Anda di halaman 1dari 84

RANCANG BANGUN JEMURAN KAIN OTOMATIS

DENGAN SENSOR CAHAYA DAN AIR


LAPORAN TUGAS AKHIR
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program Diploma III
Politeknik Negeri Medan
Oleh:

CANDI SATRIA DJAYA SITEPU


NIM : 1305031012

ELISABETH DEVITA LIMBONG


NIM : 1305031018

JUNENDRA SIREGAR
NIM : 1305031030

RAMON W.R MARPAUNG


NIM : 1305031044

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
2016

LEMBAR PERSETUJUAN
Yang bertanda tangan dibawah ini Dosen Pembimbing Laporan Tugas Akhir.
Kepala Program Studi Teknik Listrik, dan Ketua Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Medan Menyatakan bahwa laporan Tugas Akhir dari :
CANDI SATRIA DJAYA SITEPU
NIM 1305031012

ELISABETH DEVITA LIMBONG


NIM 1305031018

JUNENDRA SIREGAR
NIM 1305031030

RAMON W.R MARPAUNG


NIM 1305031044
dengan judul:

RANCANG BANGUN JEMURAN KAIN OTOMATIS DENGAN SENSOR


CAHAYA DAN AIR
telah diperiksa dan dinyatakan selesai serta dapat diajukan dalam sidang Tugas
Akhir.
Medan, September 2016
Kepala Program Studi
Teknik Listrik

Dosen Pembimbing

Ir. Gunoro, M.T.


NIP 19630531 198903 1 002

Darwis Tampubolon, S.T, M.T.


NIP 19600721 198503 1 002

LEMBAR PENGESAHAN
Yang betanda tangan dibawah ini Penguji I, Penguji II, dan Ketua Sidang Tugas
Akhir Politeknik Negeri Medan menyatakan bahwa Laporan Tugas Akhir dari :
CANDI SATRIA DJAYA SITEPU
NIM : 1305031012

ELISABETH DEVITA LIMBONG


NIM : 1305031018

JUNENDRA SIREGAR
NIM : 1305031030

RAMON W.R. MARPAUNG


NIM : 1305031044

RANCANG BANGUN JEMURAN KAIN OTOMATIS DENGAN SENSOR


AIR DAN CAHAYA

telah selesai diajukan dalam sidang tugas akhir pada tanggal September 2016,
pukul

WIB, Di

Teknik Listrik Politeknik Negeri Medan, dinyatakan lulus dan

memenuhi syarat.
Penguji I

Penguji II

Ir. Juli Iriani, M. T.


NIP 19620709 198803 2 002

Ir. Ashuri M.T.


NIP 19601028 198603 1 006

Ketua Jurusan Teknik Elektro

Ketua Koordinator Sidang

Junaidi, S.T, M. T.
NIP 19630309 198803 1 002

Ir. Ngairan Banu Saputra, M.T.


NIP 19611214 198503 1 002

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala berkat dan rahmat-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan laporan
Tugas Akhir ini.
Laporan Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat
menyelesaikan Pendidikan Program Diploma 3 di Politeknik Negeri Medan.
Adapun judul Tugas Akhir ini adalah: Rancang Bangun Jemuran Kain Otomatis
Dengan Sensor Air Dan Cahaya.
Dalam pembuatan laporan Tugas Akhir ini Penulis banyak menemukan
kendala yang sulit untuk diselesaikan. Namun, atas bantuan dari berbagai pihak,
akhirnya kendala - kendala tersebut diatasi. Atas bantuan dan bimbingan yang
penulis terima selama pengerjaan laporan tugas akhir ini, penulis mengucapkan
terimakasih kepada:
1

M. Syahruddin, S.T., M.T., selaku Direktur Politeknik Negeri Medan.

Ir. Junaidi, M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri
Medan.

Ir. Gunoro, M.T., selaku. selaku Kepala Program Studi Teknik Listrik
Politeknik Negeri Medan.

Darwis Tampubolon, S.T, M.T., selaku Dosen Pembimbing yang telah


memberikan waktu,

perhatian,

petunjuk dan arahan serta membimbing

penulis dengan sabar dalam pengerjaan tugas akhir ini hingga selesai.
5

Ir. Rafian Nauli Hasibuan, M.T., sebagai dosen wali kelas EL - 6B yang telah
banyak memotivasi penulis dalam penyusunan tugas akhir ini dan mengajari
banyak hal sehingga penulis memperoleh banyak ilmu.

Seluruh dosen, staf dan pengajar Program Studi Teknik Listrik.

Buat Ayahanda dan Ibunda serta saudara kami yang tercinta yang telah
memberi dukungan baik dalam semangat, nasihat, serta materi terlebih dalam
dukungan doa sehingga kami dapat menyelesaikan pendidikan Diploma III
Politeknik Negeri Medan.

Teman-teman penulis yang telah membantu dalam menyelesaikan Tugas


Akhir ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa senantiasa memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua. Semoga
laporan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Selain itu kritik dan
saran yang membangun juga diharapkan penulis sebagai modal awal dalam
perbaikan dan pelajaran bagi penulis kedepannya.Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan melihatnya.

Medan, September 2016


Hormat kami,

Penulis

ABSTRAK
Jemuran kain merupakan salah satu kebutuhan seharihari di dalam
masyarakat, Jemuran kain berfungsi untuk menjemur pakaian sehingga pakaian
bisa kering dan tidak memiliki bau. Namun, jika pakaian yang sedang dijemur
ditinggalkan dalam keadaan basah lalu pada saat terjadi cuaca yang tidak menentu
atau pada musim pancaroba maka pakaian akan sulit kering, sehingga diperlukan
jemuran kain otomatis yang mampu membantu masyarakat dalam memindahkan
pakaian yang sedang dijemur dari tempat penjemuran kedalam ruangan yang
terlindungi dari hujan ketika penjemur tidak berada dirumah atau sedang tidak
dapat memindahkan jemuran tersebut,sehingga mendukung dan meringankan
pekerjaannya. Untuk itu diperlukan suatu alat yang digunakan dalam
memindahkan kain saat menjemur, hal ini dapat diperoleh dengan memanfaatkan
sensor cahaya untuk mendeteksi intensitas cahaya pada daerah penjemuran dan
sensor air untuk medeteksi hujan. Ketika sensor cahaya mendapatkan intensitas
cahaya lebih kecil daripada intensitas cahaya referensi maka jemuran akan
berpindah kedalam ruangan yang telah disediakan,dan jemuran akan berpindah
kembali menjemur pakaian ketempat penjemuran ketika sensor cahaya mendapat
cahaya yang melebihi intensitas cahaya referensi. Ketika sensor hujan mendeteksi
adanya titik-titik air pada lempengan sensor makan jemuran akan berpindah
kedalam ruangan yang telah disediakan, walau hujan dalam kondisi cuaca terang
Jemuran akan tetap masuk ke dalam ruangan agar pakaian tidak basah. Kemudian
terjadi secara berulang. Perencanaan alat ini menggunakan motor DC sebagai
penggerak dengan supply 12 V, sumber energi utama berasal dari PLN dan baterai
12 V sebagai backup catu daya. Alat ini menggunakan ChangeOver sederhana
yaitu jika sumber PLN terputus, baterai langsung menggantikan sumber PLN
sehingga alat penjemur mendapatkan supplay listrik yang tak terputus.
Kata Kunci: Penjemur pakaian, Sensor Cahaya, Sensor Hujan

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN...................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iv
ABSTRAK.............................................................................................................vi
DAFTAR ISI.........................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................x
DAFTAR TABEL.................................................................................................xii
DAFTAR GRAFIK.............................................................................................xiii
BAB 1......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Batasan Masalah.............................................................................................2
1.4 Tujuan Pembuatan Proyek.............................................................................2
1.5 Manfaat Pembuatan Proyek..........................................................................2
1.6 Metode Pengumpulan Data............................................................................3
1.7 Sistematika Penulisan Laporan.....................................................................3
BAB 2......................................................................................................................4
LANDASAN TEORI..............................................................................................4
2.1 Motor DC.........................................................................................................4
2.1.1 Prinsip kerja Motor DC.............................................................................6
2.1.2 KonstruksiMotor DC.................................................................................9
2.1.3 Teori Dasar Motor DC.............................................................................12
2.1.4 Jenis Jenis Motor DC..............................................................................14
2.2 Relay...............................................................................................................21
2.2.1 Bentuk dan Simbol Relay........................................................................21
2.2.2 Prinsip Kerja Relay.................................................................................21
2.2.3 Penggolongan Relay berdasarkan Pole dan Throw.................................23
2.2.4 Fungsi Relay............................................................................................24
2.2 Indikator Lamp.............................................................................................25
2.3 Transformator...............................................................................................25
2.3.1 Prinsip Kerja Transformator....................................................................26

2.3.2 Teori dasar Trafo(trafo ideal)...................................................................27


2.4 Dioda..............................................................................................................28
2.5 MCB...............................................................................................................30
2.6 Tombol Tekan (Push Button)........................................................................31
2.7 Limit Switch..................................................................................................32
2.8 Kabel / Penghantar.......................................................................................32
2.9 IC 7805 Regulator.........................................................................................33
2.10 Sensor............................................................................................................34
2.10.1 Komparator.............................................................................................34
2.10.2 Sensor Cahaya (LDR)............................................................................36
2.10.3 Sensor Air...............................................................................................37
2.10.4 Relay modul...........................................................................................38
2.11 Baterai...........................................................................................................39
2.11.1 Jenis-Jenis Baterai..................................................................................40
2.11.2 Teori dasar Perhitungan kapasitas Baterai..............................................41
BAB 3....................................................................................................................42
PERENCANAAN KONSTRUKSI DAN PEMBUATAN ALAT......................42
3.1 Blok Diagram................................................................................................42
3.1.1 Mode Manual...........................................................................................42
3.1.2 Mode otomatis.........................................................................................43
3.2 Deskripsi Kerja.............................................................................................44
3.3 Alat Dan Bahan Yang Digunakan................................................................47
3.3.1 Alat-Alat Yang Digunakan.......................................................................47
3.3.2 Bahan-Bahan Yang Digunakan................................................................48
3.4 Spesifikasi Komponen Khusus yang Digunakan.......................................49
3.4.1 Kotak Panel..............................................................................................49
3.4.2 Supply......................................................................................................50
3.4.3 Motor Power Window..............................................................................54
3.5 Perancangan Konstruksi..............................................................................55
3.6 Perhitungan Berat Jemuran Otomatis........................................................56
BAB 4....................................................................................................................57
HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................57
4.1 Analisa Pengujian dan Pengukuran............................................................57
4.1.1 Analisa Daya Tahan Baterai.....................................................................57

