Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bronkopneumonia

adalah

salah

satu

jenis

pneumonia

yang

mempunyai pola penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi di dalam bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan
di sekitarnya (Smeltzer & Suzanne C, 2002).
Pelaksanaan pencegahan dan pengendalian pneumonia sejauh ini
belum merata dan masih tidak terkoordinasi. Hanya 54% anak dengan
pneumonia di negara berkembang yang dilaporkan dibawa ke penyedia
layanan kesehatan yang berkualitas dan hanya 19% anak balita dengan
tanda-tanda klinis pneumonia mendapatkan antibiotik (Depkes RI, 2010).
Broncopneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap
tahunnya menyerang sekitar 1% dari seluruh penduduk di Amerika Serikat.
Meskipun telah ada kemajuan dalam bidang antibiotik, pneumonia tetap
merupakan penyebab kematian terbanyak keenam di Amerika Serikat
(Price & Wilson, 2006).
Menurut data Riskesdas 2007, prevalens pneumonia (berdasarkan
pengakuan pernah didiagnosis pneumonia oleh tenaga kesehatan dalam
sebulan terakhir sebelum survei) pada bayi di Indonesia adalah 0,76%
dengan rentang antar provinsi sebesar 0-13,2%. Prevalensi tertinggi adalah
provinsi Gorontalo (13,2%) dan Bali (12,9%), sedangkan provinsi Jambi
pada angka 0.3%. Sedangkan prevalensi pada anak balita (1-4 tahun)
adalah 1,00% dengan rentang antar provinsi sebesar 0,1% - 14,8%. Seperti
pada bayi, prevalensi tertinggi adalah provinsi Gorontalo (19,9%) dan Bali
(13,2%) sedangkan provinsi jambi adalah 0,7% (Depkes RI, 2010).
Broncopneumonia adalah penyakit saluran nafas bagian bawah,
merupakan penyebab kematian utama pada bayi usia di bawah lima tahun
(balita), khususnya di negara-negara berkembang. Pneumonia seolah
menjadi penyakit yang terlupakan, padahal sekitar dua juta balita setiap
1

tahun meninggal dunia, karena penyakit itu jauh melebihi kematian yang
disebabkan AIDS, malaria dan campak. Dilaporkan, di kawasan Asia Pasifik
diperkirakan sebanyak 860.000 balita meninggal setiap tahunnya atau
sekitar 98 anak setiap jam. Secara Nasional angka kejadian pneumonia
belum diketahui secara pasti (Wahid, 2013).
Munculnya organisme nosokomial yang didapat dari rumah sakit yang
resisten terhadap antibotik, ditemukannya organisme organisme yang baru
(seperti Legionella), bertambahnya jumlah penjamu yang lemah daya tahan
tubuhnya dan adanya penyakit seperti AIDS semakin memperluas spektrum
dan derajat kemungkinan penyebab penyebab pneumonia, dan ini
menjelaskan mengapa pneumonia masih merupakan masalah kesehatan
yang mencolok (Price & Wilson, 2006).
Data RSUD Raden Mattaher 3 tahun terakhir tentang kejadian
broncopneumonia pada anak cenderung meningkat terutama pada akhir
tahun. Pada tahun 2012 jumlah penderita broncopneumonia paling banyak
dirawat adalah anak usia 0 - 4 tahun berjumlah 96 orang dan anak usia 5
14 tahun berjumlah 12 orang.
Pada tahun 2013 jumlah penderita broncopneumonia paling banyak
dirawat adalah anak usia 0 - 4 tahun berjumlah 116 orang dan anak usia 5
14 tahun berjumlah 14 orang.

Pada tahun 2014 jumlah penderita

broncopneumonia paling banyak dirawat adalah anak usia 0 - 4 tahun


berjumlah 115 orang dan anak usia 5 14 tahun berjumlah 14 orang.
Broncopneumonia biasanya dianggap sebagai infeksi biasa, tetapi setelah
beberapa hari akan terjadi peningkatan suhu yang ekstrim sampai disertai
kejang. Setelah dibawa ke rumah sakit baru penyakit ini dapat terdeteksi,
biasanya

sudah

dalam

keadaan

yang

cukup

serius.

Karena

broncopneumonia awalnya tidak diikuti dengan batuk.


Munculnya berbagai tanda dan gejala akan menimbulkan munculnya
masalah keperawatan antara lain bersihan jalan nafas. Masalah tersebut

harus diatasi oleh perawat untuk mencegah komplikasi yang lebih lanjut,
peran perawat dengan baik dalam memberikan asuhan keperawatan
berperansebagai pemberi pelayanan, pendidik, pembela pasien, dll.
Berdasarkan data yang diperoleh penulis di ruang anak RSUD Raden
mattaher Jambi dengan pasien broncopneumonia ditemukan masalah
bersihan

jalan

nafas

tidak

efektif

berhubungan

dengan

inflamasi

trakeobonkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. Pada


saat pengkajian ibu klien mengatakan anaknya batuk yang diikuti dengan
demam tinggi, susah tidur dan rewel. Klien juga mengalami batuk yang
disertai dengan demam yang terjadi dengan tiba-tiba. Ibu juga mengkatakan
batuk anaknya berdahak tetapi tidak ada darah, dahak sulit dikeluarkan.
Demam yang terjadi tidak disertai dengan kejang dan tidak sampai terjadi
penurunan kesadaran
Berdasarkan hal tersebut di atas maka saya tertarik mengambil
masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif pada anak
bronkopneumonia di ruang anak RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2015.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah
penelitian adalah : Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada An. A dengan
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada anak bronkopneumonia di
ruang anak RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2015.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mampu memberikan dan melakukan Asuhan Keperawatan pada
An. A dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada pasien
bronkopneumonia di ruang anak RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun
2015.
2. Tujuan Khusus

a.

