Anda di halaman 1dari 25

Referat

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA (BPH)

Disusun Oleh :
Vivin Anggia Putri
NIM. 1008151915

Pembimbing
dr. Afdal, Sp.U

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul Benign Prostat
Hyperplasia.
Referat ini disusun sebagai sarana untuk memahami Benign Prostat
Hyperplasia, meningkatkan kemampuan menulis ilmiah dibidang kedokteran
khususnya di Bagian Ilmu Bedah dan memenuhi salah satu persyaratan kelulusan
Kepaniteraan Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau-Rumah
Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Provinsi Riau.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada dr. Afdal,
Sp.U selaku pembimbing serta pihak yang telah membantu penulis dalam
mengumpulkan bahan sumber tulisan ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh sebab itu kritik dan saran sangat
diharapkan penulis dari dokter pembimbing serta rekan-rekan Koassisten demi
kesempurnaan referat ini. Semoga referat ini membawa manfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, Juli 2015


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau yang lebih dikenal dengan

istilah pembesaran prostat jinak merupakan keadaan yang sering ditemukan pada
laki-laki yang memiliki usia lanjut, keadaan ini berkaitan dengan proses penuaan.
BPH secara istilah histopatologis, dijumpai adanya proliferasi murni dari sel-sel
stroma ataupun dari bagian sel epitel. Sel tersebut membentuk kumpulan kelenjarkelenjar kecil sampai dengan kelenjar-kelenjar besar dan berdilatasi, yang dilapisi
oleh dua lapisan sel dalam yaitu sel epitel kolumnar dan bagian luar oleh sel epitel
kuboid atau pipih dengan membran basal yang utuh. Biasanya epitel tersebut
berkarakteristik membentuk tonjolan atau gambaran papil ke arah lumen
kelenjar.1,2
Angka kejadian BPH pada laki-laki di USA sebanyak 14 juta orang
sedangkan di dunia diperkirakan 30 juta orang, bila insidensi berdasarkan usia
didapatkan sekitar 20% laki-laki yang menderita BPH berusia 40-50 tahun dan
setelah itu meningkat menjadi 50% pada rentang usia 51-60 tahun, hingga lakilaki berusia diatas 80 tahun meningkat menjadi 90%.1
Keadaan yang dialami pasien BPH seringkali berupa LUTS (Lower
Urinary Tract Symptoms) yang terdiri atas gejala obstruksi atau gejala berkemih
(Voiding Symptoms) maupun gejala iritasi atau gejala penyimpanan (Storage
Symptoms) yang meliputi frekuensi miksi meningkat, urgensi, nokturia, pancaran
miksi lemah dan sering terputus-putus (Intermiten) dan merasa tidak puas sehabis
miksi dan tahap selanjutnya terjadi retensi urin. Keluhan-keluhan ini juga dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga dapat menurunkan kualitas hidup. 2,3
Oleh karena itu diperlukan pemahaman tentang tatalaksana dari BPH, sehingga
hasil dari tatalaksana yang dilakukan memuaskan.
1.2

Batasan masalah

Referat ini membahas tentang anatomi, fisiologi, definisi, epidemiologi,


etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, diagnosis dan penatalaksanaan Benign
Prostatic Hyperplasia (BPH).
1.3

Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan referat ini adalah :
1. Memahami dan menambah wawasan mengenai Benign Prostatic
Hyperplasia (BPH).
2. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah di bidang kedokteran
khususnya di Bagian Ilmu Bedah.
3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik (KK) di Bagian
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau dan Rumah Sakit
Umum Daerah Arifin Achmad.

1.4

Metode penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan

mengacu kepada beberapa literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi Prostat
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di

sebelah inferior buli-buli dan membungkus uretra posterior. Prostat berbentuk


seperti pyramid terbalik dan merupakan organ kelenjar fibromuskular yang
mengelilingi uretra pars prostatica. Bila mengalami pembesaran organ ini
menekan uretra pars prostatica dan menyebabkan terhambatnya aliran urin keluar

dari buli-buli. Prostat merupakan kelenjar aksesori terbesar pria, tebalnya 2 cm


dan panjangnya 3 cm dengan lebarnya 4 cm dan berat 20 gram. Prostat
mengelilingi uretra pars prostatika dan ditembus di bagian posterior oleh dua buah
duktus ejakulatorius.3,4,5

