Anda di halaman 1dari 16

https://mahenraz.wordpress.

com/2010/07/14/fungsi-retribusi-dalam-meningkatkanpad/

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan di Indonesia masih terus dilaksanakan walaupun sekarang ini keadaan
Negara yang kurang stabil. Pembangunan ini meliputi segala bidang aspek kehidupan, yang
pada hakekatnya menciptakan suatu Masyarakat yang adil dan makmur bagi bangsa
Indonesia. Upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat agar semakin adil dan merata harus
terus ditingkatkan, pertumbuhan ekonomi harus ditingkatkan melalui upaya nyata dalam
bentuk perbaikan pendapatan dan peningkatan daya beli Masyarakat. Pembangunan yang
berhasil dirasakan oleh rakyat sebagai perbaikan tingkat taraf hidup pada segenap golongan
Masyarakat akan meningkatkan kesadaran mereka akan arti penting pembangunan dan
mendorong Masyarakat berperan aktif dalam pembangunan.
Menurut UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sumber pendapatan
Daerah terdiri dari: Pendapatan Asli Daerah Sendiri, yang terdiri dari: Hasil Pajak Daerah,
Hasil Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang dipisahkan, Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah, dan Dana
Perimbangan.
Dalam UU No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menetapkan
ketentuan-ketentuan pokok yang memberikan pedoman kebijaksanaan dan arahan bagi
Daerah dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, juga
menetapkan pengaturan yang cukup rinci untuk menjamin prosedur umum perpajakan dan
Retribusi Daerah. Penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagai subsistem Pemerintah
Negara dimaksudkan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan
Pemerintah dan pelayanan Masyarakat sebagai Daerah Otonomi.
Dalam rangka mengoptimalisasikan Pendapatan Asli Daerah, Kabupaten Bengkalis juga
menjadikan sektor Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai sumber keuangan yang
paling diandalkan. Sektor Pajak Daerah tersebut meliputi Pajak Hotel, Pajak Restoran,
Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan Dan
Pengolahan Bahan Galian Golongan C serta Retribusi Daerah yang terdiri: Retribusi Jasa
Umum antara lain Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Persampahan, Jasa Usaha dan

Retribusi Perijinan tertentu merupakan sektor yang sangat besar untuk digali dan diperluas
pengelolaannya.
Salah satu problema yang dihadapi oleh sebagian Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia
dewasa ini adalah berkisar pada upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Problema ini muncul karena adanya kecenderungan berpikir dari sebagian kalangan
birokrat di Daerah yang menganggap bahwa parameter utama yang menentukan
kemandirian suatu Daerah di era Otonomi adalah terletak pada besarnya Pendapatan Asli
Daerah (PAD).
Realitas mengenai rendahnya PAD di sejumlah Daerah pada masa lalu, akhirnya
mengkondisikan Daerah untuk tidak berdaya dan selalu bergantung pada bantuan
pembiayaan atau subsidi dana dari Pemerintah Pusat.
Rendahnya konstribusi pendapatan asli Daerah terhadap pembiayaan Daerah, karena
Daerah hanya diberikan kewenangan mobilisasi sumber dana Pajak dan retribusi yang
mampu memenuhi hanya sekitar 20%-30% dari total penerimaan untuk membiayai
kebutuhan rutin dan pembangunan, sementara 70% 80% didrop dari pusat .
Selain karena persoalan kewenangan yang terbatas dalam memobilisasi sumber dana Pajak
dan retribusi, juga terdapat persoalan yang bersifat teknis yuridis yaitu dalam bentuk
regulasi yang dijadikan dasar hukum bagi Daerah untuk memungut Pendapatan Asli
Daerah, baik yang bersumber dari Pajak maupun dari Retribusi Daerah.
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis
dalam menetapkan target penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Faktor yang
amat penting dan mempengaruhi Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis dalam
menetapkan target pendapatan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Kabupaten Bengkalis
adalah situasi dan kondisi perekonomian dan politik yang kondusif. Hal ini menjadi penting
artinya karena kedua hal ini dapat dikatakan sebagai dua sisi mata uang dan dapat
menentukan hitam-putihnya realisasi penerimaan
Dari latar belakang permasalah diatas, maka penulis tertarik meneliti tentang
Fungsi Retribusi Daerah dalam Meningkatkan Pendapatan

Asli DaerahBerdasrkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2001


tentang Retribusi Daerah . di Kabupaten Bengkalis
B. Rumusan Masalah
Berkenaan dengan fungsi peraturan Daerah yang berorientasi Pendapatan Asli Daerah
(PAD) dalam menunjang pelaksanaan Otonomi Daerah Kabupaten Bengkalis, maka
masalah yang akan dibahas dalam tesis ini adalah :

1.

