ilmuwan biologi dan para
astronom bisa bekerja sama untuk melakukan penelitian
dengan menggunakan surah Az Zumar sebagai pijakan.
Al Quran sebagai hudaan linnas.

PEMBAHASAN
Pesantren dan Pola Pendidikannya.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang
unik, tidak saja karena keberadaannya yang sudah lama,
tetapi juga karena kultur, metode, dan jaringan yang
diterapkan oleh lembaga pesantren tersebut. Karena
keunikannya, pesantren telah melahirkan para ulama,
kaum terpelajar, dan para cendikiawan muslim.
Pada zaman penjajahan, pesantren menjadi
basis perjuangan kaum nasionalis-pribumi dalam
melakukan perlawanan terhadap kaum kolonial. Di
Jawa Timur,
revolusi jihad yang digagas kaum
pesantren membangkitkan semangat juang para santri
untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia .
Revolusi jihad merupakan catatan seruan yang
dikeluarkan oleh NU yang ditujukan kepada Pemerintah
Republik Indonesia dan umat islam Indonesia untuk
berjuang membela tanah air dari penguasaan kembali
pihak Belanda dan pihak asing lainnya beberapa waktu
setelah proklamasi kemerdekaan (Tim PSB, 2015).
Resolusi jihad merupakan fatwa terpenting untuk
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, fatwa ini
merupakan salah satu produk dari pendidikan pesantren.
Jika ditinjau dari pola pendidikan di pesantren,
proses belajar-mengajar pada masa klasik menggunakan
sistem tradisional. Bahkan hingga kini sistem tersebut
tetap dipertahankan oleh sebagian pesantren, walaupun
sebagian yang lain sudah memodifikasinya dengan
metode-metode modern yang lebih sistematis dan
efektif.
Seiring dengan perkembangan zaman, metode
klasik seperti metode sorogan (Individual Learning
Process), bandongan (Collective learning Processes),
dan metode hafalan digantikan dengan metode
musyawarah/ baths al-masail /metode diskusi dan
metode mudzakarah/metode yang membahas isu-isu
sosial (Amrusi, 2012).
Pada perkembangan selanjutnya, pesantren
tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga ilmu
umum, salah satu contohnya adalah konsep Madrasah
Nizhamiyah yang digagas oleh KH. Wahid Hasyim
(Menteri Agama RI pertama). Madrasah Nizhamiyah
adalah
konsep
pendidikan
pesantren
yang
mengolaborasikan ilmu agama dengan ilmu umum,
presentase ilmu umum lebih besar dari pada ilmu
agama. Selain mengajarkan bahasa arab dan belanda,
madrasah ini mengajarkan bahasa inggris dan
ketrampilan mengetik. Meskipun begitu, konsep
madrasah ini tidak mengubah sistem pengajian kitab
kuning dan sistem musyawarah yang menjadi ciri khas
pesantren (Tim PSB, 2015).

Al Quran menyuruh manusia mempelajari


sistem skema penciptaan, keajaiban-keajaiban alam,
sebab dan akibat seluruh benda-benda yang ada, kondisi
organisme yang hidup, seluruh tanda-tanda kuasaan
Tuhan yang ada di alam eksternal manusia dan
kedalaman-kedalaman batin jiwa manusia. Al Quran
menyuruh berpikir dan merenungkan seluruh aspekaspek penciptaan dan menyuruh manusia menggunakan
nalar dan fakultas-fakultas lainnya untuk menemukan
rahasia alam (Gusyani, 2011).
Perkembangan pemikiran Agus Purwanto di
bidang islamisasi ilmu jika dirunut dengan
pendahulunya, ia tidak lagi membahas landasan dasar
filsafat ilmu itu sendiri, tetapi turunan dari pemikiran itu
sendiri untuk menjadikan al Quran sebagai sumber
ilmu. Jika Al Attas dengan konsep islamisasi ilmu
adalah landasan filosofisnya, maka Agus Purwanto
mencoba menurunkan filosofi tersebut kerana teoritik
yang kemudian dilanjutkan pada ranah praktik. Gagasan
utama Agus Purwanto dalam kedua bukunya adalah
2

