Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan aluminium?
2.
1.3 Tujuan Makalah
1.4 Manfaat Makalah

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aluminium
Aluminium adalah logam berwarna putih keperakan yang lunak.Aluminium
ditemukan oleh Sir Humprey Davy dalam tahun 1809 sebagai suatu unsur, dan pertama
kali direduksi sebagai logam oleh H. C. Oersted, tahun 1825. Secara industri Paul Heroult
di perancis dan C. M. Hall di amerika serikat secara terpsah telah memperoleh logam
aluminum dari alumina dengan cara elektrolisa dari garamnya yang terfusi. Sampai
sekarang proses Heroult Hall masih dipakai untuk memproduksi aluminium.
Aluminium adalah logam yang paling banyak terdapat di kerak bumi, dan unsur
ketiga terbanyak setelah oksigen dan silikon. Aluminium terdapat di kerak bumi sebanyak
kira-kira 8,07% hingga 8,23% dari seluruh massa padat dari kerak bumi, dengan produksi
tahunan dunia sekitar 30 juta ton pertahun dalam bentuk bauksit dan bebatuan lain
(corrundum, gibbsite, boehmite, diaspore, dan lain-lain). Sulit menemukan aluminium
murni di alam karena aluminium merupakan logam yang cukup reaktif.
Aluminium murni adalah logam yang lunak, tahan lama, ringan, dan dapat ditempa
dengan penampilan luar bervariasi antara keperakan hingga abu-abu, tergantung
kekasaran permukaannya.
Aluminium murni 100% tidak memiliki kandungan unsur apapun selain aluminium
itu sendiri, namun aluminium murni yang dijual di pasaran tidak pernah mengandung
100% aluminium, melainkan selalu ada pengotor yang terkandung di dalamnya. Pengotor
yang mungkin berada di dalam aluminium murni biasanya adalah gelembung gas di
dalam yang masuk akibat proses peleburan dan pendinginan/pengecoran yang tidak
sempurna, material cetakan akibat kualitas cetakan yang tidak baik, atau pengotor lainnya
akibat kualitas bahan baku yang tidak baik (misalnya pada proses daur ulang aluminium).
Umumnya, aluminium murni yang dijual di pasaran adalah aluminium murni 99%,
misalnya aluminium foil.
2.2 Sumber Aluminium
Aluminium merupakan logam yang paling banyak ditemukan di kerak bumi (8.3%), dan
terbanyak ketiga setelah oksigen (45,5%) dan silicon (25,7%). Aluminium sangat reaktif
khususnya dengan oksigen, sehingga unsure aluminium tidak pernah dijumpai dalam
keadaan bebas di ala, melainkan sebagai senyawa yang merupakan penyusun utama dari
bahan tambang bijih bauksit yang berupa campuran oksida dan hidroksida aluminium.
Aluminium juga ditemukan di granit dan mineral-mineral lainnya. Aluminium ada di
alam dalam bentuk silikat maupun oksida, yaitu antara lain:
sebagai silikat contohnya feldspar, tanah liat, mika
sebagai oksida anhidrat contohnya kurondum (untuk amril)
sebagai hidrat contohnya bauksit
sebagai florida contohnya kriolit.
2.3 Sifat-Sifat Aluminium