10

4.1.2 Pengujian Mode Manual..........................................................................58


4.1.3 Pengujian Mode Otomatis.......................................................................58
BAB 5....................................................................................................................63
PENUTUP.............................................................................................................63
5.1 SIMPULAN....................................................................................................63
5.2 SARAN............................................................................................................63
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................64
LAMPIRAN..........................................................................................................65

11

DAFTAR GAMB
Gambar 2. 1 Motor DC (Power window)................................................................4
Gambar 2. 2 Gaya Gerak Listrik dalam Medan Magnet..........................................6
Gambar 2. 3 Gaya Arus Listrik pada Arah yang Berlawanan..................................6
Gambar 2. 4 Torsi Kumparan Motor........................................................................6
Gambar 2. 5 Arah Medan Magnet............................................................................7
Gambar 2. 6 Daerah Proses Perubahan Energi........................................................8
Gambar 2. 7 Konstruksi Motor Arus Searah............................................................9
Gambar 2. 8 Jenis-Jenis Motor DC........................................................................14
Gambar 2. 9 Rangkaian ekivalent motor DC penguatan terpisah..........................14
Gambar 2. 10 Karakteristik motor DC penguatan terpisah....................................15
Gambar 2. 11 karakteristik torsi kecepatan motor Dc shunt..................................17
Gambar 2. 12 Rangkaian ekivalent motor DC seri................................................18
Gambar 2. 13 Karakteristik torsi terhadap kecepatan motor DC seri....................19
Gambar 2. 14 Karakteristik Kecepatan terhadap torsi motor dc kompon pendek. 20
Gambar 2. 15 Bentuk dan Simbol Relay................................................................21
Gambar 2. 16 Struktur Sederhana Relay................................................................22
Gambar 2. 17 Jenis Relay berdasarkan Pole dan Throw........................................24
Gambar 2. 18 Lampu Indikator..............................................................................25
Gambar 2. 19 Transformator step-down................................................................25
Gambar 2. 20 Hubungan primer-sekunder Transformator.....................................26
Gambar 2. 21 Dioda...............................................................................................28
Gambar 2. 22 Siklus positif Tegangan AC............................................................29
Gambar 2. 23 Siklus negatif Tegangan AC............................................................29
Gambar 2. 24 Miniature Circuit Breaker (MCB)...................................................30
Gambar 2. 25 Tombol Tekan..................................................................................31
Gambar 2. 26 Bentuk Limit Switch.......................................................................32
Gambar 2. 27 IC 7805 Regulator...........................................................................33
Gambar 2. 28 Komparator.....................................................................................34
Gambar 2. 29 Sensor Cahaya.................................................................................36
Gambar 2. 30 Komparator Sensor Cahaya.............................................................36
Gambar 2. 31 Sensor Air........................................................................................37
Gambar 2. 32 Komparator Sensor Air...................................................................38
Gambar 2. 33 Relay Modul....................................................................................38
Gambar 2. 34 Baterai.............................................................................................39
Y

Gambar 3. 1 Flowchart Mode Otomatis.................................................................43


Gambar 3. 2 Keadaan Jemuran pada Saat Cerah...................................................44
Gambar 3. 3 Keadaan Jemuran pada Saat Mendung.............................................45
Gambar 3. 4 Keadaan Jemuran pada Saat Hujan...................................................46
Gambar 3. 5 Motor Power Window.......................................................................54
Gambar 3. 6 Konstruksi Motor Power Window....................................................54
Gambar 3. 7 Desain Kerangka Penggerak dari Jemuran Otomatis (Tampak Atas)
................................................................................................................................55
Gambar 3. 8 Desain dari Jemuran Otomatis (Tampak Samping)...........................55

12

Gambar 3. 9 Desain Rel dari Jemuran Otomatis....................................................56

13

DAFTAR TABE
Tabel 3. 1 Alat-alat yang Digunakan......................................................47
Tabel 3. 2 Bahan-bahan yang Digunakan................................................48
Tabel 3. 3 Spesifikasi Motor Power Window............................................54
Tabel 3. 4 Perhitungan Berat Kain.........................................................56
Y

Tabel 4. 1 Pengamatan Alat Jemuran Kain dengan Sensor Cahaya dan Air.........58
Tabel 4. 2 Logika Kondisi Sensor Cahaya.............................................................59
Tabel 4. 3 Hasil Pengukuran Tegangan Keluaran (Vout) Sensor Cahaya pada
Jemuran terhadap Tegangan Masukan (Vin) Sensor..............................................59
Tabel 4. 4 Logika Kondisi Sensor Hujan...............................................................60
Tabel 4. 5 Hasil Pengukuran Tegangan Keluaran (Vout) Sensor Air pada Jemuran
terhadap Tegangan Masukan (Vin) Sensor............................................................61
Tabel 4. 6 Hasil Pengujian Pergerakan Motor pada Jemuran terhadap Beban......62

14

DAFTAR GRAFIK
Grafik 4. 1Perubahan Tegangan Output (Vout) Sensor Cahaya terhadap Tegangan
Masukan (Vin) Sensor............................................................................................60
Grafik 4. 2 Grafik Perubahan Tegangan keluaran (Vout) Sensor Hujan Terhadap
Tegangan Masukan (Vin) Sensor...........................................................................61
Grafik 4. 3 Kecepatan terhadap Arus Beban..........................................................62

15

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada saat ini pemanasan global membuat ketidakpastian cuaca yang
terkadang sangat panas dan tiba-tiba hujan turun terus-menerus.
Sistem kendali secara otomatis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
belakangan ini berkembang dengan pesat. Dengan adanya perkembangan dibidang
ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan inovasi baru yang berkembang
menuju lebih baik untuk masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari jangkauan
aplikasinya mulai dari rumah tangga hingga peralatan yang canggih.
Menjemur kain adalah salah satu kegiatan yang sering dilakukan di
kehidupan sehari-hari, biasanya kita mengangkat kain yang telah kering dan saat
hujan tiba. Masalah yang dihadapi adalah masalah saat kain yang dijemur
ditinggal bepergian sehingga tidak sempat lagi untuk mengangkat jemuran pada
waktu hujan tiba ataupun hari sudah larut malam.
Salah satu solusi dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam
menjaga kain agar tidak basah ketika menjemur dan memasukan kain kerumah
adalah perlu adanya sistem kontrol otomatis, dengan cara membuat sistem
jemuran otomatis yaitu Jemuran Kain Otomatis Dengan Sensor Cahaya Dan
Air. Alat ini berfungsi untuk menjemur pakaian. Sensor cahaya berfungsi untuk
mendeteksi cahaya yang baikdalam penjemuran dan sensor air untuk mendeteksi
air ketika hujan tiba.
Mengingat begitu pentingnya peran Jemuran Kain Otomatis Dengan Sensor
Cahaya Dan Air bagi masyarakat, maka dari masalah ini penulis padukan untuk
merealisasi jemuran otomatis yang efektif dan efisien, dalam kesempatan
penyusunan Tugas Akhir dengan judul RANCANG BANGUN JEMURAN
KAIN OTOMATIS DENGAN SENSOR CAHAYA DAN SENSOR AIR.

1.2 Rumusan Masalah


Dari penjelasan latar belakang permasalahan tersebut di atas dapat
dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana merancang jemuran kain otomatis dengan sensor air dan
cahaya?

17

2. Bagaimana membuat jemuran kain otomatis dengan sensor air dan cahaya ?
1.3 Batasan Masalah
Berdasarkan uraian pokok permasalahan di atas, maka pembahasan pada
Tugas Akhir ini akan dibatasi tentang:
1.

Masalah perubahan cuaca

2.

Keadaan lingkungan daerah penjemuran.

3.

Peletakan atap jemuran.

4.

Bentuk lintasan pergerakan Jemuran.

1.4 Tujuan Pembuatan Proyek


Adapun tujuan dari pembuatan alat ini adalah:
1. Mendesain dan membuat jemuran kain yang dapat mendeteksi cuaca
ketika menjemur pakaian sehingga mampu menyesuaikan keadaan dari
cuaca, dengan merespon sinyal melalui sensor cahaya dan air.
2. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program Diploma
1.5 Manfaat Pembuatan Proyek
Adapun manfaatdari pembuatan alat ini adalah:
1. Mempermudah pekerjaan manusia dalam proses penjemuran kain dari
masalah cuaca yang tidak menentu.
2. Dapat membuat dan merancang alat yang mempermudah pekerjaan
rumah tangga khususnya dalam kegiatan menjemur pakaian.

18

1.6 Metode Pengumpulan Data


Untuk melengkapi data yang diinginkan untuk merancang dan membangun
sistem ini, adapun cara yang kami lakukan adalah:
1. Melalui praktek yang dilaksanakan pada saat perancangan dan pembuatan
jemuran otomatis tersebut.
2. Studi pustaka yang dilakukan dengan cara mencari sumber-sumber referensi
yang berhubungan dengan topik pembahasan.
3. Mengadakan konsultasi dan arahan/bimbingan dari dosen pembimbing serta
sumber-sumber lain yang dapat dijadikan sebagai acuan dan perbandingan
dalam merancang alat ini.
1.7 Sistematika Penulisan Laporan
Untuk memaparkan hasil perancangan, perakitan dan pengujian sistem yang
akan dibuat, maka laporan ini disusun dalam sistematika penulisan dengan urutan
sebagai berikut:
BAB 1
: PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah,
manfaat dan tujuan dalam pembuatan proyek dan metode
BAB 2

pengumpulan data dan sistematika penulisan laporan.


: LANDASAN TEORI
Bab ini berisi teori-teori dasar yang berhubungan dengan
perangkat-perangkat

yang

digunakan

membangun

jemuran

otomatis.
BAB 3

: PERENCANAAN KONSTRUKSI DAN PEMBUATANALAT


Bab ini berisi pembahasan tentang perencanaan konstruksi dan
pembuatan alat jemuran kain otomatis dengan sensor cahaya dan
air.

BAB 4
BAB 5

: HASIL DAN PEMBAHASAN


Bab ini berisi hasil dari proyek dan cara kerja proyek.
: PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang didapat dari hasil
pembuatan proyek dan tindak lanjut untuk tahap selanjutnya.

19

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Motor DC
Motor arus searah adalah suatu mesin yang mengkonversikan energi listrik
arus searah menjadi energi mekanis, dimana outputnya menghasilkan torsi dan
kecepatan.

