Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH PANJANG SPARK PLUG CABLE

TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN 4 TAK 1 SILINDER


Taufik Hidayah 1, Sugiyanto3
1

Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, Univeristas Surakarta


2
Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Surakarta

Jika ditinjau dari teori tahanan maka kabel besar dan pendek akan
mengakibatkan kinerja motor akan lebih bagus daripada yang standar. Namun
untuk lebih meyakinkan perlu kiranya dilakukan pembuktian dengan penelitian
terhadap pengaruh panjang Spark Plug Cable terhadap kinerja motor bensin
4 tak 1 silinder. Dari hipotesa diatas dapat dikatakan bahwa tujuan dari
pengamatan dan pengujian ini adalah mengetahui kinerja motor akibat
menggunakan Spark plug cable dengan variasi panjang dan mendapatkan
panjang Spark plug cable yang mengakibatkan kinerja motor sebaik mungkin.
Pengamatan dan pengujian dilakukan dengan menggunakan Dynotest
untuk mengetahui kinerja motor pada variasi putaran dan panjang kabel busi.
Data hasil pengamatan yang berupa beban motor, putaran motor dan waktu
yang dibutuhkan untuk menghabiskan 10 cc bahan bakar diolah dengan
metode matematika sehingga diperoleh data kinerja motor.
Dari pengamatan dan pengujian disimpulkan bahwa panjang Spark
plug cable berpengaruh terhadap kinerja motor. Dimana kabel dengan
panjang lebih pendek dari kabel standar memberikan penurunan konsumsi
bahan bakar spesifik tetapi untuk kinerja motor tidak, justru kabel tegangan
tinggi yang lebih panjang dari standar memberikan kinerja lebih baik.
Kata kunci : Spark Plug Cable, Kabel tegangan tinggi, Kabel Busi

PENDAHULUAN
Untuk memperbaiki kinerja motor, salah satu cara adalah memperbaiki kinerja sistem
pengapian dimana pengapian konvensional dikembangkan menjadi model elektronik untuk
mengeliminasi kekeurangan-kekurangan yang ada. Belum puas sampai disini, komponen
yang lainpun mulai dilirik untuk dikembangkan agar sistem pengapian atau percikan bunga
api yang diinginkan lebih besar sehingga pembakaran bisa lebih sempurna dan tentunya
kinerja motor akan meningkat. Busi telah dikembangkan dengan penyempurnaan nilai
panas, jumlah elektroda negatif dan material busi lebih dibuat lebih bagus, Kabel tegangan
tinggi, Koil, Tutup busi (spark plug adapter) dan lain sebagainya.
Tutup busi atau spark plug adapter memiliki peran yang penting untuk
menyampaikan tegangan tinggi dari Koil kepada Busi sehingga diharapkan percikan bunga
api pada ujung elektroda positif busi akan baik dan pembakaran terjadi dengan sempurna.
Dalam perkembangannya telah muncul berbagai tutup busi sehingga kebocoran arus dari
pertemuan busi dan kabel tegangan tinggi dapat dikurangi. Tutup busi racing adalah satu
diantaranya bentuk pengembangannya. Namun ada juga pengembangan kearah estetika
yaitu dengan memberikan lampu led pada tutup busi sehingga akan ada lampu penerangan
pada tutrup busi, tapi ada pula yang ketinggalan jaman atau alasan yang lain yang
mengakibatkan para pengguna kendaraan, dalam hal ini sepeda motor untuk tidak
menggunakan tutup busi tetapi langsung menancapkan kabel tegangan tinggi ke busi.
Uraian diatas adalah analisa awal yang digunakan untuk meneliti masalah tutup busi dan
hasilnya berbanding terbalik dimana tanpa penggunaan tutup busi menghasilkan kinerja
motor lebih baik dari pada yang lain (Tri joko, 2009).
Bagaimana dengan kabel busi atau kabel tegangan tinggi terutama dengan ukuran
panjang, dari teori tentang tahanan pada kabel disebutkan panjang dan besar penampang

kawat kabel mempengaruhi besaran tahanan sehingga mempengaruhi kinerja motor,


bagaimana pengaruhnya. Melihat fenomena diatas perlu kiranya dilakukan pengujian
terhadap kinerja motor setelah digunakan kabel busi dengan variasi panjang. Jika ditinjau
dari teori tahanan maka kabel besar dan pendek akan mengakibatkan kinerja motor akan
lebih bagus daripada yang standar. Namun untuk lebih meyakinkan perlu kiranya dilakukan
pembuktian dengan penelitian terhadap pengaruh panjang Spark Plug Cable terhadap
kinerja motor bensin 4 tak 1 silinder. Pengamatan dilakukan terhadap kinerja motor bakar
torak 4 tak sepeda motor dengan Spark plug cable panjang standar dan variasi panjang,
tanpa beban serta putaran bervariasi. Untuk menjawab dilakukan pembahasan perbandingan
besaran kinerja motor dengan menggunakan Spark plug cable dengan variasi panjang.

