Anda di halaman 1dari 36

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU

GIZI BURUK + PNEUMONIA

Oleh
TANNIA RIZKYKA IRAWAN
H1A 012 059

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
PUSKESMAS GUNUNGSARI
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Gizi buruk pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat di
Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 secara nasional, prevalensi gizi
kurang-buruk secara total adalah sebesar 19,6 persen, terdiri dari 5,7 persen gizi buruk dan 13,9
persen gizi kurang. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2007 (18,4 %)
dan tahun 2010 (17,9 %) terlihat meningkat. Perubahan terutama pada prevalensi gizi buruk
yaitu dari 5,4 persen tahun 2007, 4,9 persen pada tahun 2010, dan 5,7 persen tahun 2013.
Sedangkan prevalensi gizi kurang naik sebesar 0,9 persen dari 2007 dan 2013. Untuk mencapai
sasaran MDG tahun 2015 yaitu 15,5 persen maka prevalensi gizi buruk-kurang secara nasional
harus diturunkan sebesar 4.1 persen dalam periode 2013 sampai 2015. (Bappenas, 2012)
Diantara 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi memiliki prevalensi gizi buruk-kurang di atas
angka prevalensi nasional yaitu berkisar antara 21,2 persen sampai dengan 33,1 persen, salah
satunya adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang pada tahun 2013 memiliki prevalensi balita
gizi kurang-buruk sebesar 27 % yang mengalami penurunan dari angka di tahun 2010 sebesar
30%. Terdapat tiga provinsi yang memiliki prevalensi gizi buruk-kurang paling tinggi Sulawesi
Barat, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Penyebab utama gizi buruk tidak hanya satu. Penyebab utama kasus gizi buruk di
Indonesia tampaknya karena masalahpola asuh dan adanya penyakit penyerta yang berjalan akut
maupun kronis (infeksi, kelainan kongenital, dll). Kemiskinan pun juga memicu kasus gizi
buruk, kemiskinan dan ketidak mampuan orang tua menyediakan makanan bergizi bagi anaknya
menjadi penyebab utama meningkatnya korban gizi buruk di Indonesia, maupun
faktor intrinsik yang menyertai kondisi gizi buruk pada balita itu sendiri.
Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah dengan
menjadikan tatalaksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang ditemukan. Pada
saat ini seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi tatalaksana gizi buruk menunjukkan
bahwa kasus ini dapat ditangani dengan dua pendekatan. Gizi buruk dengan komplikasi
(anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam tinggi dan penurunan
kesadaran) harus dirawat di rumah sakit, Puskesmas perawatan, Pusat Pemulihan Gizi (PPG)
2

atau Therapeutic Feeding Center (TFC), sedangkan gizi buruk tanpa komplikasi dapat dilakukan
secara rawat jalan. 2
Dalam hal ini, puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan dan kesehatan
masyarakat memiliki peranan yang sangat penting demi tercapainya tujuan tersebut. Oleh karena
itu, laporan ini akan membahas tentang penapisan dan pencegahan gizi buruk di masyarakat
umumnya dan di masyarakat di Kecamatan Gunungsari pada khususnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Penyakit Gizi Buruk di Puskesmas Gunungsari


Selama beberapa tahun terakhir ini, angka kejadian gizi buruk di Puskesmas
Gunungsari cenderung naik turun. Dari data 3 tahun terakhir, jumlah kasus gizi buruk pada
tahun 2010 sebanyak 11 orang sedangkan pada tahun 2011 jumlah ini mengalami
peningkatan menjadi 16 orang. Pada tahun 2012, jumlah kasus gizi buruk dapat ditekan
menjadi 7 orang Diagram berikut menunjukkan gambaran trend peningkatan jumlah kasus
gizi buruk selama 3 tahun terakhir di tahun 2012. 3,4,5
Grafik 1. Data Gizi Buruk selama Tahun 2010 2012

Total Kasus Gizi Buruk di Puskesmas Narmada


18
16
14
12
Jumlah Pasien

10
8
6
4
2
0
2010

2011

2012

Grafik 2. Perkembangan Status Gizi Balita Gizi Buruk selama Tahun 2010 - 2012
120
100
80
gizi buruk

60

gizi kurang
gizi normal

40
20
0
2010

2011

2012

2.2 Konsep Penyakit Gizi Buruk


2.2.1 Definisi dan Kriteria Gizi Buruk
Gizi buruk merupakan istilah teknis yang biasanya digunakan oleh kalangan gizi, kesehatan dan
kedokteran. Gizi buruk adalah kondisi seseorang yang nutrisinya di bawah rata-rata. Hal ini
merupakan suatu bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. 2
Gizi Buruk Tanpa Komplikasi
a. BB/TB: < -3 SD dan atau;
b. Terlihat sangat kurus dan atau;
c. Adanya Edema dan atau;
d. LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan
Gizi Buruk dengan Komplikasi
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah satu atau lebih dari tanda
komplikasi medis berikut:
a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
5

c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat
e. Demam sangat tinggi
f. Penurunan kesadaran
Pengukuran Gizi Buruk
Gizi buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain:
Pengukuran klinis : metode ini penting untuk mengetahui status gizi balita tersebut gizi buruk
atau tidak.Metode ini pada dasarnya didasari oleh perubahan-perubahan yang terjadi dan
dihubungkan dengan kekurangan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti
kulit,rambut,atau mata.
Pengukuran antropometrik : pada metode ini dilakukan beberapa macam pengukuran antara
lain pengukuran tinggi badan,berat badan, dan lingkar lengan atas. Beberapa pengukuran
tersebut, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas sesuai dengan usia yang paling sering
dilakukan dalam survei gizi.Di dalam ilmu gizi, status gizi tidak hanya diketahui
denganmengukur BB atau TB sesuai dengan umur secara sendiri-sendiri, tetapi juga dalam
bentuk indikator yang dapat merupakankombinasi dari ketiganya.
Berdasarkan Berat Badan menurut Umur diperoleh kategori :
1. Tergolong gizi buruk jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Tergolong gizi kurang jika hasil ukur -3 SD sampai dengan < -2 SD.
3. Tergolong gizi baikjika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Tergolong gizi lebih jika hasil ukur > 2 SD.
Berdasarkan pengukuran Tinggi Badan (24 bulan-60 bulan) atau Panjang badan (0 bulan-24
bulan) menurut Umur diperoleh kategori :
1. Sangat pendek jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Pendek jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.
6

3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.