Gambar 2. 1 Motor DC (Power window)


(Sumber: https://indonesian.alibaba.com/product-detail/permanent-magnet-12vdc-power-window-motor-217789626.html)
Secara garis besar motor arus searah terdiri dari dua bagian, yaitu:
Bagian stator dan bagian rotor.
Bagian-bagian stator terdiri atas :
1. Yoke
Yoke merupakan badan motor arus searah terbuat dari besi tuang dan berguna
sebagai penyokong kutub magnet serta melindungi bagian dalam mesin.
2. Inti kutub dan sepatu kutub ( ujung laminasi )
Inti kutub terdiri dari laminasi-laminasi besi yang tebalnya 0.5 mm-1 mm dan
mempunyai permeabilitas yang baik. Laminasilaminasi itu di persatukan
dengan cara dikeling.Sepatu kutub gunanya untuk memperlebar fluksi
magnetik sehingga meliputi daerah dari celah-celah udara dan permukaan inti
jangkar.
3. Kumparan medan

20

Kumparan medan bila diberi arus penguatan akan menghasilkan fluksi utama
dalam celah-celah udara antara stator dan rotor, dan lilitan fluksinya menjadi
penuh melalui besi dan stator.
4. Sikat
Sikat berfungsi untuk mengalirkan arus ke kumparan jangkar(armature)
melalui komutator. Biasanya terbuat dari karbon dan berbentuk segi empat.
Bagianbagian rotor terdiri dari :
1. Komutator
Komutator terdiri dari lamellamel merupakan lapisan-lapisan tembaga tipis
satu sama lain disekat oleh isolasi yang baik dan masing-masing dihubungkan
pada ujung konduktor dari kumparan jankar.Gunanya untuk mengalirkan arus
melalui sikat-sikat dari sumber tegangan.
2. Jangkar
Jangkar terdiri dari inti jangkar dan kumparan jangkar, terdiri dari laminasilaminasi yang mempunyai alur(slot) dan gigi serta berlubang untuk saluran
pendingin, kumparan jangkar disebut juga kumparan tenaga, dengan adanya
imbas arus yang mengalir menimbulkan reaksi utama.Dengan demikian
timbulah gaya kopel dan daya mesin.

21

2.1.1. Prinsip kerja Motor DC


Mekanisme kerja untuk seluruh jenis motor listrik secara umum :
1. Arus listrik dalam medan magnet akan memberikan gaya, sehingga arah gaya
gerak listrik tersebetu dapat dilihat seperti gambar 2. 2 dibawah ini:

Gambar 2. 2 Gaya Gerak Listrik dalam Medan Magnet


(Sumber :http://dunia-listrik.blogspot.co.id/2008/12/motor-listrik.html)
2. Jika kawat yang membawa arus dibengkokkan menjadi sebuah lingkaran atau
loop maka kedua sisi loop yaitu pada sudut kanan medan magnet akan
mendapatkan gaya pada arah yang berlawanan dapat dililhat pada gambar 2.3
berikut:

Gambar 2. 3 Gaya Arus Listrik pada Arah yang Berlawanan


(Sumber : http://dunia-listrik.blogspot.co.id/2008/12/motor-listrik.html)

3. Pasangan gaya menghasilkan tenaga putar atau torque untuk memutar


kumparan dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut:

Gambar 2. 4 Torsi Kumparan Motor


(Sumber : http://dunia-listrik.blogspot.co.id/2008/12/motor-listrik.html)

22

4. Motor-motor memiliki beberapa loop pada jangkarnya untuk memberikan


tenaga putar yang lebih seragam dan medan magnetnya dihasilkan oleh
susunan elektromagnetik yang disebut kumparan medan.Jika arus lewat pada
suatu konduktor, timbul medan magnet di sekitar konduktor. Medan magnet
hanya terjadi di sekitar sebuah konduktor jika ada arus mengalir pada
konduktor tersebut. Arah medan magnet ditentukan oleh arah aliran arus pada
konduktor. Dapat dilihat pada gambar 2.5 dibawah ini:

Gambar 2. 5 Arah Medan Magnet


(Sumber :http://dunia-listrik.blogspot.co.id/2008/12/motor-listrik.html)
Pada motor DC, daerah kumparan medan yang dialiri arus listrik akan
menghasilkan medan magnet yang melingkupi kumparan jangkar dengan arah
tertentu. Konversi dari energi listrik menjadi energi mekanik (motor) maupun
sebaliknya berlangsung melalui medan magnet, dengan demikian medan magnet
disini selain berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan energi, sekaligus sebagai
tempat berlangsungnya proses perubahan energi, daerah tersebut dapat dilihat
pada gambar 2.6 berikut:

23

Gambar 2. 6 Daerah Proses Perubahan Energi


(Sumber : http://dunia-listrik.blogspot.co.id/2008/12/motor-listrik.html)
Agar proses perubahan energi mekanik dapat berlangsung secara sempurna,
maka tegangan sumber harus lebih besar daripada tegangan gerak yang
disebabkan reaksi lawan. Dengan memberi arus pada kumparan jangkar yang
dilindungi oleh medan maka menimbulkan perputaran pada motor.
Untuk menentukan arah putaran motor digunakan kaedah Flamming tangan
kiri. Kutub-kutub magnet akan menghasilkan medan magnet dengan arah dari
kutub utara ke kutub selatan. Jika medan magnet memotong sebuah kawat
penghantar yang dialiri arus searah dengan empat jari, maka akan timbul gerak
searah ibu jari. Gaya ini disebut gaya Lorentz, yang besarnya sama dengan F.
Prinsip motor adalah aliran arus di dalam penghantar yang berada di dalam
pengaruh medan magnet akan menghasilkan gerakan. Besarnya gaya pada
penghantar akan bertambah besar jika arus yang melalui penghantar bertambah
besar.

24

2.1.2

KonstruksiMotor DC
Secara umum mesin arus searah memiliki konstruksi yang terbagi atas dua
bagian, yaitu bagian yang diam yaitu stator dan bagian bergerak/berputar yaitu
rotor.

Gambar 2. 7 Konstruksi Motor Arus Searah


(Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33352/3/Chapter
%20II.pdf)
Dari gambar 2.7 di atas konstruksi mesin arus searah terdiri dari :
1. Rangka (Badan Motor)
Rangka motor arus searah berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan
sebagian besar komponen mesin. Untuk itu rangka harus dirancang memiliki
kekuatan mekanis yang tinggi unutk mendukung komponen-komponen mesin.
Karena selain sebagai sarana pendukung mekanis bagi mesin, rangka juga
berfungsi sebagi tempat mengalirkan fluksi yang dihasilkan oleh kutub-kutub
medan, maka rangka dibuat dengan menggunakan bahan ferromagnetik yang
permeabilitas tinggi. Rangka biasanya terbuat dari baja tuang (cast steel) atau baja
lembaran (rolled steel) yang berfungsi sebagai penopang mekanis dan juga
sebagai bagian dari rangkaian magnet. Untuk itu rangka harus dilaminasi untuk
mengurangi rugirugi besi.

25

2. Pole (Kutub)
Kutub-kutub medan terdiri atas inti kutub dan sepatu kutub. Inti kutub
dibuat dari laminasi pelat-pelat baja yang terisolasi satu sama lain dan direkatkan
bersama-sama kemudian dibaut pada rangka. Pada inti kutub ini dibelitkan
kumparan medan yang berfungsi untuk menghasilkan fluksi magnetik.
Sepatu kutub yaitu permukaan dari kutub yang berdekatan dengan celah
udara dibuat lebih besar dari badan ini. Sepatu kutub ini berfungsi unutk menahan
kumprana medan di tempatnya dan menghasilkan distribusi fluksi yang lebih baik
yang tersebar di seluruh jangkar dengan menggunakan permukaannya yang
melengkung.
Fungsi dari sepatu kutub adalah :
1. Menyebarkan fluksi pada celah udara
2. Sebagai pendukung mekanis bagi kumparan medan.
3. Kumparan Medan
Kumparan medan merupakan susunan konduktor terbuat dari kawat
tembaga yang berbentuk bulat ataupun persegi dan dibelitkan pada inti kutub.
Kumparan pada setiap kutub dihubungkan secara seri untuk membentuk
rangkaian medan. Rangkaian medan inilah yang berfungsi untuk menghasilkan
fluksi magnet. Rangkaian medan dapat dihubungkan secara seri ataupun paralel
dengan kumparan jangkar, juga dapat dihubungkan tersendiri langsung kepada
sumber tegangan, sesuai dengan jenis penguatan pada motor. Banyaknya belitan
pada setiap kutub tergantung hubungan kumparan medan terhadap kumparan
jangkar.
4. Celah Udara
Celah udara merupakan ruang atau celah antara permukaan jangkar dengan
permukaan kutub-kutub medan yang menyebabkan jangkar tidak bergesekkan
dengan kutub-kutub medan. Fungsi dari celah udara ini adalah sebagai tenpat
mengalirnya fluksi yang dihasilkan oleh kutubkutub medan.
Celah udara ini diusahakan agar sekecil mungkin. Semakin besar celah udara,
maka akan menghasilkan reluktansi yang tinggi, sedangkan celah udara yang kecil
menyebabkan reluktansi yang kecil, sehingga semakin kecil celah udara dapat
meningkatkan efisiensi motor.
5. Jangkar

26

Umumnya jangkar yang digunakan dalam motor arus searah adalah berbentuk
selinder dan diberi alur-alur pada permukaannya untuk tempat melilitkan
kumparan-kumparan tempat terbentuknya GGL lawan. Seperti halnya pada inti
kutub magnet, maka jangkar dibuat dari bahan berlapis-lapis tipis untuk
mengurangi panas yang terbentuk karena adanya arus liar (Edy current). Bahan
yang digunakan jangkar ini sejenis campuran baja silikon.
6. Kumparan Jangkar
Kumparan jangkar pada motor arus searah merupakan tempat dibangkitkannya
ggl induksi. Jenis-jenis konstruksi kumparan jangkar pada rotor ada 3 macam,
yaitu :
1. Kumparan jerat (lap winding)
2. Kumparan gelombang (wave winding)
3. Kumparan kaki katak (frog-leg winding)

7. Komutator
Komutator yang digunakan dalam motor arus searah pada prinsipnya
mempunyai dua bagian yaitu :
1. Komutator bar merupakan tempat terjadinya pergesekan antara komutator
dengan sikat-sikat.
2. Komutator riser merupakan bagian yang menjadi tempat hubungan
komutator dengan ujung dari lilitan jangkar.
8. Sikat
Fungsi utama dari sikat-sikat adalah untuk jembatan bagi aliran arus dari lilitan
jangkar dengan sumber tegangan. Disamping itu sikat-sikat memegang peranan
penting untuk terjadinya komutasi. Agar gesekan antara komutator-komutator dan
sikat tidak mengakibatkan ausnya komutator, maka bahan sikat lebih lunak dari
komutator. Biasanya dibuat dari bahan arang (coal).

