Anda di halaman 1dari 17

KONSEP PENYAKIT DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN KATARAK


Oleh

: David A. Mandala

NIM.

: 010030206 B

A. Konsep Katarak
1. Pengertian
Katarak adalah : kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur-angsur,
penglihatan kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara
Katarak adalah kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur angsur
penglihatan kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara C.Long,
1996)
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih biasanya
terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran. (Brunner
& Suddarth,2002;1996)
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yag dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa,denaturasi protein lensa, atau akibat keduaduanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif.
( Mansjoer,2000;62 )

Katarak adalah terjadinya opasitas secara progesif pada lensa atau kapsul
lensa,umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang
yang lebih dari 65 tahun. ( Doenges,2000;412)

2. Etiologi

Ketuaan, biasanya dijumpai katarak senilis.

Trauma, terjadi karena pukulan benda tumpul /tajam terpapar oleh sinar X
atau benda-benda radioaktif.

Penyakit mata seperti Uveitis

Penyakit sistemik seperti DM.

Defek congenital.

3. Fisiologi Lensa Mata


Fungsi lensa mata memfokuskan sinar pada retina. Pada saat itu kekuatan

refraksi lensa berubah sesuai dengan kebutuhan sehingga sinar dapat


difokuskan pada retina. Perubahan kekuatan retraksi disebut akomodasi.
2 (dua) faktor yang menentukan dalam akomodasi yaitu:
a.

Kemampuan lensa untuk berubah bentuk (menjadi lebih cembung)

b.

Kekuatan dari muskulus siliaris.

Bila muskulus siliaris relaks, zonula zinn menjadi tegang, diameter antara
posterior lensa menjadi lebih pendek dan kekuatan refraksi berkurang.
Sebaliknya bila muskulus siliaris kontraksi maka ketegangan zonula zinn
berkurang, sehingga bentuk lensa menjadi lebih cembung dan kekuatan
refraksi bertambah.
4. Patofisiologi
Dalam keadaan normal transfaransi lensa terjadi karena adanya keseimbangan
antara protein yang dapat larut dengan protein yang tidak dapat larut dalam
membran sesemi permeable. Apabila terjadi peningkatan jumlah protein yang
tidak dapat diserap, mengakibatkan jumlah protein dalam lensa melebihi
jumlah protein pada bagian lain sehingga membentuk massa transparan
ataubbintik kecil di sekitar lensa, membentuk suatu kapsul yang dikenal
dengan katarak.
Terjadinya penumpukan cairan / degenasi dan desintegrasi pada serabut
tersebut menyebabkan jalannya cahayanya terhambat dan mengakibatkan
gangguan penglihatan.

Trauma

Degeneratif

Perubahan Kuman

Perubahan serabut

Kompresi sentral (serat)

Jumlah protein

Keruh

Densitas

Membentuk massa

Keruh

Pembedahan

Post Operasi

Pre Operasi
-

Kecemasan

Gangguan

Menghambat jalan cahaya


rasa

nyaman (nyeri)

meningkat
-

Katarak

Kurang

Resiko

Penglihatan

tinggi

/Buta

terjadinya infeksi

pengetahuan
-

Resiko

tinggi

terjadinya injuri :

Gangguan sensori persepsi visual

Risiko tinggi cidera fisik

Peningkatan
TIO.

5. Pembagian katarak
1)

Katarak Congenital
Pada umumnya bilateral. Banyak disebabkan oleh virus rubella pada
trimester I kehamilan bila pada pemeriksaan positif rubella, maka operasi
sebaiknya ditunda sampai umur 2 tahun karena virus masih aktif di
dalam lensa. Kalau di operasi akan terjadi endoftalmitis dan mata akan
menjadi rusak. Bila kekeruhan bilateral segera lakukan operasi satu mata
dulu kurang dari 6 bulan untuk membentuk visus normal. Sedangkan
mata satunya dapat dioperasi setelah umur 2 tahun.

