Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesulitan dalam menentukan hubungan sebab-akibat karsinogenisitas,
Mutagenisitas, atau teratogenitas dalam populasi manusia untuk senyawa tertentu,
karena periode yang panjang. Induksi kerusakan kromosom adalah salah satu
metode yang digunakan untuk mengevaluasi potensi karsinogenik, mutagenik
efek, atau teratogenik dari metabolit siklamat (felix, 1971).
Pewarisan sifat/fenotip tertentu terkadang dipengaruhi oleh jenis kelamin,
terutama pada sifat-sifat yang di kode oleh kromosom kelamin. Sifat atau fenotip
tersebut dikenal dengan istilah pautan kelamin. Pautan kelamin pertamakali
ditemukan oleh T.H Morgan.
Herkowitz (1972, dalam Khoirul Abidin, 1997) menyatakan, The
incidence of nondisjunction in Drosophila can be increased by high energy
radiation as well as by carbon dioxide and other chemical substance
Berdasarkan pernyataan diatas Khoirul Abidin (1997) yang meneliti
pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi nondisjunction D. Melanogaster
strain N><w, hasil penelitiannya menunjukkan tidak ada pengaruh sodium
siklamat terhadap frekuensi nondisjunction, namun menurut pendapatnya bukan
berarti sodium siklamat tidak berpengaruh, hal ini mungkin dikarenakan
konsentrasi sodium siklamat yang digunakan terlalu kecil. Oleh karena itu,
peneliti bermaksud meneruskan penelitian tersebut dengan meningkatkan
konsentrasi sodium siklamat.
Judul penelitian ini adalah Pengaruh Sodium Siklamat dan Macam Strain
Terhadap Frekuensi Nondisjunction Persilangan Drosophila Melanogaster Strain
N><w, N><y Beserta Resiproknya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah,
1. Apakah ada pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi Nondisjunction
pada persilangan D. melanogaster strain Nw dan Ny beserta
resiprok?
2. Apakah macam strain berpengaruh terhadap frekuensi Nondisjunction pada D.
melanogaster?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah,
1. Mengetahui pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi Nondisjunction
pada persilangan D. melanogaster strain Nw dan Ny beserta
resiprok.
2. Mengetahui

apakah

macam

strain

berpengaruh

terhadap

frekuensi

Nondisjunction pada persilangan D. melanogaster.


D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini memiliki kegunaan baik dari segi pengembangan ilmu
maupun terapan, antara lain:
1. Menambah pengetahuan mahasiswa Biologi UM angkatan 2009 offering GG
tentang pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi nondisjunction D.
melanogaster strain Nw dan Ny beserta resiprok
2. Menambah pengalaman, ketrampilan, dan kecakapan dalam melakukan
penelitian.
E. Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
Ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi,
1. Persilangan yang di lakukan adalah tipe persilangan heterogami strain D.
melanogaster strain Nw dan Ny beserta resiprok
2. Mengamati fenotip dan menghitung jumlah anakan F1 dan F2 dengan membuat
proporsi rasio fenotip yang muncul.
Batasan masalah dalam penelitian ini meliputi,
1. Fenotip yang diamati adalah warna tubuh, warna mata, dan bentuk sayap dan
juga jenis kelamin.

2. Strain yang digunakan adalah N, w, dan y.


3. Sodium siklamat yang digunakan adalah merek Neotogen yang di produksi
oleh P.T Wihadil.
4. Pemanis buatan yang digunakan mengandung 99% sodium siklamat.
F. Asumsi Penelitian
1. Semua medium dalam tiap-tiap botol pada stok dan perlakuan kontrol dari
awal sampai akhir penelitian dianggap sama.
2. Sodium siklamat yang digunakan adalah sama dari awal sampai akhir
penelitian.
3. Semua sodium siklamat pada tiap-tiap ulangan konsentrasi adalah sama
4. Semua kondisi lingkungan seperti suhu, cahaya, kelembapan, dan tempat
perkembangbiakan selama penelitian berlangsung dianggap sama.
G. Definisi Operasional
1. Pengampulan adalah kegiatan memindahkan pupa hitam kedalam selang yang
telah diberi pisang yang kemudian ditutup dengan busa.
2. Peremajaan adalah kegiatan mengembangbiakkan lalat dari stok 3 pasang
kedalam medium baru.
3. Fenotipe adalah ciri tubuh yang dapat diamati pada suatu individu.
4. Genotip adalah keseluruhan jumlah informasi genetik yang tergantung pada
suatu individu.
5. Perkawinan resiprok adalah perkawinan kebalikan dari perkawinan yang
semula dilakukan.
6. Strain adalah suatu kelompok intra spesifik yang memiliki hanya satu atau
sejumlah kecil ciri yang berbeda, biasanya secara genetik dalam keadaan
homozigot untuk ciri-ciri tersebut atau galur murni.
7. Alela adalah sepasang kromosom homolog sesamanya (memiliki lokus yang
sama).
8. Homozigot adalah individu yang genotipnya terdiri dari alel yang sama.
9. Heterozigot adalah individu yang genotipnya terdiri dari sepasang alel yang
tidak sama.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Sistematika
Drosophila melanogaster meupakan jenis lalat buah, dimasukkan dalam
filum Artropoda kelas Insekta bangsa Diptera, anak bangsa Cyclophorpha
(pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw
hooks), seri Acaliptrata (imago menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa),
suku Drosophilidae. Jenis Drosophila melanogaster di Indonesia terdapat sekitar