Mampu melakukan pengkajian pada An. A dengan masalah bersihan

b.

jalan nafas tidak efektif pada pasien bronkopneumonia


Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada An. A dengan
masalah

bersihan

jalan

nafas

tidak

efektif

pada

pasien

c.

bronkopneumonia .
Mampu merumuskan intervensi pada

d.

bersihan jalan nafas tidak efektif pada pasien bronkopneumonia.


Mampu melakukan tindakan keperawatan pada
An. A dengan
masalah

e.

bersihan

jalan

nafas

tidak

An. A

dengan masalah

efektif

pada

pasien

bronkopneumonia .
Mampu melaksanakan evaluasi terhadap tindakan keperawatan yang
telah dilakukan pada

An. A dengan masalah bersihan jalan nafas

tidak efektif pada pasien bronkopneumonia.

D. Manfaat Penelitian
1.

Bagi Penulis
Dapat mengaplikasikan secara langsung teori yang di dapat dari
perkuliahan dalam menerapkan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan pasien An.A dengan bronkopneumonia.

2.

Bagi Institusi Pendidikan


Hasil studi kasus ini dapat menambah informasi dan menjadi bahan
bacaan serta masukan bagi mahasiswi Akademi Keperawatan Yayasan
Telanai Bhakti Jambi khususnya pada asuhan keperawatan dengan
bronkopneumonia., sehingga dapat di jadikan sebagai acuan dan
perbandingan untuk pembuatan studi kasus selanjutnya.

3.

Bagi Lahan Praktik (RSUD Raden Mattaher Jambi)


Sebagai bahan pertimbangan untuk memantau pemberian antibiotik
sesuai anjuran sehingga

pasien dengan broncopneumonia

pada anak-anak akan semakin membaik setelah pulang.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

terutama

A. Konsep Pernafasan
1. Pengertian
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar
yang mengandung O2 (oksigen) ke dalam tubuh serta menghembuskan
udara yang banyak mengandung CO2 (karbondioksida) sebagai sisa dari
oksidasi

keluar

tubuh.

Penghisapan

ini

disebut

inspirasi

dan

menghembuskan disebut ekspirasi (Muttaqin, 2009).


2. Sistem pernapasan
Menurut Pearce Evelyn C. (2009) bahwa sistem pernafasan
a.

manusia terdiri dari :


Rongga hidung (Cavum Nasalis)
Hidung merupakan organ pernapasan yang letaknaya paling luar.
Manusia disaat menghirup udara malalui hidung. Udara dari luar akan
masuk lewat hidung (Cavum Nasalis), rongga hidung berlapis selaput
lendir dan bulu-bulu hidung, di dalamnya terdapat kelenjar minyak dan
kelenjar keringat (Kelenjar Sudorifera). Selaput lendir berfungsi
sebagai menangkap benda asing. Selain itu, saluran pernapasan
manusia terdapat konka (Konkhae) yang mempunyai banyak kapiler
darah, dan juga memiliki fungsi sebagai resepsi bau, hidung sebagai
resonansi, menagatur suhu udara yang masuk, volume bisa menjadi
besar, menghantarkan udara yang masuk. Di belakang hidung
terdapat Nasofaring yang saling terhubung dengang dua lubang
konka.
b. Faring (Tekak)
Udara dari rongga hidung masuk ke faring serta makanan. Faring
terdapat dua percabangan 2 saluran yaitu saluran saluran pernapasan
(Orofaring) pada bagian depan dan saluran mulut (Nasofaring) pada
bagian belakang. Uadara di rongga hidung masuk ke faringnya.
Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar
dan terdengar sebagai suara. Makan sambil berbicara dapat
mengakibatkan makanan masuk ke saluran pernapasan (tersendak)

karena

saluran

pernapasan

pada

saat

itu

terbuka

sehingga

mengakibatkan tersendak.
c. Laring (Pangkal Tenggorokan)
Dari faring, udara pernapasan akan menuju pangkal tenggorokan
atau yang disebut larinofarong. Pangkal tenggorokan (epiglotis) dapat
ditutup oleh katub pangkal hidung. Epiglotis merupakan tulang rawan
yang bisa menutup saat menelan dan juga berguna juga agar
makanan tidak masuk ke tenggorokan. Fungsi utama laring adalah
untuk pembentukan suara, sebagai proteksi jalan napas bawah dari
benda asing dan untuk memfasilitasi proses terjadinya batuk. Laring
terdiri atas epiglottis, glottis, kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago
aritenoid, pita suara.
d. Trakea (Batang Tenggorokan)
Tuba dengan panjang 10 cm sampai 12 cm dandiameter 2,5 cm
serta

terletak

di

atas

permukaan

anterior

esofagus.

Dinding

tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cicin tulang rawan dan
terdapat silia. Silia-silia ini berfungsi sebagai penyaring benda-benda
asing yang masuk ke saluran pernapasan.
e. Brokus
Bronkus merupakan cabang batang tenggorokan yang jumlahnya
sepasang yang tersusun atas dua percabangan, yaitu bronkus kanan
dan kiri. Dinding bronkus terdiri atas lapisan jaringan ikat, lapisan
jarinagan epitel, otot polos dan cicin tulang rawan.
f. Bronkiolus
Merupakan cabang dari bronkus, didingnya dan saluranya lebih
tipis. Bronkiolus bercabang-cabang menjadi bagian yang lebih halus.
g. Paru-paru
Organ yang berperan penting dalam proses pernapasan adalah
paru-paru. Letaknya pada

rongga dada, tepatnya di atas sekat

diafragma. Paru-paru kanan memiliki tiga kelambir yang berukuran


lebih besar dari pada paru-paru sebelah kiri yang memiliki dua
gelambir.