4. Tinggi jika hasil ukur > 2 SD.
Berdasarkan pengukuran Berat Badan menurut Tinggi badan atau Panjang Badan:
1. Sangat kurus jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Kurus jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.
3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Gemuk jika hasil ukur > 2 SD.
Balita dengan gizi buruk akan diperoleh hasil BB/TB sangat kurus, sedangkan balita dengan gizi
baik akan diperoleh hasil normal. 2
2.2.2 Epidemiologi
WHO dalam berbagai publikasinya telah mengumumkan bahwa penyebab kematian
nomor satu di dunia termasuk di Asia dan Indonesia adalah PTM (Penyakit Tidak Menular). Di
Indonesia penyebab kematian karena penyakit menular menurun dari 44,2 persen tahun 1995
menjadi 28,1 persen tahun 2007. Sedangkan pada periode yang sama kematian karena PTM
meningkat hampir 50 persen dari 41,7 persen menjadi 59,5 persen.
Saat ini Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia dalam kasus gizi buruk.
Kemenkes memprioritaskan penanggulangan gizi buruk di enam provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa
Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, NTB dan NTT karena masih banyaknya kasus gizi buruk
yang ditemukan.
Secara nasional sudah terjadi penurunan prevalensi kurang gizi (berat badan menurut
umur) pada balita dari 18,4 persen tahun 2007 menjadi 17,9 persen tahun 2010. Penurunan
terjadi pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4 persen pada tahun 2007 menjadi 4,9 persen tahun
2010. Tidak terjadi penurunan pada prevalensi gizi kurang, yaitu tetap 13,0 persen. Prevalensi
pendek pada balita adalah 35,7 persen, menurun dari 36,7 persen pada tahun 2007. Penurunan
terutama terjadi pada prevalensi balita pendek yaitu dari 18,0 persen tahun 2007 menjadi 17,1

persen tahun 2010. Sedangkan prevalensi balita sangat pendek hanya sedikit menurun yaitu dari
18,8 persen tahun 2007 menjadi 18,5 persen tahun 2010. Penurunan juga terjadi pada prevalensi
anak kurus, dimana prevalensi balita sangat kurus menurun dari 13,6 persen tahun 2007 menjadi
13,3 persen tahun 2010.
Walaupun secara nasional terjadi penurunan prevalensi masalah gizi pada balita, tetapi
masih terdapat kesenjangan antar provinsi. Terdapat 18 provinsi yang memiliki prevalensi gizi
kurang dan buruk diatas prevalensi nasional. Masih ada 15 provinsi dimana prevalensi anak
pendek di atas angka nasional, dan untuk prevalensi anak kurus. Untuk prevalensi pendek pada
balita masih ada 15 provinsi yang memiliki prevalensi diatas prevalensi nasional, dan untuk
prevalensi anak kurus teridentifikasi 19 provinsi yang memiliki prevalensi diatas prevalensi
nasional. 1,2

2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk


Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :
2.2.3.1 Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering ditemukan pada balita. Hal
ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk. Gejala marasmus antara lain anak
tampak kurus, rambut tipis dan jarang, kulit keriput yang disebabkan karena lemak di bawah
kulit berkurang, muka seperti orang tua (berkerut), balita cengeng dan rewel meskipun setelah
makan, bokong baggy pant, dan iga gambang.
2.2.3.2 Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan
karbohidrat

yang

normal

atau

tinggi

dan

asupan

protein

yang

inadekuat.Seperti

marasmus,kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk. Tanda khas
kwashiorkor antara lain pertumbuhan terganggu, perubahan mental,pada sebagian besar
penderita ditemukan oedema baik ringan maupun berat, gejala gastrointestinal,rambut kepala
mudah dicabut,kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih
mendalam dan lebar,sering ditemukan hiperpigmentasi, pembesaran hati, anemia ringan, pada
biopsi hati ditemukan perlemakan.
2.2.3.3 Marasmic-Kwashiorkor
Marasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala klinis antara
kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan (BB) menurut umur (U) < 60% baku median
WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak mencolok.
2.2.4. Faktor risiko
Faktor risiko gizi buruk antara lain :
- Asupan makanan
Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak
tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan bergizi
9

seimbang, dan pola makan yang salah. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan balita adalah air,
energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Memilih makanan yang tepat untuk
balita harus menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien,menentukan jenis bahan makanan
yang dipilih, dan menentukan jenis makanan yang akan diolah sesuai dengan hidangan yang
dikehendaki.
Sebagian besar balita dengaan gizi buruk memiliki pola makan yang kurang beragam.
Pola makanan yang kurang beragam memiliki arti bahwa balita tersebut mengkonsumsi hidangan
dengan komposisi yang tidak memenuhi gizi seimbang. Berdasarkan dari keseragaman susunan
hidangan pangan, pola makanan yang meliputi gizi seimbang adalah jika mengandung unsur zat
tenaga yaitu makanan pokok, zat pembangun dan pemelihara jaringan yaitu lauk pauk dan zat
pengatur yaitu sayur dan buah.
- Status sosial ekonomi
Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah
segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup Sosial
ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga dilihat
dari variabel tingkat pekerjaan. Rendahnya ekonomi keluarga, akan berdampak dengan
rendahnya daya beli pada keluarga tersebut. Selain itu rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi
pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita. Keadaan sosial
ekonomi yang rendah berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapi karena ketidaktahuan
dan ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Balita dengan gizi buruk pada
umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi.
- Pendidikan ibu
Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan pangan dan nilai
pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan persediaan
pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.Salah satu faktor yang
menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang rendah. Adanya pendidikan yang
rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang
diperlukan dalam kehidupan. Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan

10

dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang
merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita.
- Penyakit penyerta
Balita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap penyakit.
Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya status gizi anak.
Penyakit-penyakit tersebut adalah:
1. Diare persisten : sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang
dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri). Kejadian ini sering
dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal.
2. Tuberkulosis : Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di berbagai organ
tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. Bakteri ini
tidak tahan terhadap ultraviolet, karena itu penularannya terjadi pada malam hari.
Tuberkulosis ini dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar
paru.
3. HIV AIDS : HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV
merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia dan
menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya
penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi
kekebalan tubuh.
Penyakit tersebut di atas dapat memperburuk keadaan gizi melalui gangguan intake
makanan dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Terdapat hubungan timbal
balik antara kejadian penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang menderita gizi
kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap
penyakit. Di sisi lain anak yang menderita sakit akan cenderung menderita gizi buruk.

