Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOHEMATOLOGI

PEMERIKSAAN UJI SILANG SERASI METODE KONVESIONAL


(CROSSMATCHING)

ANGGOTA :

PUTU RINA WIDHIASIH

P07134014002

KOMANG OKTARINA PUTRI

P07134014004

LUH PUTU DEVI KARTIKA

P07134014006

I DEWA AYU RIANITA PUTRI

P07134014010

LUH KADEK SUCIARI

P07134014012

NI PUTU PURI ARTINI

P07134014014

NI MADE ANDINI DEWI

P07134014016

VITRI ANASTASIA IRIANTO

P07134014020

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN D-III ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2016

Hari / Tanggal
Pertemua

I.

: Jumat, 30 September 2016


: Laboratorium Hematologi

TUJUAN
1. Untuk dapat melakukan pemeriksaan uji silang serasi (crossmatching) pada lebih dari
satu donor.
2. Untuk menentukan kecocokan antara darah resipien dengan darah donor.

II.

METODE
Metode yang digunakan adalah metode aglutinasi (konvensional).

III.

PRINSIP
Antibodi yang terdapat dalam serum/plasma, bila direaksikan dengan antigen pada
sel darah merah, melalui inkubasi pada suhu 37 oC dan dalam waktu tertentu, dan dengan
penambahan anti monoglobulin akan terjadi reaksi aglutinasi.

IV.

DASAR TEORI
1. Transfusi Darah
Transfusi darah adalah proses pemindahan atau pemberian darah dari seseorang
(donor) kepada orang lain (resipien). Transfusi bertujuan mengganti darah yang hilang
akibat perdarahan, luka bakar, mengatasi shock, mempertahankan daya tahan tubuh
terhadap infeksi (Tarwoto, 2006).
Pada akhir abad ke-19 dan di awal abad ke-20. seorang dokter berkebangsaan
Austria dan bekerja di New York, Karl Landsteiner, menemukan melalui sejumlah
besar pengamatan, bahwa darah manusia yang berasal dari dua orang yang berbeda
tidaklah selalu dapat dicampur begitu saja tanpa perubahan fisik apapun. Dalam
kebanyakan pengamatan, pencampuran darah yang berasal akan menyebabkan
timbulnya pegendapan sel-sel darah merah. Peristiwa mengendap sel tersebut dinamai
sebagai aglutinasi. Pengamatan selanjutnya memperlihatkan, bahwa peristiwa ini
melibatkan sel darah merah dan bagian cair dari darah, yaitu serum atau plasma.
Serum sesorang tidak dapat mengendapkan sel darah merah orang itu sendiri atau sel
darah merah yang berasal dari orang lain, yang bila darahnya dicampur dengan darah

orang yang pertama, tidak menyebabkan pengendapan. Akan tetapi, bila darah dari 2
orang berbeda dicampur dan aglutinasi terjadi, maka bila serum dari salah satu dari
orang tersebut dicampur dengan sel darah merah dari orang yang lainnya, akan terjadi
aglutinasi (Sadikin, 2002).
2. Komponen Darah
Sel Darah Merah
Sel Darah Merah atau SDM adalah sel yang terbanyak di dalam darah. Karena sel

ini mengandung senyawa yang berwarna merah, yaitu hemoglobin. hemoglobin.


Sel Darah Putih (Leukosit)
Jumlahnya lebih sedikit, dengan perbandingan sekitar 1 sel darah putih untuk setiap
660 sel darah merah. Terdapat 5 jenis utama dari sel darah putih yang bekerja sama
untuk membangun mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi, termasuk

menghasilkan antibodi.
Platelet ( Trombosit )
Merupakan paritikel yang menyerupai sel, dengan ukuran lebih kecil daripada sel
darah merah atau sel darah putih. Sebagai bagian dari mekanisme perlindungan
darah untuk menghentikan perdarahan, trombosit berkumpul dapa daerah

yang mengalami perdarahan dan mengalami pengaktivan


Plasma
Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cairan berwarna kuning yang
menjadi medium sel-sel darah, dimana sel darah ditutup. 55% dari jumlah/volume
darah merupakan plasma darah. Volume plasma darah terdiri dari 90% berupa air
dan 10% berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral, hormon
dan karbon dioksida. Plasma darah juga merupakan medium pada proses ekskresi.
Plasma darah dapat dipisahkan di dalam sebuah tuba berisi darah segar yang telah
dibubuhi zat anti-koagulan yang kemudian diputar sentrifugal sampai sel darah
merah jatuh ke dasar tuba, sel darah putih akan berada di atasnya dan membentuk
lapisan buffy coat, plasma darah berada di atas lapisan tersebut dengan kepadatan

sekitar 1025 kg/m3 atau 1.025 kg/l.