Sifat-sifat penting yang dimiliki aluminium sehingga banyak digunakan sebagai


material teknik adalah sebagai berikut:
a. Berat jenisnya ringan (hanya 2,7 gr/cm, sedangkan besi 8,1 gr/ cm)
b. Tahan korosi
Sifat bahan korosi dari aluminium diperoleh karena terbentuknya lapisan
aluminium oksida (Al2O3) pada permukaan aluminium (fenomena pasivasi). Pasivasi
adalah pembentukan lapisan pelindung akibat reaksi logam terhadap komponen udara
sehingga lapisan tersebut melindungi lapisan dalam logam dari korosi. Lapisan ini
membuat Al tahan korosi tetapi sekaligus sukar dilas, karena perbedaan melting point
(titik lebur).
c. Penghantar listrik dan panas yang baik
Aluminium juga merupakan konduktor panas dan elektrik yang baik. Jika
dibandingkan dengan massanya, aluminium memiliki keunggulan dibandingkan
dengan tembaga, yang saat ini merupakan logam konduktor panas dan listrik yang
cukup baik, namun cukup berat.
d. Mudah di fabrikasi/ditempa
Sifat lain yang menguntungkan dari aluminium adalah sangat mudah
difabrikasi, dapat dituang (dicor) dengan cara penuangan apapun. Dapat deforming
dengan cara: rolling, drawing, forging, extrusi dll. Menjadi bentuk yang rumit
sekalipun.
e. Kekuatannya rendah tetapi pemaduan (alloying) kekuatannya bisa ditingkatkan.
Kekuatan dan kekerasan aluminium tidak begitu tinggi dengan pemaduan dan
heat treatment dapat ditingkatkan kekuatan dan kekerasannya.
f. Kekuatan mekanik meningkat dengan penambahan Cu, Mg, Si, Mn, Zn, dan Ni.
g. Sifat elastisnya yang sangat rendah, hampir tidak dapat diperbaiki baik dengan
pemaduan maupun dengan heat treatment.
Selain sifat yang diatas,aluminium juga memiliki sifat fisika, mekanik dan kimia
a. Sifat Fisika Aluminium
Sifat-sifat
Massa jenis (20 oC)
Titik cair
Panas jenis (cal/g.oC)(100oC)
Hantaran listrik (%)
Koefisien
pemuaian
(20o
100 C)

Sifat-sifat

Kemurnian Al
99,996 %
>99,0 %
2,6989
2,71
660,2
653-657
0,2226
0,2297
64,94
59 (dianil)
-6
23,86 x 10
23,5 x 10-6

Kemurnian Al (%)
99,996

>99,0

Kekuatan tarik
(kg/mm2)
Kekuatan mulur
(0,2%)(kg/mm2)
Perpanjangan (%)
Kekerasan Brinell

Dianil
4,9

75% dirol dingin


11,6

Dianil
9,3

H18
16,9

1,3

11,0

3,5

14,8

48,8
17

5,5
27

35
23

5
44

b. Sifat Mekanik Aluminium


Sifat mekanik bahan aluminium murni dan aluminium paduan dipengaruhi
oleh konsentrasi bahan dan perlakuan yang diberikan terhadap bahan tersebut.
Aluminium terkenal sebagai bahan yang tahan terhadap korosi. Hal ini
disebabkan oleh fenomena pasivasi, yaitu proses pembentukan lapisan aluminium
oksida di permukaan logam aluminium segera setelah logam terpapar oleh udara
bebas. Lapisan aluminium oksida ini mencegah terjadinya oksidasi lebih jauh.
Namun, pasivasi dapat terjadi lebih lambat jika dipadukan dengan logam yang bersifat
lebih katodik, karena dapat mencegah oksidasi aluminium.
a)
Kekuatan tensil
Kekuatan tensil adalah besar tegangan yang didapatkan ketika dilakukan
pengujian tensil. Kekuatan tensil ditunjukkan oleh nilai tertinggi dari tegangan
pada kurva tegangan-regangan hasil pengujian, dan biasanya terjadi ketika
terjadinya necking. Kekuatan tensil bukanlah ukuran kekuatan yang sebenarnya
dapat terjadi di lapangan, namun dapat dijadikan sebagai suatu acuan terhadap
kekuatan bahan.
Kekuatan tensil pada aluminium murni pada berbagai perlakuan umumnya
sangat rendah, yaitu sekitar 90 MPa, sehingga untuk penggunaan yang
memerlukan kekuatan tensil yang tinggi, aluminium perlu dipadukan. Dengan
dipadukan dengan logam lain, ditambah dengan berbagai perlakuan termal,
aluminium paduan akan memiliki kekuatan tensil hingga 580 MPa (paduan 7075).
b)
Kekerasan
Kekerasan gabungan dari berbagai sifat yang terdapat dalam suatu bahan yang
mencegah terjadinya suatu deformasi terhadap bahan tersebut ketika diaplikasikan
suatu gaya. Kekerasan suatu bahan dipengaruhi oleh elastisitas, plastisitas,
viskoelastisitas, kekuatan tensil, ductility, dan sebagainya. Kekerasan dapat diuji
dan diukur dengan berbagai metode. Yang paling umum adalah metode Brinnel,
Vickers, Mohs, dan Rockwell.
Kekerasan bahan aluminium murni sangatlah kecil, yaitu sekitar 65 skala
Brinnel, sehingga dengan sedikit gaya saja dapat mengubah bentuk logam. Untuk
kebutuhan aplikasi yang membutuhkan kekerasan, aluminium perlu dipadukan
dengan logam lain dan/atau diberi perlakuan termal atau fisik. Aluminium dengan
4,4% Cu dan diperlakukan quenching, lalu disimpan pada temperatur tinggi dapat
memiliki tingkat kekerasan Brinnel sebesar 135.
c) Ductility
Ductility didefinisikan sebagai sifat mekanis dari suatu bahan untuk
menerangkan seberapa jauh bahan dapat diubah bentuknya secara plastis tanpa