Bagaimana fungsi Retribusi Daerah Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah


(PAD) Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2001 tentang
Retribusi di Kabupaten Bengkalis

2.

Hambatan apa dihadapi dalam fungsi Retribusi Daerah Dalam Meningkatkan


Pendapatan Asli Daerah (PAD) Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66
Tahun 2001 tentang Retribusi di Kabupaten Bengkalis

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian sebagaimana permasalahan yang telah dikemukakan di atas adalah untuk
:
1.

Mengetahui dan menganalisa fungsi Retribusi Daerah Dalam Meningkatkan


Pendapatan Asli Daerah (PAD) Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66
Tahun 2001 tentang Retribusi di Kabupaten Bengkalis

2.

Mengetahui dan menganalisa hambatan-hambatan terhadap fungsi Retribusi Daerah


Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Berdasrkan Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi di Kabupaten Bengkalis

D. Kegunaan Penelitian
Atas hasil penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
1.

Bahan untuk pengembangan ilmu hukum, khususnya Tata Negara, dan merupakan
sumbangan pemikiran bagi unsur Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan Otonomi
Daerah di Bengkalis.

2.

Bahan informasi kepada Pemerintah Bengkalis khususnya dan Pemerintah Bengkalis


pada umumnya

E. Kerangka Teoritis
1.
Kewenangan Pemerintah Dalam Hal Pengendalian Sumber Pendapatan Asli Daerah
Pada Undang undang Nomor 32 Tahun 2004 diatur pada Pasal 10 menyebutkan :
a) Kewenangan Daerah Kabupaten mencakup semua kewenangan Pemerintahan selain
kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9.
b) Bidang Pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten meliputi
Pekerjaan Umum, Kesehatan, Pendidikan dan Kebudayaan, Pertanian, Perhubungan,
Industri dan Perdagangan, Penanaman Modal, Lingkungan Hidup, Pertanahan, Koperasi
dan Tenaga Kerja.
Dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 hal tersebut secara rinci telah disebutkan
pada Pasal 14 Ayat (1) kewenangan untuk Daerah Kabupaten/Kabupaten meliputi 16
kewenangan dan pada Ayat (2) urusan Pemerintahan ada juga bersifat pilihan meliputi

urusan Pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan
kesejahteraan Masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan Daerah
yang bersangkutan.
Memperhatikan kewenangan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diketahui bahwa
terdapat sejumlah kewenangan dibidang Pemerintahan yang tidak diserahkan kepada
Daerah, sehingga kewenangan tersebut tetap menjadi wewenang Pemerintah pusat dalam
wujud Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.
Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tercantum pada Pasal 157. Sumber Pendapatan
Daerah terdiri dari: Pendapatan Asli Daerah (PAD) meliputi: Hasil Retribusi Daerah.
Pemberlakuan jenis-jenis pajak ini tentunya disesuaikan dengan peraturan-Peraturan
perundang-undangan yang berlaku, seperti UU No. 34/2000 tentang Perubahan atas
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah. Pada Undang undang ini lebih leluasa dalam menarik Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah di wilayah yurisdiksinya, dengan mengeluarkan Peraturan Daerah,
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
Sebagai operasionalisasi dari Undang undang ini, Pemerintah juga telah mengeluarkan PP
No. 66/2001 tentang Pajak Daerah dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2001
tentang Retribusi Daerah. Daerah, baik Pemerintah propinsi maupun di Pemerintah
Kabupaten/Kota.
2. Fungsi
Dalam sebuah organisasi, sistem fungsi memegang fungsi penting untuk memastikan
bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai dengan mandat, visi, misi,tujuan serta targettarget organisasi. Sistem fungsi memiliki dua tujuan utama yaitu akuntabilitas dan proses
belajar. Dari sisi akuntabilitas, sistem fungsi akan memastikan bahwa dana pembangunan
digunakan sesuai dengan etika dan aturan hukum dalam rangka memenuhi rasa keadilan.
Dari sisi proses belajar,sistem Fungsi akan memberikan informasi tentang dampak dari
program atau intervensi yang dilakukan,sehingga pengambil keputusan dapat belajar
tentang bagaimana menciptakan program yang lebih efektif.
Berdasarkan obyek Fungsi, dapat membagi Fungsi terhadap Pemerintah Kabupaten
menjadi tiga jenis,yaitu Fungsi terhadap:
1.
2.

Produk hukum dan kebijakan Daerah


Pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten serta produk
hukum dan kebijakan

3.