Serum
Di dalam darah, serum (bahasa Inggris: blood serum) adalah komponen yang bukan
berupa sel darah, juga bukan faktor koagulasi; serum adalah plasma darah tanpa
fibrinogen, (bahasa Latin: serum) berarti bagian tetap cair dari susu yang membeku
pada proses pembuatan keju. Serum darah adalah plasma tanpa fibrinogen, sel dan

faktor koagulasi lainnya. Fibrinogen menempati 4% alokasi protein dalam plasma


dan merupakan faktor penting dalam proses pembekuan darah. Serum terdiri dari
semua protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan darah) termasuk cairan
elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua substansi exogenous. Rumusan
umum yaitu: serum = plasma - fibrinogen - protein faktor koagulasi. Studi yang
mempelajari serum disebut serologi. Serum digunakan dalam berbagai uji
diagnostik termasuk untuk menentukan golongan darah. Di dalam serum tidak ada
fibrinogen,

karena

protein

sudah berubah

menjadi

jaring

fibrin

dan

menggumpal bersama unsur figuratif yang berupa sel.


3. Hemolisis
Hemolisis atau lebih dikenal dengan kejadian pecahnya sel darah merah secara
normal didalam tubuh tidak dapat dihindari apabila sel darah merah atau eritrosit
sudah mencapai usianya, dengan pecahnya sel darah merah atau eritrosit didalam
tubuh secara normal tubuh direspon untuk membentuk sel darah merah yang baru.
Haemoglobin yang keluar dari sel darah merah atau eritrosit akan diuraikan oleh organ
tubuh yang bertanggung jawab dan bagian yang penting dari penguraian ini akan
dimanfaatkan kembali untuk pembentukan sel darah merah yang baru. Pada kejadian
yang tidak normal jumlah sel darah merah yang pecah lebih besar dari pada
pembentukan sel darah merah yang baru dan mengakibatkan dari peruraian Hb akan
meningkat (Ismail, 2010).
Kejadian hemolisis yang tidak normal (abnormal) bisa disebabkan oleh
beberapa faktor dari dalam tubuh (invivo) sendiri, misalnya kondisi sel darah merah
itu sendiri kurang baik, atau bisa disebabkan oleh faktor luar (invitro), dari faktor luar
bisa dijumpai akibat dari faktor transfusi darah, karena disebabkan adanya reaksi
antibodi terhadap antigen yang masuk kedalam tubuh atau pada sel darah merah dan
risikonya akan lebih besar apabila sel darah merah donor yang ditransfusikan tidak
cocok dengan antibodi yang berada dalam plasma donor dengan sel darah merah
pasien. Reaksi hemolisis in vivo karena transfusi ini disebut reaksi hemolitik transfusi.
Reaksi hemolitik bisa terjadi secara langsung (direck or indirec) dan dapat berakibat
fatal, serta bisa juga reaksinya baru muncul beberapa waktu kemudian setelah transfusi
(delay hemolitik tarnsfution reaction). Akibat yang fatal dari reaksi transfusi

dikarenakan ketidakcocokan golongan darah ABO (antibodi-A,-B,-AB) yang dibuat


secara teratur menurut golongan darah masing-masing. Disamping itu mungkin ada
antibodi lain yang mungkin dibentuk secara alamiah tetapi tidak beratur (antibodi
-Lewis,-A1,-P1 dll) atau antibodi immun (Ismail, 2010).
4. Reaksi Silang (Crossmatch)
Reaksi silang (Crossmatch = Compatibility-test) perlu dilakukan sebelum
melakukan transfusi darah untuk melihat apakah darah penderita sesuai dengan darah
donor. Pengartian Crossmatch adalah reaksi silang in vitro antara darah pasien dengan
darah donornya yang akan di transfusikan. Reaksi ini dimaksudkan untuk mencari tahu
atau apakah darah donor akan ditranfusikan itu nantinya akan dilawan oleh serum
pasien didalam tubuhnya, atau adakah plasma donor yang turut ditransfusikan akan
melawan sel pasien didalam tubuhnya hingga akan memperberat anemia, disamping
kemungkinan adanya reaksi hemolytic transfusi yang biasanya membahayakan
pasien.
Maka dapat disimpulkan tujuan Crossmacth sendiri yaitu mencegah reaksi
hemolitik tranfusi darah bila darah didonorkan dan supaya darah yang ditrafusikan itu
benar-benar ada manfaatnya bagi kesembuhan pasien. Uji
dijalankan