KERANGKA TEORISTIS
Sistem pengapian adalah suatu rangkaian kerja yang dapat menghasilkan percikan
bunga api yang terdiri dari beberapa komponen yaitu baterai, koil pengapian, kontak
pemutus, kondensator, busi. Pada motor bensin campuran udara dan bahan bakar dapat
terbakar karena adanya percikan bunga api dari busi, percikan api tersebut dapat terjadi
karena adanya sistem pengapian.
Sistem Pengapian
Sistem pengapian konvensional
Sistem pengapian dengan sumber tenaga baterai, dari kunci kontak melalui kabel
disambung pada salah satu pada terminal koil pengapian disebut terminal tagangan. Pada
koil pengapian terdapat dua buah terminal tegangan rendah dan salah satunya di hubungkan
dengan kunci kontak. Sedangkan yang satunya lagi dihubungkan dengan bagian kontak
pemutus. Diantara hubungan koil pengapian dengan kontak pemutus dihubungkan secara
paralel dipasang kondensator. Ketika kunci kontak diputar, maka mengalir arus listrik dari
baterai menuju pada koil pengapian dan masuk pada kumparan primer di dalam koil
pengapian, selanjutnya arus yang masuk pada kumparan primer keluar melalui terminal
yang satunya lagi dan diteruskan pada bagian kontak pemutus. Ketika kontak pemutus
sedang rapat, arus positif dari baterai, akibat adanya hubungan ini, maka inti besi lunak
yang ada di tengah-tengah koil pengapian menjadi magnet. Timbulnya medan magnet pada
inti besi ini sebagai akibat adanya aliran listrik pada kumparan primer, secara tiba-tiba
kontak pemutusnya merenggang, akibatnya arus listrik yang mengalir melaluai kumparan
primer terputus dan pada detik yang sama medan magnet yang terbentuk menjadi hilang.
Sebagai akibat hilangnya medan magnet pada inti besi, maka terbentuk arus tegangan tinggi
pada kumparan kedua di dalam koil pengapian yang di sebut kumparan sekunder. Arus
tegangan tinggi yang terbentuk pada kumparan sekunder, kemudian dialirkan pada busi agar
loncat dikedua elektroda busi guna membakar bahan bakar dan campuran udara dalam
ruang silinder.
Sistem pengapian dengan sumber tenaga generator, magnet permanen ditempatkan
pada roda penerus yang dipasang pada poros engkol. Inti besi ditempatkan sebagai stator.
Magnet berputar bersama-sama dengan roda penerus, dan antara inti besi dengan magnet
terdapat celah sempit. Medan magnet berubah-ubah karena perputaran magnet dan
menimbulkan listrik dalam lilitan primer pada inti besi. Listrik inilah yang digunakan sebagai
sumber tenaga pengganti batterai. Pembangkit listrik tersebut sering disebut spoel
pengapian atau generator. Sistem pengapian ini sering disebut sistem pengapian magnet.
Besar tegangan listrik AC yang dihasilkan ada yang 6 volt dan ada juga yang 12 volt, hal ini
tergantung dari pabrik pembuatnya. Pada saat di dalam kumparan primer tersebut sedang
terjadi kekuatan arus yang paling besar, maka secara mendadak arus tersebut diputus oleh
kontak pemutus dan terbentuklah arus tegangan tinggi yang akan disalurkan ke busi,
selanjutnya busi akan memercikan bunga api diantara elektrodanya.
Sistem pengapian elektronik