2)

Katarak Jevenil
Katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir. Katarak ini termasuk
ke dalam development cataract, yaitu kekeruhan lensa yang terjadi pada
saat masih terjadi perkembangan serat serat lensa sehingga biasanya

konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut soft cataract. Biasanya


katarak juvenil merupakan bagian dari suatu kejadian penyakit keturunan
lain.
3)

Katarak Senil
Katarak senile ada hubungannya dengan pertambahan umur dan
berkaitan dengan proses ketuaan yang terjadi di dalam lensa. Perubahan
yang tampak adalah bertambah tebalnya nucleus dengan berkembangnya
lapisan kortek lensa.
Secara klinik / proses ketuaan lensa sudah tampak pada pengurangan
kekuatan akomodasi lensa akibat terjadinya skelerosa lensa yang timbul
pada decade 4 yang dimanifestasi dalam bentuk presbiopia.
a. Katarak insipien
Katarak yang tidak seperti bercak-bercak yang membentuk gerigi
dengan dasar perifer dan daerah jernih diantaranya. Kekeruhan
biasanya terletak di korteks nterior atau posterior. Kekeruhan ini
pada permulaan hanya tampak bila pupil dilebarkan.
Pada stadium ini terdapat keluhan polidiopia oleh karena indeks
refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bila dilakukan tes
bayangan iris (shadow test) akan negatif.
b. Katarak imatur
Pada stadium yang lebih lanjut maka akan terjadi kekeruhan yang
lebih tebal. Tetapi tidak atau belum mengenal seluruh lensa sehingga
masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Pada stadium
ini terjadi hydras korteks yang mengakibatkan lensa menjadi
bertambah cembung. Pencembungan lensa ini akan memberikan
perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi myopia.
Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris ke depan
sehingga bilik mata depan dan sudut bilik mata depan akan lebih
sempit.
Pada stadium ini akan mudah terjadi glaucoma sebagai penyulit.
Stadium imatur dimana terjadi kecembungan lensa akibat menyerap
air disebut stadium intumesen. Shadow test pada keadaan ini positif.
c. Katarak matur
Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran
air bersama-sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Lensa kehilangan
cairan sehingga mengkerut lagi dan kamera okuli anterior menjadi
normal kembali. Kekeruhan lensa sudah menyeluruh warna putih

keabu-abuan. Pada pemeriksaan iris shadow negatif dan fundus


refleks negatif.
Pada stadium ini saat yang baik untuk operasi dengan tehnik intra
kapsuler (Tehnik Lama).
d. Katarak hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks lensa
mencair dan dapat keluar melalui kapsul lensa.
Dapat terjadi 2 kemungkinan :

Lensa menjadi kehilangan cairannya terus sehingga mengkerut


dan menipis disebut SHRUNKEN KATARAK.

Korteks lensa melunak dan mencair, sedangkan nucleus tidak


mengalami

perubahan,

akibatnya

nucleus

jatuh

disebut

MORGANIAN KATARAK. Operasi pada saat ini kurang


menguntungkan karena lebih mudah terjadi komplikasi.
Katarak senile :
o

Paling sering dijumpai

Biasanya umur lebih dari 50 tahun, tapi kadang-kadang mulai umur


40 tahun

Hampir selalu mengenai kedua mata dengan stadium yang berbeda.


Kekeruhan dapat dimulai dari perifer kortek atau sekitar nucleus.

Gejala utama adalah penglihatan makin lama makin kabur. Sejak


mulainya terjadi kekeruhan sampai matur dibutuhkan waktu
beberapa tahun.

Reaksi pupil terhadap cahaya normal.

6. PEMERIKSAAN
1)

Visus menurun bergantung pada :

2)

Tak ada tanda-tanda radang (hyperemia tak ada)

3)

Iluminasi oblik tampak kekeruhan yang keabu-abuan atau putih dengan


bayangan hitam disebut iris shadow.

4)

Pemeriksaan dengan optalmoskop tampak warna hitam diatas dasar


orange disebut fundus reflek.

5)

Pada katarak yang lebih lanjut, kekeruhan bertambah sehingga iris


shadow menghilang dan fundus reflek menjadi hitam saja (negatif).

7. PENGOBATAN KATARAK
Apabila penderita masih dapat dikoreksi kacamata, maka diberikan dahulu
kacamata. Akan tetapi ukuran kacamata penderita biasanya sangat mudah /
cepat berubah. Pengobatan yang paling baik dan tepat saat ini adalah operasi.
Indikasi operasi yaitu :
1)

Visus yang menurun yang tak dapat dikoreksi dengan kacamata dan
mengganggu aktifitas.