Keuangan Daerah

F. Konsep Operasional
1.
Fungsi adalah pekerjaan dan pola prilaku yang diharapkan dari seseorang dalam
manajemen dan ditentukan berdasarkan status yang ada padanya
2.

Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah iuran wajib yang
dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah yang mendapat imbalan
langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah dan pembangunan Daerah.
3.
Pajak adalah iuran dari rakyat kepada kas negara (peralihan dari sistem particular ke
sektor Pemerintah) berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tanpa
mendapat jasa timbal balik (tegenprestatis) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang
dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran umum ( publik vit gaven ).
4.
Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh dari hasil asli Daerah
untuk memasukan kas Daerah

G. Metode Penelitian
1.

Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan adalah termasuk ketegori jenis Penelitianobservasi


(Observational Research), artinya penelitian dilakukan langsung kelapangan guna
mendapatkan data primer. Sedangkan sifat penelitian adalah diskriptif analisis
1.
Objek Penelitian
Obyek penelitian adalah mengenai Fungsi Retribusi Daerah Dalam Meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun
2001 tentang Retribusi di Kabupaten Bengkalis
1.

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Bengkalis, tepatnya dikantor Dinas


Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Benngkalis
1.

Populasi dan Sampel

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi dan sampel yaitu masyarkat membayar
Retribusi berjumlah 350 orang, karena besarnya populasi relatif besar jumlahnya, maka
diambil 10 % saja dari 350 orang tersebut sehingga sampelnya sebanyak 35
orang.pengambil ini dilakukan dengan metode porposive sampling. Selain itu ada juga unit
populasi yang lain yang diambil menjadi responden, seperti : Kepala Dispenda Kabupaten
Bengkalis, Kepala UPTD Dispenda Kabupaten Bengkalis dan Kepala Inspektorat Kabupaten
Bengkalis
1.

Data dan Sumber Data

Dalam Penelitian dan kajian akan dipergunakan Data Primer dan Data sekunder, yaitu :
1.

Data Primer

Data primer adalah data utama yang langsung diperoleh dari Responden atau sampel, yaitu
dari Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Bengkalis, Kepala UPTD Kecamatan serta
pihak yang terkait langsung.
1.
Data sekunder.
Data yang diperoleh dari buku buku literatur yang berkaitan dengan judul tesis. Disamping
itu juga berupa skripsi dan tesis terdahulu, surat kabar, makalah dan seminar.
1.

Alat pengumpulan data

Alat pengumpulan data yang digunakan adalah Kuesioner, yaitu dengan cara membuat
daftar pertanyaan secara tertutup maupun terbuka. Disamping itu digunakan juga alat
pengumpulan data dengan cara Wawancara (interview) yaitu pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung responden
1.

Analisis data

Dengan menggunakan metode observasi yakni dengan cara data dari


kuesionerdikumpulkan, kemudian diolah dan disajikan dengan cara membandingkan
antara data lapangan dengan pendapat para ahli atau dengan peraturan perundangundangan yang dijadikan dasar yuridis dalam penelitian.
1.
Metode Penarikan Kesimpulan
Metode penarikan kesimpulan yang digunakan adalah Metode Induktif dan metode
deduktif.
BAB II
TINJAUAN TENTANG PENDAPATAN ASLI DAERAH
1.

A. Tinjauan Umum Tentang Pendapatan Asli Daerah


1.
1. Keuangan Daerah
Salah satu kriteria penting untuk mengetahui secara nyata kemampuan
Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya adalah kemampuan
self supporting dalam bidang keuangan. Sehubungan dengan pentingnya
posisi keuangan ini, Pamudji menegaskan:

Pemerintah Daerah tidak akan dapat melaksanakan fungsinya dengan


efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan
pembangunan Dan keuangan inilah yang merupakan salah satudasar kriteria

untuk mengetahui secara nyata kemampuan Daerah dalam mengurus rumah


tangganya sendiri .
Untuk dapat memiliki keuangan yang memadai dengan sendirinya
Daerah membutuhkan sumber keuangan yang cukup pula. Dalam hal ini Daerah dapat
memperolehnya melalui beberapa cara, yakni: Pertama : mengumpulkan dana dari Pajak
Daerah yang sudah direstui oleh Pemerintah Pusat; Kedua : melakukan pinjaman dari
pihak ketiga, pasar uang atau bank atau melalui Pemerintah Pusat; Ketiga : mengambil
bagian dalam pendapatan pajak sentral yang dipungut Daerah, misalnya sekian persen dari
pendapatan sentralnya tersebut; Keempat : menambahkan tarif pajak sentral tertentu,
misalnya pajak
kekayaan atau pajak pendapatan; Kelima : menerima bantuan atau subsidi dari pemerintah
pusat.
Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,menjelaskan bahwa :
1.