adalah

suatu

test

invitro

cocok

serasi

yang

yaitu mereaksikan darah pasien dengan

darah donor melalui proses yang dibagi menjadi 2 :


a) Mayor cross matching ( uji cocok serasi mayor )
Mereaksikan serum pasien terhadap sel donor, untuk mencari apakah ada antibodi
irregular yang melawan sel donor.
b) Minor cross matching ( uji cocok serasi minor )
Mereakasikan serum donor terhadap sel pasien, untuk mencari apakah ada irregular
antibodi di dalam serum donor yang melawan sel pasien.
Mayor Crossmatch merupakan tindakan terakhir untuk melindungi keselamatan
penerima darah dan sebaiknya dilakukan demikian sehingga Complete Antibodies
maupun incomplete Antibodies dapat ditemukan dengan cara tabung. Cara dengan
objek glass kurang menjaminkan hasil percobaan. Reaksi silang yang dilakukan hanya
pada suhu kamar saja tidak dapat mengesampingkan aglutinin Rh yang hanya bereaksi

pada suhu 37oC. Lagi pula untuk menentukan anti Rh sebaiknya digunakan cara
Crossmatch dengan high protein methode. Ada beberapa cara untuk menentukan reaksi
silang yaitu metode gel test dan metode aglutinasi.
Serum antiglobulin meningkatkan sensitivitas pengujian in vitro. Antibody
kelas IgM yang kuat biasanya menggumpalkan erythrosit yang mengandung antigen
yang relevam secara nyata, tetapi antibody yang lemah sulit dideteksi. Banyak antibodi
kelas IgG yang tidak mampu menggumpalkan eryhtrosit walaupun antibody itu kuat.
Semua pengujian antibodi termasuk uji silang tahap pertama menggunakan cara
sentrifugasi serum dengan eryhtrosit. Sel dan serum kemudian diinkubasi selama 1530 menit untuk memberi kesempatan antibodi melekat pada permukaan sel, lalu
ditambahkan serum antiglobulin dan bila pendertita mengandung antibodi dengan
eryhtrosit donor maka terjadi gumpalan. Uji saring terhadap antibodi penting bukan
hanya pada transfusi tetapi juga ibu hamil yang kemungkinan terkena penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir (Anonim, 2010).

V.

ALAT , BAHAN DAN REAGENSIA


A. ALAT
1. Tabung reaksi uk 12 x 75 mm
2. Inkubator
3. Serofuge
4. Labu semprot
5. Wadah limbah
B. BAHAN
1. Saline/ NaCl 0,9%
2. Aquadest
3. Bouvine albumin 22%
4. Sel suspensi donor 5%
5. Sel suspensi resipien 5%
6. Serum resipien
7. Plasma donor
8. Coombs serum
9. Coombs control cell

VI.

CARA KERJA
a. Fase I : Fase suhu kamar di dalam saline medium
1. Alat dan bahan disiapkan
2. Diambil 3 buah tabung reaksi uk 12 x 75 mm, dimasukan ke dalam masingmasing tabung :

