Anda di halaman 1dari 39

SILABUS MATERI SAR GUNUNG HUTAN

LATIHAN GABUNGAN GUNUNG HUTAN


MAHASISWA PECINTA ALAM SE-JABODETABEKA
Search And Rescue (SAR)
Pengertian SAR dan Filosofi SAR
Manajemen SAR
Penyelenggaraan Operasi SAR
Explorer Sar And Rescue (ESAR)
Pengertian ESAR
Sistem dan Teknik Pencarian
Membaca Peta dan Navigasi Darat
Perlengkapan , Pakaian, Packing dan Makanan (PPPM)
Komunikasi SAR
Sistem komunikasi SAR
Sistem Pengoperasian Radio
Mountain Sickness
Pengertian Mountain Sickness
Gejala-gejala dan Penanggulangannya Mountain Sickness
BAB 5
SAR GUNUNG HUTAN
5.1
SEARCH AND RESCUE (SAR)
5.1.1 DEFINISI
Search And Rescue (SAR) diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan
memberikan pertolongan kepada manusia dengan kegiatan yang meliputi :
1. Mencari, Menolong dan Menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang
atau menghadapi bahaya dalam bencana/musibah.
2. Mencari kapal laut atau pesawat terbang yang mengalami kecelakaan.
3. Evakuasi pemindahan korban musibah pelayaran, penerbangan, bencana alam atau bencana
lainnya dengan sasaran utama penyelamatan jiwa manusia.
Lahirnya organisasi SAR di Indonesia yang saat ini bernama BASARNAS diawali dengan adanya
penyebutan Black Area bagi suatu negara yang tidak memiliki organisasi SAR.
Dengan berbekal kemerdekaan, maka tahun 1950 Indonesia masuk menjadi anggota organisasi
penerbangan internasional ICAO (International Civil Aviation Organization). Sejak saat itu Indonesia
diharapkan mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran yang terjadi di Indonesia. Sebagai
konsekwensi logis atas masuknya Indonesia menjadi anggota ICAO tersebut, maka pemerintah
menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1955 tentang Penetapan Dewan Penerbangan untuk
membentuk panitia SAR. Panitia teknis mempunyai tugas pokok untuk membentuk Badan Gabungan
SAR, menentukan pusat-pusat regional serta anggaran pembiayaan dan materiil.
Sebagai negara yang merdeka, tahun 1959 Indonesia menjadi anggotaInternational Maritime
Organization (IMO). Dengan masuknya Indonesia sebagai anggota ICAO dan IMO tersebut, tugas dan
tanggung jawab SAR semakin mendapat perhatian. Sebagai negara yang besar dan dengan semangat
gotong royong yang tinggi, bangsa Indonesia ingin mewujudkan harapan dunia international yaitu
mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut diatas, maka timbul pemikiran bahwa perlu diadakan suatu
organisasi SAR Nasional yang mengkoordinir segala kegiatan-kegiatan SAR dibawah satu komando.
Untuk mengantisipasi tugas-tugas SAR tersebut, maka pada tahun 1968 ditetapkan Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor T.20/I/2-4 mengenai ditetapkannya Tim SAR Lokal Jakarta yang
pembentukannya diserahkan kepada Direktorat Perhubungan Udara. Tim inilah yang akhirnya menjadi
embrio dari organisasi SAR Nasional di Indonesia yang dibentuk kemudian.
5.1.2 FILOSOFI SAR
Berikut ini penjabaran mengenai filosofi-filosofi SAR, diantaranya :
1. Locate, artinya memberikan gambaran yang konkrit posisi/lokasi subyek yang mengalami
musibah itu berada. Lokasi biasanya ditunjukkan dengan garis lintang dan garis bujur.
2. Access, artinya sumber-sumber dari mana saja dan dengan cara apa bantuan pertolongan ini
sampai menuju lokasi tempat terjadinya musibah.

3. Reach, dalam artian melakukan usaha untuk mencari korban terlebih dahulu, memberikan
pertolongan pada korban dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan
hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana/musibah.
4. Stabilize, artinya penanganan/perawatan korban dengan berbagai macam kasus di lokasi
kejadianitu dilakukan oleh unit-unit penolong (Rescue Unit) sebelum bantuan medis tiba untuk
memberikan perawatan lebih lanjut.
5. Transportation/Evacuation, artinya proses pemindahan korban dari lokasi ke tempat yang
lebih aman untuk diberikan pertolongan pertama ke tempat fasilitas medik terdekat.
6. Knowledge, artinya diperlukan juga pengetahuan dalam hal ini tidak hanya dipelajari tetapi
dibutuhkan beberapa pemahaman dan kemampuan yang diantaranya,
Pengetahuan tentang data peristiwa, keadaan korban, keadaan medan, dsb
Keterampilan mendaki gunung, panjat tebing, hidup di alam bebas, mencari jejak, peta kompas,
akses tali.
Pengetahuan P3K, dan gawat darurat.
5.2
MANAJEMEN SAR
Dari Batasan pengertian, hakekat dan filosofi SAR diatas, jelas bahwa kegiatan SAR yang utama
adalah dalam pelaksanaan operasi SAR tersebut. Namun dalam kegiatannya, pelaksanaan operasi
hanya akan bisa berjalan dengan efektif dan efisien apabila didukung oleh pembinaan SAR yang baik.
Pembinaan SAR yang dimaksud adalah kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan perencanaan,
penyusunan, pembangunan / pengembangan, koordinasi, pengerahan, penggunaan, dan pengendalian
terhadap unsur / sarana SAR agar tercapai tingkat kemampuan dan kesiapan operasional yang
dipersyaratkan.
Sifat-sifat dalam operasi SAR, diantaranya
:
I. Kemanusiaan
II. Netral,
III. Cepat, Cermat dan Cekatan
IV. Tepat dan Aman
V. Koordinatif
VI. Borderless
Kemampuan dasar SAR, sesuai dengan kata SAR yang berarti Search (pencarian) dan Rescue
(pertolongan / penyelamatan), maka dalam kegiatan operasional SAR dibutuhkan ilmu pengetahuan
dan keterampilan teknis SAR serta beberapa ilmu disiplin ilmu sebagai penunjang / pendukung. Ilmu
pengetahuan dan keterampilan serta disiplin ilmu yang dimaksud adalah :
1. Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi SAR
dan sebagainya.
2. Unsur Pencarian (Search), dalam hal teknik pencarian di darat, laut dan udara.
3. Unsur Pertolongan / Penyelamatan (Rescue), dalam hal Medical First Response dan evakuasi.
4. Unsur Pendukung / penunjang , dalam hal Navigasi, Mountaineering, Survival, Komunikasi
Lapangan, Helly Rescue dan Manajemen Perjalanan.
5.2.1 SISTEM SAR
Sistem SAR di Indonesia diadopsi dari ketentuan yang berlaku bagi seluruh negara yang menjadi
anggota IMO (International Maritime Organization) dan ICAO (International Civil Aeronautical
Organization). Diagram di bawah ini menggambarkan Sistem SAR yang menjadi acuan kerja Basarnas.
5.2.2 KOMPONEN SAR

Dalam penyelenggaraan operasi SAR, ada 5 komponen SAR yang merupakan bagian dari sistem SAR
yang harus dibangun kemampuannya, agar pelayanan jasa SAR dapat dilakukan dengan baik.
Komponen-komponen tersebut antara lain:
ORGANISASI (SAR Organization), merupakan struktur organisasi SAR, meliputi aspek
pengerahan unsur, koordinasi, komando dan pengendalian, kewenangan, lingkup penugasan dan
tanggung jawab penanganan musibah.
KOMUNIKASI (Communication), sebagai sarana untuk melakukan fungsi deteksi adanya
musibah, fungsi komando dan pengendalian operasi dan koordinasi selama operasi SAR.
FASILITAS (SAR Facilities), adalah komponen unsur, peralatan/perlengkapan serta fasilitas
pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam operasi/misi SAR.

PERTOLONGAN DARURAT (Emergency Cares), adalah penyediaan peralatan atau fasilitas


perawatan darurat yang bersifat sementara ditempat kejadian, sampai ketempat penampungan
atau tersedianya fasilitas yang memadai.
DOKUMENTASI (Documentation), berupa pendataan laporan, analisa serta data kemampuan
operasi SAR guna kepentingan misi SAR yang akan datang.
5.2.3 TINGKAT KEADAAN DARURAT
I.
UNCERTAINTY PHASE (INCERFA)
Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan dengan adanya keraguan mengenai keselamatan jiwa
seorang karena diketahui kemungkinan mereka dalam menghadapi kesulitan.
II.
ALERT PHASE (ALERFA)
Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran mengenai keselamatan
jiwa seseorang karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan yang serius
yang mengarah pada kesengsaraan (distress).
III.
DISTRESS PHASE (DETRESFA)
Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan bila bantuan yang cepat sudah dibutuhkan oleh
seseorang yang tertimpa musibah karena telah terjadi ancaman serius atau keadaan darurat bahaya.
Berarti, dalam suatu operasi SAR informasi musibah bias ditunjukkan tingkat keadaan darurat dan
dapat langsung pada tingkat Detresfa yang banyak terjadi.
5.3
TAHAPAN PENYELENGGARAAN OPERASI SAR
I.
TAHAP MENYADARI ( AWARENESS STAGE )
Adalah kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul ( saat disadarinya terjadi
keadaan darurat / musibah ).
II.
TAHAP TINDAK AWAL ( INITIAL ACTION STAGE )
Adalah tahap seleksi informasi yang diterima, untuk segera dianalisa dan ditetapkan. Berdasarkan
informasi tersebut, maka keadaan darurat saat itu disebut juga sebagai Tahap Kesiagaan.
III.
TAHAP PERENCANAAN ( PLANNING STAGE )
Yaitu saat dilakukan suatu tindakan sebagai tanggapan (respon) terhadap keadaan sebelumnya, antara
lain:
Search Planning Event (tahap perencanaan pencarian)
Search Planning Sequence (urutan perencanaan pencarian)
Degree of Searching Planning (tingkatan perencanaan pencarian).
Search Planning Computating (perhitungan perencanaan pencarian)
IV.
TAHAP OPERASI ( OPERATION STAGE )
Operasi SAR adalah suatu tindakan pada kejadian khusus yang diperlukan adanya suatu kerjasama,
koordinasi dan penjabarannya menjadi suatu bentuk kegiatan operasi yang serasi, efektif, dan berdaya
guna. Sehingga dalam suatu kejadian SAR diperlukan personil yang mempunyai kriteria-kriteria
tertentu yang mengutamakan kemanusiaan diatas segala-galanya, walaupun tidak mengabaiakan faktor
keselamatan personil bersangkutan. Keberhasilan suatu operasi khususnya operasi SAR tergantung
antara lain pada penerapan prosedur-prosedur yang berlaku dan dukungan oleh organisasi yang baik
dan efektif.
Dari rencana operasi ini kemudian akan disusun formulir briefing. Detection Mode / Tracking Mode
and Evacuation Mode, yaitu seperti dilakukan operasi pencarian dan pertolongan serta penyelamatan
korban secara fisik. Tahap operasi meliputi:
Fasilitas SAR bergerak ke lokasi kejadian.
Melakukan pencarian dan mendeteksi tanda-tanda yang ditemui yang diperkirakan ditinggalkan
survivor ( Detection Mode ).
Mengikuti jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan survivor ( Tracking Mode ).
Menolong/ menyelamatkan dan mengevakuasi korban (Evacuation Mode), dalam hal ini
memberi perawatan gawat darurat pada korban yang membutuhkannya dan membaw korban
yang cedera kepada perawatan yang memuaskan (evakuasi).
Mengadakan briefing kepada SRU.
Mengirim/ memberangkatkan fasilitas SAR.
Melaksanakan operasi SAR di lokasi kejadian.
Melakukan penggantian/ penjadwalan SRU di lokasi kejadian.
V. TAHAP PENGAKHIRAN MISI ( MISSION CONCLUSION STAGE )
Merupakan tahap akhir operasi SAR, meliputi penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko,
penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu dapat
terjadi, evaluasi hasil kegiatan, mengadaan pemberitaan (Press Release) dan menyerahkan jenazah
korban / survivor kepada yang berhak serta mengembalikan SRU pada instansi induk masing-masing

dan pada kelompok masyarakat. Sar pada hakekatnya adalah kegiatan kemanusiaan yang dijiwai
falsafah pancasila dan merupakan kewajiban bagi setiap Warga Negara Indonesia. Kegiatan tersebut
meliputi segala upaya dan usaha pencarian, pemberian pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia
dan harta benda yang bernilai dari segala musibah baik dalam penerbangan, pelayaran, bencana atau
musibah.
5.3.1
KOMUNIKASI
Koordinasi dilapangan / pada area pencarian terdiri dari :
1.
I.
Penentuan OSC (bila diperlukan)
2.
II. Pengawasan penggantian operasi selama SRU dalam perjalanan ke area
pencarian (CHOP / Changes of Operational Control)
Koordinasi dalam kegiatan pencarian meliputi:
I.
Koordinasi di lokasi dilakukan oleh SMC, bila SMC tidak mampu mengendalikan dari posko,
maka ditunjuk OSC dari unit SAR yang mempunyai kemampuan sebagaimana yang ditentukan dan
bukan senioritas.
II.
Bila diperlukan penggantian pengendalian dan penggantian unsur operasi (CHOP) pada
perjalanan menuju lokasi musibah maupun pada perjalanan pulang, harus dilakukan dengan satuan
induknya. Hal ini harus tercantum dalam rencana pencarian oleh seorang SMC.
III.
Bila cuaca yang diperkirakan tidak sama dengan yang diharapkan, maka rencana yang dibuat
mungkin tidak efektif untuk dilaksanakan. Dalam hal ini SMC harus membekali OSC dengan
pengarahan kapan rencana pencarian harus dilakukan dan kapan dapat dilaksanakan perubahan.
5.3.2 ORGANISASI OPERASI SAR
Untuk melaksanakan tugas operasi SAR, diperlukan adanya prosedur operasi yang benar dan
koordinasi yang mantap, sehingga akan dihasilkan suatu operasi yang efektif dan berhasil baik. Dalam
menangani suatu musibah, dikenal adanya organisasi dan komponen yang baku dalam organisasi
tersebut, sedangkan besar kecilnya organisasi operasi disesuaikan dengan jenis musibah dan wilayah
yang ditanganinya. Seperti telah diuraikan diatas bahwa bentuk bagan organisasi operasi dapat dibuat
sesuai kebutuhan yang ada sehingga operasi tersebut dapat seselektif mungkin dan mencapai hasil yang
maksimal.
A. SAR COMMANDER (SC).
Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR dalam menggerakkan unsur-unsur
operasi SAR karena jabatan dan kewenangan yang di milikinya. Kemudian unsur-unsur ini diserahkan
kepada SMC untuk di gunakan dalam operasi SAR.
B. SEARCH AND RESCUE MISSION COORDINATOR (SMC)
Tugas seorang SMC adalah melaksanakan evaluasi kejasian musibah, perencanaan operasi,
mengendalikan operasi secara keseluruhan. SMC ditunjuk atau diangkat sejak adanya kejadian SAR
sampai dengan operasi dinyatakan selesai. SMC bertanggungjawab kepada SKR atau KKR yang
menunjuknya. Untuk lebih rincinya, tugas seorang SMC adalah:
Mempelajari semua informasi yang dapat dikumpulkan, yang berkaitan dengan misi operasi.
Menggolongkan misi SAR bertahap-tahap darurat yang tepat, apabila hal ini belum dilakukan.
Menyiagakan fasilitas SAR yang tepat, dan organisasi SAR yang akan sangat diperlukan dalam
dan selama opersai SAR bertanggungjawab.
Memberangkatkan unit SAR (SRU), bilamana keadaan menghendaki demikian.
Melaksanakan perencanaan untuk operasi SAR.
Memberikan briefing pada anggota unit SAR (SRU), Menunjuk OSC, debriefing bagi unit
SAR, dan dukungan sampai operasi selesai.
Menentukan jaring kendali komunikasi, kanal-kanal (saluran) yang dipakai, monitoring semua
kanal yang dipergunakan.
Melaksanakan pencatatan semua usaha operasi beserta perkembangannya, tindakan yang
diambil dan lain-lain.
Bilamana diperlukan meminta tambahan SRU
Melaksanakan pengendalian operasi SAR terhadap semua unsur.
Memberikan laporan situasi (Lapsit) ke SC, SKR/KKR paling tidak satu kali dalam satu hari,
dan pada saat-saat perkembangan yang penting terjadi. Laporan Situasi dilaporkan bernomor
urut.
memberikan debriefing akhir kepada unit-unit SAR dan mengembalikan fasilitas dan organisasi
SAR yang terlibat, dan memberitahukan bahwa misi SAR telah selesai.
Berkonsultasi dengan SKR/KKR sebelum menyatakan untuk menghentikan usaha yang tidak
berhasil.