Gambar 1. Anatomi Genitalia Pria dan Prostat3


Secara histologi prostat terdiri atas 30-50 kelenjar tubulo alveolar yang
mencurahkan sekretnya ke dalam 15-25 saluran keluar yang terpisah. Saluran ini
mencurahkan ke uretra pada kedau sisi kolikulus seminalis. Kelenjar ini terbenam
dalam stroma yang terutama terdiri dari otot polos yang dipisahkan oleh jaringan
ikat kolagen dan serat elastis. Otot membentuk massa padat dan dibungku oleh
kapsula yang tipis dan kuat serta melekat erat pada stroma. Alveoli dan tubuli
kelenjar sangat tidak teratur dan sangat beragam bentuk ukurannya, alveoli dan
tubuli bercabang berkali-kali dan keduanya mempunyai lumen yang lebar, lamina
basal kurang jelas dan epitel sangat berlipat-lipat. Jenis epitelnya berlapis atau
bertingkat dan bervariasi dari silindris sampai kubus tergantung pada status
endokrin dan kegiatan kelenjar. Sitoplasma mengandung sekret yang berbutir-

butir halus, lisosom dan butir lipid. Nukleus biasanya satu, bulat dan biasanya
terletak di basal. Nukleoli biasanya terlihat ditengah, bulat dan kecil.4,5

Gambar 2. Anatomi Kelenjar Prostat Potongan Longitudinal4


Batas-batas prostat3,4,5 :
a. Batas superior : basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesika
urinaria, otot polos berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ yang
lain.
b. Batas inferior : apex prostat terletak pada permukaan atas diafragma
urogenitalis. Uretra meninggalkan prostat tepat diatas apex permukaan
anterior.
c. Batas anterior : permukaan anterior prostat berbatasan dengan simphisis
pubis, dipisahkan dari simphisis oleh lemak ekstra peritoneal yang terdapat
pada cavum retropubica (cavum retziuz). Selubung fibrosa prostat
dihubungkan dengan permukaan posterior os pubis dan ligamentum
puboprostatika. Ligamentum ini terletak pada pinggir garis tengah dan
merupakan kondensasi fascia pelvis.
d. Batas posterior : permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan
permukaan anterior ampula rekti dan dipisahkan darinya oleh septum
rectovesicalis (fascia Denonvilier). Septum ini dibentuk pada massa janin
oleh fusi dinding ujung bawah excavatio rectovesicalis peritonealis, yang
semula menyebar ke bawah menuju corpus perinealis.
e. Batas lateral : permukaan lateral prostat terselubung oleh serabut anterior
m. levator ani waktu serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis. Ductus

ejakulatorius menembus bagian atas permukaan prostat untuk bermuara


pada uretra pars prostatika pada pinggir lateral orificium utriculus
prostaticus.
Kelenjar prostat terbagi atas 5 lobus menurut Lowsley : 3,4,5
a.
b.
c.
d.
e.

Lobus medialis
Lobus lateralis dextra
Lobus lateralis sinistra
Lobus anterior
Lobus posterior
BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena

mengandung banyak jaringan kelenjar, tetapi tidak mengalami pembesaran pada


bagian posterior daripada lobus medialis (lobus posterior) yang merupakan bagian
tersering terjadinya perkembangan suatu keganasan prostat. Sedangkan lobus
anterior kurang mengalami hiperplasi karena sedikit mengandung jaringan
kelenjar.3,4,5
Mc. Neal membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain
adalah : zona perifer, zona sentra, zona transisional, zona fibromuskular anterior
dan zona periuretral. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona
transisional yang letaknya proksimal dari sfingter eksternus di kedua sisi dari
verumontanum dan di zona periuretral. Kedua zona tersebut hanya merupakan 2%
dari seluruh volume prostat. Sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal
dari zona perifer.
Lima zona pada kelenjar prostat : 3,4,5
a. Zona anterior atau ventral
Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma
fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
b. Zona perifer
Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar
prostat. Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal
karsinoma terbanyak.
c. Zona sentralis

Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus


tengah meliputi 25% massa glandular prostat. Zona ini resisten terhadap
inflamasi.

Gambar 3. Zona kelenjar prostat3


d. Zona transisional
Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretral disebut juga sebagai
kelenjar preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang
lebih 5% tetapi dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular
anterior menjadi benign prostatic hyperplasia (BPH).
e. Zona periuretral
Bagian ini terdiri dari duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar
abortif tersebar sepanjang segmen uretra proksimal.
Vaskularisasi kelenjar prostat yang utama berasal dari a. Vesicalis inferior
(cabang dari a. Iliaca interna), a. Hemoroidalis media (cabang dari a. Mesenterium
inferior) dan a. Pudenda interna (cabang dari a. Iliaca interna). Cabang-cabang
dari arteri tersebut masuk lewat basis prostat di vesico prostatic junction. Darah
vena prostat dialirkan kedalam pleksus vena periprostatika yang berhubungan
dengan vena dorsalis penis, kemudian dialirkan ke vena iliaca interna yang juga
berhubungan dengan pleksus vena presakral.3,4
Aliran limfe dari kelenjar prostat membentuk pleksus di peri prostat yang
kemudian bersatu untuk membentuk beberapa pembuluh utama, yang menuju ke
kelenjar limfe iliaca interna, iliaca eksterna, obturatoria dan sakral.1,4
Sekresi dan motor yang mempersarafi prostat berasal dari pleksus
simpatikus dari hipogastrikus dan medula sakral III-IV dari pleksus sakralis.3,4
2.2

Fisiologis Prostat
Sekret kelenjar prostat adalah cairan seperti susu yang bersama-sama

sekret dari vesikula seminalis merupakan komponen utama dari cairan semen.