Konsep Pesantren Sains (Trensains), Reformasi Pembelajaran Sains Pada Sistem Pendidikan Berbasis Pesantren

analisis teks, diharapkan para ilmuwan mampu


melahirkan teori dari analisis teks tersebut. Tetapi ia
juga menyatakan untuk melahirkan sebuah teori masih
perlu perjalanan panjang seperti penelitian, pengamatan,
dan perkembangan ilmu pengetahuan dari waktu ke
waktu dan diperlukan lembaga pendidikan sebagai
wujud dari aplikasi dari tuangan gagasan tersebut.

wahana untuk mengungkap rahasia yang ada dalam


ayat-ayat kauniyah, mengembangkan bidang penelitian
ilmiah (Tim kurikulum, 2014).
Konsep pendidikan Trensains merupakan
konsep pendidikan yang mereformasi konsep
pendidikan pesantren yang telah ada sebelumnya,
dengan konsep utamnya yaitu menjadikan al Quran
sebagai sumber kajian utama dalam pembelajaran dan
menjadikan
al
Quran
sebagai
epistemologi
pengembangan sains. Kedepan konsep pendidikan
Trensains diharapkan dapat melahirkan ilmuwan sains
kealaman, tegnolog, dan dokter yang memiliki
kedalaman filosofis serta keluhuran akhlaq.
Gagasan konsep pendidikan berbasis sains ini
telah mereformasi sistem pendidikan
dibeberapa
pesantren di Indonesia, antara lain : 1) Pesantren
Tebuireng Jombang,
yang merupakan salah satu
pesantren besar di Indonesia serta pesantren yang
menjadi center bagi organisasi keagamaan terbesar di
Indonesia. 2) Pesantren Darul Ihsan Muammadiyah,
terletak di Sragen Jawa Tengah. Pesantren ini lahir
dari kalangan organisasi dikalangan Muhammadiyah
dan merupakan salah satu pesantren sentral bagi
organisasi Muhammadiyah di Indonesia, 3) Pesantren
Mualimin Jogja, 4) dan beberapa pesantren lainnya.
Pembelajaran Sains Dengan Konsep Trensains
Menjadikan al Quran sebagai basis informasi
dalam pembelajaran sains adalah inti dari konsep
pembelajaran Trensains, artinya guru dalam hal ini
mencoba untuk megintegrasikan konsep-konsep sains
kedalam ayat-ayat kauniah didalam pembelajaran sains.
ayat-ayat tersebut diintegrasikan dengan menggunakan
tool disiplin ilmu lainnya seperti nahwu, shorof, tafsir
ilmi, tafsir bil ilmi, dll. Integrasi tersebut dimaksudkan
agar terjadi dialektika antara al Quran dan sains dalam
kegiatan pembelajaran (Pedoman Kurikulum, 2014).
Berikut ini adalah langkah-langkah yang
ditempuh oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran
berbasis konsep trensains.
1. Menyusun silabus pembelajaran.
Silabus disusun berdasarkan prinsip adaptasi
dan adopsi kompetensi dasar pada kurikulum
nasional dan kompetensi dasar AAS (ayat-ayat
semesta) yang disusun berdasarkan
ayat-ayat
kauniah.
Selanjutnya kedua kompetensi dasar tersebut
di adaptasi atau diadopsi sehingga menjadi rumusan
kompetensi dasar baru yang mencakup keduanya.
Berikut ini adalah contoh rumusan kompetensi dasar
pada mata pelajaran kimia kelas XII :
a. Kompetensi dasar pada kurikulum nasional
Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya korosi dan mengajukan ide/gagasan
untuk mengatasinya.
b. Kompetensi dasar AAS
Menganalisis kandungan ayat dalam surah Al
Hadid ayat 25 dan al anbiya ayat 80 melalui
kaidah nahwu, shorof, dan tafsir ilmi terkait
dengan pemahaman
bahwa Allah telah
menciptakan besi dan konsep perkaratan.

