Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Tanda Gejala dan Proses
Terjadinya Gangguan pada System Muskuluskeletal.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan mengenai tanda dan gejala serta proses terjadinya

gangguan system

muskuluskeletal. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa khususnya
penulis sendiri.

Bandung,

2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep gerak tidak hanya diartikan sebagai perpindahan tempat saja akan tetapi gerakan
dari bagian-bagian tubuh disebut juga sebagai suatu gerakan. Contohnya, pada saat kita menulis,
kita tidak berpindah tempat hanya tangan kita saja yang bergerak. Pada saat kita menulis, kita
dikatakan juga sedang bergerak.
Manusia bergerak berpindah tempat atau hanya menggerakkan bagian tubuhnya saja
sesuai dengan keinginananya. Gerakan tubuh manusia terjadi karena adanya kerjasama anatra
tulang dan otot. Tulang tidak mempunyai kemampuan untuk menggerakkan dirinya, oleh karena
itu tulang disebut sebagai alat gerak pasif. Sednagkan otot mempunyai kemmapuan untuk
berkontraksi dan berelaksasi sehingga dapat menggerakkan tulang, oleh karena itu otot disebut
sebagai alat gerak aktif.
Sistem muskuloskeletal merupakan sistem tubuh yang terdiri dari otot (muskulo) dan
tulang-tulang yang membentuk rangka (skelet). Otot adalah jaringan tubuh yang mempunyai
kemampuan mengubah energi kimia menjadi energi mekanik (gerak). Sedangkan rangka
adalah

bagian

tubuh

yang

terdiri

dari

tulangtulang

yang

memungkinkan

tubuh

mempertahankan bentuk, sikap dan posisi.


System musculoskeletal merupakan system yang komplek dan tersusun atas tulang,
sendi, otot, ligamen, tendon serta jaringan lain yang menghasilkan struktur dan bentuk tulang.
Sistem muskuloskeletal memberi bentuk bagi tubuh. Sistem muskuloskeletal melindungi organorgan penting, misalnya otak dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak, jantung dan paru-paru
terdapat pada rongga dada (cavum thorax) yang dibentuk oleh tulang-tulang kostae (iga).

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa itu sistem musculoskeletal ?
2. Apasaja gangguan system musculoskeletal ?
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan paper ini adalah :
1. Mahasiswa mampu memahami system muskuloskeletal.
2. Mahasiswa mampu memahami gangguan skeletal pada trauma, infeksi dan konginital.
3. Mahasiswa mampu memahami gangguan skeletal pada metabolic dan reumatik.
D. Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui mengenai system muskuloskeletal.
2. Mahasiswa dapat mengetahui gangguan gangguan pada system muskulusskeletal
3. Mahasiswa dapat mengetahui mengenai tanda dan gejala gangguan
muskuloskeletal.

BAB II
PEMBAHASAN

system

I.

Review Struktur dan Fungsi Skeletal


A. Definisi System Muskuluskeletal
Sistem Muskuloskeletal merupakan sistem tubuh yang terdiri dari otot (muskulo)
dan tulang-tulang yang membentuk rangka (skelet). Otot adalah jaringan tubuh yang
mempunyai kemampuan mengubah energi kimia menjadi energi mekanik (gerak).
Sedangkan rangka adalah bagian tubuh yang terdiri dari tulang-tulang yang memungkinkan
tubuh mempertahankan bentuk, sikap dan posisi.
Komponen utama system musculoskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari :
1. Muskuler (Otot) : Otot, tendon dan ligamen
2. Skeletal (Rangka) : Tulang dan sendi
Sebagai kerangka tubuh sistem muskuloskeletal memberi bentuk tubuh. Sebagai
proteksi, sistem muskuloskeletal melindungi organ-organ penting, misalnya otak dilindungi
oleh tulang-tulang tengkorak, jantung dan paru-paru terdapat pada rongga dada (cavum
thorax) yang dibentuk oleh tulang-tulang kostae (iga).

B. Fungsi Sistem Skeletal


Rangka tubuh manusia memiliki fungsi utama sebagai berikut :
1. Memberi bentuk tubuh: Rangka menyediakan kerangka bagi tubuh sehingga
menyokong dan menjaga bentuk tubuh.
2. Tempat melekatnya otot: Tulang-tulang yang menyusun rangka tubuh manusia
menjadi tempat melekatnya otot. Tulang dan otot ini bersama-sama memungkinkan
terjadinya pergerakan pada manusia.
3. Pergerakan: Pergerakan pada hewan bertulang belakang (vertebrae) bergantung kepada
otot rangka, yang melekat pada rangka tulang.

