Anda di halaman 1dari 57

UNIT COMMITMENT

Operasi pusat-pusat pembangkit didalam sistem tenaga, selalu harus


dikoordinasikan saat dilakukan pembebanan/penjadwalan pembangkit secara
optimum ekonomi pada setiap perubahan beban dalam interval waktu untuk
siklus waktu tertentu.

Penjadwalan optimum disini dapat memberikan kemungkinan suatu kombinasi


tertentu dari unit-unit pembangkit yang dijadwalkan pada beban tertentu karena
dari perhitungan optimum untuk beberapa kombinasi unit-unit pembangkit dengan
kapasitas total cukup untuk menanggung beban saat itu, kombinasi tersebut
ternyata paling murah biaya produksinya
Penjadwalan ini menentukan unit pembangkit mana yang commit (ON) dan unit
mana yang decommit (OFF). Penjadwalan unit-unit pembangkit ini disebut
dengan UNIT COMMITMENT

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Konstrain Pada Unit Commitment


A. Cadangan Berputar (Spinning Reserve) Pembangkit
Merupakan cadangan daya yang harus diperhitungkan dari unit-unit
pembangkit yang beroperasi (Commit), dimana apabila ada salah satu unit
yang mengalami kegagalan operasi (jatuh/trip) maka daya yang berkurang
akibat kegagalan operasi dari unit tersebut dapat ditanggulangi oleh
cadangan daya dari semua unit yang masih beropersi.
B. Kendala (constraints) Unit Thermal
Minimum Up Time
Merupakan interval waktu minimum dimana suatu unit yang baru ON
(terhubung ke sistem) tidak boleh dilepas (OFF) kembali sebelum
melewati batas uptime nya.

Minimum Down Time


Merupakan interval waktu minimum dimana suatu unit yang baru saja
dilepas dari jaringan (OFF) tidak boleh dihubungkan kembali (ON)
seblum melewati batas down time nya
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

C. Biaya Start (Start Up Cost).


Biaya start ini adalah biaya yang diperlukan oleh pembangkit untuk start dari
keadaan tidak beroperasi sampai pembangkit beroperasi (terhubung kesistem
tenaga listrik)
a. Biaya start pada kondisi dingin

Kondisi ini terjadi karena saat pembangkit dilepas dari sistem (tidak
beroperasi) tempratur boiler dibiarkan turun dari tempratur kerjanya,
sehingga pada saat akan beroperasi kembali baru dilakukan pemanasan
kembali.
Biaya Start = Cc(1-e-t/a)F + Cf
Dimana:
Cc = Cold Start Cost (MBtu)
F = Fuel Cost
Cf = Fixed Cost
t
= waktu selama unit dingin (dihitung dari awal unit tidak beroperasi)
a = thermal time constan

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

b. Biaya start pada kondisi tempratur boiler dijaga pada tempratur kerjanya

Kondisi ini terjadi saat pembangkit dilepas dari sistem tempratur boiler tetap
dijaga pada tempratur kerjanya.

Biaya Start = Ct . t .F + Cf
Dimana:
Ct = biaya untuk mempertahankan tempratur kerja (MBtu/jam)

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Metode-Metode Penyelesaian Unit Commitment


Pada penjadwalan unit-unit pembangkit yang akan beroperasi (to Commit),
pembagian pembebanannya harus dalam keadaan optimum ekonomi melalui
suatu kombinasi dari unit-unit tersebut, kemudian baru dipilih kombinasi mana
yang termurah biaya operasinya.
Misal, jika dalam suatu sistem terdapat N buah pembangkit, maka kombinasi
pembangkit yang mungkin adalah:
C(N,1) + C(N,2)++C(N,N-1) + C(N,N) = 2N-1

Dimana C ( N , J )

N!
( N J )! J !

