Anda di halaman 1dari 3

Implementasi Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan

(P2KP) di Kecamatan Sukoharjo


M Arief Rahmat Putra
D0113055
Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

I.

PENDAHULUAN

Pembangunan nasional ialah pembangunan yang dijalankan oleh


pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat,
baik lahir maupun batin, jasmani dan rohani. Disamping itu pembangunan juga
diusahakan untuk pemerataan di segala sektor, bidang maupun wilayah.
Pembangunan bangsa Indonesia selama era Orde baru telah dapat dirasakan oleh
bangsa Indonesia terutama dilihat dari sektor ekonomi, namun demikian dalam
kenyataannya pembangunan yang telah dilaksanakan masih banyak ditemui
masalah-masalah. Baik dari pengelolaan manajemen seperti kebocoran anggaran,
maupun pada kualitas hasilnya.
Salah satu tujuan pembangunan ialah untuk mengurangi angka
kemiskinan. Untuk itu ukuran keberhasilan pembangunan dari suatu pemerintahan
adalah mengurangi jumlah orang miskin. Hal ini disebabkan karena kemiskinan
merupakan salah satu masalah utama yang sering dihadapi oleh negara
berkembang seperti Indonesia. Selama ini strategi pembangunan yang diterapkan
di sebagian besar negara berkembang kurang efektif untuk meningkatkan
kesejahteraan sosial. Kondisi yang sama terjadi dinegara kita. Meskipun telah
banyak upaya penanganan kemiskinan dilakukan khususnya di Indonesia, namun
kemiskinan tetap saja merupakan masalah utama.
Upaya penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan perlu
dititikberatkan pada upaya pemberdayaan masyarakat. Hal ini disebabkan karena
pertumbuhan akan berjalan secara merata dan berkesinambungan jika bertumpu
pada masyarakat, sehingga pada masa yang akan datang upaya penanggulangan
kemiskinan dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri dan
berkesinambungan.

Dampak krisis ekonomi yang terjadi tersebut sangat


masyarakat banyak di perkotaan maupun di pedesaan. Untuk
banyak dirasakan didaerah pinggiran. Banyaknya masyarakat
kehilangan lapangan kerja, merupakan salah satu dampak nyata
krisis ekonomi tersebut.

dirasakan oleh
perkotaan lebih
perkotaan yang
dari keberadaan

Menyadari akan terjadinya gejala tersebut, pemerintah mengeluarkan


kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah operasional dalam bentuk revitalisasi
dan restrukturisasi proyek-proyek pembangunan yang diarahkan untuk mengatasi
jumlah pengangguran dan masyarakat miskin, juga mengatasi kesulitan
masyarakat yang telah jatuh miskin.
Selama ini program-program pengentasan kemiskinan telah banyak yang
dikeluarkan pemerintah. Namun tidak sedikit yang hanya bersifat sementara, yang
tidak memiliki keberlanjutan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan tersebut
secara tuntas. Upaya penanggulangan kemiskinan telah dilakukan pemerintah
melalui berbagai program antara lain Program BLT (Bantuan Langsung Tunai),
Raskin (Beras Miskin), KUR (Kredit Usaha Rakyat), Program Penanggulangan
Kemiskinan Perkotaan (P2KP), dan sebagainya. Berbagai program
penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pemerintah sebagian besar bersifat
top down sehingga masyarakat miskin yang merupakan sasaran program kurang
begitu berperan di dalam program-program yang ada.
Selama ini upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pemerintah
telah menjangkau berbagai pelosok tanah air. Hasilnya cukup signifikan. Hal ini
terlihat pada data statistik yang menunjukkan, ketika dimulainya pembangunan
lima tahunan (PELITA) pada akhir 1960-an, kurang lebih 60% penduduk
Indonesia berada dibawah garis kemiskinan, dan kemudian pada 1996-an menjadi
sekitar 17,6 persen Tetapi, ketika badai krisis (ekonomi) pada 1997-an telah
mengecilkan pencapaian prestasi pembangunan nasional pada umumnya dan
penurunan angka kemiskinan pada khususnya. Krisis tersebut menyebabkan
melonjaknya angka kemiskinan menjadi 23,4 % yaitu pada puncak krisis tahun
1999, namun pada tahun 2006 tahun menjadi 17,75 %.
Kejadian tersebut telah memberi pelajaran berharga dan sebagai
penyadaran bagi para penyelenggara negara, bahwa kebijakan dalam melakukan
pembangunan nasional pada umumnya, dan program penanggulangan kemiskinan
pada khususnya yang menempatkan warga miskin sebagai obyek pembangunan
selama ini masih kurang dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh masyarakat
sehingga perlu dievaluasi. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dalam upaya
penanggulangan kemiskinan, pemerintah perlu lebih melibatkan penduduk miskin
sebagai subyek pembangunan, sehingga diharapkan penanggulangan kemiskinan
nantinya dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat. Kelemahan lain dari program
yang bersifat top down adalah bahwa implementasi program juga sering salah
sasaran, dan menciptakan ketergantungan masyarakat pada pusat ataupun bantuan

pihak luar. Selain itu muncul dampak yang kurang menguntungkan, misalnya
perubahan perilaku yang semakin jauh dari semangat kemandirian, lunturnya
kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama,
kuatnya rasa saling curiga, dan lunturnya sifat keikhlasan, kejujuran, keadilan.
Program penanggulangan kemiskinan di masa lalu juga cenderung melihat
kemiskinan dari aspek ekonomi dan hanya pada tataran gejala yang tampak dari
luar dan tidak menyentuh akar persoalan kemiskinan. Hal ini yang menjadi
penyebab berbagai program penanggulangan kemiskinan mengalami kegagalan.
Program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan secara menyeluruh sering
tidak sesuai dengan kondisi dari masing-masing daerah. Tentu saja hal itu
menyebabkan implementasinya rentan dengan berbagai bentuk penyalahgunaan
atau penyelewengan. Kondisi yang demikian terjadi di Kecamatan Sukoharjo
Kabupaten Sukoharjo.
Salah satu program penanggulangan kemiskinan yang ada di Kecamatan
Sukoharjo diantaranya adalah Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan
(P2KP) yang mengedepankan strategi pemberdayaan berbasis institusi lokal.
Program ini muncul sebagai salah satu alternatif penanggulangan kemiskinan
perkotaan.
Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan
Sukoharjo merupakan program baru yang mengedepankan pemberdayaan
masyarakat melalui institusi lokal yang dibentuk oleh warga masyarakat dalam
penanggulangan kemiskinan.
Untuk itu maka penulis tertarik untuk mengetahui proses implementasi
Program Penanggulangan Kemiskinan perkotaan (P2KP) yang berbasis institusi
lokal dalam pemberdayaan masyarakat.