Pada kasus musibah penerbangan dan pelayaran, seorang SMC harus memiliki kwalifikasi sebagai
seorang SMC yang dikeluarkan oleh BADAN SAR NASIONAL. Sedangkan untuk operasi SAR yang
sifatnya rekreatif (musibah pendakian, musibah sungai, pantai, dll) tidak diperlukan kwalifikasi seketat
musibah penerbangan dan pelayaran.
Didalam melaksanakan tugasnya, SMC dibantu oleh beberapa staff yang memiliki tugas yang spesifik
dan khusus sehingga jalannya operasi lancar dan sukses. Adapun Staff SMC tersebut adalah:
a) Perwira Komunikasi (Operator Radio). Tugasnya adalah mengoperasikan radio komunikasi
yang digunakan baik untuk jaring komando dan pengandali maupun untuk jaring koordinasi. Operator
radio bertanggung jawab tentang kelancaran lalu lints berita yang sangat berperan dalam suatu operasi
SAR. Operator Radio bertanggung jawab terhadap SMC.
b) Perwira Navigasi (Navigator). Tugasnya adalah melakukan pengeplotan peta dimana musibah
terjadi dan operasi SAR dilakukan sesuai dengan perkembangan operasi yang terjadi dan rencanarencana operasi yang akan dilakukan sesuai denga perhitungan dan perencanaan SMC. Seorang
nafigator bertanggung jawab terhadap SMC.
c) Perwira Briefing. Tugasnya adalah mewakili SMC untuk melakukan briefing kepada OSC
maupun SRU yang akan diberangkatkan maupun menerima debriefing dari SRU yang telah kembali ke
Pos Komando dari misi pencarian.
d) SAR Mission Information Officer (SMIO) atau Humas Operasi SAR. Tugasnya adalah sebagai
penghubung antara masyarakat dengan organisasi operasi, yang dimaksud disini adalah setiap berita
yang keluar, baik untuk pers (media massa) maupun keluarga korban dan juga untuk instansi-instansi
diluar organisasi operasi adalah menjadi tanggung jawab seorang SMIO. Atau dengan kata lain seorang
SMIO bertanggungjawab tentang pemberitaan perkembangan operasi yang sedang berlangsung.
C. ON SCENE COMMANDER (OSC).
OSC ditunjuk oleh SMC untuk koordinasi dan pengaturan suatu operasi SAR tertentu ditempat
kejadian, bila area pencariannya cukup luas dan mengerahkan cukup banyak SRU/dari berbagai unit
SAR. OSC berwenang menambah, mengurangi merubah formasi SRU yang akan dibawah
komandonya dan berwenang mengubah pola pencarian yang telah ditetapkan sebelumya sesuai dengan
perkembangan yang ada dilapangan. OSC bertanggung jawab kepada SMC.
Secara umum OSC bertugas :
Melaksanakan rencana operasi SAR yang dibuat oleh SMC.
Mengadakan perubahan pada rencana operasi apabilla dipandang perlu untuk menyesuaikan
dengan keadaan ditempat kejadian yang mungkin sudah berubah.
Memegang kendali operasi dari semua unit SAR yang ditunujuk diarea pencariannya,
mengkoordinir semua unit SAR.
Mengirim laporan situasi secara berkala ke SMC. Laporan situasi pertama segera dilaporkan
setelah tiba dilokasi/setelah memegang tugas sebagai OSC. Disertai laporan cuaca setempat.
Menyelanggarakan hubungan komunikasi dengan seluruh SRU dan menerima laporan dari SRU
secara berkala.
Menerima laporan dugaan waktu tiba dilokasi bagi unit SAR, yang meliputi dugaan waktu tiba
dilokasi pencarian, kemampuan komunikasi, lama pencarian.
Menyelenggarakan briefing awal bagi unit SAR yang datang.
Menerima dan mengevaluasi laporan dari semua unit SAR,mengkoordinasikan dan
memerintahkan semua unit SAR.
Bila dilakukan penggantian OSC, maka harus membriefing OSC yang baru.
D. SEARCH AND RESCUE UNIT (SRU).
SRU adalah satu komponen dalam operasi SAR yang secara nyata melaksanakan operasi SAR di
lapangan. Wewenang SRU adalah terbatas pada pelaksanaan tugas pencarian di lapangan dan dibawah
koordinasi OSC / SMC. Tetapi dalam hal ini tidak menutup kemungkinan memberikan masukan
ataupun usulan kepada OSC / SMC tentang kemungkinan sistem atau pola pencarian yang lebih
selektif. Selain melaksanakan tugas pencarian, SRU juga diwajibkan melapor kepada OSC / SMC
secara berkala dan juga melaporkan perkembangan pencarian dilapangan. Penarikan atau penggantian
SRU dilakukan oleh OSC / SMC, atau atas usulan dari SRU yang bersangkutan, apabila SRU tersebut
tidak dapat melanjutkan operasi karena hal-hal tertentu. SRU yang diganti diwajibkan melakukan
briefing kepada SRU penngganti tentang perkembangan operasi terakhir didaerah operasinya.
Untuk lebih rincinya tentang tugas SRU adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan rencana operasi sesuai yang telah direncanakan.
2. Memberitahukan kepada OSC/SMC saat tiba didaerah operasi, perkiraan lama mengadakan
operasi.

3. Melaporkan secara berkala dan melaporkan perkembangan operasi di lapangan termasuk cuaca
dan medan yang di daerah pencarian.
4. Lapor segera setelah ada kontak dengan obyek yang dicari sesuai dengan prosedur yang
berlaku.
5. Menyiapkan peralatan untuk menandai posisi semua perjumpaan.
Selain komponen-komponen dalam suatu misi SAR, yaitu SMC beserta staffnya, OSC dan SRU, yang
tidak kalah pentingnya adalah base camp atau Basis Operasi SAR atau Pos Komando Operasi. Didalam
Pos Komando Operasi selain terdapat komponen-komponen di atas, juga ada unsur-unsur yang sifatnya
mendukung kelancaran operasi tersebut. Sedangkan komponen pendukung tersebut adalah:
a) Komandan Pos Komando Operasi
Bertugas memimpin Pos Komando tersebut dan menyediakan segala fasilitas yang diperlukan untuk
mendukung kelancaran jalannya operasi. Sedangkan dalam tugasnya Komandan Pos Komando Operasi
dibantu oleh Koordinator dapur umum, Kooordinator umum, kesehatanmdan back up emergency team.
b) Koordinator Dapur Umum
Bertugas menyediakan fasilitas konsumsi dan perbekalan dalam suatu operasi.
c) Koordinator Umum
Bertugas mengkoordinir pengadaan sarana dan prasarana yang mungkin dibutuhkan dalam suatu
operasi.
d) Kesehatan
Selain bertugas sebagai back up emergency, juga bertugas mengawasi dan menangani kesehatan
terhadap semua pelaku operasi.
e) Back Up Emergency Team
Yang terdiri dari satu team atau lebih yang bertugas mengadakan pertolongan apabila sewaktu-waktu
terjadi sesuatu terhadap semua pelaku operasi.
5.4 EXPLORER SEARCH AND RESCUE (ESAR)
5.4.1 PENDAHULUAN
Pada awal tahun 1980-an beberapa kelompok pendaki gunung mulai mencoba mengembangkan
Explorer Search And Rescue (ESAR). Sistem ini berasal dari Amerika Serikat yang diperuntukan bagi
para penjelajah daerah-daerah berhutan, padang kering dan sungai. Pada tahun-tahun sebelumnya
system SAR laut dan udara masih menjadi rujukan untuk melakukan pencarian orang hilang di gunung.
Yang membedakan ESAR dengan induknya SAR secara keseluruhan terletak pada rinci
operasionalnya. Dalam ESAR dikenal lima tahap pencarian atau operasi.
5.4.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Menolong sesama hidup merupakan salah satu bukti dari pengamalan rasa cinta alam. Sehingga sebagai
mahluk hidup yang mengaku dekat dengan alam, Explorer Search And Rescue amatlah dibutuhkan,
khususnya untuk menolong sesama hidup. Pada ESAR Lebih dipersempit lagi ruang lingkup
operasionalnya dalam menolong korban di gunung dan hutan.
Materi ini bertujuan memberikan pengetahuan tentang teknik operasional dalam ESAR sesuai dengan
apa yang dibutuhkan. Sebab ESAR memerlukan dan menuntut personil yang siap, cepat dan tanggap.
Personil ESAR diharapkan mampu menjalankan kewajibannya dengan baik, yang bukan berasal dari
kata tugas, melainkan dari panggilan moral, hati nurani dan sebuah arti kesetiakawanan terhadap
sesama.
5.4.3 TEKNIK TEKNIK PENCARIAN
Teknik pencarian disini merupakan teknik pencarian yang dilakukan di darat. Walaupun tidak secara
khusus untuk di darat, teknik ini juga yang membedakan antara SAR dan ESAR. Teknik pencarian ini
bertumpu pada lima tahap, diantaranya :
1. TAHAP AWAL (PRELIMINARY MODE).
Yaitu mengumpulkan informasi-informasi awal, saat dari mulai tim-tim pencari diminta bantuannya
sampai kedatangannya di lokasi.
Melakukan perencanaan pencarian awal, perhitungan perhitungan, mengkoordinasikan regu pencari,
membentuk pos pengendali perencanaan, mencari identitas subjek, perencanaan operasi dan evakuasi.
2. TAHAP PEMAGARAN (CONFINEMENT MODE).
Yaitu memantapkan garis batas untuk mengurung orang yang dinyatakan atau dikhawatirkan hilang
agar berada di dalam areal pencarian (search area).
Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam bagian tersendiri. Dasar pemikirannya adalah
menjebak survivor dalam area yang jelas dan kita dapat mengetahui batasan-batasannya, sehingga :
Area tersebut dapat dilakukan pencarian atau disapu.
Sebagai petunjuk bagi survivor untuk menuju tempat yang dapat diketahui tim pencari.

Kerja awal dari tahap ini adalah memagari kemungkinan gerak dari pencarian yang padat yang
mungkin diperlukan bila areal pencarian menjadi terlalu luas, maka digunakan Metode Confinement
mode :
2.1
Trail Blocking ( razia pada jalan setapak )
Yaitu menempatkan tim kecil pada jalan masuk ke areal pencarian untuk menjaga kemungkinan korban
melalui daerah tersebut. Mencatat nama-nama yang keluar masuk areal pencarian tersebut.
2.2
Road Blocks ( razia pada jalan keluar )
Pada dasarnya sama dengan trail blocks, hanya saja disini masyarakat, pamong desa dapat diminta
bantuan untuk melakukan pengawasan kemungkinan korban keluar melalui desa mereka atau dengan
meminta bantuan petugas keamanan atau tenaga yang lainnya.
2.3
Look Outs
Dilakukan dengan mengadakan pengintaian dengan menempatkan regu-regu kecil di ketinggian
untuk dapat mendeteksi dan mengawasi daerah-daerah sekitar yang lebih rendah untuk mendeteksi dan
mengawasi bila ada yang bergerak, membuat asap, tanda-tanda darisurvivor jika berada di sekitar
daerah itu. Juga menggunakan tanda-tanda yang menyolok untuk menarik perhatian survivor, misalnya
bunyi-bunyian, lampu, sinar, api, asap dll.
2.4
Camp In
Yaitu mendirikan pos pos di lokasi yang strategis, misalnya saja persimpangan jalan atau pertemuan
aliran sungai. Dari Camp In ini tim pencari dapat bergerak melakukan pencarian di daerah sekitar.
2.5
Track Traps (jalur jebakan)
Yaitu jalur setapak atau tempat-tempat tertentu yang kemungkinan besar akan dilalui oleh korban
karena tempat tersebut secara alamiah dan naluri, besar kemungkinannya akan dipilih atau dilewati
korban, misal jalur air, mata air, gua, tempat datar dsb. Tim pencari dapat membuat jebakan buatan,
misal dengan menggemburkan tanah disekitar jalur. Periksalah secara berulang area itu secara berkala
untuk melihat jejak korban.
2.6
String Lines
Yaitu pembatas jalur buatan berupa benang atau tali yang ditarik mengikuti jalur tertentu yang
diharapkan akan membatasi ruang gerak korban. Bila string line tersebut diketemukan oleh korban, ia
akan dituntun menuju tempat tertentu misal jalan setapak, camp in dsb. Secara khusus akan efektif bila
dilakukan pada daerah-daerah terbuka dimana cara pandangnya baik.
Bila daerahnya berpohon dan bersemak lebat, dapat lebih sempurna dengan menggunakan Tagged
String Lines (bentangan tali yang bertanda). Tags (tanda-tanda) pada string lines akan menarik
perhatiansurvivor untuk bergerak mengikuti tali itu dan keluar menuju tempat yang ditunjukkan oleh
tanda-tanda itu.
Tujuan menggunakan string line adalah menjadikan ruang-ruang atau kotak-kotak search area menjadi
sektor yang terkuasai untuk pencarian tim pencari.
Setelah Initial Confinement (pemagaran awal), tambahan string linedapat digunakan untuk membagibagi area itu. String line dapat digunakan untuk pemagaran dan untuk menandai sektor pencarian.
Pemisahan lebih lanjut ini bertujuan untuk mempersempit areal pencarian yang dilakukan oleh tim
pencari.
3. TAHAP PENGENALAN (DETECTION MODE)
Detection adalah usaha untuk mencari korban atau benda yang tercecer/terjatuh atau sengaja
ditinggalkan survivor. Pada keadaan inilah pasukan atau tenaga dari tim ESAR terutama diperlukan
atau digunakan. Yaitu pemeriksaan-pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang dicurigai. Apabila dirasa
perlu, dilakukan pencarian dengan cara menyapu (sweep searches). Bisa juga dilakukan pemeriksaan
terhadap tempat-tempat yang diketemukan tanda-tanda atau barang-barang yang ditinggalkan
oleh survivor. Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalan bagian tersendiri.
Metode detection, dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Penamaan dari ketiga kategori di bawah ini
telah digunakan dalam ESAR untuk beberapa tahun ini, diambil karena hal ini secara umum bertalian
terhadap tahapan dari pengembangan operasi pencarian. Tipe I umumnya mendahului tipe II, tipe II
muncul sebelum tipe III.
3.1
TIPE I SEARCH ( HASTIC SEARCHING )
Yaitu pemeriksaan tidak resmi yang segera dilakukukan terhadap areal yang dianggap paling
memungkinkan. Penamaan lain untuk tipe ini adalah Reconnaisance atau Hastic Searching / pencarian
terburu-buru.
Metode ini digunakan pada :
Tahap pencarian awal
Memeriksa ulang daerah dimana diduga survivor berada
Sasaran metode ini :

Pemeriksaan yang sesegera atas area yang spesifik dimana survivor diduga berada
Memperoleh informasi mengenai areal pencarian
Teknik yang digunakan :
Sebuah tim kecil yang terdiri dari 3-6 orang yang mampu bergerak cepat untuk memeriksa daerah
pencarian. Bila menemukan barang yang tercecer dan bila SMC (SAR Mission Coordinator)
menghendaki barang tersebut dibawa, maka sebuah marker akan dipasang dan ditempatkan di lokasi
penemuan.
3.2
TIPE II SEARCH ( OPEN GRID )
Kriterianya adalah efisiensi, pemeriksaan yang cepat dan sistematis atas area yang luas, dengan metode
penyapuan yang akan menghasilkan hasil akhir yang tinggi dari setiap pencari per jam kerjanya. Nama
lain dari tipe ini adalah open grids (pencarian grid renggang / penyapuan renggang). Metode ini
digunakan pada :
Tahap awal operasi pencarian, terutama bila jangka waktu orang yang bertahan hidup
diperkirakan sangat pendek
Bila areal pencarian luas dan tidak ada areal tertentu yang dapat dicurigai dan tidak tersedia
cukup tenaga pencari yang dapat mengcover keseluruhan area.
Sasaran metode ini adalah :
pencarian yang tepat dan cepat pada areal yang luas.
Teknik yang digunakan
Sebuah tim kecil yang terdiri dari 3-6 orang, yang sejajar dengan jarak yang cukup lebar antara 10
meter sampai 20 meter dengan arah yang telah ditentukan.
Ada baiknya ada seorang pemimpin tim yang bergerak mengawasi penyapuan, tugasnya :
Memperhatikan apakah penegang kompas dapat menjaga sudut kompas yang sejajar.
Mengatasi hal-hal yang muncul mendadak.
Memeriksa penemuan penemuan yang ditemukan oleh tim.
Ada cara umum untuk mencegah regu pencari saling tumpang tindih satu sama lain atau tidak bisa
menjaga jarak yang telah ditentukan diantara mereka yaitu dengan memakai pita atau ribbon dan
menggunakan kompas.
Pada metode I dan II pada selang waktu tertentu regu berhenti untuk memperhatikan sekilas sekitarnya
serta memanggil survivor sambil menanti kemungkinan jawaban.
Contoh pencarian dan penyapuan pada metode tipe II.
i.
Tim terdiri dari 6 orang memeriksa kedua tepi sungai kecil.
ii.
A & B, personil ujung kiri dan kanan memasang marker (catatan petunjuk lapangan), dan string
line / ribbon.
iii.
C adalah petugas kompas / kompasman yang selalu memeriksa bahwa pencarian sesuai arah
kompas.
iv.
X adalah pimpinan SRU yang mondar-mandir sekitar barisan sambil memeriksa dan memastikan
jarak personil terjaga dan juga melihat situasi sekitar medan, apakah perlu ada perubahan arah atau
sistem pencarian.
v.
Z adalah navigator, yang bertugas membantu kompas man untuk memastikan agar sudut
pencarian tidak melenceng.
Bila alat komunikasi cukup, maka idealnya X, A, dan B masing-masing membawa HT.
3.3
TIPE III SEARCH ( CLOSE GRID )
Kriterianya adalah kecermatan, pencarian dengan sistematika yang ketat atas area yang lebih kecil
menggunakan metode penyapuan yang cermat. Dinamakan juga close grids (pencarian grid rapat/
penyapuan rapat).
Metode ini digunakan pada :
Besarnya kemungkinan objek yang ditemukan dalam areal pencarian pada metode tipe II, lebih
rendah dari apa yang diharapkan
Bila areal pencarian terbatas dan tenaga yang tersedia mencukupi
Sasaran metode ini adalah pencarian yang cermat atas areal yang spesifik
Teknik yang digunakan :
Penyapuan dengan jarak yang sempit. Jumlah anggota tim 3 9 orang dengan jarak kira-kira antar
personil 3 meter sampai 5 meter. Pita-pita atau string line banyak digunakan untuk mengontrol dalam
memberi tanda yang jelas antara areal yang sudah dicari dan yang belum.
4. TAHAP PELACAKAN (TRACKING MODE)
Yaitu mengikuti dan melacak jejak yang ditinggalkan oleh survivor atau pelacakan terhadap barangbarang yang tercecer dari survivor.

