Anda di halaman 1dari 17

I.

Tujuan

Membuat sediaan Tablet Vitamin C 200mg menggunakan metode kempa


langsung.

II.

Dasar Teori
A. Pengertian Tablet

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempacetak, dalam


bentuk tabung pipih atau sirkuler, keduaa permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan.
(Farmakope Indonesia Edisi ke-3)
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk
rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat
atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. (Moh. Anief)
Komponen formulasi tablet terdiri dari bahan berkhasiat dan bahan
pembantu. Bahan tambahan yang digunakan dalam mendesain formulasi
tablet dapat dikelompokan berdasarkan fungsionalitas eksipien sebagai
berikut :
1. Pengisi/pengencer (diluents)
Walaupun pengisi pada umumnya dianggap bahan yang inert, secara
signifikan dapat berpengaruh pada ketersediaan hayati, sifat fisika dan
kimia dari tablet jadi (akhir)
2. Pengikat (binders dan adhesive)
Pengikat atau perekat ditambahkan ke dalam formulasi tablet untuk
meningkatkan sifat kohesi serbuk melalui pengikatan (yang diperlukan)
dalam pembentukan granul yang pada pengempaan membentuk masa
kohesif atau pemampatan sebagai suatu tablet. Lokasi pengikat di
dalam granul dapat mempengaruhi sifat granul yang dihasilkan.
3. Penghancur (disintegrants)
Tujuan penghacur adalah untuk memfasilitasi kehancuran tablet sesaat
setelah ditelan pasien. Agen penghancur dapat ditambahkan sebelum
dilakukan granulasi atau selama tahap lubrikasi/pelinciran sebelum
dikempa atau pada kedua tahap proses.
4. Pelincir (lubricant)
Fungsi utama pelincir tablet adalah untuk mengurangi friksi yang
meningkat pada antarmuka tablet dan dinding cetakan logam selama
pengempaan dan penolakan/pengeluaran tablet dari cetakan. Pelincir
dapat pula menunjukan sifat sebagai antilengket (anti adherant) atau
pelicin (glidan)
Stickland mendeskripsikan:
Pelincir menurunkan friksi di antara granul dan dinding cetakan
kempa selama proses pengempaan dan penolakan tablet dari
lumpang.
Antiadheran mencegah terjadinya pelengketan pada alu cetak dan
selanjutnya ada dinding cetakan.

Pelicin meningkatkan karakteristik aliran dari granul.


5. Antiadheran
Antiadheran berguna dalam formulasi bahan yang menunjukan tendensi
mudah tersusun/terkumpul.
6. Pelicin (glidan)
Glidan dapat meningkatkan mekanisme aliran granul dari hoper ke
dalam lobang lumpang. Glidan dapat meminimalkan ketidakmerataan
yang sering ditemukan/ditunjukan formula kempa langsung. Glidan
meminimalkan kecenderungan granul memisah akibat adanya vibrasi
secara berlebihan.
Hipotesis mekanisme kerja glidan menurut beberapa penelitian :
1) Dispersi muatan elektrostatik pada permukaan granul.
2) Distribusi glidan dalam granul.
3) Adsorpsi preferensial gas pada glidan versus granul.
4) Meminimalisasi forsa v.d. Waals melalui pemisahan granul.
Penurunan fraksi di antara partikel dan kekerasan permukaan karena
glidan teradhesi pada permukaan granul.

B. Bentuk dan Penggolongan Tablet


Berdasarkan cara pemberian atau fungsinya, sistem penyampaian obat
dan bentuk serta metode pembuatannya, tablet dapat digolongkan sebagai
berikut:
1.