Bila dalam periode waktu M, ada M level beban maka jumlah persamaan yang
harus diperiksa adalah (2N-1)M. Misal jika dalam suatu sistem tenaga ada 4 buah
level pembangkit dan dalam 24 jam ada 24 level beban, maka:
maksimum kombinasi yang mungkin = 24 1 = 15
maksimum jumlah persamaan yang diperiksa =1524
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Beberapa metode yang dibahas antara lain:


A. Metode Daftar Prioritas

Daftar prioritas disusun berdasarkan biaya produksi rata-rata pembangkit


dengan urutan pembangkit yang memiliki biaya produksi rata-rata termurah
menempati urutan pertama (teratas), demikian selanjutnya sampai pembangki
dengan biaya produksi rata-rata termahal pada urutan terakhir.
Misal ada 4 buah pembangkit
dengan biaya produksi rata-rata
untuk daya output maksimum:
Unit 1
Unit 2
Unit 3
Unit 4

9,79 R/MWh
9,40 R/MWh
11,88 R/MWh
10,44 R/MWh

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Daftar Prioritas-nya adalah


Unit

R/MWh

..2
..1
..4
..3

9,40
9,79
10,44
11,88

Untuk penjadwalan unit commitment untuk setiap level beban dengan


memperhatikan, cadangan berputar, minimum up/down time, pada jam dimana
beban turun/naik, maka metode daftar prioritas mengikuti algoritma berikut ini:

Periksa apakah kombinasi unit-unit pembangkit ini cukup kapasitasnya untuk


menanggung beban, juga periksa cadangan berputarnya. Bila tidak cukup
pilih kombinasi unit-unit pembangkit lain, bila cukup lanjutkan pada langkah
selanjutnya
Dari kombinasi yang direncanakan untuk dipilih, tentukan berapa lama
(interval waktu) untuk unit yang dilepas (OFF) kemudian beroperasi lagi (ON)
misal H jam, dimana pada H jam dimuka ada kenaikan beban.
Periksa minimum down time unit yang dilepas, bila lebih besar dari H jam
berarti tidak boleh dilepas, kombinasi pembangkit kembali ke kombinasi
sebelumnya, jika minimum down timenya lebih kecil dari H jam berarti
bolehdilepas dan dilanjutkan kelangkah selanjutnya.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Periksa dua pilihan biaya berikut:


a. Misal unit tersebut tidak dilepas, berarti menggunakan kombinasi
pembangkit sebelumnya, selama H jam dihitung biaya produksinya.
b. Dalam selang H jam unit yang dilepas akan beroperasi lagi periksa biaya
startnya berdasarkan 2 macam prosedur start:
- Biaya start dingin
- Biaya start panas (banking)
Dari hasil perhitungan untuk kedua macam biaya start tersebut dipilih
biaya start yang lebih murah.
Dengan melihat biaya yang dihasilkan dari pilihan (a) dan (b) mana yang lebih
murah itulah yang digunakan

Ulangi prosedur tersebut untuk level beban pada jam berikutnya.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

B. Metode Dynamic Programming [DP]


Ada 2 macam:
1. Backward DP Appoach
2. Forward DP Approach
Yang dibahas dengan menggunakan Forward DP Approach, dimana
penyelesaiannya dimulai dengan menentukan kondisi awal kemudian bergerak
maju sampai keadaan akhir yang dituju.
DP digunakan untuk menentukan kebijakan dalam memperoleh pengeluaran
biaya yang optimum pada suatu proses berbagai macam pilihan untuk menuju
ke kondisi akhir.
Definisi:
State
Stage

: Terminal-terminal dengan kondisi tertentu


: Kumpulan dari state pada level tertentu.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

11

5
2

11

4
K

Representasi kemungkinan dalam menuju kondisi akhir


- A, B, C, D,N state
- A state awal, N state akhir
- Panah menyatakan lintasan perpindahan state yang dapat dilalui
- Angka dibawah panah menyatakan biaya yang diperlukan pada perpindahan
state
Lintasan optimum yang dilalui diantara lintasan yang ada
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Penggunaan DP Dengan Pendekatan Maju Pada


Penjadwalan Pembangkit (Unit Commitment)
State: berisikan kombinasi unit-unit pembangkit yang beroperasi dan tidak
beroperasi
Stage: menyatakan level beban pada jam tertentu (interval waktu). Dimana
didalam stage terdapat beberapa state.
N Feasible State adalah N buah state pada stage sebelumnya yang dipilih
dengan biaya akumulatif termurah dimulai dari urutan yang termurah.
K = menyatakan stage/jam ke untuk level-level beban tertentu.
I = menyatakan state S
Fcost(K,I)

= biaya komulatif yang diperlukan untuk sampai ke stae I pada


level K dari state awal

Pcost(K,I)