Pendapatan asli Daerah (PAD) Daerah sendiri, yang terdiri dari:

Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan;

1.

Sumber PAD lainnya yang sah;

Dana perimbangan, yang terdiri dari :

Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak dan sumber daya alam
Dana alokasi umum, yang dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari
pendapatan dalam negeri neto
o

Dana alokasi khusus yang dialokasikan dari APBN

Lain-lain pendapatan Daerah yang sah, misalnya hibah dan dana darurat.

Dari ketentuan tersebut di atas maka pendapatan Daerah dapat dibedakan ke dalam dua
jenis yaitu: pendapatan asli Daerah dan pendapatan non-asli Daerah. Sampai dengan saat
ini, sumber-sumber pendapatan asli Daerah terdiri dari: Pajak Daerah.Rochmad Sumitro
mengemukakan bahwa

Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan darisektor
partikelir ke sektor Pemerintahan) berdasarkan undangundang(dapat
dipaksakan ) dengan tidak mendapatkan jasa timbal (tegen presttie) untuk
membiayai pengeluaran umum (publike uitgaven), dan yang digunakan sebagai
alat pencegah atau pendorong untuk mencapai tujuan yang ada di luar bidang
keuangan.

Dari pendapat terdapat tersebut di atas terlihat bahwa ciri mendasar


pajak adalah:
1.
Pajak dipungut oleh negara berdasarkan kekuatan dan/atau peraturan hukum dan
lainnya.;
2.
3.

Pajak dipungut tanpa adanya kontra prestasi yang secara langsung dapat ditunjuk;
Hasil pungutan pajak digunakan untuk menutup pengeluaran negara dan sisanya
apabila masih ada digunakan untuk investasi;

Pajak disamping sebagai sumber keuangan negara (bugetair) , juga berfungsi


sebagai pengatur ( regulair) .
Sumber pendapatan Daerah yang penting lainnya adalah retribusi Daerah. Pengertian
retribusi secara umum adalah pembayaran-pembayaran kepada Negara yang dilakukan
oleh mereka yang menggunakan jasajasa negara.
4.

Dari pendapat-pendapat di atas telihat bahwa ciri mendasar dari


retribusi adalah:
1.
Retribusi dipungut oleh negara;
2.

Dalam pemungutan terdapat paksaan secara ekonomis;

3.

Adanya kontra prestasi yang secara langsung dapat ditunjuk;

4.

Retribusi dikenakan pada setiap orang/badan yang menggunakan jasa-jasa yang


disiapkan negara.

2. Pertimbangan dalam Pungutan Retribusi


Pungutan retribusi langsung atau konsumen dalam praktekknya biasanya
dikenakan karena satu atau lebih dari pertimbangan-pertimbangan sebagai
berikut:
1.
Apakah pelayanan tersebut merupakan barang-barang publik atau privat,
mungkin pelayanan tersebut dapat disediakan kepada setiap orang.
2.
Suatu jasa yang melibatkan suatu sumber daya yang langka atau mahal dan
perlunya disiplin Masyarakat dalam mengkonsumsinya.
3.

Ada beberapa jenis konsumsi yang dinikmati oleh individu bukan karena
kebutuhan pokok sehingga lebih merupakan pilihan daripada keperluan.
4.
Jasa-jasa dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan mencari keuntungan
disamping memuaskan kebutuhan-kebutuhan individual di kantor pos,
telepon seluruhnya digunakan secara luas oleh industri.
3. Tingkat Pengenaan Retribusi
Secara garis besar ada beberapa tingkatan pengenaan retribusi yang
digunakan oleh Pemerintah terhadap Masyarakat, yaitu retribusi atas jasa-jasa
pelayanan umum atas pemakaian langsung (pelayanan secara keseluruhan),
retribusi untuk jasa-jasa pelayanan umum yang membutuhkan tingkat
pengembalian biaya langsung (direct cost ) yang berbeda, dan retribusi