Trensains, Konsep Reformasi Pendidikan


Pesantren
Trensains merupakan lembaga pendidikan
setingkat SMA yang baru berdiri
di Indonesia.
Pesantren sains (Trensains) adalah sebuah konsep
pesantren yang bertujuan untuk mengkaji sains
kealaman secara mendalam, baik melalui pembelajaran,
penelitihan ilmiah maupun percobaan-percobaan ilmiah
yang mengacu pada ayat-ayat kauniyah (Tim
kurikulum, 2014).
Trensains merupakan implementasi dari
pemikiran Agus Purwanto dalam wacana perkembangan
islamisasi ilmu kontemporer. Melalui dua buku yang
ditulisnya yaitu Ayat-Ayat Semesta (AAS) dan Nalar
Ayat-Ayat Semesta (NAAS), digunakan sebagai pijakan
oleh Trensains untuk melahirkan teori dalam ilmu
pengetahuan. Sementara ayat-ayat al Quran digunakan
sebagai sumber ilmu pengetahuan (epistemologi ilmu).
Gagasan dan pemikiran-pemikiran Agus
Purwanto tersebut diaplikasikan dalam konsep
pendidikan yang disebut Pesantren Sains (Trensains).
Trensains adalah lembaga setingkat SMA yang berbasis
pesantren. Sebagai lembaga pendidikan, fokus kajian
Trensains adalah bahasa arab, filsafat dasar, dan ilmu
alam (fisika, kimia, biologi, matematika, dan astronomi)
dengan menekankan pada pemahaman Al Quran dalam
setiap aktivitas pembelajarannya.
Trensains (Pesantren Sains) adalah konsep
sekolah yang tidak menggabungkan materi Pesantren
dengan ilmu umum sebagaimana pesantren modern.
Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al
Qur'an, Al Hadist dan Sains kealaman (natural science)
dan interaksinya. Poin terakhir, interaksi antara agama
dan sains merupakan materi khas Trensains yang tidak
ada pada pesantren modern.
Trensains memiliki tujuan : 1) meningkatkan
wawasan para santri
melalui pengkajian yang
mendalam, penelitian ilmiah, dan percobaan-percobaan
ilmiah. 2) meningkatkan ketrampilan para santri dalam
bidang bahasa, pemanfaatan ilmu fisika, kimia, biologi,
astronomi, dan sebagainya, dalam rangka memahami
dan membuka rahasia-rahasia alam semesta. 3)
meneguhkan sikap akan kemaharajaan Allah SWT yang
telah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya
melalui pendekatan fisika, kimia, biologi dan ilmu
pengetahuan lainnya (Tim kurikulum, 2014).
Kurikulum Trensains dirancang sedemikian
rupa sehingga santri diharapkan mampu menguasai tool
ilmu dasar seperti Bahasa Arab, Ulumul Quran,
Ulumul Hadist, Filsafat dasar. Adapun fungsi Trensains
yaitu 1) menyiapkan tenaga peneliti ilmiah profesinal
dengan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, 2)
menyiapkan tenaga peneliti ilmiah professional sebagai
3

Konsep Pesantren Sains (Trensains), Reformasi Pembelajaran Sains Pada Sistem Pendidikan Berbasis Pesantren

c.

Kompetensi dasar baru (Pesantren Sains)