Tracking bisa benar-benar dilakukan oleh orang orang yang terlatih dan berpengalaman serta
mempunyai kemampuan melacak yang tinggi antara lain membaca jejak, medan peta kompas, mengerti
maksud dan tujuan korban, makna dari benda-benda yang terjatuh dan sengaja ditinggal korban atau
dengan menggunakan anjing pelacak.
Dari beberapa pengalaman, pelacakan dengan anjing pelacak masih belum bisa dilakukan secara baik
untuk kondisi alam Indonesia. Hal ini dikarenakan faktor alam yang sulit dan ekstrim serta cepat
berubah.
5.
TAHAP EVAKUASI (EVACUATION MODE)
Yaitu memberikan pertolongan pertama dan membawa survivor ke titik penyerahan untuk perawatan
lebih lanjut.
Tiga hal pokok yang harus dilakukan pencari apabila berhasil menemukan Survivor dalam keadaan
hidup:
A. Memberikan pertolongan pertama bila diperlukan. Dalam hal ini personil harus benar-benar
memiliki kemampuan pertolongan pertama, karena kalau salah menangani akan mengakibatkan korban
bertambah parah bahkan bisa meninggal.
B. Meyakinkan pada survivor bahwa Ia akan selamat
C. Mengabarkan ke pangkalan pengendali tentang kondisi dan lokasi ditemukannya survivor.
Bila survivor dalam keadaan meninggal :
A. Tidak boleh merubah posisi survivor sebelum ada perintah dari SMC.
B. Menjaga survivor dari segala gangguan yang mungkin terjadi
C. Melaporkan ke pangkalan untuk dievakuasi
Teknik yang digunakan dalam evakuasi :
A. Memapah
B. Memandu
C. Bantuan helicopter
D. Modifikasi dari teknik yang ada
Sikap Mental Selama Pencarian
1. Cepat Tanggap. Pentingnya cepat tanggap untuk mencegah :
a. Sangat cepatnya meluasnya areal pencarian yang potensial.
b. Meningkatnya kesulitan pencarian berkaitan dengan mobilitas dan reaksi.
2. Dalam melakukan pencarian jangan terlalu terburu-buru, hendaknya dilakukan dengan kecermatan
dan keteletian. Hal ini untuk mengindari kemungkinan survivor tidak terdeteksi saat dilakukan
penyapuan.
3. Pencarian adalah hal yang menarik. Bila pencarian kita anggap sebagai hal menarik, maka hasilnya
akan lebih efektif. Kesungguhan, perhatian penuh dan sikap agresif dalam mengawasi merupakan
komponen yang berharga bagi kerja pencarian.
4. Pentingnya mencari jejak atau barang yang tercecer. Penemuan jumlah jejak dan barang yang
tercecer di dalam area, diperkirakan akan lebih banyak dari survivor. Penemuan juga dapat merupakan
pemasukan yang penting bagi penyempitan areal pencarian.
About these ads
Search And Rescue (SAR)
Posted by MAPALAST on 9:33 AM
3
Pengertian SAR
Search and Rescue (SAR) diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan
memberikan pertlongan kepada manusia dengan kegiatan yang meliputi :
Mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau
menghadapi bahaya dalam bencana atau musibah.
Mencari kapal dan atau pesawat terbang yang mengalami kecelakaan
Evakuasi pemindahan korban musibah pelayara, penerbangan, bencana alam atau bencana lainya
dengan sasaran utama penyelamatan jiwa manusia.
Lahir Dan Berkembangnya SAR di Indonesia
Negara Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, yang menggunakn sarana perhubungan dengn
sarana darat, laut, dan udara. Hal ini memungkinkan adanya

musibah atau bencana seiring dengan pertumbuhan penduduknya.Sejak tahun 1950, Indonesia sudah
terdaftar sebagai anggota ICAO ( International Civil Aviation Organization) dan IMCO ( Inttternasional
Maritime Consutative Organization ) yag wajib memberikan pelayanan SAR jika terjadi musibah atau
kecelakaan pada penerbangan ataupun pelayaran serta bertanggung jawab atas wilayahnya dengan
melakukan koordinasi SAR.
Karena sifat dari musibah, jarak,teknik,dan unsur SAR dari unit-unit terkait semakin banyak maka pada
tanggal 28 Februari 1972
di bentuklah Badan SAR Indonesia (BASARI) berdasarkan Kepres no.11 tahun 1972, yang kemudian
berganti menjadi Dadan SAR Nasional (BASARNAS) berdasarkan Kepres no. 47 tahun 1979 yang
merupakan lembaga pelaksana kegiatan SAR tingkat pusat.
Pada tahun 1993 secara elembagaan organisasi SAR tumbuh dan berkembang makin pesat, baik di
kalangan instansi pemerintah atau masyarakat yang semuanya mnjalankan fungsi SAR yaitu kegiatan
evakuasi, seperti Mawil Hansip sebagai coordinator pelaksana penanggulangan bencana alam
(SalKorLak PBA) ataupun kelompppok-kelompok pencinta alam yang membentuk tim ksusus dengan
tugas melaksanakan kegiatan SAR. Dalam perkembangannya kegiatan SAR dibedakan menjadi 3, yaitu
: SAR darat, SAR air, dan SAR Udara
a.Badan SAR Indonesia (BASARI)
BASARI merupakan Badan SAR yang pertama di Indonesia, yang merupakan badan yang
menyelenggarakn tugas-tugas pencarian dan pertolongan serta berkedudukan dan bertanggungjawab
kepada presiden.
BASARI mempunyai fungsi sbb:
Mengkoordinasikan semua kegiatan atau usaha-usaha pencarian dan pertolongan sesuai dengan
peraturan SAR nasinal dan internasional.
Merencanakan, membina, dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan SAR di wilayah dan di daerah.
Menyelenggarakan kerjasama dengan negara tetangga dan organisasi internasional di bidang SAR.
b.Badan SAR Nasional (BASARNAS)
BASARNAS yang dulunya adalah PUSARNAS mempunyai tugas pokok membina dan
mengkoordinasi semua usaha kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelematan sesuai
dengan peraturan SAR nasional dan international terhadap orang dan materiil yang hilang atau
menghadapi bahaya dalam penerbangnan, pelayaran dan bencana alam.
Struktur Intern BASARNAS terdiri dari :
1)Sekretariat Badan : Bertugas memberikn pelayanan teknis dan administrative bagi seluruh satuan
organisasi lingkungan BASARNAS dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
2)Pusat Pembinaan : Bertugas membina, memberikan pengarahan serta mengkoordinasi potensi-potensi
SAr baik tenaga maupun peralatan dan persiapan menghadapi setiap kemungkinan terjadinya musibah
penerbangan, pelayaran dan bencana alam.
3)Pusat Operasi SAR : Bertugas membina dan melaksanakan pengendalian operasi komunikasi dan
elektronika, maka Pusat Operasi SAR terdiri dari bidang pengendalian dan bidang komunikasi
elektronika.
c.Kantor Koordinator Rescue (KKR)
Kantor Koordinator Rescue (KKR) bertugas memyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna
mengkoordinir semua unsure SAR dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggungjawabnya.
Organisasi Intern KKr adalah sbb :
1)Seksi Perencaan : Bertugas membantu kepala KKR di bidang perencaan dan program serta
mempersiapkan perjanjian dengan instansi lainya.
2)Seksi Operasi : Bertugas melaksanakan system dari SAR dalam wilayah tanggung jawabnya.
3)Seksi Umum : Bertugas menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrative.
Jumlah KKR di Indonesia ada 4 yaitu :
1)KKR I: Jakarta dengan wilayah tanggung jawab melipui seluruh Sumatera, wilayah egara kita di
LAut Cina Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah ( sesuai FIR Jakarta
ditambah seluruh kepulauan Riau dan ebagian Laut Cia Selatan).
2)KKR II: Surabaya dengan wilayah tangung jawab meiputi Kalimanatan Tengah, Kalimantan Selatan,
Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timr ( sesuai FIR Denpasar )

3)KKR III: Ujung Pandang dengan wilayah tanggung jawab meliputi seluruh Sulawesi dan Maluku
( sesuai FIR Ujung Pandang).
4)KKR IV: Biak dengan Wilayah tangug jawab meliputi seluruh Irian Jaya (sesuai FIR Biak).
d.Sub Koordinasi Rescue (SKR)
Sub Koordinasi Resceu (SKR) mempunyai tugas sebagai berikut :
1)Sebagai perangkat pelaksana SAR, mengkoordinaasikan danmengarahkan pengguaan fasiitas sarana
personil di wilayah tanggung jawabnya. SKR mempunyai fungsi melaksanakan peningkatan kesiagaan
dan kemampuan teknis perasional.
2)Mengusahakan kerja sama semua unsur SAR yang berada dalam wilayahnya.
3)Menghubungi instansi pemerintah dan swasta di wilayah tanggungjawabnya sebagai koordinasi SAR.
4)Merencanakan dan mengadakan pelaksanaan-pelaksanaan SAR dalam wilayahnya.
5)Mengumpulkan data-data keterangan fasilitas, saran personil dan materiil dalam ilayahnya yang
dilakukan untuk tugas SAR.
6)MEnyusun laporan hasil pelaksanaan SAR.
Tingkat Keadaan Darurat
Dalam SAR dikenal 3 tingkat keadaan darurat yaitu :
1.INCERFA ( Ucertainityphase / fase tidak menentu / fase meragukan )
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai
kehidupan/keselamatan orang-orana/penumpang pesaawat karena adanyainformasi yang jelas bahwa
mereka menghadapi kesulitan atau karena pesawat/kapal itu tidak memberikan tentang informasi posko
sebenarnya (loss contack).
2.ALERFA ( Alertphase / fase mengkhawatirkan / fase siaga )
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai
kehidupan/keselamatan/penumpang pesawat kaaarena adanya informasi yang jelas bahwa karena
pesawat/kapal tidak memberikan informasi lanjutan perkembangan posisi atau keadaanya.
3.DETRESFA ( Distress Phase / Fase darurat bahaya )
Adalah suatu keadaan emergency ang ditujukan bila bantuan yang cepat telah dibutuhkan oleh
pesawat/kapal yang tertimpa musibah karena telah terjadi informasi perkembangan posisi/keadaan
setelah prosedur Alert Phase dilalui.
Tahapan Operasi SAR
Untuk mempermudah operasi SAR maka operasional dibagi dalam kelompk tahapan-tahapan, yaitu sbb
:
1)Awareness Stage ( Tahap Kekhawatiran )
Kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat mungkin akan muncul. Termasuk didalamnya penerimaan
informasi keadaan darurat dari seseorang.
2)Initial Action Stage ( TAhap Kesiagaan )
Aksi persiapan ini diambil untuk menyiagakan fasilitas SAR dapat mendapatkan informasi yang lebih
jelas, termasuk didalamnya :
Mengevaluasi dan mengklasifikasikan informasi yang didapat
Menyiapakan fasilllitas SAR
Pencarian awal dengan komunikasi ( Plllemininary Communication Check )
Perluasan pencarian degan komunikassi ( Extender Communication Check Excom)
Pada kasus yang gawat dilaksanakan aksi secepatnya setelah tahapan tersebut bila keadaan
mengharuskan.
3)Planing Stage ( Tahap Perencanaan )
Yaitu suatu pengembangan perencanaan yang efektif termask didalamnya :
Pertunjukan SMC ( SAR Mission Coordinator)
Perencanaan pencarian dan dimana sepatutnya dilaksanakan.
Menentukan posisi paling mungin ( Most Propible Position / MPP ), dari korban yang keadaan darurat
itu.
Luas dari Search Area.
Tipe pola pencarian
Perencanaan pencarian yang didapt dipakai
Memilih pembebasan/Delivery Point yang aman bagi korban

4)Operation Stage ( Tahap Operasi )


Yaitu thap operasi termasuk didalamnya yaitu :
Fasilitas SAR bergerak ke lokasi
Melakukan pencarian
Menolng/menyelamatakan orang
Memberikan perawatan gawat darurat pada orban yang membutuhkan pertolongan
Melakukan penggantian/penjadwalan pasukan pelaksanan di lokasi kejadian
5)Mission Conclusion Stage ( Tahap Akhir Misi )
Tahap konklusi ini adalah gerakan dari seluruh fasilitas SAR yang digunakan dari suatu titik
pembebasan yang aman ke lokasi semula darinya (Reguler Location) termasuk didalamnya :
Mengembalikan pasukan ke pangkalan (base camp) pencarian.
Penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Membuat dokumentasi misi SAR itu
Mengembalikan SAR Unit ke instansi masing-masing.
Komponen SAR
1.Organisasi
A.SC(SAR Coordinator)
Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR / SKR dalam menggerakkan unsureunsur operasi SAR karena jabatan dan wewenang yang dimillikinya. Kemudian unsure ini diserahkan
kepada SMC untuk digunakan dalam opersi SAR.
B.SMC(SAR Mission Coordinator)
Adalah pejabat yang ditunjuk kepala BASARNAS / KKR / SKR karena memiliki kualifikasi yang
ditunjuk atau telah melelui pendidikan sebagai seorang SMC yang diakui. SMC ini yang akan
mengkoordinasi dan mengendalikanoperasi SAR dari awal sampai selesai. SMC ini mempunyai tugas
dan tanggung jawab mengenai :
Mendapatkan informasi musibah.
Informasi mengenai keadaan cuaca dan laut.
Menentukan daerah pencarian, cara dan fasilitas yang akan digunakan.
Membagi-bagi daerah pencarian.
Mengandalkan briefing terhadap unsure SAR yang dilibatkan.
Mengevaluasi setiap perkembangan.
Melaporkan kegiatan operasi secara teratur ke BASARNAS / KKR /SKR.
Mengatur droppingperbekalan.
Mengadakan koordinasi dengan KKR / SKR tetangga apabila pencarian tidak terbatas pada satu
wilayah SAR saja.
Menyarankan penghentian usaha pencarian bila dipandang perlu.
Membebaskan unsur SAR dan menghentikan kegiatan hanya karena bantuan mereka tidak diperlukan.
Membuat laporan terakhir perihal kaadaan hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.
C.OSC (On Scene Commender)
Adalah seorang pejabat yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasi dan mengendalikan unsurunsur SAR di lapangan. Berarti OSC ini melaksanakan sebagian tugas-tugasnya. Dan persyaratan
sebagai OSC sama dengan persyaratan yang diperlukan SMC. DI Indonesia saat ini adanya seorang
OSC dalam operasi SAR dirasakan perlu karena belum lancarnya komunikasi yang ada dan luasnya
area pencarian.
D.SRU (Search and Rescue Unit)
Adalah unsure SAR yang dioperasikan pada kegiatan SAR dan mengikuti pertahapan organisasi /
instasi yang diperlukan dan diperbantukan / ditugaskan oleh instansi induknya atau merupakan bagian
dari kelompok masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam operasi SAR.
2.Fasilitas
Yang dimaksud fasilitas SAR adalah pendukung dari seluruh penyelenggaraan operasi SAR, dapat
berupa fasilitas milik pemerintah,swasta,perusahaan,kelompok masyarakat maupun perorangan yang
digunakan dalam operasi SAR. Jenisnya dapat berupa personil,pesawat,kapal laut,fasilitas
komunikasi,tanaga-tenaga khusus terlatih,peralatan emergency dan lain-lain.
3.Komunikasi
Komunikasi ini akan berperan :
penyampaian keadaan emergency