berdasar kewenangan tertentu Pemerintah Daerah atas penerimaan retribusi


tersebut.
1.
B. Pengelolaan Pendapatan Daerah beserta Implikasinya Terhadap
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Daerah dalam struktur APBD masih merupakan elemen yang cukup penting
Fungsinya baik untuk mendukung penyelenggaraan Pemerintahan maupun pemberian
pelayanan kepada publik. Apabila dikaitkan dengan pembiayaan, maka pendapatan Daerah
masih merupakan alternatif pilihan utama dalam mendukung program dan kegiatan
penyelenggaraan Pemerintahan dan pelayanan publik di Kabupaten/Kota di Indonesia
Formulasi kebijakan dalam mendukung pengelolaan anggaran pendapatan Daerah akan
lebih difokuskan pada upaya untuk mobilisasi pendapatan asli Daerah, dana perimbangan
dan penerimaan Daerah lainnya. Kebijakan pendapatan Daerah Kabupaten/Kota di
Indonesia tahun 2006-2010 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar
kurang lebih 10 % dan pertumbuhan tersebut lebih disebabkan oleh adanya pertumbuhan
pada komponen PAD dan komponen Dana Perimbangan.
Adapun alternatif sumber-sumber penerimaan Daerah Kabupaten Bengkalis untuk masa
mendatang, antara lain berasal dari:
1.
1. Intensifikasi dan Ekstensikikasi PAD
Dalam lima tahun mendatang, kemampuan keuangan Daerah Kabupaten /Kabupaten di
seluruh Indonesia akan ditingkatkan dengan mengandalkan pada Kebijakan intensifikasi
dan ekstensifikasi pemungutan retribusi dan Pajak Daerah. Namun demikian, kekuatan
pembaharuan yang diajukan sebagai strategi barunya adalah pada aksentuasi manajemen
pengelolaan dan audit kinerjanya.
1.
2. Pengembangan Kerjasama dalam Menggali PAD
Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kemampuan pembiayaan
penyelenggaraan Pemerintahan dan pembangunan di Daerah, akan dikembangkan strategi
baru yang tidak semata berorientasi pada intensifikasi maupun ekstensifikasi retribusi dan
Pajak Daerah.
1.
3. Pembentukan Perseroan Daerah
Strategi ketiga pengembangan kemampuan keuangan Daerah ialah dilakukan dengan
memformulasikan regulasi-regulasi ekonomi baru terutama mengarah pada pembentukan
berbagai perseroan Daerah serta merevitalisasi badan usaha Daerah yang sudah ada.
1.
4. Penerbitan Obligasi dan Pinjaman Daerah
Disamping strategi konvensional pemungutan retribusi dan Pajak Daerah, kemampuan
keuangan Daerah akan dikembangkan melalui bursa obligasi Daerah ( Municipal Bond ).
1.
5. Kebijakan Umum Anggaran

Kebijakan umum penganggaran yang dicanangkan Pemerintah derah untuk lima tahun ke
depan ditujukan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sistem penganggaran
Daerah sesuai dengan Amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara.
BAB III
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
1.
A. Kondisi Geografis
Bengkalis merupakan salah satu Kabupaten di Indonesia memiliki luas sekitar 326,37 km2
dan secara astronomis terletak di antara 07 21 Lintang Selatan dan 112 36 s/d 112 54
Bujur Timur. Sebagian besar wilayah Bengkalis merupakan dataran rendah dengan
ketinggian 3-6 meter di atas permukaan air laut, Batas wilayah Kabupaten Bengkalis adalah
sebelah Utara dan Timur dibatasi oleh Selat Malaka, sebelah Selatan dibatasi oleh
Kabupaten Siak dan sebelah Barat dibatasi oleh Kabupaten Rokan Hilir. Populasi penduduk
Kabupaten Bengkalis sampai dengan bulan Desenber 2009 mencapai 701.312
jiwa. Perekonomian Daerah
1.
1. Kondisi Makro Ekonomi
Secara umum Fungsi sektoral perekonomian Kabupaten Bengkalis (2002-2004) rata-rata
didominasi oleh sektor tersier (54,37 persen), kemudian diikuti oleh sektor sekunder (45,44
persen) dan terakhir sektor primer (0,19 persen). Besarnya Fungsi sektor tersier tersebut
disumbang oleh (i) sektor perdagangan hotel restoran (34,76 persen), (ii) sektor angkutan
dan komunikasi (8,98 persen), (iii) sektor perbankan dan lembaga keuangan (6,17 persen),
dan (iv) sektor jasa-jasa (4,46 persen).
Disamping Fungsi masing-masing sektor usaha, pertumbuhan ekonomi yang terjadi juga
didukung oleh adanya kecenderungan bahwa tingkat inflasi selama tiga periode terakhir
(2007-2009) terus mengalami penurunan, dengan tingkat inflasi masing-masing sebesar
9,30 persen (2007), 7,68 persen (2008) dan 6,96 persen (2009). Beberapa kesimpulan yang
dapat ditarik dari adanya perkembangan indikator perekonomian Daerah (Kabupaten
Bengkalis) sebagaimana diuraikan diatas, adalah sebagai berikut:
1.