3. Mekanisme pernapasan
Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis
walau dalam keadaan tertidur sekalipun, karena sistem pernapasan
dipengaruhi oleh susunan saraf otonom. Menurut tempat terjadinya
pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu
pernapasan luar dan pernapasan dalam.
Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara
udara dalam alveolus dengan dalam kapiler. Pernapasan dalam adalah
pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel
tubuh. Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan dan
pengeluaran udara.
Maka mekanismenya adalah respirasi (menarik napas) dan
a.

ekspirasi (mengeluarkan napas) yang dapat beralngsung dua cara :


Pernapasan dada : proses ini terjadi karena aktivitas otot antar tulang
rusuk
1) Inspirasi :bila otot antar tulan rusuk berkontraksi maka tulang
rusuk terangkat, volume rongga dada membesar, tekanan udara
paru-paru kecil, sehingga udara masuk ke paru-paru.
2) Ekspirasi :sebalikany dari inspirasi. Otot-otot antar tulang rusuk
relaksasi, tulang rusuk turun, tekanan paru-paru membesar,
sehingga mendorong udara kluar
Pernapasan perut : terjadi karena aktivitas otot diafragma
1) Inspirasi :otot diafragma berkontraksi posisinya mendatar, volume

b.

rongga dada besar, tekanan paru-paru mengecil, sehingga udara


2) Ekspirasi :otot diafragma relaksasi posisi melengkung ke atas,
volume mengecil, sehingga udara
Normalnya manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari,
dalam keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen atau O2 yang
diperlukan paru-paru pun menjadi berlipat-lipat. Oksigen yang kita
hasilkan dalam tubuh kurang lebih sebanyak 200cc di mana setiap liter
darah mampu melarutkan 4,3 cc karbondioksida (Pearce Evelyn C. 2009)
B. Konsep Dasar Penyakit Bronkopneumonia
1.

Definisi

Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang


mempunyai pola penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi di dalam bronchi dan meluas ke parenkim paru yang
berdekatan di sekitarnya (Smeltzer & Suzanne C, 2002).
Bronkopneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi jamur dan seperti bakteri, virus, dan benda
asing( Ngastiyah, 2005).
Bronkopneumonia adalah inflamasi parenkim paru, biasanya
berhubungan dengan pengisian alveoli dengan cairan. Penyebabnya
termasuk berbagai agen infeksi, iritan kimia, dan terapi radiasi. Rencana
perawatan ini sesuai dengan pneumonia bakteri dan virus, mis.,
pneumoccocal pneumonia, pneumocystis carinni. haemotilus influenza,
mioplasma. Gram-negatif (Doenges, 2000).
Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan
bahwa bronkopneumonia adalah jenis infeksi paru yang disebabkan oleh
agen infeksius seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing yang
mengenai daerah bronkus dan sekitar alveoli.
2.

Etiologi
Secara

umum

individu

yang

terserang

bronchopneumonia

diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh


terhadap virulensi organisme pathogen. Orang yang normal dan sehat
mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan
yang terdiri atas : reflek glottis dan batuk, adanya lapisan mucus, gerakan
silia yang menggerakan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral
setempat.
Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur,
protozoa, mikrobakteri, mikoplasma, dan riketsia, antara lain :
a. Bakteri : Streptococcus, Staphylococus,H. Influenza, Klebsiella.
b. Virus : Legionella pneumonia
c. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans

d. Aspirasi makanan, sekresi orofariengal atau isi lambung kedalam


paru
e. Terjadi karena kongesti paru yang lama.
Sebab lain dari pneumonia adalah akibat flora normal yang terjadi
pada pasien yang daya tahannya terganggu, atau terjadi aspirasi flora
normal yang terdapat dalam mulut dank arena adanya pneumocystis
crania, Mycoplasma (Smeltzer & Suzanne C, 2002).
Etiologi Pneumonia pada bayi baru lahir, seringkali terjadi karena
aspirasi, infeksi virus Varicella-zoster dan infeksi berbagai bakteri gram
negatif seperta bakteri Coli, TORCH, Streptokokus dan Pneumokokus.
Pada Bayi, pneumonia biasanya disebabkan oleh berbagai virus, yaitu
Adenovirus, Coxsackie, Parainfluenza, Influenza A or B, Respiratory
Syncytial Virus (RSV), dan bakteri yaitu B. streptococci, E. coli, P.
aeruginosa,

Klebsiella,

S.

pneumoniae,

S.

aureus,

Chlamydia.

Pneumonia pada batita dan anak pra-sekolah disebabkan oleh virus,


yaitu: Adeno, Parainfluenza, Influenza A or B, dan berbagai bakteri yaitu:
S. pneumoniae, Hemophilus influenzae, Streptococci A, Staphylococcus
aureus, Chlamydia. Pada anak usia sekolah dan usia remaja, pneumonia
disebabkan oleh virus, yaitu Adeno, Parainfluenza, Influenza A or B, dan
berbagai bakteri, yaitu S. pneumoniae, Streptococcus A dan Mycoplasma
(Kartasasmita, 2010).
3.

Patofisiologi
Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas

bagian atas yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophilus


influenza atau karena aspirasi makanan dan minuman. Dari saluran
pernafasan dengan gambaran

Infeksi saluran nafas bagian bawah

menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli, peningkatan


suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli. Ekspansi kuman melaui
pembuluh darah kemudian masuk kedalam saluran pencernaan dam
menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal
dalam usus, peristaltic meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi

10

dan kemudian terjadilah broncopneumonia yang beresiko terhadap


gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (Ngastiyah, 2005).
4.

Penatalaksanaan
Menurut Arief Mansjoer (2002) bahwa penatalaksanaan Infeksi

saluran nafas bagian bawah atau Bronchopneumonia yaitu dengan terapi


Oksigen 1-2 liter per menit, jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai
makan eksternal bertahap melaui selang nasogastrik dengan feeding
drip, jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin
normal dan beta agonis untuk transport muskusilier, koreksi gangguan
keseimbangan asam basa elektrolit.
Penatalaksanaan bronkopneumonia menurut Ngastiyah (2005)
dibagi dua yaitu penataksanaan, medis & keperawatan.
a.

