Anda di halaman 1dari 10

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kriteria Kemampugalian


Kemampugalian adalah suatu parameter penentuan penggalian suatu
material yang didasarkan pada karakteristik material tersebut. Kemampugalian
suatu material ditentukan untuk mengetahui cara paling efektif dan efisien dalam
menggali atau membongkar material tersebut. Kemampugalian suatu material
pada umumnya terdiri dari empat jenis (menurut Franklin, 1971), yakni :
1. Penggalian (digging).
2. Penggaruan (ripping).
3. Peledakan peretakan (blast to loosen).
4. Peledakan pembongkaran (blast to freacture).

sumber: tentangtambangbatubara.blogspot.com

Foto 2.1
(a) Penggalian, (b) Penggaruan dan (c)Peledakan

Penentuan kemampugalian menurut Franklin (1971) didasarkan pada dua


macam parameter, yaitu. :
1. Kekuatan batuan, dimana kekuatan batuan atau kuat tekan
maksimum batuan didapatkan dari pengujian kuat tekan
batuan yang dapat dilakukan menggunakan pengujian point
load dan (Uniaxial Compression Strength).
2. Fracture spacing per metre, dimana parameter fracture
spacing per metre atau jarak kekar per satuan meter
didapatkan

dari

hasil

pengukuran

lapangan

berupa

pengukuran jumlah kekar per satuan meter.


Penentuan kemampugalian berdasarkan teori Franklin (1971) dilakukan
dengan cara grafis melalui pengeplotan berdasarkan parameter nilai kuat tekan
tertinggi batuan dan jumlah kekar per satuan meter (Fracture spacing per metre).

sumber: Scribe.com/kemampugalian-Franklin/2011

Gambar 2.1
Grafik Penggalian Franklin (1971)

2.2 Pengertian Bahan Peledak


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahan peledak adalah material
yang tidak stabil secara kimia atau energikal, atau dapat menghasilkan
pengembangan mendadak dari bahan tersebut diikuti dengan penghasilan panas
dan perubahan besar pada tekanan (dan biasanya juga kilat atau suara besar)
yang biasa disebut ledakan.
Bahan Peledak merupakan suatu senya kimia yang berwenyawakan
tunggal maupun campuran yang berbentuk padat, cair ataupun campuran yang
bilamana bereaksi terhadap panas, benturan gesekan atau picuan ledakan awal
akan mengalami reaksi eksotermis yang bereaksi sangat cepat yang bentuk
reaksinya berupa gas disertai panas dan tekanan yang sangat tinggi dimana
memiliki reaksi kimia yang stabil setelahnya.

Hasil dari suatu ledakan bahan peledak dapat berupa :

1. Panas yang sangat tinggi, 4000C.


2. Tekanan Tinggi, 100.000 atm.
3. Energi 25.000 MW.

Sumber: www.lensaindonesia.com/

Foto 2.2
Bahan Peledak

2.3 Klasifikasi Bahan Peledak


2.3.1

Klasifikasi Bahan Peledak Berdasarkan Kegunaannya

Bahan peledak berdasarkan kegunaannya dilapangan dibagi menjadi dua


macam yakni :
1. Bahan peledak militer, kegunaan pada bidang kemiliteran
seperti perang.

Sumber: www.lriemetalui.wordpress.com/Bahan -peledak-militer

Foto 2.3
Bahan Peledak Militer

2. Bahan peledak komersil, untuk keperluan industrial, sipil dan


tambang.

Sumber: www.lensaindonesia.com/Peledakan-komersil-tambang

Foto 2.4
Peledakan Komersil pada Bidang Pertambangan

2.3.2

Klasifikasi

Bahan

Peledak

Berdasarkan

Sumber

Energinya
Berdasarkan sumber energi ledakannya, bahan peledak dapat dibagi
menjadi tiga macam, yakni
1. Bahan Peledak Mekanis
Prinsip dasar dari bahan peledak mekasi yakni senyawa yang ada di
dalam bahan peledak mekanis bereaksi dan berubah menjadi gas
dikarenakan suatu panas yang dimasukkan ke dalam bahan peledak
tersebut.
Contohnya adalah Cardox, yaitu bahan peledak yang terdiri dari suatu
tabung dengan penutup yang mudah retak yang berisi CO2 cair.
2. Bahan Peledak Kimia
Prinsip dasar dari bahan peledak kimia yakni menggunakan reaksi kimia
didalamnya yang dipicu menggunakan reaksi eksotermis berupa panas,
benturan dan ledakan sehingga senyawa didalamnya bereaksi menjadi
gas panas bertekanan tinggi.