= biaya produksi pada state I untuk level (stage) K

Scost(K-1,L,K,I) = biaya transisi dari state L pada level K-1ke state I pada level K
X

= jumlah state yang harus diperiksa pada setiap interval waktu


(pada setiap stage)
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Flow chart
Unit Commitment Fowrward DP

Start

K=1

Fcost(K,I)=MIN[Pcost(K,I)+Scost(K-1,L,K,I)
{L}
Do For
X=All state I in period K

K= K + 1

{L} = N FEASIBLE STATE IN INTERVAL K-1

Fcost(K,I)=MIN[Pcost(K,I)+
{L}
Scost(K-1,L,K,I) + Fcost(K-1,L)]

Do For All X = state I


in period K

Save N Lowest
Cost Strategies

K=M, Last
Hour ?

Trace Optimal Schedule

Stop

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Adanya X dan N adalah untuk


membatasi jumlah persamaan state
yang akan diperiksa ( jadi tidak harus
seluruh state yang ada diperiksa).

Jumlah N strategi yang diambil dari


beberapa state pada level yang
dituju, dimana biaya komulatif untuk
sampai state tersebut rendah
(prioritas termurah).
Jumlah X state yang akan diperiksa
didasarkan pada kapasitas daya
state yang mencukupi untuk
bebannya dan didasarkan pada
daftar prioritas.

Interval
K-1

Interval
K

Interval
K+1

Jalur pencarian terbatas dalam algoritma


DP dengan N = 3 dan X = 5.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Untuk kombinasi operasinya sebagai berikut:


2+1+4+3
2+1+4
2+1
2
Dari kombinasi operasi tersebut terlihat bahwa unit yang termurah biaya
operasinya selalu digunakan pada setiap kombinasi

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

CONTOH 5.A
Diketahui tiga unit pembangkit :
Unit 1 : H1 = 510 + 7.2P1 + 0.00142P12, Mbtu/h
150 P1 600 MW
Unit 2 : H2 = 310 + 7.85P2 + 0.00194P22, Mbtu/h
100 P2 400 MW
Unit 3 : H3 = 78 + 7.97P3 + 0.00482P32, Mbtu/h
50 P3 200 MW
Biaya bahan bakar :
F1=1.1 R/Mbtu; F2=1 R/Mbtu; F3=1.2 R/Mbtu
Beban = 550 MW
Tentukan kombinasi unit yang paling ekonomis untuk
mensuplai beban tersebut?
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Untuk menyelesaikan masalah ini, dicoba dengan


semua kombinasi ketiga unit tersebut.
Beberapa kombinasi tidak layak jika jumlah
maksimum daya (MW) lebih kecil dari beban (MW)
atau jumlah minimum daya (MW) lebih besar dari
beban (MW).
Untuk tiap-tiap kombinasi yang layak diselesaikan
dengan optimasi economi dispatch seperti pada
bab 3. Hasilnya terlihat pada tabel 5.1.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Tabel 5.1 Kombinasi Unit dan Dispatch untuk beban 550 MW


UNIT
1

UNIT
2

UNIT
3

MAX
GEN

MIN
GEN

OFF

OFF

OFF

TIDAK LAYAK

OFF

OFF

ON

200

50

TIDAK LAYAK

OFF

ON

OFF

400

100

P1

P2

P3

F1

F2

F3

BIAYA

TIDAK LAYAK

OFF

ON

ON

600

150

400

150

3760

1658

5418

ON

OFF

OFF

600

150

550

5389

5389

ON

OFF

ON

800

200

500

50

4911

586

5497

ON

ON

OFF

1000

250

295

255

3030

2440

5471

ON

ON

ON

1200

300

267

233

50

2787

2244

586

5617

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

TUGAS
Hitung pembebanan ekonomis (economic
dispatch) dari unit 1 (P1), unit 2 (P2) dan
Unit 3 (P3) untuk setiap kombinasi yang
feasible (manual dan powergen)
Hitung biaya operasi minimum untuk
setiap kombinasi yang feasible (manual
dan powergen)
Bandingkan dengan hasil pada contoh 5A
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Suplai yang termurah tidak dijalankan dengan ketiga unit