Salah satu contoh sistem penyalaan elektrik ini adalah sistem CDI (Capasitor
Discharge Ignition) dimana sumber tenaganya juga ada dua yaitu baterai dan generator.
Untuk Sistem pengapian CDI generator prinsip kerjanya adalah sama dengan yang
konvensional generator tetapi arus tidak diteruskan ke kontak pemutus tetapi diisikan ke
kapasitor hal ini merupakan isyarat tegangan untuk mengontrol timbulnya penyalaan dalam
coil sensor. Kemudian listrik dikapasitor dialirkan dalam kumparan primer coil melalui SCR
(Silicon Controlled Rectifier). Arus listrik ini membangkitkan tegangan yang lebih tinggi dalam
kumparan sekunder coil, yang menyebabkan loncatan bunga api pada busi
Komponen Sistem Pengapian
Kontak pemutus, kontak pemutus adalah suatu alat penyalaan yang gunanya untuk
menghubungkan dan memutus arus listrik dari koil secara teratur sehingga bisa timbul
loncatan bunga api listrik tegangan tinggi di elektroda busi
advancer sentrifugal, Dengan adanya keterlambatan pengapian ini apabila tidak tepat dalam
melakukan penyalaan pengapian maka akan berakibat proses pembakaran tidak sempurna
dan mesin tenaganya juga berkurang. Khususnya pada saat mesin dalam keadaan putaran
tinggi. Salah satu alat untuk menanggulangi keterlambatan pengapian adalah advancer
sentrifugal yang terdiri dari dua buah bobot sentrifugal.
Koil, suatu alat penyalaan yang gunanya untuk meningkatkan tegangan arus dari
sumbernya. kumparan penyalaan 12 volt menjadi 15000-25000 volt lalu diloncatkan di ruang
bakar berupa bunga api listrik tegangan tinggi melalui elektroda busi.
Busi, suatu alat penyalaan yang statis, dimana gunanya untuk meloncatkan bunga api listrik
tegangan tinggi dari koil kedalam ruang bakar.
Kabel tegangan tinggi
Tutup busi
Busi

Gambar 1. Busi dan Kabel busi tegangan tinggi (sprak plug cable)
Kondensator, kondensator adalah suatu alat penyalaan, dimana gunanya untuk menyerap
arus dari gulungan primer koil dan setelah itu baru di alirkan ke kontak pemutus secara
sedikit dan merata, sehingga kontak pemutus terhindar dari kerusakan/permukaan kontak
pemutus tidak cepat berlubang-lubang atau secara khusus Kondensator yang dihubungkan
pararel dengan kontak pemutus atau kumparan primer dari koil penyalaan
Baterai, sebagai penyimpan arus listrik untuk digunakan sewaktu-waktu. Baterai terdiri dari
sel-sel yang mana setiap baterai dapat mengeluarkan arus kurang lebih sebesar 2,1 volt.
Jadi baterai 12 volt terdiri dari enam buah sel yang dihubungkan secara seri. Setiap sel
baterai terdiri dari dua macam yaitu plat nagatif dan plat positif yang dibuat dari timbal atau
timah.
Kabel tegangan tinggi, kabel tegangan tinggi ini berfungsi menghantarkan beda potensial
yang tinggi sekali 20 kVA sampai 25 kVA dari busi ke distributor pada mobil dan dari koil ke
busi pada sepeda motor. Agar tidak ada rugi daya atau tegangan pada busi maka kabel busi
harus memiliki tahanan yang kecil (diharapkan 0 ohm) sampai 20 kohm (Sumber : VEDC
/PPPGT MALANG, hal 61100515/3-3 : 2000)
Tahanan Listrik
Tahanan listrik yang terjadi pada kabel diketahui dari hasil percobaan dimana
tahanan jenis suatu penghantar ditentukan pada panjang 1 m, penampang 1 mm2 dan pada
temperatur 200 C. Adapun kesimpulan yang didapat bahwa untuk tahanan berubah ubah

berbanding terbalik dengan perubahan luas penampang (tahanan berbanding terbalik


dengan luas penampang) dan tahanan berubah ubah sesuai dengan sifat nilai hantar
suatu bahan. Atau dapat dikatakan tahanan ( R ) Semakin besar Jika penghantar semakin
panjang dan luas penampang semakin kecil (semakin buruk sebagai penghantar listrik) dan
R Semakin kecil, Jika penghantar semakin pendek dan luas penampang semakin besar
(Semakin baik sebagai penghantar listrik). Dari kesimpulan di atas diperoleh bahasa
matematika menurut, P3GT/VEDC Malang, hal 63050520/ 4-6 : 2000 sebagai bertikut,
R = ( . L)/A, dimana : R = Tahanan dalam ohm, = Tahanan jenis, L = Panjang
penghantar dalam m, A = Luas penampang dalam mm2.
tabel 1
Tahanan jenis
Bahan penghantar
Tahanan jenis pada 20o C
Perak
0,0164
Tembaga
0,0178
Campuran aluminium
0,03
Wolfram
0,0550
Nikel
0,0780
Besi, baja
0,12 0,16
Konstantan
0,10
sumber : P3GT/VEDC Malang, 2000 : hal 63050520/ 5-6