2)

Dahulu penderita dioperasi bila visusnya 1/300 s/d tak terhingga (LP+).
Akan tetapi dengan kemajuan tehnologi saat ini katarak dapat dioperasi
pada stadium apapun, bila penderita sudah terganggu aktivitasnya.

Macam operasi :
1)

Intra Capsular :
Intra catarax extraction (ICCE) mengeluarkan lensa secara utuh.

2)

Ekstra Capsular :
Extra capsular catarax extraction (ECCE) : mengeluarkan lensa dengan
merobek kapsul bagian anterior dan meninggalkan kapsul bagian
posterior.

Pada saat ini dimana kemajuan tehnologi yang sudah tinggi, tehnik ECCE
lebih disukai karena komplikasinya lebih kecil dan dapat disertai pemasangan
lensa implant intra okuler (IOL = intra okuler lens). Sehingga hasil setelah
operasi menjadi lebih baik.
Afakia :
o

Mata yang lensanya tidak ada (dioperasi atau sebab lain).

Visus 1/60

Menjadi hipermetrop (kira-kira + 10.00 D)

Kehilangan daya akomodasi

Untuk membaca memerlukan tambahan + 3.00 D

Pseudofkia :
Mata yang lensanya sudah diambil dan dipasang IOL
Visus lebih baik, bisa sampai 6/6
Kehilangan daya akomodasi
Untuk membaca memerlukan tambahan + 3.00 D
Evaluasi sesudah operasi katarak :
Hari 1 sesudah operasi harus sudah dievaluasi yaitu :
1)

Perdarahan dibilik mata depan (hifema).

2)

Kamera okuli anterior jernih/keruh :


Bila mata depan keruh (flare/sel positif)
o

Bilik mata depan keruh (flare /sel positif)

Mungkin sampai terjadi pengendapan pus di bilik mata depan


(hipopion).

o
3)

Iris miossi disertai sinekia postrior

Perhatikan pupil miosis/midriasis/normal :


o

Miosis : biasanya dipergunakan miotikum pada waktu operasi


sehingga hari berikutnya pupil menjadi miosis. Miosis ini dapat
terjadi bila terjadi uveitis anterior, dan biasanya disertai adanya
sinekia posterior.

Midirasis : dapat terjadi bila ada peningkatan tekanan intra okuler


(glaucoma)

Pupil tidak bulat : terjadi bila pada waktu operasi terjadi korpukasi
(korpus viterius keluar).

PENGOBATAN SESUDAH OPERASI KATARAK :


Setelah operasi dapat diberi :
o

Kacamata, diberikan bila tanda-tanda iritasi sudah hilang (kurang lebih


sesudah 1,5 bulan post op), sudah tidak ada perubahan refraksi (3 x
refraksi tiap minggu).

Lensa Kontak :
Penglihatan lebih baik daripada kacamata, dan dipakai pada operasi
katarak unilateral (satu mata).

Inolan Lensa Intra Okuli (IOL) :

- Implan ini memasukkan ke dalam mata pada saat operasi,


menggantikan lensa yang diambil (ECCE).
- Letaknya permanen
- Tidak memerlukan perawatan.
- Visus lebih baik daripada kacamata / lensa kontak.
Kerugian :

1.

Merupakan benda asing, kemungkinan bereaksi / ditolak oleh tubuh.

Tehnik operasi lebih sukar/canggih.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


8. PENGKAJIAN PRC OPERATIF
Subyektif : keluhan penglihatan
o

Kabur secara total

Hanya melihat baik pada tempat yang redup

Hanya dapat melihat rangsangan cahaya saja

Ganda / majemuk pada satu mata.

Indikator verbal dan non verbal dari ansietas.


Pemahaman tentang pembedahan katarak termasuk :
o

Sifat prosedur

Resiko dan keuntungan

Obat anestesi

Pilihan untuk rehabilitasi visual setelah pembedahan, seperti implan


lensa intraokuler, kontak lensa dan kacamata katarak (kacamata afakia).

Jumlah informasi yang dicari klien.


Obyektif :
o

Tidak terdapat tanda-tanda peradangan kecuali pada katarak komplikata


yang penyakit intra okulernya masih aktif.

Pada pemeriksaan penyinaran lensa tampak kelabu atau kekeruhan yang


memutih.

Pada pemeriksaan optalmoskop pada jarak tertentu didapatkan kekeruhan


yang berwarna hitam dengan latar belakang berwarna merah.