11

- Berat Badan Lahir Rendah


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1
(satu) jam setelah lahir. Pada BBLR zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah
terkena penyakit terutama penyakit infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu makan
sehingga asupan makanan yang masuk kedalam tubuh menjadi berkurang dan dapat
menyebabkan gizi buruk.
- Kelengkapan imunisasi
Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan balita
karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan sistem kekebalan tubuh balita masih
belum sebaik dengan orang dewasa. Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan
tubuh balita akan berkurang dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini mempunyai dampak yang
tidak langsung dengan kejadian gizi. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali tetapi
dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit untuk mempertahankan agar
kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit.
- ASI
Hanya 14% ibu di Indonesia yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada
bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif kurang
dari dua bulan.
Selain ASI mengandung gizi yang cukup lengkap, ASI juga mengandung antibodi atau
zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi. Hal ini yang menyebabkan balita
yang diberi ASI, tidak rentan terhadap penyakit dan dapat berperan langsung terhadap status gizi
balita. Selain itu, ASI disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat
terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang diberikan secara dini pada
bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi. Pada akhirnya, bayi sulit buang air besar.
Apabila pembuatan susu formula tidak steril, bayi akan rawan diare.
Malnutrisi energi protein (MEP) merupakan salah satu dari empat masalah gizi utama di
Indonesia. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak di bawah umur lima tahun (balita) serta
12

pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan Riskesdas 2007, 13% balita menderita gizi kurang
dan 5,4% balita menderita gizi buruk. Pada Risdesdas 2010, 13% balita menderita gizi kurang
sedangkan angka gizi buruk turun menjadi 4,9%.
Berdasarkan

lama dan beratnya kekurangan energi protein, MEP diklasifikasikan

menjadi MEP derajat ringan-sedang (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi
kurang belum menunjukkan gejala klinis yang khas, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan dan
anak tampak kurus. Pada gizi buruk, di samping gejala klinis didapatkan kelainan biokimia
sesuai dengan bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis yaitu kwashiorkor,
marasmus, dan marasmik kwashiorkor, walaupun demikian penatalaksanaannya sama.
2.2.5 Tatalaksana
MEP berat ditata laksana melalui 3 fase (stabilisasi, transisi dan rehabilitasi) dengan 10
langkah tindakan seperti tabel di bawah ini :
Tabel 1. Sepuluh Langkah Tatalaksana MEP Berat
No Fase

Stabilisasi
Hari ke 1-2 Hari ke 2-7

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hipoglikemia
Hipotermia
Dehidrasi
Elektrolit
Infeksi
Mulai Pemberian

7.

Makanan (F-75)
Pemberian
Makanan

Transisi
Minggu ke-2

Rehabilitasi
Minggu ke 3-7

untuk

Tumbuh Kejar (F100)


8. Mikronutrien
9. Stimulasi
10. Tindak Lanjut

Tanpa Fe

Dengan Fe

Tabel 2. Komposisi F-75, F-100, dan F-135 Beserta Nilai Gizi Masing-Masing Formula

13

Bahan makanan
Formula WHO
Susu skim bubuk

Per 1000 ml

F-75

F-100

F-135

25

85

90

Gula pasir

100

50

65

Minyak sayur

30

60

75

Larutan elektrolit

ml

20

20

27

Air sampai

ml

1000

1000

1000

Energi

Kkal

750

1000

1350

Protein

29

33

Laktosa

13

42

48

Kalium

mmol

36

59

63

Natrium

mmol

19

22

Magnesium

mmol

4,3

7,3

Seng

mg

20

23

30

Tembaga (Cu)

mg

2,5

2,5

3,4

% Energi protein

12

10

% Energi lemak

36

53

57

Osmolaritas

mosm/l

413

419

508

Nilai gizi

2.2.5.1 Cara Membuat Formula WHO


Formula WHO 75
Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix,
kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel.
Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume
menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum. Masak selama 4 menit, bagi anak yang
disentri atau diare persisten.
Formula WHO 100
Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix,
kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel.
14

Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume
menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak dulu selama 4 menit. 3,7,8
2.2.5.2 Medikamentosa
1. Pengobatan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Rehidrasi secara oral dengan Resomal, secara parenteral hanya pada dehidrasi berat atau
syok.
2. Atasi/cegah hipoglikemia.
GDA < 50 mg/dl 50 ml D10% bolus IV evaluasi tiap 2 jam beri makanan tiap 2
jam.
3. Atasi gangguan elektrolit.
Beri cairan rendah Na (resomal).
Makanan rendah garam.
4. Atasi/cegah dehidrasi.
Penilaian dehidrasi denyut nadi, pernafasan, frekuensi kencing, air mata.
Cairan resomal peroral 5 ml/kgbb.
5. Atasi/cegah hipotermia.
Suhu < 36 hangatkan, berikan makanan tiap 2 jam.
6. Antibiotika sebagai pengobatan pencegahan infeksi:
a. Bila tidak jelas ada infeksi, berikan kotrimoksasol selama 5 hari.
b. Bila infeksi nyata: Ampisilin IV selama 2 hari, dilanjutkan dengan oral sampai 7
hari, ditambah dengan gentamisin IM selama 7 hari.
7. Mulai pemberian makanan.
Fase awal faali hemostasis kurang jadi harus hati-hati.
Pemberian porsi kecil, sering, rendah laktosa oral nasogastrik.
Kalori 80-100 kal?Kgbb/ hari, cairan 130 ml/hari.
8. Atasi penyakit penyerta yang ada sesuai pedoman.
9. Vitamin A (dosis sesuai usia, yaitu <6 bulan : 50.000 SI, 6-12 bulan : 100.000 SI, >1
tahun : 200.000 SI) pada awal perawatan dan hari ke-15 atau sebelum pulang.
10. Multivitamin-mineral, khusus asam folat hari pertama 5 mg, selanjutnya 1 mg per hari.
11. Tindakan kegawatan
a. Syok (renjatan)
Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit
membedakan keduanya secara klinis saja.
Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan
intravena, sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak akan membaik dengan
cepat. Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi.
Pedoman pemberian cairan:
Berikan larutan dextrosa 5% : NaCl 0.9% (1:1) atau larutan ringer dengan kadar
dextrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam satu jam pertama.
15

