Anda di halaman 1dari 28

1

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kearifan Lokal
2.1.1 Sejarah Kearifan Lokal
Pendekatan teoritis tentang globalisasi ataupun modernisasi seperti Marxis
telah menciptakan kekosongan dan ketidaktahuan akan praktek dan kearifan yang
lahir dari perspektif lokal. Era Poskolonial merupakan era baru sejarah dimulainya
perspektif kearifan lokal (local wisdom) menjadi rujukan para pemerhati sosial untuk
melihat arah dan konteks disiplin keilmuannya. Era poskolonial merupakan tahapan
zaman yang melahirkan konstruksi-konstruksi kognitif tentang bagaimana kebebasan
(freedom), hilangnya diskriminasi (indiscriminate), lahirnya masyarakat toleran
(tolerance society), adil (justice) dan menjaga hak-hak sipil (civil right) menjadi
kapital sosial bagi masyarakat di era itu (Abdullah, 2008:2).
Awal pembentukan kearifan lokal dalam masyarakat umumnya tidak
diketahui secara pasti kapan kearifan lokal tersebut muncul. Pada umumnya
terbentuknya kearifan lokal mulai sejak masyarakat belum mengenal tulisan
(praaksara). Tradisi praaksara ini yang kemudian melahirkan tradisi lisan. Secara
historiografi tradisi lisan banyak menjelaskan tentang masa lalu masyarakat atau
asal-usul komunitas atau adanya sesuatu.

2.1.2

Pengertian Kearifan Lokal


Kearifan lokal berasal dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom), dan lokal

(local). Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai
gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai

baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal
terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi
geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang
patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi
6
nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
Kearifan lokal dapat diterjemahkan sebagai karya akal budi, perasaan
mendalam, tabiat, bentuk perangai, dan anjuran untuk kemuliaan manusia.
Penguasaan atas kearifan lokal akan mengusung jiwa mereka semakin berbudi luhur.
Naritoom merumuskan local wisdom dengan definisi (Wagiran, 2010):
Local wisdom is the knowledge that discovered or acquiredby lokal
people through the accumulation of experiences in trials and
integrated with the understanding of surrounding nature and culture.
Local wisdom is dynamic by function of created local wisdom and
connected to the global situation.
Definisi kearifan lokal tersebut, paling tidak menyiratkan beberapa konsep,
yaitu: (1) kearifan lokal adalah sebuah pengalaman panjang yang diendapkan sebagai
petunjuk perilaku seseorang; (2) kearifan lokal tidak lepas dari lingkungan
pemiliknya; dan (3) kearifan lokal itu bersifat dinamis, lentur, terbuka, dan senantiasa
menyesuaikan dengan zamannya. Konsep demikian juga sekaligus memberikan
gambaran bahwa kearifan lokal selalu terkait dengan kehidupan manusia dan
lingkungannya. Kearifan lokal muncul sebagai penjaga atau penyaring iklim global
yang melanda kehidupan manusia. Kearifan adalah proses dan produk budaya
manusia, dimanfaatkan untuk mempertahankan hidup.
Pengertian demikian, mirip pula dengan gagasan Geertz (dalam Taprianto,
2013) sebagai berikut.