terjadinya retakan. Dalam suatu pengujian tensil, ductility ditunjukkan dengan


bentuk neckingnya; material dengan ductility yang tinggi akan mengalami
necking yang sangat sempit, sedangkan bahan yang memiliki ductility rendah,
hampir tidak mengalami necking. Sedangkan dalam hasil pengujian
tensil, ductility diukur dengan skala yang disebut elongasi. Elongasi adalah
seberapa besar pertambahan panjang suatu bahan ketika dilakukan uji kekuatan
tensil. Elongasi ditulis dalam persentase pertambahan panjang per panjang awal
bahan yang diujikan.
Aluminium murni memiliki ductility yang tinggi. Aluminium paduan
memiliki ductility yang bervariasi, tergantung konsentrasi paduannya, namun pada
umumnya memiliki ductility yang lebih rendah dari pada aluminium murni,
karena ductility berbanding terbalik dengan kekuatan tensil, serta hampir semua
aluminum paduan memiliki kekuatan tensil yang lebih tinggi dari pada aluminium
murni.
c. Sifat Kimia Aluminium
a) Serbuk alumunium dipanaskan dalam uap air menghasilkan hidrogen dan
alumunium oksida. Reaksinya berlangsung relatif lambat karena adanya lapisan
alumunium oksida pada logamnya, membentuk oksida yang lebih banyak selama
reaksi.
b) Alumunium akan terbakar dalam oksigen jika bentuknya serbuk, sebaliknya
lapisan oksidanya yang kuat pada alumunium cenderung menghambat reaksi.
Jika kita taburkan serbuk alumunium ke dalam nyala bunsen, maka akan kita
dapatkan percikan. Alumunium oksida yang berwana putih akan terbentuk.
c) Alumunium seringkali bereaksi dengan klor dengan melewatkan klor kering di
atas alumunium foil yang dipanaskan sepanjang tabung. Alumunium terbakar
dalam aliran klor menghasilkan alumunium klorida yang kuning sangat pucat.
Alumunium klorida ini dapat menyublim (berubah dari padatan ke gas dan
kembali lagi) dan terkumpul di bagian bawah tabung saat didinginkan.
d) Aluminium disimbolkan dengan Al, dengan nomor atom 13 dalam tabel periodik
unsur. Bauksit, bahan baku aluminium memiliki kandungan aluminium dalam
jumlah yang bervariasi, namun pada umumnya di atas 40% dalam berat. Senyawa
aluminium yang terdapat di bauksit diantaranya Al 2O3,Al(OH)3, -AlO(OH), dan
-AlO(OH).
e) Isotop aluminium yang terdapat di alam adalah isotop 27Al, dengan persentase
sebesar 99,9%. Isotop 26Al juga terdapat di alam meski dalam jumlah yang sangat
kecil. Isotop 26Al merupakan radioaktif dengan waktu paruh sebesar 720000 tahun.
Isotop aluminium yang sudah ditemui saat ini adalah aluminium dengan berat
atom relatif antara 23 hingga 30, dengan isotop 27Al merupakan isotop yang paling
stabil.
f) Difusi atom di tentukan oleh macam atom, tetapi pada umumnya sangat lambat
pada temperature biasa dengan pencelupan dingin kekosongan atom tetap ada, jadi
dengan berjalannya waktu struktur atom bisa berubah, yang menghasilkan
perubahan sifat-sifatnya. Perubahan sifat-sifat dengan berjalannya waktu pada

