Anda di halaman 1dari 3

Nama latin tumbuhan ini adalah Nypa fruticans Wurmb yang bersinonim

dengan Nipa arborescens Wurmb ex H. Wendl. dan Nipa litoralis Blanco. Sedangkan
dalam bahasa Inggris nipah dikenal sebagai nipa palm atau mangrove palm. Batang
nipah menjalar di tanah membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur. Hanya
daunnya yang muncul di atas tanah, sehingga nipah nampak seolah-olah tak
berbatang. Akarnya serabut yang panjangnya bisa mencapai belasan meter. Dari
rimpangnya tumbuh daun majemuk (seperti pada jenis palem lainnya) hingga
setinggi 9 meter dengan tangkai daun sekitar 1-1,5 meter. Daun nipah yang sudah
muda berwarna kuning sedangkan yang tua berwarna hijau.
Bunga nipah majemuk muncul dari ketiak daun dengan bunga betina
terkumpul di ujung membentuk bola dan bunga jantan tersusun dalam malai serupa
untai, merah, jingga atau kuning pada cabang di bawahnya. Tandan bunga inilah
yang dapat disadap untuk diambil niranya. Buah nipah bulat telur dan gepeng
dengan 2-3 rusuk, berwarna coklat kemerahan. Panjangnya sekitar 13 cm dengan
lebar 11 cm. Buah berkelompok membentuk bola berdiameter sekitar 30 cm. Dalam
satu tandan, dapat terdiri antara 30-50 butir buah.
Pohon nipah merupakan tumbuhan asli pesisir Samudera Hindia bagian timur
dan Samudera Pasifik bagian barat laut. Tumbuhan ini tersebar mulai Sri Lanka,
Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, China (Pulau Hainan), India, Indonesia,
Jepang (Pulau Iriomote), Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam,
Australia bagian barat laut dan timur laut, Mikronesia, Guam, Palau, Papua New
Guinea, dan Kepulauan Solomon. Menurut data dari situs Alamendah sebagaimana
dikutip

dari

situs

IUCN,

di

beberapa

tempat

seperti

Singapura,

nipah

termasuk tumbuhan langka yang terancam kepunahan. Sedangkan di daerah lain


populasi

tumbuhan

ini

masih

cukup

melimpah

sehingga IUCN

Redlist

mengevaluasinya dalam daftar Least Concern (berisiko Rendah).


Berbagai bagian tumbuhan nipah telah dimanfaatkan manusia sejak lama.
Daun nipah dapat dimanfaatkan untuk membuat atap rumah, anyaman dinding
rumah dan berbagai kerajinan seperti tikar, topi dan tas keranjang. Pada zaman
dulu, daun nipah juga dimanfaatkan sebagai media tulis di samping daun lontar.
Batang dan tangkai daun nipah dapat digunakan sebagai kayu bakar. Lidinya
dimanfaatkan sebagai sapu lidi dan berbagai anyaman. Tandan bunga yang belum
mekar dapat disadap untuk diambil air niranya. Air nira ini dapat dijadikan gula nira,