Perkembangan perekonomian nasional akan senantiasa mewarnai perkembangan


ekonomi di per Kabupatenan.

2.

Perkembangan sektor tersier di Kabupaten Bengkalis dalam beberapa tahun terakhir


tampaknya semakin cukup dominan apabila dibandingkan dengan dua sektor lainnya
(primer dan sekunder), baik dilihat dari sisi Fungsi maupun pertumbuhannya.

2. Investasi
Pertumbuhan ekonomi selama tiga periode terakhir diyakini banyak ditopang oleh adanya
peningkatan aliran investasi masuk ke Kabupaten Bengkalis.

Dalam hal perkembangan investasi, secara akumulatif sejak tahun 2007 hingga tahun 2009,
angka persetujuan investasi baik PMA maupun PMDN yang dikeluarkan oleh Dinas
Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Kabupaten Bengkalis menunjukkan
peningkatan sebesar 2,23 persen dan 32,55 persen untuk masing masing jumlah proyek
PMDN dan PMA, serta 3,70 persen dan 7,21 persen untuk masing-masing nilai investasi
PMDN dan PMA.
3. Kondisi Keuangan Daerah
Di bidang keuangan Daerah, Pendapatan Daerah Kabupaten Bengkalis selama 5 tahun
terakhir, baik secara absolut maupun relatif cenderung mengalami peningkatan, yaitu dari
Rp. 764,48 milyar (2007) menjadi Rp.1,36 triliun (2009), atau rata-rata setiap tahunnya
mengalami peningkatan sekitar 15,76%. Komponen Pendapatan Asli Daerah (PAD).
C. Retribusi Daerah
1.
Retribusi Kebersihan
2.

Retribusi parkir di tepi jalan umum

3. Retribusi Pasar
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.

A. Fungsi Retribusi Daerah Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli


Daerah (PAD) Kabupaten Bengkalis
Fungsi Retribusi Daerah dapat diukur berdasarkan target capai pungutan, jika target
pencapaian tinggi maka fungsi Retribusi terhadap PAD, maka fungsinya akan besar pula.

Jenis Retribusi Jasa Umum yang dipungut di Kabupaten Bengkalis berdasarkan survey banyak
kejanggalan dilapangan, terutama Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum dan Retribusi
Pelayanan Pasar. Kejanggalan terjadi adalah sebagian besar pungutan lebih besar dari yang
seharusnya dan sebagian tidak menyerahkan karcis kepada penyewa tempat parkir.
Pelayanan yang diberikan oleh Pemkab Bengkalis terhadap Pelayanan Parkir ditepi jalan umum
sangat tidak layak dan janggal (30/85,70%), artinya kejanggalan terjadi perbandingan biaya yang
dikeluarkan untuk membayar Retribusi tidak sebanding dengan pelayanan yang diberikan oleh
Pemkab Bengkalis, hanya 4,30 % (5 orang) menyatakan bahwa pelayanan sudah baik dan tidak
terjadi kejanggalan. Berikutnya kejanggalan terjadi pula Retribusi Pelayanan Pasar, 71,42 % (25
Orang) responden menyatakan memang terdapat kejanggalan dalam pelayanan Retribusi pasar,
hanya 28,58 % (10 Orang) yang menyatakan tidak ada kejanggalan
Selain jenis retribusi yang telah disebutkan diatas dengan Peraturan Daerah dapat ditetapkan
jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam undang-undang. Namun dari
hasil survey dilapangan terlihat jelas bahwa Jenis-jenis Retribusi yang telah ditetapkan oleh

Pemkab Bengkalis melalui Perdanya tidak memperhatikan rasa keadilan Masyarakat pembayar
Retribusi, ini ditunjang oleh pernyataan responden % (29 Orang) menyatakan tidak sesuai
dengan rasa keadilan, hanya % (6 Orang) menyatakan sesuai dengan rasa keadilan. Sementara itu
jika dikaitkan dengan biaya tinggi, maka responden menjawab % (28 orang) responden
menyatakan bahwa penetapan jenis retribusi memakan biaya tinggi, hanya % (7 Orang) saja yang
menjawab sebaliknya
Kewenangan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) melakukan pemungutan pendapatan asli
Daerah sesuai dengan pasal 10 Undang-undang Nomor 17 tentang Keuangan Negara. Pasal 7
ayat 2 huruf (e) dan pasal 10 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 58 Tahun 2005
tentang pengelolaan keuangan Daerah. Dan Pasal 7 Ayat (2) huruf (e) dan Pasal 10 huruf (f)
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan
Daerah menyatakan:
Pemungutan pajak dilakukakan oleh pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah sehingga pasal
tersebut mengisyaratkan penggabungan dari Keuangan/Bagian Keuangan dengan Dinas
Pendapatan Daerah kedalam Badan Pengelolaan Keuangan Daerah sedang retribusi dilakukan
oleh UPTD lainnya sebagai penguna anggaran
Hasil survey menunjukan bahwa perbedaan laporan pemasukan uang kekas Daerah lebih
rendah dibandingkan dengan yang semesti. Besarnya Kontribusi untuk Pendapatan Asli
Daerah (PAD) pada Tahun 2009 sebesarRp.10.866.000.000,00 (sepuluh milyar delapan
ratus enam puluh enam juta rupiah) pemasukan ini diperkirakan baru 79 % dari yang
seharusnya
Dengan demikianlah kontribusi Retribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah termasuk
pemasukan yang cukup besar bagi Daerah Kabupaten Bengkalis, yaitu jumlah
keseluruhannya sebesar Rp. 322.666.000.000,00 (tiga ratus dua puluh dua milyar enem
ratus enam puluh enam juta rupiah), atau berkisar 37 % dari Pendapatan Asli Daerah
Kabupaten Bengkalis.
1.