untuk menaggapi/memberi respond an melanjutkan informasi pada berbagai pihak yang terkait dalam
operasi SAR.
Untuk mengendalikan suatu operasi
Di dalam komunikasi SAR ini termasuk juga singnal-singnal darurat, komunikasi operasi SAR,
penyampaian informasi SAR, fasilitas komunikasi yang dapat digunakan dan jaringan komunikasi.
Tanpa adanya komunikasi maka pelaksanaan operasi tidak dapat berjalan dengan efektif dan efesien
dengan hasil yang diharapkan.
4.Pelayanan Darurat Medik
Memberikan perawatan gawat darurat semampu mungkin pada korban yang cedera agar korban
bertahan hidup dalam usaha pertolongan. Termasuk didalamnya penerapan keahlian-keahlian
pertolongan pertama darurat sakit korban di lokasi kejadian serta evakuai dan transportasi korban ke
rumah sakit atau pihak yang menangani lebih lanjut.
5.Dokumentasi
Memberikan semua data dan analisa dari informasi yang berhubungan dengan misi SAR termasuk
semua data yang diterima pada tahap kekhawatiran sampai tahap terakhir komunikasi misi. Khususnya
dimasukkan cerita / catatan baik secara tertulis atau visual (gambar / foto). Dan ini merupakan bahan
untuk evaluasi kegiatan dan merupakan pedoman bagi kegiatan selanjutnya.
EXPLORER SAR(Teknik-teknik Pencarian)
Walaupun perencanaan-perencanaan pencarian yang spesifik akan bervariasi tergantung kepada
situasinya strategi yang umum telah dikembangkan, yang mana akan dapat diterapkan untuk hampir
seluruh situasi didalam bebas. Kesemuanya ini berputar berkisar 5 mode sebagai berikut :
1.Preliminary Mode
Mengumpulkan informasi-informasi awal, saat dari tim-tim pencari diminta bantuan tenaganya sampai
kedatangan dilokasi, formasi dari perencanaan pencarian awal, perhitungan-perhitungan,dsb.
2.Confinement Mode
Memantapkan garis batas untuk mengurung orang yang hilang berada didalam area pencarian (search
area).
3.Detection Mode
Pemeriksaan-pemeriksaan tempat-tempat yang dicurigai bila dirasa perlu dan pencarian dengan cara
menyapu (sweep searches) diperhitungkan untuk menemukan orang yang hilang.
4.Tracking Mode
Mengikuti jejak-jejak atau barang-barang yang tercecer yang ditinggalkan orang hilang.
5.Evacuation Mode
Memberikan perawatan kepada korban dan membawanya dengan tandu apabila dibutuhkan.
Dari kelima mode itu, anggota ESAR (Explorer Search And Rescue) tim umumnya akan banyak
terlibat pada Confinement, Detection, dan Evacuation. Pada Preliminary Mode, Operation Leader (OL)
dari ESAR akan menjabat pekerjaan sebagai perhubungan dengan badan yang bertanggung jawab
(Polisi, Badan SAR Nasional, dll)
Pencarian dan penyelamatan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Helikopter EH1010 Kanada untuk usaha mencari dan menyelamatkan.
BALSA PESCANTE.JPG
Pelatihan SAR
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), sebelumnya bernama Pencarian dan penyelamatan
(bahasa Inggris: search and rescue; SAR), adalah kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan
menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam
musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan, dan bencana. Istilah SAR telah digunakan secara
internasional tak heran jika sudah sangat mendunia sehingga menjadi tidak asing bagi orang di belahan
dunia manapun tidak terkecuali di Indonesia.
Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, hutan, gurun
pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR seharusnya dilakuan oleh personal yang
memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun
korbannya. Operasi SAR dilaksanakan terhadap musibah penerbangan seperti pesawat jatuh, mendarat
darurat dan lain-lain, sementara pada musibah pelayaran bila terjadi kapal tenggelam, terbakar,

tabrakan, kandas dan lain-lain. Demikian juga terhadal adanya musibah lainnya seperti kebakaran,
gedung runtuh, kecelakaan kereta api dan lain-lain.
Terhadap musibah bencana alam, operasi SAR merupakan salah satu rangkaian dari siklus penanganan
kedaruratan penanggulan bencana alam. Siklus tersebut terdiri dari pencegahan (mitigasi) , kesiagaan
(preparedness), tanggap darurat (response) dan pemulihan (recovery), dimana operasi SAR merupakan
bagian dari tindakan dalam tanggap darurat.
Di bidang pelayaran dan penerbangan, segala aspek yang melingkupinya termasuk masalah
keselamatan dan keadaan bahaya, telah diatur oleh badan internasional IMO dan ICAO melalui
konvensi internasional. Sebagai pedoman pelaksanaan operasi SAR, diterbitkan IAMSAR Manual yang
merupakan pedoman bagi negara anggotanya dalam pelaksaan operasi SAR untuk pelayaran dan
penerbangan. Untuk menyeragamkan tindakan agar dicapai suatu hasil yang maksimal maka digunakan
suatu Sistem SAR (SAR Sistem) yang perlu dipahami bagi semua pihak terlibat. Dalam pelaksanaan
operasi SAR melibatkan banyak pihak baik dari militer, kepolisian, aparat pemerintah, organisasi
masyrakat dan lain-lainnya. Demikian juga sesuai dengan ketentuan IMO dan ICAO setiap negara
wajib melaksanakan operasi SAR. Instansi yang bertanggung jawab di bidang SAR berbeda-beda untuk
setiap negara sesuai dengan ketentuan berlaku di masing-masing negara, di Indonesia tugas tersebut
diemban oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP).

Daftar isi [sembunyikan]


1
Organisasi SAR
1.1
Pengertian
1.2
Hakikat
1.3
Perkembangan Organisasi
2
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP)
3
Tingkat Keadaan Darurat
4
Komponen
4.1
Keorganisasian
4.2
Fasilitas
4.3
Komunikasi
4.4
Pelayanan Darurat Medik
4.5
Dokumentasi
5
Arti Penting Eksistensi SAR
6
Sifat Operasi
7
Kemampuan Dasar
8
Kompetensi Dasar Tenaga SAR
9
Pelaksanaan Operasi SAR
10
Pergantian Nama SAR menjadi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP)
11
Pranala luar
Organisasi SAR[sunting | sunting sumber]
Sekoci penyelamat lifeboat
Sebuah sekoci penyelamat
Pengertian[sunting | sunting sumber]
SAR merupakan singkatan dari Search And Rescue yang mempunyai arti usaha untuk melakukan
percarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap keadaan darurat yang dialami baik manusia maupun
harta benda yang berharga lainnya.
Hakikat[sunting | sunting sumber]
SAR merupakan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan secara suka rela dan tanpa pamrih dan
merupakan kewajiban moril bagi setiap individu yang terlatih untuk melakukan pertolongan terhadap
korban musibah secara cepat, tepat dan efisien dengan memanfaatkan sumber daya/potensi yang ada,
baik sarana dan prasarana maupun manusia yang ada.
Perkembangan Organisasi[sunting | sunting sumber]

Semenjak terbentuknya pada Tgl. 28 februari 1972 dan dalam perkembangannya, organisasi SAR telah
mengalami beberapa kali perubahan yang di lakukan oleh pemerintah untuk lebih mengoptimalkan
organisasi SAR. Adapun perubahan perubahan yang pernah dilakukan adalah;
Keppres No. 11 Thn. 1972. di sebutkan bahwa BASARI ( Badan SAR Indonesia) mempunyai susunan
organisasi yang terdiri dari Pimpinan, Pusat Kordinasi SAR Nasional (PUSARNAS), Pusat Kordinasi
Rescue, SubSub Pusat Kordinasi Rescue serta Unsur Unsur SAR.
Keppres No. 44 Thn. 1974. Di jelaskan antara lain bahwa PUSARNAS (Pusat SAR Nasional) berada di
bawah Departemen Perhubungan.
Keppres No. 28 Thn. 1979 . di jelaskan bahwa BASARI termasuk anggota BAKORNAS PBA (Badan
Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam).
Keppres No. 47 Thn 1979. PUSARNAS diganti menjadi BASARNAS (Badan SAR Nasional).
Perubahan PUSARNAS menjadi BASARNAS di sertai pula dengan perubahan eselon dari eselon II
menjadi eselon I atau setingkat Direktorat Jenderal. Dan untuk kelancaran tugas tugas di lapangan,
Menteri perhubungan telah mengeluarkan instruksi bahwa Kepala BASARNAS ditunjuk sebagai kuasa
ketua BASARI untuk tugas tugas di lapangan.
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun 2016 tentang Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan
(BNPP) pada tanggal 6 September 2016. BNPP adalah nama baru yang sebelumnya Badan Search and
Rescue Nasional (Basarnas)
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP)[sunting | sunting sumber]
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) mempunyai tugas pokok untuk membina dan
mengkoordinasikan semua usaha dan kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan
sesuai dengan peraturan SAR nasional dan Internasional terhadap manusia ataupun benda berharga
lainnya.
Kantor Koordinasi rescue (KKR)
Mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna mengkoordinir semua
unsur dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggung jawabnya.
Tingkat Keadaan Darurat[sunting | sunting sumber]
Dalam SAR dikenal adanya 3 tingkat keadaan darurat:
Inserfa
Destresfa
Alertfa
Komponen[sunting | sunting sumber]
Badan SAR Nasional di Jakarta, Indonesia.
Sebelum di aktifkannya suatu kegiatan operasi SAR, tentunya harus di dahului dengan adanya berita
suatu musibah atau sesuatu yang menghawatirkan atau di khawatirkan akan terjadi musibah.
Penyelenggaraan operasi SAR akan berlangsung dengan baik bila di dukung oleh komponen
komponen SAR yang meliputi ; organisasi, fasilitas, komunikasi, medik dan dokumentasi.
Keorganisasian[sunting | sunting sumber]
Organisasi dalam misi SAR akan dibentuk dalam jangka waktu tertentu demi kelancaran koordinasi
dan pengendalian unsur-unsur SAR yang ada hingga kegiatan menjadi efektif dengan hasil yang
optimal. Organisasi ini akan bubar dengan sendirinya apabila operasi SAR telah dinyatakan selesai.
Untuk itu perlu diketahui tugas dan tanggung jawab serta hubungan dari setiap unsur SAR.
SC (SAR Cordinator)
Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR dalam menggerakkan unsur-unsur
operasi SAR karena jabatan dan kewenangan yang di milikinya. Kemudian unsur-unsur ini diserahkan
kepada SMC untuk di gunakan dalam operasi SAR.
SMC (SAR Mission Coordinator)
Adalah pejabat yang di tunjuk oleh kepala BASARNAS/KKR karena memiliki kualifikasi yang di
tentukan atau telah mengikuti pendidikan sebagai seorang SMC yang di akui. SMC akan
mengkoordinasikan dan mengendalikan operasi SAR dari awal sampai akhir. Tugas dan tanggung
jawab SMC:

Mendapatkan informasi tentang musibah.


Mendapatkan informasi tentang cuaca.
Menentukan/membagi areal pencarian dan cara serta fasilitas yang akan di gunakan.
Mengadakan debriefing terhadap unsur-unsur SAR yang akan dilibatkan.
Mengevaluasi setiap perkembangan (berdasarkan data-data yang di terima).
Melaporkan kegiatan secara teratur ke Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP)/KKR.
Mengatur dropping perbekalan.
Mengadakan koordinasi dengan KKR tetangga bila areal pencarian tidak terbatas pada satu wilayah
SAR saja.
Menyarankan penghentian pencarian bila di pandang perlu.
Membebaskan unsur SAR atau menghentikan kegiatan bila bantuan mereka tidak di butuhkan.
Membuat laporan akhir perihal hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.
Pada umumnya pengendalian SAR di lakukan di KKR namun bila tidak memungkinkan, SMC dapat
berpindah sementara ke daerah yang lebih dekat dengan lokasi operasi dan mengendalikan dari daerah
tersebut.
OSC (On Scene Commander)
OSC adalah pejabat yang di tunjuk oleh SMC untuk melaksanakan sebagian tugas SMC di lapangan.
Persyaratan pejabat OSC sama dengan persyaratan seorang pejabat SMC. OSC melaksanakan tugas
sebatas yang di delegasikan kepadanya. Hal ini biasanya di lakukan bila lokasi pencarian sulit untuk di
kendalikan secara langsung oleh SMC atau SMC merasa perlu adanya OSC untuk membantu
kelancaran tugas-tugasnya.
SRU (Search And Rescue Unit)
SRU adalah unsur SAR yang di operesikan dalam kegiatan SAR dan mengikuti pentahapan
penyelenggfaraan operasi. SRU dapat berasal dari berbagai organisasi/instansi yang ingin berpartisipasi
dalam kegiatan operasi SAR. STRUKTUR ORGANISASI MISI SAR SC >>> SMC >>> SRU atau SC
>>> SMC >>> OSC >>> SRU
Fasilitas[sunting | sunting sumber]
Yang termasuk dalam fasilitas SAR adalah semua pendukung penyelenggaraan dalam kegiatan operasi
SAR, dapat berupa fasilitas milik pemerintah, swasta, perusahaan, kelompok/organisasi masyarakat
maupun perorangan. Jenisnya dapat berupa personil terlatih, kendaraan, alat komunikasi dll.
Komunikasi[sunting | sunting sumber]
Komukasi akan berperan dalam penyampaian informasi dari satu unit ke unit lainnya secara cepat dan
akan lebih memudahkan dalam pengendalian operasi terlebih dalam keadaan emergency.
Pelayanan Darurat Medik[sunting | sunting sumber]
Dalam pelaksanaan operasi SAR sangat diperlukan adanya pelayanan darurat medik untuk memberikan
pertolongan pertama bila ada korban yang membutuhkan sebelum di tangani oleh pihak yang lebih
berkompeten. Pelayanan ini juga di butuhkan pada saat melakukan evakuasi dan mobilisasi korban.
Dokumentasi[sunting | sunting sumber]
Dokumentasi berguna untuk memberikan data dan keterangan serta analisa dari informasi misi SAR
yang diterima termasuk mulai dari tahap kekhawatiran sampoai tahap konklusi misi, khususnya catatan
baik secara tulisan atau visual. Ini merupakan bahan untuk evaluasi dan pedoman untuk kegiatan
selanjutnya SAR pada hakikatnya adalah kegiatan kemanusiaan yang dijiwai falsafah Pancasila dan
merupakan kewajiban bagi setiap Warga Negara Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi segala upaya
dan usaha pencarian, pemberian pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia dan harta benda yang
bernilai dari segala musibah baik dalam penerbangan, pelayaran, bencana maupun musibah lainnya.
Dari batasan pengertian dan hakikat SAR diatas, jelas bahwa kegiatan SAR yang utama adalah
pelaksanaan operasi. Namun dalam kegiatannya, pelaksanaan operasi hanya akan bisa berjalan dengan
efektif dan efisien apabila didukung oleh pembinaan SAR yang mantap. Pembinaan SAR yang
dimaksud adalah kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan perencanaan, penyusunan,
pembangunan/pengembangan, koordinasi, pengerahan, penggunaan, dan pengendalian terhadap
unsur/sarana SAR agar tercapai tingkat kemampuan dan kesiapan operasional yang dipersyaratkan.