Local wisdom is part of culture. Local wisdom is traditional culture


element that deeply rooted in human life and community that related
with human resources, source of culture, economic, security and laws.
lokal wisdom can be viewed as a tradition that related with farming
activities, livestock, build house etc.
Kearifan lokal adalah bagian dari budaya. Kearifan lokal Jawa tentu bagian
dari budaya Jawa, begitu juga kearifan lokal Aceh tentu bagian dari budaya Aceh,
yang memiliki pandangan hidup tertentu. Berbagai hal tentang hidup manusia akan
memancarkan ratusan dan bahkan ribuan kearifan lokal.
Lebih lanjut dikemukakan beberapa karakteristik dari local wisdom, adalah:
1) Local wisdom appears to be simple, but often is elaborate, comprehensive,
diverse;
2) It is adapted to local, cultural, and environmental conditions;
3) It is dynamic and flexible;
4) It is tuned toneeds of local people;
5) It corresponds with quality and quantity of available resources; and
6) It copes well with changes.
Kearifan lokal adalah seperangkat pengetahuan milik suatu masyarakat untuk
menyelesaikan secara baik dan benar persoalan dan/atau kesulitan yang dihadapi,
yang dipelajari/diperoleh dari generasi ke generasi sebelumnya secara lisan atau
melalui contoh tindakan (Ahimsa-Putra dalam Muntasir, 2010: 2).
Berdasarkan pendapat Warren (dalam Muntasir, 2010: 3), menjelaskan bahwa
kearifan lokal adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya
tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil proses hubungan timbal balik
antara masyarakat dengan lingkungannya.
Kearifan lokal (local wisdom) dalam disiplin antropologi dikenal juga dengan
istilah local genius. Local genius ini merupakan istilah yang mula pertama
dikenalkan oleh Quaritch Wales (Ayatrohaedi, 1986). Para antropolog membahas

secara panjang lebar pengertian local geinius ini. Antara lain Haryati Soebadio
mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas atau
kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap
dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi,
1986:18-19).
Ciri-ciri kearifan lokal menurut Moendardjito (dalam Sartini, 2004: 111-112)
tersebut adalah sebagai berikut:
1) mampu bertahan terhadap budaya luar,
2) memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,
3) mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya
asli,
4) mempunyai kemampuan mengendalikan,
5) mampu memberi arah pada perkembangan budaya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal
dilahirkan dari perumusan nilai-nilai bersama dari kehidupan sekelompok
masyarakat, yang merupakan budaya masa lalu, dan dapat dijadikan sebagai
pegangan hidup.
Dalam Sibarani (2012: 112-113) juga dijelaskan bahwa kearifan lokal adalah
kebijaksanaan atau pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur
tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Kearifan lokal juga
dapat didefinisikan sebagai nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk
mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif atau bijaksana.
Jadi, dapat dikatakan bahwa kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan
budaya masyarakat setempat berkaitan dengan kondisi geografis dalam arti luas.
Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus

dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di
dalamnya dianggap sangat universal.
Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari
periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya
dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi yang begitu
panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan kearifan lokal sebagai
sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup
bersama secara dinamis dan damai. Pengertian ini melihat kearifan lokal tidak
sekadar sebagai acuan tingkah-laku seseorang, tetapi lebih jauh, yaitu mampu
mendinamisasi kehidupan masyarakat yang penuh keadaban.
Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai-nilai yang berlaku dalam
suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam
bertingkah-laku sehari-hari masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat beralasan
jika dikatakan bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan
harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya. Hal itu berarti kearifan lokal yang
di dalamnya berisi unsur kecerdasan kreativitas dan pengetahuan lokal dari para elit
dan masyarakatnya adalah yang menentukan dalam pembangunan peradaban
masyarakatnya.
Dalam masyarakat kita, kearifan lokal dapat ditemui dalam nyanyian,
pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam
perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan
hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan
tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-

nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan
menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku
mereka sehari-hari.

2.1.3

Wujud Kearifan Lokal


Kearifan lokal dapat berwujud dalam berbagai bentuk. Ranah kearifan lokal

Indonesia sangat luas, dari yang kasat mata maupun yang tidak. Salah satu wujud
kearifan lokal, yaitu dalam bentuk tradisi dan adat istiadat. Menurut (Muchsin, 2011:
19) kearifan lokal adat dan budaya Kluet dapat berbentuk tradisi pengangkatan, yaitu
Pengangkatan dalam tradisi masyarakat Kluet, terdiri dari tiga bentuk, yaitu
seunamo, pengangkatan orang tua angkat, dan pengangkatan orang tua daun. Selain
itu kearifan lokal dalam tradisi Kluet juga terdapat dalam Mekato, Turun Belawe dan
Mayar Guru, Murih Beras dan Mecanang, Membujangi, Adat Nyerah, Tulak Balo,
Mebobo, Landok Sampot, Perkawinan Sumbang, dan Upacara Kematian.
Kearifan lokal dalam adat istiadat salah satunya yang tergambar pada
pantangan tabu atau seumaloe dalam masyarakat Aceh (Puteh, 2012: 143-154).
Pantangan atau seumaloe yang dikenal dalam masyarakat Aceh ada yang berdasarkan
agama (moral) dan adat istiadat, yaitu pantangan duduk (seumaloe duek), pantangan
makan, pantangan (seumaloe) bermain-main di senja hari, pantangan (seumaloe)
dalam berpakaian, dan pantangan (seumaloe) dalam pergaulan.
Wujud kearifan lokal lainnya adalah dalam bentuk ritual. Diantaranya ritual
asmaranggama dalam khazanah budaya Jawa. Ritual itu adalah ritual yang dilakukan
untuk mengikat pasangan agar tidak berpaling. Di Sulawesi Tengah, masyarakat suku