Evaluasi setelah 1 jam:


i. Bila ada perbaikan klinis (kesadaran, frekuensi nadi dan pernafasan) dan
status hidrasi, maka syok disebabkan dehidrasi. Ulangi pemberian cairan
seperti di atas untuk 1 jam berikutnya, kemudian lanjutkan dengan
pemberian Resomal/penggantil, per oral/nasogastrik, 10 ml/kgBB/jam
ii.

selama 10 jam, selanjutnya mulai berikan formula khusus (-75/pengganti).


Bila tidak ada perbaikan klinis maka anak menderita syok septik. Dalam
hal ini, berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan berikan
transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3

jam). Kemudian mulailah pemberian formula (F-75/pengganti).


b. Anemia berat
Tranfusi darah diperlukan bila:
i. Hb < 4 g/dl
ii. Hb 4-6 g/dl disertai distress pernafasan atau tanda gagal jantung
Tranfusi darah:
1. Berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam
Bila ada tanda gagal jantung, gunakan packed red cells untuk transfusi
dengan jumlah yang sama.
2. Beri furosemid 1 mg/kgBB secara i.v pada saat transfusi dimulai.
Perhatikan adanya reaksi tranfusi (demam, gatal, Hb-uria, syok). Bila pada
anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap < 4 g/dl atau antara 46 g/dl, jangan ulangi pemberian darah.
12. Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional
Kasih sayang, lingkungan yang ceria, bermain.
13. Tindak lanjut di rumah
Beri makanan sering energi dan protein padat.
Tabel 3. Cara Membuat Resomal
Terdiri dari:
Bubuk WHO-ORS* /Oralit untuk 200 ml

: 1 pak

Gula pasir

: 10 gram

Larutan elektrolit/mineral mix**

: 8 ml

Ditambah air sampai larutan menjadi

: 400 ml
16

Setiap 1 liter cairan Resomal ini mengandung 37,5 mEq Na, 40 mEq, dan 1,5 mEq Mg
*Bubuk WHO-ORS untuk 1 liter mengandung 2,6 g NaCl, 2,9 g trisodium citrat sesuai formula
baru, 1,5 g KCl dan 13,5 gram glukosa.
**Lihat Tabel 4.

Tabel 4. Komposisi Larutan Mineral Mix


Kandungan
Kalium klorida

Jumlah
89,5 g

Trikalium sitrat

32,4 g

Magnesium klorida (MgCl2.6H2O)

30,5 g

Seng asetat

3,3 g

Tembaga sulfat

0,56 g

Natrium selenate

10 mg

Kalium iodide

5 mg

Air sampai volume mencapai

1000 ml

2.2.5.3 Suportif / Dietetik


1. Oral (enteral): sesuai kebutuhan energi, protein dan cairan sesuai fase-fase tata laksana
gizi buruk.
2. Intravena (parenteral): hanya atas indikasi tepat.

Tabel 5. Kebutuhan Energi, Protein dan Cairan Sesuai Fase Tatalaksana Gizi Buruk

Energi

Stabilisasi (F75)
80-100 kkal/kgbb/hr

Transisi (F75 F100)


100-150 kkal/kgbb/hr

Rehabilitasi (F100)
15-220/kgbb/hr

Protein

1-1,5 g/kgbb/hr

2-3 g/kgbb/hr

4-6 g/kgbb/hr

Cairan

100-130 ml/kgbb/hr

Bebas sesuai kebutuhan

Bila ada edema berat: energi


100 ml/kgbb/hr
17

Hal penting yang harus diperhatikan:


1.
2.
3.
4.
5.

Jangan beri Fe sebelum minggu ke-2.


Jangan berikan cairan IV, kecuali syok atau dehidrasi berat.
Jangan beri protein terlalu tinggi.
Jangan beri diuretik pada kwashiorkor.
Jangan beri infus albumin pada kwashiorkor.

2.2.5.4 Memberikan Stimulasi Sensorik dan Dukungan Emosional


Pada anak gizi buruk terjadi perkembangan mental dan perilaku karenanya harus
diberikan:
1.
2.
3.
4.
5.

Kasih sayang
Lingkungan yang ceria
Terapi bermain terstuktur selama 15 30 menit/hari (permainan ci luk ba, dl)
Aktifitas fisik segera setelah sembuh
Keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dan sebagainya.