Tablet Oral untuk Dimakan

Tablet Kempa (Compressed Tablets/CT)

Tablet Kempa Lapis Ganda (Multiple


Tablet/MCT)

Tablet Berlapis

Tablet kempa yang bersalut

Tablet dengan reaksi berulang-ulang

Tablet salut gula dan tablet salut coklat

Tablet salut lapisan tipis

Tablet Kunyah
2. Tablet yang Digunakan dalam Rongga Mulut

Tablet Buccal

Tablet Sublingual

Troche atau Lozenges


3. Tablet yang Diberikan dengan Rute Lain

Tablet Implantasi

Tablet Vaginal
4. Tablet yang Digunakan Untuk Membuat Larutan

Tablet Effervescent

Tablet Hipodermik

Tablet Triturat (tablet yang diremukan)

C. Kriteria Tablet

Compressed

Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :


1.
Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi
persyaratan
2.
Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil
3.
Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik
5. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan
6. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan
7. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan
8. Bebas dari kerusakan fisik
9. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan
10. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu
11. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

D. Metode Pembuatan Tablet


Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu
granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode
pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat
aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau
lembab, kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya. Secara
skematis proses pembuatan tablet dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
1. Granulasi Basah
Granulasi Basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan
eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan
pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang
dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan
terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak
langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip
dari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan
larutan pengikat teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu
pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi.
Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan
suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini
membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat
yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan
tersebut dimasukan kering ke dalam campuran serbuk dan cairan
dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang
cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel
dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang
ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler
paling penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah
ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang
merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh
massa basah atau lembab maka massa dilewatkan pada ayakan dan
diberi tekanan dengan alat penggiling atau oscillating granulator
tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat
dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan

granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur


yang digunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat. Keuntungan
metode granulasi basah :
Terbentuknya granul memperbaiki sifat alir dan kompresibilitas,
proses kompaksasi lebih mudah karena pecahnya granul membentuk
permukaan baru yang lebih aktif
Obat-obat dosis tinggi yg mempunyai sifat alir dan kompresibilitas
jelek maka dengan proses granulasi basah hanya perlu sedikit bahan
pengikat
Untuk bahan dengan dosis rendah dengan pewarna, maka distribusi
lebih baik dan menjamin keseragaman isi zat aktif
Granulasi basah mencegah segregasi komponen-komponen
campuran yang sudah homogen
Memperbaiki dissolusi obat yang bersifat hidrofob.
Kekurangan metode granulasi basah:
Proses lebih panjang dibanding dgn 2 metode lainnya sehingga
secara ekonomis lebih mahal
Peralatan yang digunakan lebih banyak sehingga secara otomatis
lebih banyak pula personnel yang diperlukan
Tidak bisa digunakan untuk obat-obat yang sensitif thd kelembaban
dan pemanasan
Pada tablet berwarna dapat terjadi peristiwa migrasi dan ketidak
homogenan sehingga tablet berbintik-bintik
Incompabilitas antar komponen di dalam formulasi akan diperbesar,
terutama untuk obat-obat campuran (multivitamin, dll)
2. Granulasi Kering
Granulasi kering adalah metode yang dilakukan dengan cara
membuat granul secara mekanis tanpa bantuan pengikat basah atau
pelarut pengikat. Metode ini digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan
panas dan lembab, serta tidak tahan air atau pelarut yang
digunakan.Keuntungan pembuatan tablet dengan metode granulasi
kering adalah :
a. Memerlukan tahap proses yang lebih sedikit sehingga mengurangi
kebutuhan akan proses validasi.
b. Waktu hancur lebih cepat karena tidak diperlukannya larutan pengikat.
c. Tidak memerlukan pengeringan sehingga tidak terlalu lama
pengerjaannya.
d. Dapat digunakan untuk zat aktif dosis besar yang peka terhadap panas
dan lembab.
a.
b.
c.
d.
e.

Kerugian pembuatan tablet dengan metode granulasi kering adalah :


Perlu mesin khusus untuk pembuat slug.
Tidak dapat mendistribusikan warna dengan homogen.
Tidak dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak larut.
Kemungkinan terjadinya kontaminasi silang lebih cepat.
Keseragaman kandungan lebih sulit dicapai.