Sumber: www.lensaindonesia.com/Peledakan-komersil-tambang

Foto 2.5
Dayagel (Bahan Peledak Kimia)

3. Bahan Peledak Nuklir


Prinsip dasar bahan peledakan nuklir yakni bahan peledak yang
umumnya terbuat dari plutonium, uranium 235, atau bahan-bahan sejenis
yang mempunyai sifat atom aktif, sehingga saat dipicu panas, benturan

dan ledakan dapat bereaksi menjadi gas bertekanan tinggi dan sinar alfa
dan teta.

Sumber: www.lbulletofmillitery.com/Peledakan-nuklir

Gambar 2,2
Mortir (Bahan Peledak Nuklir)

2.3.3
Berdasarkan

Klasifikasi Bahan Peledak Berdasarkan Kekuatannya


tingkat kekuatan ledakannya, bahan peledak dapat

diklasifikasikan dalam 2 jenis yakni


1. Bahan Peledak Kuat
Bahan peledak kuat memiliki kekuatan tekanan sangat tinggi berkisar
50.000 4.000.000 psi. Sifat reaksinya adalah detonasi, yaitu penyebaran
gelombang kejut (shock wave). Bahan peledak kekuatan tinggi ini memiliki
kecepatan reaksi sangat tinggi, yaitu 5.000 24.000 fps

(1-6 mil

perdetik).
Bahan peledak kuat tebagi menjadi dua jenis yakni :
a. Primer, yaitu bahan peledak yang mudah meledak bila
bereaksi terhadap api, benturan, atau gesekan, misalnya
PbN6, Hg(ONC)2, yaitu untuk bahan isi detonator.
b. Sekunder, yaitu bahan peledak yang hanya akan meledak
apabila dipicu oleh ledakan dari sebuah detonator atau
primer. Contohnya adalah TNT (Tri Nitro Toluene) dan
PETN.

Sumber: www.lensaindonesia.com/pure-TNT

Foto 2.6
Serbuk Murni TNT

2. Bahan Peledak Lemah


Bahan peledak lemah memiliki kekuatan berupa tekanan yang dihasilkan
rendah berkisar dibawah 50.000 psi dengan kecepatan reaksi rendah
berkisar dibawah 5.000 fps.
Bahan peledak lemah terbagi menjadi dua jenis, yakni :
a. Permissible, yaitu peledakan yang dapat ditekan suhunya
menggunakan zat pendingin sebagai raegen.
b. Non-permissible, yaitu peledakan berkekuatan lemah tanpa
adanya penambahan zat raegen sebagai pendingin.

Sumber: www.lbulletofmillitery.com/diagram-klasifikasi-bahan -peledak

Gambar 2.3
Flowchart Klasifikasi Bahan Peledak

2.4 Sifat Fisik Bahan Peledak


Sifat fisik bahan peledak merupakan sifat-sifat yang terdapat pada fisik
bahan peledan yang dimana sifat tersebut dapat mempengaruhi hasil
ledakannya. Sifat sifat fisik bahan peledak yakni :

2.4.1 Kekuatan (Strength)


Kekuatan bahan peledak merupakan besaran energi yang dimiliki oleh
bahan peledak, dimana besaran energi tersebut menjadi ukuran kemampuan
bahan peledak tersebut untuk melakukan kerja yang umumnya

dinyatakan

dalam bentuk persen (%).


2.4.2 Kecepatan Detonasi
Kecepatan Detonasi atau velocity of detonation (VOD) adalah kecepatan
rambat gelombang detonasi yang merambat sepanjang lubang bahan peledak,
dinyatakan dalam satuan meter/detik. Kecapatan rambatan gelombang tersebut
tergantung dari :
1.
2.
3.
4.

Jenis bahan peledak (ukuran butir, bobot isi).


Diameter dodol (diameter lubang ledak)
Derajat pengurungan (degree of confinement)
Penyalaan awal (initiating)

2.4.3 Kepekaan (Sensivity)


Kepekaan (Sensivity) yaitu ukuran dari besarnya impuls gelombang
detonasi yang diperlukan oleh bahan peledak untuk bereaksi dan menyebarkan
reaksi tersebut keseluruh isian lubang ledak. Kepekaan bahan ledak ini
dipengaruhi oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Komposisi kimia.
Ukuran butir.
Bobot isi.
Kandungan air pada lubang ledak.
Temperatur.
2.4.4 Bobot Isi Bahan Peledak (Density)
Bobot Isi Bahan Peledak (density) merupakan perbandingan antara berat

dan volume bahan peledak.