atau semua kombinasi termasuk 2 unit.
Optimum commitment tidak hanya menjalankan unit 1
sebagai unit paling ekonomis. Dengan hanya menjalankan
unit yang paling ekonomis, beban dapat disuplai dengan unit
yang beroperasi mendekati efisiensi terbaik.
Jika unit lain yang dipilih, unit 1 dan unit lain selanjutnya akan
dibebani dari titik yang efisiensinya terbaik seperti biaya netto
lebih besar dari unit 1 sendiri.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Dengan menganggap beban mengikuti grafik peak valley seperti


gambar 5.1a. Jika operasi sistem dioptimisasikan, unit-unit harus
dimatikan kemudian ditinjau ulang. Kita ingin tahu unit-unit mana
yang off dan tidak. Masalah ini jauh lebih mudah jika unit
pembangkit riil dipertimbangkan.

1200MW
1000MW

500MW

4 PM

4 AM

Gambar 5.1.a Grafik Beban

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

4 PM

CONTOH 5.B
Seandainya kita ingin mengetahui unit yang mana yang
berubah sebagai fungsi dari beban sistem.
Contoh unit-unit dan biaya bahan bakar seperti dalam contoh
5A, yang perubahan bebannya dari puncak yang bernilai
1200 MW sampai lembah yang bernilai 500 MW.
Untuk menentukan shut-down rule, dengan sederhana
menggunakan teknik brute-force, sehingga semua unit akan
dicoba (seperti dalam contoh 5A) untuk masing-masing nilai
beban diambil dalam step 50 MW dari 1200 sampai 500.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Tabel 5.2. untuk contoh 5.B

Hasil penerapan teknik bruteforce ini diberikan dalam tabel


5.2.
Jika beban diatas 1000 MW,
jalankan semua unit; antara
1000 MW dan 600 MW,
jalankan unit 1 dan 2; dibawah
600 MW, jalankan unit 1 saja.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Beban

1200
1150
1100
1050
1000
950
900
850
800
750
700
650
600
550
500

Kombinasi Optimum
Unit 1

Unit 2

Unit 3

On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
On

On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
On
Off
Off
Off

On
On
On
On
Off
Off
Off
Off
Off
Off
Off
Off
Off
Off
Off

1200MW

Unit 3

Unit 3

Unit 2

Unit 2

600MW

Unit 1
4 PM

4 AM

4 PM

Gambar 5.1b Penggunaan Unit Commitment Schedule


untuk melepas beban dari Pembangkit

Gambar 5.1 b menunjukkan bahwa asal jadwal unit komitmen dari aturan
shut-down ini seperti diaplikasikan untuk kurva beban pada gambar 5.1.a.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

CONTOH 5.C
Misalkan sistem tenaga listrik terdiri dari 2 daerah yang dipisahkan, yaitu
daerah barat dan daerah timur. 5 unit seperti pada gambar 5.2. digunakan
untuk mensuplai beban 3090 MW.
Dua daerah yang terpisah oleh jaringan transmisi dapat secara bersama
mengirim daya 550 MW pada arah yang berlainan.

Gambar 5.2 menunjukkan bahwa apa yang dapat dikatakan tentang alokasi
cadangan berputar pada sistem ini ?

Unit 1,2,3

550 MW
maksimum

daerah
barat

Gambar 5.2 sistem dua-region


Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Unit
4 dan 5
daerah
timur

Tabel 5.3. Data untuk sistem gambar 5.2

Daerah

Barat

Timur

Total

Unit

Unit
Capacity
(MW

Unit
Output
(MW)

Regional
Generation
(MW)

Spinning
reserve

1000

900

800

420

800

420

380

1200

1040

160

600

310

1-5

4400

3090

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Regional
load
(MW)

Interchange

1900

160 in

1190

160 out

100

1740

1350

3090

380

290

1310

3090

Data untuk sistem gambar 5.2. diberikan pada tabel 5.3. dengan pengecualian
unit 4, keluarnya salah satu unit pada sistem dapat diatasi oleh cadangan
berputar unit
Unit 4 mempunyai sebuah masalah, tentu saja jika unit 4 dihilangkan dan unit
5 bekerja pada daya maksimum 600 MW, daerah timur masih membutuhkan
590 MW untuk mengatasi beban pada daerah itu.
Daya 590 MW ditransmisikan dari daerah barat yang mana dengan mudah
disuplai 590 MW dari cadangan berputar.
Tentu saja kapasitas yang dikirim hanya 550 MW. Oleh karena itu keluarnya
unit 4 tidak dapat langsung diatasi ke dalam sistem yang banyak mempunyai
cadangan berputar.
Penyelesaian masalah ini menambah beberapa unit untuk dioperasikan pada
daerah timur.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Tabel. Data untuk sistem jika unit 4 Off