Arti Penting Eksistensi SAR[sunting | sunting sumber]


Pada dasarnya kegiatan SAR ini dilaksanakan oleh Negara-negara diseluruh dunia, oleh sebab itu
pengaturan mengenai SAR telah disepakati juga dalam konvensi Internasional yang tentunya akan
mengikat bagi Negara-negara yang telah meratifikasinya. Konvensi Internasional dimaksud adalah :
Adanya ketentuan dari ICAO (Internasional Civil Aviation Organization) yaitu Organisasi Penerbangan
Sipil Internasional dalam Konvensi Chicago, 1944 pada Pasal VI tentang Internasional Standard and
Recommended Practices Annex 12 Search and Rescue, antara lain berisi mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan penyelenggaraan SAR yang meliputi organisasi, tugas, dan kerja sama dengan
Negara-negara tetangga.
Adanya ketentuan dari IMO (International Maritime Organization) atau Organisasi Pelayaran
Inernasional, sesuai dengan Konvensi SOLA (Safety of Live at Sea) 1974 yang menentukan bahwa
Negara memiliki kewajiban untuk membentuk sistem pengawasan/penjagaan pantai dan melakukan
penyelamatan apabila terjadi kecelakaan di wilayah perairannya.
Dengan adanya ketentuan internasional yang bersifat mengikat tersebut, Negara wajib memiliki
organisasi SAR yang mampu untuk menangani musibah penerbangan dan pelayaran di wilayah
tanggung jawabnya sesuai dengan petunjuk teknis yang tertuang dalam IAMSAR Manual.
Apabila Negara tidak bisa memberikan pelayanan di bidang SAR, maka Negara yang bersangkutan
dikenai status Black Area yang berpengaruh negatif terhadap aspek perekonomian, sosial politik,
HANKAM, dan aspek-aspek lainnya, bahkan bisa dicabut dari keanggotaan ICAO & IMO.
Sifat Operasi[sunting | sunting sumber]
Kemanusiaan.
Netral.
Cepat, Cermat, Cekatan.
Tepat dan Aman.
Koordinatif.
Borderless.
Kemampuan Dasar[sunting | sunting sumber]
Sesuai dengan arti kata SAR yang berarti Search (Pencarian) dan Rescue
(Pertolongan/Penyelamatan),maka dalam kegiatan operasional SAR dibutuhkan ilmu pengetahuan dan
keterampilan teknis SAR serta beberapa disiplin ilmu sebagai penunjang/pendukung. Ilmu pengetahuan
dan keterampilan serta disiplin ilmu pendukung yang dimaksud adalah :
Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi SAR, dan
lain-lain.
Unsur Pencarian (Search).
Teknik Pencarian di Darat.
Teknik Pencarian di Laut.
Teknik Pencarian dari Udara.
Unsur Pertolongan/ Penyelamatan (Rescue) :
Evakuasi.
Medical First Response.
Unsur Pendukung/Penunjang :
Navigasi.
Mountaineering.
Survival.
Komunikasi Lapangan.
Persiapan Perbekalan, Pakaian dan Makanan.
Helly Rescue.
Kompetensi Dasar Tenaga SAR[sunting | sunting sumber]
Fisik yang prima dan sikap mental yang tangguh.
Memiliki pengetahuan yang cukup.
Memiliki keterampilan yang dipersyaratkan.
Mampu menjalin koordinasi dengan baik.
Pelaksanaan Operasi SAR[sunting | sunting sumber]
Operasi SAR diaktifkan segera setelah diketahui dengan pasti adanya musibah atau terjadi keadaan
darurat.

Operasi SAR dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau bila telah dijakinkan
keadaan darurat tidak terjadi lagi (Fase Alert) atau sudah dapat diatasi, atau bila hasil analisa / evaluasi
berdasarkan Time Frame For Survival (TFFS) survivor/korban bahwa harapan untuk selamat setelah
hari ke 7 (ketujuh) operasi SAR dilaksanakan sudah tidak ada lagi.
Opersai SAR merupakan gabungan kegiatan dari Operasi Search dan Operasi Rescue yang pada
pelaksanaannya dapat berupa :
Operasi Pencarian tanpa Operasi Pertolongan.
Operasi Pertolongan/Penyelamatan tanpa operasi pencarian.
Operasi Pencarian yang dilanjutkan Operasi Pertolongan.
Pergantian Nama SAR menjadi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP)[sunting | sunting
sumber]
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun
2016 tentang Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) pada tanggal 6 September 2016.
BNPP adalah nama baru yang sebelumnya Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas).
Pranala luar[sunting | sunting sumber]
(Indonesia) Badan SAR Nasional
(Inggris) Asosiasi Nasional SAR
(Indonesia) pergantian nama Basarnas
Kategori: PenyelamatanPencarian
HAKIKAT SEARCH AND RESCUE (SAR)
koleksi , SAR
SAR pada hakekatnya adalah kegiatan kemanusiaan yang dijiwai falsafah Pancasila dan merupakan
kewajiban bagi setiap Warga Negara Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi segala upaya dan usaha
pencarian, pemberian pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia dan harta benda yang bernilai dari
segala musibah baik dalam penerbangan, pelayaran, bencana maupun musibah lainnya.
Dari batasan pengertian dan hakekat SAR diatas, jelas bahwa kegiatan SAR yang utama adalah
pelaksanaan operasi. Namun dalam kegiatannya, pelaksanaan operasi hanya akan bisa berjalan dengan
efektif dan efisien apabila didukung oleh pembinaan SAR yang mantap. Pembinaan SAR yang
dimaksud adalah kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan perencanaan, penyusunan,
pembangunan/pengembangan, koordinasi, pengerahan, penggunaan, dan pengendalian terhadap
unsur/sarana SAR agar tercapai tingkat kemampuan dan kesiapan operasional yang dipersyaratkan.
ARTI PENTING EKSISTENSI SAR
Pada dasarnya kegiatan SAR ini dilaksanakan oleh Negara-negara diseluruh dunia, oleh sebab itu
pengaturan mengenai SAR telah disepakati juga dalam konvensi Internasional yang tentunya akan
mengikat bagi Negara-negara yang telah meratifikasinya. Konvensi Internasional dimaksud adalah :
Adanya ketentuan dari ICAO (Internasional Civil Aviation Organization) yaitu Organisasi Penerbangan
Sipil Internasional dalam Konvensi Chicago, 1944 pada Pasal VI tentang Internasional Standard and
Recommended Practices Annex 12 Search and Rescue, antara lain berisi mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan penyelenggaraan SAR yang meliputi organisasi, tugas, dan kerja sama dengan
Negara-negara tetangga.
Adanya ketentuan dari IMO (International Maritime Organization) atau Organisasi Pelayaran
Inernasional, sesuai dengan Konvensi SOLA (Safety of Live at Sea) 1974 yang menentukan bahwa
Negara memiliki kewajiban untuk membentuk sistim pengawasan/penjagaan pantai dan melakukan
penyelamatan apabila terjadi kecelakaan di wilayah perairannya.
Dengan adanya ketentuan internasional yang bersifat mengikat tersebut, Negara wajib memiliki
organisasi SAR yang mampu untuk menangani musibah penerbangan dan pelayaran di wilayah
tanggung jawabnya sesuai dengan petunjuk teknis yang tertuang dalam IAMSAR Manual.
Apabila Negara tidak bisa memberikan pelayanan di bidang SAR, maka Negara yang bersangkutan
dikenai status Black Area yang berpengaruh negatif terhadap aspek perekonomian, sosial politik,
HANKAM, dan aspek-aspek lainnya, bahkan bisa dicabut dari keanggotaan ICAO & IMO.
FILOSOFI SAR
1.Locate.
Artinya memberikan gambaran yang kongkrit posisi/lokasi subyek yang mengalami musibah itu
berada. Lokasi biasanya ditunjukkan dengan garis lintang dan bujur pada peta.
2.Acces.

Artinya sumber-sumber dari mana saja dan dengan cara apa bantuan pertolongan ini bisa sampai
menuju lokasi tempat terjadinya musibah.
3.Stabilize.
Artinya penanganan/perawatan korban dengan berbagai macam kasus di lokasi kejadian itu dilakukan
oleh unit-unit penolong (Rescue Unit) sebelum bantuan medis tiba untuk memberikan perawatan lebih
lanjut.
4.Transport/Evakuasi.
Artinya proses pemindahan korban dari lokasi ke tempat yang lebih aman untuk diberikan pertolongan
pertama (evakuasi) dan transportasi dari tempat mendapat pertolongan pertama ke tempat fasilitas
medis terdekat.
SIFAT SIFAT OPERASI SAR.
1.Kemanusiaan.
2.Netral.
3.Cepat, Cermat, Cekatan.
4.Tepat dan Aman.
5.Koordinatif.
6.Borderless.
KEMAMPUAN DASAR SAR
Sesuai dengan arti kata SAR yang berarti Search (Pencarian) dan Rescue
(Pertolongan/Penyelamatan),maka dalam kegiatan operasional SAR dibutuhkan ilmu pengetahuan dan
keterampilan teknis SAR serta beberapa disiplin ilmu sebagai penunjang/pendukung. Ilmu pengetahuan
dan keterampilan serta disiplin ilmu pendukung yang dimaksud adalah :
1.Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi SAR, dan
lain-lain.
2.Unsur Pencarian (Search).
a.Teknik Pencarian di Darat.
b.Teknik Pencarian di Laut.
c.Teknik Pencarian dari Udara.
3.Unsur Pertolongan/ Penyelamatan (Rescue) :
a.Evakuasi.
b.Medical First Response.
4.Unsur Pendukung/Penunjang :
a.Navigasi.
b.Mountaineering.
c.Survival.
d.Komunikasi Lapangan.
e.Persiapan Perbekalan, Pakaian dan Makanan.
f.Helly Rescue.
KOMPETENSI DASAR TENAGA SAR.
1.Fisik yang prima dan sikap mental yang tangguh.
2.Memiliki pengetahuan yang cukup.
3.Memiliki keterampilan yang dipersyaratkan.
4.Mampu menjalin koordinasi dengan baik.
PENYELENGGARAAN OPERASI SAR
Dalam penyelenggaraan operasi SAR, akan dihadapkan dengan system SAR yakni adanya 3 (tiga) Fase
keadaan darurat (Emergency Phase), 5 (lima) Tahap Operasi SAR (SAR Stage) dan 5 (lima) Komponen
yang menunjang operasi SAR (SAR Component}.
1.Phase keadan darurat.
Tingkat meragukan (Uncertainty phase INCERFA), bila pesawat atau kapal terlambat melapor tiba
di tempat tujuan melebihi batas waktunya.

Tingkat mengkhawatirkan (Alert phase ALERFA), merupakan kelanjutan dari phase INCERFA atau
diketahui pesawat atau kapal dalam keadaan mengkhawatirkan atau adanya ancaman terhadap
keselamatannya.
Tingkat memerlukan bantuan (Distress phase DISTRESFA) diketahui penumpang pesawat atau
kapal dalam keadaan bahaya dan memerlukan pertolongan.
2.Tahap Operasi SAR.
Tahap menyadari (Awareness Stage), yaitu saat diketahui/disadari terjadinya keadaan darurat.
Tahap tindak awal (Initial Action Stage), saat dilakukan tindakan awal sebagai respon adanya
musibah.
Tahap perencanaan operasi (Planning stage), saat dilakukan rencana operasi yang efektif untuk
melaksanakan operasi SAR.
Tahap operasi (Operation stage), saat dilakukannya operasi pencarian dan pertolongan.
Tahap pengakhiran operasi (Mission conclusion stage), saat dinyatakan operasi SAR selesai dan
seluruh unsur dikembalikan ke satuan masing-masing.
3.Komponen Penunjang SAR (SAR Component).
Pelaksanaan kegiatan SAR sesuai dengan pentahapan tersebut akan berhasil apabila didukung oleh
adanya 5 komponen penunjang yang terdiri atas :
1.Organisasi.
Dalam lingkup operasi SAR dikenal organisasi operasi yang berlaku secara internasional. Organisasi
ini merupakan organisasi tugas operasi yang terdiri dari :
SAR Coordinator (SC).
SC adalah pejabat yang mempunyai tanggung jawab untuk menjamin dapat berlangsungnya suatu
operasi SAR yang efisien dengan menggunakan seluruh potensi SAR yang ada. SC dapat dijabat oleh
Kepala Basarnas, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Bupati Kepala Daerah Tingkat II.
SAR Mission Coordinator (SMC).
SMC adalah seseorang atau pejabat yang ditunjuk oleh SC untuk melaksanakan koordinasi dan
pengendalian operasi SAR. Seorang SMC harus memiliki kualifikasi / kemampuan komando dan
pengendalian serta memahami proses perencanaan operasi SAR, teknik Search and Rescue. SMC
biasanya menggunakan Sumber Daya Manusia di daerah kejadian.
On Scene Coordinator (OSC).
OSC yang ditunjuk bisa lebih dari 1 orang, tergantung dari jumlah dan jenis unsur yang dikerahkan,
terutama pada operasi SAR gabungan yang melibatkan darat, laut dan udara serta apabila lokasi operasi
teletak di wilayah perbatasan 2 (dua) Negara. OSC ditunjuk oleh SMC dan biasanya diambil dari
komandan unsur yang paling senior diantara SRU.
SAR Unit (SRU).
SRU adalah unit-unit SAR yang bertugas melaksanakan kegiatan operasi SAR dilapangan. SRU dapat
berupa kapal laut dan crewnya, pesawat dengan crewnya atau tim darat. Pemilihan SRU harus
berdasarkan pada pertimbangan kemampuan unsure dan kualifikasi awaknya. Keberadaan potensi SAR
yang ada di masyarakat yang memiliki kualifikasi untuk menunjang operasi SAR biasanya ditempatkan
pada SRU ini.
2.Fasilitas.
Fasilitas SAR dapat merupakan fasilitas milik pemerintah, swasta maupun perorangan. Pemilihan
fasilitas berdasarkan atas kemampuan operasional dan latihan serta pengalaman awaknya. Hingga saat
ini Basarnas instansi yang menangani SAR di Indonesia masih banyak menggunakan fasilitas yang
dimiliki TNI AU, TNI AL untuk mendukung kegiatan operasi SAR.
3.Komunikasi.
Komunikasi merupakan tulang punggung dari seluruh sistim SAR. Fungsi komunikasi meliputi
pengindraan / diteksi dini, koordinasi, komando dan pengandalian administrasi / logistic. Dalam
pelaksanaan fungsi peringatan dini ini Basarnas, instansi yang menangani SAR di Indonesia
menggunakan satelit Cospas / Sarsat, khusus untuk menangani pesawat terbang yang membawa ELT
(Emergency Locater Terminal) dan kapal-kapal laut yang membawa EPIRB (Emergency Positioning
Indicator Radio Beacon). Lokasi stasiun Cospas / Sarsat disebut LUT (Lokal User Terminal) yang
berada di Jakarta dan Ambon, menggunakan saluran teristrial dan radio yang berhubungan dengan ATC
dan SROP. Untuk fungsi koordinasi terutama informasi data Basarnas menggunakan SAROIMS (SAR
Operation Information Managemet System) dengan memanfaatkan teknologi V-Sat, yang dipasang di
kantor-kantor SAR dan dihubungkan dengan kantor pusat. Fungsi kodal sebagian besar menggunakan

peralatan komunikasi yang ada di unsur-unsur TNI. Untuk fungsi Administrasi Logistik digunakan
saluran radio dan telepon dengan memanfaatkan faxsimili.
4.Perawatan Darurat (Emergency Care).
Perawatan darurat terlaksana dengan persyaratan kemampuan sebagai berikut :
Personil SAR terlatih dalam penanganan darurat (Medical First Responder).
Tersedia transportasi korban.
Tersedia fasilitas medis untuk perawatan korban.
5.Dokumentasi.
Dokumentasi meliputi pencatatan informasi dan data dalam format tertentu sehingga memudahkan
pelaksanaan evaluasi dan pelaporan. Data-data yang tersusun dengan baik akan memudahkan
pengambilan keputusan.
PELAKSANAAN OPERASI SAR
1.Operasi SAR diaktifkan segera setelah diketahui dengan pasti adanya
musibah atau terjadi keadaan darurat.
2.Operasi SAR dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau bila telah dijakinkan
keadaan darurat tidak terjadi lagi (Fase Alert) atau sudah dapat diatasi, atau bila hasil analisa / evaluasi
berdasarkan Time Frame For Survival (TFFS) survivor/korban bahwa harapan untuk selamat setelah
hari ke 7 (ketujuh) operasi SAR dilaksanakan sudah tidak ada lagi.
3.Opersai SAR merupakan gabungan kegiatan dari Operasi Search dan
Operasi Rescue yang pada pelaksanaannya dapat berupa :
a.Operasi Pencarian tanpa Operasi Pertolongan.
b.Operasi Pertolongan/Penyelamatan tanpa operasi pencarian.
c.Operasi Pencarian yang dilanjutkan Operasi Pertolongan.
Sumber : Relawan Indonesia.Net
WATER RESCUE
1.

PENGERTIAN WATER RESCUE

Water Rescue adalah kegiatan pertolongan atau penyelamatan serta cara pemindahan korban dari
perairan seperti kolam, sungai, dan laut.
2.