Tabung I
Mayor

Tabung II
Minor

2 tetes serum OS

2 tetes plasma Donor

Tabung III
Autocontrol

2 tetes serum OS

1 tetes sel darah donor 5%1 tetes sel darah OS 5%

+
1 tetes sel darah OS 5%

3. Dihomogenkan
4. Dicentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 detik.
5. Dibaca reaksi terhadap hemolisis dan aglutinasi secara makroskopis.
6. Apabila hasil negative maka dilanjutkan pada fase II.
b. Fase II : Fase inkubasi 370C dalam medium bovine albumin 22%
1. Ke dalam masing-masing tabung yang memberikan hasil negative ditambhakan
bovine albumin 22% sebanyak 2 tetes.
2. Dihomogenkan.
3. Diinkubasi pada suhu 370C selama 15 menit.
4. Dicentrifuge pada kecepatan 3000 rpm selama 15 detik.
5. Dibaca rekasi terhadap hemolisis dan aglutinasi secara makroskopis.
6. Apabila hasil negative maka dilanjutkan pada fase III.
c. Fase III : Indirect Coombs Test
1. Sel darah merah dalam tabung dicuci sebanyak 3 kali dengan saline/NaCl 0,9%.
2. Masing-masing tabung ditambahkan sebanyak 2 tetes Coombs serum.
3. Dihomogenkan
4. Dicentrifue pada kecepatan 3000 rpm selama 15 detik
5. Dibaca hasil reaksi makroskopis.
Pembacaan Hasil :
Tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi cocok/ kompatibel, darah dapat diberikan
kepada pasien
Terjadi hemolisis dan aglutinasi tidak cocok/ inkompatibel, darah tidak boleh
diberikan kepada pasien
d. Uji Validitas Reaksi Silang CCC
1. Ke dalam tabung M dan m yang pada reaksi silang fase III yang memberikan hasil
negatif ditambahkan sebanyak 1 tets coombs control cell (CCC).
2. Dihomogenkan
3. Dicentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 detik

4. Dibaca hasil reaksi secara makroskopis.


Pembacaan Hasil :
Bila hasil (+) / ada aglutinasi
: Valid (benar)
Bila hasil (-) / tidak ada aglutinasi : Invalid/ perlu diulang kembali
VII.

INTERPRERASI HASIL
o Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase I sampai fase III tidak menunjukan aglutinasi
dan atau hemolisis, hasil diinterprtasikan kompatibel (cocok) darah dapat keluar.
o Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase I sampai fase III menunjukan adanya reaksi
aglutinasi dan atau hemolisis, hasil diinterprtasikan inkompatibel (tidak cocok)
darah tidak dapat dikeluarkan.

VIII. HASIL PENGAMATAN


Identitas :

OS
Donor

: Budi
: Donor 03 dan Donor 04

Gambar

Keterangan

Sel OS 5%

Sel Donor 03

bovine albumin 22 %

Sel Donor 04

Coombs Serum

CCC (Coombs Control Cell)

A. Fase I ( suhu kamar dengan saline medium)


Tabung

Sebelum disentrifuge

Sampel
Sesudah disentrifuge

Hasil

Tabung 1
(Mayor)
Negatif (-)

Tabung 2
(Minor)

Negatif (-)

Tabung 3
(Auto Control)
Negatif (-)

B. Fase II ( inkubasi 370C dengan bovine albumin 22% )


Tabung

Sampel
Sebelum dicentrifuge
Sesudah dicentrifuge

Hasil

Tabung 1
(Mayor)
Negatif (-)

Tabung 2
(Minor)

Negatif (-)

Tabung 3 (Auto
Control)
Negatif (-)

C. Fase III ( indirect coombs test )


Tabung

Setelah Penambahan Coomb Serum


Sebelum dicentrifuge
Sesudah dicentrifuge

Hasil

Tabung 1
(Mayor)
Negatif (-)

Tabung 2
(Minor)

Negatif (-)

Tabung 3 (Auto
Control)

Negatif (-)

D. Uji Validitas
Makroskopis

Positif (+)

IX.

PEMBAHASAN
Uji silang serasi merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui
kecocokan antara darah donor dengan darah pasien sebelum darah donor ditransfusikan
kepada pasien. Pemeriksaan ini sangat penting dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan
golongan darah dan rhesus. Karena, walaupun seseorang memiliki golongan darah yang
sama, ada faktor faktor yang lain yang dapat menyebabkan darah donor incompatible
terhadap darah pasien.
Pemeriksaan uji silang serasi bertujuan untuk menentukan cocok tidaknya darah
donor dengan darah penerima untuk persiapan transfusi darah dan juga untuk memastikan
bahwa transfusi darah tidak menimbulkan reaksi transfusi, dimana resipien bisa mencapai
masa hidup maksimum setelah diberikan darah donor. Uji silang serasi dilakukan untuk