4. Sistem kekebalan tubuh: Sumsum tulang menghasilkan beberapa sel-sel imunitas.


Contohnya adalah limfosit B yang membentuk antibodi.
5. Perlindungan : Rangka tubuh melindungi beberapa organ vital yakni :
a. Tulang tengkorak melindungi otak, mata, telinga bagian tengah dan dalam.
b. Tulang belakang melindungi sumsum tulang belakang.
c. Tulang rusuk, tulang belakang, dan tulang dada melindungi paru-paru dan
jantung.
d. Tulang belikat dan tulang selangka melindungi bahu.
e. Tulang usus dan tulang belakang melindungi sistem ekskresi, sistem pencernaan,
dan pinggul.
f. Tulang tempurung lutut dan tulang hasta melindungi lutut dan siku.
g. Tulang pergelangan tangan dan pergelangan kaki melindungi pergelangan tangan
dan pergelangan kaki.
6. Produksi sel darah: Rangka tubuh adalah tempat terjadinya haematopoiesis, yaitu
tempat pembentukan sel darah. Sumsum tulang merupakan tempat pembentukan sel
darah. Terutama di tulang pipih contoh : tulang dada / pada corpus sterni.
7. Penyimpanan: Matriks tulang dapat menyimpan kalsium dan terlibat dalam
metabolisme kalsium. Sumsum tulang mampu menyimpan zat besi dalam bentuk
ferritin dan terlibat dalam metabolisme zat besi.
C. Struktur dan Klasifikasi Tulang
Tulang diklasifikasikan berdasarkan bentuknya menjadi tulang panjang, tulang
pendek, tulang datar dan tulang ireguler. Tulang panjang ditemukan pada ekstremitas dan
meliputi tulang humerus, radius, serta ulna pada lengan; tulang femur, tibia serta fibula pada
tungkai dan falang, metacarpal serta metatarsal masing masing pada tangan dan kaki. Tulang
pendek meliputi tulang tarsal dan karpal masing masing pada tangan dan kaki. Tulang pipih
meliputi tulang frontal serta parietal pada cranium, tulang iga, stenum, scapula, ilium dan
pubis. Tulang ireguler meliputi tulang tulang yang terdapat pada susunan tulang belakang

(tulang vertebra, sacrum, koksigeus), dn tulang tulang tertentu pada tengkorak (os
temporalis, os sfenoidalis, os etmoidalis seta tulang mandibular).
1. Struktur Tulang
Secara makroskopis tulang terdiri dari dua bagian yaitu pars spongiosa
(jaringan berongga) dan pars kompakta (bagian yang berupa jaringan padat).
Permukaan luar tulang dilapisi selubung fibrosa (periosteum); lapis tipis jarigan ikat
(endosteum) melapisi rongga sumsum dan meluas ke dalam kanalikuli tulang kompak.
Membran periosteum berasal dari perikondrium tulang rawan yang merupakan
pusat osifikasi. Periosteum merupakan selaput luar tulang yang tipis. Periosteum
mengandung osteoblas (sel pembentuk jaringan tulang), jaringan ikat dan pembuluh
darah. Periosteum merupakan tempat melekatnya otot-otot rangka (skelet) ke tulang
dan berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang
rusak.
Pars kompakta teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki
sedikit rongga dan lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan Calsium
Carbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan tulang manusia dewasa
lebih banyak mengandung kapur dibandingkan dengan anak-anak maupun bayi. Bayi
dan anak-anak memiliki tulang lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih
lentur. Tulang kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang tangan.
Pars spongiosa merupakan jaringan tulang yang beronga seperti spons (busa).
Rongga tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah.
Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula.
Secara Mikroskopis tulang terdiri dari :
a. Sistem Havers (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah, aliran limfe)
b. Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris).
c. Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di antara lempenganlempengan yang
mengandung sel tulang).
d. Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan tempat difusi makanan sampai ke
osteon).
2. Klasifikasi Tulang
Berdasarkan bahan pembentuknya :
a. Tulang Rawan (Kartilago)

Tulang rawan (kartilago) merupakan jaringan ikat yang menyusun sistem


gerak jaringan tulang rawan tersusun atasl se-sel tulang rawan. Sel-sel tulang
rawan, mengeluarkan matriks yang disebut kondrin. Matriks menyebabkan
tulang rawan bersifat lentur, lincin dan kuat. Kelenturan tulang rawan pada
tulang-tulang rusuk penyusun rongga dada menyebabkan tulang rusuk bergerak
bebas mengikuti pemekaran paru-paru ketika bernapas. Tulang-tulang rawan di
antara ruas-ruas tulang belakang sangat kuat dan tahan tekanan sehingga mudah
kembali ke bentuk semula.
Ciri-ciri tulang rawan terbagi atas 3 ciri antara lain sebagai berikut.
1) Berbentuk khusus jaringan ikat dengan fungsi utama menyokong jaringan
lunak.
2) Terdiri atas sel-sel (kondrosit dan kondroblas) dan matriks (serat dan
substansi dasar).
3) Matriksnya mengandung serat kolagen atau serat elastin yang memberi
kekuatan dan kelenturan.
4) Tulang rawan memiliki kekuatan renggang, penyokong struktural, dan
memungkinkan fleksibilitas tanpa distorsi.
Tulang rawan dibentuk oleh kondrosit (sel tulang rawan) dam matriks
bahan dasar). Matriks tulang rawan tersusun dari kondrin, kolagen, dan kalsium.
Tulang rawan ditemukan terutama pada sendi dan di antara dua tulang. Tulang
rawan dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1) Tulang Rawan Hialin
Adalah bentuk umum dalam tubuh manusia. tulang rawan pada masa
embrio dan pada masa dewasa. Tulang rawan pada masa embrio adalah

