Anda di halaman 1dari 4

Jurnal Reading

Tissue Engineering the Cornea: The Evolution of RAFT


Sumber : Journal Of Functional Biomaterials Vol. 6. 22 January 2015
Penulis : Hannah J. Levis, Alvena K. Kureshi, Isobel Massie, Louise Morgan,
Amanda J. Vernon, and Julie T. Daniels

Pembimbing :
dr. Saptoyo Argo Morosidi, Sp.M
Oleh:
Theodora Abdiel Purwa Dolorosa
11-2015-219

KEPANITERAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRITES KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT UMUM CIAWI
PERIODE 15 AGUSTUS 2016 17 SEPTEMBER 2016
1

RESUME JOURNAL
JUDUL JOURNAL : Tissue Engineering the Cornea: The Evolution of RAFT
Sumber : Journal Of Functional Biomaterials Vol. 6. 22 January 2015
Latar Belakang :
Kebutaan kornea mempengaruhi lebih dari 10 juta orang di seluruh dunia dan cara pengobatan
saat ini sering melibatkan penggantian lapisan rusak dengan jaringan sehat. Karena kekurangan
kornea donor di seluruh dunia dan tidak adanya perancah biologis yang cocok, penelitian terbaru
telah difokuskan pada pengembangan teknik rekayasa jaringan untuk membuat terapi alternatif.
Saat ini dikenal teknik rekayasa sederhana kompresi plastik kolagen untuk proses yang sekarang
kita sebut Arsitektur nyata untuk 3D Jaringan atau Real Arsitectur For 3D Tissue (RAFT).
Fungsinya untuk membuat epitel biomemetic dan setara jaringan endotel yang cocok untuk
transplantasi dan ideal untuk mempelajari interaksi-sel sel in vitro.

Tujuan :

Untuk meninjau bagaimana cara kerja RAFT


Untuk meninjau peran RAFT terhadap aplikasi klinis

Metodologi :
Compressed colagen plastic

Kriteria Inklusi dan Eksklusi:


Inklusi : pasien yang menderita LESCD (Limbal Epitel Stem Cell Deffisiensi) contohnya
Pterigium
Eksklusi : pasien yang ditangani dengan teknik HAM (Human Amnion Membran)
Contohnya trauma kimia, ulserasi kornea

Hasil :
Tes RAFT yang direproduksi, cepat untuk memproduksi, tidak memerlukan pemeriksaan yang
mahal untuk jaringan manusia dan baik untuk mendukung pertumbuhan sel hle in vitro, semua
bukti yang mendukung penggunaan TES RAFT melebihi HAM untuk perbaikan permukaan
mata.

Kesimpulan:
Penyakit dan gangguan pada kornea merupakan penyebab kebutaan pada lebih dari 10
juta orang di seluruh dunia. Kurangnya jaringan donor kornea yang cocok telah menyebabkan
meningkatnya minat dalam pengembangan strategi rekayasa jaringan untuk membangun jaringan
lapisan setara kornea untuk menggantikan daerah yang rusak. Di sini telah tergambarkan
perkembangan proses rekayasa jaringan RAFT yang bertujuan untuk mengatasi masalah ini.
Proses akhir RAFT sangat jauh dari proses kompresi plastik asli, yang diperlukan enam
komponen. Setelah modifikasi dari metode penghapusan aliran, arah, penahanan, dan material
penyerap, proses tersebut sekarang hanya membutuhkan satu komponen yaitu HPA (Hydrophilic
Porous Absorbers) untuk mengubah hidrogel kolagen hiperhidrasi menjadi substrat mekanis
stabil untuk pertumbuhan sel. Penyederhanaan ini merupakan metode yang berarti bahwa RAFT
mampu untuk mengambil langkah-langkah yang cukup terhadap kepatuhan GMP (Good
Manifacturing Practice) dan penerapan klinis.
RAFT telah menunjukkan bahwa metode ini cocok untuk produksi kedua kornea epitel
dan TEs (Tissue Equivalents) endotel yang mungkin cocok untuk transplantasi. Selanjutnya, sifat
dari metode produksi HPA memungkinkan kita untuk membuat topografi permukaan pada tes
dengan cepat dan ahli dalam menciptakan LESC fitur niche dan LC kornea. Hal ini akan
memungkinkan para peneliti untuk mempelajari sel-sel dan sel matriks interaksi dari niche LESC
menggunakan biomimetic lebih dalam dari model vitro. Kami telah mengambil proses penelitian
dasar dan disempurnakan untuk digunakan sebagai translasi sehingga memiliki potensi untuk
disampaikan kepada pasien untuk mengobati gagal permukaan mata dalam dua tahun ke depan.

Rangkuman dan Hasil Pembelajaran:


Aplikasi klinis RAFT adalah untuk mengobati pasien yang menderita LESCD (Limbal
Epitel Stem Cell Deffisiensi). Selama proses pengembangan RAFT, fokus awal adalah untuk
mengoptimalkan pertumbuhan sel hle pada permukaan kolagen, sebagai lawan untuk mengakhiri
kebutuhan pengguna seperti ketebalan, transparansi dan kekuatan. Ketebalan substrat penting
agar tidak menyebabkan ketidaknyamanan kepada pasien atau mempersulit prosedur bedah.
Demikian pula, transmisi cahaya penting untuk menyediakan penerima dengan sebaik mungkin
ketajaman visual pasca transplantasi. Meskipun Tes RAFT kolagen dapat mengalami beberapa
tingkat degradasi pasca transplantasi, saat ini kami tidak memiliki data in vivo untuk mendukung
ini. Akhirnya, tes RAFT harus memiliki kekuatan mekanik yang cukup untuk menahan
penanganan dan penerapan pada mata menggunakan lem fibrin atau yang serupa lainnya.