Semen berisi sejumlah asam sitrat sehingga pH nya asam (6,5). Selain itu dapat
ditemukan enzim yang bekerja sebagai fibrinolisin yang kuat, fosfatase asam,
enzim-enzim lain dan lipid. Sekret prostat dikeluarkan selama ejakulasi melalui
kontraksi otot polos. Kelenjar prostat juga menghasilkan cairan dan plasma
seminalis, dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula
seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi.3,4
2.3

Definisi
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), atau dikenal hiperplasia prostat jinak,

merupakan diagnosis histopatologis yang ditandai oleh proliferasi elemen seluler


prostat. BPH muncul ketika pertumbuhan prostat tidak semestinya dan
menghambat aliran urin sehingga mengakibatkan gejala traktus urinaria, infeksi
dan hematuria.1,2,6
BPH sering terjadi pada pria dengan usia diatas 50 tahun, dimana kelenjar
prostatnya mengalami pembesaran, memanjang keatas kedalam kandung kemih
dan menyumbat aliran urin dengan menutup orificium uretra. Pembesaran
progresif dari kelenjar prostat ini dapat menyebabkan berbagai derajat obstruksi
uretral yang mengakibatkan terganggunya aliran urin sehingga menimbulkan
gangguan miksi.1,2,6

Gambar 4. Perbedaan aliran urin dari buli-buli pada prostat normal dan prostat
yang mengalami pembesaran7
2.4

Epidemiologi
Di seluruh dunia, hampir 30 juta orang pria yang menderita gejala yang

berkaitan dengan pembesaran prostat, di USA hampir 14 juta pria mengalami hal
yang sama.8 BPH merupakan penyakit tersering kedua di klinik urologi di

Indonesia setelah batu saluran kemih. Sebagai gambaran hospital prevelance, di


RS Cipto Mangunkusumo ditemukan 423 kasus pembesaran kasus pembesaran
prostat jinak yang dirawat selama 3 tahun (1994-1997) dan di RS Sumber Waras
sebanyak 617 kasus dalam periode yang sama. Penduduk Indonesia yang berusia
tua jumlahnya semakin meningkat, diperkirakan sekitar 5% atau kira-kira 5 juta
pria di Indonesia berusia 60 tahun atau lebih dan 2,5 juta pria diantaranya
menderita gejala saluran kemih bagian bawah (Lower Urinary Tract
Symptoms/LUTS) akibat BPH. BPH mempengaruhi kualitas kehidupan pada
hampir 1/3 populasi pria berumur >50 tahun.1,2,3
Faktor resiko BPH masih belum jelas, beberapa penelitian menunjukkan
adanya predisposisi genetik dan beberapa kasus dipengaruhi oleh ras. Prevalensi
BPH secara histologis pada otopsi didapatkan peningkatan dari sekitar 20% pada
pria usia 41-50 tahun, 50% pada pria usia 51-60 tahun dan >90% pada pria usia
>80 tahun.1,2,3
2.5

Etiologi dan patofisiologi


Hingga sekarang belum diketahui secara pasti etiologi dari BPH tetapi

beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan


peningkatan

kadar

dihidrotestosteron

(DHT),

proses

penuaan,

adanya

ketidakseimbangan antara esterogen-testosteron, interaksi antara sel stroma dan


sel epitel prostat, berkurangnya kematian sel (apoptosis) dan teori stem sel.5,6,9
1. Teori dihidrotestosteron
Dihidrotestosteron (DHT) adalah metabolit androgen yang sangat penting
pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. DHT dibentuk dari testosteron
di dalam sel prostat oleh enzim 5-reduktase dengan bantuan koenzim
NADPH. DHT yang terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA)
membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi
sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat.
Pada BPH, aktivitas enzim 5-reduktase dan jumlah reseptor androgen
lebih banyak. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitif
terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan
dengan prostat normal.5,6
2. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar
estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen dan
testosteron relatif meningkat. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam
prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat
dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan
hormon

androgen,

meningkatkan

jumlah

reseptor

androgen

dan

menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Hasil akhir dari


semua keadaan ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel
prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga
massa prostat menjadi lebih besar.5,6
3. Interaksi stroma epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung
dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor)
tertentu. Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan
estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya
memengaruhi sel stroma itu sendiri secara intrakrin dan autokrin, serta
memengaruhi sel-sel epitel secara parakrin. Stimulasi itu menebabkan
terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma dari prostat.5,6
4. Berkurangnya kematian sel prostat
Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel
dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada
prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati
dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang
mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara
keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahan
massa prostat. Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat
proses kematian sel, karena setelah dilakukan kastrasi terjadi peningkatan
aktivitas kematian sel kelenjar prostat.5,6
5. Teori stem sel
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk
sel-sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem yaitu sel
yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan
sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormon androgen, sehingga jika
hormon ini kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi,

menyebabkan terjadinya apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH


dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi
produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel.9
6. Inflamasi
Dalam beberapa tahun terakhir, inflamasi kronis telah dikaitkan dengan
patogenesis terjadinya BPH. Angka kejadian BPH meningkat berkaitan
dengan kejadian prostatitis kronis. Inflamasi kronis dipercaya dapat
meningkatkan proses pertumbuhan fibromuskular pada BPH.9
2.6