Pada pemeriksaan refraksi meningkat. Pada penderita yang tadinya


menderita presbiopia kemudian menderita katarak, pada stadium awal
dapat membaca tanpa menggunakan kacamata baca.

Observasi terjadinya tanda-tanda glaucoma karena komplikasi katarak,


tersering adalah glaucoma seperti adanya rasa nyeri karena peningkatan

TIO, kelainan lapang pandang.


9. PENGKAJIAN POST OPERASI
a.

b.

Data Subyektif

Nyeri

Mual

Diaporesis

Riwayat jatuh sebelumnya

Sistem pendukung, lingkungan rumah.

Data Obyektif

Perubahan tanda-tanda vital

Respon yang lazim terhadap nyeri.

Tanda-tanda infeksi
1)

Kemerahan

2)

Oedema

3)

Infeksi kojunctiva (pembuluh darah konjunctiva menonjol).

4)

Drainase pada kelopak mata dan bulu mata.

5)

Zat purulen

6)

Peningkatan suhu

7)

Nilai lab; peningkatan leukosit, perubahan leukosit, hasil


pemeriksaan kultur sensitifitas abnormal.

Ketajaman penglihatan masing-masing mata

Kesiapan dan kemampuan untuk belajar dan menyerap informasi

10. DIAGNOSA KEPERAWATAN


a.

PRE OPERATIF
1)

Gangguan persepsi sensori visual / penglihatan berhubungan dengan


penurunan ketajaman penglihatan, penglihatan ganda.
Tujuan : gangguan persepsi sensori teratasi.
Kriteria hasil :
o

Dengan penglihatan yang terbatas klien mampu melihat


lingkungan semaksimal mungkin.

Mengenal perubahan stimulus yang positif dan negatif

Mengidentifikasi kebiasaan lingkungan.

INTERVENSI
1. Orientasikan
pasien
terhadap

lingkungan

aktifitas.

RASIONAL
Memperkenalkan pada pasien
tentang

lingkungan

dam

aktifitas

sehingga

dapat

meninggalkan

stimulus

penglihatan.
2. Bedakan
lapang

kemampuan
pandang

diantara

Menentukan

kemampuan

lapang pandang tiap mata

kedua mata
3. Observasi tanda disorientasi

dengan tetap berada di sisi

Mengurangi ketakutan pasien


dan meningkatkan stimulus.

pasien.
4. Dorong

klien

melakukan

untuk

aktivitas

Meningkatkan input sensori,


dan

mempertahankan

sederhana seperti menonton

perasaan

normal,

TV, radio, dll

meningkatkan stress.

5. Anjurkan

pasien

menggunakan
katarak,

kacamata

cegah

Menurunkan

tanpa

penglihatan

perifer dan gerakan.

lapang

pandang perifer dan catat


terjadinya bintik buta.
6. Posisi pintu harus tertutup

terbuka, jauhkan rintangan.

2)

Menurunkan

penglihatan

perifer dan gerakan.

Cemas berhubungan dengan pembedahan yang akan dijalani dan


kemungkinan kegagalan untuk memperoleh penglihatan kembali.
Tujuan : kecemasan teratasi
Kriteria hasil :
Mengungkapkan

kekhawatirannya

dan

ketakutan

mengenai

pembedahan yang akan dijalani.


Mengungkapkan pemahaman tindakan rutin perioperasi dan
perawatan.

INTERVENSI
1. Ciptakan lingkungan yang

tenang dan relaks, berikan

RASIONAL
Membantu mengidentifikasi
sumber ansietas.

dorongan untuk verbalisasi


dan mendengarkan dengan
penuh perhatian.
2. Yakinkan

klien

bahwa

ansietas mempunyai respon


normal

dan

diperkirakan

terjadi

pada

pembedahan

Meningkatkan

keyakinan

klien

katarak yang akan dijalani.


3. Tunjukkan kesalahpahaman

yang diekspresikan klien,


berikan

informasi

Meningkatkan

keyakinan

klien

yang

akurat.
4. Sajikan

informasi

Meningkatkan proses belajar

menggunakan metode dan

dan

informasi

tertulis

media instruksional.

mempunyai sumber rujukan


setelah pulang.