600 jenis, pulau Jawa sekitar 120 jenis dari suku Drosophilidae (Wheeler dalam
Santoso, 2009).
Menurut Storer (1975) dan Bock (1976) dalam Kusumawati (1995)
sistematika Drosophila melanogaster adalah
Filum

Arthropoda

Kelas

Insecta

Anak kelas

Pterygota

Bangsa

Diptera

Anak Bangsa :

Cyclorrhapha

Suku

Drosophilidae

Marga

Drosophila

Spesies

Drosophila melanogaster

B. Deskripsi D. melanogaster
Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu
seri segmen yang teratur. Segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu;
kepala, thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya, Drosophila
ini mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral
(punggung-perut). Pada Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di
dalam telur memberi informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini
bahkan sebelum fertilisasi. setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya
akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen. Drosophila memiliki ciri
morfologi yang berbeda antara jantan dan betinanya. Pada Drosophila jantan
Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang betina.
Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin.Sedangkan
pada yang betina ukuran relatif lebih besar,memiliki 6 ruas pada bagian abdomen
dan tidak memiliki sisir kelamin. (Soemartomo.S.S dalam Santoso, 2009).
Drosophila melanogaster normal memiliki mata yang berwarna merah
berbentuk elips. Terdapat pula mata oceli yang ukurannya jauh lebih kecil dari
mata majemuk, berada pada bagian atas kepala, di atas di antara mata dua mata
majemuk, berbentuk bulat (Ghostrecon dalam Santoso, 2009).

Selain itu, Drosophila melanogaster normal memiliki sungut yang


berbentuk tidak runcing dan bercabang-cabang. Kepala berbentuk elips. Thorax
terlihat berwarna krem, ditumbuhi banyak bulu, dengan warna dasar putih.
Abdomen bersegmen lima, segmen terlihat dari garis-garis hitam yang terletak
pada abdomen. Sayap Drosophila normal memiliki ukuran yang panjang hingga
melebihi abdomen lalat, lurus, dan bermula dari thorax dengan warna transparan
(Ghostrecon dalam Santoso, 2009).
C. Peristiwa Meiosis
Meiosis merupakan cara pembelahan sel yang khusus, terjadi pada waktu
pematangan sel-sel benih, yang membagi angka kromosom menjadi setengahnya.
Pemisahan

(penyebaran)

kromosom

homolog

sewaktu

meiosis

melalui

pembelahan reduksi (Pai, 1985). Lanjut Pai bahwa beberapa dari tahap-tahap
meiosis sangat menyerupai tahap-tahap terkait yang terdapat pada mitosis.
Meiosis seperti halnya mitosis, didahului oleh replikasi kromosom. Namun,
replikasi tunggal ini diikuti oleh dua pembelahan sel yang berurutan disebut
dengan meiosis I dan meiosis II. Pembelahan ini menghasilkan empat sel anak,
masing-masing hanya mempunyai setengah dari jumlah kromosom sel induk.
D. Penetuan Kelamin pada Drosophila melanogaster
Tidak semua organisme yang bereproduksi secara seksual mempunyai
sistem penetuan kelamin seperti pada manusia, misalnya D. melanogaster, lalat
buah, mempunyai suatu mekanisme yang seimbang. Suatu keseimbangan antara
jumlah perangkat otosom dan jumlah kromosom X, menentukan fenotip seksual
lalat buah (Pai,1985).
Menurut Corebima (2004) pada Drosophila melanogaster terdapat
kromosom kelamin X dan Y. Dalam keadaan diploid normal ditemukan pasangan
kromosom kelamin XX dan XY, atau pasangan kromosom secara lengkap sebagai
AAXX dan AAXY (jumlah autosom sebanyak tiga pasang). Mekanisme ekspresi
kelamin pada Drosophila melanogaster dikenal sebagai suatu mekanisme
perimbangan antara X dan A atau X/A. Lanjut Pai (1985) dalam Corebima (2004)

menyebutkan mekanisme itu sebagai suatu mekanisme keseimbangan determinasi


kelamin.
Dari eksperimen Bridges dalam Novitasari (1992) dihasilkan variasikombinasi kromosom X dengan autosom pada Drosophila. Dari perbandinganperbandingan tersebut disimpulkan bahwa perbandingan satu kromosom X dan
dua set autosom menghasilkan lalat jantan Normal (XAA) atau jantan diploid,
dengan rasio kromososm X dengan autosom 0,5. Kombinasi dua kromosom X
dengan dua perangkat autosom (2X + 2A, rasio 2 : 2 = 1) menghasilkan betina
diploid. Pada rasio perbandingan kromosom X dengan autosom 3:2 dihasilkan
lalat betina yang metafemales. Lalat bergenotip XXY (2X/2A) adalah betina
normal sedangkan genotip XO (1X/2A) adalah lalat jantan tetapi steril. Pada lalat
XO secara fisiologi sperma terbentuk tetapi sperma tersebut non motil. Hal
tersebut menunjukkan bahwa kromosom Y pada D. melanogaster tidak
berperanan pada penetuan jenis kelamin. Tetapi kromosom Y berperanan dalam
menentukan fertilitas jantan. Seperti yang disebutkan Ayala (1984) dalam
Corebima (2004) bahwa kromosom Y Drosophila melanogaster mengandung gengen untuk spermatogenesis. Untuk lebih jelasnya, perbandingan kromosom X
dengan autosom yang menentukan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 2.1

