Anda di halaman 1dari 12

Abstrak

Selama ini penelitian empiris dalam bidang akuntansi manajemen selalu menggunakan
berbagai metode yang ada. Tidak banyak metode yang dapat mengatasi ketidakpastian
atas suatu produktivitas, misalnya dalam penelitian survey dengan cara menggunakan
telepon dimana tujuannya adalah untuk mendambah bukti serta temuan yang sedang
diteliti, peneliti yang menggunakan studi kasus dapat menggambarkan kondisi dari
organisasi dalam konteks akuntansi manajemen. Namun temuan yang dihasilkan dari
metode studi kasus jarang menyelesaikan masalah atas ketidakpastian secara konstruksi,
pengukuran, serta hubungan. Dalam penelitian ini tujuan peneliti adalah untuk
membangun kembali metode studi kasus agar dapat dipergunakan kembali dalam
penelitian.
Pendahuluan
Banyak ulasan tentang penelitian dalam bidang akuntansi maanjemen yang membahas
hal yang dibentuk suatu organsisasi untuk tujuan tertentu dan besarnya kegunaan dari
hasil penelitian yang kurang konsisten dan tidak meyakinkan (Young, 1996; Atkinson et
al, 1997;. Chapman, 1997; Ittner & Larcker, 2001; Chenhall, 2003 ; Luft dan Shields,
2003). Studi kasus yang popular sebagai sarana untuk belajar akuntansi manajemen
dalamkonteks organsisasi. Akan tetapi studi kausus individu ini kurang digeneralisasikan
dan sering juga kurang memiliki gambaran dengan dasar teoritis akuntansi manajemen.
Penelitian ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dalam melakukan penelitian dalam
studi kasus Cross-sectional sebagai suatu gambaran atau cara dalam mengatasi
kesenjangan antara pengetahuan khusus dalam akunatnsi maanjemen dan meningkatkan
interaksi antara penelitian studi kasus dengan penelitian empiris lainnya.
Metode studi kasus Cross-sectional baik digunakan untuk tujuan mengilustrasikan.
Penelitian yang menggunakan studi kasus cross-sectional terdapat konteks dimana ada
masih ada teori yang kepastiannya masih diragukan. Penelitian tersebut masuk kedalam
kategori teori yang diperbaiki, dengan meningkatkan ketepatan konsep teoritis melalui
pernyataan yang jelas bahwa disetujui serta memperbaiki konstruksi dan hubungan yang
ada. Keuntungan dari menggunakan metode metode studi kasus cross-sectional adalah
untuk mengatasi kesenjangan tertentu dalam literature akuntansi manajemen. Peneliti
mengidentifikasi dari kriteria studi desain yang membahas mengenai cara peneliti
menggunakan studi kasus cross-sectional dengan menetapkan kontribusi dari teori
penelitian yang dilakukan.
Literature selalu menganggap nilai pengembangan interaksi anatra metode dalam studi
tunggal dan studi lapangan, namun studi kasus cross-sectional menunjukkan bahwa
memiliki kontribusi yang trebatas. Studi kasus difokuskan untuk pengembangan teori
dapat menjadi lebih luas dari awal atau akhir untuk menjadi yang utama. Dengan
mempelajari dan mengevaluasi konstruk sosial dan hubungan utama, serta mempelajari
dan memvalidasi konstruk dan hubungan cross-sectional, penelitian ini dapat
meningkatkan kredibilitas dan generalisasi berbasis perbaikan teori lapangan.