Gejala Klinis
Pada penderita BPH keluhan yang terjadi dapat berupa keluhan pada

saluran kemih maupun keluhan diluar saluran kemih.


a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan-keluhan yang muncul pada saluran kemih bagian bawah (LUTS)
biasanya terdiri dari gejala obstruksi (hesistansi, pancaran miksi lemah,
intermitensi, miksi tidak puas dan kencing menetes setelah miksi) dan
iritatif (frekuensi, nokturia, urgensi dan disuria). Timbulnya gejala LUTS
merupakan manifestasi kompensasi otot buli untuk mengeluarkan urin,
pada suatu saat otot buli mengalami kepayahan (fatigue) sehingga jatuh ke
dalam keadaan dekompensasi sehingga terjadilah retensi urin akut.
b. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan yang muncul pada saluran kemih bagian atas pada penderita BPH
berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan dipinggang
(yang merupakan tanda dari hidronefrosis) dan demam yang merupakan
tanda dari infeksi atau urosepsis.
c. Gejala diluar saluran kemih
Tidak jarang pada pasien yang mengalami BPH datang ke dokter karena
mengalami hernia inguinalis atau hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini
karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan
peningkatan tekanan intra abdominal.
2.7

Diagnosis
Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas pemeriksaan awal dan

pemeriksaan tambahan. Jika fasilitas tersedia pemeriksaan awal harus dilakukan


oleh setiap dokter yang menangani pasien BPH, sedangkan pemeriksaan

tambahan yang bersifat penunjang dikerjakan jika ada indikasi untuk melakukan
pemeriksaan itu.
1. Anamnesis
Pemeriksaan awal terhadap pasien BPH adalah melakukan anamnesis atau
wawancara yang cermat guna mendapatkan data tentang riwayat penyakit
yang dideritanya. Anamnesis meliputi :
Keluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah

mengganggu
Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia
Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual
Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan

keluhan miksi
Tingkat kebugaran pasien yang mungkin diperlukan untuk tindakan

pembedahan
Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan
adanya gejala obstruksi dan iritatif akibat pembesaran prostat adalah dengan
menggunakan International Prostate Symptoms Score (IPSS). WHO dan
American Urology Association (AUA) telah mengembangkan dan mengsahkan
IPSS yang telah terstandarisasi.

Gambar 5. Tabel International Prostate Symptoms Score (IPSS)

2. Pemeriksaan fisik
Colok dubur atau Digital Rectal Examination (DRE) merupakan
pemeriksaan yang penting pada pasien BPH, disamping pemeriksaan fisik
pada regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi bulibuli. Dari pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan adanya
pembesaran prostat, konsistensi prostat dan adanya nodul yang merupakan
salah satu tanda dari keganasan prostat. Mengukur volume prostat dengan
DRE cenderung under-estimate dari pada pengukuran dengan metode lain,
sehingga jika prostat teraba, hampir pasti bahwa ukuran sebenarnya
memang besar. Kecurigaan suatu keganasan pada pemeriksaan colok
dubur, ternyata hanya 23-34% yang positif kanker prostat pada
pemeriksaan biopsi. Sensitifitas pemeriksaan ini dalam menentukan
adanya karsinoma prostat sebesar 33%.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Urinalisis
Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan
hematuria. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran
kemih, batu buli atau penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi,
diantaranya karsinoma insitu atau striktura uretra, pada pemeriksaan
urinalisis menunjukkan adanya kelainan. Untuk itu pada kecurigaan
adanya infeksi saluran kemih perlu dilakukan pemeriksan kultur urin
dan jika terdapat kecurigaan adanya karsinoma buli perlu dilakukan
pemeriksaan sitologi urin. Pada pasien BPH yang sudah mengalami
retensi urin dan telah memakai kateter, pemeriksaan urinalisis tidak
banyak manfaatnya karena seringkali telah ada leukosituria maupun
eritosituria akibat pemasangan kateter.
b. Pemeriksaan fungsi ginjal
Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus
urinarius bawah ataupun bagian atas. Dikatakan bahwa gagal ginjal
akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%. Gagal
ginjal menyebabkan resiko terjadinya komplikasi pasca bedah (25%)