E. Pautan Kelamin
Temuan pertama tentang kebakaan yang terpaut kelamin adalah pada
Drosophila, sebagaimana yang dilaporkan T.H. Morgan pada tahun 1910, dan gen
terkait dengan kebakaan yang terpaut kelamin itu terletak pada kromosom
kelamin X, tepatnya pada lokus w (Gardner dkk,1991 dalam Corebima 2003).
Sebagian besar gen yang terpaut kelamin pada hewan-hewan jantan heterogamet
terletak pada kromosom X (Gardner dkk,1991 dalam Corebima 2003).
Pewarisan sifat-sifat (fenotip) yang terpaut kromosom kelamin X
mengikuti

suatu

pola

khas,

yaitu

crisscross

pattern

of

inheritance

(Stansfield,1983: Gardner dkk, 1991 dalam Corebima 2003). Crisscross pattern of


inheritance adalah pewarisan menyilang. Dalam ini suatu sifat fenotip yang ada
pada induk betina diwariskan dan terekspresikan pada turunan jantan
(Rothwell,1991 dalam Corebiam 2003), dan yang ada pada induk jantan
diwariskan (tidak diekspresikan) melalui turunan betina keturunan jantan F2 dan
diekspresikan (Gardner dkk, 1991 dalam Corebima 2003).

Gambar: Model persilangan strain Drosophila bermata putih jantan dan strain bermata
merah betina. Faktor w + mengontrol warna mata merah, sedangkan w mengontrol
warna mata putih (Ayala, dkk. 1984, dalam Corebima 2003)

Gambar:

Model

Drosophila

persilangan

strain

bermata

merah

jantan dan strain bermata putih betina (Ayala, dkk. 1984, dalam Corebima 2003).
Berdasarkan penelitiannya T.H. Morgan menyimpulkan bahwa faktor
warna mata (w) pada Drosophila terpaut kelamin, dalam hal ini terpaut pada
kromosom kelamin X.
F. Nondisjunction
Berdasarkan penjelasan diatas mengenai pautan kelamin, ternyata terdapat
penyimpangan yakni munculnya fenotip bukan harapan sebagaimana hukum
pautan kelamin, fenomena ini dikenal dengan istilah nondisjunction. Berdasarkan
penelitian T.H Morgan dan Bridges, munculnya fenotip bukan harapan adalah
1:2000 (artinya, 1 fenotip bukan harapan dari 2000 fenotip harapan), hal ini
menunjukkan bahwa fenomena nondisjunction sangat jarang terjadi.
Fenomena nondisjunction merupakan gagal berpisahnya kromosom X
yang dapat terjadi pada meiosis I maupun meiosis II dalam proses gametogenesis
(spermatogenesis dan oogenesis). Sehingga memungkinkan sel-sel gamet tersebut
mengandung dua kromosom X atau bahkan tidak sama sekali.
Nondisjunction (gagal berpisah) adalah kegagalan untuk memisah pada
kromosom pada peristiwa mitosis dan meiosis. Sebagai contoh pada meiosis, tiaptiap anggota suatu pasangan kromosom menuju hanya satu kutub, sehingga kutub
yang lain tidak menerima pasangan kromosom (Gardner, dkk., 1991). Pai, (1987:

406) menyatakan nondisjunction adalah penyimpangan pembelahan sel, di mana


kromosom-kromosom atau kromatid-kromatid yang secara normal berpisah pada
waktu anaphase tetap tinggal bersama, menghasilkan sel anak dengan kebanyakan
atau kekurangan kromosom. Peristiwa nondisjunction dibedakan menjadi
nondisjunction primer dan sekunder. Nondisjunction primer dapat terjadi pada
induk lalat yang belum mengalami nondisjunction atau lalat Normal, sedangkan
nondisjunction sekunder terjadi pada keturunan yang merupakan hasil
nondisjunction primer.
Ayala, dkk., (1984) menyatakan bahwa persilangan pada D. melanogaster
antara individu betina bermata putih dengan individu jantan bermata merah
menghasilkan keturunan jantan berwarna putih dan betina bermata merah pada F1,
seperti pertamakali dilaporkan oleh T. H. Morgan dan Bridges. Dilaporkan pula
bahwa 1 diantara 2000 turunan F1 tersebut mempunyai warna mata yang
menyimpang, entah betina bermata putih atau jantan bermata merah. Bridges
menduga bahwa penyimpangan itu terjadi kaena gagal berpisah pada kromosom
kelamin X. Dalam kedua hal ini ke dua kromosom kelamin X gagal memisah
selama meiosis., sehingga ke duanya menuju ke kutub yang sama dan
terbentuklah gamet yang tidak memiliki dua kromosom kelamin X. Berkenaan
dengan ini Suryo, (1984) menyatakan andaikan terjadi nondisjunction selama
oogenesis (pembentukan sel telur) akan terbentuk dua macam sel telur yaitu,
sebuah sel telur yang membawa dua kromosom X (3AXX) dan sebuah telur tanpa
kromosom X (3AO). Goodenough, (1988 : 138) menyatakan bahwa kejadian
nondisjunction primer pada saat meiosis akan menghasilkan organisme yang
aneuploidi. Aneuploidi diklasifikasikan berdasar jumlah kromosom yang
diperoleh dan jumlah kromosom yang hilang. Organisme aneuploidi mungkin 2n
1 (monosomik), 2n + 1 (trisomik), 2n + 2 (tetrasomik atau trisomik ganda), dan
seterusnya.
Berkenaan dengan kejadian nondisjunction pada Drosophila seperti yang
dikemukakan pertama kali oleh Bridges tahun 1916, Tamarin, dkk., (1991)
menjelaskan, bahwa kejadian nondisjunction tersebut dapat dijelaskan melalui
kejadian nondisjunction pada betina Normal, dalam hal ini betina Normal yang
mengalami nondisjunction saat meiosis, akan menghasilkan telur XwXw dan 0