Daerah

Unit

Unit
Capacity
(MW)

Barat

Unit
Output
(MW)

Spinning

Regional

Generation

reserve

load
(MW)

(MW)

1000

800

760

800

760

40

1200

OFF

OFF

2490

40

600
5

600

600

1-5

4400

3090

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Interchange

30

970

Timur

Total

Regional

1900

590 out

1190

590 in

0
3090

110

3090

Penyelesaian
Jika unit 4 pada daerah timur dalam kondisi OFF dan unit 5 masih bisa
membangkitkan daya 600 MW, maka daerah timur ini masih memerlukan daya
sebesar 590MW.
Ini akan mendapat suplai dari daerah barat dengan pengaturan keluaran
pembangkit unit 1, 2, 3 dan unit 5 seperti tabel dibawah ini dengan tidak
melewati batas maksimum kemampuan transmisi pengiriman daya.
Catatan : saluran transmisi overload (kapasitas max. 550 MW)

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

TUGAS
1. Jelaskan dengan perhitungan, untuk setiap
unit yang off (keluar dari sistem) masih
mungkin melayani beban dengan
memanfaatkan spinning reserve yang ada,
kecuali untuk unit 4.
2. Sama dengan 1, dengan syarat spinning
reserve minimal 15% kapasitas unit terbesar.
3. Untuk minimal spinning reserve apakah
kondisi 1 masih bisa dipenuhi.
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

CONTOH 5.D
Disusun daftar prioritas unit unit-unit pembangkit pada contoh 5.A
Pertama biaya produksi rata-rata pada beban penuh akan dihitung.

UNIT

BEBAN PENUH
BIAYA PRODUKSI RATA-RATA
(R/MWH)

9.79

9.4

11.188

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Prioritas untuk unit-unit ini didasarkan pada biaya


produksi rata-rata yang ditentukan sebagai berikut:

UNIT

R/MWH

MIN MW

MAX MW

9.4

100

400

9.79

150

600

11.188

50

200

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Urutan komitmen menggunakan kombinasi berikut,


(dimana min up/down time, start up cost, dsb diabaikan) :
KOMBINASI

KOMBINASI

KOMBINASI

MAX MW

2+1+3

MIN MW
300

2+1

250

1000

100

400

1200

Catatan bahwa sebuah kombinasi tidak akan secara lengkap memparalelkan


urutan shut-down seperti digambarkan pada contoh 5.B, dimana unit 2 OFF
pada 600 MW meninggalkan unit 1.

Dengan daftar prioritas, kedua unit harus di ON kan sampai beban mencapai
400 MW, kemudian unit 1 di OFF kan
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Algoritma Metode Daftar Prioritas adalah sebagia berikut :


1. Pada setiap jam saat beban turun, periksa apakah dengan melepas (OFF)
unit berikutnya pada daftar prioritas masih mampu mensupply beban dan
memenuhi kebutuhan cadangan berputar. Jika tidak, unit commitment tetap,
tidak berubah (sesuai dengan unit commitment pada jam sebelumnya), jika
ya lanjutkan langkah berikutnya.
2. Tentukan jumlah jam H, sebelum unit diperlukan lagi. Dengan asumsi bahwa
beban akan turun dan akan naik kembali beberapa jam kemudian.
3. Jika H lebih kecil dari waktu shut down minimum, maka unit commitment
tetap/tidak berubah. Jika tidak, lanjutkan langkah berikutnya.
4. Hitung dua jenis biaya. Pertama adalah jumlah biaya produksi perjam untuk
H jam berikutnya dengan unit tsb dioperasikan (ON). Kemudian hitung
ulang jumlah biaya untuk unit tsb dalam keadaan OFF dan tambahkan
biaya start untuk pendinginan unit atau dilepas dari sistem (OFF), dipilih
mana yang lebih murah. Jika diperoleh cukup penghematan dengan tidak
mengoperasikan unit tsb (shutting down), maka unit tsb harus tidak
dioperasikan, bila tidak unit tsb. tetap dioperasikan.
5. Ulangi prosedur ini untuk unit berikutnya pada daftar prioritas. Jika unit tsb.
juga dilepas (OFF), lanjutkan langkah berikutnya.
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