B. Hambatan-hambatan terhadap Fungsi Retribusi Daerah Dalam


Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bengkalis
Berdasarkan wawancara dengan kepala bawasda Kabupaten Bengkalis

Pemerintah Kabupaten Bengkalis menghadapi enam kendala baik datang dari


luar maupun dari lingkungan Pemerintah Kabupaten sendiri dalam
meningkatan fungsi Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah
Kabuapaten Bengkalis.
1.

Kendala dari luar meliputi :


1.
2.

Peraturan perundang-undangan yang membatasi Daerah melakukan


ekstensifikasi Retribusi.
Akibat terjadinya krisis keuangan.

3.

Kondisi Sosial-politik.

4.

Akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tidak
stabil.

5.

Kendala dari Dalam meliputi :


1.

Kewenangan Pemerintah Kabupaten Bengkalis yang terbatas


mengakibatkan sulit untuk mengembangan pendapatan Daerah dari sektor
retribusi.

2.

Belum optimalnya kontribusi BUMD terhadap penerimaan Daerah


karena belum membaiknya kondisi dan perkembangan BUMD.

Meski menghadapi kendala-kendala, namun Pemkab Bengkalis tetap menargetkan


peningkatan PAD yang bersumber dari Retribusi Daerah dalam APBD 2010 menjadi Rp
813,46 miliar yang naik 12,39 persen dari Rp723,75 miliar yang ditargetkan pada APBD
2009
Berdasarkan survey yang dilakukan di lokasi penelitian dapat diketahui bahwa, kendala dari
petugas dikategorikan lebih banyak dibandingkan dengan pegadang dan peraturan.
Kemudian kendala yang dihadapi oleh seluruh UPTD Kecamatan di Kabupaten Bengkalis
adalah kebocoran pelaporan pendapatan dari petugas. Kendala ini lebih banyak dihadapi
oleh UPTD Kecamatan Bengkalis.
Kendala lain dari faktor petugas adalah masih
kurangnya kedisiplinan
petugas dalam melaksanakan tugas memungut retribusi. Masih terdapat
petugas yang melaksanakan pemungutan tidak sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan. Keterbatasan jumlah petugas dengan luas wilayah tugas
menjadi salah satu kendala yang juga dihadapi oleh Dipenda.
Berdasarkan hasil wawancara dengan seluruh UPTD Kecamatan di Kabupaten Bengkalis,

Kendala pemungutan retribusi pelayanan dari faktor pedagang disebabkan


oleh keengganan pedagang untuk membayar retribusi. Alasanmereka antara
lain ketidak sesuaian antara besarnya retribusi yang mereka bayarkan dengan
fasilitas yang diberikan oleh pihak dinas kepada
pedagang. Selama ini para pedagang mengaku belum mendapat fasilitas yang
mencukupi di lokasi tempat mereka berjualan/fasilitas yang
digunakan. Akibatnya, pendapatan yang mereka terima tidak menentu.
Terkadang mendapat keuntungan, dan terkadang sebaliknya merugi karena
dagangannya tidak laku. Kondisi seperti itu, menjadikan penghasilan mereka
hanya sebatas cukup untuk menyambung hidup.

Sedangkan di UPTD Kecamatan Mandau, kendala pemungutan retribusi pelayanan Umum


seperti pasar dari faktor pedagang lebih banyak disebabkan banyaknya pedagang yang
sering berpindah lokasi berjualan sehingga mempersulit proses pemungutan retribusi.
BAB.V
PENUTUP
1.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1.

