Anda di halaman 1dari 6

BAB I

BETON MUTU TINGGI


(HIGH STRENGHT CONCRETE)

1.1 PENGERTIAN BETON MUTU TINGGI


Beton adalah elemen yang digunakan sebagai struktur dalam konstruksi teknik sipil
yang dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Pengertian umum beton adalah campuran
dari agregat halus dan agregat kasar (pasir, krikil, batu pecah, atau jenis agregat lain)
dengan semen, yang dipersatukan oleh air dalam perbandingan tertentu. Dalam teknik
sipil struktur beton digunakan untuk bangunan pondasi, kolom, balok, plat/plat
cangkang. Semakin meluasnya penggunaan beton dan makin meningkatnya skala
pembangunan menunjukkan semakin banyak kebutuhan beton di masa yang akan datang,
sehingga mempengaruhi perkembangan teknologi beton dimana akan menuntut inovasiinovasi baru mengenai beton itu sendiri.
Kriteria beton mulai berubah seiring perkembangan jaman dan kemajuan tingkat
mutu yang berhasil dicapai sesuai dengan perkembangan teknologi beton yang
sedemikian pesatnya. Pada tahun 1950, beton dikategorikan mempunyai mutu tinggi jika
kuat tekannya 30 Mpa. Pada tahun 1960-1970, kriterianya naik menjadi 40 Mpa. Saat ini
beton dikatakan sebagai beton mutu tinggi jika kuat tekannya diatas 50 Mpa dan diatas
80 Mpa adalah beton dengan mutu sangat tinggi (supartono, 1998) pada tahun 1980an
beton mutu tinggi banyak digunakan untuk bangunan tingkat, terutama untuk elemen
struktur kolom.
High strength concrete (beton mutu tinggi) merupakan sebuah tipe beton performa
tinggi yang secara umum memiliki kuat tekan 6000 psi (40 MPa) atau lebih. Ukuran kuat
tekannya diperoleh dari silinder beton 150 mm 300 mm atau silinder 100 mm 200
mm pada umur 56 ataupun 90 hari, ataupun umur yang telah ditentukan tergantung pada
aplikasi yang diinginkan. Produksi high strength concrete membutuhkan penelitian dan
perhatian yang lebih jauh terhadap kontrol kualitasnya daripada beton konvensional.
Faktor yang sangat mempengaruhi beton mutu tinggi adalah interaksi antara 2 fase
material yaitu agregat, dan mortar.
Beton mutu tinggi adalah suatu bahan yang dibuat dari campuran beton (semen,
agregat, air) dan pengurangan semen dengan penambahan zat aditif sesuai dengan
perbandingan sedemikian rupa sehingga bahan itu merupakan satu kesatuan yang dapat
membentuk kekuatan beton yang lebih tinggi. Bahan-bahan pekerjan beton itu terdiri
dari:

Semen adalah perekat hidrolis yang berarti bahwa senyawa-senyawa yang


terkandung di dalam semen tersebut dapat bereaksi dengan air dan membentuk zat
baru yang bersifat sebagai perekat terhadap batuan. Semen Portland (PC) umum pada
berbagai tipe (yang memenuhi spesifikasi standar ASTM C 150) dapat digunakan
untuk memperoleh campuran beton dengan kekuatan tekan sampai dengan 50 Mpa.
Untuk mendapatkan kuat tekan yang lebih tinggi saat mempertahankan workability
yang baik, sangat perlu untuk menggunakan admixture yang dikombinasikan dengan
semen. Pada kasus tersebut, kompabilitas semen-admixture menjadi sebuah hal yang
penting.

Agregat merupakan material yang dominan pemakaiannya dalam dunia rekayasa sipil.
Agregat dapat digunakan langsung (seperti dasar jalan dan timbunan) dan juga dapat
digunakan dengan penambahan semen untuk membentuk suatu kesatuan material atau
disebut dengan beton. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan,
kerikil, pasir, dan lain sebagainya) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap
benturan, yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen, porositas dan
karekteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap agresi kimia,
serta ketahanan terhadap penyusutan.