Penatalaksanaan medis Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi


dan uji resistensi, akan tetapi, karena hal itu perlu waktu dan pasien
perlu terapi secepatnya maka biasanya diberikan : Penisilin ditambah
dengan Cloramfenikol atau diberikan antibiotik yang mempunyai
spektrum luas seperti Ampisilin

pengobatan ini diteruskan sampai

bebas demam 4 5 hari. pemberian oksigen dan cairan intervensi,


karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik
akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi
sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri. pasien pneumonia
ringan tidak perlu dirawat di Rumah Sakit .
b. Penatalaksanaan Keperawatan yang dilakukan adalah

menjaga

kelancaran pernafasan klien pneumonia berada dalam keadaan


dispnea dan sianosis karena adanya radang paru dan banyaknya
lendir di dalam bronkus atau paru. Agar klien dapat bernapas secara
lancar, lendir tersebut harus dikeluarkan dan untuk memenuhi
kebutuhan O2 perlu dibantu dengan memberikan O 2 2 l/menit secara
rumat. Kebutuhan Istirahat klien Pneumonia karena klien payah, suhu
tubuhnya tinggi, sering hiperpireksia maka klien perlu cukup istirahat,

11

semua kebutuhan klien harus ditolong di tempat tidur. Usahakan


pemberian obat secara tepat, usahakan keadaan tenang dan nyaman
agar klien dapat istirahat sebaik-baiknya. Kebutuhan nutrisi dan cairan
penderita bronkopneumonia hampir selalu mengalami masukan
makanan yang kurang. Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari
dan masukan cairan yang kurang dapat menyebabkan dehidrasi.
Untuk mencegah dehidrasi dan kekurangan kalori dipasang infus
dengan cairan glukosa 5% dan NaCl 0,9% Mengontrol suhu tubuh
karena penderita bronkoneumonia sewaktu-waktu dapat mengalami
hiperpireksia. Untuk ini maka harus dikontrol suhu tiap jam,
melakukan kompres serta obat-obatan satu jam setelah dikompres
dicek kembali apakah suhu telah turun.
5.

Komplikasi
Komplikasi yang timbul dari bronkopneumonia menurut Ngastiyah

(2005) dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2003) yaitu: Empiema,


otitis media akut, atelektasis, emfisema, meningitis, efusi pleura, abses
paru, pneumothoraks, gagal napas dan sepsis.

C. Konsep Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa.
Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar, sering terjadi pada bayi
dan anak. Banyak terjadi pada bayi di bawah 3 tahun, kematian banyak
terjadi pada bayi kurang 2 bulan (Wahid, 2013).

12

Keluhan utama Klien adalah sesak nafas, didahului oleh infeksi


saluran pernafasan atas selarna beberapa hari, kemudian mendadak
timbul panas tinggi, sakit kepala/dada (anak besar) kadang-kadang pada
anak kecil dan bayi dapat timbul kejang, distensi addomen dan kaku
kuduk. Timbul batuk, sesak, nafsu makan menurun. Anak biasanya
dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, sianosis atau batuk-batuk
disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun
apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam.
Riwayat medis lalu berhubungan dengan anak sering menderita
penyakit saluran pernafasan seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam
rentang waktu 3-14 hari, sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia.
Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat
memperberat klinis klien.
Riwayat

kesehatan

keluarga

dimana

tempat

tinggal

dan

lingkungan dengan sanitasi buruk berisiko Iebih besar. Riwayat imunisasi


seperti IPD (Invasive Pneumococcal Disease ) dan (Haemophilus
Influenza type B) HIB. Riwayat tumbuh kembang, prenatal : dan Ante
Natal Care. Riwayat Ketuban Pecah Dini, Aspirasi mekonium, asfiksia
dan riwayat terkena ISPA.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan broncopneumonia berdasarkan pedoman
rencana asuhan keperawatan menurut Doenges (2000) yaitu :
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi
trakeobonkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan membrane alveolus
kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah, gangguan
penerimaan oksigen.
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam
Alveoli

13

d. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan


kehilangan cairan berlebihan, penurunan masukan oral
e. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk
aktifitas sehari- hari
3. Perencanaan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi
trakeobonkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
Tujuan : jalan nafas kembali efektif
Kriteria Hasil : batuk berkurang, tidak ada sekret yang tertahan dn TTV
dalam batas normal.
Rencana tindakan : Kaji frekuensi atau kedalaman pernafasan
dan gerakan dada.Rasionalisasi yaitu dengan melakukan Takipneau,
pernafasan dangkal, dan pergerakan dada tidak simetris sering terjadi
karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan cairan paru.
Auskultasi area paru, catat area penurunan atau tak ada aliran
udara dan bunyi nafas adventius krekels atau mengi. Rasionalisasi :
melakukan penurunan aliran udara pada area konsolidasi dengan
cairan. Bunyi nafas bronchial ( normal padabronkus) dapat juga terjadi
pada area konsolidasi.
Bantu pasien latihan nafas sering. Rasionalisasi : Bantu pasien
mempelajari melakukan batuk, misalnya dengan menekan dada dan
batuk efektif sementara posisi duduk tinggi. Melakukan nafas dalam
memudahkan ekspansi maksimum paru- paru atau jalan nafas lebih
kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami,
membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas pasien. Penekanan
menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan
upaya nafas lebih dalam dan lebih kuat.
Berikan cairan sedikitnya 1000 ml/ hari (kecuali kontraindikasi),
tawarkan air hangat daripada dingin. Rasionalisasi : Dengan

14

memberikan cairan (khususnya hangat) akan

memobilisasi dan

mengeluarkan sekret.
Lakukan penghisapan sesuai indikasi agar merangsang batuk
atau pembersihan jalan nafas secara mekanik. Rasionalisasi : pasien
yang tidak mampu melakukan, karena batuk tidak efektif atau
perubahan tingkat kesadaran.
Berikan sesuai indikasi : mukolitik, ekspektoran, bronkodilator,
analgesic. Rasionalisasi : berguna

untuk menurunkan spasme

bronkus

Analgesik

dengan

mobilisasi

secret.

diberikan

untuk

memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi


harus digunakan secara hati- hati, karena dapat menurukan upaya
batuk / menekan pernafasan.
b. Gangguan

pertukaran

gas

berhubungan

dengan

perubahan

membrane alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen


darah, gangguan pengiriman oksigen.
Tujuan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan dengan GDA (Gula.
Darah Acak) dalam rentang normal dan tidak ada gejala distress
pernafasan.
Kriteria

hasil

adalah

berpartisipasi

pada

tindakan

untuk

memaksimalkan oksigenasi
Kaji frekuensi atau kedalaman dan kemudahan bernafas.
Rasionalisasi : manifestasi distress pernafasan tergantung pada
indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
Observasi warna kulit, membrane mukosa, dan kuku. Catat
adanya sianosis perifer atau sirkulasi sentral. Rasionalisasi : sianosis
daun telinga, membrane mukosa, dan kulit sekitar mulut menunjukan
hipoksemia sistemik.