Pada bagian selanjutnya peneliti mempertimbangkan isu-isu yang berpengaruh dan


meluas yang telah diidentifikasi dalam pengembangan literature akuntansi manajemen,
dan mengartikulasikan keunggulan komperatif studi kasus dalam mengatasi beberapa
masalah. Bagian ketiga menilai kontribusi yang dibuat oleh penelitian yang dilakukan
sebelumnya dengan menggunakan pendekatan studi kasus cross-section dan
mengevaluasi fitur dari metode tersebut. Pada bagian keempat menggambarkan atribut
desai kunci dari studi kasus cross-sectional dalam menentukan metode sampling,
instrument desai dan analisis data. Serta bagian terakhir berisi kesimpulan dan komentar
dari peneliti.
Masalah yang belum terselesaikan dalam akuntansi manajemen
beberapa masalah yang termasuk dalam pemodelan penelitian akuntansi manajemen
dianggap menghambat dalam pengembangan basis pengetahuan yang lengkap dan
penting. Kegagalan dalam mengidentifikasi variabel intervensi merupakan hal yang
penting dalam mempelajari hubungan serta keterkaitan antara bidang studi dan kurang
pemahaman tentang bagaiaman atribut tingkat organisasi dihubungkan dengan hasil
berupa persepsi dan tindakan pada tingkat individu, sementara ini masalah teknis dalam
penelitian akuntansi manajemen adalah cara permodelannya, selain itu terdapat kesulitan
dalam mengartikanfenomena ilmiah yang pada dasarnya adalah sosial. Masalah
permodelan ini merupakan masalah yang disebabkan oleh sifat sosial yang sangat
kontekstual dari konsep akunatnsi organisasi dan manajemen serta kurangnya kebiasaan
dalam melakukan penelitian dan menyikapi untuk menyempurnakan konsep dan langkahlangkah.
Keunggulan komparatif daro studi kasus dalam mendokumentasikan dan
menggambarkan sifat dan dampak dari pengaruh sosial dan kunci kontekstual,
keengganan jelas dapat menghasilkan interaksi secara terus-menerus antara kerja
lapangan dan metode penelitian lainnya yang berpotensi membatasi kemampuan kita
terhadap hasilnya. Peneliti mengamato kurangnya interaksi penelitian yang difokuskan
pada definisi, pengukuran dan hubungan antara konstruksi utama yang digunakan dalam
penelitian. Beberapa konstruksi seperti seperti ketidakpastian tugas dan stratego,
sangatlah kontekstual dan perlu secara terus-menerus disesuaikan dengan informasi dari
lapangan untuk menghidnari pemahaman spesifik terhadap pertanyaan survey
Banyak penelitian survey yang menyimpulkan bahwa saran terhadap wawasan dari
lapangan mungkin diperlukan untuk menjelaskan hasil dugaan atau untuk mengesplorasi
proses dimana variabel salimg berhubungan untuk menghasilkan hasil. Contoh penelitian
dengan menggunakan metode penelitian survey adalah penelitian dari Ittner, Larcker dan