memastikan bahwa tidak ada antibodi pada serum atau plasma pasien yang akan bereaksi
dengan antigen pada sel darah merah donor atau sebaliknya.
Uji silang serasi (Crossmatch) digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi,
baik antibodi komplet (IgM) maupun antibodi inkomplet (IgG) yang terdapat dalam serum
atau plasma pasien (resipien) maupun dalam plasma donor. Pemeriksaan ini dilakukan
dalam tiga fase serta dilakukan pula uji validitas. Fase I ini dapat mendeteksi antibodi
komplet (IgM /Antibodi dingin), seperti : anti- A, anti-B (ketidakcocokan pada penetapan
golongan darah ABO serta adanya antibodi komplet lain seperti: anti-M, anti-Lewis, antiN, anti-P1, anti-A1, anti-H, anti-I). Pada fase II, antibodi inkomplet dapat mengikat sel
darah merah, sehingga pada fase III dengan bantuan penambahan Coombs serum terjadi
reaksi positif, contohnya : anti-D, anti-E, anti-e, anti-C, anti-c, anti-Kell, anti-Kidd, anti-S.
Pada fase III, semua antibodi inkomplet yang terikat pada sel darah merah di fase II akan
beraglutinasi (positip) setelah penambahan Anti Human Globulin (Coombs serum), contoh
: anti-Fya , anti-Fyb, anti -Kell, anti- Rhesus.
Prinsip crossmatch ada dua yaitu Mayor dan Minor, yang penjelasnya sebagai berikut

Mayor crossmatch adalah serum penerima dicampur dengan sel donor. Untuk melihat
apakah sel donor itu akan dihancurkan oleh antibody dalam serum pasien.

Minor crossmatch adalah serum donor dicampur dengan sel penerima. Ini dilakukan
untuk melihat apakah sel pasien akan dihancurkan oleh plasma donor.
Dalam praktikum ini dilakukan pemeriksaan uji silang serasi pada 2 donor dengan

metode aglutinasi menggunakan tabung. Untuk mendapat hasil uji silang yang compatible,
harus dilakukan pada 3 fase yaitu :

Fase I ( Fase inkubasi suhu kamar dalam medium saline )


Fase inkubasi dalam suhu kamar ini menggunakan media saline / NaCl 0,9 %. Fase I
ini disebut fase saline karena dalam pembuatan suspensi sel darah digunakan NaCl, 0,9%
(saline). Fase ini dapat mendeteksi antibodi komplet yang bersifat IgM (antibodi dingin),
misalnya ketidakcocokan pada penetapan golongan darah dan adanya antibodi komplet

seperti anti-M, anti-Lewis, anti-N, anti-P1, anti-A1, anti-H. Fase I ini menggunakan 6 buah
tabung dimana tabung 1 sebagai Mayor Crossmatch dari donor I dan tabung 2 sebagai
Mayor Crossmatch dari donor II, tabung 3 sebagai Minor Crossmatch dari donor I dan
tabung 4 sebagai Minor Crossmatch dari donor II, serta tabung 5 sebagai Auto Control dan
tabung 6 sebagai Auto Pool. Dimana dalam uji ini digunakan sel donor dan sel penerima
dengan suspense 5%. Campuran ini kemudian disentrifugasi selama 15 detik dengan
kecepatan 3000 rpm untuk mempercepat terjadinya reaksi.
Untuk pembacaan hasilnya dilakukan dengan 2 cara yaitu mengamati adanya
hemolisis dan aglutinasi. Adanya hemolisis dapat terlihat ketika pada tabung sel darah
tidak ada yg menggumpal setelah centrifugasi atau dengan kata lain sel darah mengalami
lisis sehingga cairan akan berwarna kemerahan. Sedangkan adanya aglutinasi dapat diamati
dengan cara mengocok tabung secara perlahan dan diamati gumpalan yang dihasilkan
bercampur atau tidak, jika bercampur maka negatif, jika tidak maka positif.
Pembacaan dimulai dari tabung autocontrol dan autopool. Ini dimaksudkan untuk
mengetahui bahwa kita telah bekerja sesuai dengan prosedur dan dapat diketahui reaksi
yang terjadi antar sesama donor. Bila hasilnya negative, tidak ada hemolisis atau aglutinasi
maka dapat dilanjutkan dengan membaca mayor test dan minor test. Bila hasilnya positif,
maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang.
Fase II ( Fase Inkubasi 37oC dalam medium Bovine Albumin 22%)
Pada fase 2 ini dapat mendeteksi beberapa antibodi sistem Rhesus seperti anti-D,
anti-E, anti-c dan antibodi lainnya seperti anti-Lewis. Pada fase ini antibodi inkomplet
dapat mengikat sel darah merah, sehingga pada fase 3 dengan bantuan penambahan
Coombs serum terjadi reaksi positif. Antibodi inkomplet adalah anti-D, anti-E, anti-e, antiC, anti-c, anti-Duffy, anti-Kell, anti-Kidd, anti-S dan lain-lain.
Pada fase ini caranya hampir sama dengan pada fase I, hanya saja medium yang
digunakan adalah medium Bovine Albumin 22% dan dilakukan inkubasi pada suhu 37oC
selama 15 menit. Sebelum diinkubasi masing masing tabung telah ditambahkan sebanyak
2 tetes bovine albumin 22%. dimana fungsi albumin yaitu untuk menekan zat potensial
dengan menguraikan ion-ion positif dan negatif sehingga aglutinogen dan antibodi lebih
cepat meningkat untuk memudahkan proses sensititasi (aglutinasi). Tujuan dari inkubasi
adalah untuk mengetahui apakah ada antibody yang hangat yang terdapat dalam darah