Air yang digunakan dapat berupa air tawar (dari sungai, danau, telaga, kolam, situ,
dan lainnya), air laut maupun air limbah, asalkan memenuhi syarat mutu yang telah
ditetapkan. Air diperlukan pada pembuatan beton untuk memicu proses kimiawi
semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pekerjaan beton.

Bahan tambahan yaitu jenis golongan yang bekerja secara mekanik pada saat beton
menjelang pengerasan, golongan yang bekerja secara kimiawi, yakni mengadakan
reaksi dengan salah satu komponen dari semen Portland, golongan yang pada
hakikatnya bekerja secara mekanik tetapi kemudian berperan pada reaksi dari semen
dengan air. Kebutuhan kekuatan yang tinggi dan ukuran agregat yang kecil berarti
bahwa isi dari bahan-bahan pengikat pada campuran beton akan menjadi tinggi,
umumnya di atas 400 kg/m3. Isi bahan-bahan pengikat sebesar 600 kg/m3 dan bahkan
lebih tinggi telah diselidiki namun tidak diinginkan dengan alasan tingginya biaya dan
susut suhu dan pengeringan yang berlebihan.

Abu terbang (fly ash) diperoleh dari hasil residu PLTU. Material ini berupa butiran
halus ringan, bundar, tidak porous, mempunyai kadar bahan semen yang tinggi dan
mempunyai sifat pozzolanik, yaitu dapat bereaksi dengan kapur bebas yang
dilepaskan semen saat proses hidrasi dan membentuk senyawa yang bersifat mengikat
pada temperatur normal dengan adanya air.

Silika Fume ( SF ) adalah hasil produksi sampingan dari reduksi quarsa murni
( SiO2 ) dengan batu bara di tanur listrik tinggi dalam pembuatan campuran silikon
atau ferro silikon. Silika Fume mengandung kadar SiO2 yang tinggi dan merupakan
bahan yang sangat halus, bentuk bulat dan berdiameter yang sangat kecil sekali yaitu
1/100 kali diameter semen ( ACI, Committee, 1986 dan Modul Silica ). Silika Fume
dalam jumlah tertentu dapat menggantikan jumlah semen, selain itu karena Silika
Fume mempunyai diameter sangat kecil, maka Silika Fume dapat juga berperan
sebagai pengisi diantara pertikel-partikel semen. Dengan adanya Silika Fume ini
distribusi porositas beton menjadi lebih kecil karena peran Silika Fume disini selain
sebagai penanggulangan terhadap serangan sulfat juga sebagai pengisi rongga- rongga
partikel semen

dan agregat sehingga dapat menambah kekedapan dan keawetan

beton. Beberapa keuntungan digunakannya Silika Fume sebagai bahan tambah yaitu :
a.
b.
c.
d.

Mengurangi bleeding dan segregasi


Memperoleh panas hidrasi
Memperkecil nilai slump
Memperendah nilai permeabilitas beton dan meningkatkan keawetan beton.
Ada beberapa faktor utama yang bisa menentukan keberhasilan pengadaan beton

bermutu tinggi, diantaranya adalah :


a. Keadaan semen.
b. Faktor air semen (fas) yang rendah.
c. Kualitas agregat halus (pasir).
d. Kualitas agregat kasar (batu pecah/krikil).
e. Penggunaan admixture dan aditif mineral dalam kadar yang tepat.
f. Prosedur yang benar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton.
g. Pengawasan dan pengendalian yang ketat pada keseluruhan prosedur dan mutu
pelaksanaan.
1.2 SEJARAH SINGKAT BETON MUTU TINGGI
Sejarah singkat dari perkembangan high strength concrete dapat dijabarkan berikut
ini. Pada akhir tahun 1960-an, admixture untuk mengurangi air (superplasticizer) yang
terbuat dari garam-garam naphthalene sulfonate diproduksi di Jepang dan melamine
sulfonate diproduksi di Jerman. Aplikasi pertama di Jepang yaitu digunakan untuk

produk girder dan balok pracetak dan cetak di tempat. Di Jerman, awalnya ditujukan
untuk pengembangan campuran beton bawah air yang memiliki kelecakan tinggi tanpa
terjadi segregasi. Sejalan dengan kemungkinan tercapainya mutu beton yang tinggi dan
workability yang tinggi secara simultan pada campuran beton dengan pemakaian
superplasticizer, maka pemakaian kedua bahan tersebut dianggap sangat cocok
digunakan pada produksi komponen-komponen struktur cetak di tempat untuk bangunanbangunan tinggi.
Beton didefinisikan sebagai high-strength semata-mata berdasarkan karena kuat
tekannya

pada

umur

tertentu.