2.2.5.5 Kriteria Pemulangan Balita Gizi Buruk dari Ruang Rawat Inap
1. Balita:
a. Selera makan sudah bagus, makanan yang diberikan dapat dihabiskan
b. Ada perbaikan kondisi mental
c. Balita sudah dapat tersenyum, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan, sesuai
d.
e.
f.
g.

dengan umurnya
Suhu tubuh berkisar antara 36,5 37,5 C
Tidak ada muntah atau diare
Tidak ada edema
Terdapat kenaikan berat badan > 5 g/kgBB/hr selama 3 hari berturut-turut atau

kenaikan sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut


h. Sudah berada di kondisi gizi kurang (sudah tidak gizi buruk)
2. Ibu / Pengasuh:
a. Sudah dapat membuat makanan yang diperlukan untuk tumbuh kejar di rumah
b. Ibu sudah mampu merawat serta memberikan makan dengan benar kepada balita
3. Institusi Lapangan:
Institusi lapangan telah siap untuk menerima rujukan pasca perawatan.
2.2.5.6 Pemantauan

18

1. Kriteria Sembuh: BB/TB > -2 SD


2. Tumbuh Kembang:
a. Memantau status gizi secara rutin dan berkala
b. Memantau perkembangan psikomotor
3. Edukasi
Memberikan pengetahuan pada orang tua tentang:
a. Pengetahuan gizi
b. Melatih ketaatan dalam pemberian diet
c. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

2.2.5.7.Tindak Lanjut di Rumah Bagi Anak Gizi Buruk


1. Bila gejala klinis dan BB/TB-PB -2 SD dapat dikatakan anak sembuh
2. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjukan di rumah setelah
penderita dipulangkan
Beri contoh kepada orang tua:
1. Menu dan cara membuat makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang padat,
sesuai dengan umur, berat badan anak.
2. Terapi bermain terstuktur

Sarankan:
1. Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering, sesuai dengan umur anak
2. Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur:
Bulan I
: 1x/minggu
Bulan II
: 1x/2 minggu
Bulan III-IV : 1x/bulan
3. Pemberian suntikan/imunisasi dasar dan ulangan (booster)
4. Pemberian vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan sekali (dosis sesuai umur)

2.2.5.8.Langkah Promotif/Preventif
Malnutrisi energi protein merupakan masalah gizi yang multifaktorial. Tindakan
pencegahan bertujuan untuk mengurangi insidens dan menurunkan angka kematian. Oleh karena

19

ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut, maka untuk
mencegahnya dapat dilakukan beberapa langkah, antara lain:
a. Pola Makan
Penyuluhan pada

masyarakat

mengenai

gizi

seimbang

(perbandingan

jumlah

karbonhidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat badan)
b. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan sekali
pada tahun pertama)
c. Faktor sosial
Mencari kemungkinan adanya pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu
yang sudah berlangsung secara turun-temurun dan dapat menyebabkan terjadinya MEP.
d. Faktor ekonomi
Dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan bahwa
meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya
persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis
pangan, sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. Ditekankan
pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya.
e. Faktor infeksi
Telah lama diketahui adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat
apapun dapat memperburuk keadaan status gizi. MEP, walaupun dalam derajat ringan,
menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. 3,7,8,9,10

20

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1

Identitas Pasien
Nama

: I

Jenis kelamin

: perempuan

Agama

: Islam

Tanggal Lahir

: 05 Mei 2016

Umur

: 1 tahun 12 hari

Alamat

: Medas Bedugul, Tamansari Gunungsari

MRS

: Tanggal 17 Mei 2016

No. RM

: 012175

Identitas Orang Tua Pasien


Identitas

Ibu

Ayah

Nama

Ny. K

Tn. F A

Umur

37 tahun

43 tahun

Agama

Islam

Islam

Pendidikan

Tamat SD

SMA

Pekerjaan

Pedagang

Sopir

Alamat

Medas Bedugul,

Medas Bedugul,
21

3.2

Tamansari

Tamansari

Gunungsari

Gunungsari

Heteroanamnesis (orang tua pasien)


Keluhan Utama :
Sesak napas.

Keluhan Tambahan :
- Batuk berdahak
- Demam

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien dibawa oleh orangtuanya ke Puskesmas Gunungsari dengan keluhan sesak napas.
Sesak napas dirasakan sejak satu hari yang lalu. Sesak napas dirasakan tiba-tiba dan terusmenerus, ibu pasien mengatakan napas pasien cepat, tampak seperti orang yang terengahengah disertai adanya suara nafas berbunyi (mengi) atau mengorok. Sesak napas tidak
berhubungan dengan aktivitas, tidak disertai adanya bengkak-bengkak pada kedua tungkai
serta kebiruan pada ujung-ujung jari maupun sekitar mulut. Pasien juga dikeluhkan batuk
berdahak dan pilek dengan sekret berlendir warna bening sejak satu minggu yang lalu.
Selain itu pasien juga dikeluhkan demam sejak satu minggu yang lalu. Keluhannya tersebut
mengakibatkan pasien rewel dan tidak bisa tidur belakangan ini. Keluhan tidak disertai
mual dan muntah. Buang air besar normal, 1-2 kali sehari, konsistensi lembek dan warna
kuning. Buang air kecil dalam batas normal, 3-4 kali sehari. Nafsu makan dan minum baik.

Riwayat Penyakit Dahulu

22

Pasien diakui memiliki riwayat keluhan serupa berulang dan sering berobat ke puskesmas
maupun ke praktik dokter mandiri serta rawat inap dan berobat jalan rutin di RSUP NTB.
Pertama kali muncul keluhan sesak napas seperti ini pada usia 40 hari. Pasien juga
memiliki riwayat perut kembung dan rutin dilakukan pengeluaran feses secara manual
hingga usia 3 bulan (Hirscprung?). Riwayat batuk lama terus menerus, kejang demam
disangkal.
Riwayat Pengobatan

Sebelumnya pasien telah datang ke IGD Puskesmas Gunungsari dan telah diberikan terapi
oksigen dan nebulisasi, namun esok harinya keluhan sesak kembali memberat.
Riwayat Penyakit Keluarga

Orang tua pasien menyangkal adanya penyakit keturunan dalam keluarga baik ibu
pasien dan ayah pasien seperti penyakit jantung, diabetes melitus, hipertensi, alergi
ataupun asma.

Terdapat riwayat keluhan serupa pada ayah pasien sewaktu kecil, keluhan juga sering
berulang namun membaik setelah memasuki usia sekolah. Saudara-saudara sepupu
pasien yang tinggal berdekatan dengan rumah pasien sering mengalami batuk, pilek,
demam, dan sesak namun membaik setelah berobat.