E. Keuntungan dan Kerugian Tablet


1. Keuntungan Tablet
a. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih
b. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis
c. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil
sehingga
memudahkan
proses
pembuatan,
pengemasan,
pengangkutan, dan penyimpanan
d. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat
dicegah/diperkecil.
2. Kerugian Tablet
a. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan
tidak sadar/pingsan);
b. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat
amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis;
Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya
cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran
cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi
(harus diformulasi sedemikian rupa);
Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak
disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan
kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa.
Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet

F. Masalah dalam Pembuatan Tablet


1. Capping
Tablet terpisah sebagian atau seluruhnya atas dan bawah, yang
disebabkan terlalu banyak tekanan saat pencetakan, adanya udara yang
terperangkap saat granulasi, granulasi terlalu kering, terlalu banyak fines,
pemasangan punch dan dies yang tidak pas.
2. Lamination
Tablet pecah menjadi beberapa lapisan. Pecahnya tablet terjadi
segera setelah kompressi atau beberapa hari kemudian. Penyebabnya
adalah udara yang terjerat dalam granul yang tidak dapat keluar selama
kompressi atau overlubrikasi dengan stearat.
3. Sticking
Keadaan dimana granul menempel pada dinding die sehingga
punch bawah tidak bebas bergerak. Penyebabnya adalah punch kurang
bersih, tablet dikompressi pada kelembapan tinggi. (Wade,1994).

4. Picking
Perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada
permukaan punch. Penyebabnya adalah pengeringan granul belum
cukup, jumlah glidan kurang bahan yang dikompresi berminyak/lengket.
5. Filming
Adanya kelembapan yang tinggi dan suhu tinggi akan melelehkan
bahan dengan titik lebur rendah seperti lemak/wax. Bisa juga karena
punch kehilangan pelicin. Hal ini dapat diatasi dengan mengencerkan
bahan yang bertitik leleh rendah dengan bahan yang titik lelehnya tinggi
sehingga mengurangi penempelan.
6. Chipping dan Cracking
Pecahnya tablet disebabkan karena alat dan tablet retak di bagian
atas karena tekanan yang berlebih.
7. Binding
Kesulitan mengeluarkan tablet karena lubrikan yang tidak cukup.
8. Molting
Distribusi zat warna yang tidak homogen. Penyebabnya adalah
migrasi zat warna yang tidak seragam (atas kering duluan yang bawah
masih basah).

III.

Formula
A. Formula Acuan

R/ Asam Askorbat

50mg

Mg Stearat
0,5%
Aerosil

0,2%

Pewarna Kuning

0,1%

Avicel PH 102

q.s

B. Formula Modifikasi
Bobot per Tablet = 200mg
Dibuat = 120 Tablet
Bobot seluruh Tablet = 24g

No.

Nama Zat

Fungsi

Asam Askorbat

Zat Aktif

Mg Stearat

Lubrikan

Aerosil

Lubrikan

Avicel PH 102

Pengisi-PengikatDesintegran

Pewarna Kuning

Zat tambahan

C. Monografi
1. Acidum Ascorbicum (Vit C)
Pemerian :

hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh pengaruh


cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan
kering stabil diudara, dalam larutan cepat teroksidasi. Melebur
pada suhu lebih kurang 1900.

Kelarutan :

mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%) p,
praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam eter p dan dalam

Khasiat

benzene p.
antiskorbut (sariawan)

a) Farmakokinetik
Asam askorbat meningkatkan aktivitas enzim amidase yang
berperan

dalam

pembentukan

hormon

oksitosin

dan

hormon

antidiuretik. Pada jaringan, fungsi utama vitamin C ialah dalam


sintesis kolagen, proteoglikan zat organic matrik antar sel lain
misalnya pada tulang, gigi, endotel kapiler. Dalam sintesis kolagen
selain berperan dalam hidroksilasi prolin vitamin C juga nampaknya
berperan untuk menstimulasi langsung sintesis peptida kolagen. Pada
pasien skorbut, gangguan sitesis kolagen terlihat sebagai kesulitan
penyembuhan luka, gagguan pembentukan gigi dan pecahnya kapiler
yang menyebabkan perdarahan seperti petekie dan akimosis.
Pemberian vitamin C pada keadaan normal, tidak menunjukkan
efek farmakodinamik yang jelas. Tetapi pada keadaan defisiensi,
pemberian vitamin C akan menghasilkan gejala penyakit dengan
cepat.
b) Farmakodinamik
Vitamin C mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Pada keadaan
normal tampak kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorbsi.
Kadar dalam leukosit dan trombosit lebih besar daripada dalam plasma dan
eritrosit. Distribusinya luas ke seluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam
kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan lemak. Ekskresi melalui urin
dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam
darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4 mg %.