27

2.1.3. Teori Dasar Motor DC


Apabila arus searah dialirkan melalui sikat ke kumparan jangkar dari motor
arus searah dan kumparan medan di beri penguatan, maka akan timbul gaya
Lorentz pada tiap sisi kumparan jangkar.Besarnya gaya Lorentz ini adalah
berbanding lurus dengan kecepatan fluks (B + Weber/m2), panjang sisi kumparan
(L = meter) dan arus yang mengalir (I = Ampere).
Secara matematis dapat dituliskan :
F = B x I x L (newton).......................................................................................(2.1)
Gaya Lorentz (F) ini menimbulkan torsi ( T = Newton Meter ) yang
menyababkan jangkar berputar.Besar torsi yang dihasilkan gaya Lorentz tersebut
adalah :
T = F x R (newton meter)..................................................................................(2.2)
.
Dimana : R = Jari jari rotor (Radius Jangkar)
Torsi ini dalam medan magnet menyebabkan jangkar berputar, dengan adanya
komutator arah arus dalam kumparan jangkar yang ada di bawah kutub sepatu
menuju arah yang sama, sehingga torsi yang dihasilkan searah pula.
Jangkar berputar akan memotong medan magnet sehingga menimbulkan GGL
padanya. GGL ini berlawanan arahnya dengan arah tegangan terminal, GGL
lawan ini (Eb) besarnya adalah :

Eb=

K=

n
K

(volt)...............................................................................(2.3)

P. Z
a .60

28

Dimana :
a

= Jumlah lintasan paralel melalui lilitan jangkar

= Jumlah kutub

= Jumlah keseluruhan konduktor pada lilitan jangkar

= kecepatan motor dalam rpm

= Konstanta Mesin

Besarnya kerja yang dapat dihasilkan motor secara umum dapat dilihat dari
persamaan di bawah ini :

VL = Eb + Ia . Ra

(volt)...........................................................................(2.4)

VL = Kn + Ia . Ra

(volt )

VLIa.Ra
(rpm)........................................................................(2.5)
n=

Dimana :
Ia = Arus jangkar (ampere)
Eb = GGL lawan (volt)
Ra = Tahanan jangkar(ohm)
= Fluksi per kutub(weber)
VL= Tegangan terminal(volt)

29

2.1.4. Jenis Jenis Motor DC


Motor Dc memiliki jenis-jenis, untuk jenis-jenis motor dc dapat dilihat
seperti gambar 2. 8 dibawah ini:

Gambar 2. 8 Jenis-Jenis Motor DC


(sumber :
http://blogs.itb.ac.id/el2244k0112211049briankristianto1/2013/04/27/lalala/)
A. Motor DC Penguatan Terpisah
Motor DC penguatan terpisah adalah motor yang mendapatkan arus
penguatan medan dari luar motor.Dimana karakterisktik keluaran motor sama
dengan motor shunt. Rangkaian ekivalent dari motor DC penguatan terpisah
seperti terlihat pada Gambar 2.9 di bawah ini.

Gambar 2. 9 Rangkaian ekivalent motor DC penguatan terpisah


(Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22382/3/Chapter
%20II.pdf)

30

Dari persamaan hukum tegangan Kirchoff untuk motor DC penguatan terpisah


adalah :
VL = K n + Ia . Ra

(volt)....................................................(2.6)

Torsi Motor :
T= K Ia

(newton meter)....................................................................(2.7)

T_
Ia= k

(ampere)..................................................................................................(2.8)

Dengan mensubtitusikan persamaan (2.6) disubtusikan ke persamaan (2.5)


VL = Kn + T Ra .........................................................................................................................(2.9)
k
Kecepatan motor adalah :
VL
n=

Ra

k - (K)2 (rpm)...............................................................................................(2.10)

Karakterisktik torsi kecepatan motor DC penguatan terpisah seperti terlihat pada


gambar di bawah ini :

Gambar 2. 10 Karakteristik motor DC penguatan terpisah


(Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22382/3/Chapter
%20II.pdf)
Pada gambar 2.10 menjelaskan karaktersitik motor DC penguat terpisah, dimana
tegangan inputnya bernilai konstan. Pada gambar 2.10 dapat dilihat perbandingan
antar kecepatan dan torsi motor DC penguat terpisah, semakin besar kecepatan
motor maka torsi motor akan semakin kecil dan semakin kecil kecepatan motor
maka torsi motor akan semakin besar.
B. Motor Arus Searah dengan Penguat Sendiri

31

Motor jenis ini yaitu jika arus penguat magnet diperoleh dari motor itu
sendiri. Berdasarkan hubungan lilitan penguat magnet terhadap lilitan jangkar
motor DC dengan penguat sendiri dapat dibedakan:
1. Motor DC Shunt
Motor DC shnt adalah motor yang mendapat arus penguatan dari dalam
motor itu sendiri, dihubungkan secara shunt. Karakteristik torsi kecepatan sama
seperti pada motor DC penguatan terpisah. Rangkaian ekivalent dari motor Dc
shunt dapat dilihat pada gambar 2.11
Motor DC shunt memiliki kecepatan yang hampir konstan pada tegangan
terminal jangkar (VL) konstan, walaupun terjadi perubahan beban, sering
digunakan untuk kipas angin, blower, pompa sentrifugal, elevator, mesin cetak,
dan lainlain.
Persamaan tegangan hukum Kirchoff unutk motor Dc shunt adalah :

VL = Eb Ia . Ra

(volt)..........................................................................(2.11)

Ia = IL If

(ampere)...........................................................................(2.12)

Dimana :
IL

= Arus yang ditarik oleh beban

If

= Arus medan penguatan

Torsi motor :
T= K n
Ia =

(newton meter )..................................................................(2.13)

VLEb
Ra

Kecepatan motor :
VL
Ra
K _
T
2
n=
(K)

(rpm ) .........................................................................(2.14)

32

Karakter kecepatan motor DC tipe shunt adalah :


1) Kecepatan pada prakteknya konstan tidak tergantung pada beban (hingga
torque tertentu setelah kecepatannya berkurang) dan oleh karena itu cocok
untuk penggunaan komersial dengan beban awal yang rendah, seperti
peralatan mesin.
2) Kecepatan dapat dikendalikan dengan cara memasang tahanan dalam
susunan seri dengan jangkar (kecepatan berkurang) atau dengan memasang
tahanan pada arus medan (kecepatan bertambah).

Gambar 2. 11 karakteristik torsi kecepatan motor Dc shunt.


(Sumber :http://zonaelektro.net/motor-dc/karakteristik-motor-dc-shunt/)

33

2.

Motor DC Seri
Motor DC seri adalah motor yang mendapatkan arus penguatan medan dari

dalam motor itu sendiri, dimana dihubungkan secara seri.Rangkaian ekivalen dari
motor DC seperti terlihat pada Gambar 2.12
Motor DC seri dapat memberikan momen yang besar waktu start dengan
arus yan kecil.Kecepatan motor seri akan menurun pada saat beban ditambahkan
dan kecepatan akan bertambah besar pada beban rendah atau tanpa beban dan hal
ini sangat berbahaya. Untuk kecepatan tanpa bebannya biasanya tidak boleh
tinggi.Dengan mengetahui sifat ini, motor seri paling baik digunakan untuk mesin
pengangkat dan beban beban jenis traksi.

Gambar 2. 12 Rangkaian ekivalent motor DC seri


(Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22382/3/Chapter
%20II.pdf)
Persamaan Hukum Kirchoff untuk motor DC seri adalah :

VL = Eb + Ia ( Ra + Rs )

(volt)...................................................................(2.15)

IL = Ia + I f

(ampere).............................................................(2.16)

Torsi motor :
T = K Ia

(newton meter)..................................................(2.17)

Kecepatan motor :
n=
_ Ia (Ra+ Rs)
VL
K
K

(rpm)............................................................(2.18)

34

Ia = T/ K
VL
n=

(Ra+Rs )

(rpm).......................................................................(2.19)

(K)2

Karakteristik torsi kecepatan motor DC seri seperti terlihat pada gambar di bawah
ini.
Karakter kecepatan dari motor DC tipe seri adalah :
1)
Kecepatan dibatasi pada 5000 RPM
2)
Harus dihindarkan menjalankan motor seri tanpa ada beban
sebab motor akan mempercepat tanpa terkendali.

Gambar 2. 13 Karakteristik torsi terhadap kecepatan motor DC seri


(Sumber.http://zonaelektro.net/motor-dc/karakteristik-motor-dc-seri/)

35

3. Motor Kompon
Motor Kompon DC merupakan gabungan motor seri dan shunt. Pada motor
kompon, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan secara paralel dan seri
dengan gulungan dinamo (A). Sehingga, motor kompon memiliki torque
penyalaan awal yang bagus dan kecepatan yang stabil. Makin tinggi persentase
penggabungan (yakni persentase gulungan medan yang dihubungkan secara seri),
makin tinggi pula torque penyalaan awal yang dapat ditangani oleh motor
ini.Dalam industri, motor ini digunakan untuk pekerjaan apa saja yang
membutuhkan torsi besar dan kecepatan yang konstan.
Karakter dari motor DC tipe kompon/gabungan ini adalah, makin tinggi
persentase penggabungan (yakni persentase gulungan medan yang dihubungkan
secara seri), makin tinggi pula torque penyalaan awal yang dapat ditangani oleh
motor ini.
Pada motor kompon mempunyai dua buah kumparan medan dihubungkan
seri dan paralel dengan angker. Bila motor seri diberi penguat shunt tambahan
seperti gambar dibawah disebut motor kompon shunt panjang.
Bila motor shunt diberi tambahan penguat seri seperti gambar dibawah
disebut motor kompon shunt pendek.

Gambar 2. 14 Karakteristik Kecepatan terhadap torsi motor dc kompon pendek


(Sumber : http://zonaelektro.net/motor-dc/karakteristik-motor-dc-kompongabung)
2.2

Relay
Relay adalah saklar (switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan
komponen electromechanical (elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama
yakni elektromagnet (coil) dan mekanikal (seperangkat kontak saklar/switch).

36

Relay menggunakan Prinsip elektromagnetik untuk menggerakkan kontak saklar


sehingga dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik
yang bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan relay yang menggunakan
elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan armature relay (yang
berfungsi sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A.
2.2.1

Bentuk dan Simbol Relay

Gambar 2. 15 Bentuk dan Simbol Relay


(Sumber : http://www.ebay.com/bhp/omron-relay-12v)

2.2.2 Prinsip Kerja Relay


Pada dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar yaitu :
1. Electromagnet (Coil)
2. Armature
3. Switch Contact Point (Saklar)
4. Spring

37

Berikut ini merupakan gambar dari bagian-bagian Relay :

Gambar 2. 16 Struktur Sederhana Relay


(Sumber :http://teknikelektronika.com/pengertian-relay-fungsi-relay/)
Kontak Poin (Contact Point) Relay terdiri dari 2 jenis yaitu:
a. Normally Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada
di posisi CLOSE (tertutup)
b. Normally Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada
di posisi OPEN (terbuka)
Berdasarkan gambar diatas, sebuah besi (Iron Core) yang dililit oleh sebuah
kumparan coil yang berfungsi untuk mengendalikan besi tersebut. Apabila
kumparan coil diberikan arus listrik, maka akan timbul gaya elektromagnet yang
kemudian menarik armature untuk berpindah dari posisi sebelumnya (NC) ke
posisi baru (NO) sehingga menjadi saklar yang dapat menghantarkan arus listrik
di posisi barunya (NO). Posisi dimana armature tersebut berada sebelumnya (NC)
akan menjadi OPEN atau tidak terhubung. Pada saat tidak dialiri arus listrik,
armature akan kembali lagi ke posisi awal (NC). Coil yang digunakan oleh Relay
untuk menarik contact point ke posisi close pada umumnya hanya membutuhkan
arus listrik yang relatif kecil.
2.2.3 Penggolongan Relay berdasarkan Pole dan Throw
Karena relay merupakan salah satu jenis dari Saklar, maka istilah Pole dan
Throw yang dipakai dalam Saklar juga berlaku pada Relay. Berikut ini adalah
penjelasan singkat mengenai Istilah Pole and Throw :
a.