Riwayat Kehamilan dan Riwayat Persalinan :

Pasien merupakan anak ketiga dari kehamilan ibu yang ketiga. Kehamilan ibu tidak
diketahui segera, karena sehabis pemakain KB pil menstruasi dikatakan tidak teratur.
Selama hamil, ibu pasien mengaku rutin memeriksakan kehamilannya setiap bulan. Ibu
pasien mengaku selama hamil dirinya sering mengalami demam kemudian berobat ke
praktik dokter mandiri, minum obat penurun panas dan antibiotik kemudian sembuh.
Adanya sakit berat seperti tekanan darah tinggi, kejang, perdarahan, ataupun trauma
selama hamil disangkal. Ibu pasien juga tidak pernah meminum obat-obatan selain yang
diberikan oleh dokter ataupun jamu selama hamil, kecuali vitamin penambah darah
yang diberikan di posyandu. Nutrisi ibu selama hamil cukup, makan 3-4 kali sehari,
nasi, sayur, lauk pauk.
23

Pasien lahir secara spontan dibantu oleh bidan di RSUP NTB dengan riwayat
kehamilan lebih bulan (post term) dan induksi persalinan dengan diberikan perangsang.
Menurut ibu saat lahir, pasien langsung menangis dan warna kulit bayi kemerahan.
Berat badan pasien saat lahir adalah 3000 gram, panjang badan lahir 47 cm, lingkar
kepala 33 cm.

Riwayat Imunisasi :
Pasien hanya mendapatkan beberapa imunisasi dasar dikarenakan sering sakit, sehingga
tidak bisa mengikuti imunisasi di posyandu sesuai jadwal.
BCG

(+) pada umur 1 bulan

Hepatitis

(3x) pada umur 0, 2, 3 bulan

Polio

(3x) pada umur 0,2,3 bulan

DPT

(2x) pada umur 2, 3 bulan

Campak

(-)

Riwayat Nutrisi :
Pasien saat ini masih diberikan ASI, selang seling dengan susu formula dan mendapatkan
makanan keluarga. Ibu pasien mengatakan nafsu makan dan minum pasien baik. Makan 3
kali sehari dengan menu bervariasi sayur dan lauk pauk, tidak ada pantangan makanan,
sedangkan minum juga kuat. Ibu pasien mengaku ASI tidak langsung diberikan sejak lahir
dikarenakan ASI belum keluar, sehingga pasien mendapatkan susu formula selama 1 hari
kemudian baru ASI. Pasien telah mendapatkan makanan pendamping ASI pada usia 5
bulan dikarenakan saat itu pasien sudah mulai minta makanan. Ibu berencana memberikan
ASI hingga usia 2 tahun.

Riwayat Tumbuh Kembang :

24

Pasien saat ini sudah bisa duduk sendiri, berdiri dengan dibantu orang lain, namun belum
bisa berdiri sendiri dan berjalan. Selain itu, pasien sudah dapat mengenali dan memegang
benda-benda di sekitarnya dengan baik. Pasien dapat mengucapkan 1 kata tunggal seperti
ma, nyusu. Perkembangan sosial pasien terbatas pada keluarga yang tinggal serumah
yaitu bapak, ibu dan kakaknya. Pasien sulit bersosialisaasi dengan orang lain misalnya
sepupu, paman atau bibinya, serta orang yang baru dikenal.
Kesan

: Perkembangan sedikit terlambat untuk usia >12 bulan

Iktisar Keluarga

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakak perempuannya berusia 7 tahun
dalam satu rumah. Pasien berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah. Penghasilan
rata-rata per bulan Rp 1.000.000,- sampai Rp 2.000.000,-. Lingkungan rumah sedikit padat,
25

dalam satu lingkungan terdapat empat rumah letaknya berdekatan, rumah yang satu dengan
yang lainnya hanya berjarak 1 m. Berdasarkan letak, rumah menghadap ke arah selatan, di
depan rumah terdapat tebing yang menghubungkan dengan rumah lain sehingga kurang
mendapatkan pencahayaan matahari, di dalam rumah gelap. Lantai rumah terbuat dari
keramik, sebagian semen dan dinding terbuat dari tembok batu bata, terdapat ventilasi kecil
dan jendela di bagian depan rumah yang setiap hari dibuka. Ibu pasien mengaku bahwa
ayah pasien sudah tidak merokok, ibu memasak menggunakan kompor dan jarak
pembakaran sampah jauh dari rumah sehingga risiko pasien medapatkan polusi asap
minimal. Diakui saudara-saudara sepupu pasien yang tinggal berdekatan dengan rumah
pasien dan sering main berkunjung ke rumah pasien juga sering mengalami batuk, pilek,
demam, dan sesak namun membaik setelah berobat. Di depan rumah, jarak kurang lebih 2
m terdapat kebun tanaman, tidak terdapat terdapat kandang peternakan. Secara keseluruhan
lingkungan rumah masih kurang terjaga kebersihannya.

3.3

Pemeriksaan Fisik
Status Present
Keadaan umum

: lemah (tampak sesak), rewel

Kesadaran

: E4V5M6 (compos mentis)

Nadi

: 120 kali/menit, reguler, kuat angkat

Respirasi

: 42 kali/menit, reguler

Suhu aksila

: 38,9 0C

Berat badan

: 5,9 kg

BBL

: 3,0 kg

Panjang badan

: 67 cm

Status gizi

: Berdasarkan Zscore kurva WHO


26

BB/U= <-3 SD gizi sangat kurang

PB/U= (-2)-(-3) SD kurang

BB/PB = (-2)-(-3) SD kurang

Status General
Kepala

: normochepal berdasarkan kurva Nellhaus,

Mata

: Anemis +-/+-, Ikterus -/-, Refleks pupil +/+ isokor,


cowong (-)

THT
Telinga

: hiperemis (-), edema (-), sekret (-), bagian dalam

sde
Hidung
: nafas cuping hidung (-), rinore (+) bening
Tenggorokan : hiperemis (-)
Mukosa bibir : Pucat (-), sianosis (-)
Leher