CONTOH 5.E
Dalam contoh ini terdapat 3 kasus yang akan dipelajari:
a. Kasus pertama, merupakan priority list schedule (rencana jadwal prioritas).
(min up/down time : 1 jam untuk semua unit, start up cost : cold start cost)
b. Kasus kedua, sama dengan kasus pertama namun dengan melakukan
complete enumeration (semua kombinasi diperhitungkan) dengan
mengabaikan biaya hot-start, minimum uptime dan minimum downtime.
(min up/down time : 1 jam untuk semua unit, start up cost : cold start cost)
c.Kasus ketiga, melibatkan hot/cold-start, minimum uptime dan minimum
downtime.

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Tabel 5.4 Data Karakteristik Unit Pembangkit, Pola beban, Keadaan awal untuk
kasus-kasus yang akan dibahas
Max

Min
(MW)

Incremental
Heat Rate
(Btu/kWh)

No-load
cost
(R/h)

Full Load
Cost
(R/mWh)

Min.Time
Up
(jam)

Min.Time
Down
(jam)

(MW)

80

25

10440

213,00

23,54

250

60

9000

585,62

20,34

300

75

8730

684,74

19,74

60

20

11900

252,00

28,00

Unit

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Kondisi Awal

Start-Up Cost

Unit
Jam off line (-)/on line
(+)

Hot (R)

Cold (R)

Cold Start (R)

-5

150

350

170

400

500

1100

-6

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Beban
Jam

Beban (MW)

450

530

600

540

400

280

290

500

Fuel cost 2,00 R/Mbtu


Tingkat prioritas unit adalah unit 3,2,1,4
The units in this example have linear F(P) function
F(P) = Inc.Cost x P + No Load cost
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Tabel 5.5 Tingkatan Kapasitas Unit (capacity Ordering of the Units)


Keadaan
(State)

Kombinasi Unit

Maksimum Kapasitas bersih untuk tiap


kombinsi

15

1111

690

14

1110

630

13

0111

610

12

0110

550

11

1011

440

10

1101

390

1010

380

0011

360

1100

330

0101

310

0010

300

1001

250

1001

140

1000

80

0001

60

0000

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Kasus I
Dalam kasus I unit-unit direncanakan langsung menurut tingkat prioritasnya.
Unit pembangkit dijalankan hingga beban terpenuhi.
Total biaya untuk interval adalah jumlah biaya kedelapan dispatch. Terdapat
maksimum 24 dispatch yang harus diperhatikan.
Untuk kasus I ini keadaan yang diperiksa adalah:
Keadaan

Kombinasi

Maksimum Kapasitas bersih

(State)

Unit

untuk tiap kombinsi

0010

300

12

0110

550

14

1110

630

15

1111

690

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Pada keadaan 5 terdapat unit 3 , keadaan 12 = unit 3 + 2, keadaan 14 = unit 3


+ 2 + 1, keadaan 15 = unit 3+2+1+4. Untuk empat jam pertama hanya tiga
keadaan terakhir (state 12, 14 dan 15) yang menjadi perhatian.
Semua commitment yang mungkin diawali dari keadaan 12 karena hal ini
dianggap sebagai kondisi awal. Untuk jam pertama biaya minimum berdasar
keadaan 12 dan seterusnya. Keadaan 13 tidak diambil karena tidak memenuhi
tingkat prioritas.
Maka tingkat prioritas menghasilkan tabel berikut:
Jam
1

Keadaan dengan
min. total cost
12 (9208)

Petunjuk untuk jam


sebelumnya
12

12 (19857)

12

14 (32472)

12

12 (43300)

14

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Contoh perhitungan untuk kasus 1:


Dengan menggunakan Forward Dynamic Programming (algoritma rekursif untuk
menghitung biaya minimum untuk Jam ke-J dengan kombinasi K ) adalah:
Fcost ( J , K ) min[ Pcost ( J , K ) S cost ( J 1, L; J , K )
( L)

Fcost ( J 1, L)]