Randall (2003) tentang metode improved untuk memunculkan apa yang perusahaan
maksud dengan balance scorecard, serta kebutuhan untuk mengeksplorasilebih dalam
tentang pengambilan keputusan antara kepuasan persepsi dengan sistem akuntansi
manajemen dan kinerja organisasi. Serta penelitian daro Kennedy dan Affleck Graves
(2001) menemukan bahwa perusahaan mengadopsi teknik ABC mengungguli perusahaan
yang tidak menerapkan ABC pada kinerja saham. Studi kasus cross-sectional dapat
memperdalam wawasan ke dalam kosntruksi dan hubungan secara empiris, dibandingkan
dengan mempelajari fenomena akuntansi manajemen dalam kasus-kasus yang lebih
spesifik. Studi kasus cross sectional dapat memperluas pemahaman kita dengan
mendeteksi kasus dalam isu-isu tertentu yang dinyatakan dalam laporan rinci, misalnya
studi kasus cross-sectional dapat mendeteksi variasi dokumen dan interpretasi variabel
yang didefinisikan sepreti ABC atau Balance Scorecard atau dimensi penting dari
variabel teori. Denga mendefinisikan interpretasi sosial seperyi kesulitan tujuan atau
fleksibilitas.
Topic yang menarik dalam penelitian studi kasus sangatlah berkaitan dengan yang biasa
dipelajari dalam penelitian survey, termasuk topic-topik yang dibahas dalam penelitian
berbasis survey yang disebutkan sebelumnya. Misalnya dampak dari penerapan balance
scorecard, isu yang terkait dengan ABC dan perubahan akuntansi manajemen. Namun
ada sedikit interaksi antara kasus spesifik dari sistem akunatnsi manajemen. Secara
khusus, peneliti menemukan sedikit bukto bahwa ketidakpastian yang diangkat oleh
peneliti survey mengenai definisi dan pengukuran konstruk kritis dan hubungan antar
mereka secara sistematis ditangani di lapangan, peneliti studi lapangan sering
mengumpulkan data yang relevan dengan masalah tetapi tidak menetapkan kontribusi
kasus individu untuk masalah dalam membangun definisi, pengukuran dan hubungan,
selain itu peneliti tidak mengetahui adanya meta analisis dari lapangan serta temuan
penelitian berdasarkan atau dirancang untuk mengidentifikasi atau pola kontras di kasus
dalam studi yang berbeda.
Beberapa kekhawatiran tentang keadaan penelitian akuntansi manajemen yang baik
didokumentasikan, pendapat peneliti dalam hal ini adalah untuk meninjau kembali
metode yang digunakan oleh Merchant dan Manzoni (1989) dan menganggapnya sebagai
model penelitian yang menhubungkan antara survey dan penelitian berbasis kasus. Crosssectional merupakan pendekatan studi lapangan yang digunakan oleh Merchant dan
Manzoni (1989) berpotensi dapat mengurangi beberapa kesenjangan penelitian dalam
bidang akuntansi manajemen. Secara khusus studi kasus cross-sectional dapat

memeberikan kontribusi yang signifikan untuk menyelesaikan beberapa kontradiksi yang


melekat dalam temuan penelitian akuntansi maanjemen. Contoh contoh penelitian
sebelunya beberapa dilakukan dengan menggunakan pendekatan ini menunjukkan
kapasitas untuk mengidentifikasi:
1. teori dimensi variabel merupakan penggunaan dalam mengatur organisasi sosial,
misalnya tujuan kesuita adalah variabel teori yang didefinisikan sebagai yang
memiliki praktik secara langsung serta mempengaruhi interpretasi secara kuat.
Contohnya adalah lingkungan dan atribut startegis
2. peran serta dampak dari pelaku tingkat individu dalam organisasi sebagai saluran
atribut dimana tingkat organisasi terkait acara. Misalnya adalah individu yang
memiliki kebutuhan informasi terkait dengan tanggung jawab fungsional yang
pada akhirnya mempengaruhi struktur sistem informasi, konten dan dirasakan
manfaat informasi di tingkat organisasi. Contoh lainnya adalah termasuk peran
individu dalam mengerahkan pengendalian yang secara bersama menjadi suatu
sistem pengendalian manajemen organisasi dan keputusan strategis individu yang
secara bersama sama menajadi startegi unit bisnis organisasi.
3. Non linieritas variabel dan hubungan dengan variabel lain (misalnya motivasi,
ontegritas, dan fleksibilitas) hubngan multi (misalnya antara kesulitan tujuan dan
kinerja) dan interval kausal (misalnya bagaimana minat manajer mengubah
jumlah data kesuatu kepentingan data keuangan,s elama periode waktu yang
lama)
Penjelasan figure 1 yang terdapat pada halaman 132,
Penjelasan mengenai figure 1 terdapat pada halaman 131 yang dapat
di simpulkan sebagai berikut. Pada intinya luas dari metode penelitian
dapat secara valid di gambarkan berdasarkan keluasan (jumlah
observasi) dan dimensi kedalaan (dari tidap observasi), single case
study berada pada low breadth artinya memiliki tingkat keluasan yang
paling kecil namun memiliki kuadran kedalaman yang paling tinggi.
Sedangkan keluasan praktik dari metode survei berada pada tingkat
keluasan dan kedalamn yang berbda dengan case study, seperti
memiliki tingkat keluasan yang tinggi, namun memiliki kuadrant
kedalaman yang relatif lebih di bawah atau low dept quadrant. Multiple
case dan cross sectional field studies berada di antara single case