2.4.5 Tekanan Detonasi (Detonation Pressure)
Tekanan Detonasi (Detonation Pressure) adalah penyebaran tekanan
gelombang ledakan dalam kolom isian bahan peledak, dinyatakan dalam kilobar
(kb)
2.4.6 Ketahanan Terhadap Air (Water Resistance)
Ketahanan Terhadap Air (Water Resistance) merupakan kemampuan
bahan peledak dalam menahan air dalam waktu tertentu tanpa merusak,
merubah atau mengurangi kepekaannya.
2.4.7 Sifat Gas Beracun (Fumes)
Fumes merupakan gas beracun berwarna kuning dan berbahaya karena
sifatnya beracun, yaitu terdiri dari karbon monoksida (CO) dan oksida nitrogen

(Nox). Yang terbentuk bilamana peledakan tidak memiliki keseimbangan oksigen


yang dapat disebabkan oleh :
1. Pencampuan ramuan bahan peledak yang meliputi unsur
oksida dan bahan bakar tidak seimbang, sehingga tidak
mencapai zero oxygen balance
2. Letak bahan peledak primer kurang tepat.
3. Kurang tertutup karna pemasangan stemming kurang padat
dan kuat.
4. Terdapatnya air dalam lubang ledak.
5. Sistem waktu tunda (delay time system) kurang tepat
6. Kemungkinan adanya reaksi antara bahan peledak dengan
batuan samping pada lubang ledak

2.5 Reaksi dan Produk Bahan Peledak


Reaksi yang terjadi merupakan reaksi eksotermis yang dipicu oleh adanya
panas, gesekan dan ledakan. Panas merupakan permulaan terjadinya proses
dekomposisi bahan kimia pembentuk bahan peledak yang dapat menimbulkan
pembakaran yang kemudian dilanjutkan dengan deflragrasi dan terakhir
detonasi.
2.5.1
Pembakaran

Pembakaran
adalah reaksi

eksotermis

yang

terjadi

dan

dijaga

keberlangsungan reaksinya oleh panas yang dihasilkan dari reaksi itu sendiri,
dimana

produk reaksinya berupa pelepasan gas-gas. Reaksi pembakaran

membutuhkan unsur oksigen (O2) baik yang terdapat di alam bebas maupun dari
ikatan molekuler bahan atau material yang terbakar..
Contoh reaksi pembakan adalah reaksi minyak disel (diesel oil) yang
terbakar sebagai berikut:
CH3(CH2)10CH3 + 18 O2 12 CO2 + 13 H2O
2.5.2

Deflagrasi

Deflagrasi merupakan proses kimia eksotermis yang transmisi dari reaksi


dekomposisi

didasarkan

pada

konduktivitas

termal

(panas).

Deflagrasi

merupakan fenomena reaksi permukaan yang reaksinya meningkat menjadi


ledakan dan menimbulkan gelombang kejut (shock wave) dengan kecepatan
rambat rendahberkisar antara 300 1000 m/s atau lebih rendah dari kecepatan
suara (subsonic).
Contohnya Deflagrasi pada reaksi peledakan low explosive (black
powder) sebagai bagai berikut:

10

20NaNO3 + 30C + 10S ------> 6Na2CO3 + Na2SO4 + 3Na2S +14CO2 + 10CO +


10N2

2.5.3

Ledakan

Ledakan merupakan ekspansi seketika dari gas bervolume kecil menjadi


gas bervolume lebih besar dari sebelumnya yang diiringi suara keras serta efek
mekanis

yang

merusak.

Ledakan

tidak

melibatkan

reaksi

kimia,

tapi

kemunculannya disebabkan oleh transfer energi ke gerakan massa yang


menimbulkan efek mekanis yang merusak disertai panas dan bunyi yang keras.
Contoh ledakan ban sepeda yang akan meledak jika dipanaskan secara
terus menerus sehingga terjadi pemuaian yang diiringi dengan pertambahan
volume.
2.5.4
Detonasi

Detonasi
merupakan

suatu

proses

kimia-fisika

yang

mempunyai

kecepatan reaksi sangat tinggi yang menyebarkan tekanan panas ke seluruh


zona peledakan dalam bentuk gelombang tekan kejut (shock compression
wave), sehingga menghasilkan gas dan temperature sangat besar yang
semuanya membangun ekspansi gaya yang sangat besar. Kecepatan reaksi
yang sangat tinggi tersebut dan proses ini berlangsung terus menerus untuk
membebaskan energi hingga berakhir dengan ekspansi hasil reaksinya.
Shock compression wave mempunyai daya dorong sangat tinggi dan
mampu merobek retakan yang sudah ada sebelumnya menjadi retakan yang
lebih besar. Disamping itu shock wave dapat menimbulkan symphatetic
detonation, oleh sebab itu peranannya sangat penting di dalam menentukan
jarak aman (safety distance) antar lubang.
Kecepatan rambat reaksi pada proses detonasi ini berkisar antara 3000
7500 m/s.
Contoh proses detonasi terjadi pada jenis bahan peledakan antara lain:

TNT
ANFO
NG

: C7H5N3O6 1,75 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 5,25 C


: 3 NH4NO3 + CH2 CO2 + 7 H2O + 3 N2
: C3H5N3O9 3 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 0,25 O2

11

NG + AN : 2 C3H5N3O9 + NH4NO3 6 CO2 + 7 H2O + 4 N4 + O2