umumnya di namakan penuaan. Apabila proses itu berjalan pada temperature


kamar di namakan penuaan ilmiah, sedangkan apabila proses itu terjadi pada
temperatur lebih tinggi dinamakan penuaan buatan.
2.4 Proses Pembuatan Aluminium
Aluminium adalah logam yang sangat reaktif yang membentuk ikatan kimia berenergi
tinggi dengan oksigen. Dibandingkan dengan logam lain, proses ekstraksi aluminium dari
batuannya memerlukan energi yang tinggi untuk mereduksi Al 2O3. Proses reduksi ini
tidak semudah mereduksi besi dengan menggunakan batu bara, karena aluminium
merupakan reduktor yang lebih kuat dari karbon.
a) Proses Bayer-Hall Heroult
Proses produksi aluminium dimulai dari pengambilan bahan tambang yang
mengandung aluminium (bauksit, corrundum, gibbsite, boehmite, diaspore, dan
sebagainya). Selanjutnya, bahan tambang dibawa menuju proses Bayer.
Proses Bayer menghasilkan alumina (Al2O3) dengan membasuh bahan tambang
yang mengandung aluminium dengan larutan natrium hidroksida pada temperatur
175 oC sehingga menghasilkan aluminium hidroksida, Al(OH) 3. Aluminium
hidroksida lalu dipanaskan pada suhu sedikit di atas 1000 oC sehingga terbentuk
alumina dan H2O yang menjadi uap air.Setelah Alumina dihasilkan, alumina dibawa
ke proses Hall-Heroult.
Proses Hall-Heroult dimulai dengan melarutkan alumina dengan leelehan
Na3AlF6, atau yang biasa disebut cryolite. Larutan lalu dielektrolisis dan akan
mengakibatkan aluminium cair menempel pada anoda, sementara oksigen dari
alumina akan teroksidasi bersama anoda yang terbuat dari karbon, membentuk
karbon dioksida. Aluminium cair memiliki massa jenis yang lebih ringan dari pada
larutan alumina, sehingga pemisahan dapat dilakukan dengan mudah.
Elektrolisis aluminium dalam proses Hall-Heroult menghabiskan energi yang
cukup banyak. Rata-rata konsumsi energi listrik dunia dalam mengelektrolisis
alumina adalah 15 kWh per kilogram aluminium yang dihasilkan. Energi listrik
menghabiskan sekitar 20-40% biaya produksi aluminium di seluruh dunia.
b) Daur ulang Aluminium
Salah satu keuntungan aluminium lainnya adalah mampu didaur ulang tanpa
mengalami sedikitpun kehilangan kualitas. Proses daur ulang tidak mengubah
struktur aluminium, daur ulang terhadap aluminium dapat dilakukan berkali-kali.
Mendaur ulang aluminium hanya mengkonsumsi energi sebesar 5% dari yang
digunakan dalam memproduksi aluminium dari bahan tambang (economist.com). Di
Eropa, terutama negara Skandinavia, 95% aluminium yang beredar merupakan bahan
hasil daur ulang.
Proses daur ulang aluminium berawal dari kegiatan meleburkan dengan pemanasan
suhu tinggi beberapa sampah aluminium. Hal ini akan menghasilkan endapan.
Endapan ini dapat diekstraksi ulang untuk mendapatkan aluminium, dan limbah yang
dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan campuran aspal dan beton karena
merupakan limbah yang berbahaya bagi alam. Sebagai produk utama dihasilkan
alumunium yang meleleh kemudian dicetak kembali untuk dikomersialkan