telur (tanpa kromosom sek). Jika telur XwXw dibuahi oleh Y yang dibawa sperma,
akan dihasilkan turunan betina bermata putih (XwXwY). Jika telur yang tanpa
kromosom sek dibuahi oleh X yang dibawa sperma, akan menghasilkan keturunan
jantan Normal (X+O). Tipe lain dari kejadian nondisjunction adalah telur XX yang
dibuahi oleh Y yang dibawa sperma dan telur O yang akan dibuahi oleh Y yang
dibawa sperma. Zigot XXX bergenotip X wXwX+ (betina Normal) biasanya mati
dan lalat YO (selalu mati). Contoh persilangan antara D. melanogaster strain
Normal jantan dan strain white betina yang menghasilkan keturunan
nondisjunction.
Berkenaan dengan waktu terjadinya nondisjunction, Strickberger, (1976)
menyatakan bahwa ada dua alternative kegagalan memisah atau disjoin
kromosom kelamin; pertama adalah yang terjadi pada saat metaphase meiosis
pertama, ketika dua kromosom homolog yang tidak saling berhadapan dan
kemudian memisah sebarang menuju ke salah satu kutub yang sama, sedangkan
kedua adalah yang terjadi pada saat pembelahan meiosis kedua. Dijelaskan lebih
lanjut, bahwa jika nondisjunction pada meiosis pertama terjadi pada individu
jantan maka akan dihasilkan gamet XY dan O (tanpa X) dan jika terjadi pada
meiosis kedua kemungkinan akan menghasilkan sperma XX, YY, dan O. Jika
individu betina yang mengalami nondisjunction pada meiosis pertama atau
meiosis kedua akan menghasilkan sel telur XX atau O.
Herskowitz, (1977) menyatakan bahwa nondisjunction dapat terjadi (1)
baik pada aotosom ataupun kromosom kelamin, (2) selama mitosis ataupun
meiosis, dan (3) pada individu jantan maupun betina.
G. Sodium siklamat
Sodium siklamat (sari manis) merupakan salah satu dari sekian bahan
kimia sintesis berupa zat pemanis yang banyak dikonsumsi masyarakat dan
mudah didapat di berbagai toko dan minimarket bahkan supermarket dengan
harga yang relative sangat murah. Suatu zat dapat dikatakan sebagai zat pemanis
apabila senyawa tersebut secara nyata menunjukkan derajad kemanisan yang lebih
tinggi dari pada sakarosa (sukrosa, gula tebu), akan tetapi tidak mempunyai nilai
gizi makanan.

Natrium-siklamat banyak di pasaran bebas dan mempunyai sifat sebagai


berikut:
1. Berupa hablur atau serbuk berwarna putih, hampir tidak berbau, rasa sangat
manis, sekalipun dalam larutan yang diencerkan 30 sampai 50 kali lebih manis
dibandingkan dengan sukrosa dalam jumlah yang sama.
2. Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, larut dalam propilen-glikol
pekat, tidak larut dalam kloroform dan eter.
3. Mempunyai rasa manis tanpa rasa ikutan yang kurang disenangi (pahit).
4. Dalam industri makanan dipakai sebagai bahan pemanis nirgizi (non gizi)
karena mempunyai sifat tahan panas.

Stone et al. (1969, dalam Felix et al. 1971) menunjukkan bahwa siklamat,
dalam konsentrasi minimal 200 microgram/ml dapat menstimulasi kerusakan
kromosom dalam sel manusia invitro. Sedangkan dosis tinggi dapat meningkatkan
kerusakan kromosom secara nyata.