study dan survei. Pada figure tersebut, digambarkan bahwa multiple


cases study lebih cenderung mendekati pendekatan single case study,
dan begitu juga dengan cross scertional filed yang lebih menderung
mendekati pendekatan survei. Studi dengan menggunakan sebuah
pendekatan cross sectional field pada intinya sama dengan desain
multiple study di lihat dari sisi dimensi dari keseragaman , pentingnya
replikasi logic, dan juga batas kedalaman dari analisis kontetual yang
di dapat dari data individu, penjelasan ini didasarkan pada pendapat
dari Eiendrant 1989; Yin 1994). Namun, secara umum multiple case
study sebenarnya mengimlpi sebuah unit analisis yang merupakan
sebuah kasus dan juga jumlah dari kasus yang di uji relatif lebih kecil,
hal ini di lakukan untuk menghindari penggabungan kedalaman dari
analisis secara signifikan. Dalam cross sectional studies unit analisis di
definisikan lebih fleksibel dalam mengobservasi sebuah

fenomena

studi. lebih besar dan luas dan lebih cenderung mengarah ke survei
pada rangkaian kesatuan.
Tabel penjelasan posisi masing-masing metode yang di gambarkan
pada figure 1.
Jenis Metode
Single Case study
Multiple Case Study

Depth (Kedalaman)
Breadth (Keluasan)
High depth quadrant
Low depth qudrant
Middle
(lebih Middle dept quadrant
cenderung ke metode

Cross Sectional Field

Single case study


Middle
(lebih Middle depth quadarnt
cenderung ke metode

survei)
Surveys
Low Depth quadrant
High Depth quadrant
Fenomena ini tidak dikonfirmasi sebagai sebuah kumpulan level yang
dapat di dedefinisikan sebagai kasus. Multiple study dan cross
sectional study field secara umum terlibat dalam jumlah unit study
yang. Dalam figure 1, single cases study dan multiple case study di
golongkan

sebagai

case

study,

karena

memiliki

metode

dan

metodologi yang relatif identik, dan hanya memiliki perbadaan pada


sisi jumlah sisi yang digunakan.
Kesimpulannya ke empat metode ini dapat di bandingkan dlaam
banyak dimesi. Dan hal yang membedakan ke empat dimensi ini
adalah jumlah observasi dan kedalamana observasi pada sisi spesifik
yang lebih sederhana dan juga kesalahan yang dibahas dalam
perbedaan

dasar

dalam

desain

logik

penelitian.