Retribusi Daerah mempunyai Fungsi yang sangat penting terhadap Pendapatan Asli
Daerah Pemerintah Kabupaten Bengkalis.

2.

Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan Fungsi Retribusi Daerah


yaitu masih kurangnya kesadaran wajib retribusi dalam memenuhi kewajibannya dalam
membayar Retribusi Daerah, adanya penyimpangan dari petugas penarik retribusi yaitu
tidak memberikan karcis sebagai bukti pembayaran retribusi yang dipungut, serta
hambatan keadaan perekonomian bangasa Indonesia yang tidak stabil dari tahun ke
tahun.
1.
2.

B. Saran-Saran
Bagi pembayar Retribusi (pedagang), hendaknya selalu membayar retribusi
pelayanan pasar, karena retribusi tersebut pada dasarnya akan dimanfaatkan oleh
pembayar Retribusi (pedagang) sendiri, yaitu sebagai dana untuk memperbaiki
fasilitas pasar yang rusak.

3.

Bagi petugas, hendaknya pungutan dilakukan secara tepat artinya


dilakukan dengan prosedur yang benar, sehingga tidak menimbulkan
kebocoran pemasukan. Langkah konkrit yang dapat dilakukan adalah
dengan meningkatkan kesadaran untuk menarik retribusi dengan selalu
memberikan tanda bukti pembayaran, serta melaporkan secara jujur
perolehan retribusinya.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
A. Buku
Bohari, Pengantar Hukum Retribusi, Edisi Pertama , PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1995
Erly Suandy, Peretribusian, Jakarta : Salemba Empat, 2002.
Gunadi, Retribusi Daerah , Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Indonesia, Jakarta, 1997
, PerRetribusian Jilid I , Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Indonesia, Jakarta,
1997

Kaho, Josef Riwu. 1995. Prospek

Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia:


Identifikasi Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi
Penyelenggaraannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Koswara, E. 2001. Otonomi Daerah: Untuk Demokrasi dan Kemandirian
Rakyat. Jakarta: Yayasan Pariba.
Shah, Anwar. 1991. Perspective on The Design of Intergovernmental Fiscal Relation. The
PRE Working Paper Series No. 726. 1991 . Washington D.C.: The World Bank. Hlm.
24-26.
Mansury, Retribusi Penghasilan Lanjutan , Ind-Hill-Co, Jakarta, 1996
Muqadam, PerRetribusian Buku I: Dasar-dasar hukum Retribusi, pembaharuan
perRetribusian nasional, ketentuan umum dan tata cara perRetribusian , Edisi 2,
Bagian Peneribitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1993
Mardiasmo, PerRetribusian, Edisi Revisi , Penerbit Andi, Yogyakarta, 2002.
Hoesein, Bhenyamin. 1999. Hubungan Penyelenggaraan Pemerintahan Pusat dengan
Pemerintah Daerah. Makalah dalam seminar dengan tema Rerspektif Reformasi
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Menuju Kemandirian Daerah yang diselenggarakan
oleh Universitas 17 Agustus 1945 di Jakarta
Rochmat Soemitro, Asas dan Dasar PerRetribusian 1 , PT Eresco, Bandung, 1986
-, Retribusi Daerah , PT Eresco, Bandung, 1997
-, Retribusi ditinjau dari segi hukum , PT Eresco, Bandung, 1996
-, Pengantar Singkat Hukum Retribusi , PT Eresco, Bandung, 1995
Santoso Bratodiharjo, Pengantar Ilmu Hukum Retribusi , Edisi Ketiga, PT Eresco,
Bandung, 1999
Waluyo, PerRetribusian Indonesia : Pembahasan sesuai dengan Ketentuan
Pelaksanaan Perundang-undangan PerRetribusian Terbaru, Buku 2 . salemba
Empat, Jakarta, 2002
B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang Undang nomor 6 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan undangundang nomor 16 tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara PerRetribusian
Undang Undang nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan undangundang nomor 17 tahun 2000 tentang Retribusi Penghasilan
Undang Undang nomor 8 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan undangundang nomor 18 tahun 2000 tentang Retribusi Pertambahan Nilai dan Retribusi
Penjualan Barang Mewah

Undang Undang nomor 12 tahun 1985 sebagaimana telah diubah terakhir dengan undangundang nomor 12 tahun 1994 tentang Retribusi Bumi dan Bangunan
Undang Undang nomor 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai
Undang Undang nomor 20 tahun 2000 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undangundang nomor 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Perda Kabupaten Bengkalis Nomor 112/BKS/PJK/2006 tentang Retribusi Daerah
Kabupaten Bengkalis