lebih sering dibandingkan dengan tanpa disertai gagal ginjal (17%) dan
mortalitas menjadi 6 kali lebih banyak. Pasien LUTS yang diperiksa
ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalises 0,8% jika kadar
kreatinin serum normal dan sebanyak 18,9% jika terdapat kelainan
kadar kreatinin serum. Oleh karena itu pemeriksaan faal ginjal ini
berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pencitraan pada
saluran kemih bagian atas.
c. Pemeriksaan kadar PSA (Prostate Spesific Antigen)
Sebelum melakukan terapi pada pasien yang mengeluhkan gejala
LUTS para ahli urologi biasanya melakukan pemeriksaan rektal
toucher dan memeriksa kadar PSA serum. PSA disintesis oleh sel-sel
epitel prostat dan bersifat organ spesific tetapi bukan cancer spesific.
Kadar serum PSA dapat digunakan untuk memprediksi perjalanan
penyakit pada BPH. Kadar PSA yang tinggi dapat berarti :
pertumbuhan volume prostat yang lebih cepat, keluhan akibat
BPH/laju pancaran miksi yang jelek dan mudah terjadinya retensi urin
akut.
Rentang kadar PSA yang dianggap normal berdasarkan usia adalah :
40-49 tahun : 0-2,5 ng/ml
50-59 tahun : 0-3,5 ng/ml
60-69 tahun : 0-4,5 ng/ml
70-79 tahun : 0-6.5 ng/ml
Kadar PSA yang tinggi menunjukkan kemungkinan besar terjadi
kanker prostat, oleh karena itu sebagian besar ahli urologi
merekomendasikan pemeriksaan ini sebagai salah satu pemeriksaan
awal pada BPH, meskipun dengan syarat berhubungan dengan usia
dan harapan hidup pasien, sehingga jika memang terdiagnosis
karsinoma prostat tindakan radikal masih ada manfaatnya.
d. Uroflometri
Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urin selama proses
miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi
gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif. Dari
uroflometri dapat diperoleh informasi mengenai volume miksi,
pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qwave), waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum dan lama pancaran.

Pemeriksaan ini sangat mudah, non invasif dan sering dipakai untuk
mengevaluasi gejala obstruksi infravesika baik sebelum maupun
setelah mendapatkan terapi. Nilai Qmax dipengaruhi oleh usia, jumlah
urin yang dikeluarkan serta terdapat variasi individual yang cukup
besar. Oleh karena itu hasil uroflometri menjadi bermakna jia volume
urin >150 ml dan diperiksa berulang kali pada kesempatan yang
berbeda.
e. Pemeriksaan radiologi
Pencitraan traktus urinarius pada BPH meliputi pemeriksaan terhadap
traktus urinarius bagian atas maupun bawah dan pemeriksaan prostat.
Dahulu pemeriksaan IVP pada BPH dikerjakan oleh sebagian besar
ahli urologi untuk mengungkapkan adanya :
Kelainan pada saluran kemih bagian atas
Divertikel atau selule pada buli-buli
Batu pada buli-buli
Perkiraan volume residual urin
Perkiraan besarnya prostat
Pemeriksaan pencitraan terhadap pasien BPH dengan memakai IVP
atau USG ternyata 70-75% tidak menunjukkan adanya kelainan pada
saluran kemih bagian atas sedangkan yang menunjukkan kelanan
hanya sebagian kecil saja (10%) yang membutuhkan penanganan
berbeda dari yang lain. Oleh karena itu pencitraan saluran kemih
bagian atas tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan pada BPH,
kecuali jika pada pemeriksaan awal diketemukan adanya:
Hematuria
Infeksi saluran kemih
Insufisiensi renal (dengan melakukan pemeriksaan USG)
Riwayat urolitiasis
Riwayat pernah menjalani pembedahan pada saluran
urogenitalia
Pemeriksaan sistografi

maupun

uretrografi

retrograd

guna

memperkirakan besarnya prostat atau mencari kelainan pada buli-buli


saat ini tidak direkomendasikan. Namun pemeriksaan itu masih
berguna jika dicurigai adanya striktura uretra. Pemeriksaan USG
prostat bertujuan untuk menilai bentuk, besar prostat dan mencari
kemungkinan adanya karsinoma prostat. Pemeriksaan USG prostat

tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin, kecuali jika sedang


menjalani terapi :
Inhibitor 5- reduktase
Termoterapi
Pemasangan stent
TUIP
Prostatektomi terbuka
Menilai bentuk dan ukuran kelenjar prostat dapat dilakukan melalui
pemeriksaan trans abdominal (TAUS) ataupun trans rektal (TRUS).
Jika terdapat peningkatan kadar PSA, pemeriksaan USG melalui trans
rektal sangat dibutuhkan guna menilai kemungkinan adanya karsinoma
prostat.
2.7

Penatalaksanaan
Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup

pasien, terapi yang ditawarkan tergantung pada derajat keluhan, keadaan pasien
maupun kondisi objektif kesehatan pasien yang disebabkan oleh penyakitnya.
Pilihannya adalah mulai dari : tanpa terapi/observasi (watchful waiting),
medikamentosa dan terapi intervensi.