Menganalisis kandungan ayat dalam surah Al
Hadid ayat 25 dan al Anbiya ayat 80 melalui
kaidah nahwu, shorof, dan tafsir ilmi terkait
dengan pemahaman
bahwa Allah telah
menciptakan besi dan korosi serta menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
korosi dan mengajukan ide/gagasan untuk
mengatasinya.
Kompetensi-kompetensi baru (pesantren) tersebut
kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan
silabus Pesantren Sains.
2. Menyusun RPP
Seperti pada kurikulum nasional, RPP berbasis
Trensains juga disusun berdasarkan pada prinsipprinsip penyusunan RPP yaitu : (1) RPP disusun
guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan
berdasarkan silabus yang telah dikembangkan, (2)
RPP dikembangkan dengan menyesuaikan apa yang
ada dalam silabus, (3) Mendorong partisipasi aktif
peserta didik, (4) Mengembangkan budaya membaca
dan menulis, (5) Memberikan umpan balik dan
tindak lanjut, (6) dll.
Adapun perbedaan RPP pada kurikulum
nasional dengan RPP berbasis Trensains terletak
pada fase menganalisis ayat kauniah terkait dengan
materi yang diajarkan. RPP yang disusun juga
mengacu pada indikator-indikator pembelajaran
yang telah dikembangkan pada silabus berbasis
Trensains.
3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran
Guru dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar dapat menggunakan model dan pendekatan
pembelajaran yang sesuai. Akan tetapi, guru harus
merancang dan melaksanakan fase pembelajaran
khusus pada masing-masing topik atau bab. Fase
tersebut adalah menganalisis ayat kauniah yang
terdapat dalam al Quran untuk mendialektikakan
konsep-konsep sains (kimia, biologi, fisika, dan
matematika) terhadap ayat-ayat kauniah.
Ayat kauniah adalah ayat sains yang terdapat
di dalam al Quran. Al Quran merupakan kitab suci
bagi umat islam yang didalamnya selain berisi
hukum-hukum (fiqh), sejarah (siroh), tetapi juga
bersi tentang sains kealaman (ayat kauniah). Bahkan
jumlah ayat kauniah tersebut jumlahnya tiga kali
lebih banyak dari pada ayat-ayat yang
membicarakan tentang hukum-hukum (fiqh).
Guru dapat mengelompokkan ayat-ayat
tersebut terkait dengan materi pelajaran yang akan
diajarkan.
Berikut
ini
adalah
contoh
pengelompokkan ayat-ayat kauniah yang berkaitan
dengan pelajaran sains, yang diambil dari buku
Ayat-Ayat Semesta:
1. Ayat-ayat terkait pelajaran fisika
Listrik (QS. Nur: 35); Atmosfer (QS.
Fushshilat: 12); energy panas (QS. Yasin: 80;
QS. Waqi'ah: 71-73; QS. Thaha: 10; QS. alNaml: 7); neraca dan pengukuran (QS. alAn'am: 152; QS. al-A'raf: 85; QS. al Syura: 17);

gelombang suara (QS. al-Kahfi: 26; QS. Saba':


50); dunia warna (QS. Fathir: 27-28; QS. alAn'am: 99).
2. Ayat-ayat terkait pelajaran kimia
Air/Hidrogen (QS. Hud: 11; QS. al-Anbiya':
30); Partikel atom & subatom (QS. Saba':3; QS.
al-Furqan: 2); reaksi kimiawi pada fenomena
batubatuan (QS. al-Baqarah: 74; QS. al-A'raf:
58); logam mulia (QS. aliImran: 14; QS. alTaubah: 34); besi (QS. al-Hadid: 25; QS. alIsra': 51, QS. Saba': 10-11; QS. Ibrahim: 50).
3. Ayat-ayat terkait pelajaran matematika
Penggunaan angka/bilangan (QS. Al-Rahman:
5; QS. Al-Kahfi: 11-12, 19,22; QS. AlMukminun: 112-114; QS. Ibrahim: 34; QS.
Hud: 104; QS. Mudatsir: 31; QS. Yusuf: 20);
Kelender
(QS.
Al-Taubah:
36);
Penjumlahan/pertambahan (QS. Al-Baqarah:
261; QS. Yusuf: 43).
Setelah guru mengelompokkan ayat kauniah
tersebut, selanjutnya guru menganalisis ayat tersebut
dalam kegiatan belajar mengajar. Misalkan pada
kegiatan pembelajaran biologi pada bab genetika,
guru dapat memilih surah an Namlu ayat 27 untuk
dianalisis bersama-sama siswa.
Pada fase analisis ayat, guru dapat
menggunakan disiplin ilmu yang lain misalnya
nahwu, shorof, tafsir ilmi, dan tafsir bil ilmi untuk
menganalisis dan menggali informasi terkait bab
tersebut. Sedangkan pada fase pembelajaran
berikutnya
disesuaikan dengan model dan
pendekatan yang dipilih oleh guru. Untuk kegiatan
observasi dan praktikum guru dapat merancang
kegiatan tersebut berdasarkan informasi dan
pemahaman ayat-ayat kauniyah, seperti menghitung
jari-jari bumi pada mata pelajaran fisika, observasi
bulan pada materi bumi dan antariksa, dan lain-lain.
4. Melaksanakan kegiatan evaluasi dan penilaian
Sebagaimana pada kurikulum nasional,
kegiatan evaluasi dan penilaian yang dilakukan
meliputi ulangan harian, ujian tengah semester, dan
ujian akhir semester. Akan tetapi pada konsep
pendidikan Trensains materi ujian juga mencakup
pemahaman ayat-ayat kauniah dan materi praktikum
ayat-ayat kauniah.
Pada akhir semester V semua siswa akan diuji
secara khusus terkait dengan konsep sains al Quran
dalam bentuk Ujian Akhir Trensains (UAT). Ujian
ini merupakan salah satu syarat kelulusan dan untuk
memperoleh ijazah Trensains (Tim Kurikulum,
2014).
Sedangkan
penilaian
yang
digunakan
mencakup penilaian pada aspek pengetahuan,
keterampilan, dan sikap. Dalam hal ini guru dapat
menggunakan pedoman penilaian pada kurikulum
nasional, akan tetapi penilaian berbasis pesantren
lebih ditekankan terutama dalam rangka membentuk
karakter dan kepribadian siswa.