METODE PENELITIAN
Desain penelitan
Desain penelitian ini termasuk desain praeksperimental dengan studi observasi
tunggal (one-shot case study), karena objek penelitiannya hanya merupakan kelompok
perlakuan dan tidak memiliki kelompok kontrol. Hal ini dikarenakan dalam desain ini, suatu
perlakuan (X) yaitu kabel busi dengan variasi panjang, dikenakan pada suatu objek
penelitian, yaitu motor bensin Honda dan kemudian dilakukan pengamatan terhadap
konsumsi bahan bakar dan beban torsi dynotest sesuai rpm yang diinginkan.
Populasi dan sampel, pada penelitian ini, karena jenis motor maupun jenis karburatornya
sudah tertentu juga karakteristik motor, karburator yang sama pula, maka teknik sampling
yang digunakan adalah teknik purposif random sample, yaitu dengan contoh :
1. Motor bensin yang digunakan sepeda motor Honda
2. Karburator yang digunakan yaitu merek Mikuni
3. Komposisi campuran bahan bakar dan udara saat idle tetap
Instrumen penelitian,
Sepeda motor Honda, 100 cc, berbahan bakar bensin, karburator mendatar, barrel
tunggal, merk Mikuni, Kabel busi dengan varisi panjang, Stopwatch, Tool box, Brake dynotest

unit
Prosedur penelitian
Tahap persiapan
a. Dalam setiap perlakuan dilakukan penggantian Spark plug cable dengan variasi panjang,
Agar mendekati ketelitian hasil pengamatan, maka setiap perlakuan dilaksanakan tiga kali
pengukuran dan setiap kali selesai percobaan busi dibersihkan.
b. Pengamatan dilaksanakan setelah motor berada pada temperatur kerja mesin, yaitu pada
temperatur minyak pelumas mesin yang tertera pada termokopel menunjuk angka 60
derajat celaius dalam waktu yang relatif singkat.
c. Motor dalam kondisi stasioner.
d. Karena pengamatan ini dilakukan dalam kondisi stasioner, maka putaran motor untuk
setiap perlakuan yang dilakukan, masih dalam batas putaran yang diijinkan yaitu pada
putaran rendah, menengah dan tinggi.

Tahap pelaksanaan
a. Setiap kali perlakuan, pemakaian bahan bakar yang ditetapkan adalah 10 ml,
b. Pengisian bahan bakar ke dalam gelas ukur dilakukan, setelah pengoperasian motor
dihentikan atau pada setiap pergantian ulangan pengamatan,
c. Operasikan motor dengan intake manifold standar dan tutup busi standar,
d. Atur putaran diatas putaran yang dinginkan,
e. Untuk mendapatkan putaran yang diinginkan lakukan pengereman (dynotest
dioperasikan) sampai putaran yang diinginkan,
f. Setelah suhu konstan, lakukan pengamatan,
g. Lakukan pengujian dan pengamatan tiga kali tiap putaran,
h. Lakukan a g untuk perlakuan intake manifold yang lain.
Tahap pencatatan
a. Mencatat konsumsi bahan bakar dari gelas ukur,
b. Mencatat beban torsi dari alat ukur beban,
c. Mencatat putaran dan suhu (sebagai variabel kontrol),

Gambar 2. Skema Penelitian


PEMBAHASAN

D A Y A (P S )

Untuk menganalisa kinerja motor masing-masing panjang kabel tegangan tinggi


dibuatlah grafik perbandingan kinerja yang dihasilkan.
7,50
7,00
6,50
6,00
5,50
5,00
4,50
4,00
3,50
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00

Panj. Kab - 10
Panj. Kab - 6
Panj. Kab -3
Panj. Kab +10
Panj. Kab + 6
Panj. Kab + 3
Panj. Kab standar

500

1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500

PUTARAN MOTOR (rpm)