PENYEBAB ORANG TENGGELAM

Tidak bisa berenang

Kram/kejang otot

Panik

Faktor kesehatan

Air yang terlalu dalam

Bunuh diri

3.

SYARAT UNTUK MENJADI PENOLONG

Berani
Punya niat
Sehat jasmani dan rohani
Bisa berenang
Punya kemampuan untuk menolong (berpengetahuan)
Fisik yang sehat
Percaya diri
Keahlian

4.

HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM MENOLONG KORBAN

A)

Pengamatan

Pengamatan terhadap kondisi air

Kenali tepi/pinggiran air

Ketahui kedalaman air

B)

Perhatikan kuatnya arus


Jika ingin memotong atau menyeberang air jangan 90 derajat tetapi ikuti arus.

5.

TEHNIK MENOLONG ORANG YANG TENGGELAM

a)

Raih

Raih korban dengan tangan/alat tertentu jika korban belum terlalu jauh dengan kita. Usahakan memakai
alat yang bisa terapung.
b)

Lempar

Lempari korban dengan benda yang bisa terapung dan tarik korban pelan-pelan. Lalu angkat korban
keluar dari air.
c)

Dayung

Dekati korban dengan perahu lalu angkat korban dari dalam air ke atas perahu.

d)

Renang

Dekati korban dengan berenang. Tarik korban dari belakang dan tenangkan. Bawa korban keluar dari
air.

ATAU DENGAN CARA BERIKUT :


1. Reach (Pertolongan yang dilakukan dari / pinggir kolam / dermaga dengan cara meraih korban
karena posisinya di pinggir atau dengan menggunakan alat sepeti galah, kayu, dan lain-lain).
2. Throw (Lanjutan dari metode reach dimana pertolongan dengan cara melempar alat apung dan
penolong berada pada daerah aman).
3. Row (Pertolongan yang dilakukan jika kedua langkah diatas sudah tidak dapat dilakukan, maka
penolong harus mendekat kearah korban dengan menggunakan kapal kecil untuk mendekat ke korban
lalu melakukan reach / throw).
4. Go (Pilihan terakhir yang harus dilakukan karena tidak tersedianya peralatan yang digunakan
untuk mendekat dan posisi korban jauh atau tempat yang tidak memungkinkan untuk menggunakan
perahu).
5.

Tow / Carry (Paling beresiko tinggi bagi penolong, karena harus langsung kontak dengan korban).

ALAT YANG DIGUNAKAN

Galah

Pelampung

Rescue tube

Rescue bag

Tabung plastik

Torpedo buoy

Ring buoy

Spinal board

* TAMBAHAN
Musibah atau keadaan darurat adalah kejadian yang selalu tidak diharapkan oleh siapapun tidak
terkecuali oleh penolong (rescuer) / tim SAR. Dibutuhkan respon atau penanganan sesegera mungkin
dengan tidak melupakan factor keselamatan diri sendiri (safety self), untuk itu kemampuan dan
ketrampilan dasar pertolongan air seharusnya tak hanya dimiliki oleh mereka yang bekerja sebagai tim
SAR melainkan semua orang sehingga bila terjadi keadaan darurat dapat meminimalisir jumlah korban.
Teknik penyelamatan yang baik dan benar tidak hanya mempermudah penolong dalam melakukan
penyelamatan namun juga dapat menjamin keselamatan si penolong itu sendiri.

Banyak kasus yang terjadi dimana keselamatan si penolong terancam karena keterbatasan pengetahuan
yang dimiliki, tak jarang si penolong harus kehilangan nyawa karena nekat melakukan tindakan
penyelamatan hanya dengan modal kemampuan renang. Kemampuan renang merupakan modal utama
dan terpenting dalam tindakan pertolongan air, namun harus diperhatikan tak selamanya pertolongan
air mengharuskan si penolong berada di dalam air. Berdasarkan prioritas penyelamatan, tindakan
pertolongan yang mengharuskan si penolong harus berada di dalam air berada diurutan terakhir. Oleh
karena itu, utamakan keselamatan si penolong terlebih dahulu kemudian selamatkan orang lain
(korban).

PENYEBAB SESEORANG MENJADI KORBAN TENGGELAM :


1. Tidak bisa berenang.
2. Kelelahan karena berenang.
3. Kram/kejang otot saat berenang.
4. Sebab lain.
APA YANG KITA LAKUKAN?
1. Berteriak sekuat mungkin untuk menarik perhatian orang lain.
2. Hubungi nomor telepon gawat darurat sesegera mungkin.
3. Lakukan pertolongan seaman mungkin JANGAN LAKUKAN masuk kelokasi tersebut tanpa
pengaman, kecuali anda mengenal lokasi. Bila tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri sebaiknya
carilah bantuan." Lebih baik kehilangan satu orang daripada kehilangan dua orang", maksudnya "
Jangan menambah korban lebih banyak".
4. Cari kayu, tali, ring buoy yang dapat menjangkau korban, kalau tidak bisa baru berenang
menggunakan gaya bebas dengan kepala diangkat . Penolong saat melakukan pertolongan terhadap
korban harus tetap melihat kearah korban atau tempat terakhir korban agar bisa mempelajari situasi dan
kondisi disekitar korban.
5. Dekati korban, berhenti berenang dengan mengambil posisi sekitar dua meter dari korban untuk
memperkirakan bagaimana kondisi korban, lakukan komunikasi dengan korban, dan sebutkan identitas
penolong. untuk kasus korban yang masih sadar, berikut ini adalah kutipan percakapan penolong
dengan korban :

" Tenang, saya akan menolong anda, Nama saya Aqvino Nior, saya anggota Banyuwangi Sar
Independent. Saya akan menolong anda, tolong ikuti perintah saya dan jangan meronta".
Apabila korban meronta dan berusaha merangkul penolong, maka penolong harus berusaha menjauhi
korban, karena dalam kasus ini cukup sering ditemukan si penolong ikut tenggelam juga akibat si
korban panik dan meronta ketika berusaha ditolong, baik tenggelam dalam air tawar maupun air laut.
6. Hindari kontak langsung bila korban panik dan lakukan teknik defends and release sampai si korban
terlihat kelelahan, baru kemudian lakukan teknik penyelamatan. Teknik ini digunakan bila tindakan
korban dapat mengancam nyawa penolong dan dikhawatirkan dapat menambah korban baru. Catatan :
Saat menarik korban untuk korban yang tidak bernafas, diberi bantuan nafas mulut ke hidung sebanyak
1 kali dengan hitungan pemberian nafas dengan jeda hitungan ke - 9 hitungan (Ref : ADS International)
7. Membawa korban ke darat dan letakkan ditempat yang aman.
8. Mengecek kesadaran korban dengan cara mengoyang - goyangkan tubuh korban sambil menegur
korban.
9. Selanjutnya dilakukan pertolongan dengan suatu rumusan sederhana yang mudah diingat yaitu ABC.
Hal ini diartikan sebagai :

A = Airway ( Jalan nafas )


B = Breathing ( Bernafas )
C = Circulation ( Sirkulasi, Peredaran Darah yakni jantung dan pembuluh darah )
10. Selanjutnya korban dibawah ke klinik atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan
yang intensif.
Untuk kasus korban yang sadar tapi mengalami kesulitan bernafas maka dilakukan langkah - langkah
sebagai berikut :
Posisikan korban pada posisi pulih atau posisi istirahat
Bersihkan benda - benda yang menyumbat rongga mulut korban, contoh : gigi palsu, makanan dll
Kembalikan posisi normal, tekan dahi dan naikkan dagu ( posisi ini bertujuan untuk memperlancar
jalan nafas
Bila diperlukan diberikan nafas buatan dua kali dari mulut ke mulut ( untuk menghindari penularan
penyakit, contoh Hepatitis, sebaiknya menggunakan alat bantu pemberian nafas dari mulut ke mulut )
Untuk korban yang tidak sadar, mempunyai nafas yang tidak kuat atau belum bernafas, langkah langkahnya sebagai berikut :
Pada posisi normal dengan dagu terangkat sambil mengecek nadi di leher
Jika tidak ada nadi maka dilakukan pertolongan ABC
Jika nadinya kecil maka lakukan pertolongan AB + Supportive C, gunakan Algoritma syok
Jika nadinya cukup maka lakukan pertolongan A dengan / tanpa B Untuk korban yang tidak sadar,
mempunyai nafas yang tidak kuat atau belum
Teknik defends
1. Menghalangi dengan kaki (leg block)
2. Menghalangi dengan tangan (arm block)
3. Elbow lift ( mengangkat siku)
4. Duck away
Untuk korban yang mematuhi perintah, lakukan tehnik penyelamatan dengan cara :
Under arm carry
Tired swimmer carry
Wristow
Hip carry
Hip carry with pistol grip
Double chin carry
Bila korban dapat diajak berkomunikasi dan tidak panik, maka penyelamat dapat melakukan teknik
pertolongan Sebagai penolong dalam melakukan pertolongan selalu dianjurkan menggunakan alat

bantu, namun demikian seorang penolong harus siap untuk melakukan pertolongan dengan atau tanpa
alat bantu.
Jika korban sudah tenggelam, pertolongan harus dilakukan dengan menggunakan alat pertolongan
selam atau yang di sebut Teknik Under Water Rescue.

" Penyelematan Yang Baik Dan Benar Adalah Ketika Anda Siap Dan Tau Atas Tindakan Penyelamatan
Yang Akan Anda Lakukan.. "
Home Nautik PD dan SAR TEKNIKA Materi Prosedur Keadaan Darurat Dan SAR Search And
Rescue
Materi Prosedur Keadaan Darurat Dan SAR Search And Rescue
in 11:25:00 PM
Materi Prosedur Keadaan Darurat dan S.A.R. (Search And Rescue)
A.

PROSEDUR KEADAAN DARURAT

1.
PENDAHULUAN
Kecelakaan dapat terjadi pada kapal-kapal baik dalam pelayaran, sedang berlabuh atau sedang
melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan/terminal meskipun sudah dilakukan usaha supaya yang
kuat untuk menghindarinya.
Manajemen harus memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Health and Safety work Act, 1974
untuk melindungi pelaut pelayar dan mencegah resiko-resiko dalam melakukan suatu aktivitas di atas
kapal terutama menyangkut kesehatan dan keselamatan kerja, baik dalam keadaan normal maupun
darurat.
Suatu keadaan darurat biasanya terjadi sebagai akibat tidak bekerja normalnya suatu sistem secara
prosedural ataupun karena gangguan alam.

Definisi Prosedur dan Keadaan Darurat


Prosedure :
Suatu tata cara atau pedoman kerja yang harus diikuti dalam melaksanakan suatu kegiatan agar
mendapat hasil yang baik.

Keadaan darurat :
Keadaan yang lain dari keadaan normal yang mempunyai kecenderungan atau potensi tingkat yang
membahayakan baik bagi keselamatan manusia, harta benda maupun lingkungan.
Prosedur keadaan darurat :
Tata cara/pedoman kerja dalam menanggulangi suatu keadaan darurat, dengan maksud untuk mencegah
atau mengurangi kerugian lebih lanjut atau semakin besar.
Jenis jenis Prosedur Keadaan Darurat :
Prosedur intern (lokal)
Ini merupakan pedoman pelaksanaan untuk masing-masing bagian/ departemen, dengan pengertian
keadaan darurat yang terjadi masih dapat di atasi oleh bagian-bagian yang bersangkutan, tanpa
melibatkan kapal-kapal atau usaha pelabuhan setempat.
Prosedur umum (utama)
Merupakan pedoman perusahaan secara keseluruhan dan telah menyangkut keadaan darurat yang cuku
besar atau paling tidak dapat membahayakan kapal-kapal lain atau dermaga/terminal.
Dari segi penanggulangannya diperlukan pengerahan tenaga yang banyak atau melibatkan kapal-kapal /
penguasa pelabuhan setempat.
2.

JENIS-JENIS KEADAAN DARURAT

Kapal laut sebagai bangunan terapung yang bergerak dengan daya dorong pada kecepatan bervariasi
melintasi berbagai daerah pelayaran dalam kurun waktu tertentu, akan mengalami berbagai
problematika yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti cuaca, keadaan alur pelayaran,
manusia, kapal dan lain-lain yang belum dapat diduga oleh kemampuan manusia dan pada akhirnya
menimbulkan gangguan pelayaran dari kapal.
Gangguan pelayaran pada dasarnya dapat berupa gangguan yang dapat langsung diatasi, bahkan perlu
mendapat bantuan langsung dari pihak tertentu, atau gangguan yang mengakibatkan Nakhoda dan
seluruh anak buah kapal harus terlibat baik untuk mengatasi gangguan tersebut atau untuk hares
meninggalkan kapal.
Keadaan gangguan pelayaran tersebut sesuai situasi dapat dikelompokkan menjadi keadaan darurat
yang didasarkan pada jenis kejadian itu sendiri, sehingga keadaan darurat ini dapat disusun sebagai
berikut :
Tubrukan
Kebakaran/ledakan
Kandas
Kebocoran/tenggelam
Orang jatuh ke laut
Pencemaran.
Keadaan darurat di kapal dapat merugikan Nakhoda dan anak buah kapal serta pemilik kapal maupun
Iingkungan taut bahkan juga dapat menyebabkan terganggunya 'ekosistem' dasar taut, sehingga perlu
untuk memahami kondisi keadaan darurat itu sebaik mungkin guna memiliki kemampuan dasar untuk
dapat mengindentifikasi tanda-tanda keadaan darurat agar situasi tersebut dapat diatasi oleh Nakhoda
dan anak buah kapal maupun kerjasama dengan pihak yang terkait.
Tubrukan
Keadaan darurat karena tubrukan kapal dengan kapal atau kapal dengan dermaga maupun dengan
benda tertentu akan mungkin terdapat situasi kerusakan pada kapal, korban manusia, tumpahan minyak
ke laut (kapal tangki), pencemaran dan kebakaran. Situasi Iainnya adalah kepanikan atau ketakutan
petugas di kapal yang justru memperlambat tindakan, pengamanan, penyelamatan dan penanggulangan
keadaan darurat tersebut.
Kebakaran / ledakan

Kebakaran di kapal dapat terjadi di berbagai lokasi yang rawan terhadap kebakaran, misalnya di kamar
mesin, ruang muatan, gudang penyimpanan perlengkapan kapal, . instalasi listrik dan tempat
akomodasi Nakhoda dan anak buah kapal.
Sedangkan ledakan dapat terjadi karena kebakaran atau sebaliknya kebakaran terjadi karena ledakan,
yang pasti kedua-duanya dapat menimbulkan situasi darurat serta perlu untuk diatasi.
Keadaan darurat pada situasi kebakaran dan ledakan tentu sangat berbeda dengan keadaan darurat
karena tubrukan, sebab pada situasi yang demikian terdapat kondisi yang panas dan ruang gerak
terbatas dan kadang-kadang kepanikan atau ketidaksiapan petugas untuk bertindak mengatasi keadaan
maupun peralatan yang digunakan sudah tidak layak atau tempat penyimpanan telah berubah.
Kandas
Kapal kandas pada umumnya didahului dengan tanda-tanda putaran baling-baling terasa berat, asap di
cerobong mendadak menghitam, badan kapal bergetar dan kecepatan kapal berubah kemudian berhenti
mendadak.
Pada saat kapal kandas tidak bergerak, posisi kapal akan sangat tergantung pada permukaan dasar taut
atau sungai dan situasi di dalam kapal tentu akan tergantung juga pada keadaan kapal tersebut.
Pada kapal kandas terdapat kemungkinan kapal bocor dan menimbulkan pencemaran atau bahaya
tenggelam kalau air yang masuk ke dalam kapal tidak dapat diatasi, sedangkan bahaya kebakaran tentu
akan dapat saja terjadi apabila bahan bakar atau minyak terkondisi dengan jaringan listrik yang rusak
menimbulkan nyala api dan tidak terdeteksi sehingga menimbulkan kebakaran.
Kemungkinan kecelakaan manusia akibat kapal kandas dapat saja terjadi karena situasi yang tidak
terduga atau terjatuh saat terjadi perubahan posisi kapal.
Kapal kandas sifatnya dapat permanen dan dapat pula bersifat sementara tergantung pada posisi
permukaan dasar laut atau sungai, ataupun cara mengatasinya sehingga keadaan darurat seperti ini akan
membuat situasi di lingkungan kapal akan terjadi rumit.
Kebocoran/Tenggelam
Kebocoran pada kapal dapat terjadi karena kapal kandas, tetapi dapat juga terjadi karena tubrukan
maupun kebakaran serta kerusakan kulit pelat kapal karena korosi, sehingga kalau tidak segera diatasi
kapal akan segera tenggelam.
Air yang masuk dengan cepat sementara kemampuan mengatasi kebocoran terbatas, bahkan kapal
menjadi miring membuat situasi sulit diatasi. Keadaan darurat ini akan menjadi rumit apabila
pengambilan keputusan dan pelaksanaannya tidak didukung sepenuhnya oleh seluruh anak buah kapal,
karena upaya untuk mengatasi keadaan tidak didasarkan pada azas keselamatan dan kebersamaan.
Orang jatuh ke laut ( Man Over Board )
Orang jatuh ke laut merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang membuat situasi menjadi darurat
dalam upaya melakukan penyelamatan.
Pertolongan yang diberikan tidak dengan mudah dilakukan karena akan sangat tergantung pada
keadaan cuaca saat itu serta kemampuan yang akan memberi pertolongan, maupun fasilitas yang
tersedia.
Pencemaran
Pencemaran taut dapat terjadi karena buangan sampah dan tumpahan minyak saat bunkering, buangan
limbah muatan kapal tangki, buangan limbah kamar mesin yang melebihi ambang 15 ppm dan karena
muatan kapal tangki yang tertumpah akibat tubrukan atau kebocoran.