sebagai bentuk kerangka bagi kebanyakan tulang dibentuk melalui osifikasi


endokondral, Tulang rawan pada masa dewasa, kebanyakan tulang rawan
telah diganti menjadi tulang keras kecuali pada permukaan sendi, ujung
iga, hidung, larings, dan trachea, serta brongkus.
Mempunyai matriks yang transparan. Merupakan jenis tulag rawan
yang paling banyak terdapat di dalam tubuh mausia. Banyak terdapat di
hidung, sendi gerak dan ujung tulang rusuk.
2) Tulang Rawan Fibrosa
Adalah tulang yang banyak mengandung serat kolagen yang padat
pada matriksnya yang tidak teratur sehingga lebih kaku dan kuat. Tulang
rawan fibrokartilago terdapat pada antarruas tulang belakang.
Mempunyai matriks yang berisi kolagen yang kaku. Merupakan jenis
tulang rawan yang dapat dijumpai di bagian tubuh yang memerlukan
kekuatan besar, mislanya pada ruas tulang belakang dan lutut.
3) Tulang Rawan Elastik
Adalah tulang rawan yang sifatnya lentur dimana matriksnya
terdapat serat elastis yang bercabang-cabang. Tulang rawan elatis terdapat
pada telinga bagian luar (auricular), epiglotis, larings, dinding tuba auditiva
(eustachii).
Tulang rawan elastik terbentuk dari serabut elastik yang lentur.
Tulang rawan ini tidak akan mengalami perubahan menjadi tulang keras,
meskipun orang tersebut telah dewasa. Banyak dijumpai di dalam telinga,
cuping hidung dan epiglotis.
b. Tulang Keras (Osteon)
Tulang ini terbentuk dari tulang rawan yang mengalami pengerasan (osifikasi).
Ketika tulang rawan (kartilago) terbentuk, rongga-rongga matriksnya terisi oleh sel
osteoblas. Osteoblas merupakan lapisan sel tulang muda. Osteoblas akan
menyekresikan zat interseluler seperti kolagen yang akan mengikat zat kapur.
Osteoblas yang telah dikelilingi zat kapur akan mengeras dan menjadi osteosit (sel
tulang keras). Antara sel tulang yang satu dan sel tulang yang lain dihubungkan oleh
juluran-juluran sitoplasma yang disebut kanalikuli. Setiap satuan sel osteosit akan
mengelilingi suatu sistem saraf dan pembuluh darah sehingga membentuk sistem
Havers.

Matriks di sekitar sel-sel tulang memiliki senyawa protein yang dapat mengikat
kapur (CaCO3) dan fosfor (CaPO4). Kapur dan fosfor tersebut membuat tulang
menjadi keras. Berdasarkan matriksnya, bagian tulang dapat dikelompokkan menjadi
dua bagian, yaitu tulang kompak dan tulang spons.
Tulang kompak memiliki matriks yang padat dan rapat, sedangkan tulang spons
memiliki matriks yang berongga-rongga. Sebenarnya, kedua jenis tulang tersebut
terdapat di suatu tempat yang sama. Penamaan diambil hanya dengan melihat bagian
mana yang paling dominan. Dari penjelasan tersebut, tentunya kita dapat menunjukkan
contoh tulang kompak dan tulang spons yang terdapat pada tubuh kita.
Berdasarkan bentuknya, tulang keras dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1) Tulang pipa
Berbentuk panjang dan berongga, seperti pipa. Contoh tulang ini di
antaranya tulang pengumpil, tulang hasta, tulang betis, dan tulang kering.
Tulang pipa terdiri atas dua bagian, yaitu diafisis dan epifisis. Diafisis adalah
bagian "badan" tulang, sedangkan epifisis adalah bagian tepi (epi) atau bagian
"kepala" tulang. Di antara epifisis dan diafisis, dibatasi oleh bagian yang disebut
cakram

epifisis.

Cakram

epifisis

lebih

lambat

proses

penulangannya

dibandingkan dengan daerah diafisis.

2) Tulang pipih
Adalah tulang-tulang yang berbentuk pipih. Tulang pipih banyak terdapat
di rangka aksial, misalnya tulang rusuk, tulang belikat, dan tulang-tulang yang
menyusun tengkorak. Tulang pipih berfungsi sebagai pelindung suatu rongga.

Misalnya, rongga tengkorak melindungi otak dan rongga dada melindungi


jantung serta paru-paru.

3) Tulang pendek, berukuran pendek.


Hanya ditemukan di daerah pangkal telapak tangan , pangkal telapak kaki,
dan tulang-tulang belakang.
4) Tulang tidak beraturan
Yaitu tulang yang memiliki bentuk tidak beraturan. Contohnya adalah
tulang-tulang belakang dan tulang penyusun wajah.

II.