Pole : Banyaknya kontak (contact) yang dimiliki oleh sebuah relay

38

b.

Throw : Banyaknya kondisi yang dimiliki oleh sebuah kontak (contact)

Berdasarkan penggolongan jumlah Pole dan Throw-nya sebuah relay, maka relay
dapat digolongkan menjadi :
1. Single Pole Single Throw (SPST): relay golongan ini memiliki 4 terminal, 2
terminal untuk saklar dan 2 terminalnya lagi untuk coil.
2. Single Pole Double Throw (SPDT): relay golongan ini memiliki 5 terminal, 3
terminal untuk saklar dan 2 terminalnya lagi untuk coil.
3. Double Pole Single Throw (DPST): relay golongan ini memiliki 6 terminal,
diantaranya 4 terminal yang terdiri dari 2 pasang terminal saklar sedangkan 2
terminal lainnya untuk coil. relay dpst dapat dijadikan 2 saklar yang
dikendalikan oleh 1 coil.
4. Double Pole Double Throw (DPDT): relay golongan ini memiliki terminal
sebanyak 8 terminal, diantaranya 6 terminal yang merupakan 2 pasang relay
spdt yang dikendalikan oleh 1 (single) coil. sedangkan 2 terminal lainnya
untuk coil. selain golongan relay diatas, terdapat juga relay-relay yang pole
dan throw-nya melebihi dari 2 (dua). misalnya 3pdt (triple pole double throw)
ataupun 4pdt (four pole double throw) dan lain sebagainya.

39

Untuk lebih jelas mengenai Penggolongan Relay berdasarkan Jumlah Pole


dan Throw, silahkan lihat gambar dibawah ini:

Gambar 2. 17 Jenis Relay berdasarkan Pole dan Throw


(Sumber : http://teknikelektronika.com/pengertian-relay-fungsi-relay/)
2.2.4 Fungsi Relay
Beberapa fungsi Relay yang telah umum diaplikasikan kedalam peralatan
Elektronika diantaranya adalah :
1. Relay digunakan untuk menjalankan Fungsi Logika (Logic Function)
2. Relay digunakan untuk memberikan Fungsi penundaan waktu (Time Delay
3.

Function)
Relay digunakan untuk mengendalikan sirkuit tegangan tinggi dengan

4.

bantuan dari signal tegangan rendah.


Ada juga Relay yang berfungsi untuk melindungi motor ataupun
komponen lainnya dari kelebihan tegangan ataupun hubung singkat (Short).

2.2 Indikator Lamp


Lampu tanda/indikator berfungsi untuk memberi tanda bagi operator bahwa
panel dalam keadaan kerja/bertegangan atau tidak. Warna merah sebagai tanda
panel dalam keadaan kerja, maka harus hati-hati. Sedangkan warna hijau bahwa
panel dalam keadaan ON arus mengalir kerangkaian beban listrik.

40

Gambar 2. 18 Lampu Indikator


(Sumber: www.kajianpustaka.com Listrik)
2.3 Transformator
Transformator atau trafo adalah alat yang memindahkan tenaga listrik antar
dua rangkaian listrik atau lebih melalui induksi elektromagnetik.

Gambar 2. 19 Transformator step-down


(Sumber :https://id.wikipedia.org/wiki/Transformator)

41

2.3.1

Prinsip Kerja Transformator


Transformator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.

Tegangan masukan bolak-balik yang membentangi primer menimbulkan fluks


magnet yang idealnya semua bersambung dengan lilitan sekunder. Fluks bolakbalik ini menginduksikan gaya gerak listrik (ggl) dalam lilitan sekunder. Jika
efisiensi sempurna, semua daya pada lilitan primer akan dilimpahkan ke lilitan
sekunder.

Gambar 2. 20 Hubungan primer-sekunder Transformator


(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Transformator)

42

2.3.2

Teori dasar Trafo(trafo ideal)

Secara teoritis, jika jumlah lilitan atau gulungan primer pada trafo sama
banyaknya dengan jumlah lilitan sekunder akan menyebabkan tegangan yang
ditimbulkan pada output trafo (kumparan sekunder) akan sama besar dengan
tegangan yang diberikan pada inputnya (kumparan primer). Jika Jumlah gulungan
primer lebih banyak dibandingkan jumlah lilitan sekunder akan menyebabkan
tegangan pada output (sekunder) trafo akan lebih kecil jika dibandingkan dengan
tegangan yang diberikan pada input trafo. Sebaliknya jika jumlah lilitan sekunder
lebih banyak dari pada jumlah lilitan primer akan menyebabkan tegangan pada
output akan lebih besar dibandingkan tegangan pada input trafo. Keadaan ini
dapat dituliskan secara matematis dengan rumus berikut:
V P IS
=
VS IP
Dimana :
Vp = Tegangan pada kumparan primer
Vs = Tegangan pada kumparan sekunder
Np = Jumlah lilitan pada kumparan primer
Ns = Jumlah lilitan pada kumparan sekunder
Lain halnya dengan keadaan di atas, arus yang ada pada kumparan
sekunder dan primer berlaku ketentuan yang berkebalikan. Jika kumparan primer
lebih besar dari pada kumparan sekunder maka arus primer akan lebih kecil dari
pada arus sekunder. Sebaliknya jika kumparan primer lebih sedikit dari pada
kumparan sekunder, maka arus primer akan lebih besar dari pada arus pada
kumparan sekunder. Secara matermatik hubungan antara Tegangan, jumlah lilitan
dan arus pada trafo dapat dirumuskan sebagai berikut.
V P IS N P
= =
V S I P NS

43

Dimana :
Vp

= Tegangan pada kumparan primer

Vs

= Tegangan pada kumparan sekunder

Np

= Jumlah lilitan pada kumparan primer

Ns

= Jumlah lilitan pada kumparan sekunder

Ip

= Arus pada kumparan primer

Is

= Arus pada kumparan sekunder

Jadi dengan mengatur jumlah lilitan yang ada pada kumparan primer dan
sekunder kita akan dapat menentukan berapa tegangan output trafo yang akan
dihasilkan. Dalam prakteknya seringkali tegangan yang ada pada output trafo
tersedia untuk beberapa jenis teganganan yaitu 0 volt, 6 volt, 12 volt, 15 volt, 20
volt, 25 volt dan 30 volt. Adapun tulisan 3A menandakan besarnya arus sekunder
trafo (arus output) 3 ampere.
2.4 Dioda

Gambar 2. 21 Dioda
(Sumber : http://komponenelektronika.biz/dioda-bridge.html/)
Dioda adalah komponen/part elektronik aktif yang dibuat dari bahan
semikonduktor yang berfungsi utama menyearahkan AC menjadi DC. Dioda
mempunyai dua elektroda, yaitu anoda (A) dan katoda (K). Dioda bersifat hanya
meluluskan satu potential/ polaritas tegangan dan menahan/tidak meluluskan
potential tegangan yang lainnya. Umumnya dioda dibuat dari bahan silikon, hanya
sebagian yang dibuat dari bahan germanium. Setiap dioda mempunyai
karakteristik tersendiri, yang meliputi karakteristik kemampuan dilalui arus
maximal tertentu, kemampuan dipekerjakan pada tegangan maximal tertentu,
respons terhadap frekwensi, bentuk fisik, dan lain-lain yang kesemuanya bisa
dilihat pada data karakteristik dioda yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya.

44

Penyearah Gelombang Penuh (4 dioda)


Penyearah gelombang penuh model jembatan memerlukan empat buah diode.
Prinsip kerja rangkaian penyearah gelombang penuh sistem jembatan dapat
dijelaskan melalui gambar berikut:

gambar 2. 22 Siklus positif Tegangan AC


Saat siklus positif tegangan AC, arus mengalir melalui dioda B menuju beban
dan kembali melalui dioda C. Pada saat yang bersamaan pula, dioda A dan D
mengalami reverse bias sehingga tidak ada arus yg mengalir atau kedua dioda
tersebut bersifat sebagai isolator.

gambar 2. 23 Siklus negatif Tegangan AC


Sedangkan pada saat siklus negatif tegangan AC, arus mengalir melalui dioda
D menuju beban dan kembali melalui dioda A. Karena dioda B dan C mengalami
reverse bias maka arus tidak dapat mengalir pada kedua dioda ini.
Kedua siklus ini terjadi berulang secara terus menerus hingga didapatkan
tegangan beban yang berbentuk gelombang penuh yang sudah disearahkan
(tegangan DC).