Upaya untuk mengatasi pencemaran yang terjadi merupakan hal yang sulit karena untuk mengatasi
pencemaran yang terjadi memerlukan peralatan, tenaga manusia yang terlatih dan kemungkinankemungkinan resiko yang harus ditanggung oleh pihak yang melanggar ketentuan tentang pencegahan
pencemaran.
3.

DENAH KEADAAN DARURAT

Persiapan
Perencanaan dan persiapan adalah syarat utama untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan keadaan
darurat dikapal.
Nahkoda dan para perwira harus menyadari apa yang mereka harus lakukan pada keadaan darurat yang
bermacam-macam, misalnya kebakaran di tangki muatan, kamar mesin, kamar A.B.K. dan orang
pingsan di dalam tangki, kapal lepas dari dermaga dan Hanyut, cara kapal lepas dermaga dan lain-lain.
Harus dapat secara cepat dan tepat mengambil keputusan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi
segala macam keadaan darurat.
Data/info yang selalu harus siap :
Jenis jumlah dan pengaturan muatan.
Apakah ada cairan kimia yang berbahaya.
General arrangement dan stabilitas info, serta
Rencana peralatan pemadam kebakaran.
Organisasi keadaan darurat
Suatu organisasi keadaan darurat harus disusun untuk operasi keadaan darurat.
Maksud dan tujuan organisasi bagi setiap situasi adalah untuk :
Menghidupkan tanda bahaya.
Menemukan dan menaksir besarnya kejadian dan kemungkinan bahayanya.
Mengorganisasi tenaga dan peralatan.
Ada empat petunjuk perencanaan yang perlu diikuti :
1. Pusat komando.
Kelompok yang mengontrol kegiatan di bawah pimpinan Nahkoda atau perwira senior serta dilengkapi
perangkap komunikasi intern dan extern.
2. Satuan kesadaran darurat.
Kelompok di bawah perwira senior yang dapat menaksir keadaan, melapor kepusat komando
menyarankan tindakan apa yang harus diambil apa dan dari mana bantuan dibutuhkan.
3. Satuan pendukung.
Kelompok pendukung ini di bawah seorang perwira harus selalu slap membantu kelompok induk
dengan perintah pusat komando dan menyediakan bantuan pendukung seperti peralatan, perbekalan,
bantuan medis, termasuk alat bantuan pernapasan dan lain-lain.
4. Kelompok ahli mesin.
Kelompok di bawah satuan pendukung Engineer atau Senior Engineer menyediakan bantuan atas
perintah pusat komando.
Tanggung jawab utamanya di ruang kamar mesin, dan bisa memberi bantuan bila diperlukan.
Tindakan pendahuluan.
Seseorang yang menemukan keadaan darurat harus membunyikan tanda bahaya, laporkan kepada
perwira jaga yang kemudian menyiapkan organisasi, sementara itu yang berada dilokasi segera
mengambil tindakan untuk mengendalikan keadaan sampai diambil alih oleh organisasi keadaan
darurat. Setiap orang harus tahu dimana tempatnya dan apa tugasnya termaksud kelompok pendukung
harus stand-by menunggu perintah selanjutnya.
Alarm kebakaran kapal.

Pada saat berada di teminal, alarm ini harus diikuti dengan beberapa tiupan panjang dengan waktu
antara tidak kurang dari 10 detik.
Denah peralatan pemadam kebakaran.
Denah peralatan ini harus dipasang tetap pada tempat yang mudah dilihat disetiap geladak.
Pengawasan dan pemeliharaan.
Karena peralatan pemadam kebakaran harus selalu slap untuk dipergunakan setiap saat, maka perlu
adanya pengecekan secara periodik dan dilaksanakan oleh perwira yang bertanggung jawab akan
pemeliharaan/perbaikan atau pengisian tabung harus tepat waktu.
Latihan
Untuk menjaga ketrampilan dan kesiapan anak buah maka harus diadakan latihan balk teori atau
praktek secara berkala dan teratur. Bila ada kesempatan untuk mengadakan latihan bersama atau
pertemuan pemadaman kebakaran dengan personil darat maka harus diadakan tukar informasi balk
mengenai jumlah maupun letak alat pemadam kebakaran guna memperlancar pelaksanaan bila terjadi
kebakaran di kapal.
Keuntungan dibuatnya organisasi penanggulangan keadaan darurat, antara lain :
Tugas dan tanggung jawab tidak terlalu berat, karena dipikul bersama-sama serta berbeda-beda.
Tugas dan tanggung jawab dapat tertulis dengan jelas dengan demikian dapat mengurangi tindakantindakan yang kurang disiplin.
Hanya ada satu pimpinan (komando), sehingga perintah, instruksi dan lain-lain akan lebih terarah,
teratur dan terpadu, terhindar dari kesimpangsiuran.
Dapat terhindar dari hambatan hirarki formal yang selalu ada dalam perusahaan, karena petugas dari
berbagai bidang yang diperlukan semuanya sudah tergabung dalam satu bentuk organisasi.
Apabila terjadi suatu kegagalan karena melaksanakan tugas yang tertentu, maka hal ini dapat segera
dipelajari kembali untuk perbaikan.
Dengan adanya organisasi keadaan darurat, maka semua individu merasa saling terkait.
4.

PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

Penanggulangan keadaan darurat didasarkan pada suatu pola terpadu yang mampu mengintegrasikan
aktivitas atau upaya. Penanggulangan keadaan darurat tersebut secara cepat, tepat dan terkendali atas
dukungan dari instansi terkait dan sumber daya manusia serta fasilitas yang tersedia.
Dengan memahami pola penanggulangan keadaan darurat ini dapat diperoleh manfaat :
Mencegah (menghilangkan) kemungkinan kerusakan akibat meluasnya kejadian darurat itu.
Memperkecil kerusakan-kerusakan mated dan lingkungan.
Dapat menguasahi keadaan (Under control).
Untuk menanggulangi keadaan darurat diperlukan beberapa Iangkah mengantisipasi yang terdiri dari :
Pendataan
Dalam menghadapi setia keadaan darurat dikenal selalu diputuskan tindakan yang akan dilakukan
untuk mengatasi peristiwa tersebut maka perlu dilakukan pendataan sejauh mana keadaan darurat
tersebut dapat membahayakan manusia (pelayar), kapal dan lingkungannya serta bagaimana cara
mengatasinya disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang tersedia.
Langkah-Langkah pendataan antara lain :
Tingkat kerusakan kapal
Gangguan keselamatan kapal (Stabilitas)
Keselamatan manusia
Kondisi muatan
Pengaruh kerusakan pada lingkungan
Kemungkinan membahayakan terhadap dermaga atau kapal lain.
Peralatan

Sarana dan prasarana yang akan digunakan disesuaikan dengan keadaan darurat yang dialami dengan
memperhatikan kemampuan kapal dan manusia untuk melepaskan diri dari keadaan darurat tersebut
hingga kondisi normal kembali.
Petugas atau anak buah kapal yang terlibat dalam operasi mengatasi keadaan darurat ini seharusnya
mampu untuk bekerjasama dengan pihak lain bila mana diperlukan (dermaga, kapal lain/team SAR).
Secara keseluruhan peralatan yang dipergunakan dalam keadaan darurat adalah :
Breathing Apparatus Alarm
Fireman Out Fit
Tandu
Alat Komunikasi
dan lain-lain disesuaikan dengan keadaan daruratnya.
Mekanisme kerja
Setiap kapal harus mempunyai team-team yang bertugas dalam perencanaan dan pengeterapan dalam
mengatasi keadaan darurat. Keadaan-keadaan darurat ini harus meliputi semua aspek dari tindakantindakan yang harus diambil pada saat keadaan darurat serta dibicarakan dengan penguasa pelabuhan,
pemadam kebakaran, alat negara dan instansi lain yang berkaitan dengan pengarahan tenaga, penyiapan
prosedur dan tanggung jawab, organisasi, sistem, komunikasi, pusat pengawasan , inventaris dan detail
lokasinya.
Tata cara dan tindakan yang akan diambil antara lain :
Persiapan, yaitu langkah-langkah persiapan yang diperlukan dalam menangani keadaan darurat tersebut
berdasarkan jenis dan kejadiannya.
Prosedur praktis dari penanganan kejadian yang harus diikuti dari beberapa kegiatan/bagian secara
terpadu.
Organisasi yang solid dengan garis-garis komunikasi dan tanggung jawabnya.
Pelaksanaan berdasarkan 1, 2, dan 3 secara efektif dan terpadu.
Prosedur di atas harus meliputi segala ma cam keadaan darurat yang ditemui, baik menghadapi
kebakaran, kandas, pencemaran, dan lain-lain dan harus dipahami benar oleh pelaksana yang secara
teratur dilatih dan dapat dilaksanakan dengan baik.
Keseluruhan kegiatan tersebut di atas merupakan suatu mekanisme kerja yang hendak dengan mudah
dapat diikuti oleh setiap manajemen yang ada dikapal, sehingga kegiatan mengatasi keadaan darurat
dapat berlangsung secara bertahap tanpa harus menggunakan waktu yang lama, aman, lancar dan
tingkat penggunaan biaya yang memadai. untuk itu peran aktif anak buah kapal sangat tergantung pada
kemampuan individual untuk memahami mekanisme kerja yang ada, serta dorongan rasa tanggung
jawab yang didasari pada prinsip kebersamaan dalam hidup bermasyarakat di kapal.
Mekanisme kerja yang diciptakan dalam situasi darurat tentu sangat berbeda dengan situasi normal,
mobilitas yang tinggi selalu mewarnai aktifitas keadaan darurat dengan lingkup kerja yang biasanya
tidak dapat dibatasi oleh waktu karena tuntutan keselamatan. Oleh sebab itu loyalitas untuk
keselamatan bersama selalu terjadi karena ikatan moral kerja dan dorongan demi kebersamaan.
5.

PENGENALAN ISYARAT BAHAYA

Tanda untuk mengingatkan anak buah kapal tentang adanya suatu keadaan darurat atau bahaya adalah
dengan kode bahaya.
Sesuai peraturan Internasional isyarat-isyarat bahaya dapat digunakan secara umum untuk kapal laut
adalah sebagai berikut:
Suatu I isyarat letusan yang diperdengarkan dengan selang waktu kira-kira 1 (satu) menit.
Bunyi yang diperdengarkan secara terus-menerus oleh pesawat pemberi isyarat kabut (smoke signal )
Cerawat cerawat atau peluru-peluru cahaya yang memancarkan bintang-bintang memerah yang
ditembakkan satu demi satu dengan selang waktu yang pendek.
Isyarat yang dibuat oleh radio telegrafi atau sistim pengisyaratan lain yang terdiri atas kelompok SOS
dari kode morse.
Isyarat yang dipancarkan dengan menggunakan pesawat radio telepon yang terdiri atas kata yang
diucapkan "Mede" (mayday )
Kode isyarat bahaya internasional yang ditujukan dengan NC.

Isyarat yang terdiri atas sehelai bendera segi empat yang di atas atau sesuatu yang menyerupai bola.
Nyala api di kapal (misalnya yang berasal dari sebuah tong minyak dan sebagainya, yang sedang
menyala).
Cerawat payung atau cerawat tangan yang memancarkan cahaya merah.
Isyarat asap yang menyebarkan sejumlah asa jingga
(orange).
Menaik-turunkan lengan-lengan yang terentang kesamping secara perlahan-lahan dan berulang- ulang.
Isyarat alarm radio telegrafi
Isyarat alarm radio teleponi
Isyarat yang dipancarkan oleh rambu-rambu radio petunjuk posisi darurat.
Sesuai dengan kemungkinan terjadinya situasi darurat di kapal, isyarat bahaya yang umumnya dapat
terjadi adalah :
Isyarat kebakaran
Apabila terjadi kebakaran di atas kapal maka setia orang di atas kapal yang pertama kali melihat
adanya kebakaran wajib melaporkan kejadian tersebut pada mualim jaga di anjungan.
Mualim jaga akan terus memantau perkembangan upaya pemadaman kebakaran dan apabila kebakaran
tersebut tidak dapat di atasi dengan alat-alat pemadam portable dan dipandang perlu untuk
menggunakan peralatan pemadam kebakaran tetap serta membutuhkan peran seluruh anak buah kapal,
maka atas keputusan dan perintah Nakhoda isyarat kebakaran wajib dibunyikan dengan kode suling
atau bel satu pendek dan satu panjang secara terus menerus seperti berikut :
. _____________ . ___________ . _________ . __________
Setiap anak buah kapal yang mendengar isyarat kebakaran wajib melaksanakan tugasnya sesuai dengan
perannya pada sijil kebakaran dan segera menuju ke tempat tugasnya untuk menunggu perintah lebih
lanjut dari komandan regu pemadam kebakaran.
Isyarat sekoci / meninggalkan kapal
Dalam keadaan darurat yang menghendaki Nakhoda dan seluruh anak buah kapal harus meninggalkan
kapal maka kode isyarat yang dibunyikan adalah melalui bel atau suling kapal sebanyak 7 (tujuh)
pendek dan satu panjang secara terus menerus seperti berikut :
. ___________ . _________ . __________
Isyarat Orang Jatuh ke Laut Man Over Board
Dalam pelayaran sebuah kapal dapat saja terjadi orang jatuh ke laut, bila seorang awak kapal melihat
orang jatuh ke laut, maka tindakan yang harus dilakukan adalah :
Berteriak "Orang jatuh ke laut"
Melempar pelampung penolong (lifebuoy)
Melapor ke Mualim jaga.
Selanjutnya Mualim jaga yang menerima laporan adanya orang jatuh ke laut dapat melakukan
manouver kapal untuk berputar mengikuti ketentuan "Willemson Turn" atau "Carnoevan turn" untuk
melakukan pertolongan.
Bila ternyata korban tidak dapat ditolong maka kapal yang bersangkutan wajib menaikkan bendera
internasional huruf "O".
Isyarat Bahaya lainnya
Dalam hal-hal tertentu bila terjadi kecelakaan atau keadaan darurat yang sangat mendesak dengan
pertimbangan bahwa bantuan pertolongan dari pihak lain sangat dibutuhkan maka setiap awak kapal
wajib segera memberikan tanda perhatian dengan membunyikan bel atau benda lainnya maupun
berteriak untuk meminta pertolongan.

Tindakan ini dimaksud agar mendapat bantuan secepatnya sehingga korban dapat segera ditolong dan
untuk mencegah timbulnya korban yang lain atau kecelakaan maupun bahaya yang sedang terjadi tidak
meluas.
Dalam keadaan bahaya atau darurat maka peralatan yang dapat digunakan adalah peralatan atau mesinmesin maupun pesawat-pesawat yang mampu beroperasi dalam keadaan tersebut.
Sebuah kapal didesain dengan memperhitungkan dapat beroperasi pada kondisi normal dan kondisi
darurat.
Oleh sebab itu pada kapal dilengkapi juga dengan mesin atau pesawat yang mampu beroperasi pada
kondisi darurat.
Adapun mesin-mesin atau pesawat-pesawat yang dapat beroperasi pada keadaan darurat terdiri dari :
Emergency steering gear
Emergency generator
Emergency radio communication
Emergency fire pump
Emergency ladder
Emergency buoy
Emergency escape trunk
Emergency alarm di kamar pendingin, cargo space, engine room space, accomodation space
Setiap mesin atau pesawat tersebut di atas telah ditetapkan berdasarkan ketentuan SOLAS 1974 tentang
penataan dan kapasitas atau kemampuan operasi.
Sebagai contoh Emergency Fire Pump (pompa pemadam darurat) berdasarkan ketentuan wajib
dipasang di luar kamar mesin dan mempunyai tekanan kerja antara 3 - 5 kilogram per sentimeter
persegi dan digerakkan oleh tenaga penggerak tersendiri. Sehingga dalam keadaan darurat bila pompa
pemadam utama tidak dapat beroperasi, maka alternatif lain hanya dapat menggunakan pompa
pemadam darurat dengan aman di luar kamar mesin.
6.