donor maupun pasien. Hal ini mengingat bahwa darah akan ditransfusikan ke tubuh pasien,
sehingga suhu darah akan mengikuti suhu tubuh yang cenderung hangat ( 37 oC ), sehingga
bila ada antibody yang hangat yang kemungkinan menimbulkan aglutinasi dapat segera
diketahui.
Fase III ( Indirect Coombs Test )
Pada fase ini dilakukan pencucian sel darah merah dengan saline. Pencucian ini
dilakukan sebanyak 3 kali dengan tujuan untuk menghilangkan zat sisa atau pengotor yang
dapat mengganggu reaksi antara coombs serum dengan sel darah. Proses pencucian
dilakukan dengan penambahan Saline (NaCl 0,95 %) sebanyak bagian tabung, kemudian
dicentrifuge selama 60 detik dengan kecepatan 3000 rpm. Setelah dilakukan 3 kali
pencucian, kemudian ke dalam masing-masing tabung ditambahkan 2 tetes Coombs
serum, lalu dihomogenkan dan dicentrifuge selama 15 detik dengan kecepatan 3000 rpm.
Dan reaksi pun dibaca terhadap hemolisis dan aglutinasi secara makroskopis.
Dari praktikum ini diperoleh hasil dari mayor I dan II, minor I dan II serta auto
control dan auto pool menunjukkan reaksi negative (homogen) tanpa adanya hemolisis dan
aglutinasi sehingga dilanjutkan ke uji validitas.

Uji Validitas
Untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh valid atau tidak, dilanjutkan dengan
uji validitas. Uji validitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah reaksi silang yang kita
lakukan valid atau tidak. Bila reaksi silang yang kita lakukan valid, maka akan terjadi
positif aglutinasi, sehingga hasil dari reaksi silang ini benar benar valid dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Pada uji validitas ini dilakukan dengan penambahan Coombs Control Cell,
selanjutnya dilakukan sentrifugasi dan dilihat agultinasinya. Untuk melihat aglutinasinya,
dilakukan dengan cara mengguncangkannya secara perlahan dan hati hati, dan cara
mengocoknyapun tidak sekuat saat melihat hasil pada fase I, II, III. Hal ini dikarenakan
kekuatan aglutinasinya rendah dan tidak sekuat yang dihasilkan pada tiap fase.
Uji ini berlangsung secara berkelanjutan, dimana hasil negative dari fase I baik pada
test Mayor maupun minor akan dilanjutkan ke fase II dan begitu terus selanjutnya sampai
ke uji validitas. Untuk tiap uji ini, bila ada hasil yang menunjukkan hasil positif ( terjadi
aglutinasi ) pada test mayor maupun minor, maka pemeriksaan pada fase berikutnya tidak

dilanjutkan dan dianjurkan untuk melakukan pengambilan darah terhadap orang lain atau
donor yang baru.
Pada praktikum ini, didapatkan hasil uji silang fase I, II, III dan uji validitas sebagai
berikut:
Mayor I