Dari data tabel diperoleh persamaan biaya bahan bakar masing-masing unit
dengan rumus sebagai berikut:
Fi = Incremental Heat Rate * Fuel Cost * Pi + No load cost
Maka persamaan biaya bahan bakar untuk masing-masing unit :
F1 = 10,440 (Btu/KWh) x 2.0x10-3 (R/Btu) x P1 (MW) + 213,00 (R/h)
= 20,88P1 +213,00 (R/h)
F2 = 9,000 (Btu/KWh) x 2.0x10-3 (R/Btu) x P2 (MW) + 585,62 (R/h)
= 18,00P2 +585,62 (R/h)
F3 = 8,730 (Btu/KWh) x 2.0x10-3 (R/Btu) x P3 (MW) + 684,46 (R/h)
=17,46P3 +684,74 (R/h)
F4 = 11,900 (Btu/KWh) x 2.0x10-3 (R/Btu) x P4 (MW) + 252,00 (R/h)
= 23,80P4 +252,00 (R/h)
Keadaan yang diijinkan {}={0010,0110,1110,1111}={5,12,14,15}
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

J =1; jam ke-1, K=15

Pcos t (1,15) S cos t (0,12;1,15)


F Cost (1,15) = min
{ L}

F1 = 20,88(25) +213,00
= 735
F2 = 18,00(105) +585,62
= 2475.62
F3 = 17,46(300) +684,74
= 5922.74
F4 = 23,80(20) +252,00
= 728
P Cost (1,15) = F1 + F2 +F3 + F4 = 9861

F Cost (1,15) = 9861+350 =10211


Note : Semua commitment yang mungkin diawali dari keadaan 12
karena hal ini dianggap sebagai kondisi awal.
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

J =1; jam ke-1, K=14

{ L}

F Cost (1,14) =min Pcos t (1,14) S cos t (0,12;1,14)

F1 = 20,88(25) + 213,00 = 735


F2 = 18,00(125) + 585,62 = 2836
F3 = 17,46(300) + 684,74 = 5923
P Cost (1,14) = F1 + F2 + F3
= 9493
F Cost (1,14) = 9493 + 350 = 9843

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

J =1; jam ke-1, K=12

Cost

Pcos t (1,12) S cos t (0,12;1,12)


(1,12) = min
{ L}

F2 =18,00(150) + 585,62
F3 =17,46(300) + 684,74
P Cost (1,12) = F2 + F3

= 3286
= 5923
= 9208

F Cost (1,12) = 9208 + 0

= 9208

Biaya yang paling minimal pada stage 1 adalah :


F Cost (1,12) = 9208

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

J =2; jam ke-2, K =15

F Cost (2,15) = min (12;14) Pcost (2,15) Scost (1, L;2,15) Fcost (1, L)
{ L}

F1 = 20,8775(25) + 213,00= 735


F2 = 18.00(185) + 585,62 = 3915.62
F3 = 17,46(300) + 684,74 = 5922.74
F4 = 23.8(20) + 252.00
= 782
P Cost (2,15) = F1 + F2 + F3 + F4 = 11301

(9208 350)
F(2.15) = 11301 + min
= 20859

(9843 0)
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

J =2; jam ke-2, K =14

F cost(2,14) = min (12;14) Pcost (2,14) Scost (1, L;2,14) Fcost (1, L)
{ L}

F1 =20,88(25) + 213,00
F2 =18.00(205) + 585,62
F3 =17,46(300) + 684,74
P cost (2,14) = F1 + F2 +F3

= 735
= 4275.62
= 5922.74
= 10933

(9208 350)
F cost (2.14) = 10933 + min
= 20491

(9843 0)
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

J =2; jam ke-2, K =12

Fcost (2,12) = min (12;14) Pcost (2,12) Scost (1, L;2,12) Fcost (1, L)
{ L}

F2 = 18.00(230) + 585,62 = 4725.62


F3 = 17,46(300) + 684,74 = 5922.74
Pcost (2,12) = F2 + F3
= 10648

(9208 0)
Fcost (2.12) = 10648 + min
= 19856

(9843 0)
Biaya yang paling minimal pada stage 2 adalah :
Fcost (2,12) = 19856
Dengan cara yang sama diteruskan untuk jam berikutnya
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Hasil Akhir setelah jam ke 8