45

2.5 MCB

Gambar 2. 24 Miniature Circuit Breaker (MCB)


(Sumber : www.instalasilistrikrumah.com/mcb-sebagai-proteksi-dan-pembatasdaya-listrik-2/)
MCB merupakan kependekan dari Miniature Circuit Breaker. Biasanya
MCB digunakan untuk membatasi arus sekaligus sebagai pengaman dalam suatu
instalasi listrik. MCB berfungsi sebagai pengaman hubung singkat (korsleting)
dan juga berfungsi sebagai pengaman beban lebih. MCB akan secara otomatis
dengan segera memutuskan arus apabila arus yang melewatinya melebihi dari arus
nominal yang telah ditentukan pada MCB tersebut. Arus nominal yang terdapat
pada MCB antara lain 1A, 2A, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, 25A, 32A dan lain
sebagainya. Nominal MCB ditentukan dari besarnya arus yang bisa ia hantarkan.
Miniature Circuit Breaker adalah suatu alat pengaman pemutus rangkaian
kelistrikkan yang dapat bekerja secara otomatis. Miniature Circuit Breaker
berfungsi sebagai pengaman terhadap arus beban lebih atau hubung singkat atau
pengaman kedua-duanya dan sebagai sakelar yang berkemampuan untuk
mengatasi kenaikan beban sakelar.Miniature Circuit Breaker (MCB) adalah salah
satu macam circuit breaker yang dilengkapi dengan pengaman thermos (bimetal)
sebagai pengaman lebih dan juga dilengkapi pengaman magnetis untuk arus lebih
atau arus hubung singkat.
Terdapat macam-macam MCB yang diantar satu dengan yang lain
mempunyai sifat (karakteristik) yang berbeda-beda, sesuai dengan maksud
pemakaiannya. Macam-macam MCB antara lain : Type H,Z,G,B,K dan V.
MCB adalah komponen pengaman yang kompak, karena di dalamnya terdiri
2 pengaman sekaligus :

46

1. Pengaman beban lebih oleh bimetal


2. Pengaman arus hubung singkat oleh relay arus
2.6 Tombol Tekan (Push Button)
Tombol tekan merupakan jenis saklar yang dioperasikan dengan cara
menekan sebuah tombol.terdapat dua jenis kontak pada tombol tekan yaitu
Normally Close (NC) dan Normally Open (NO).
Masing-masing jenis kontak tombol tekan, dapat bekerja untuk membentuk
atau memutuskan sambungan selama sekejap. Sebuah tombol tekan yang
membentuk dan memutus sambungan selama sekejap hanya akan menutup dan
membuka kontaknya selama tombol masih ditekan. Ketika tombol dilepas maka
kontaknya akan kembali ke posisi semula. Gambar tombol tekan dapat dilihat
pada gambar berikut:
Gambar 2. 25 Tombol

Tekan

(Sumber :

www.kajianpustaka.com Listrik/)

47

2.7 Limit Switch


Limit switch adalah salah satu sensor yang akan bekerja jika pada bagian
aktuatornya tertekan suatu benda, baik dari samping kiri ataupun kanan.
Mempunyai micro switch dibagian yang berfungsi untuk mengontakkan atau
sebagai pengontak. Terdapat dua jenis kontak pada limit switch kontak Normally
Open (NO) dan kontak Normally Close (NC). Gambar merupakan gambar sebuah
limit switch.

Gambar 2. 26 Bentuk Limit Switch


(Sumber :https://en.wikipedia.org/wiki/Limit_switch)
2.8 Kabel / Penghantar
Jenis Kabel dan Penggunaannya
Penggunaan kabel dalam teknik elektronika mempunyai peranan yang sangat
penting, kita tidak disarankan menggunakan kabel sembarangan sebelum kita
mengetahui kontruksi dan karakteristik kabel yang akan kita gunakan, dengan
memperhatikan tersebut diharapkan kita akan mendapatkan hasil maksimal dari
usaha kita.
Kabel berdasarkan fungsinya digunakan untuk :
1. Penghantar arus listrik tenaga (Power Cable)
2. Penghantar arus listrik data dan informasi
Ada tiga hal penting yang ada pada kabel diantaranya:
1. Penghantar (konduktor): Media untuk menghantarkan arus listrik
2. Isolator: Bahan dielektrik untuk mengisolasi dari penghantar yang satu
terhadap yang lain dan juga terhadap lingkungan lingkungannya.

48

3. Pelindung luar: Memberikan perlindungan terhadap kerusakan mekanis,


pengaruh bahan- bahan kimia elektrolisis, api atau pengaruh pengaruh luar
lainnya yang merugikan.

2.9 IC 7805 Regulator

Gambar 2. 27 IC 7805 Regulator


(Sumber : http://www.engineersgarage.com/electronic-components/7805-voltageregulator-ic)
Tabel 2. 1 Penjelasan Kaki-kaki IC Regulator LM 7805
NO. PIN
1
2
3

Function
Tegangan Input (5V-18V)
Ground
Tegangan Output; 5V (4,8V-5,2V)

Name
Input
Ground
Output

Regulator ini berfungsi untuk menurunkan tegangan dengan menghasilkan


tegangan output stabil 5 volt dengan syarat tegangan input yang diberikan mininal
7-8 V (lebih besar dari tegangan output) sedangkan batas maksimal tegangn
output yang dihasilkan tidak akan stabil atau kurang dari 5 volt,arus maksimum
dari IC 7805 = 1 A
2.10 Sensor
Sensor adalah suatu komponen yang digunakan untuk mendeteksi adanya
perubahan lingkungan fisik atau kimia. Dimana variabel keluaran dari
sensor yang diubah menjadi besaran listrik disebut Transduser.
Pada saat ini, sensor memliki ukuran yang sangat kecil dan sangat
memudahkan pemakaian dan menghemat energi.
2.10.1 Komparator
Komperator merupakan pembanding antara dua sinyal yaitu Tegangan
Input terhadap nilai referensinya. Op-Amp pada komperator digunakan
tidak linear, dan ouput dari keluaran sinyal ini berupa 0V dan 5V.

Jika Tahanan LDR/Tahanan air kecil maka tegangan V- akan kecil.


49

jika Tahanan LDR /Tahanan air besar maka tegangan V- akan besar
(mendekati nilai Vcc).

Gambar 2. 28 Komparator
(Sumber : http://ilham-kn.blogspot.co.id/2013/12/komparator.html)
Trimpot adalah komponen pembagi tegangan dengan mengubah nilai
resistansi yang ada di dalamnya. Dalam rangkaian ini maka nilai trimpot akan
berkisar antara 5 volt sampai 0 volt. Nilai tegangan trimpot ini akan
mempengaruhi nilai V+ yang diterima komparator sebagai nilai referensi
komparator.
Komparator dalam rangkaian ini berfungsi untuk menghasilkan tegangan
sebesar 0 volt atau 5 volt pada output komparator.
Jika V+ lebih dari V- maka output komparator = 5 volt
Jika V+ kurang dari V- maka output komparator = 0 volt.
Misal kita mengatur besar V+ dengan cara memutar putaran pada trimpot
hingga dihasilkan tegangan sebesar 3.5 volt. Pada saat intensitas infrared besar
yang

mengakibatkan

tahanan

LDR

mengecil

menjadi

10

kOhm

dan

mengakibatkan V- = 2.5 volt maka output komparator menjadi 5 volt. Pada saat
intensitas infrared kecil yang mengakibatkan tahanan LDR membesar menjadi
150 kOhm dan mengakibatkan V- = 4.7 volt maka output komparator menjadi 0
volt.

50

2.10.2 Sensor Cahaya (LDR)

Gambar 2. 29 Sensor Cahaya


Spesifikasi
Tegangan Input
Tegangan output
Arus sensor

=5V
= 0-5 V
= 20 mA

Gambar 2. 30 Komparator Sensor Cahaya


Sensor cahaya adalah alat yang digunakan dalam bidang elektronika yang
berfungsi untuk mengubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. Sensor cahaya
LDR (Light Dependent Resistor) merupakan suatu jenis resistor yang peka
terhadap cahaya. Nilai resistansi LDR akan berubah-ubah sesuai dengan intensitas
cahaya yang diterima. Jika LDR tidak terkena cahaya maka nilai tahanan akan
menjadi besar (sekitar 10M) dan jika terkena cahaya nilai tahanan akan menjadi
kecil (sekitar 1k)
2.10.3 Sensor Air
Sensor Air sama hal nya seperti sensor cahaya, sensor air hujan juga digunakan
untuk mendeteksi dan mengetahui kondisi cuaca ketika hujan. Sensor air hujan
51

dibuat dengan memanfaatkan konduktivitas air hujan sehingga apabila bagian


tersebut terkena air hujan, maka rangkaian akan tersambung (sensor aktif). Pada
saat air hujan mengenai panel sensor, maka akan terjadi proses elektrolisasi oleh
air tersebut karena air termasuk kedalam cairan elektrolit yaitu cairan yang
dapatm enghantarkan arus listrik. Sensor air ini dibuat menggunakan papan PCB
yang jalur nya berliku-liku, agar air yang mengenai jalur tersebut dapat menyatu
dan menghantarkan arus listrik. Sensor air hujan berfungsi untuk memberikan
nilai masukan pada tingkat elektrolisasi air, dimana air air akan menyentuh ke
panel sensor air. Untuk menghindari karat atau tertutup kotoran yang
menyebabkan sensor tidak bekerja, jalur tersebut harus dilapisi timah atau apa saja
yang dapat menyatu dengan jalur tersebut dan dapat mengantarkan arus listrik.

Gambar 2. 31 Sensor Air


Tegangan Input
Tegangan output
Arus sensor

=5V
= 0-5 V
= 20 mA

52

Gambar 2. 32 Komparator Sensor Air


2.10.4 Relay modul
Relay modul adalah relay yang berfungsi sebagai penerima sinyal output
dari sensor-sensor, dimana sinyal tersebut berupa tegangan 0 volt (logika
0) dan tegangan 5 volt(logika 1).

Gambar 2. 33 Relay Modul


Relay modul juga berfungsi sebagai saklar dari putar balik Motor
penggerak. Relay modul ini memiliki satu kontak NO dan kontak NC.
Spesifikasi:
Vin = 5 volt
Arus relay = 30 mA

2.11

Baterai

Gambar 2. 34 Baterai
(Sumber :https://www.tokopedia.com/bjd/aki-10ah-12v-gs-astra)

53

Baterai adalah perangkat yang mengandung sel listrik yang dapat


menyimpan energi yang dapat dikonversi menjadi daya. Baterai menghasilkan
listrik melalui proses kimia. Baterai atau akkumulator adalah sebuah sel listrik
dimana didalamnya berlangsung proses elektrokimia yang reversible (dapat
berkebalikan) dengan efisiensinya yang tinggi. Yang dimaksud dengan reaksi
elektrokimia reversibel adalah didalam baterai dapat berlangsung proses
pengubahan kimia menjadi tenaga listrik (proses pengosongan) dan sebaliknya
dari tenaga listrik menjadi tenaga kimia (proses pengisian) dengan cara proses
regenerasi dari elektroda-elektroda yang dipakai yaitu, dengan melewatkan arus
listrik dalam arah polaritas yang berlawanan didalam sel. Baterai terdiri dari dua
jenis yaitu, baterai primer dan baterai sekunder. Baterai primer merupakan baterai
yang hanya dapat dipergunakan sekali pemakaian saja dan tidak dapat diisi ulang.
Hal ini terjadi karena reaksi kimia material aktifnya tidak dapat dikembalikan.
Sedangkan baterai sekunder dapat diisi ulang, karena material aktifnya didalam
dapat diputar kembali. Kelebihan dari pada baterai sekunder adalah harganya
lebih efisien untuk penggunaan jangka waktu yang panjang.
Baterai biasanya bisa digunakan sebagai catu daya alternatif dalam bidang
kelistrikan.
2.11.1 Jenis-Jenis Baterai
A. Baterai Asam (Lead Acid Storage Acid)
Baterai asam yang bahan elektrolitnya adalah larutan asam belerang (sulfuric acid
= H2SO4) . Didalam baterai asam, elektrodaelektroda nya terdiri dari platplat
timah peroksida PbO2 (Lead Peroxide) sebagai anoda (kutub positif) dan timah
murni Pb (lead sponge) sebagai katoda (kutub negatif).
Ciri-ciri umumnya:
a.
b.
c.
d.