Tabel. Hasil penelitian yang berkaitan dengan sodium siklamat


Sifat makhluk hidup dikendalikan oleh gen.
BAB
IIIkromosom kelamin
Beberapa sifat terpaut
oleh
KERANGKA KONSEPTUAL dan HIPOTESIS
Pewarisan kromosom kelamin khususnya
kromosom X dapat dihubungkan dengan pewarisan
A. Kerangka Konseptual
sifat pada pautan seks
Penelitian ini dirancang untuk mengetahui frekuensi nondisjunction pada
Kromosom kelamin X mengalami pewarisan
persilangan Drosophila Melanogaster strain Nw dan Ny beserta
menyilang (crisscross inheritance) merupakan
resiproknya
fenomena pautan kelamin
Terjadi penyimpangan pautan kelamin yang
merupakan peristiwa nondisjunction
frekuensi nondisjunction dipengaruhi
oleh faktor internal (gen) dan eksternal
(radiasi, senyawa kimia)
Pemberian senyawa kimia sodium siklamat yang
dianggap mampu mengganggu proses meiosis
Frekuensi nondisjunction persilangan Drosophila
Melanogaster strain N><w, N><y
beserta resiproknya

B. Hipotesis
1. Ada pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi Nondisjunction pada
persilangan D. melanogaster strain Nw dan Ny beserta resiproknya
2. Ada pengaruh macam strain terhadap frekuensi nondisjunction.

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimental. Rancangan yang digunakan
adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Analisis dengan Analisis Varian
ganda, karena penelitian ini bertujuan untuk menegtahui pengaruh sodium
siklamat dan macam strain terhadap frekuensi Nondisjunction D. melanogaster
strain Nw dan Ny beserta resiproknya, jika hasilnya signifikan akan
dilanjutkan dengan uji BNT. Akan tetapi, karena data yang didapatkan belum
dapat memenuhi persyaratan Anava Ganda, maka analisis yang digunakan adalah
deskriptif kuantitatif.
B. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
1. Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai bulan september sampai dengan bulan


november.
2. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Genetika, gedung O5 lantai 3 ruang
310, FMIPA UM.
C. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh D. melanogaster.
2. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah strain N, y, dan w.
D. Alat Dan Bahan
1. Alat
Mikroskop stereo, alat tulis, kertas label, lemari es, kardus, gunting, kain kasa,
kertas pupasi, timbangan, karet, botol selai, blender, panci, spidol, pisau,
pengaduk kayu, kompor gas, plastik, kuas, selang, busa, baskom, tisu.
2. Bahan
D. melanogaster strain N, w, dan y, pisang rajamala, tape, gula merah, ragi,
air,pemanis buatan (sodium siklamat).
E. Prosedur Kerja
Pembuatan medium (satu resep)
1.
Menimbang bahan antar lain pisang rajamala 700 gr, tape 200 gr, dan gula

merah 100 gr.


Memotong pisang dengan ukuran kecil-kecil.
Menghaluskan pisang dan tape dengan menggunakan blender dan

menambahkan sedikit air.


Menyiapkan panci diatas kompor dan memanaskan air guna mensterilkan

panci sebelum digunakan.


Memasak adonan selama 45 menit sambil menambahkan gula merah yang

sudah dipotong kecil-kecil dan diaduk.


Memasukkan adonan kedalam botol selai secukupnya dan langsung

menutup botol dengan menggunakan gabus.


Mendinginkan botol yang sudah berisi adonan dengan cara meletakkan
pada wadah atau baskom yang berisi air agar proses pendinginan

berlangsung lebih cepat.


Membersihkan sisa-sisa uap air yang ada dibotol selai dengan tisu.


2.

memasukkan kertas pupasi.


Persiapan stok induk
Menyiapkan botol yang berisi medium.
Memberi label pada tiap-tiap botol.
Mengambil beberapa induk strain N, w, dan y dari stok.
Memasukkan stok tersebut kedalam botol selai yang sudah disiapkan.
Mengamati perkembangan stok induk tersebut sampai terbentuk pupa.
Mengisolasi pupa yang sudah menghitam kedalam selang ampul yang

3.

Menambahkan 5-7 butir ragi kedalam botol yang berisi adonan dan

sudah berisi irisan pisang dan menutup selang tersebut dengan gabus.
Menunggu hingga pupa menjadi imago yang sudah siap untuk dikawinkan.

Persilangan F1
Dari ampulan yang sudah menetas, menyilangkan D. melanogaster strain
N dengan strain w beserta resiproknya dan menyilangkan strain N
dengan strain y beserta resiproknya, kemudian dimasukkan kedalam
botol selai baru yang berisi medium yang mengandung sodium siklamat
dengan konsentrasi 0%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%. Perlakuan tersebut

masing-masing konsentrasi dilakukan minimal 4 kali ulangan.


Memberikan label, seperti ulangan keberapa, tanggal dan bulannya, dan

juga memberikan keterangan tentang strain apa yang disilangkan.


Melepas jantan setelah 2 hari.
Setelah muncul pupa maka induk betina dipindahkan kedalam medium

baru (b), begitu seterusnya sampai induk betina mati.


Membiarkan sampai muncul anak, kemudian mengamati fenotipe yang
muncul pada F1, menghitung jantan dan betina anak pada setiap strain,

4.

setiap ulangan, setiam generasi selama 7 hari (hari ke 0-6).


Persilangan F2
Dari hasil persilangan F1 sebagian pupa yang sudah menghitam diampul

untuk persilangan F2.