Konsep Pesantren Sains (Trensains), Reformasi Pembelajaran Sains Pada Sistem Pendidikan Berbasis Pesantren

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Gagasan Trensains (Pesantren Sains) yaitu


menjadikan al Quran sebagai sumber kajian utama
dalam pembelajaran sains kealaman (natural sains) dan
menjadikan al Quran sebagai basis epistemologi dalam
pengembangan sains. Gagasan tresebut diadopsi dari
pemikiran
Agus
Purwanto
dalam
wacana
pengembangan ilmu kontenporer.
Gagasan itu
kemudian mereformasi konsep pendidikan di beberapa
pesantren di Indonesia.

Armusi, Imam. 2012. Pendidikan Pesantren Sebagai


Potret Konsistensi Budaya Di Tengah
Himpitan Modernitas. Jurnal Sosial Dan
Budaya Keislaman. vol. 20, No. 1,
ejournal.stainpamekasan.ac.id/indeks.php/artic
le/view/54/52. (online) tanggal 2 Desember
2016
Ghulsyani, Mahdi. 1988. Filsafat Sains Menurut Al
Quran. Bandung: Mizan

Analisis ayat-ayat kauniah, dialetika antara al


Quran dan sains, metode observasi AAS, dan kegiatan
praktikum berbasis ayat-ayat Al Quran adalah ciri khas
pembelajaran sains pada
konsep pembelajaran
Trensains. Metode pembelajaran Trensains adalah
metode yang tidak menggabungkan materi pesantren
dengan ilmu umum sebagaimana pesantren modern,
tetapi mengambil kekhususan pada pemahaman Al
Qur'an, Al Hadist, dan sains kealaman serta
interaksinya.

Purwanto, Agus. 2012. Nalar Ayat-ayat Semesta.


Bandung: Mizan.
Purwanto, Agus. 2015. Ayat-ayat Semesta . Bandung:
Mizan
Tim Kurikulum. 2014. Pedoman Santri SMA Trensains
Tebuireng. Jombang: Pustaka Tebuireng
Tim

Tujuan konsep pendidikan Pesantren Sains


(Trensains)
adalah menghasilkan para ilmuan,
teknolog, dan dokter yang memiliki basis al Quran
yang kokoh, serta menjadikan al Quran sebagai basis
epistemologi dalam pengembangan sains.

PSB. 2015. Profil Pendidikan Pesantren


Tebuireng. Jombang: Pustaka Tebuireng

Syamsu, Ahmad. 201. Transformasi Corak Edukasi


Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Dari Pola
Tradisi Ke Pola Modern. Journal Pendidikan
Agama Islam-Taklim, vol. 9 No 2,
Jurnal.upi.edu//01_TRANSORMASI_COR
AK_EDUKASI_DALAM_... . (online) tanggal
29 Nopember 2015