Tegangan nominal per sel 2 volt


Ukuran baterai per sel lebih besar dibandingkan dengan baterai alkali.
Nilai berat jenis elektrolit sebanding dengan kapasitas baterai.
Suhu elektrolit sangat mempengaruhi terhadap nilai berat jenis elektrolit,

semakin tinggi suhu elektrolit semakin rendah berat jenis dan sebaliknya.
e. Nilai jenis berat standart elektrolit tergantung dari pabrik pembuatnya.
f. Umur baterai tergantung pada operasi dan pemeliharaan biasanya bisa
mencapai 1015 tahun.
g. Tegangan pengisian per sel harus sesuai dengan petunjuk operasi dan
pemeliharahan dari pabrik pembuat.
Sebagai contoh adalah:

54

1.
2.
3.
4.
5.
B.

Pengisian awal (Initial Charge) : 2,7 volt


Pengisian Floating : 2,18 volt
Pengisian Equalizing : 2,25 volt
Pengisian Boozting : 2,37 volt
Tegangan pengosongan per sel (Discharge) : 2,01,8 volt
Baterai Basa/Alkali (Alkaline Storage Battery) Baterai alkali bahan
elektrolitnya adalah larutan alkali (Potassium Hydroxide) yang terdiri dari:
a. Nickel iron alkaline battery Ni-Fe Battery.
b. Nickel cadmium alkaline battery Ni Cd Battery Pada umumnya yang paling
banyak digunakan adalah baterai alkali admium (NiCd) Ciri-ciri umum
(tergantung pabrik pembuat) adalah sebagai berikut:
a. Tegangan nominal per sel adalah 1,2 volt
b. Nilai jenis berat elektroit tidak sebanding dengan kapasitas baterai.
c. Umur baterai tergantung pada penggunaan dan perawatan, biasanya dapat
mencapai 15-20 tahun.
d. Tegangan pengisian per sel harus sesuai dengan petunjuk operasi dan
pemeliharahan dari pabrik pembuat. Sebagai contoh adalah:
- Pengisian awal (Initial Charge) : 1,61,9 volt
- Pengisian Floating : 1,40 1,42 volt
- Pengisian Equalizing : 1,45 volt
e. Tegangan pengosongan (discharge) = 1 volt

2.11.2 Teori dasar Perhitungan kapasitas Baterai


Kapasitas baterai merupakan kemampuan baterai menyimpan daya listrik atau
besarnya energi yang dapat disimpan dan dikeluarkan oleh baterai. Besarnya
kapasitas, tergantung dari banyaknya bahan aktif pada plat positif maupun plat
negatif yang bereaksi, dipengaruhi oleh jumlah plat tiap-tiap sel, ukuran, dan tebal
plat, kualitas elektrolit serta umur baterai. Kapasitas energi suatu baterai
dinyatakan dalam ampere jam (Ah), misalkan kapasitas baterai 100 Ah 12 volt
artinya secara ideal arus yang dapat dikeluarkan sebesar 5 ampere selama 20 jam
pemakaian. Besar kecilnya tegangan baterai ditentukan oleh besar/banyak
sedikitnya sel baterai yang ada di dalamnya. Sekalipun demikian, arus hanya akan
mengalir bila ada konduktor dan beban yang dihubungkan ke baterai. Kapasitas
baterai juga menunjukan kemampuan baterai untuk mengeluarkan arus
(discharging) selama waktu tertentu, dinyatakan dalam Ah (Amperehour).
Berarti sebuah baterai dapat memberikan arus yang kecil untuk waktu yang lama
atau arus yang besar untuk waktu yang pendek. Pada saat baterai diisi (charging),
terjadilah penimbunan muatan listrik. Jumlah maksimum muatan listrik yang
dapat ditampung oleh baterai disebut kapasitas baterai dan dinyatakan dalam

55

ampere hour. Muatan inilah yang akan dikeluarkan untuk menyuplai beban ke
pelanggan.
Kapasitas baterai dapat dinyatakan dengan persamaan dibawah ini :
Ah = Kuat Arus (ampere) x waktu (hours)
Dimana : Ah = kapasitas baterai aki
I = kuat arus (ampere)
t = waktu (jam/sekon)
BAB 3
PERENCANAAN KONSTRUKSI DAN PEMBUATAN ALAT

3.1 Blok Diagram


Diagram blok ini menjelaskan bagaimana jemuran melakukan penjemuran
kain.
3.1.1

Mode Manual
Jemuran akan dioperasikan secara manual dimana push button S1

digunakan untuk mengeluarkan jemuran ke daerah penjemuran, dan push button 2


digunakan untuk memasukan jemuran ke dalam ruangan.

56

Gambar 3. 1 Flowchart Jemuran operasi Manual

3.1.2

Mode otomatis
Jemuran akan dioperasikan dengan mode otomatis, dimana ketika sensor

menangkap cahaya melebihi nilai referensi atau S1=1 maka jemuran akan keluar
menjemur pakaian, lalu ketika hujan datang S2=1 maka jemuran akan masuk.
Dapat kita lihat pada flowchart.

57

Gambar 3. 2 Flowchart Mode Otomatis

58

3.2 Deskripsi Kerja


A. Pada Saat Penjemuran (Hari Cerah)
Gambar ini menjelaskan kondisi mula-mula atau kejadian pada saat
penjemuran. Dimana ketika cuaca terang atau keadaan cerah maka alat bekerja
untuk menjemur pakaian.

Gambar 3. 3 Keadaan Jemuran pada Saat Cerah

59

B. Pada Saat Penjemuran (Hari Mendung)


Pada saat mendung atau akan hujan maka sensor akan bekerja dengan
medeteksi jumlah cahaya apakah cuaca mendukung untuk melakukan proses
penjemuran namun ketika cuaca benar benar tidak mendukung maka alat akan
bekerja, sehingga pakaian akan masuk ke dalam atap teras.

Gambar 3. 4 Keadaan Jemuran pada Saat Mendung

60

C. Pada Saat Hujan


Pada saat hujan, otomatis alat akan bekerja dan masuk ke dalam. Karena
sensor air akan mendeteksi hujan yang ditangkap oleh sensor. Sehingga tidak
cocok melakukan penjemuran, maka pakaian masuk ke dalam atap teras.
Walaupun dalam keadaan hujan dengan cuaca cerah.

Gambar 3. 5 Keadaan Jemuran pada Saat Hujan

61

3.3 Alat Dan Bahan Yang Digunakan


Dalam pembuatan alat penjemuran kain otomatis, alat dan bahan harus
dipersiapkan dengan baik agar memudahkan dalam pengerjaan dan perancangan
alat yang akan dibuat. Berikut adalah alat dan bahan yang akan digunakan:

3.3.1

Alat-Alat Yang Digunakan


Tabel 3. 1 Alat-alat yang Digunakan
Peralatan yang

No

digunakan
AVO Meter
Gergaji besi
Mesin Bubut
Mesin bor
Mesin bubut
Las listrik
Obeng set
Palu
Penggaris
Pensil tukang
Solder listrik
Tang set
Testpen

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Spesifikasi

Unit

Jumlah

Positif dan Negatif


-

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Set
Buah
Buah
Buah
Buah
Set
Buah

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

3.3.2 Bahan-Bahan Yang Digunakan.


Bahan dan komponen yang digunakan merupakan komponen listrik yang
digunakan dengan fungsinya masing-masing.
Tabel 3. 2 Bahan-bahan yang Digunakan
No

Bahanyang digunakan

Spesifikasi

Unit

1.

Jemuran

Buah

62

Jumla
h
1

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Sensor Cahaya
Sensor Air
Relay
Motor DC
Timer
Panel
Gear Box
Kabel total

NYAF
NYA

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Meter

1
1
1
1
1
1
1
20

10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
16.
17.
18.

MCB
Fuse 10 A
Trafo
Wiring Channel
Push Button
Lampu Tanda
Besi Rangka Motor
Roda karet mati
Roda Gigi
Dioda
Baterai

6A
5 Ah

Buah
Buah
Buah
Meter
Buah
Buah
Meter
Buah
Buah
Buah
Buah

1
1
1
0,5
2
2
5
4
1
1
1

3.4 Spesifikasi Komponen Khusus yang Digunakan


3.4.1

Kotak Panel

Gambar 3. 6 Kotak Panel

a. Ukuran panel
63

Panjang

: 20 cm

Lebar

: 15 cm

Tinggi

: 30 cm

b. Pintu panel
Lampu tanda

: 1 buah

Tombol tekan

: 2 buah

Toggle switch

: 1 buah

64

3.4.2

Supply
A. PLN
PLN merupakan sumber utama, dimana sumber AC 220 volt di
turunkan menggunakan trafo menjadi 12 volt,dan disearahkan
menggunakan Dioda Bridge, sehingga dihasilkan tegangan DC
sebagaimana dapat dilihat pada gambar 3.7 dibawah ini :

Gambar 3. 7 Penyearah Gelombang Penuh


(Sumber : http://elektronika-dasar.web.id/konsep-dasar-penyearahgelombang-rectifier/)
Veff
= 12 V AC
Vm= Veff 2
12 2 V
= 16,9705 V
Vdc=

2(VmV dioda )

2(16,87052 x 0.7)

9,848 V
Maka tegangan yang dihasilkan adalah 9,848 V

B. BATERAI

65

Baterai 12 volt digunakan sebagai backup daya,dimana pertukaran


supply dilakukan oleh ChangeOver Berdasarkan data.C.
RANGKAIAN CATU DAYA

BEBAN

Gambar 3. 8 Rangkaian Catu Daya

66

Pada perancangan ini menjelaskan bagaimana dalam memilih komponen catu


daya yang digunakan.