Desain

logik

dikendalikan oleh tingkat kompleksitas dari fenomena yang di pelajari


dan juga kebutuhan untuk mengobservasi pola yag terjadi pada kasus.
Apabila dilihat dari sisi tingkat keluasan dan dan keandalan,
cross sectional studi lebih mendekati pendekatan survei, di karenakan
pengaruh dari peneliti ketika data di kumpulkan menggunakana
struktur semi wawancara/interview, memiliki tingkat random yang
rendah, dan juga kemungkinan untuk di generalisasikan agak kecil.
Pendapat lain, mengenai kedalaman dan keluasan dari masingmasing metode ini dapat dilihat dari aspek yang lain, seperti cara
mengidentifikasi research question dan juga cara teori tersebut di
cocokkan dengan basis luas dari perbandingan perbedaan dari field
studies.
Pertanyaan how dan why sebenarany dilihat dari keseragaman
dan disatukan berdasarkan kebutuhan dari protokol penelitian yang
mensyaratakan adanya pengetahuan kualitatif yang lebih mendalam
pada isu yang relatif terbatas dan kompleks. Ketika pertayaan
penelitian dibuat sebagai gamabran dari kejadian yang terdapat pada
dunia nyata, dan interaksi, maka penliti terlibat dilapangan untuk
memperoelh penjelasan kontekstual yang lebih banyak. Walaupun
memiliki ingkat kpmleksitas yang kecil, dalam mengamati fenomena
empiris peneliti masih dapat memperoleh pengtahuan yang dapat di
pahami dengan baik dalam teori. Masalahnya pertanyaan how dan why
tidak seutuhnya ada dalam kenyataan di dalam organisasi. Pada saat
seperti ini, maka kontak antara peneliti dan responden sangat penting

untuk mengklasrifikasi dan memahami konstruk dan hubunga yang


dapat memotivasi dal dalam sebuah case study.
Figure 2 memuat contoh dari tingkat kompleksitas pertanyaan
how dan why. Contohnya pada tingkatan low complexity, pertanyaan
lebih menyentuh individu dan pada tingkatan high complexity maka
pertanyaan lebih cenderung menyentuh tingkat interaksi sosial yang
lebih luas, misalnya organisasi. Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan
pada figure 2. Seperti
Low complexity
How did you respond to last
months variances against the preset budget ?
Why did you choose these action ?

High complexity
How is the organizations strategy
formulated ?
Why is the current strategy
considered appropriate ?

Berikut ini beberapa implikasi dari traditional case study dan juga
metode survei penelitian

Sampling logic
Research instrument
Daat analysis

Sampling logic
Pada

intinya

masing-masing

metode

tersebut

digunakan

berdasarkan luasnya konsep dari organisasi. Metode survei lebih


konsisten dengan pendekatan pengumpulan data dan juga data
analisis yang diaplikasikan pada sejumlah observasi secara random,
yang tentunya di seleksia dari sebuah populasi tertentu.hal ini
dilakukan untuk mendapatkan hasil statistik yang lebih dpat di
generalisasikan.

Di

sisi

lain

case

study

bertjuan

untuk

mengenralisasikan teori dengan menggunakan perposfull sampling


(bukan random sampel) untuk memperoleh informasi yang lebih
banyak dalam kasus. Tujuan inti dari kedua metode ini berbeda, maka
sangat tidak mungkin untuk memperoleh perbandingan mengenai hal
yang sama dalam metode ini dengan menggunakan satu dimensi.

Perbedaan yang angat mendasar dari kedua metode ini adalah terletak
pada sampel dan penggeneralisasin seperti yang dipalikasikan dalam
cross sectional study field. Pengambilan sampel dan juga generalisasi
merupakan hal yang paling mempengarhui metode cross sectional
data, karean study kasus dan metode sruvei sangat berbeda daari
pendekatan

sampling.

Menggunakan

kedua

metode

ini

secara

bersamaan akan menghaislkan hasil yang membigngungkan.


Pendekatan sampling yang digunakan dalam cross sectional
adalah dimensional line, yang di dapat dengan cara melist variabel
atau dimensi, tentunya dengan menggunakan beragam populasi yang
relevan dengan tujuan untuk membentuk sebuah tipologi yang
kemudian

diguanakn

sebagai

sebuah

kerangka

sampling

untuk

menseleksi jumlah yang kecil dari populasi yang digunakan dalam


kasus. Dimensi tersebut menyarankan fenomena yang akan di
investigasi dan kemudian mencoba untuk memurnikan kembali teori
yang ada dari pada membangun teori baru. Arnold (1970) kemudian
membedakan pendekatan menurut sampling teori, yaitu berdasarkan
preconceived dan non-preconceived.
Peneliti

yang

menggunakan

cross

sectional

study

dapat

menggunakan dimensional sampling, dengan tujuan untuk


1. Mengidentifikasi
menggambarkan

apakah

metode

yang

sebuah

percobaan

digunakan

untuk

telah

mendapatkan

solusi dari literatur yang ada.