2.5 Klasifikasi Alumunium dan Penggolongan Paduannya


a) Aluminium Murni
Aluminium 99% tanpa tambahan logam paduan apapun dan dicetak dalam
keadaan biasa, hanya memiliki kekuatan tensil sebesar 90 MPa, terlalu lunak untuk
penggunaan yang luas sehingga seringkali aluminium dipadukan dengan logam lain.
b) Aluminium Paduan
Elemen paduan yang umum digunakan pada aluminium adalah silikon,
magnesium, tembaga, seng, mangan, dan juga lithium sebelum tahun 1970.Secara
umum, penambahan logam paduan hingga konsentrasi tertentu akan meningkatkan
kekuatan tensil dan kekerasan, serta menurunkan titik lebur. Jika melebihi
konsentrasi tersebut, umumnya titik lebur akan naik disertai meningkatnya
kerapuhan akibat terbentuknya senyawa, kristal, atau granula dalam logam.
Namun, kekuatan bahan paduan aluminium tidak hanya bergantung pada
konsentrasi logam paduannya saja, tetapi juga bagaimana proses perlakuannya
hingga aluminium siap digunakan, apakah dengan penempaan, perlakuan panas,
penyimpanan, dan sebagainya.
c) Paduan Aluminium-Siliko
Paduan aluminium dengan silikon hingga 15% akan memberikan kekerasan
dan kekuatan tensil yang cukup besar, hingga mencapai 525 MPa pada aluminium
paduan yang dihasilkan pada perlakuan panas. Jika konsentrasi silikon lebih tinggi
dari 15%, tingkat kerapuhan logam akan meningkat secara drastis akibat
terbentuknya kristal granula silika.
d) Paduan Aluminium-Magnesium
Keberadaan magnesium hingga 15,35% dapat menurunkan titik lebur logam
paduan yang cukup drastis, dari 660 oC hingga 450 oC. Namun, hal ini tidak
menjadikan aluminium paduan dapat ditempa menggunakan panas dengan mudah
karena korosi akan terjadi pada suhu di atas 60 oC. Keberadaan magnesium juga
menjadikan logam paduan dapat bekerja dengan baik pada temperatur yang sangat
rendah, di mana kebanyakan logam akan mengalami failure pada temperatur
tersebut.
e) Paduan Aluminium-Tembaga
Paduan aluminium-tembaga juga menghasilkan sifat yang keras dan kuat,
namun rapuh. Umumnya, untuk kepentingan penempaan, paduan tidak boleh
memiliki konsentrasi tembaga di atas 5,6% karena akan membentuk senyawa
CuAl2 dalam logam yang menjadikan logam rapuh.
f) Paduan Aluminium-Mangan
Penambahan mangan memiliki akan berefek pada sifat dapat dilakukan
pengerasan tegangan dengan mudah (work-hardening) sehingga didapatkan logam
paduan dengan kekuatan tensil yang tinggi namun tidak terlalu rapuh.Selain itu,
penambahan mangan akan meningkatkan titik lebur paduan aluminium.
g) Paduan Aluminium-Seng
Paduan aluminium dengan seng merupakan paduan yang paling terkenal
karena merupakan bahan pembuat badan dan sayap pesawat terbang. Paduan ini
memiliki kekuatan tertinggi dibandingkan paduan lainnya, aluminium dengan 5,5%
seng dapat memiliki kekuatan tensil sebesar 580 MPa dengan elongasi sebesar 11%
dalam setiap 50 mm bahan. Bandingkan dengan aluminium dengan 1% magnesium

j)

l)

m)