1. Trafo
Pemilihan Trafo adalah berdasarkan arus beban, rating arus trafo
yang digunakan lebih besar dari arus bebannya
I beban=I maksimal motor+ I Kontrol
5 A +0.45 A
5.45 A

maka trafo yang digunakan adalah trafo 6 A


2. Dioda jembatan
Pemilihan dioda adalah berdasarkan arus beban,rating arus dioda
yang digunakan lebih besar dari arus bebannya
I beban=I maksimal motor+ I Kontrol
5 A +0.45 A

5,45 A
maka dioda yang digunakan adalah dioda 10 A
3. MCB dan Fuse
Maka Arus primer trafo adalah,
V P IS
=
VS IP
I p=

V s. I s
Vp

I p=

12 V x 5,45 A
220

I p =0,2973 A
Rating arus MCB
In MCB

= 110 % x I beban,
= 110 % x 0,2973
= 0.327 A

Karena MCB 0.327 A tidak tersedia dipasaran,maka dapat digunakan


rating MCB sebesar 2 A
Fuse
I fuse = 135 % I beban
I fuse = 1,35 x 5,45

67

= 7,3575 A
Karena Fuse 7,3575 tidak tersedia dipasaran,maka dapat
digunakan rating fuse sebesar 10 A

68

3.4.3

Motor Power Window

Untuk gambar motor dc yang digunakan dapat dilihat pada gambar 3.10 berikut:

Gambar 3. 9 Motor Power Window


Gambar Konstruksi motor dc yang digunakan dapat dilihat seperti gambar 3.11
dibawah ini :

Gambar 3. 10 Konstruksi Motor Power Window


(Sumber :https://indonesian.alibaba.com/product-detail/permanent-magnet-12vdc-power-window-motor-217789626.html)
Tabel 3. 3 Spesifikasi Motor Power Window
Rating
Tegangan
(V)

12

Tidak berbeban

Rating beban

Kecepata
n
(r.p.m)

Arus
(A)

Torsi
(Kgf. cm)

Kecepatan
(r.p.m)

Arus
(A)

90

30

70 20

69

3.5 Perancangan Konstruksi

Gambar 3.11 Desain Kerangka Penggerak dari Jemuran Otomatis (Tampak Atas)

Gambar 3. 12 Desain dari Jemuran Otomatis (Tampak Samping)

70

Gambar 3. 13 Desain Rel dari Jemuran Otomatis

3.6 Perhitungan Berat Jemuran Otomatis


Tabel 3. 4 Perhitungan Berat Kain
JENIS KOMPONEN

BERAT

JEMURAN

8 KG

ALUMINIUM
CHASSIS MOTOR

25 KG

PENGGERAK
KAIN MAKSIMAL

KERING
< 15 KG

BASAH
< 100 KG

TOTAL

48 KG

133 KG

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini dibahas mengenai percobaan dan hasil dari pengujian pada
alat serta analisa hasil pengujian pada jemuran. Pengujian dilakukan untuk
mengetahui apakah sistem dapat berjalan sebagaimana mestinya dengan
lingkungan uji coba yang telah ditentukan serta dilakukan sesuai dengan skenario
uji coba.
4.1 Analisa Pengujian dan Pengukuran.
Adapun beberapa pengujian yang dilakukan yaitu pengunaan mode manual dan
otomatis pada jemuran, kecepatan motor terhadap Beban, Responsi sensor cahaya
dan sensor hujan.

71

4.1.1

Analisa Daya Tahan Baterai


Untuk catu daya utama, menggunakan PLN sebagai sumber utama. Namun untuk
catu daya backup digunakan lah baterai sebagai sumber sekunder bila PLN tidak
beroperasi (Listrik Padam), lama penggunaan baterai yang diinginkan sekitar 5
hari.
Maka dapat dihitung berapa kapasitas baterai yang dibutuhkan terhadap beban
rata-rata jemuran selama satu hari sebesar 50 kg maka I beban 2A sesuai dengan
tabel hasil percobaan Tabel 4.6
Dik

Lama penggunaan baterai yang di inginkan = 5 hari


I beban motor
=2A
Dit
:
Berapa besar Ah yang dibutuhkan selama 5 Hari ?
Jawab :
Waktu penggunaan
= 2 x 8.71 s (keluar dan masuk)
= 17,42 s
Ah motor / hari
= 2 A x 17,42 / 3600 s
= 0,0096 Ah
I sensor
= 0. 2 A
Waktu Penggunaan
= 8 jam
Ah sensor / hari
= 0.2 x 8
= 1.6 Ah
Ah sistem / hari
= Ah motor / hari + Ah sensor / hari
= 0,0096 + 1,6
= 1,6096 Ah
Ah sistem 5 hari
= 5 x Ah sistem / hari
= 5 x 1,6096
= 8,048 Ah
Karena baterai 8,048 tidak tersedia dipasaran,maka baterai yang dapat
digunakan adalah baterai 10 Ah
4.1.2

Pengujian Mode Manual


Pada saat mode manual, motor akan bekerja dengan bantuan operator atau
bantuan manusia untuk menekan tombol tekan, jemuran kain bergerak maju atau
menjemur pakaian ke daerah penjemuran dengan menekan tombol tekan S1 dan
akan masuk ke dalam ruangan (bergerak mundur) bila kita menekan tombol tekan
S2.

4.1.3

Pengujian Mode Otomatis


Adapun data hasil pengamatan dari alat Jemuran Kain Otomatis dengan Sensor
Cahaya dan Air adalah sebagai berikut:
Tabel 4. 1 Pengamatan Alat Jemuran Kain dengan Sensor Cahaya dan Air
Input
No

Output

Sensor 1
(Sensor Cahaya)

Sensor 2
(Sensor Air)

Jemuran

1.

Terang

Cerah

Keluar (bergerak Maju)

2.

Gelap

72
Cerah

Masuk (bergerak Mundur)

3.

Terang atau Gelap

Hujan

Masuk (Bergerak Mundur)

4. Sensor cahaya
Berdasarkan hasil pengujian sensor cahaya didapat hasil keluaran yaitu ketika
sensor terkena cahaya terang = high ketika sensor tidak terkena cahaya
(gelap/malam) = low untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. 2 Logika Kondisi Sensor Cahaya
Kondisi Sensor

Logika

Cahaya > Nilai referensi

High

Cahaya < Nilai referensi

Low

Tabel 4. 3 Hasil

Pengukuran

Tegangan Keluaran (Vout) Sensor Cahaya pada Jemuran terhadap Tegangan


Masukan (Vin) Sensor
Kondisi Tidak Terkena

Sensor

Kondisi Terkena Cahaya

Cahaya

Cahaya
( gelap/malam)
Vin
Vout
Logika

Ke-

Vin

Vout

Logika

1.

5V

4,23 V

High

5V

0,65V

Low

2.

5V

4,49 V

High

5V

0,89V

Low

3.

5V

4,88 V

High

5V

0,52V

Low

4.

5V

4,72 V

High

5V

0,22V

Low

5.

5V

4,18 V

High

5V

0,17V

Low

Nilai rata-rata Vout

High = 4,5 V

Low = 0,45 V

Pengujian sensor cahaya diambil ketika malam hari dan siang hari
Keterangan :
Vin
= Tegangan VCC dari power supply
Vout
= Tegangan dari sensor cahaya

73

Perubahan Tegangan Keluaran (Vout) Sensor Cahaya

3
Vin

Vout(High)

Vout(Low)

Grafik 4. 1Perubahan Tegangan Output(Vout) Sensor Cahaya terhadap Tegangan


Masukan (Vin) Sensor
5. Sensor Air
Berdasarkan hasil pengujian sensor hujan tidak jauh berbeda dengan
sensor cahaya yang dimana sensor hujan nilai hambatan yang sudah ditetapkan
besar hambatan maksimal dan minimal besar hambatan sama dengan hasil
keluaran yaitu ketika sensor hujan terkena tetesan air hujan maka = high ketika
sensor tidak terkena tetesan air hujan maka = low. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. 4 Logika Kondisi Sensor Hujan
Kondisi Sensor

Logika

Terkena Tetesan Air Hujan

High

Tidak Terkena Tetesan Air Hujan

Low

74

Tabel 4. 5 Hasil Pengukuran Tegangan Keluaran (Vout) Sensor Air pada Jemuran
terhadap Tegangan Masukan (Vin) Sensor
Sensor

Kondisi Tidak Terkena Air

Kondisi Terkena Air

Air
Ke-

Vin

Vout

Logika

Vin

(Kering)
Vout
Logika

1.

5V

4,56 V

High

5V

0,01V

Low

2.

5V

4,62 V

High

5V

0,02V

Low

3.

5V

4,69 V

High

5V

0,02V

Low

4.

5V

4,79 V

High

5V

0,03V

Low

5.
Jumlah

5V

4,68 V

High

5V

0,02V

Low

rata-rata

High = 4, 66 V

Low = 0,02 V

Vout

Tegangan Keluaran (Vout) Sensor Air


5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0

2
Vin

3
Vout(High)

Vout(Low)

Grafik 4. 2 Grafik Perubahan Tegangan keluaran (Vout) Sensor Hujan Terhadap


Tegangan Masukan (Vin) Sensor

Pengukuran Pergerakan Motor pada Jemuran terhadap Beban

75

Pengujian pergerakan motor pada jemuran dilakukan untuk mengetahui kecepatan


dan Arus alat pengangkut pakaian pada jemuran otomatis terhadap beban berat
yang dibawa. Dan hasil pengujiannya sebagai berikut:
Tabel 4. 6 Hasil Pengujian Pergerakan Motor pada Jemuran terhadap Beban
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Berat

Waktu

Kecepatan

(Kg)
0 Kg
25 Kg
50 Kg
75 Kg
100 Kg
125 Kg
150 Kg
175 Kg
200 Kg
225 Kg

(Detik)
8,35
8,56
8,71
8,93
9,11
9,45
10,2
10,6
10,8
11,2

(m/s)
0,515
0,502
0,493
0,481
0,472
0,455
0,421
0,405
0,398
0,383

Arus (A)
1,2
1,6
2
2,6
2,8
3,2
3,6
3,7
4,6
5,0

0.6
0.5
0.4
KecepATAN (m/s)

0.3
0.2
0.1
0

1.5

2.5

3.5

4.5

5.5

ARUS (a)

Grafik 4. 3 Kecepatan terhadap Arus Beban


BAB 5
PENUTUP
5.1 SIMPULAN
Setelah mengerjakan tugas akhir ini, dapat diambil kesimpulan, antara lain:
1. Jemuran otomatis ini mampu bergerak maju mundur sesuai dengan kondisi
cuaca.
2. Jemuran otomatis mempunyai kapasitas penjemur hingga 200 kg.

76

3. Backup catudaya yang digunakan alat ini adalah Baterai 5 Ah sehingga


lama pemakaian baterai adalah sekitar 2 hari 4 jam (1 hari=8 jam) secara
kontinu.
4. Sensitivitas sensor dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan
penjemuran.
5.2 SARAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab IV, maka kami menyarankan:
1) Dibutukan pencharger baterai demi mendukung kehandalan supply.
2) Untuk rangkaian otomatisasi bisa dikembangkan dengan mengunakan
kontroller yaitu mikrokontroller atau PLC.

77

DAFTAR PUSTAKA

George dan Winder Steve. 2005. Operational Amplifiers Edisi Kelima, Jakarta :
Erlangga.
Kingsley, Umans D. Stephen, Djoko Achyanto. 1997. Mesin-Mesin Listrik, Edisi
Keempat, Jakarta: Erlangga.
Rasyid, Krisna, 1988/ Dasar-Dasar Perata Dioda dan Penguat Transistor,
Bandung: Carya Ramadja.
Theraja. 2005, Ac and Dc Machine Volume II, Jakarta: S. Chand.
Motor Dc diakses melalui internet
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22382/3/Chapter%20II.pdf
Transformator diakses melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Transformator
Sensor diakses melalui internet https://id.wikipedia.org/wiki/Sensor

78

LAMPIRAN

79

80

81

82

83

84

85