15

Awasi frekuensi jantung atau irama. Rasionalisasi : Takikardia


biasanya ada karena demam/ dehidrasi tetapi juga dapat merupakan
respon terhadap hipoksemia.
Pertahankan istirahat tidur, dengan mendorong penggunaan
tehnik relaksasi dan aktifitas senggang. Rasionalisasi

: Upaya ini

dilakukan untuk menurunkan kebutuhan oksigen dan memudahkan


penyembuhan infeksi.
Tinggikan kepala dan dorong untuk sering mengubah posisi,
nafas dalam dan batuk efektif. Rasionalisasi :

tindakan ini

mengingatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran secret


untuk perbaikan ventilasi.
Kaji

tingkat

ansietas.

Dorong

menyatakan

masalah

atau

perasaan. Jawab pertanyaan dengan jujur, kunjungi dengan sering


sesuai indikasi. Rasionalisasi : Hal ini berguna untuk

manifestasi

masalah psikologi.
Berikan terapi oksigen dengan benar. Rasionalisasi : betujuan
mempertahankan PaO2 diatas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan
metode yang memberikan pengiriman dengan tepat dalam toleransi
pasien
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam
Alveoli
Tujuan Bersihkan jalan nafas, pola nafas, perubahan pola nafas,
kerusakan pertukaran gas efektif.
Kriteria

hasil

adalah

berpartisipasi

pada

tindakan

untuk

memaksimalkan oksigenasiHasil yang diharapkan adalah pola nafas


tidak efektif dengan frekuensi dan kedalaman rentang normal dan paru

16

bersih dengan partisipasi dalam aktifitas/ perilaku peningkatan fungsi


paru.
Perencanaan

keperawatan

yaitu

dengan

kaji

frekuensi,

kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Rasionalisasi : Catat


upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot bantu/ pelebaran nasal.
Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventius
seperti krekels atau mengi. Rasionalisasi : Bunyi nafas menurun atau
tidak ada jika jalan nafas obstruksi sekunder terhadap perdarahan,
bekuan atau kolaps jalan nafas kecil (atelektasis). Ronki dan mengi
menyertai obstruksi jalan nafas.
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bantu pasien turu
dari tempat tidur dan ambulasi dini. Rasionalisasi : dengan Duduk
tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
Pengubahan posisi dan ambulasi meningkatakan pengisian udara
segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas.
Observasi pola batuk dan karakteristik sekret, Kongesti alveolar
mengakibatkan batuk kering/ iritasi. Rasionalisasi : Sputum berdarah
dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan ( infark paru) atau anti
koagulan berlebihan.
Berikan oksigen tambahan. Rasionalisasi : berguna untuk
memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.
Berikan humidifier tambahan, misalnya nebulizer. Rasionalisasi :
dengan memberikan kelembaban pada membrane mukosa dan
membantu pengenceran secret untuk memudahkan pembersihan.

17

d. Diagnosa keperawatan : gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit


berhubungan

dengan kehilangan cairan

berlebihan, penurunan

masukan oral.
Tujuan yang diharapkan adalah keseimbangan cairan
Kriteria hasil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian
kapiler cepat, tanda vital stabil.
Kaji

perubahan

tanda

vital,

peningkatan

suhu

tubuh.

Rasionalisasi : dengan peningkatan suhu meningkatkan laju metabolic


dan kehilangan cairan melalui evaporasi.
Kaji turgor kulit, kelembaban membrane mukosa. Rasionalisasi :
memeriksa indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun
membrane mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan
oksigen tambahan.
Tekankan cairan setidaknya 1000ml/ hari atau sesuai kondisi
individual. Rasionalisasi : dengan memenuhi kebutuhan dasar cairan,
untuk menurunkan resiko dehidrasi.
Beri obat sesuai indikasi, misalnya antipiretik, antiemetic.
Rasionalisasi : yang berguna menurunkan kehilangan cairan.
Berikan cairan tambahan IV sesuai kebutuhan. Rasionalisasi :
karena dasarnya penurunan masukan atau banyak kehilangan.
Penggunaan

parenteral

dapat

memperbaiki

atau

mencegah

kekurangan.
e. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk
aktivitas hidup sehari- hari.
Tujuan untuk meningkatan toleransi terhadap aktivitas.
Kriteria hasil yaitu tidak ada dispneau, kelemahan berlebihan, dan
tanda vital dalam rentang normal.
Kaji respon pasien terhadap aktifitas. Rasionalisasi : catat laporan
dispneu, peningkatan kelemahan, dan perubahan tanda vital selama
dan setelah aktifitas. Hal tersebut dilakukan dengan menetapkan