Kontra indikasi : Hipersensitivitas terhadap komponen dalam sediaan.


Efek samping : Relatif tidak beracun; mual, muntah, mulas, kelelahan,
flushing, sakit kepala, insomnia, mengantuk, dan gangguan GI lainnya

(diare, kolik sementara, kram perut, kembung distensi).


Interaksi obat : Meningkatkan efek / toksisitas : asam askorbat
meningkatkan absorpsi besi dari saluran cerna. Bila asam askorbat
diberikan bersama kontrasepsi oral maka akan meningkatkan efek
kontrasepsi ;Menurunkan efek : asam askorbat dapat menurunkan level

fluphenazine, asam askorbat bila diberikan dengan warfarin maka akan


menurunkan efek antikoagulan.

2. Avicel PH 102
Sinonim

Gel selulosa, kristalin selulosa

Pemerian

Serbuk putih halus, tidak berbau, tidak berasa.

Kelarutan

Tidak larut dalam air, larut dalam asam dan larutan organik.

Penggunaan : Adsorbent; suspending agent; tablet and capsule diluent;


tablet disintegrant. Biasanya digunakan dalam proses cetak
langsung dan granulasi kering tablet. Sebagai disintegrant
digunakan dalam konsentrasi 5-15 %, antiadherent 5-20 %
dan sebagai pengikat dengan konsentrasi 20-90 %.
Stabilitas

Tetap stabil meskipun ada di lingkungan yang higroskopis.


Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat
yang dingin dan kering.

3. Aerosil
Sinonim
Pemerian

: Silikon dioksida koloidal; SiO2


: sub microdcopic fumed silica dengan ukuran partikel sekitar
15nm. Serbuk amorf (tidak berbentuk); ringan; meruah; putih

Kelarutan

kebiru-biruan; tidak berbau; tidak berasa


: Praktis tidak larut dalam air, pelarut organik dan asam,
kecuali asam hidrofluorat; Larut dalam larutan panas alkali

hidroksida. Membentuk dispersi koloidal dalam air.


Inkompatibilitas: Sediaan dietilstilbestrol
Stabilitas
: Higroskopis, dapat menyerap air dalam jumlah besar tanpa
menjadi cair. Ketika digunakan dalam suatu sistem larutan
pada pH 0-7.5, koloid silikon dioksida dapat meningkatkan
viskositas. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik pada
tempat kering dan sejuk.

4. Mg Stearat
Pemerian
: serbuk halus; putih, dan voluminus; bau lemah khas;
Kelarutan

mudah melekat dikulit; bebas dari butiran


: Praktis tidak larut etanol, etanol 95%, eter, dan air.
Sedikit larut dalam benzen hangat dan etanol 95%
hangat.

Khasiat
Konsentrasi
OTT

: Lubrikan
: 0,25-5%.
: Asam kuat,

alkali,

dan

garam

besi.

pencampuran dengan bahan oksidator kuat.


Rumus Molekul : C36H70MgO4
Titik leleh/ lebur : 117-150C
Inkompabitilitas : asam kuat, alkalis gdan garam Fe

IV.

Alat dan Bahan


A. Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Alat cetak tablet single punch


Alat uji friabilitas
Alat uji laju alir
Alat uji waktu hancur
Hardness tester
Jangka sorong
Timbangan gram dan miligram

B. Bahan
1.
2.
3.
4.
5.

V.