yang memiliki kekuatan tensil sebesar 410 MPa namun memiliki elongasi sebesar
6% setiap 50 mm bahan
h) Paduan Aluminium-Lithium
Lithium menjadikan paduan aluminium mengalami pengurangan massa jenis
dan peningkatan modulus elastisitas; hingga konsentrasi sebesar 4% lithium, setiap
penambahan 1% lithium akan mengurangi massa jenis paduan sebanyak 3% dan
peningkatan modulus elastisitas sebesar 5%. Namun aluminium-lithium tidak lagi
diproduksi akibat tingkat reaktivitas lithium yang tinggi yang dapat meningkatkan
biaya keselamatan kerja.
i) Paduan Aluminium-Skandium
Penambahan skandium ke aluminium membatasi pemuaian yang terjadi pada
paduan, baik ketika pengelasan maupun ketika paduan berada di lingkungan yang
panas. Paduan ini semakin jarang diproduksi, karena terdapat paduan lain yang lebih
murah dan lebih mudah diproduksi dengan karakteristik yang sama, yaitu paduan
titanium. Paduan Al-Sc pernah digunakan sebagai bahan pembuat pesawat tempur
Rusia, MIG, dengan konsentrasi Sc antara 0,1-0,5% (Zaki, 2003, dan Schwarz,
2004).
Paduan Aluminium-Besi
Besi (Fe) juga kerap kali muncul dalam aluminium paduan sebagai suatu
"kecelakaan". Kehadiran besi umumnya terjadi ketika pengecoran dengan
menggunakan cetakan besi yang tidak dilapisi batuan kapur atau keramik. Efek
kehadiran Fe dalam paduan adalah berkurangnya kekuatan tensil secara signifikan,
namun diikuti dengan penambahan kekerasan dalam jumlah yang sangat kecil.
Dalam paduan 10% silikon, keberadaan Fe sebesar 2,08% mengurangi kekuatan
tensil dari 217 hingga 78 MPa, dan menambah skala Brinnel dari 62 hingga 70. Hal
ini terjadi akibat terbentuknya kristal Fe-Al-X, dengan X adalah paduan utama
aluminium selain Fe.
k) Paduan Alnico
Alnico merupakan paduan yang tersusun dari aluminium (Al), nikel (Ni), dan kobalt
(Co), dengan penambahan besi, tembaga dan kadang titanium. Alnico mengandung
8-12% Al, 15-26% Ni, 5-24% Co, lebih dari 6% Cu, lebih dari 1% Ti dan sisanya
adalah Fe. Kegunaan utama dari paduan alnico adalah sebagai magnet.
Paduan Duralumin
Duralumin (juga disebut duraluminum, duraluminium, atau dural) adalah
nama dagang dari salah satu tipe dari paduan aluminium. Paduan utamanya terdiri
dari tembaga, mangan, dan magnesium. Paduan yang paling umum digunakan
adalah tipe AA2024, yang mengandung 4,4% tembaga, 1,5% magnesium, 0,6%
mangan dan 93,5% aluminium. Besar yield strength adalah 450 MPa, dengan variasi
yang bergantung pada komposisi dan temper.
Paduan Silumin
Silumin adalah paduan aluminium yang mengandung silicon sekitar 4% dan
22%. Silumin memiliki ketahanan korosi yang tinggi, sehingga silumin sangat
bermanfaat dalam peralatan basah. Penambahan silicon pada aluminium juga
membuat silumin lebih cair.