Jam

State

Biaya minimal

1
2
3
4
5
6
7
8

12
12
14
12
12
5
5
12

9208
19856
32472
43300.36
51608.72
57182.26
62930.0
73438.4

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Kasus 2
Dengan Complete Enumeration (
down time diabaikan sehingga diperoleh :

x 15

) dan 4 strategi (N = 4), serta up &

Tabel kombinasi yang memungkinkan sebagai berikut:


Stage

Load

Kombinasi

450

15 ; 14 ; 13 ; 12

530

15 ; 14 ; 13 ; 12

600

15 ; 14 ; 13

540

15 ; 14 ; 13 ; 12

400

15 ; 14 ; 13 ; 12 ; 11

280

15 ; 14 ; 13 ; 12 ; 11; 10 ; 9 ; 8 ; 7 ; 6 ; 5

290

15 ; 14 ; 13 ; 12 ; 11; 10 ; 9 ; 8 ; 7 ; 6 ; 5

500

15 ; 14 ; 13 ; 12

Catatan :
perhitungan rinci tidak akan dilakukan lagi untuk kombinasi yang sudah ada di
kasus 1 sehingga kita hanya megambil hasilnya saja.
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

J =1; jam ke-1

F Cost (1,15) = 9861+350


F Cost (1,14) = 9576.62 + 350
F Cost (1,12) = 9208

=10211
= 9843

K=13

Pcost (1,13) Scost (0,12;1,13)


F Cost (1,13) = min
{ L}

F2 = 18,00(130) + 585,62
F3 = 17,46(300) + 684,74
F4 = 23.8(20) + 252.00
P Cost (1,13) = F1 + F2 + F3

Biaya yang paling minimal pada stage 1 adalah :


F cost (1,12) = 9208

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

= 2925.62
= 5923
= 728
= 9576.62

J =2; jam ke-2

(9208 350)
F cost (2.15) = 11301 + min
= 20859

(9843 0)
(9208 350)
F cost (2.14) = 10933 + min
= 20491

(9843 0)
(9208 0)
Fcost (2.12) = 10648 + min
= 19856
(9843 0)

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

J =2; jam ke-2

K=13
F2 = 18,00(210) + 585,62
F3 = 17,46(300) + 684,74
F4 = 23.8(20) + 252.00
P Cost (2,13) = F1 + F2 + F3

= 4365.62
= 5923
= 728
= 11016.62

(9208 0)
F Cost(2.13) = 11016.62 + min
= 20224.62

(9843 0)

Biaya yang paling minimal pada stage 2 adalah :


F cost (2,12) = 19856
Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

J =3; jam ke-3

F cost (3.15) = 12576 + 350 + 19856 = 32782


F cost(3,14) = 12256 + 350 + 19856 = 32472

K =13
F Cost (3,13)=

min (12) Pcost (3,13) Scost (2, L;3,13) Fcost (2, L)


{ L}

F2 =18.00(250) +585,62 = 5085.62


F3 =17,46(300) +684,74 = 5922.74
F4 =23.8(50) +252 = 1442
Pcost (3,13) = F2 + F3 + F4 = 12450,36
Fcost (3.13) = 12450,36 + 0 + 19856 = 32306,36
Biaya yang paling minimal pada stage 3 adalah :
F cost (3.13) = 32307,36

Untuk jam berikutnya diteruskan dengan cara yang sama


Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc
Teknik Elektro, FTI, ITS

Hasil Akhir setelah jam ke 8


Jam

State

Sisa minimal

1
2
3
4
5
6
7
8

12
12
13
12
12
5
5
12

9208
19856
32306
43135.36
51443.36
57016.9
62590.44
72698.8

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

Gambar 5.8 Contoh 5E,kasus 1 dan 2


Status

Unit

Total

number

status

capacity

Hour
1

15

1111

690

14

1110

630

13

0111

610

12

0110

550

11

1011

440

10

1101

530

600

540

390

1010

380

0011

360

1100

330

0101

310

0010

300

450

400

0100

250

1001

140

1000

80

0001

60

Load pattern
Kasus 1
Kasus 2

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

280

290

500

Kasus 3

x 15

Dengan CompleteEnumeration (
sehingga diperoleh: ..

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS

), up & down time diperhitungkan

MIDTERM EXAM
MONDAY 23 NOVEMBER 2009
13.00-15.00

Prof. DR. Ir Ontoseno Penangsang, M.Sc


Teknik Elektro, FTI, ITS