Tabel 1. Pilihan terapi pada Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)


Observasi

Medikamentosa

Watchfull waiting

Antagonis adrenergic
Inhibitor reduktase 5
Fitoterapi

Terapi Intervensi
Pembedahan
Invasif Minimal
Prostatektomi terbuka
TUMT
HIFU
Endourologi :
Stent Uretra
TUNA
TURP
ILC
TUIP
TULP

Elektrovavorasi
Keterangan : TURP : transurethral resection of the prostate, TUIP : transurethral
insicision of the prostate, TULP : transurethral laser prostatectomy, TUMT :
transurethral microwave thermotherapy, HIFU : high intensity focus ultrasound,
TUNA : transurethral needle ablation, ILC : interstisial laser coagulation.
a. Watchfull waiting
Watchfull waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi
perkembangan penyakit dan keadaannya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan
tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7,
yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada
watchful waiting ini, pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya
diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk
keluhannya, misalnya (1) jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi
atau alkohol setelah makan malam, (2) kurangi konsumsi makanan atau
minuman yang menyebabkan iritasi pada buli-buli (kopi atau cokelat), (3)
batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung mengandung
fenilpropanolamin, (4) kurangi makanan pedas dan asin dan (5) jangan
menahan kencing terlalu lama. Setiap 6 bulan pasien diminta untuk datang
kontrol dengan ditanya dan diperiksa tentang perubahan keluhan yang
dirasakan, IPSS, pemeriksaan laju pancaran urin, maupun volume residual
urin. Jika keluhan miksi bertambah jelek dari pada sebelumnya, mungkin
perlu difikirkan untuk memilih terapi yang lain.3
b. Medika Mentosa
Tujuan dari terapi medika mentosa adalah berusaha untuk mengurangi
resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik atau mengurangi
volume prostat sebagai komponen statik. Jenis-jenis obat yang digunakan
adalah antagonis reseptor adrenergik-, inhibitor 5-reduktase dan
fitofarmaka.3
1. Antagonis reseptor adrenergik-
Pengobatan dengan antagonis adrenergik- bertujuan menghambat
kontraksi otot polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher
buli-buli dan uretra. Fenoksibenzamine adalah obat antagonis

adrenergik- non selektif yang pertama kali diketahui mampu


memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi.
Namun obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebabkan
komplikasi sistemik yang tidak diharapkan, diantaranya adalah
hipotensi postural dan menyebabkan penyulit lain pada sistem
kardiovaskuler.3
Ditemukannya obat antagonis reseptor adrenergik-1 dapat mengurangi
penyulit sistemik yang diakibatkan oleh efek hambatan pada 2 dari
fenoksibenzamin. Beberapa golongan obat antagonis 1 adalah
prazosin yang diberikan 2 kali sehari, afluzosin dan doksazin yang
diberikan sekali sehari, obat golongan ini dilaporkan dapat
memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. Antagonis
reseptor-1 merupakan obat pilihan pertama pada laki-laki dengan
gejala LUTS sedang-berat.
Akhir-akhir ini ditemukan pula golongan antagonis 1a yaitu tamsolusin
yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Dilaporkan bahwa
obat ini mampu memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek
terhadap tekanan darah maupun denyut jantung.
Efektivitas obat golongan antagonis adrenergik- tergantung pada
dosis yang diberikan, yaitu makin tinggi dosis, efek yang diinginkan
makin nyata, namun disamping itu komplikasi yang timbul pada sistem
kardiovaskuler semakin besar. Untuk itu sebelum dilakukan terapi
jangka panjang, dosis obat yang diberikan harus disesuaikan dulu
dengan cara meningkatkannya secara perlahan-lahan (titrasi) sehingga
diperoleh dosis yang aman dan selektif. Dikatakan bahwa salah satu
kelebihan dari golongan obat antagonis adrenergik-1a (tamsulosin)
tidak perlu melakukan titrasi seperti golongan obat yang lain.
Tamsulosin masih tetap aman dan efektif walaupun diberikan hingga 6
tahun.2
2. Inhibitor 5-reduktase
Inhibitor 5-reduktase bekerja dengan cara menghambat pembentukan
dehidrotestosteron (DHT) dari testosteron yang dikatalisis oleh enzim
5-reduktase didalam sel prostat. Menurunnya kadar DHT akan
menyebabkan sintetis protein dan replikasi sel-sel prostat menurun.