Silumin sangat baik kecairannya, mempunyai permukaan yang bagus, tanpa


kegetasan panas, sangat baik untuk paduan coran, dan koefisien pemuaian yang
kecil. Koefisien pemuaian termal silumin sangat rendah oleh karena itu paduannya
pun mempunyai koefisien yang rendah apabila ditambah Si lebih banyak.
2.6 Aplikasi atau Kegunaan Alumunium
Aluminium adalah logam non-besi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
Produksi global dunia pada tahun 2005 mencapai 31,9 juta ton, melebihi produksi semua
logam non-besi lainnya (Hetherington et al, 2007). Ada beberapa kegunaan umum dari
alumunium yaitu sebagai berikut :
a) Aluminium memiliki rasio kekuatan terhadap massa yang paling tinggi, sehingga
banyak digunakan sebagai bahan pembuat pesawat dan roket. Aluminium juga dapat
menjadi reflektor yang baik; lapisan aluminium murni dapat memantulkan 92%
cahaya.
b) Aluminium murni, saat ini jarang digunakan karena terlalu lunak. Penggunaan
aluminium murni yang paling luas adalah aluminium foil (92-99% aluminium).
c) Paduan aluminium-magnesium umumnya digunakan sebagai bahan pembuat badan
kapal. Paduan lainnya akan mudah mengalami korosi ketika berhadapan dengan
larutan alkali seperti air laut.
d) Paduan aluminium-tembaga-lithium digunakan sebagai bahan pembuat tangki bahan
bakar pada pesawat ulang-alik milik NASA.
e) Uang logam juga terbuat dari aluminium yang diperkeras. Hingga saat ini, sulit dicari
apa bahan paduan uang pembuat uang logam berwarna putih keperakan ini,
kemungkinan dirahasiakan untuk mencegah pemalsuan uang logam.
f) Velg mobil juga menggunakan bahan aluminium yang dipadu dengan magnesium,
silicon, atau keduanya, dan dibuat dengan cara ekstrusi atau dicor.
g) Beberapa jenis roda gigi menggunakan paduan Al-Cu. Penggunaan paduan Cu untuk
mendapatkan tingkat kekerasan yang cukup dan memperpanjang usia benda
akibat fatigue.
h) Sektor pembangunan perumahan;untuk kusen pintu dan jendela.
i) Sektor industri makanan ,untuk kemasan berbagai jenis produk.
j) Sektor lain, misal untuk kabel listrik, perabotan rumah tangga dan barang kerajinan.
k) Membuat termit, yaitu campuran serbuk aluminium dengan serbuk besi (III) oksida,
digunakan untuk mengelas baja ditempat, misalnya untuk menyambung rel kereta api.
l) Pembuatan Tawas (K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O). Tawas digunakan untuk menjernihkan
air pada pengolahan air minum.
m) Pembuatan Aluminium Sulfat (Al2(SO4)3.18H2O) digunakan untuk industri kertas dan
karton, pewarna pada industri tekstil, dan pemadam kebakaran jenis busa. (bila
dicampur dengan NaHCO3 dan zat pengemulsi).
2.7 Dampak dan Penanggulangan Bahaya alumunium bagi manusia
Dampak yang ditimbulkan akibat terpapar serbuk alumunium yaitu sebagai berikut :

a)
b)
c)
d)
e)
f)

a)
b)
c)
d)

Kerusakan pada sistem saraf pusat


Kerusakan Paru-paru
Demensia (Menurunnya kekuatan intelektual otak)
Kehilangan memori ingatan
Kelesuan
Gemetar berat
Penanggulangan yang bisa dilakukan terhadap bahaya diatas yaitu :
Terapi farmakologis seperti menggunakan obat asetilkolinesterase inhibitor, vitamin,
dan antioksidan
Sesegera Minum air sebanyak mungkin ketika bahan yang mengandung alumunium
tertelan
Menggunakan obat hirup (Ventolin Inhaler)
Meminum obat levodopa, bromokriptin, pergolid, selegilin, atau antikolinergik