Asam Askorbat (Vitamin C)


Mg Stearat
Avicel PH 102
Aerosil
Pewarna Kuning

Prosedur Kerja

A. Perhitungan Bahan
Dibuat 120 tablet
Bobot per Tablet = 200mg
Bobot seluruh Tablet = 200mg X 120 tablet = 24000mg = 24gram
1. Asam Askorbat = 50mg X 120 tablet = 6000mg = 6gram
2. Mg Stearat = 0,5% X 24000mg = 120mg
3. Aerosil = 0,2% X 24000mg = 48mg
4. Pewarna Kuning = 0,1% X 24000mg = 24mg
5. Avicel PH 102 = 24000 (6000+120+48+24)mg
= 24000 6192 = 17808mg = 17,808g

B. Penimbangan Bahan
1.
2.
3.
4.
5.

Asam Askorbat = 6g
Mg Stearat = 120 mg = 150mg
Aerosil = 48mg = 50mg
Pewarna Kuning = 24mg = 50mg
Avicel PH 102 = 17,808mg = 17,8g

Hindari

C. Prosedur Kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Metode Kempa Langsung


Masukkan Asam Askorbat ke dalam mortir, gerus halus
Tambahkan Aerosil dan Mg Stearat, gerus homogen
Tambahkan Avicel PH 102, gerus homogen
Tambahkan Pewarna Kuning, gerus homogen
Evaluasi Serbuk
Cetak serbuk dengan alat pencetak tablet 200mg
Evaluasi Tablet

Bagan Pembuatan

VI.

Evaluasi Tablet
A. Evaluasi Serbuk
. Evaluasi fisik serbuk dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1. Bobot Jenis
Bobot jenis sejati
Bobot jenis sejati diukur dengan piknometer gas Beckman.
Bobot jenis nyata
Kedalam gelas takar masukkan 100 gram granul.Baca volume.

Bobot jenis nyata = Bobot/Volume

Bobot jenis nyata setelah pemampatan


Kedalam gelas takar masukkan 100 gram granul.Mampatkan
500 kali dengan alat volumeter.Lihat volume setelah pemampatan.

BJ

nyata

setelah

pemampatan

Bobot
Volumesetela h pemampatan 500 kali

2. Kadar Pemampatan
% T = V0 V500
V0
Ket :
% T = Kadar pemampatan
V0 = Volume sebelum pemampatan
V500= Volume setelah pemampatan 500 kali
% T < 20 atau V < 20 ml granul memiliki aliran yang baik.Kadar
pemampatan dan berat jenis dapat untuk menilai aliran.
3. Kompresibilitas
% K = Dapt Davc x 100 %
Davc
Ket :
Dapt : Berat jenis nyata setelah pemampatan 500 x
Davc : Berat jenis nyata sebelum pemampatan
Jika % K
:
5 10 %
: Aliran sangat baik
11 20 %
: Aliran cukup baik
21 25 %
: Aliran cukup
> 26 %
: Aliran buruk
4. Aliran
Metode corong
Mengukur kecepatan aliran 100 gram granul menggunakan
corong kaca dengan dimensi sesuai. Dengan 2 cara yaitu, cara
bebas dan cara tidak bebas ( paksa ) digetarkan.
Biasanya jika 100 gram granul mengalir dalam 10 detik maka

lairan baik.
Metode sudut istirahat

Masukkan

100

gram

granul

(tutup

bagian

bawah

corong).Tampung granul diatas kertas grafik.


Hitung x (sudut yang dibentuk tumpukan granul dengan kertas).
Jika x
:
25 30 derajat : Sangat mudah mengalir
30 40 derajat : Mudah mengalir
40 45 derajat : Mengalir
> 45 derajat
: Kurang mengalir

5. Kandungan Lembab
Kandungan lembab diukur dengan pemanasan ( gravimetric )
menggunakan alat seperti Moisture Balance.
% KB

W1
x 100
W

% KL

Wa
x 100
W1

Wa
= W W1
Ket :
% KB = Kandungan bobot
% KL = Kandungan lembab
W
= Bobot mula-mula
W1