2. Untuk mengklarifikai dimensi atau variabel, paakh terdapat
kontradiksi antara variabel atau ilmu pengetahuan yang di
nilai meragukan.
3. Untuk mengidentifkasi theoritical sample di anatara variabel
yang berbeda.
Contoh dari metode ini dalah penelitian dari Merchant 1985 yang
menliti tipe-tipe sampling logic dari kontrol yang digunakan dalam
keputusan

diskresioneri

pendekatan

sampel

yang

digunakan

menggambarkan manejer

diseleksi untuk

untuk

memaksimlakan

perbedaan dari sampel dalam istilah dua variabel yang dapat


mempertimbangkan penyebab dari perbedaan.
Peneliti membandingkan sampel yang digunakan BM dan MM.
Pada

penelitian

determinant
menggunakan

dari

utama

BM

menggunakan

dalam

random

sampel

mendapatkan

sampel

dan

sebagai

informasi,

membuak

dan

peluang

causal
juga
untuk

menyeleksi dasar dari lokasi dan kemampuan untuk diakses, personal


kontak. Populasi yang digunakan terdiri dari 3 kelompk dari sektor
industri dan distribusi. Sedangkan MM tidak menspesifikkan dimensi
dari sampel karena MM emngharapak penelitiannya menunjukkan
dimensi kritis dari fenomene tertentu yang telah di targetkan
(menggunakan general population).
Contruction of Research Intstruments
Kebutuhan untuk membangun validitas konstruk mendorong
peneliti untuk mendefinisikan dengan jelas konstruk teori dan juga
domain yang dapat di observasi. Peneliti yang menggunakan metode
survei memilih untuk mendefinisikan domain dari konstruk yang
bersumber dari teori dan dapat di ukur. Sedangkan peneliti yang
menggunakan case study lebih memilih untuk sedikit mendefinisikan
domain

dan

juga

sedikit

mengukur

construk.

Case

researcher

sebenarnya lebih memilih untuk menjelaskan kontekstual variability


yang relevan dengan domain research dari pada menggunakan dasar
teori dan domain yang sempit. cross sectional field yang menggunakan
ddasar teori yang kuatdan sampel yang kecil, namun tetap menyadari
ketidak pastian dalam definisi dan pengukuran dari konstruk. Resiko
dari cross sectiona study adalah instrumen penelitian dan juga
pengumpulan data akan menghasilakn definisi dan dasar teori yang
membingungkan.

Dyer

dan

Wilkin

menilai

bahwa

field

study

mengesampingkan sosial setting dan fenomena yang menarik. Tujuan


dari cross sectional study adalah untuk megizinkan peneliti survei

untuk mengukur dan bertanya pertanyaan kritis why dan how pada
rsponden yang dapat menginformasikan data dan akhirnya dapat
mengembangkan teori yang ada.
Pengumpulan

data

dengan

metode

wawancara

dapat

menghasilkan resiko bias yang samar-samar (tidak dapat di deteksi)


yang di dapat dari partisipan. Namun resiko in ternyata dapat di
hindari

dengan

menggunakan

multiple

case

study

dari

pada

menggunakan single study.


Cross sectional study dapat dapat mengatasi resiko ini dengan
manbagun konstruk spesifik yang jelas dan hubungan yang berfokus
pada investigasi dilapangan. Defisnis yang sistematis dari domain yang
di observasi dalam konteks

akan memperluas teori dan akan

memberikan kontribusi yang penting dalam cross sectional study.