Dari hasil ampulan yang menetas, masing-masing fenotip disilangkan
secara homogami dan heterogami, misalnya hasil persilangan Nw
menghasilkan anakan dengan fenotip N dan w, maka persilangannya
NN, ww, Nw beserta resiprok. Begitu pula pada hasil

persilangan Ny.
Masing-masing persilangan dilakukan pada konsentrasi 0%, 0,5%, 1%,
1,5%, 2%, 2,5%.

Masing-masing konsentrasi di ulang minimal 4 kali


Memberi label pada botol.
Melepas jantan setelah 2 hari.
Seteah muncul pupa, memindahkan betina kemedium baru (b), begitu
seterusnya.

F. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan cara
menghitung jumlah F1 dan F2 dari masing-masing persilangan berdasarkan ciri
fenotip dan jenis kelaminnya.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekontruksi
kromosom kelamin dan menghitung frekuensi nondisjunction yang muncul pada
F1 dan F2 dari persilangan Dhrosophila melanogaster strain Nw dan Ny
beserta resiproknya.

BAB V
DATA DAN ANALISIS DATA
A. Data Hasil Pengamatan Fenotip
Strain Drosophila melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini
adalah strain N, w dan y dengan ciri ciri sebagai berikut :
1. Strain N (wild- type)
a. Mata berwarna merah
b. Permukaan faset mata halus
c. Warna tubuh coklat
d. Sayap menutupi tubuh dengan sempurna

2.
a.
b.
c.

Strain w (white)
Mata berwarna putih
Warna tubuh kecoklatan
Sayap menutupi tubuh dengan sempurna

3.
a.
b.
c.
d.

Strain y (yellow)
Warna mata merah
Faset mata halus
Warna tubuh kuning
Sayap menutupi tubuh panjangnya
melebihi panjang tubuhnya

B. Data Hasil Perhitungan Fenotip


Dari hasil persilangan pada F1 antara N >< w beserta resiproknya dan N >< w
beserta resiproknya diperoleh data sebagai berikut:

No Persilangan fenotip
1 N ><w

N
W

sex

Persilangan F1
Ulangan
Konsentrasi
0% 0,5% 1% 1,5% 2%
2,5%
1 1
1
27
59
38
43

66
0,015%
2

103
0,0097%
2
40
44

86
0,023%
1
47
24

Frek Ndj

N
W

Frek Ndj

N
W

72
0,0138%

Frek Ndj

N
w

1 38
52

31
37
1

90
0%
2 13
7

69
0,0144%

Frek Ndj

2 N >< w

N
W

Frek Ndj

N
W

Frek Ndj

N
W

20
0%
3 27
33

60
0%

Frek Ndj

Frek Ndj

Persilangan
N ><w

Konsentrasi Frekuensi Nondisjunction


0% Ul 1
0%
0% Ul 2
0%
0% Ul 3
0%
2,5% Ul 1
0,0144%
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa frekuensi nondisjunction pada 2,5 %
tidak berbeda jauh dengan perlakuan kontrol

Persilangan
N ><w

Konsentrasi Frekuensi Nondisjunction


0%
0,015%
2,5% Ul 1 0,0097%
2,5% Ul 2 0,023%
2,5% Ul 3 0,0138%
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa frekuensi nondisjunction pada perlakuan
kontrol dan konsentrasi 2,5 % tidak berbeda jauh.

Persilangan F2 dari parental N ><w


No Persilangan fenotip
Sex Ulangan
Konsentrasi
0% 0,5% 1% 1,5% 2%
1
N

N ><w

Frek Ndj

N
W

1 3
0
1
0
4
0%
2 3
14
5
1
23
0%
3 1
15
11
8
35
0%

Frek Ndj

9
13
1
23
0,043%
31
21
1
53
0,0188%

2,5%

Frek Ndj

N
w

Frek Ndj

N
N>< w

Frek Ndj

N
W

Frek Ndj

N
W

Frek Ndj

7
15
6
0
28
0%
5
3
3
9
20
0%
6
2
8
9
25
0%

N
W

Frek Ndj

Persilangan
F2 N ><w dari
Parental N ><w

4 9
5
11
14
39
0%

Konsentrasi Frekuensi Nondisjunction


2,5% Ul 1
2,5% Ul 2

0,043%
0,0188%

Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa frekuensi nondisjunction pada


konsentrasi 2,5 % sangatlah kecil.

Persilangan
F2 N><w dari

Konsentrasi Frekuensi Nondisjunction


0% Ul 1
0%
0% Ul 2
0%
Parental N ><w
0% Ul 3
0%
0% Ul 4
0%
2,5% Ul 1 0%
2,5% Ul 2 0%
2,5% Ul 3 0%
2,5% Ul 4
0%
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa tidak terjadi nondisjunction.