Dilaporkan bahwa pemberian obat ini (fenesteride) 5 mg sehari selama


6 bulan mampu menyebabkan penurunan prostat hingga 28%, hal ini
memperbaiki keluhan miksi dan pancaran miksi. Inhibitor 5reduktase hanya diberikan dengan gejala LUTS sedang sampai berat
dan pembesaran prostat diatas 40 mg atau pada kadar konsentrasi PSA
yang tinggi (>1,4-1,6 g/L), dikarenakan waktu mulai kerja obat 5reduktase inhibitor yang lama maka obat golongan ini cocok untuk
pengobatan jangka panjang (beberapa tahun)2,3
3. Fitofarmaka
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk
menurunkan

gejala

akibat

obstruksi

prostat,

tetapi

data-data

farmakologi tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme


kerja obat fitoterapi sampai saat ini masih belum diketahui secara
pasti. Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai anti estrogen. Anti
estrogen ini merupakan kadar sex hormone binding globulin (SHBG),
inhibisi basic fibroblast growth factor (bFGH) dan epidermal growth
factor (EGH), mengacaukan metabolisme prostaglandin, efek anti
inflamasi, menurunkan outflow resistensi dan memperkecil volume
prostat.3 Diantara fitoterapi yang banyak dipasaran adalah Pygeum
africanum, Sereno repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica, dll.
c. Operasi (pembedahan terbuka dan pembedahan endoneurologi)
Penyelesaian masalah pasien BPH jangka panjang yang paling baik saat
ini adalah pembedaan, karena pemberian obat-obatan atau terapi noninvasive lainnya membutuhkan jangka waktu yang sangat lama untuk
melihat hasil terapi.
Desobstruksi kelenjar prostat akan menyembuhkan gejala obstruksi dan
miksi yang tidak puas. Hal ini dapat dikerjakan dengan operasi terbuka,
reseksi prostat transuretra (TURP) dan insisi prostat transuretra (TUIP.
Pembedahan direkomendasikan pada pasien-pasien BPH yang tidak
menunjukkan perbaikan setelah terapi medika mentosa, mengalami retensi
urin berulang, infeksi saluran kemih berulang, hematuria, gagal ginjal dan
timbulnya batu saluran kemih.2
1. Prostatektomi terbuka
Prostatektomi terbuka merupakan cara yang paling tua, paling invasive
dan paling efisien diantara tindakan BPH yang lain dan memberikan

perbaikan gejala BPH 98%. Pembedahan terbuka ini dikerjakan


melalui pendekatan transvesikal yang pertama kali diperkenalkan oleh
Hryntshack dan pendekatan retropubik yang dipopulerkan oleh
Millin.10
2. TURP (Trans Uretral Resection Prostate)
Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dan digunakan cairan
irigasi. Cairan irigasi ini berfungsi agar darah yang direseksi tetap
terang dan tidak tertutup oleh darah. Cairan yang digunakan berupa
larutan non ionic yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik
pada saat operasi, cairan yang digunakan biasanya H2O steril
(aquades).
Salah satu kekurangan aquades adalah sifatnya yang hipotonik
sehingga bisa masuk ke sirkulasi melalui pembuluh darah. Kelebihan
H2O dapat menimbulkan terjadinya hiponatremi relative atau gejala
intoksikasi air atau yang dikenal dengan sindroma TURP. Untuk
mengurangi resiko terjadinya sindroma TURP, operator harus
membatasi untuk tidak melakukan reseksi lebih dari satu jam.
Penggunaan cairan non ionic lain selain H2O seperti Glisin dapat
mengurangi resiko hiponatremi tetapi harganya yang cukup mahal
sehingga aquades masih tetap menjadi pilihan.10
3. TUIP (Trans Uretral Insition Prostate)
TUIP direkomendasikan pada prostat yang ukurannya kecil (< 30 cm 3),
tidak dijumpai pembesaran lobus medius dan tidak ditemukan adanya
kecurigaan terhadap karsinoma prostat. Teknik ini dipopulerkan oleh
Orandi pada tahun 1973, dengan melakukan mono insisi atau bilateral
insisi menggunakan pisau colling mulai dari muara ureter, leher bulibuli sampai ke veromontanum. Insisi diperdalam hingga kapsula
prostat, waktu operasi yang dibutuhkan lebih cepat dan sedikit
menimbulkan komplikasi dibandingkan TURP.
4. Laser Prostatektomi
Energi laser mulai dipakai sebagai terapi BPH sejak tahun 1986, yang
dari tahun ke tahun mengalami penyempurnaan, kelenjar prostat pada
suhu 600-650 C akan mengalami koagulasi dan pada suhu yang lebih
dari 1000C mengalami vaporasi.

Terapi leher ini lebih sedikit menimbulkan komplikasi dan proses


penyembuhan pasca operasi yang lebih cepat, tetapi kemampuan dalam
meningkatkan perbaikan gejala miksi maupun Qmax tidak sebaik
TURP. Selain itu kekurangan tindakan ini adalah tidak dapat diperoleh
jaringan untuk pemeriksaan patologi.2
5. TUMT (Trans Uretral Microwave Therapy)
TUMT bekerja dengan cara memancarkan gelombang radiasi mikro
yang dipancarkan oleh antena yang dimasukkan intrauretra. Radiasi
gelombang mikro ini menyalurkan energi panas pada suhu diatas
ambang suhu sitotoksik (>450 C) yang dapat menyebabkan koagulasi
nekrosis

pada

kelenjar

prostat.