Gangguan Skeletal
A. Gangguan Skeletal : Trauma, Infeksi, Konginital
1. Fraktur
a. Definisi Fraktur

Fraktur merupakan istilah dari hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan,


baik yang bersifat total maupun sebagian. Fraktur adalah patah tulang, biasanya

disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut,
keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan
apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap.
Untuk menegatahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami fraktur,
pemeriksa pelu mengenal anatomi dan fisiologi tulang sehingga pemeriksa
mampu mengenal lebih jauh mengenai keadaan fisik tulang dan keadaan trauma
yang dapat menyebabkan tulang patah. Pada beberapa keadaan, kebanyakan
terjadinya proses fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan
terutama tekanan membengkok, memutar dan tarikan. Trauma muskuluskeletal
yang bias menjadi fraktur dapat dijadi menjadi trauma langsung dan trauma tidak
langsung.
Ketika terdapat suatu gaya atau kekuatan yang melampaui kekuatan
menahan kompresi atau regangan (kemampuan tulang untuk menyatu menjadi
satu jaringan yang utuh), maka terjadilah fraktur tulang.
Prognosis kejadian ini bervariasi menurut derajat disabilitas atau
deformias, jumlah kerusakan jaringan serta vaskuler, adekuasi tindakan reposisi
serta imobilisasi dan usia, kesehatan serta status gizi pasien sendiri.
b. Klasifikasi fraktur
Klasifikasi frakur dapat dibagi klasifikasi penyebab, klasisifikasi jenis,
klasifikasi klinis dan klasifikasi radiologis.
a) Klasifikasi penyebab
Fraktur traumatic
Fraktur patologis
Fraktur stress
b) Klasifikasi jenis fraktur
Fraktur terbuka
Fraktur tertutup
Fraktur kompresi
Fraktur stress
Fraktur avulasi
Greenstick fraktur
Fraktur tranfersal
Fraktur kominutif
Fraktur impaksi
c) Klasifikasi klinis
Fraktur tertutup
Fraktur terbuka
Fraktur dengan komplikasi

c. Penyebab Fraktur
Factor resiko terjadinya fraktur melputi :
1) Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan
punter mendadak, kontraksi otot ekstrim.
2) Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki
terlalu jauh.
3) Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur
patologis.
Menurut Oswari E, (1993) ; Penyebab Fraktur adalah :
1) Kekerasan langsung : Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada
titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
2) Kekerasan tidak langsung : Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah
tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah
biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor
kekerasan.
3) Kekerasan akibat tarikan otot : Patah tulang akibat tarikan otot sangat
jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan
dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
d. Patofisiologi Fraktur
Ketika terjadi fraktur pada sebuah tulang, maka periosteum serta
pembuluh darah dalam korteks, sumsum tulang dan jaingan lunak disekitarnya
akan mengalami disrupsi. Hematoma akan terbentuk diatara kedua ujung patahan
tulang serta dibaah periosteum, dan akhirnya jaringan granulasi menggantikan
hematoma tersebut.
Kerusakan jaringan tulang memicu respon inflamasi intensif yang
menyebabkan sel-sel dai jaringan lunak disekitarnya serta dari rongga sumsum
tulang akan menginvasi daerah fraktur dan alirah darah ke seluruh tulang akan
mengalami peningkatan. Sel-sel osteoblast didalam periosteum, endosteum dan
sumsum tulang akan memproduksi osteoid (tulang muda dari jaringan kolagen
yang belum mengalami kasifikasi, yang juga disebut kalus). Osteoid ini akan
mengeras disepanjang permukan luar korpus tulang da nada kedua ujung patahan
tulang. Sel-sel osteoklast mereabsorpsi material dari tulang yang terbentuk
sebelumnya dan sel-sel osteoblast membangun kembali tulang tersebut.

Kemudian osteoblast mengadakan transformasi menjadi osteosit (sel-sel tulang


yang matur).
e. Tanda dan Gejala Fraktur
Tanda dan gejala klinis fraktur dapat mencakup :
1) Deformitas akibat kehilangan kelurusan (aligment) yang alami.
2) Pembengkakan akibat vasodilatasi dan infiltrasi leukosit serta sel-sel mast.
3) Spasme otot.
4) Nyeri tekan
5) Kerusakan sesibilitas disebelah distal lokasi fraktur akibat unsur-unsur
neurovaskuler terjepit atau tertekan oleh trauma atau fragmen tulang.
6) Kisaran gerak yang terbatas.
7) Krepitasi atau bunyi berderik ketika bagian fraktur digerakkan, bunyi ini
disebabkan oleh gesekan fagmen tulang.
f. Penyembuhan fraktur
Terdpat beberapa fraktor yng dapt mempengaruhi penyembuhan fraktur,
yaitu : umur penderita,lokasi dan konfigurasi fraktur, pergeseran awal fraktur,
vaskularisasi pada kedua fragmen, reduksi serta imobilisasi, waktu imobilisasi,
ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak, fraktor
adanya infrksi dan kegagalan local.
Setiap factor akan memberikan pengaruh penting terhadap proses
penyembuhan. Factor yang bias menurunkan proses penyembuhan fraktur pada
pasien harus dikenali sebagai parameter dasar untuk pemberian intervensi
selanjutnya yang lebih komprehensif. Penyembuhan fraktur berkisar antara tiga
minggu sampai empat bulan. Waktu penyembuhan pada anak secara kasar
separuh waktu penyembuhan pada dewasa.
2. Carpal Tunnel Syndrome
a. Definisi Carpal Tunnel Syndrome
Carpal tunnel syndrome atau CTS (sindrom terowongan/lorong karpal)
adalah kondisi yang memengaruhi tangan dan jari hingga mengalami sensasi rasa
kesemutan, mati rasa, atau nyeri. Carpal tunnel atau lorong karpal adalah jalur
pada pergelangan tangan dimana terdapat saraf median dan sembilan tendon
yang berguna dalam pergerakan jari-jari tangan.
Ketika terjadi pembengkakan pada bagian saraf, tendon, atau bahkan
keduanya, saraf median akan tertekan dan mengakibatkan terjadi carpal tunnel
syndrome. Saat saraf median ini terhimpit atau terjepit, maka akan menimbulkan