Pada

tahun

1970-an,

sebelum

ditemukannya

superplasticizer, campuran beton yang memperlihatkan kuat tekan 40 MPa atau lebih
pada umur 28 hari disebut sebagai high strength concrete. Saat ini, saat campuran beton
dengan kuat tekan 60 MPa 120 MPa tersedia di pasaran, pada ACI Committae 2002
tentang High Strength Concrete merevisi definisinya menjadi memperoleh campuran
dengan kuat tekan desain spesifikasi 55 MPa atau lebih.
Meskipun tujuan praktisnya adalah untuk menyatakan kuat tekan beton
berdasarkan hasil uji pada umur 28 hari, namun terdapat pergeseran untuk menyatakan
kekuatan pada umur 56 atau 90 hari dengan alas an bahwa banyak elemen-elemen
struktur yang tidak terbebani selama kurun waktu dua atau tiga bulan atau lebih. Saat
kekuatan yang tinggi tidaklah diperlukan pada umur-umur awal, akan lebih baik untuk
tidak

menyatakannya

hanya

untuk

mencapai

sejumlah

keuntungan

misalnya

penghematan semen, kemampuan untuk menggunakan bahan-bahan tambah (admixture)


secara berlebihan dan produk yang lebih durable.
Beberapa puluh tahun yang silam, bangunan-bangunan tinggi yang ada di New
York hampri seluruhnya merupakan bangunan dengan rangka baja. Saat ini, mungkin
sepertiga dari bangunan-bangunan tinggi komersial dibuat dengan rangka beton
bertulang. Terdapat sebuah penilaian yang diyakini bahwa pemilihan antara rangka baja
dengan rangka beton bertulang ditentukan berdasarkan kecepatan konstruksi yang tinggi.
Ketersediaan high strength concrete secara komersial memberikan sebuah penilaian
ekonomis alternatif untuk membangun kolom dengan beton konvensional pada lantailantai bawah dari bangunan-bangunan tinggi. Untuk konstruksi bangunan-bangunan yang
menggunakan rangka beton bertulang, 30 lantai atau lebih, kolom-kolom dengan ukuran
normal dapat dibuat pada sepertiga bagian dari bangunan dengan mutu beton
konvensional 30 MPa sampai dengan 35 MPa. Namun pemakaian high strength concrete
dibenarkan untuk kolom-kolom langsing pada duapertiga bagian bawah dari bangunan.