= Bobot setelah pengeringan

B. Evaluasi Tablet
1. Keseragaman Ukuran
Diameter tablet berkisar 1 1/3 sampai 3 kali tebal tablet.
2. Keseragaman Bobot
Ditimbang 20 tablet, dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika
ditimbang satu per satu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang menyimpang
dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom
A dan tidak boleh 1 tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot
rata-rata lebih dari harga dalam kolom B. Jika perlu dapat digunakan 10
tablet dan tidak 1 tablet yang bobotnya menyimpang lebih besar dari
bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A maupun kolom B :

Penyimpanganbobot rata-rata dalam %


Bobot rata-rata
A

25 mg ataukurang

15 %

30 %

26 mg 150 mg

10 %

20 %

151 mg 300 mg

7,5 %

15 %

> 300 mg

5%

10 %

3. Kekerasan Tablet
Kekerasan 4 - 8 kg.Diukur dengan alat hardness tester.
4. Kerenyahan Tablet
Maksimum 1 % dengan menggunakan alat friabilator.
5. Waktu Hancur Tablet
Masukkan tablet ke dalam keranjang alat, turun naikkan keranjang
secara teratur 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada
bagian tablet yang tertinggal diatas kasa, kecuali fragmen dari zat
penyalut. Bila tidak dinyatakan waktu untuk menghancurkan kelima
tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet biasa dan 60 menit untuk
tablet bersalut gula atau selaput.
Jika tidak memenuhi syarat, pengujian diulang dengan menggunakan
tablet satu per sat, kemudian diulangi lagi menggunakan 5 tablet dengan
cakram tertentu, dan tablet harus memenuhi syarat di atas.

Lampiran
Brosur :
Vitachow
Komposisi :
Tiap tablet mengandung
Acid Ascorbicum 50 mg
Indikasi :
Avitaminosis C, sariawan, mencegah penuaan dini,
mencerahkan kulit, mencegah pengaruh buruk sinar
UV
Kontraindikasi :
Hipersensitivitas terhadap komponen dalam sediaan
Farmakokinetik :
Mudah diabsorbsi melalui saluran cerna dan
diekskresi melalui urin dalam bentuk utuh dan bentuk
garam sulfatnya jika kadar dalam darah melewati
ambang rangsang ginjal
Efek samping :
Hyperoxaluria, pusing, sakit kepala. Vitamin c dengan
dosis lebih dari 1 gram/hari dapat menyebabkan
diare. Dosis besar tersebut juga meningkatkan
bahaya terbentuknya batu ginjal.
Dosis :
Pencegahan : 2 tablet/hari
Penyembuhan : 4-6 tablet/hari
Peringatan dan perhatian :
o

Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita

o
o

penyakit ginjal
Gunakan sesuai dosis yang dianjurkan
Pasien diabetes dan pasien renal calculi berulang
disarankan

tidak

mengonsumsi

dosis

berlebih

dalam jangka panjang.


Penyimpanan :
Simpan di tempat sejuk dan kering serta terlindung
dari cahaya

Etiket:

Daftar Pustaka

Depkes RI (1979). Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia: Jakarta.
Depkes RI (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia: Jakarta.
Drs. Kasim Fauzi, M.Kes., Apt., dkk (2014). Informasi Spesialite Obat
Indonesia Volume 49.
Depkes RI (1978). Formularium Nasional edisi II. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia: Jakarta
Anief, Moh (2007). Farmasetika. Gadjah Mada University: Yogyakarta.
Anief, Moh (2010). Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University:
Yogyakarta.
Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulation Volume 1 Second
Edition
Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition
https://www.scribd.com/doc/56785058/Laporan-Praktikum-KempaLangsung-Senin-Pagi-Kel-B (diakses pada 30 April 2016)
https://fherays.wordpress.com/2011/06/16/materi-sac-div-farmasetiktablet/
(diakses pada 30 April 2016)
http://www.slideshare.net/enefnovhy/vitcc-kelompok-gueh (diakses pada 30
April 2016)