mati rasa, sensasi kesemutan, dan terkadang muncul rasa sakit pada bagianbagian yang terpengaruh oleh saraf ini.
Fungsi dari saraf median adalah memberikan sensasi perasa atau
sentuhan pada telapak ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan setengah dari jari
manis. Selain itu, saraf median juga memberikan tenaga pada otot tangan untuk
menjepit atau mencubit benda oleh ibu jari dan ujung jari-jari yang lain.
b. Penyebab Carpal Tunnel Syndrome
Carpal tunnel syndrome terjadi karena saraf median tertekan atau
terhimpit. Pada kebanyakan kasus CTS, penyebab tertekannya saraf median ini
masih belum diketahui. Tapi ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko
seseorang menderita CTS. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat
meningkatkan risiko terkena carpal tunnel syndrome.
1) Faktor keturunan keluarga yang menderita CTS.
2) Cedera pada pergelangan tangan.
3) Pekerjaan berat dan berulang-ulang dengan memakai tangan, seperti
mengetik tanpa henti.
4) Kondisi medis lain, misalnya rheumatoid arthritis dan diabetes.
c. Patofisiologi Carpal Tunnel Syndrome
Tulang-tulang karpal dan ligamentul karpalis tranversal membentuk
terowongan karpal yang dalam bahasa inggris disebut carpal tunnel. Inflamasi
atau fibrosis pada selubung tendon yang melintasi terowongan karpal ini
biasanya akan menyebabkan edema dan kompresi nervus medianus. Neuropati
kompresi ini mengakibatkan gangguan sensorik serta motoric di daerah distribusi
nervus medianus pada tangan dan mula-mula menimbulkan gangguan transmisi
sensorik pada ibu jari tangan, jari telunjut, jari kedua dan permukaan medial jari
ketiga.
d. Gejala Carpal Tunnel Syndrome
Selain sensasi rasa kesemutan, mati rasa atau kebas, dan rasa sakit pada
beberapa bagian tangan, berikut ini adalah beberapa gejala lain yang mungkin
terjadi.
1) Ibu jari melemah.
2) Muncul rasa sakit pada tangan atau lengan.

Gejala yang muncul bisa terjadi pada salah satu atau kedua tangan
sekaligus, tapi pada kebanyakan kasus, CTS akhirnya memengaruhi kedua
tangan.
e. Penanganan Carpal Tunnel Syndrome
Penanganan konservatif merupakan terapi pertama yang harus dicoba
dahulu dan penangan ini meliputi tindakan mengistirahatkan tangan yang sakit
dengan cara memasang bidai pada pergelangan tangan dalam posisi netral selama
waktu 1 hingga 2 minggu. Obat anti inflamasi nonsteroid biasanya akan
meredakan keluhan dan gejala carpal tunnel syndrome. Jika keterkaitan antara
pekerjaan pasien dan cedera tekanan yang berulang sudah bias dipastikan, pasien
dapat dianjurkan untuk mencari pekerjaan lain.
3. Clubfoot (Talipes)
a. Definisi Clubfoot (Talipes)

Clubfood (kaki pengkor), yang juga dinamakan talipes, merupakan


kelainan konginital yang paling sering ditemukan pada ekstremitas bawah.
Kelainan ini terutama ditandai oleh deformitas os talus dan pemendekakan
tendon Achilles sehingga kaki terlihat seperti alat pemukul yang khas
Clubfoot/CTEV (Congeintal Talipes Equino Varus) adalah kelainan yang
meliputi fleksi dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki
depan, dan rotasi media dari tibia (Priciples of Surgery, Schwartz).
b. Penyebab Clubfoot (Talipes)
Penyebab pasti kelainan ini tidak diketahui dengan pasti. Berbagai macam
dugaan untuk membedakan CTEV primer dan sekunder. CTEV sekunder
merupakan suatu kelainan yang berhubungan dengan kelainan yang lain seperti
aberasi kromosomal, artrogriposis (suatu kondisi imobilitas dari persendian
secara umum), serebral palsy atau spina bifida.
Beberapa dugaan mengenai penyebab terjadinya CTEV adalah :