Phase I
-

Mayor II
Minor I

Minor II
Autocontro
l
Autopool

Phase II
-

Phase III
-

Validitas
+

+
+

+
+

Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan crossmatch manual antara resipien atas
nama Budi dengan donor I kode 03 dan donor II kode 04. Dari hasil pengujian
crossmatching test pada fase I sampai III menunjukkan hasil Mayor pada fase I, II, dan III
negative (-) serta minor I, II, dan III juga negative (-). Demikian juga hasil pengujian dari
fase I sampai fase III pada auto control dan autopool menunjukkan hasil negative.
Berdasarkan uji validitas pun menghasilkan aglutinasi positif yang menandakan hasil
compatible sehingga baik darah donor I dan donor II dapat diberikan ke pasien.
Dalam uji silang serasi dapat memberikan hasil negatif palsu, oleh karena itu harus
diperhatikan yaitu :

NaCl 0,9%(saline) harus jernih, tidak berwarna dan tidak terkontaminasi dengan

serum
Temperature incubator harus 37oC
Waktu inkubasi harus tepat
Pencucian sel darah merah harus bersih
Hasil negative harus dikontrol dengan menggunakan CCC (Combs control cells)
Uji silang dapat memberikan hasil positif (inkompatibel) selain karena adanya

antibodi inkomplet juga dapat terjadi karena auto antibodi dalam serum pasien dan adanya
antibodi yang tidak termasuk dalam sistem golongan darah. Meskipun telah dilakukan tes

crossmatch dengan benar, tetap masih ada kemungkinan terjadinya reaksi transfusi, hal ini
dapat disebabkan beberapa hal, antara lain :
kurang sensitifnya metode pemeriksaan yang digunakan
Factor human error
reaksi transfusi yang tertunda ( delayed transfusion reaction )
Dalam melakukan uji silang cocok serasi / crossmatch, menggunakan teknik
metode tabung / metode konvensional yang memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:
Perlu waktu lama ( time consuming )
Hasil sangat subyektif ( tergantung ketrampilan petugas )
Hasil reaksi tidak stabil sehingga pembacaan reaksi harus segera dilakukan setelah
pemutaran karena penundaan pembacaan reaksi dapat mengakibatkan penurunan
derajat reaksi, hal ini merupakan penyebab reaksi false negative yang berbahaya

bagi pasien.
Harus melakukan pencucian sel 3 kali, karena jika tahap pencucian 3 kali tidak
sempurna atau dikurangi, maka dapat menyebabkan terjadinya reaksi false negatif,

karena Coombs dapat dinetralkan oleh serum/plasma dari sample


Hasil pembacaan reaksi negatif masih harus dikonfirmasi dengan penambahan
Coombs Control Cells ( CCC ) untuk meyakinkan apakah proses pencucian sel

sebelum penambahan Coombs serum sudah sempurna


Hasil reaksi secara visual tidak dapat didokumentasikan, dokumentasi hanya berupa
laporan kerja.

X.

SIMPULAN
Pemeriksaan uji silang serasi pada lebih dari satu donor dilakukan dalam 3 fase
penting yaitu fase suhu kamar, fase inkubasi dan indirect coomb's tes. Dalam 3 fase
tersebut hasil yang terbentuk haruslah negative aglutinasi. Dan untuk memvalidasi hasil
dilakukan uji validitas sebagai uji terakhir untuk menentukan telah sesuainya proses uji
silang tersebut.
Berdasarkan pemeriksaan uji silang serasi (crossmatching) dengan 2 donor,
didapatkan hasil compatible yaitu darah donor dapat diberikan kepada resipien. Hal ini
dibuktikan dengan validnya hasil pada uji validitas yang menandakan bahwa semua
langkah uji telah sesuai dengan criteria.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2010.

Reaksi

Silang

Serasi.

[online].

tersedia

http://www.sodiycxacun.web.id/2010/10/reaksi-silang-crossmatch.html [diakses tanggal


24 Mei 2016]
Guyton, Arthur C. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Terjemahan.
Jakarta:Kedokteran EGC
Ismail.

2011.

Pemeriksaan pre Transfusi Darah.

[online]. tersedia : http://ismail-

pemeriksaandarahpretransfusi.blogspot.com/ [diakses tanggal 24 Mei 2016]


L,W.Bunga.SE.Petujuk Praktikum Transfusi Darah.2013.IIK.Bhakti Wiyata.Kediri
Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Sadikin, Muhamad. 2002. Biokimia Darah. Jakarta : Widya Medika
Tarwoto. 2006. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Hematologi. Jakarta : EGC.