18

kebutuhan

atau

kemampuan

pasien

dan memudahkan dalam

pemilihan intervensi.
Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase
akut sesuai indikasi. Rasionalisasi : dorong penggunaaan manajemen
stress dan pengalihan yang tepat. Hal ini berguna untuk menurunkan
stress dan rangsangan berlebih.
Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan
pentingnya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Rasionalisasi :
Dimana istirahat atau tirah baring dipertahankan selama fase akut
untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energy untuk
penyembuhan. Pembatasan aktivitas dengan respon individual pasien
terhadap aktifitas dan perbaikan kegagalan pernafasan.
Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.
Rasionalisasi :Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau tidur
di kursi.
Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Rasionalisasi :
Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan,
yang

berguna

untuk

menurunkan

keletihan

dan

membantu

keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

BAB III
STUDI KASUS

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada hari selasa tanggal 4 Agustus 2015 jam
10.00 WIB di ruang anak RSUD Raden Mattaher Jambi dengan metode
observasi, wawancara, pemeriksaan fisik dan dan catatan medik pasien.
Identitas Klien atau Keluarga diperoleh pada tanggal 4 Agustus 2015
jam 10.00 WIB di ruang anak RSUD Raden Mattaher Jambi. Nama klien
adalah An.A, masuk tanggal 3 Agustus 2015 jam 02.00 WIB dirawat diruang

19

anak kelas III. A dengan nomor register 795458 dengan diagnosa


Bronkopneumonia. An.A berumur 5 bulan dengan berat badan

4 kg pada

saat dirawat dengan nama orang tua Tn.W, agama Islam, pekerjaan swasta,
usia 24 tahun, alamat Jerambah bolong Desa. Mekar Jaya RT.07 Muaro.
Jambi.
Keluhan utama (Chief Complain), adalah panas tinggi yang disertai
dengan batuk. Pada saat pengkajian ibu klien mengatakan anaknya batuk
yang diikuti dengan demam tinggi, susah tidur dan rewel.

Klien masuk

rumah sakit dalam keadaan sesak nafas dan telah berlangsung sejak 3 hari
yang lalu. Klien juga mengalami batuk yang disertai dengan demam yang
terjadi dengan tiba-tiba. Ibu juga mengkatakan batuk anaknya berdahak
tetapi tidak ada darah, dahak sulit dikeluarkan. Demam yang terjadi tidak
disertai dengan kejang dan tidak sampai terjadi penurunan kesadaran.
Pada riwayat kehamilan ibu mengatakan antenatalcare 8 kali ke klinik
bidan, selama kehamilan ibu tidak menjalani diet, tidak ada penyakit infeksi
dan tidak ada keluhan lainya. Ibu mengatakan bersalin pada usia kehamilan
39 minggu, berat lahir bayinya 2500 gram dalam keadaan normal dan bayi
segera menangis.
Ibu mengatakan tidak ada perawatan khusus setelah persalinan
karena tidak ada masalah selama proses persalinan. Keadaan bayi normal
dengan tidak adanya cyanosis, suhu tubuh normal dan reflek menelan dan
menghisap baik. Pemberian imunisasi belum lengkap karena klien masih
berumur 5 bulan.
Hasil Pemeriksaan fisik klien diperoleh tinggi badan 55 cm, berat
badan 4 kg, lingkar kepala 40 cm. Keadaan umum klien lemah, gelisah,
rewel, kesadaran composmentis, suhu 38,60C, nadi 124 x/I dan pernafasan
60 x/i.
Struktur kepala tampak normal (simetris, tidak ada kotoran dan tidak
ada lesi), keadaan mata baik, schelera bersih tidak ada peradangan tetapi
nampak cekung karena kurang tidur yang ditandai dengan wajah tampak
mengatuk. Ibu mengatakan anaknya tidur hanya 3 jam sehari semalam.

20

Keadaan fisik lainya seperti hidung, telinga, leher dan data tidak terdapat
kelainan atau masih dalam batas normal. Pola nafas klien ireguler
(terengah-engah) dengan frekuensi 60 kali per menit, kualitas nafas cepat,
whezing (-), adanya batuk dan dahak dan ronki basah (+). Kardiovaskuler
tidak dikaji.
Pola Kebiasaan makan dan minum klien sebelum sakit hanya
mendapatkan ASI saja setiap 3 -5 jam per hari atau sebanyak 7 kali sehari,
sedangkan pada saat pengkajian klien masih tetap mendapatkan ASI dan
obat penurun panas.
Sebelum sakit klien biasa BAB 1 2 kali sehari dengan konsistensi
lunak, warna kuning, dan bau khas feses. Sedangkan saat pengkajian klien
BAB 1 kali sejak rawat. Sebelum sakit klien BAK 4-5 x sehari warna kuning
bening, bau pesing khas urine. Sedangkan pada saat pengkajian pasien
klien jarang BAK.
Sebelum sakit klien biasa tidur

selama lebih dari 12 jam. Saat

pengkajian klien tidur hanya 3 4 jam sehari.


Hasil pemeriksaan Laboratorium tanggal 4-08-2015 adalah nilai WBC :
18,1 103/mm3 (nilai normal 3,5-10 ), RBC : 5,44 10 6/mm3 (nilai normal

3,8-

5,8), HGB : 11,8 g/dl (nilai normal 11-16,5),HCT : 34,4 % (nilai normal 3550), PLT : 341 % (nilai normal 140-390).
B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian data subjektif ibu klien mengatakan bahwa
anaknya sesak nafas. Data objektifnya berupa nafas cepat dan dangkal,
adanya batuk produktif, ronki, takikardi maka diagnosa yang tampak sesuai
keadaan klien adalah bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
peningkatan produksi sputum.
Diagnosa selanjutnya berdasarkan pengkajian data subjektif ibu
mengatakan anaknya sulit tidur. Data objektif berupa sesak nafas, batuk
tampak gelisah, rewel dan badan terasa hangat. Maka diagnosa yang
ditegakkan selanjutnya adalah gangguan pola istirahat yang berhubungan
demam.

21

Ibu mengatakan cemas melihat keadaan anaknya yang ditandai


dengan ibu sering bertanya tentang penyakit dan cara perawatan anaknya.
Maka diagnosa yang ditegakkan adalah kurang pengetahuan orang tua
tentang

perawatan

penyakit

anaknya

berhubungan

dengan

tingkat

pendidikan.
C. Intervensi
Intervensi diagnosa

bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan

dengan inflamasi trakeobonkial,

pembentukan edema, peningkatan

produksi sputum.
Tujuan intervensi untuk bersihan jalan nafas, perubahan pola nafas,
frekuensi pernafasan normal (30-40 x/menit pada bayi), tidak sesak dan
tidak sianosis, batuk spontan.
Rencana tindakan yang dilakukan adalah mengukur tanda-tanda vital,
mengatur posisi, memberikan O2 sesuai kebutuhan, menganjurkan tetap
memberikan ASI, mengistirahatkan klien dan meneruskan

terapi sesuai

pesanan.