1) Teori kromosom: dimungkinkan karena cacat dari sel germativum yang


tidak dibuahi dan muncul sebelum fertilisasi.
2) Teori embrio: biasanya ini terjadi pada CTEV Primer yang terjadi pada sel
germinativum yang dibuahi (Irani dan Sherman) yang menyatakan bahwa
kelainan terjadi antara masa konsepsi dan minggu ke 12 kehamilan.
3) Teori otogenik: adanya hambatan dalam perkembangan minggu ke 7-8
masa gestasi. Teori ini dihubungkan dengan perubahan pada genetik.
4) Teori fetus: adanya blok mekanik pada perkembangan akibat lingkungan
intrauterin.
5) Teori neurogenik: yaitu kelainan primer pada jaringan neurogenik.
6) Teori amiogenik, bahwa kelainan primer terjadi pada otot.
c. Patofisiologi Clubfoot (Talipes)
Perkembangan kaki yang abnormal selama masa pertumbuhan janin akan
menyebabkan kelainan otot serta persendian dan kontraktur jaringan luna.
Keadaan yang dinamakan apparent clubfoot (defek yang kelihatannya seperti
talipes) ini karena janin mempertahankan posisi inutero yang membuat kakinya
terlihat seperti mengalami talipes sejak saat lahir. Biasanya keadaan ini bias
dikoreksi secara manual. Bentuk apparent clubfoot yang lain adalah inversio kaki
yang terjadi karena atrofi muskuler progresif tipe denervasi dan distrofi muskuler
progresif.
d. Tanda dan Gejala Clubfoot (Talipes)
1) Deformitas pada os talus.
2) Kaki berputar ke sisi dalam sehingga punggung kaki terletak di telapak
kaki.
3) Apabila mengenai kedua kaki, maka nampak kedua telapak kaki saling
berhadapan.
4) Kaki yang terkena terlihat lebih pendek dibandingkan kaki yang sehat.
5) CTEV tidak menyebabkan nyeri. Namun apabila tidak ditangani, CTEV
dapat mengakibatkan ketidak nyamanan dan kecacatan sejak masa kanakkanak.
6) Atrofi otot betis
e. Penanganan Clubfoot
Penanganan dapat dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu : mengoreksi
deformitas, mempertahankan koreksi tersebut sampai kaki mendapatkan kembali
keseimbanan otot yang normal dan mengobserfasi kakidengan ketat selama
beberapa tahun untuk mencegah deformitas kembali timbul.

Biasanya deformitas talipes dikoreksi dengan serangkaian urutan tindakan:


pertama tama aduksi kaki, kemudian reposisi varus (inversion), dan akhirnya
ekuinus (fleksi plantaris).
4. Osteomyelitis
a. Definisi Osteomyelitis
Osteomyelitis merupakan infeksi tulang yang ditandai khas oleh kerusakan
progresif akibat inflamasi sesudah pembentukan tulang yang baru. Osteomyelitis
dapat bersifat akut atau kronis. Umumya penyakit infeksi tulang ini terjadi
karena gabungan trauma localyang biasanya sepele tetapi menyebabkan
hematomadan infeksi akut yang timbul dibagian tubuh yang lain. Meskipun
osteomyelitis kerapkali hanya terbatas disatu tempat, namun infeksi ini dapat
menyebar keseluuh tlng dengan menyerang sumsum tulang, korteks dan
periosteum.
b. Penyebab Osteomyelitis
Mikrooganisme piogenik yang paling sering menyebabkan osteomyelitis
adalah staphylococcus aureus.
Mikroorganisme penyebab yang lain adalah :
1) Streptococcus pyogenes
2) Pneumokokus
3) Pseudomonas auruginosa
4) Escherichia coli
5) Proteus vulgaris
c. Patofisiologi Osteomyelitis
Secara khas mikroorganisme ini menemukan tempat perbenihannya dalam
hematoma yang timbul akibat trauma yang baru saja terjadi atau dibagian tubuh
yang lemah, seperti lokasi infeksi setempat (misalnya furunkulosis) dn kemudian
menyebar melalui aliran darah ke bagian metafisis tulang panjang yang
bersambung dengan lempeng epifisis, tempat aliran darah akan mengalir ke
dalam sinusoid.
d. Tanda dan Gejala Osteomyelitis
Gambaran osteomyelitis akut dan kronis umumnya sama dan dapat meliputi :
1) Osteomyelitis akut dengan awitan cepat dan disertai nyeri yang mendadak
pada tulang yang terkena dengan gejala nyeri tekan (dolor), kenaikan suhu
di bagian lesi (kolor), pembengkakan (tumor), eritema, pertahanan
muskuler dibagian yang sakit serta keterbatasan gerakan.