5. Jelaskan

kepada

klien

Pengetahuan yang meningkat

aktivitas premedikasi yang

akan menambah kooperatif

diperlukan.

klien

dan

menurunkan

kecemasan.
6. Diskusikan
keperawatan

tindakan
pra

Sda

Menjelaskan

operatif

yang diharapkan.
7. Berikan informasi tentang
aktivitas

penglihatan

dan

memungkinkan

pilihan
klien

suara yang berkaitan dengan

membuat keputusan secara

periode intra operatif

benar.

b.

POST OPERATIF
1)

Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan prosedur


invasive.
Tujuan : nyeri teratasi
Kriteria hasil : klien melaporkan penurunan nyeri secara progresif
dan nyeri terkontrol setelah intervensi.
INTERVENSI
1. Bantu
klien
mengidentifikasi
penghilangan

RASIONAL
dalam 1. Membantu
tindakan

nyeri

yang

efektif.

pasien

menemukan tindakan yang


dapat menghilangkan atau
mengurangi

nyeri

yang

efektif.
2. Jelaskan bahwa nyeri dapat 2. Nyeri dapat terjadi sampai
terjadi sampai beberapa jam

anestesi

local

habis,

setelah pembedahan.

memahami hal ini dapat


membantu

mengurangi

kecemasan

yang

berhubungan dengan yang


tidak diperkirakan.
3. Lakukan

tindakan 3. Latihan

mengurangi

nyeri

dengan

nyeri

dengan

menggunakan tindakan yang

cara:

non

farmakologi

Posisi : tinggikan bagian

memungkinkan klien untuk

kepala tempat tidur, ganti

memperoleh

posisi dan tidur, ganti

terhadap nyeri.

rasa

kontrol

posisi dan tidur pada sisi


yang tidak dioperasi
-

Distraksi

Latihan relaksasi

4. Berikan obat analgetik sesuai 4. Analgesik


program

menghambat reseptor nyeri.

5. Lapor dokter jika nyeri tidak 5. Tanda


hilang

dapat

setelah

jam

pemberian obat, jika nyeri


disertai mual.

ini

menunjukkan

peningkatan tekanan intra


ocular atau komplikasi lain.

2)

Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur


invasif (bedah pengangkatan).
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :

Tanda-tanda infeksi tidak terjadi

Penyembuhan luka tepat waktu

Bebas drainase purulen , eritema, dan demam

INTERVENSI
1. Tingkatkan
penyembuhan

luka dengan :
-

Beri

RASIONAL
Nutrisi dan hidrasi yang
optimal

dorongan

untuk

meningkatkan

kesehatan

secara

mengikuti diet seimbang

keseluruhan, meningkatkan

dan asupan cairan yang

penyembuhan

adekuat

pembedahan.

Instruksikan klien untuk


tetap

menutup

sampai

hari

setelah

operasi

luka

Memakai pelindung mata

mata

meingkatkan penyembuhan

pertama

dan menurunkan kekuatan

atau

iritasi

sampai diberitahukan.

kelopak

mata

terhadap jahitan luka.

2. Gunakan tehnik aseptic untuk

Tehnik aseptic menimalkan

meneteskan tetes mata :

masuknya mikroorganisme

dan mengurangi infeksi.

Cuci

tangan

sebelum

memulai
-

Pegang alat penetes agak


jauh dari mata.

Ketika

meneteskan

hindari kontk antara mata


dengan tetesan dan alat
penetes.
3. Gunakan tehnik aseptic untuk
membersihkan

mata

dari

Tehnik aseptic menurunkan


resiko

penyebaran

dalam ke luar dengan tisu

infeksi/.bakteri

basah / bola kapas untuk tiap

kontaminasi silang.

usapan, ganti balutan dan


memasukkan
menggunakan.

lensa

bila

dan

4. Tekankan pentingnya tidak

menyentuh / menggaruk mata

Mencegah kontaminasi dan


kerusakan sisi operasi.

yang dioperasi.
5. Observasi tanda dan gejala

Deteksi

dini

infeksi

infeksi seperti : kemerahan,

memungkinkan penanganan

kelopak

mata

yang

drainase

purulen,

bengkak,
injeksi

cepat

meminimalkan

konjunctiva (pembuluh darah

untuk
keseriusan

infeksi.

menonjol), peningkatan suhu.