D. Implementasi
Implementasi yang dilakukan pada An.A dengan diagnosa bersihan
jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
yaitu mulai dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 4-8-2015 jam 10.00 WIB
selama 3 hari. Kegiatan yang dilakukan adalah mengukur tanda-tanda vital,
mengobservasi fungsi pernafasan seperti bunyi nafas, frekuensi dan
mencatat rasio inspirasi/ekspirasi, mengatur posisi klien semi fowler dan
tetap memberikan ASI serta meneruskan terapi dokter.
Implementasi yang dilakukan pada An.A hari kedua tanggal 5-82015 jam 11.00 WIB adalah mengkaji perkembangan klien, sesak nafas
berkurang, mengobservasi batuk, mengatur posisi dengan meninggikan

22

posisi kepala baik ditempat tidur maupun sewaktu digendong. Tetap


memberikan ASI.
Kegiatan yang

dilakukan pada tanggal 6-8-2015 jam 11.00 WIB

adalah mengobservasi tanda-tanda vital, suhu badan dan frekuensi


pernafasan
E. Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari untuk
mengatasi masalah bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
peningkatan produksi sputum yaitu pada hari pertama tanggal 4 Agustus
2015 adalah pengkajian data subjek yaitu ibu klien mengatakan anaknya
sesak nafas, dahak sulit dikeluarkan dan demam, yang ditandai dengan
keadaan umum lemah, ekspresi wajah tampak mengatuk, rewel, susah
bernafas, ronki (+), RR 60 x/i, suhu 38,5 oC. Masalah yang dihadapi adalah
bersihan nafas tidak efektif. Perencanaan keperawatan meliputi mengukur
tanda-tanda vital, mengatur posisi, memberikan O2 sesuai kebutuhan,
menganjurkan

tetap

memberikan

ASI,

mengistirahatkan

klien

dan

meneruskan terapi sesuai pesanan.


Pada tanggal 5 Agustus 2015 didapatkan data subjektif berupa ibu
klien mengatakan anaknya sesak nafas berkurang yang ditandai dengan
keadaan umum masih lemah, ekspresi wajah tampak mengatuk, rewel,
ronki (+).RR 50 x/i, suhu 37,5 oC. masalah yang dihadapi masih tetap sama
yaitu bersihan nafas tidak efektif. Perencanaan keperawatan meliputi
mengukur tanda-tanda vital, memberikan O2 sesuai kebutuhan, tetap
memberikan ASI, mengistirahatkan klien dan.
Pada tanggal 6 Agustus 2015 diperoleh data subjektif berupa ibu klien
mengatakan anaknya sudah tidak sesak yang ditandai dengan keadaan
tenang, rewel berkurang, sudah bisa tidur nyenyak, ronki (+).RR 40 x/i, suhu
37,5oC. masalah masih tetap ada yaitu bersihan nafas tidak efektif.
Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah mengukur tanda-tanda vital,
tetap memberikan ASI dan melanjutkan terapi.

23

BAB IV
PEMBAHASAN
1. Pengkajian
Pada pengkajian yang

dilakukan pada An. A tanggal 4-8-2015

diperoleh data sebagai berikut : ibu klien mengatakan anaknya batuk yang
diikuti dengan demam tinggi, susah tidur dan rewel. Klien masuk rumah
sakit dalam keadaan sesak nafas dan telah berlangsung sejak 3 hari yang
lalu. Klien juga mengalami batuk yang disertai dengan demam yang terjadi
dengan tiba-tiba. Ibu juga mengkatakan batuk anaknya berdahak tetapi
tidak ada darah, dahak sulit dikeluarkan. Demam yang terjadi tidak disertai
dengan kejang dan tidak sampai terjadi penurunan kesadaran.
Data tersebut sesuai dengan teori Smeltzer & Suzanne C, (2002)
yang

mengatakan bahwa individu yang terserang bronchopneumonia

menyebabkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan


yang terdiri atas : reflek glottis dan batuk, adanya lapisan mucus, gerakan
silia yang menggerakan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral
setempat. Menurut Wahid, (2013) bahwa broncopneumonia, didahului oleh
infeksi saluran pernafasan atas selarna beberapa hari, kemudian mendadak
timbul panas tinggi, sakit kepala/dada (anak besar) kadang-kadang pada
anak kecil dan bayi dapat timbul kejang, distensi addomen dan kaku kuduk.
Timbul batuk, sesak, nafsu makan menurun. Anak biasanya dibawa ke
rumah sakit setelah sesak nafas, sianosis atau batuk-batuk disertai dengan
demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk
dengan disertai riwayat kejang demam.
Data menurut konsep teori tersebut tidak semuanya dialami oleh
pasien An.A. diantara yang tidak dialami yaitu timbulnya kejang, distensi
abdomen, dan sianosis. Sedangkan yang dialami berupa pernafasan
dangkal dan cepat (sesak) demam, batuk berdahak kesadaran menurun.

24

Data yang sesuai dengan teori tersebut menunjukkan bahwa pasien


dengan broncopneumonia cenderung mengalami masalah bersihan jalan
nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.
.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan broncopneumonia yang ditemui pada An.A
berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan tidak semuanya sesuai
dengan pedoman rencana asuhan keperawatan menurut Marilynn E.
Doenges (2000).