2) Infeksi kronis yang bertahan secara intermiten selama bertahun tahun, yaitu
muncul sesudah trauma ringan atau bertahan dalam bentuk drainase pus
dalam kantung yang lama dalam sinus tracts.
3) Demam dan takikardi yang menyertai
4) Dehidrasi (pada pasien anak-anak)
5) Iritabilitas/rewel dan gangguan menyusu (pada bayi)
e. Penanganan Osteomyelitis
1) Pemberian antibiotic sistemik
2) Tindakan memasukan antibotik kedalam rongga tulang menggunakan
system irigasi tertutup yang kontinu disertai tindakan pengisapan
intermiten yang tidak terlalu kuat.
3) Compres dengan kassa basah yang mengandung antibiotik
B. Gangguan Skeletal : Metabolik dan Reumatik
1. Osteoporosis
a. Definisi Osteoporosis
Osteoporosis (pengeroposan tulang) merupakan gangguan metabolic
tulang degan meningkatkan kecepatan resorpsi tulang tetapi kecepatan
pembentukannya berjalan lambat sehingga terjadi kehilangan massa tulang.
b. Penyebab Osteoporosis
Penyebab osteoporosis primer tidak diketahui, tetapi factor-faktor yang
turut berkontribusi adalah :
1) Keseimbangan negative yang ringan tetapi sudah berjalan lama akibat
asupan kalsium dari makanan yang tidak adekuat.
2) Fungsi gonad dan kelenjar adrenal yang menurun.
3) Gangguan metabolism protein akibat defisiensi relative atau progresif
hormone estrogen.
4) Gaya hidup kurang bergerak.
c. Patofisiologi Osteoporosis
Pada tulang yang normal, kecepatqn pembentukan dan resorpsi tulang
bersifat konstan; penggantian segera disertai resorpsi dan jumlah tualng yang
digantikan sama dengan jumlah tulang yang diresorpsi. Osteoporosis terjadi
kalau siklus remodeling tersebut terganggu dan pembentukan tulang yang baru
menurun hingga berada dibawah resorpsi tulang.
Kalau tulang diresorpso lebih cepat daripada pembentukannya, maka
kepadatan atau densitas tulang tersebut akan menurun.
d. Tanda Dan Gejala Osteoporosis
Secara khas osteoporosis bisa ditemukan secara tiba-tiba seperti :

1) Wanita pascamenopause yang membungkuk untuk mengangkat sesuatu dan


tiba tiba mendengar bunyi menyentak (klek) yang kemudian diikuti oleh
rasa nyeri mendnadak pada punggung bawah
2) Kolaps vertebra yang menyebabkan nyeri punggung yang menjalar disekita
batang tubuh (merupakan gejala yang paling seing ditemukan) dan
diperparah dengan gerakan atau sentakan
e. Penanganan Osteoporosis
Penanganan untuk mengendalikan kehilangan massa tulang, mencegah fraktur
dan mengontrol rasa nyeri dapat meliputi :
1) Fisioterapi yang menekankan latihan serta aktifitas dilakukan secara
perlahan dan latihan fisik yang bersifat mengangkat beban moderat secara
teratur.
2) Pemakaian alat penyangga sepeti back brace
3) Pembedahan jika ada indikasi untuk mengatasi fraktur patologis
4) Obat analgetik dan pemanasan local untuk meredakan rasa nyeri.
2. Artritis Gout
a. Definisi Artritis Gout
Artritis Gout, juga disebut gout, merupakan penyakit metabolic ynag
ditandai oleh pengendapan senyawa urat didalam sendi sehingga timbul
peradangan sendi yang nyeri. Penyakit ini terutama ditemukan pada kaki dan
kaki bagian tengah dan dapt mengenai setiap sendi.
b. Penyebab Artritis Gout
Meskipun penyebab pasti gout primer masih belum diketahui, namun penyakit
ini dapat disebabkan oleh :
1) Defek genetic mata metbolisme purin, yang menyebabkan produksi
berlebih asam urat (hiperurisemia), retensi asam urat atau keduanya.
Pada gout sekunder, yang terjadi selama perjalanan penyakit lain (seperti
obesitas, diabetes mellitus, hipertensi dan penyakit renal), penyebab dapat
berupa:
1) Pemecahan asam nukleat yang menyebabkan hiperusemia
2) Akibat terapi obat, khususnya sesudah pemakaian hidrokloratiazin atau
pirazinamid yang menurunkan ekskresi urat (bentuk ion asam urat)
c. Patofisiologi Artritis Gout
Kalau asam urat mengalami saturasi yang berlebihan (supersaturasi)
didalam darah dan cairan tubuh lain, senyawa ini akan mengkristal dan
membentuk endapan garam urat yang menumpuk di dalam jaringan ikat
diseluruh tubuh; endapan ini dinamakan tofus. Keberadaan kristal urat akan

memicu respons inflamasi akut ketika sel-sel neutrofil mulai memakan kristal
tersebut. Kerusakan jaingan mulai terjadi pada saat sel-sel neutrophil melepaskan
lisosomnya. Lisosom bukan hanya merusak jaringan, tetapi juga memperberat
inflamasi.
Serangan akut yang pertama terjadi secara tiba tiba dan memuncak dengan
cepat. Meskipun umumnya hanya mengenai satu atau beberapa sendi, serangan
awal ini terasa sangat nyeri. Sendi yang terkena teraba panas, terasa nyeri bila
disentuh, mengalami inflamsi dan berwarna merah gelap atau tampak sianotik.
Sendi metatarsophalangeal pada ibu jari kaki biasanya mengalami inflamsi yang
pertama (podagra) baru kemudian inflamasi tersebut terjadi pada telapak kaki,
sendi pergelangan kaki, tumit, sendi lutut atau sendi pergelangan tangan. Kadang
kadang pada keadaan ini terjadi demam yang ringan (supfebris). Serangan akut
yang ringan sering mereda dengan cepat tetapi cenderung kambuh kembali
dengan interval waktu tidak teratur. Serangan yang berat bias bertahan selam
berhari hari atau berminggu minggu.
d. Tanda dan Gejala Artritis Gout
Tanda dan gejala penyakit gout yang dapat tejadi meliputi :
1) Nyeri sendi akibat endapan asam urat dan inflamasi
2) Eritema dan bengkak pada kaki akibat endapan asam urat dan iritasi
3) Tofus pada ibu jari kaki, pergelangan kaki dan daun telinga akibat endapan
urat
4) Kenaikan suhu kulit akibat inflamsi