1.3 PERKEMBANGAN BETON MUTU TINGGI DI INDONESIA


Parameter beton mutu tinggi sangat beragam, tergantung di mana ia berada. Di
Indonesia, beton dengan kekuatan di atas 50 Mpa sudah digolongkan beton mutu tinggi,
sementara di Australia beton berkuatan 200 MPa merupakan hal blasa. Di China, dengan
menggunakan agregat sintetik, telah ada beton hingga 300 MPa. Dalam perkembangan
konstruksi beton modern, beton dituntut menjadi material konstruksi yang bermutu tinggi
sekaligus berkinerja tinggi. Pada beton segar, mudah dalam pengerjaan pengecoran
(workable), panas hidrat yang rendah (low heat of hydration), susut relatif rendah pada
saat pengeringan, memiliki tingkat waktu ikat awal (acceleration) atau penundaan
(retardation) yang baik, serta mudah dipompakan ke tempat yang lebih tinggi,
merupakan beberapa tuntutan yang harus dapat dipenuhi beton bermutu dan berkinerja
tinggi.
Sementara, pada beton yang sudah mengeras, beton bermutu dan berkinerja tinggi
dituntut memiliki kekutan tekan yang tinggi, kuat tarik yang baik, kuat tekan awal yang
tinggi, perilaku yang daktail (liat), kedap udara dan air, tahan terhadap abrasi dan korosi
sulfat, penetrasi klorida yang rendah, muai susut yang rendah, dan awet.
1.4 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BETON MUTU TINGGI
Dalam pelaksanaan di bidang teknik sipil beton mutu tinggi memiliki kelebihan
dan kekurangan. Manfaat beton mutu tinggi adalah sebagai berikut :
1. Menghasilkan beton dengan ketahanan tinggi (high durability).
2. Menghasilkan beton dengan kuat tekan awal yang tinggi dan mempercepat
pelaksanaan konstruksi.
3. Meningkatkan nilai modulus elastisitas dan mengurangi efek rangkak (creep).
4. Memungkinkan pembangunan konstruksi bangunan tingkat tinggi (high rise
contruction).
5. Memperkecil dimensi kolom, sehingga penggunaan ruang lantai lebih efisien.
6. Secara ekonomi dapat meningkatkan penggunaan box girder dan solid girder bridge
dengan design yang lebih simpel.
Adapun kelemahan penggunaan beton mutu tinggi adalah:
1. Meningkatkan biaya beton per unit volume.
2. Memerlukan kontrol kualitas terhadap mutu beton dan kebutuhan produksi.
3. Workability kurang baik dan seringkali menurun dengan cepat setelah waktu
pencampuran.
4. Waktu pengangkutan beton pendek dan penambahan superplasticizer sangat kritis.
5. Waktu perkerasan beton sangat cepat.
6. Menghasilkan panas hidrasi yang tinggi sehingga perlu menurunkan hidrasi
semennya.
7. Membutuhkan waktu lebih dari 28 hari untuk mencapai kuat tekan yang spesifik.

(Sumber : L. J. Parrot, 1988)


1.5 PERMASALAHAN PELAKSANAAN PADA BETON MUTU TINGGI DI
INDONESIA
Pelaksanaan pembuatan beton yang bermutu tinggi di Indonesia masih terdapat
banyak kendala dan permasalahan, terutama yang berhubungan dengan kekuatan
tekannya. Berdasarkan pengamatan dilapangan permasalahan tersebut diantaranya:
1. Kegagalan mutu beton mencapai target kuat tekan sebagaimana yang disyaratkan,
terutama untuk beton cor ditempat dengan kuat tekan lebih dari 60 Mpa.
2. Keseragaman dan ketidakteraturan mutu dan kelecakan beton yang dihasilkan untuk
suatu element yang dihasilkan masih sangat kecil.
3. Kehilangan nilai slump antara saat pengadukan sampai penuangan beton.
Keseragaman mutu beton yang dihasilkan amat penting dicapai dalam pembuatan
beton mutu tinggi. Dalam hal ini, ACI memberikan batas kontrol keseragaman beton
dalam deviasi standar sebesar 3,5 5 Mpa. Kehilangan nilai slump dalam suatu produksi
beton akan menyebabkan masalah dalam beton segar yaitu kelecakan beton akan
menurun, pengecoran beton yang tidak sempurna, pemadatan yang tidak optimal,
kemungkinan akan terjadi segregasi, kesulitan pemompaan untuk produksi yang besar
dan bertingkat tinggi.
Cara untuk mendapatkan beton mutu tinggi yang baik sebagai berikut :
1. Untuk mendapatkan beton mutu sangat tinggi (dengan kuat tekan > 80 MPa),
maka perlu diadakan penelitian dengan bahan susun yang mempunyai kualitas lebih
baik.
2. Untuk mendapatkan beton yang lebih baik lagi maka dapat diadakan penelitian
tentang pengaruh faktor air semen terhadap kuat tekan beton.
3. Untuk mengetahui perbandingan kuat tekan pada umur 3, 7, 14, dan 21 hari,
maka perlu diadakan penelitian tentang pengaruh kuat tekan beton terhadap umur,
bahkan jika waktunya memungkinkan dapat diadakan sampai dengan umur 90 hari.
4. Untuk mendapatkan beton yang lebih baik lagi maka dapat diadakan penelitian
tentang pengaruh modulus kehalusan agregat kasar terhadap kuat tekan beton.
5. Untuk mendapatkan beton yang lebih baik lagi maka dapat diadakan penelitian

tentang pengaruh gradasi agregat kasar terhadap kuat tekan beton.