Berdasarkan pengkajian maka ada 3 diagnosa

broncopneumonia ditegakkan pada klien An.A, yaitu bersihan jalan nafas


tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum, gangguan
pola istirahat yang berhubungan demam dan kurang pengetahuan orang tua
tentang

perawatan

penyakit

anaknya

berhubungan

dengan

tingkat

pendidikan.
Sedangkan diagnosa lain tidak ditegakkan karena tidak ada data-data
yang mendukung untuk ditegakknya. Diagnosa yang tidak ditegakkan
adalah Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
membrane alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah,
gangguan pengiriman oksigen, gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, penurunan
masukan oral, Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen
untuk aktivitas hidup sehari- hari.
3. Intervensi
Pada perencanaan penulis membahas tentang prioritas diagnosa
yang terdapat pada An. A dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan

dengan,

peningkatan

produksi

sputum.

Diagnosa

ini

merupakan prioritas utama karena masalah klien berupa sesak nafas, batuk
tampak gelisah, rewel dan badan terasa hangat.
Intervensi yang dilakukan adalah mengukur tanda-tanda vital,
mengatur posisi, memberikan O2 sesuai kebutuhan, menganjurkan tetap

25

memberikan ASI, mengistirahatkan klien dan meneruskan

terapi sesuai

pesanan.
4. Implementasi
Pada umumnya implementasi yang
sesuai dengan rencana yang

akan dilakukan pada An.A

ada, dimana An.A

dan keluarga mau

berpartisipasi dan menerima intervensi keperawatan yang diberikan.


Di dalam pelaksanaan tidak ada hambatan yang

ditemui,

pelaksanaan dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada dan situasi klien
seperti mengukur tanda-tanda vital, mengobservasi fungsi pernafasan
seperti bunyi nafas, frekuensi dan mencatat rasio inspirasi/ekspirasi,
mengatur posisi klien semi fowler dan tetap memberikan ASI serta
meneruskan terapi dokter.
5. Evaluasi
Diagnosa

yang

diutamakan

pada

An.A,

yang

menderita

broncopneumonia adalah bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan


dengan peningkatan produksi sputum, pada hari pertama tanggal 4 Agustus
2015 sesak nafas, dahak

sulit dikeluarkan dan demam, yang ditandai

dengan keadaan umum lemah, ekspresi wajah tampak mengatuk, rewel,


susah bernafas, ronki (+), RR 60 x/i, suhu 38,5 oC.
Selanjutnya pada hari kedua yaitu pada tanggal 5 Agustus 2015,
diperoleh data subjektif berupa sesak nafas berkurang yang ditandai
dengan keadaan umum masih lemah, ekspresi wajah tampak mengatuk,
rewel, ronki (+).RR 50 x/i, suhu 37,5 oC. masalah yang dihadapi masih tetap
sama yaitu bersihan nafas tidak efektif. Perencanaan keperawatan meliputi
mengukur tanda-tanda vital, memberikan O2 sesuai kebutuhan, tetap
memberikan ASI, mengistirahatkan klien.
Selanjutnya pada hari ketiga yaitu pada tanggal 6 Agustus 2015,
diperoleh data subjektif berupa sesak nafas teratasi yang ditandai dengan
keadaan tenang, rewel berkurang, sudah bisa tidur nyenyak, ronki (+).RR

26

40 x/i, suhu 37,5oC. masalah masih tetap ada yaitu bersihan nafas tidak
efektif. Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah mengukur tanda-tanda
vital, tetap memberikan ASI dan melanjutkan terapi.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.

Hasil

dari

pengkajian

yang

ditemukan

pada

An.A

penderita

broncopneumonia adalah tanda dan gejala yang sesuai dengan teoritis


seperti batuk yang diikuti dengan demam tinggi, susah tidur dan rewel.
sesak nafas, demam yang terjadi tidak disertai dengan kejang dan tidak
sampai terjadi penurunan kesadaran.
2.

Berdasarkan data subjektif dan data objektif maka diagnosa utama yang
sesuai keadaan klien adalah bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan inflamasi trakeobonkial,

pembentukan edema,

peningkatan produksi sputum.


3.

Intervensi keperawatan yang coba ditegakkan pada An.A adalah sesuai


dengan rencana tindakan adalah ukur tanda-tanda vital, atur posisi,
berikan O2 sesuai kebutuhan, anjurkan tetap memberikan ASI,
istirahatkan klien dan teruskan terapi sesuai pesanan..

4.

Kegiatan atau implementasi yang

dilakukan pada An.A

kasus

broncopneumonia dilaksanakan selama 3 hari berupa mengukur tandatanda vital, mengatur posisi, memberikan O2 sesuai kebutuhan,
menganjurkan tetap memberikan ASI, mengistirahatkan klien dan
meneruskan terapi sesuai pesanan.
5.

Evaluasi pada tanggal 6-8-2015 diperoleh data subjektif berupa ibu klien
mengatakan anaknya sudah tidak sesak yang ditandai dengan keadaan
tenang, rewel berkurang, sudah bisa tidur nyenyak, ronki (+).RR 40 x/i,
suhu 37,5oC. masalah masih tetap ada yaitu bersihan nafas tidak efektif.
Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah mengukur tanda-tanda
vital, tetap memberikan ASI dan melanjutkan terapi.

27

B.

Saran
1.

Bagi Penulis
Diharapkan dapat mengaplikasikan secara langsung teori yang di
dapat dari perkuliahan dalam rangka mengatasi masalah bersihan jalan
nafas tidak efektif .

2.

Bagi Institusi
Laporan

kasus

ini

berguna

bagi

mahasiswa

untuk

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan khususnya kemampuan


dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien bersihan jalan nafas
tidak

efektif

berhubungan

dengan

inflamasi

trakeobonkial,

pembentukan edema, peningkatan produksi sputum pada penderita


broncopneumonia.
3.

RSUD Raden Mattaher Jambi


RSUD Raden Mattaher Jambi khususnya bangsal An.A diharapkan
dapat

selalu

memberikan

pelayanan

yang

baik

kepada

pasien

broncopneumonia. Penilaian keperawatan bagi bayi harus dicari riwayat


alergi, karena sistem pernafasan bayi sangat rentan terhadap pengaruh
lingkungan sekitarnya. Kesehatan ibu yang memberikan ASI perlu
mendapatkan perhatian dari perawat.