difermentasi menjadi cuka dan tuak, juga sebagai bahan baku bio-ethanol yang
dapat dijadikan bahan bakar nabati pengganti bahan bakar minyak bumi.
Tunas nipah dapat dimakan dan buah nipah yang masih muda dapat
dijadikan semacam kolang-kaling untuk campuran minuman, kolak, maupun
dijadikan manisan. Sedangkan bijinya yang telah tua dapat ditumbuk untuk diambil
tepungnya. Pohon nipah juga mempunyai manfaat yang tidak sedikit. Namun
sayangnya pemanfaatan tumbuhan ini masih sangat sedikit. Bahkan tidak jarang
tumbuhan ini harus musnah seiring dengan musnahnya hutan mangrove (bakau)
dan kerusakan pantai yang terjadi akibat ulah manusia.
Disamping itu, buah nipah disadap sebagai bahan baku untuk pembuatan
gula. Gula ini memiliki karakteristik yakni merupakan jenis gula reduksi yang
mudah menjadi cokelat jika terkena panas. Kelebihan warna cokelat yang diberikan
oleh pemanis dari nipah ini adalah cita rasa gurih dan warnanya dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pembuat produk yang berwarna coklat. Nipah bisa
disadap pada umur 5 tahun atau lebih. Waktu penyadapan yang paling baik pada
saat fase degan yaitu saat buah nipah masih muda. Karena pada fase ini nipah
sedang aktif mengumpulkan bahan makanan untuk pembentukan biji. Pada
umumnya bunga muncul pada Februari, Maret, Agustus dan September selanjutnya
dapat dilakukan penyadapan setelah 4-5 bulan kemudian. Penyadapan yang tepat
pada pagi dan sore hari. Dalam masa sekali sadapan nira yang diperoleh bekisar
0.5-2 liter. Nira nipah yang baik adalah yang memiliki pH antara 6-7. Kemudian
segera diolah setidaknya setelah 12 jam ditampung, jika lebih dari 12 jam
kemurnian dari kualitas gula akan segera menurun. Hal ini merupakan karakteristik
lain dari nira nipah yang mudah mengalami fermentasi dan berubah menjadi
alkohol jika tidak segera diproses. Nira nipah sebanyak 20 liter biasanya dapat
menghasilkan 2.5- 4 kg gula merah dan 1-6.5 kg gula pasir.
Nipah merupakan jenis tumbuhan penghuni ekosistem hutan mangrove yang
mempunyai berbagai manfaat baik secara ekonomi maupun ekologi yang sangat
berguna bagi kepentingan manusia, serta berpotensi sebagai sumber bahan pangan
dari potensi niranya sebagai energi bioetanol. Walaupun tergolong tumbuhan
potensial, pemanfaatan nipah secara konvensional masih sangat jarang dilakukan.
Hal ini dikarenakan kurangnya referensi dan pengetahuan masyarakat mengenai
tumbuhan nipah dan cara pengelolahannya. Padahal hampir di sebagian besar

sungai yang masih terpengaruh oleh pasangnya air laut banyak dijumpai tumbuhan
nipah dengan populasi sangat besar.
Ekosistem

hutan

nipah

merupakan

habitat

bagi

ikan,

udang

dan

kerang. Ekosistem nipah ini sebagai tempat kehidupan (nursery ground) bagi ikan,
udang dan kerang. Sebagai pertemuan antara air laut yang asin dan air sungai
yang tawar, maka ekosistem hutan nipah memiliki keunikan dan merupakan
ekosistem yang sesuai untuk tempat perkembangbiakan dan pertumbuhan berbagai
spesies ikan dan udang.

Sebagaimana gebang, rumbia berbunga dan berbuah sekali (monocarpic)


dan sudah itu mati. Karangan bunga bentuk tongkol, panjang hingga 5 meter.
Berumah satu (monoesis), bunga rumbia berbau kurang enak.
Dari empulur batangnya

dihasilkan

tepung sagu,

yang

merupakan

sumber karbohidrat. Pelbagai rupa makanan pokok dan kue-kue dapat diolah dari
tepung sagu ini. Sagu dipanen tatkala kuncup bunga (mayang) telah keluar, namun
belum mekar sepenuhnya. Umur panenan ini bervariasi menurut jenis kultivarnya,
yang tercepat kira-kira pada usia 6 tahun. Daun tua dari pohon yang masih muda
merupakan bahan atap yang baik; pada masa lalu bahkan rumbia dibudidayakan
(dalam kebun-kebun kiray) di sekitar Bogor dan Banten untuk menghasilkan atap
rumbia. Dari helai-helai daun ini pun dapat dihasilkan semacam tikar yang
disebut kajang. Daun-daunnya yang masih kuncup (janur) dari beberapa jenisnya
dahulu digunakan pula sebagai daun rokok, sebagaimana pucuk nipah.