Inspeksi

Palpasi

: benjolan (-), peningkatan vena jugularis (-)


: pembesaran kelenjar (-)

Thorax
Cor :

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS IV MCL kiri, kuat

angkat (-), thrill (-)

Perkusi

: Sde

Auskultasi

: S1 S2 Normal, regular,
murmur (-), gallop (-)

Pulmo :
27

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Gerakan dada simetris (+), retraksi minimal (+) epigastrik


: Focal fremitus N/N
: Sonor, batas jantung-paru dbn
Auskultasi
: Vesikuler +/+, Rhonki +/+ (rhonki basah sedangkasar), Wheezing +/+

Abdomen :

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

:
:
:
:

Distensi (-)
Bising usus (+) normal
Hepar-Lien tidak teraba
timpani, dalam batas normal

Ekstremitas :
Akral hangat (+), sianosis (-), edema (-)

ASSESSMENT
Gizi Buruk dengan Peumonia
PLANNING
Diagnostik
- Darah Lengkap
Terapi
O2 nasal kanul 1-2 lpm
Infus D5 NS 20 tetesan mikro
Injeksi Ampicilin IV 3x150 mg
Nebulisasi combivent 1/2 ampul
Monitoring :
- Observasi vital sign (Respirasi, Frekuensi nadi, Suhu tubuh), akral
3.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Lengkap (tanggal 13 Juni 2015)

HGB
WBC
PLT

: 10,0 g/dl (rendah)


: 11.800/mm3 (meningkat)
: 241 x 103/L (normal

28

3.5 Diagnosis Holistik


a. Aspek personal
Pasien dikeluhkan sesak disertai batuk dan demam. Hasil pemeriksaan didapatkan napas
cepat dan suara ronki paru, tanpa disertai tanda bahaya.
b. Aspek klinik
Pneumonia + Gizi kurang (gagal tumbuh)
c. Aspek risiko internal
Pasien sering mengalami keluhan serupa berupa infeksi pada saluran pernapasan sejak
kecil. Selain itu, adanya malnutrisi pasien yang disebabkan oleh kelainan kongenital
yang sempat dideritanya sehingga pasien mengalami kondisi gizi kurang yang dapat
menurunkan daya tahan tubuh pasien dan mudah terkena infeksi.
d. Aspek keluarga
Kurangnya kepekaan keluarga terhadap kebersihan lingkungan rumah serta kurang
memperhatikan gizi pada anak sehingga anak mudah terkena infeksi berulang.
e. Skala fungsional
Skala fungsional pasien yaitu kelas II karena aktivitas pasien sehari-hari terganggu dan
harus istirahat total.

3.6 KIE
- Menjelaskan kepada orang tua pasien mengenai penyakit infeksi saluran nafas yang
diderita, beserta faktor risiko yang mungkin dapat menyebabkan keluhan serupa dapat
berulang
- Menjelaskan keadaan pasien dan agar tatalaksana dapat dilaksankan dengan baik
maka pasien dianjurkan untuk rawat inap.
- Menganjurkan pasien agar tetap menjaga kebersihan dan memperhatikan gizi pasien
untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

3.7 Prognosis pasien


29

Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad functionam

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam

30

Keadaan social dan ekonomi yang rendah


LINGKUNGAN
Pengetahuan dan pendidikan
ibu/orang yang mengasuh
Akses air bersih
Pola asuh anak
Kesehatan
Pemberian ASIDeterminan
eksklusif PERILAKU

Sistem kekebalan tubuh lebih lemah karena status nutrisi yang buruk

PELAYANAN
KESEHATAN
Kurangnya informasi mengenai gizi buruk

BIOLOGIS
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS

31

DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
BAB IV

GIZ

PEMBAHASAN
DIABETES

MELITUS
Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya
ketidakseimbangan faktor-faktor utama
DIABETES
yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
MELITUSParadigma hidup sehat yang
diperkenalkan oleh H. L. Bloom mencakup 4 faktor yaitu faktor biologis (keturunan), perilaku

DIABETES
MELITUS

(gaya hidup) individu atau masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, fisik, politik) dan
faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya), namun yang paling berperan dalam
terjadinya gizi buruk adalah faktor perilaku dan DIABETES
lingkungan . Gizi buruk menjadi masalah di
mayarakat disebabkan oleh karena faktor-faktor berikut
:
MELITUS
1. Faktor Biologis

DIABETES
Sistem kekebalan tubuh pasien lebih lemahMELITUS
dibandingkan dengan anak usia sebayanya
karena status nutrisinya yang buruk. Hal ini mengakibatkan pasien menjadi lebih rentan

DIABETES
MELITUS

terhadap penyakit infeksi dan akan menyebabkan penurunan status gizi yang lebih buruk
lagi.
2. Faktor Lingkungan

Sosio-ekonomi rendah

DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS

Pasien termasuk dalam keluarga dengan sosio-ekonomi yang rendah. Status sosial ekonomi
merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk dikarenakan rendahnya status sosial ekonomi
akan berdampak pada daya beli makanan. DIABETES
Rendahnya kualitas dan kuantitas makanan

MELITUS
merupakan penyebab langsung dari gizi buruk
pada balita. Status sosial ekonomi yang
kurang sebenarnya dapat diatasi jika keluarga tersebut mampu menggunakan sumber daya

DIABETES
MELITUS

yang terbatas, seperti kemampuan untuk memilih bahan yang murah tetapi bergizi dan
distribusi makanan yang merata dalam keluarga.

DIABETES

Pengetahuan dan pendidikan ibu/orang yang mengasuh


MELITUS
Latar belakang pendidikan seseorang merupakan
salah satu unsur penting yang dapat
mempengaruhi keadaan gizi karena dengan tingkat pendidkan yang lebih tingggi

DIABETES

diharapkan pengetahuan atau informasi tentang


gizi yang dimiliki menjadi lebih baik.
MELITUS

DIABETES
MELITUS
DIABETES

32

MELITUS
DIABETES
MELITUS
Masalah gizi sering timbul karena ketidaktahuan
atau kurang informasi tentang gizi yang
DIABETES
memadai.
MELITUS
Ibu dari anak balita gizi buruk mempunyai pengetahuan gizi dan praktek pemberian
makanan bayi lebih rendah dibandingkan ibu
dari anak balita gizi baik. Demikian pula
DIABETES

MELITUS
aktifitas dan kegiatan ibu dari anak dengan gizi
buruk lebih rendah dibandingkan dengan
ibu dari anak gizi kurang maupun gizi baik. Semakin rendah pendidikan ayah dan ibu status

DIABETES

gizi anak semakin jelek.