6. Anjurkan untuk mencegah
ketegangan

pada

jahitan

Ketegangan

pada

jahitan

dapat

menimbulkan

dengan cara : menggunakan

interupsi, menciptakan jala

kacamata

masuk

protektif

dan

pelindung mata pada malam

untuk

mirkoorganisme

hari.
7. Kolaborasi

obat

sesuai

indikasi :
-

secara profilaksis, dimana

Antibiotika
parental

(topical,
atau

terapi

sub

diperlukan

conjunctiva)
3)

Sediaan topical digunakan

Steroid

lebih
bila

agresif
terjadi

infeksi

Menurunkan inflamasi

Gangguan sensori perceptual : penglihatan berhubungan dengan


gangguan penerimaan sensori/ status organ indera, lingkugan secara
terapeutik dibatasi, ditandai dengan :

Menurunnya ketajaman, gangguan penglihatan.

Perubahan respo biasanya terhadap rangsang.

Hasilnya yang diharapkan :

Meningkatkan ketajaman penglihatn dalam batas situasi individu

Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap


perubahan

INTERVENSI
1. tentukan
ketajaman

RASIONAL
Kebutuhan individu

dan

penglihatan, catat apakah

pilihan intervensi dan pilihan

satu atau kedua mata terlibat

intervensi bervariasi sebab

2. orientasi

pasien terhadap

kehilangan

lingkungan, staf/ orang lain


di area

penglihatan

terjadi lambat dan progresif.

3. observasi tanda-tanda dan

Memberikan

peningkatan

kenyamanan

dan

gejala-gejala

disorientasi,

kekeluargaaan,

pertahankan

pengamanan

cemas dan disorientasi pasca

tempat tidur sampai benarbenar

sembuh

dari

operasi.

anesthesia.

Terbangun dalam lingkungan


yang

4. ingatkan

menurunkan

tak

dikenal

dan

klien

mengalami

keterbatasan

menggunakan

kacamata

penglihatan

dapat

katarak

tujuannya

mengakibatkan bingung pada

yang

memperbesar

25%,

penglihatan perifer hilang.

orangtua.

Perubahan

ketajaman

kedalaman

persepsi

menyebabkan

dan
dapat

bingung

meningkatkan resiko cedera


sampai pasien belajar untuk
mengkompensasi.
4)

Kurang

pengetahuan

tentang

kondisi

prognosis

pengobatan

berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, ditandai


dengan klien kurang mengikuti instruksi, sering bertanya terjadi
komplikasi yang dapat dicegah.
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan berupa HE diharapkan klien
mengerti dengan kondisi, prognosis,dan pengobatan.
Kriteria hasil :

Dapat melakukan perawatan dengan prosedur yang benar

Dapat menyembuhkan kembali apa yang telah dijelasakan

1. Kaji

INTERVENSI
informasi
tentang

RASIONAL
Meningkatkan pemahaman

kondisi individu prognosis

dan

tipe prosedur, tipe prosedur

program pasca operasi

lensa.

periodic

pentingnya

menurunkan

resiko

perawatan.

komplikasi serius.

evaluasi

Beritahu untuk melaporkan

penglihatan berawan.
menghindari

tetes

Memertahankan
faeces

4. Dorong pemasukan cairan


adekuat,

bereaksi

silang

diberikan.

mata yang dijual bebas.


yang

Dapat

campur dengan obat yang

3. Informasikan kepada klien


untuk

dengan

Pengawasan

2. Tekankan

kerjasama

makan

terserat.

untuk

konsistensi
menghindari

mengejan

Aktifitas yang menyebabkan


mata lelah tegang, manuver

5. Anjurkan

klien

menghindari

untuk

valsava atau meningkatkan

membaca,

TID

berkedip, mengangkat yang

hasil

berat,

mencetuskan perdarahan.

mengejar

saat

dapat

mempengaruhi

operasi

dan

defekasi, membongkok pada

Catatan : iritasi pernapasan

panggul,

hidung

yang menyebabkan batuk /

penggunaan spray, bedak

bersih dapat meningkatkan

bubuk, merokok.

TID.

meniup

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall, (1999), Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,
Edisi 6, EGC, Jakarta.
Doengoes, Mariyln E., (2000) Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Sidarta Ilyas, (1997), Katarak, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Tamim Radjamin RK, Dkk, (1993), Ilmu Penyakit Mata, Airlangga University Press,
Surabaya.