13
6
9
10
38
0%

Persilangan F2 dari parental N>< w


Sex Ulangan
Konsentrasi
jumlah Tota
0% 0,5% 1% 1,5% 2% 2,5%

No Persilangan fenotip
1 N><N

Frek Ndj

Frek Ndj

Frek Ndj

Frek Ndj

Persilangan
F2 N ><N dari
Parental N ><w

Konsentrasi
0% Ul 1
0% Ul 2
0% Ul 3
0% Ul 4

1 7
24
10
5
46
0%
2 12
7
11
4
34
0%
3 7
30
6
5
48
0%
4 1
0
2
1
3
0%

Frekuensi Nondisjunction
0%
0%
0%
0%

Tidak terjadi nondisjunction

C. Rekontruksi Kromosom
1. Persilangan N >< w

Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction (NDJ)

P1

N >< w

w
><

Genotip

Gamet

: w+,

w
w

w -, w

F1

w-

w-

w+

w
(N)
w

w
(N)
w

w
( w)

w
( w)

Fenotip yang muncul adalah N, N, w , w .

Rekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction (NDJ)


P1

N ><

w
><

Genotip
Gamet

w+,

w
w
w

w -, w w -, 0

F1

w w -

w w
( super
w

w
(N)
w

w+

letal)

w
( w)

w
( N)
0

w w
(w)

0
(letal)

Fenotip yang muncul adalah N, N, w , w


2. Persilangan N >< w

Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction (NDJ)


P1

N ><

Genotip

w
><
w

Gamet

w+, w+

w -,

F1

w+

w+

w-

w
(N)
w

w
(N)
w

w
( N)

w
( N)

Fenotip yang muncul adalah N, N, N, N

Rekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction (NDJ)


P1
Genotip

N ><
w
><
w

Gamet

w+, w+w+, 0 , w -,

F1

w+

w +w +

w-

w
(N)
w

w w
( super letal)
w

w
( w)
0

w
( N)

w w
(N)

0
(letal)

Fenotip yang muncul adalah N, w , N, N

3. Persilangan N >< y

Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction (NDJ)


P1
Genotip
Gamet

F1

: N >< y

y
><

y
y

: y+, ; y- , y


y-

y-

y
(N)
y

y
(N)
y

y
( y)

y
( y)

Fenotip yang muncul adalah N, y

Rekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction (NDJ)


P1

N ><

y
><

Genotip
Gamet

y
y
y

y+, ; y-y-, y-, 0

F1

y-y-

y-

y+

y y
y

(super letal)

y y
( y)

y
(N)
0

0
(Letal)

y
(N)
y

y
(y)

Fenotip yang muncul adalah N, N, y, y

4. Persilangan N >< y

Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction (NDJ)

P1

: N ><

y
Genotip :
y

><

: y+,y+, y -,

Gamet
F1

y+

y+

y
(N)
y

y
(N)
y

y
( N)

y
( N)

Fenotip yang muncul adalah N, N

Rekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction (NDJ)


P1
Genotip
Gamet

: N >< y
y
><
y

: y+, y + y+, 0, y -,


y + y+

y+

y
(y)
0

y
(N)
y

y y
(super
y

y-

letal)

y y
( N)

0
(Letal)

y
(N)

F1
Fenotip yang muncul adalah N, N, y

Dari hasil analisis rekontruksi kromosom kelamin dan autosom pada


persilangan (P1) Drosophila melanogaster strain N >< w dan N >< y,
ternyata diperoleh anakan bukan harapan pada persilangan N >< w
w, N, begitu pula persilangan N >< y yaitu muncul

yaitu

y, N hal ini

menunjukkan fenomena Nondisjunction


Dari hasil analisis rekontruksi kromosom kelamin dan autosom pada
persilangan (P1) Drosophila melanogaster strain N>< w dan persilangan
N>< y, ternyata diperoleh anakan sesuai harapan yaitu strain N (jantan dan
juga betina). Adapun yang mengalami nondisjunction akan muncul anakan bukan
harapan yaitu

w pada persilangan

persilangan N>< y.

N>< w , dan

anakan

y pada

BAB VI
PEMBAHASAN
Pada saat oogenesis dan spermatogenesis terjadi pembelahan meiosis yang
mereduksi set kromosom dari 2n menjadi n, pada kondisi ini terjadi pembagian
kromosom. Sodium siklamat merupakan salah satu senyawa karsinogen yang
dianggap mampu mengganggu proses memisahnya kromosom menuju kekutub
masing-masing, sehingga diasumsikan sodium siklamat mampu meningkatkan
frekuensi nondisjunction.
Penelitian

ini

berkaitan

dengan

kehilangan

kromosom

dan

nondisjunction pada Drosophila betina oleh natrium siklamat. Kemungkinan


peristiwa ini terjadi pada meiosis betina, karena pembelahan meiosis tidak terjadi
sampai setelah oosit diletakkan. Sedangkan, pada drosophila jantan meiosis terjadi
jauh sebelum selesainya pembentukan sperma dan inseminasi ke betina (Felix et
al. 1971).
Pemanis buatan natrium siklamat dapat meningkatkan kerusakan
kromosom leukosit manusia secara in vitro saat ditambahkan dalam konsentrasi
relatif tinggi (Stone et a1, 1968 dalam Felix et al 1971), Senyawa ini gagal untuk
menyebabkan kerusakan kromosom pada Haworthia variegata Haw (Majumdar
dan Lane, 1970, dalam Felix et al. 1971). Ketidakmampuan ini mungkin
disebabkan oleh kenyataan bahwa agen bahan kimia yang memecah kromosom
hewan tidak dapat menyebabkan penyimpangan kromosom pada tanaman, dan
generasi tanaman yang berbeda mungkin bereaksi dalam berbagai cara untuk agen
yang sama seperti yang ditemukan pada mamalia (Brodie, 1965, dalam Felix et
al.).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Khoirul Abidin (1997) yang