Ada dua sisi kemungkinan hubungan tingkatMELITUS
pendidikan orang tua dengan keadaan gizi
anak balita. Pertama, tingkat pendidikan kepala keluarga secara langsung. Kedua,

DIABETES
MELITUS

pendidikan ibu modal utama dalam menunjang perekonomian rumah tangga, juga berperan

dalam pola penyusunan makanan rumah tangga maupun dalam pola pengasuhan anak.
Akses air bersih
DIABETES
Akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan kebersihan

MELITUS

lingkungan besar pengaruhnya terhadap pengasuhan anak. Makin tersedia air bersih yang
cukup untuk keluarga serta makin dekat jangkauan
keluarga terhadap pelayanan dan sarana
DIABETES

MELITUS
kesehatan, makin kecil resiko anak terkena penyakit
dan kekurangan gizi.
Gangguan gizi dan infeksi sering saling bekerja sama, dan bila bekerja bersama sama akan
DIABETES
memberikan dampak yang lebih buruk dibandingkan
bila kedua faktor tersebut masingMELITUS
masing bekerja sendiri-sendiri. Infeksi memperburuk
taraf gizi dan sebaliknya, gangguan
gizi memperburuk kemampuan anak untuk mengatasi penyakit.
3. Perilaku

DIABETES
MELITUS

Pola asuh anak


DIABETES
Kualitas pengasuhan balita yang buruk dan rendahnya pendidikan akan mempengaruhi

MELITUS

kualitas dan kuantitas asupan makanan balita yang menyebabkan balita tersebut mengalami

gizi buruk.
DIABETES
ASI eksklusif
MELITUS
Terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian gizi
buruk. Pendeknya masa ASI eksklusif merupakan
faktor risiko kejadian gizi buruk. ASI
DIABETES
mempengaruhi kejadian gizi buruk dikarenakan
MELITUS
ASI mengandung zat antibodi sehingga
balita yang tidak diberikan ASI eksklusif akan rentan terhadap penyakit dan akan berperan
langsung terhadap status gizi balita.

DIABETES
MELITUS

4. Pelayanan kesehatan
Kurangnya informasi mengenai gizi buruk DIABETES

MELITUS
DIABETES
MELITUS

33

DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
Masyarakat perlu diberikan informasi mengenai
gizi balita karena seringkali hal ini
diabaikan oleh keluarga pasien. Hal ini tentu berkaitan dengan tingkat pendidikan dan

DIABETES
MELITUS

pengetahuan yang dimiliki oleh keluarga pasien sehingga akan mempengaruhi tindakan
yang akan diambil terhadap status gizi pasien yang buruk.

DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES

34

MELITUS
DIABETES
MELITUS
BAB V

DIABETES
MELITUS
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan

DIABETES
MELITUS

Terjadinya gizi buruk pada anak ini berkaitan dengan empat determinan kesehatan yaitu faktor
biologis, lingkungan perilaku dan faktor pelayanan
kesehatan. Namun faktor yang paling
DIABETES
mempengaruhi pada keadaan pasien adalah faktorMELITUS
lingkungan yang kurang memadai seperti
social ekonomi yang kurang dan rendahnya tingkat pendidikan orang yang mengasuh anak

DIABETES
MELITUS

tersebut serta faktor perilaku seperti pola asuh yang salah dan masa pemberian ASI ekslusif yang
singkat.
Saran

DIABETES
MELITUS

Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan, maka adanya anak gizi buruk harus segera

DIABETES
MELITUS

ditangani. Pemerintah dan petugas kesehatan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab yang
besar sebagai pelaksana langsung program kesehatan termasuk gizi buruk. Koordinasi antara
bagian gizi dengan bagian promosi kesehatan agar DIABETES
lebih ditingkatkan terutama dalam melakukan
sosialisasi berupa penyuluhan yang berkaitan dengan
cara pemberian makan yang benar untuk
MELITUS
balita.

DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS

35

DIABETES
MELITUS
DIABETES
DAFTAR PUSTAKA
MELITUS
DIABETES
MELITUS

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Data Kesehatan Indonesia


2011. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. DIABETES

MELITUS
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
2010. Laporan Hasil Riset Kesehatan
Dasar (RISKESDAS) Nasional 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

DIABETES
MELITUS
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
2011. Pedoman Pelayanan Anak Gizi
Buruk. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

DIABETES
MELITUS
4. Tim Penyusun. 2011. Data Puskesmas Gunungsari
Tahun 2010. Puskesmas Gunungsari.
DIABETES
MELITUS

5. Tim Penyusun. 2011. Data Puskesmas Gunungsari Tahun 2011. Puskesmas Gunungsari.

DIABETES
6. Tim Penyusun. 2012. Data Puskesmas Gunungsari
Tahun 2012. Puskesmas Gunungsari.
MELITUS
7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Petunjuk Teknis Tata Laksana Anak

DIABETES
Gizi Buruk: Buku I. Jakarta: Departemen Kesehatan.
MELITUS

DIABETES
8. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2003. Petunjuk Teknis Tata Laksana Anak
MELITUS
Gizi Buruk: Buku II. Jakarta: Departemen Kesehatan.

DIABETES
MELITUS
9. WHO Indonesia. 2009. Pelayanan Kesehatan
Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat
Pertama di Kabupaten. Jakarta: WHO Indonesia.

DIABETES
MELITUS
10. WHO. 1999. Management of Severe Malnutrition:
a Manual for Physicians and Other
Senior Health Workers. Geneva: World Health Organization.

DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS
DIABETES
MELITUS

36