Gambar 3. Grafik perbandingan daya dan putaran motor

untuk panjang kabel tegangan tinggi bervariasi

K O N S U M S I B A H A N B A K A R S P E S IF IK
(k g /ja m /P S )

Hal yang sama juga tampak pada grafik diatas, dimana untuk semua panjang kabel
tegangan tinggi dari putaran 1000 rpm ke putaran selanjutnya, mengalami peningkatan daya
yang cukup tajam sampai pada putaran 30004000 rpm. Kemudian terjadi penurunan.
Perbandingan muncul pada titik puncak daya, dimana kabel tegangan tinggi dengan panjang
standar pada putaran 5000 rpm masih menunjukkan peningkatan daya, ini berarti terjadi
pembakaran yang sempurna akibat pengapian yang bagus. Sementara untuk panjang kabel
tegangan tinggi terpendek (-10 panjang standar) terjadi pada 4500 rpm kemudian menurun
tetapi daya puncak tidak lebih besar dari yang standar.
0,70
0,65
0,60
0,55
0,50
0,45
0,40
0,35
0,30
0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00

Panj. Kab - 10
Panj. Kab - 6
Panj. Kab -3
Panj. Kab +10
Panj. Kab + 6
Panj. Kab + 3
Panj. Kab standar

500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500

PUTARAN MOTOR (rpm)

Gambar 4. Grafik perbandingan konsumsi bahan bakar spesifik dan


putaran motor untuk panjang kabel tegangan tinggi
bervariasi
Pada perbandingan konsumsi bahan bakar spesifik tampak jelas secara umum bahwa
semua ukuran panjang kabel tegangan tinggi semakin sedikit konsumsi bahan bakar
spesifiknya per jamnya pada peningkatan putaran sampai putaran 4000 dan mulai menanjak
pada putaran berikutnya. dapat dikatakan semakin irit 4000 rpm tetapi pada putaran 5000
terjadi sebaliknya. Untuk kabel tegangan tinggi panjang standar terbaca berada pada posisi
paling bawah (irit).

KESIMPULAN
Dengan menggunakan menggunakan kabel tegangan tinggi lebih pendek diharapkan
performa atau kinerja motor meningkat karena pengapian yang menjadi unsur dari proses
pembakaran menjadi lebih besar atau baik. Dengan pengujian terhadap ukuran panjang
kabel tegangan tinggi diharapkan hal tersebut diatas terbukti. Adapun kesimpulannya adalah
sebagai berikut :
1. Dari ketujuh panjang kabel tegangan tinggi yang diuji, kabel dengan panjang lebih
pendek dari kabel standar (-10 cm panjang standar) memberikan penurunan konsumsi
bahan bakar spesifik tetapi untuk kinerja motor tidak, justru kabel tegangan tinggi yang
lebih panjang dari standar (+6 cm panjang standar) memberikan kinerja lebih baik.
2. Kabel tegangan tinggi dengan panjang standar memberikan kinerja tidak sebaik seperti
yang tertera diatas tetapi kombinasi antar daya yang diberikan dan bahan bakar yang
dikonsumsi lebih bagus serta titik puncak daya masih bisa terjadi diatas putaran 5000
rpm.
3. Kombinasi besar pengapian dan konsumsi bahan bakar yang baik akan mengakibatkan
proses pembakaran lebih sempurna dan daya yang dihasilkan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Toyota, Materi Pelajaran Engine Group New Step 1, PT. Toyota Astra Motor. Indonesia
Toyota, Materi Pembelajaran Engine Group New Step 2, PT Toyota Astra Motor Indonesia
2005, Teknik-teknik Servis Dasar, Mesin dan Komponen-komponen Kelistrikan, Otomega
SMK
Mehlhoff; B., pengaruh perubahan debit air pada mesin
Marlev; V.L., 2003, internal combustion engine, Jepang, McGraw-Hil Book Company, Inc:
Sharma; R. P. and Mathur; M. L., 1980, Internal Combustion Engine, New Delhi, india.,
Hanpat rai and Sons
Anonim. Sistem Pengapian Konvensional. VEDC/PPPGT, Malang : 2000
Arismunandar, W, Penggerak Mula Motor Bakar Torak. Penerbit ITB, bandung: 1988
Northop, R. S., Teknik Reparasi Sepeda Motor. CV Pustaka Setia, Bandung : 1987.