2.8 Dampak dan Penanggulangan Bahaya Alumunium Bagi Lingkungan


Dampak lingkungan yang terjadi akibat tercemar oleh alumunium diantaranya :
a) Pencemaran kehidupan air
Ion alumunium bereaksi dengan protein dalam insang ikan dan embrio katak
yang mengakibatkan kematian. Hewan seperti burung atau bahkan manusia yang
memakan ikan tersebut juga akan otomatis terkontaminasi.
b) Pencemaran udara
Debu alumunium mudah terhisap oleh burung, serangga, atau manusia yang
mengakibatkan berat badan turun drastis, penurunan aktivitas hingga terjadi kematian.
c) Pencemaran tanah
Alumunium terakumulasi dalam air tanah yang akan merusak akar tanaman
dan mencemari bagian dalam tanaman sehingga bila ada hewan atau manusia yang
memakan tanaman tersebut maka akan terpapar secara tidak langsung. Selain itu
alumunium juga dapat mengurangi kadar posfat karena ion alumunium bereaksi
dengan ion fosfat, sehingga organisme-organisme tanah akan kekurangan fosfat
sebagai protein yang akan menyebabkan kemtaian organisme tersebut.
Penanggulangan lingkungan yang dapat dilakukan diantaranya sebagai berikut :
a) Bioremoval atau penambahan biomassa/mikroorganisme yang dapat mengurangi
kandungan logam dalam air
b) Penyaringan air menggunakan filter mangan zeolit dan filter karbon aktif yang
dilengkapi dengan filter cartridge dan sterilisator Ultra Violet untuk menangkap
segala bentuk ion logam berbahaya dalam air
c) Perebusan tanaman dengan NaCl dan asam asetat konsentrasi rendah yang akan
menetralisir kandungan logam dalam tanaman.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aluminium merupakan logam yang paling banyak ditemukan di kerak bumi (8.1%),
tetapi tidak pernah ditemukan secara bebas di alam. Selain pada mineral yang telah
disebut di atas, ia juga ditemukan di granit dan mineral-mineral lainnya. Aluminium ada
di alam dalam bentuk silikat maupun oksida, yaitu antara lain:

sebagai silikat misal feldspar, tanah liat, mika


sebagai oksida anhidrat misal kurondum (untuk amril)
sebagai hidrat misal bauksit
sebagai florida misal kriolit.
Aluminium adalah logam yang sangat reaktif yang membentuk ikatan kimia
berenergi tinggi dengan oksigen. Dibandingkan dengan logam lain, proses ekstraksi
aluminium dari batuannya memerlukan energi yang tinggi untuk mereduksi Al 2O3. Proses
reduksi ini tidak semudah mereduksi besi dengan menggunakan batu bara, karena
aluminium merupakan reduktor yang lebih kuat dari karbon.
Dalam proses pembuatan aluminium ada dua cara yaitu:
Proses Bayer-Hall Heroult
Proses daur ulang alumnium

Logam aluminium dan paduannya antara lain:


Paduan Aluminium-Silikon
Paduan Aluminium-Magnesium
Paduan Aluminium-Tembaga
Paduan Aluminium-Mangan
Paduan Aluminium-Seng
Paduan Aluminium-Lithium
Paduan Aluminium-Skandium
Paduan Aluminium-Besi
Paduan Alnico
Paduan Silumin
Paduan Duralumin

3.2 Saran

Daftar Pustaka

Arsyad, M. Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Christoph Schmitz, Josef Domagala, Petra Haag. 2006. Handbook of aluminium recycling:
fundamentals, mechanical preparation, metallurgical processing, plant design. Vulkan-Verlag
GmbH.
Dieter G. E.1988. Mechanical Metallurgy. McGraw-Hill.
Emsley,
John.2001. Nature's
Building
Blocks:
Elements. Oxford, UK: Oxford UniversityPress

An

A-Z

Guide

to

the

Gabriel, J. F. 2001. Fisika Lingkungan. Jakarta: Hipokrates.


Greenwood, Norman N.; Earnshaw, A.1997. Chemistry of the Elements (2nd ed.), Oxford:
Butterworth-Heinemann.Polmear, I. J. 1995. Light Alloys: Metallurgy of the Light
Metals. Arnold.
Lee, J. D. 1991. Inorganic Chemistry Fourth Edition. Singapore: Fong & Sons Printers Pte.
Ltd.
Manahan, Stanley E. 1994. Environmental Chemistry Sixth Edition. London: Lewis Publisher
CRC Pres. Inc.
Polar, Heryanto. 1994. Pencemaran Dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rinika Cipta.
Sugiyarto, Kristian H. 2001. Kimia Anorganik II. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Kimia
FMIPA UNY.
Surdia Tata, dan Saito Shinroku.1985. Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta: PT Dainippon
Gitakarya Printing
Svehla, G. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi
Kelima Bagian I. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.