menggunakan sodium siklamat dengan konsentrasi 0%-1,0%, didapatkan hasil
bahwa tidak ada pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi nondisjunction
D.melanogaster.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Felix et al (1971) menyatakan
bahwa Natrium siklamat tidak menginduksi sex-linkage resesif atau mutasi lethal
dalam aneuploidi D. melanogaster. Karena dipengaruhi faktor-faktor seperti
penyerapan dalam mengikat protein dan ekskresi yang harus dipertimbangkan
dalam membuat perbandingan terkait dengan asupan siklamat mamalia atau
manusia dan transformasi untuk cyc1ohexylamine. Tampaknya dari percobaan ini
menunjukkan bahwa Drosophila memiliki kepekaan rendah untuk konsumsi
cyclohexyamine.
Pada penelitian ini dengan menggunakan konsentrasi sodium siklamat 0%2,5%, dari data sementara yang diperoleh (data konsentrasi 0% dan 2,5%),
ternyata besarnya frekuensi nondisjunction tidak berbeda jauh antara perlakuan
kontrol dengan konsentrasi 2,5%. Didukung dengan kajian teori penelitian
sebelumnya, sodium siklamat tidak berpengaruh terhadap peningkatan frekuensi
nondisjunction.
Macam strain belum diketahui pengaruhnya terhadap peningkatan
frekuensi nondisjunction, karena peneliti hanya melakukan satu macam
persilangan.

BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis rekontruksi dan pembahasan, kesimpulan sementara
yang di peroleh adalah,
1. sodium siklamat tidak berpengaruh terhadap peningkatan frekuensi
nondisjunction D. Melanogaster persilangan N >< w beserta resiprok.
2. Macam strain belum diketahui pengaruhnya terhadap peningkatan
frekuensi nondisjunction.
B. Saran
Pada penelitian ini banyak data yang belum diperoleh, sehingga diperlukan
penelitian-penelitian lanjutan untuk mendapatkan data yang lengkap guna
meningkatkan kevalidan.

DAFTAR RUJUKAN
Abidin, K.1997. Pengaruh Sodium Siklamat Terhadap Frekuensi Nondisjunction
D.melanogaster strain N><w. (Skripsi tidak diterbitkan).Malang: IKIP
Malang
Felix, R. and M.E. de la Rosa.1971. Cytogenetic studies with' sod:lum cyclamate
in d. Melanogaster femles. Mexico: Genetics and Radiobiology
Program of the National Commission, of Nuclear Energy..
Corebima, A.D. 2003. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press.
Corebima, A.D. 2004. GenetikaKelamin. Surabaya: Airlangga University Press.
Goodenough. 1988. Genetics. Penerjemah: Soenartono Adisumarto.Jakarta:
Erlangga.
Kimball, John.W. 2008. Biology. Penerjemah: H. Siti Soetarmi Tjitrosomo.
Jakarta: Erlangga.
Kusumawati, Winarsih.1995. Pengaruh suhu terhadap indeks isolasi pada
persilangan D. melanogaster strain normal dengan strain white dan
strain black. Malang: IKIP Malang.
Santoso, 2009. Pengamatan Silkus Hidup Drosophila sp, (Online),
(http://bhimashraf.blogspot.com/2009/12/pengamatan-siklus-hidupdrosophila-sp.html, diakses 1 Desember 2011).
Suryo. 2008. Genetika: Strata I. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.

Penting
Cyclohexylamine can be formed to a variable extent by microbial biotransformation of cyclamate in the gastrointestinal tract of all species studied; after
absorption, it is further metabolized to several compounds that are excreted in the
urine (Golberg et al., 1969; Parekh et al., 1970; Asahina et al., 1971; Ichibagase et
al., 1972; Coulston et al., 1977).
Several studies have shown that cyclohexylamine affects the testis of rats (Oser et
al.,1976; Mason & Thompson, 1977). In one study, cyclohexylamine produced
testicular atrophy in DA and Wistar rats, but not in mice, at a dietary dose of 400
mg/kg per day for up to 13 weeks. The testicular toxicity was not due to the
formation of hydroxylated metabolites but to cyclohexylamine per se. The lack of
sensitivity of mouse testis is probably due to the lower tissue concentrations of
cyclohexylamine in this species in comparison with rats (Roberts et al., 1989).
In cultured bladders from young female Fischer 344 rats, 12 or 24 mmol/L sodium
cyclamate produced pronounced urethelial hyperplasia and dysplasia, as
confirmed by histology (Knowles et al., 1986). Sodium cyclamate alone or after
exposure to N-methyl-N-nitrosourea induced foci of cell proliferation in explanted
bladder epithelium cultures derived from young female Fischer 344 rats (Knowles
& Jani, 1986; Nicholson & Jani, 1988).
Cyclohexylamine did not induce bacterial prophage in E. coli or gene mutations in
S. typhimurium. It did not induce somatic cell mutation or recombination, sexlinked recessive lethal mutation, heritable translocation or aneuploidy in D.
melanogaster.