e. Penanganan Artritis Gout


Tujuan penangan penyakit gout adalah mengakhiri serangan akut secepat
mungkin, mencegah serangan yang berulang, dan mencegah atau membalikan
komplikasi. Penanganan penyakit gout yang akut terdiri atas :
1) Imobilisasi dan proteksi sendi yang nyeri dan inflamasi.
2) Compress dingin dan hangat pada bagian yang sakit
3) Peningkatan asupan cairan (hingga 3 L per hari) jika tidak terdapat
kontraindikasi penyakit lain. Peningkatan asupan cairan ini bertujuan
mencegah pembentukan batu ginjal.
4) Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) untuk mengatasi nyeri dan rasa
sakit.

3. Artritis Reumatoid
a. Definisi Artritis Reumatoid
Artritis reumatoid adalah penyakit inflamasi non-bakterial yang bersifat
sistemik, progresif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat
sendi serta simetris.
b. Penyebab Artritis Reumatoid
Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang
dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu :
1) Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus
2) Endokrin
3) Autoimun
4) Metabolik
5) Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya.
Pada saat ini, artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun
dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi
mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikoplasma atau grup
difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi
penderita.
c. Patofisiologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago
dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang
menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi
menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer.
Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.
Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan
sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan
kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa
menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub
chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan
masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang

sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain.
terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid)
gangguan akan menjadi kronis yang progresif.
d. Tanda dan Gejala
1) Tanda dan gejala setempat
a) Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning
stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari
30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari.
Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya
tidak berlangsung lama.
b) Lambat laun membengkak, panas merah, lemah
c) Poli artritis simetris sendi perifer atau semua sendi

bisa

terserang,panggul, lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu.


Paling sering mengenai sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan,
meskipun sendi yang lebih besar seringkali terkena juga
d) Artritis erosive atau sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi
yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat
dilihat pada penyinaran sinar X
e) Deformitas atau pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi
metakarpofalangea, deformitas beoutonniere dan leher angsa. Sendi
yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan
kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami
ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total
f) Rematoid nodul merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3
pasien dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa
olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah,
bentuknya oval atau bulat dan padat.
2) Tanda dan gejala sistemik
Lemah, demam, tachikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia. Bila
ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu :
a) Stadium Sinovisis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat
maupun saat bergerak, bengkak dan kekakuan
b) Stadium Destruksi

Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial


terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi
tendon.
c) Stadium Deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan gangguan fungsi secara menetap. Perubahan pada
sendi diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus,
ankilosis fibrosa dan terakhir ankilosis tulang.
e. Penanganan Arthritis Rheumatoid
Penderita rheumatoid arthritis hanya bisa melakukan perawatan karena
hingga saat ini masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan rheumatoid
arthritis secara total, namun dengan perawatan yang tepat, penyebaran dan
peradangan dapat dihambat.
Perawatan rheumatoid arthritis yang dapat dilakukan adalah dengan

melakukan terapi serta pengobatan jangka panjang untuk menghambat


perkembangan dan gejala rheumatoid arthritis. Jika perawatan dengan terapi dan
pengobatan sudah tidak efektif, maka operasi untuk memperbaiki masalah
persendian dapat dilakukan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem Muskuloskeletal merupakan sistem tubuh yang terdiri dari otot (muskulo) dan
tulang-tulang yang membentuk rangka (skelet). Otot adalah jaringan tubuh yang mempunyai
kemampuan mengubah energi kimia menjadi energi mekanik (gerak). Sedangkan rangka adalah
bagian tubuh yang terdiri dari tulang-tulang yang memungkinkan tubuh mempertahankan
bentuk, sikap dan posisi.
Gangguan pada system muskuluskeletal dapat tejadi pada semua system muskuluskeletal
yaitu Otot, tendon, ligamen, tulang dan sendi. Gangguan system muskuluskeletal dapat
disebabkan oleh berbagai factor internal maupun factor eksternal. Dan pada gangguan system
skelet dapat disebabkan oleh trauma, infeksi, gangguan konginital, metabolic dan reumatik.
Tulang bisa mengalami perubahan sebagai respon dari berbagai keadaan abnormal.
Secara umum reaksi perubahan tulang bisa merupakan manifestasi dari suatu trauma pada tulang.
Manifestasi tersebut yaitu gangguan deposisi tulang dan gangguan reabsorpsi tulang.
B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari betul masih banyak kekurangan di
dalamnya. Untuk itu peneliti sangat mengharapkan masukan dan saran dari dosen dan teman
teman, sehingga dapat memperbaiki penulisan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Kowalak, Welsh, Mayer, 2002. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Nor Zairin, 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuluskeletal. Jakarta : Penerbit Salemba Medika.
Florez, D. A, 2001. Fall In The Elderly. American Family Physician.
Patterson, M, 2000. Whats The Buzz And External Bone Growth Stimulators. American Family
Physician.