Semua study meliputi MM, BM dan AL berfokus pada menspesifikkan
domain yang di observasi dan secara rasional menggambarkan
konstruk data dalam konteks pembentukkan dasar pengatahuan.
Dalam kasus MM dan AL, research question di spesifikkan dan di
indikasikan dalam domain yang sempit dalam subjek area yang luas
yang

berhubungan

dengan

pencapaian

target

(MM)

dan

AL

menggunakan felksibilitas manufacturing dan structural response. Dan


BM mendefinisikan domain yang di observasi yang luas dengan
menggunakan 4 research question dan kemudian memperkecil domain
dari pertanyaan ini. Contohnya, reserach question seperti what
information do managers say tehy need and use ? dan kemudian
memperkecil domain pertanyaan dan berfokus pada tipe data yang
digunakan (perhitungan dan financial), karakteristik data (timing dan
relevance) dan karakteristik informasi, dan penggunaan bahasa formal
dan informal.
Data Analysis
Jumlah data dari cross sectional study mengindikasikan
pengujian kuantitaif tidak begitu dibutuhkan.kecuali pada penelitian

AL. Dalam studi tersebut ualitatif data telah di skalakan dan


menggunakan analisis statistik. Walaupun perkembangan kualtiatif dari
skema pengklasifikasian memberikan kontribusi pada paper di anggap
tidak bergantung pada pengujian statisktik. Namun, secara umum
keinginan untuk mengeksplor konstruk yang membingungkan dan
untuk mecari penjelasan dari WHY dan HOW dalam hubungan empiris
sangat bergantung pada kualitatif data.
Memberikan

justifikasi

metode

yang

akan

digunakan

berdasarkan teori yang ada dan domain terbatas yang di observasi,


adalah sangat penting dalam analisis protokol, yang secara kritis
menghubungkan hal tersebut pada teori. Dalam metode pengumpulan
data yang menggunakan multiple research dalam domian yang kecil,
maka matriks data sanagt cocok untuk digunakan, terutama dalam
masalah organisasi. Anaisis dalam metode ini adalah time-ordered,
role-ordered, atau thematic order tergantug pada

sumebr dari

keraguan atas interpretasi dari konstruk dalam teori yang ada. Matrix
memungkinkan

penggunaan

data

kualitatif

coding

dan

analisis

software, yang meliputi proses indentifikasi tema dari data, kategori


data, penghitungan data, dan juga menunjukkan perhitungan dalam
diagram. Metode ini memiliki dua keuntungan utama, yaitu:
1. Mempromosikan

completeness

atau

kelengkapan

dalam

menilai kehadiaran atau ketidakharidaran dari konstruk dan


menghubungkan semuanya dalam semua kasus. Kelengkapan
meningkatkan krediilitas dan memberikan pembaca sebuah
rasa kedisiplinan dan kehati-hatian dalam menilai temuna
yang signiikan di dalam data.
2. Mengizinkan peneliti untuk memelihara sebuah data audit
(dokumen, dan transkrip wawancara), koding, dan rahan
dalam matriks serta interpretasi terhadap temuan.
Intinya tidak ada satupun dari penelitian AL, BM, dan MM yang
menggambarakn metode analisis data. BM mengataka bahwa mereka

menggunkan

pengumpula

data

protokol

dan

konsisten

dengan

kerangka analisis untuk meningkatkan keandalan. Dari 3 bentuk studi


ini dpat di analisis temuan dan laporannya semuanya lebih mengarah
ke kualitatif dan mengunakan domain dari
keterhubungan.

Tidak

ada

satupun

dari

ke

konstruk dan juga


3

studi

ini

yang

menggunakan sejatrh oragnisasi secara mendalam dan kompleks.


Tujuan dari ke tiga studi tersebut adalah untuk mambahas hubungan
anatar variabel berdasarkan pola data. Pertanyaan menggunkaan how
tidak di jelaskan dalam ke tiga paper tersebut. beberapa papaer yang
menggunkan pendekatan cross sectional field studies, diantaranya
adalah Slagmulder (1997).