Panas

yang

dihasilkan

juga

menyebabkan apoptosis dan denervasi reseptor sehingga mengurangi


tonus otot polos uretra pars prostatika.2
6. TUNA (Trans Uretral Needle Ablation of prostate)
Teknik ini memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan
panas sampai 1000 C, sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat.
Sistem ini terdiri atas kateter TUNA ang dihubungkan dengan
generator yang dapat membangkitkan energi pada frekuensi radio 490
kHz. Kateter dimasukkan kedalam uretra melalui sistoskopi dengan
pemberian anastesi topikal xylocain sehingga jarum yang terletak pada
ujung kateter terletak pada kelenjar prostat. Teknik ini tidak cocok
pada pasien dengan volume prostat >75 ml.
7. Stent
Stent prostat dipasang pada uretra pars prostatika untuk mengatasi
obsruksi karena pembesaran prostat. Stent dipasang intraluminal
diantara leher buli-buli dan disebelah proksimal verumontatum
sehingga urin dapat leluasa melewati lumen uretra pars prostatika.
Stent dapat dipasang sementara atau permanen, yang sementara
dipasang selama 3-36 bulang dan terbuat dari bahan yang tidak diserap
dan tidak mengadakan reaksi dengan jaringan. Alat ini dipasang dan
dilepas kembali secara endoskopi. Stent permanen terbuat dari
anyaman bahan logam super alloy, nikel atau titanium, dalam waktu
yang lama bahan ini akan diliputi oleh urotelium sehingga jika suatu

saat ingin dilepas memerlukan anastesi umum atau regional.


Pemasangan stent biasanya dilakukan pada pasien yang tidak mungkin
menjalani operasi karena resiko pembedahan yang cukup tinggi.3

BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan
1. BPH merupakan istilah histopatologis yaitu terdapat hiperplasia sel-sel
stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat.
2. Hiperplasia prostat mempunyai angka kejadian yang bermakna pada
populasi pria usia lanjut.
3. Etiologi dari hiperplasia prostat hingga saat ini masih belum diketahui
secara pasti, beberapa teori menyebutkan timbulnya BPH : (1) Teori
dihidrotestosteron, (2) ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron, (3)
interaksi antara sel struma dan sel epitel prostat, (4) berkurangnya
kematian sel, (5) teori stem sel.
4. Gejala BPH dibagi atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala
obstruktif disebabkan penyempitan uretra pars prostatika karena didesak
oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot destrusor untuk
berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama, sehingga kontraksi terputusputus. Sedangkan gejala iritatif disebabkan adanya pengosongan vesika
urinaria yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh karena
hipersensitifitas otot destrusor karena pembesaran prostat menyebabkan
rangsangan pada vesika urinaria, sehingga vesika sering berkontraksi
meskipun belum penuh.
5. Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas berbagai pemeriksaan
awal dan pemeriksaan tambahan.
6. Pilihan terapi BPH dapat diberikan pada pasien dengan derajat gejala
tertentu : Pasien dengan IPSS score 0-7 dapat dilakukan watchfull waiting,

pasien dengan IPSS score 8-18 dapat dilakukan terapi medikamentosa,


pasien dengan IPSS score 9-35 dapat dilakukan operasi.

7. Penatalaksanaan terapi pada BPH dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu :


Observasi (watchfull waiting), medikamentosa, operatif dan invasif
minimal.
8. Trans Uretral Resection Prostate (TURP) masih merupakan prosedur
bedah yang lebih disukai untuk penanganan BPH.

DAFTAR PUSTAKA

1. IAUI. Panduan penatalaksanaan benign prostat hyperplasia di Indonesia.


2013.
2. EAU. Guidelines on the management of male urinary tract symptoms incl.
benign prostatic obstruction. 2013.
3. Myers, Robert P. 2000. Structure of the adult prostate from a clinicians
stand point. Clinical anatomy. 13 (3) : 214-5.
4. Kozar Rosemary A, Moore Frederick A. Schwartzs Principles of Surgery.
8th edition. Singapore : The Mc Graw-Hill Companies, Inc. 2005.
5. Purnomo Basuki. Dasar-dasar urologi edisi kedua. Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya. Malang. 2009.
6. Sjamsuhidayat R, de Jong W. Buku ajar ilmu bedah edisi revisi, Jakarta :
EGC. 2005.
7. Anonim. Normal Prostate and Benign Prostate Hyperplasia. 2008.
http://www_med_nyu_edu/healthwise/media/medical/nci/cdr0000462221/j
(diakses 15 Oktober 2014)
8. Kevin T. BPH : epidemiology and comorbidities. AJMC. New York. 2006.
9. Bosch. Phatofisiological aspect of BPH. Rotherdam University. 1995.
10. Briganti Alberto. Benign prostatic hyperplasia and its etiologies. Europian
urology suplement. 2009.