TINDAKAN DALAM KEADAAN DARURAT

Sijil bahaya atau darurat


Dalam keadaan darurat atau bahaya setia awak kapal wajib bertindak sesuai ketentuan sijil darurat, oleh
sebab itu sijil darurat senantiasa dibuat dan diinformasikan pada seluruh awak kapal.
Sijil darurat di kapal perlu di gantungkan di tempat yang strategis, sesuai, mudah dicapai, mudah dilihat
dan mudah dibaca oleh seluruh pelayar dan memberikan perincian prosedur dalam keadaan darurat,
seperti :
Tugas-tugas khusus yang harus ditanggulangi di dalam keadaan darurat oleh setiap anak buah kapal.
Sijil darurat selain menunjukkan tugas-tugas khusus, juga tempat berkumpul (kemana setiap awak
kapal harus pergi).
Sijil darurat bagi setiap penumpang harus dibuat dalam bentuk yang ditetapkan oleh pemerintah.
Sebelum kapal berangkat, sijil darurat harus sudah dibuat dan salinannya digantungkan di beberapa
tempat yang strategis di kapal, terutama di ruang ABK.
Di dalam sijil darurat juga diberikan pembagian tugas yang berlainan bagi setiap ABK, misalnya:
Menutup pintu kedap air, katup-katup, bagian mekanis dari lubang-lubang pembuangan air di kapal
d1l,
Perlengkapan sekoci penolong termasuk perangkat radio jinjing maupun perlengkapan Iainnya.
Menurunkan sekoci penolong.
Persiapan umum alat-alat penolong / penyelamat lainnya.
Tempat berkumpul dalam keadaan darurat bagi penumpang.
Alat-alat pemadam kebakaran termasuk panel kontrol kebakaran.
6. Selain itu di dalam sijil darurat disebutkan tugas-tugas khusus yang dikerjakan oleh anak buah kapal
bagian CID (koki, pelayan d1l), seperti :

Memberikan peringatan kepada penumpang.


Memperhatikan apakah mereka memakai rompi renang mereka secara semestinya atau tidak.
Mengumpulkan para penumpang di tempat berkumpul darurat.
Mengawasi gerakan dari para penumpang dan memberikan petunjuk di gang-gang atau di tangga.
Memastikan bahwa persediaan selimut telah dibawa sekoci / rakit penolong.
7. Dalam hal yang menyangkut pemadaman kebakaran, sijil darurat memberikan petunjuk cara-cara
yang biasanya dikerjakan dalam terjadi kebakaran, serta tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan
dalam hubungan dengan operasi pemadaman, peralatan-peralatan dan instalasi pemadam kebakaran di
kapal.
8. Sijil darurat harus membedakan secara khusus semboyan-semboyan panggilan bagi ASK untuk
berkumpul di sekoci penolong mereka masing-masing, di rakit penolong atau di tempat berkumpul
untuk memadamkan kebakaran. Semboyan-semboyan tersebut diberikan dengan menggunakan ruling
kapal atau sirine, kecuali di kapal penumpang untuk pelayaran internasional jarak pendek dan di kapal
barang yang panjangnya kurang dari 150 kaki (45,7m), yang harus dilengkapi dengan semboyansemboyan yang dijalankan secara elektronis, semua semboyan ini dibunyikan dan anjungan.
Semboyan untuk berkumpul dalam keadaan darurat terdiri dari 7 atau lebih tiup pendek yang diikuti
dengan 1 tiup panjang dengan menggunakan suling kapal atau sirine dan sebagai tambahan semboyan
ini, boleh dilengkapi dengan bunyi bel atau gong secara terus menerus.
Jika semboyan ini berbunyi, itu berarti semua orang di atas kapal harus mengenakan pakaian hangat
dan baju renang dan menuju ke tempat darurat mereka. ABK melakukan tugas tempat darurat mereka.
Sesuai dengan apa yang tertera di dalam sijil darurat dan selanjutnya menunggu perintah.
Setiap juru mudi dan anak buah menuju ke sekoci dan mengerjakan :
Membuka tutup sekoci, lipat dan masukkan ke dalam sekoci (sekoci-sekoci kapal modern sekarang ini
sudah tidak memakai tutup lagi tetapi dibiarkan terbuka).
Dua orang di dalam sekoci masing-masing seorang di depan untuk memasang tali penahan sekoci yang
berpasak (cakil) dan seorang yang dibelakang untuk memasang pro sekoci.
Tali penahan yang berpasak tersebut dipasang sejauh mungkin ke depan tetapi sebelah dalam dari lapor
sekoci dan disebelah luar tali-tali lainnya, lalu dikencangkan.
Memeriksa apakah semua awak kapal dan penumpang telah memakai rompi renang dengan
benar/tidak.
Selanjutnya siap menunggu perintah.
Untuk mampu bertindak dalam situasi darurat maka setiap awak kapal harus mengetahui dan terampil
menggunakan perlengkapan keselamatan jiwa di laut dan mampu menggunakan sekoci dan
peralatannya maupun cakap menggunakan peralatan pemadam kebakaran.
Adapun perlengkapan keselamatan jiwa di taut meliputi:
Life saving appliances
Life boat
Life jacket
Life raft
Bouyant apparatus
Life buoy
Line throwing gun
Life line
Emergency signal (parachute signal, red hand flare, orange smoke signal)
Fire fighting equipment :
Emergency fire pump, fire hidrants
Hose & nozzles
Fire extinguishers (fixed and portable)
Smoke detector and fire detector system
C02 Installation

Sprinkler system (Automatic water spray)


Axes and crow bars
Fireman outfits and breathing apparatus
Sand in boxes.
Sedangkan latihan sekoci dan pemadam kebakaran secara individual dimaksudkan untuk menguasai
bahkan memiliki segala aspek yang menyangkut karakteristik daripada penggunaan pesawat-pesawat
penyelamat dan pemadam kebakaran yang meliputi pengetahuan dan keterampilan tentang :
Boat drill
Alarm signal meninggalkan kapal (abandon ship)
Lokasi penempatan life jacket dan cara pemakaian oleh awak kapal dan penumpang
Kesiapan perlengkapan sekoci
Pembagian tugas awak kapal disetia sekoci terdiri dari komandan dan wakil komandan, juru motor,
juru mudi, membuka lashing dan penutup sekoci, memasang tali air / keliti tiller / tali monyet / prop,
membawa selimut / sekoci / logbook / kotak P3K / mengarea sekoci l melepas ganco / tangga darurat /
menolong penumpang.
Fire drill
Alarm signal kebakaran di kapal
Pembagian tugas awak kapal terdiri dari :
Pemimpin pemadam, membawa slang, botol api, kapak, linggis, pasir, fireman outfit, sedangkan
perwira jaga, juru mudi jaga di anjungan, menutup pintu dan jendela kedap air, membawa log book,
instalasi C02, menjalankan pompa pemadam kebakaran, alat P3K.
Tata Cara Khusus Dalam Prosedur Keadaan Darurat
Kejadian Tubrukan (Imminent collision) :
Bunyikan sirine bahaya (Emergency alarm sounded)
Menggerakkan kapal sedemikian rupa untuk mengurangi pengaruh tubrukan
Pintu-pintu
kedap air dan pintu-pintu
kebakaran otomatis di tutup
Lampu-lampu dek dinyalakan
Nakhoda diberi tahu
Kamar mesin diberi tahu
VHF dipindah ke chanel 16
Awak kapal dan penumpang dikumpulkan di stasiun darurat
Posisi kapal tersedia di ruangan radio dan diperbaharui bila ada perubahan.
Setelah tubrukan got-got dan tangki-tangki di ukur.
Kandas, Terdampar (Stranding)
Stop mesin
Bunyikan sirine bahaya
Pintu-pintu kedap air di tutup
Nakhoda diberi tahu
Kamar mesin diberi tahu
VHF di pindah ke chanel 16
Tanda-tanda bunyi kapal kandas dibunyikan
Lampu dan sosok-sosok benda diperlihatkan
Lampu dek dinyalakan
Got-got dan tangki-tangki diukur/sounding
Kedalaman laut disekitar kapal diukur.
Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan.
Kebakaran/Fire
Sirine bahaya dibunyikan (internal clan eksternal)
Regu-regu pemadam kebakaran yang bersangkutan siap dan mengetahui lokasi kebakaran.
Ventilasi, pintu-pintu kebakaran otomatis, pintu-pintu kedap air di tutup.

Lampu-lampu di dek dinyalakan


Nakhoda diberi tahu
Kamar mesin diberi tahu
Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan
Air masuk ke dalam ruangan (Flooding)
Sirine bahaya dibunyikan (internal dan eksternal)
Siap-siap dalam keadaan darurat
Pintu-pintu kedap air di tutup
Nakhoda diberi tahu
Kamar mesin diberi tahu
Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan
Berkumpul di sekoci/rakit penolong (meninggalkan kapal)
Sirine tanda berkumpul di sekoci/rakit penolong untuk meninggalkan kapal, misalnya kapal akan
tenggelam yang dibunyikan atas perintah Nakhoda
Awak kapal berkumpul di sekoci/rakit penolong
Orang jatuh ke laut (Man overboard)
Lemparkan pelampung yang sudah dilengkapi dengan lampu apung dan asap sedekat orang yang jatuh
Usahakan orang yang jatuh terhindar dari benturan kapal dan baling-baling
Posisi dan letak pelampung diamati
Mengatur gerak untuk menolong (bile tempat untuk mengatur gerak cukup disarankan menggunakan
metode "Williamson" Turn)
Tugaskan seseorang untuk mengawasi orang yang jatuh agar tetap terlihat
Bunyikan tiga suling panjang dan diulang sesuai kebutuhan
Regu penolong slap di sekoci
Nakhoda diberi tahu
Kamar mesin diberi tahu
Letak atau posisi kapal relatif terhadap orang yang jatuh di plot Posisi kapal tersedia di kamar radio dan
diperbaharui bila ada perubahan
Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue)
Mengambil pesan bahaya dengan menggunakan radio pencari arah
Pesan bahaya atau S.O.S dipancarkan ulang
Mendengarkan poly semua frekwensi bahaya secara terus menerus
Mempelajari buku petunjuk terbitan SAR (MERSAR)
Mengadakan hubungan antar SAR laut dengan SAR udara pada frekwensi 2182 K dan atau chanel 16
Posisi, haluan dan kecepatan penolong yang lain di plot
Latihan-latihan bahaya atau darurat
Di kapal penumpang latihan-latihan sekoci dan kebakaran harus dilaksanakan 1 kali seminggu jika
mungkin. Latihan-latihan tersebut di atas juga harus dilakukan bila meninggalkan suatu. pelabuhan
terakhir untuk pelayaran internasional jarak jauh.
Di kapal barang latihan sekoci dan latihan kebakaran harus dilakukan 1 x sebulan. Latihan-latihan
tersebut di atas harus juga dilakukan dalam jangka waktu 24 jam setelah meninggalkan suatu
pelabuhan, dimana ABK telah diganti Iebih dari 25 %.
Latihan-latihan tersebut di atas harus dicatat dalam log book kapal dan bila dalam jangka waktu 1
minggu (kapal penumpang) atau 1 bulan (kapal barang) tidak diadakan latihan-latihan, maka harus
dicatat dalam log book dengan alasan-alasannya.
Di kapal penumpang pada pelayaran internasional jarak jauh dalam waktu 24 jam setelah
meninggalkan pelabuhan harus diadakan latihan-latihan untuk penanggulangan.
Sekoci-sekoci penolong dalam kelompok penanggulangan harus digunakan secara bergilir pada latihanlatihan tersebut dan bila mungkin diturunkan ke air dalam jangka waktu 4 bulan. Latihan-latihan
tersebut harus dilakukan sedemikian rupa sehingga awak kapal memahami dan memperoleh
pengalaman-pengalaman dalam melakukan tugasnya masing-masing termasuk instruksi-instruksi
tentang melayani rakit-rakit penolong.
Semboyan bahaya untuk penumpang-penumpang supaya berkumpul di stasion masing-masing, harus
terdiri dari 7 atau lebih tiupan pendek disusul dengan tiupan panjang pada suling kapal dengan cara

berturut-turut. Di kapal penumpang pada pelayaran internasional jarak jauh harus ditambah dengan
semboyan-semboyan yang dilakukan secara elektris.
Maksud dari semua semboyan-semboyan yang berhubungan dengan penumpang-penumpang dan lainlain instruksi, harus dinyatakan dengan jelas di atas kartu-kartu dengan bahasa yang bisa dimengerti
(Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris) dan dipasang dalam kamar-kamar penumpang dan lain-lain
ruangan untuk penumpang.
7. LINTAS-LINTAS PENYELAMATAN DIRI
Mengetahui Lintas Penyelamatan Did (Escape Routes)
Di dalam keadaan darurat dimana kepanikan sering terjadi maka kadang-kadang untuk mencapai suatu
tempat, misalnya secoci sering mengalami kesulitan. Untuk itu para pelayar terutama awak kapal harus
mengenal/ mengetahui dengan lintas penyelamatan diri (escape routes), komunikasi di dalam kapal itu
sendiri dan sistem alarmnya.
Untuk itu sesuai ketentuan SOLAS 1974 BAB 11-2 tentang konstruksi-perlindungan penemuan dan
pemadam kebakaran dalam peraturan 53 dipersyaratkan untuk di dalam dan dari semua ruang awak
kapal dan penumpang dan ruangan-ruangan yang biasa oleh awak kapal untuk bertugas, selain terdapat
tangga-tangga di ruangan permesinan harus ditata sedemikian rupa tersedianya tangga yang menuju
atau keluar dari daerah tersebut secara darurat.
Di kapal lintas-lintas penyelamatan diri secara darurat atau escape router dapat ditemui pada tempattempat tertentu seperti:
Kamar mesin
Adanya lintas darurat menuju ke geladak kapal melalui terowongan poros baling-baling yang sepanjang
lintasan tersebut didahului oleh tulisan "Emergency Exit" dan disusul dengan tanda panah atau simbol
orang berlari.
Ruang akomodasi
Pada ruangan akomodasi, khususnya pada ruangan rekreasi ataupun ruangan makan awak kapal atau
daerah tempat berkumpulnya awak kapal dalam ruangan tertentu selalu dilengkapi dengan pintu darurat
atau jendela darurat yang bertuliskan "Emergency Exit".
Setiap awak kapal wajib mengetahui dan terampil menggunakan jalan-jalan atau lintas-lintas darurat
tersebut sehingga dalam kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan digunakannya lalulintas umum
yang tersedia maka demi keselamatan lintas darurat tersebut dapat dimanfaatkan.
Disamping itu semua awak kapal demi keselamatannya wajib memperhatikan tanda-tanda gambar yang
menuntun setiap orang untuk menuju atau memasuki maupun melewati laluan ataupun lorong darurat
pada saat keadaan darurat, kelalaian atau keteledoran hanya akan menyebabkan kerugian bagi diri
sendiri bahkan melibatkan orang lain.
Tanda / sign
Jalan menuju pintu darurat (emergency exit) ditandai dengan panah berwarna putih dengan papan dasar
berwarna hijau. Pada kapal penumpang dari ruang penumpang dan ruang awak kapal pasti tersedia
tangga / jalan yang menuju embarkasi dek sekoci penolong dan rakit penolong. Bila ruang tersebut
berada di bawah sekat dek (bulkhead deck) tersedia dua lintas penyelamatan diri dari ruang bawah air
salah satunya harus bebas dari pintu kedap air. Bila ruang tersebut berada di atas sekat dek dari zona
tengah utama (main vertical zone) harus tersedia minimal dua lintas penyelamatan diri. Dari kamar
mesin akan tersedia dua lintas penyelamatan diri yang terbuat dari tangga baja yang terpisah satu
dengan yang lainnya.
Komunikasi Intern dan Sistem Alarm
Dalam keadaan darurat sangatlah diperlukan komunikasi dan sistem alarm yang efisien. Untuk itu
digunakan sebagai komunikasi darurat dalam meninggalkan kapal adalah isyarat bunyi (suara) dari
lonceng atau sirine atau juga dapat dengan mulut. Sebagai isyarat yang digunakannya adalah tujuh
bunyi pendek atau lebih disusul dengan satu bunyi panjang dari suling/sirine atau bell listrik.

Alarm keadaan darurat lainnya seperti


Kebakaran, orang jatuh ke laut dan yang lainnya tidak diatur secara nasional, untuk itu biasanya tiaptiap perusahaan menciptakan sendiri.