Wana memiliki kearifan lokal yang mengedepankan prinsip keseimbangan dan


keberlanjutan hutan melalui sejumlah acara ritual yang masih menganggap hutan
memiliki kekuatan gaib. Masyarakat Wana melalukan 14 (empat belas) praktik ritual
kearifan lokal dalam melestarikan hutan dan lingkungannya. Ritual tersebut adalah
ritual Manziman Tana (mohon izin), monguyu sua (ritual penanaman pertama),
mpompondoa sua (memberikan kekuatan hidup pada pohon), palampa tuvu (menolak
bahaya), nunju (mengusir roh jahat), ranja (mengusir wabah), dan polobian
(pengobatan) dalam Sahlan (2011).
Wujud kearifan lokal yang lainnya yaitu dalam bentuk tradisi lisan. Proses
regenerasi kearifan lokal dilakukan melalui tradisi lisan atau cerita rakyat dan karyakarya sastra di Jawa, dapat berbentuk babad, suluk, tembang, hikayat, lontarak yang
merupakan pengetahuan lokal yang digunakan masyarakat lokal untuk bertahan hidup

dalam suatu lingkungannya yang menyatu dengan sistem kepercayaan, norma,


budaya dan diekspresikan di dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu
yang lama (Gunawan, 2008). Pada kearifan lokal Aceh dalam tradisi lisan dapat
berbentuk dalam Nartit Maja dan Petua Beuna (Yusri, 2008: 2). Hal ini senada
dengan yang disampaikan Rusjdi (2012: 32-36), menyebutkan bahwa wujud kearifan
lokal Aceh yang dapat menjadi pendidikan moral yang diturunkan dari generasi ke
generasi di Aceh yang dapat dilihat melalui metode narit maja atau hadih maja.
Kearifan lokal juga dapat berwujud norma-norma, hukum dan adat istiadat.
Salah satu wujudnya yaitu dalam memanfaatkan pola kearifan lokal dalam
pengelolaan perikanan di Aceh. Pola kearifan lokal dalam bentuk hukom adat laot,

yang dapat dijadikan model dalam pengelolaan perikananyang berkelanjutan di Aceh


(Abdullah, 2010: 20).
Menurut Faisal (dalam Sartini: 2004) mencontohkan kekayaan budaya,
kearifan lokal di Nusantara yang terkait dengan pemanfaatan alam yang pantas digali
lebih lanjut makna dan fungsinya serta kondisinya sekarang dan yang akan datang.
Contoh kearifan lokal terdapat di beberapa daerah sebagai berikut.
1) Papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku). Gunung
Erstberg dan Grasberg dipercaya sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai
bagian dari hidup manusia. Dengan demikian maka pemanfaatan sumber daya
alam secara hati-hati;
2) Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan
terwujud dari kuatnya keyakinan ini yaitu tata nilai tabu dalam berladang dan
tradisi tanam tanjak;
3) Dayak Kenyah, Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana ulen. Kawasan hutan
dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat. Pengelolaan tanah diatur dan
dilindungi oleh aturan adat;
4) Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat. Masyarakat ini mengembangkan
kearifan lingkungan dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan
mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya. Perladangan dilakukan dengan
rotasi dengan menetapkan masa bera, dan mereka mengenal tabu sehingga
penggunaan teknologi dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah
lingkungan;

5) Masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh Jawa Barat.


Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan hutan
hati-hati, tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat;
6) Bali dan Lombok, masyarakat memunyai awig-awig;
7) Jawa memiliki budaya jawa seperti unggah-ungguh, gamelan Jawa, dan tembang
macapat. Di dalam budaya Jawa tersebut memiliki nilai-nilai luhur yang mampu
membentuk moral / tingkah laku.
Wujud kearifan lokal juga dapat dikategorikan lebih kompleks dikemukakan
Wagiran (2010) yang meliputi pertanian, kerajinan tangan, pengobatan herbal,
pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan, perdagangan, seni budaya, bahasa
daerah, philosophi, agama dan budaya serta makanan tradisional.

2.1.4

Fungsi Kearifan Lokal


Kearifan lokal itu berasal dari pemikiran manusia. Baik pemikiran positif

maupun pemikiran negatif. Namun, apa yang dipikirkan dan kemudian dilakukan
manusia sampai menghasilkan suatu karya tentunya ditujukan untuk memperoleh
kebaikan atau peningkatan hidupnya. Rahyono (2009: 3-4) menyatakan bahwa
. kearifan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi setiap manusia
untuk menjadi orang yang cerdas, pandai, dan bijaksana. Segala hal yang
tidak membuat manusia menjadi cendikia dan bijaksana berarti bukanlah
sesuatu yang arif atau sesuatu yan gmengandung kearifan.
Keberadaan kearifan lokal dalam masyarakat memegang peran penting karena
kehadirannya dalam masyarakat sangat banyak fungsinya. Sartini (2004: 112 113)
menjelaskan tentang fungsi kearifan lokal adalah sebagai berikut.

10

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bermakna etika dan moral.


Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.
Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia.
Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.
Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
Bermakna politik.
Kearifan lokal dapat diinternalisasikan dalam pendidikan karena

memiliki kelebihan. Kelebihan tersebut menurut Mulyani (2011:631)


sebagai berikut: (1) kearifan lokal dapat menjadi sarana pembelajaran
bagi setiap manusia untuk menjadi orang yang cerdas, pandai, dan
bijaksana, (2) kearifan lokal memiliki nilainilai positif untuk dapat
ditransformasikan kepada peserta didik guna membentuk kepribadian
positif. Sebagaimana Sayuti (2009) mengemukakan bahwa budaya
dan potensi lokal itu meniscayakan fungsi yang strategis bagi
pembentukan karakter dan identitas.
Geertz (dalam Taprianto, 2013) menambahkan bahwa lokal
secara jelas adalah istilah yang relatif. Adapun relatif yang dirasa
bermuatan negatif memandangnya sebagai a) universal yang sangat
umum memandang bahwa kearifan lokal dapat berlaku dimanapun
dan setiap daerah memiliki kearifan lokal yang esensinya sama,
namun pola pengaturannya berbeda. Contohnya jas hujan yang dapat
dipakai dimanapun dan fakta bahwa setiap masyarakat memiliki
perangkat sosial yang berlaku di daerahnya dan perangkat tersebut
berbeda satu dan lainnya. b) generalisasi yang lebih mendalami
pertanyaan lokal daripada sebagai kesimpulan yang cocok untuk buku

11

teks. Contohnya upacara pemakaman adalah hal yang baik untuk


melihat apakah anda tertarik pada konsepsi orang tentang diri. Contoh
lainnya, di Asia Tenggara, cenderung diferensiasi status menjadi suatu
hal yang sangat penting daripada perbedaan gender. c) undangundang yang menyatakan bahwa segala kearifan lokal yang ada dapat
dikaji secara ilmiah yang menekankan pada hukum. Contohnya
perkara kanibalisme yang seharusnya menjadi perkara hukum, bukan
sekadar suatu kekhasan dari kelompok masyarakat.
Pengetahuan mengenai kearifan lokal juga memiliki segi positif,
yaitu:

a) memiliki batasan-batasan

bagi setiap individu

dalam

berinteraksi dengan individu lainnya dalam satu kelompok tersebut.


Contohnya ada nilai yang berkembang mengenai bagaimana cara
berkomunikasi yang baik antara orang tua dan anak muda. b) sifat
terperinci dalam setiap kasus lokal yang terjadi, sehingga tidak
muncul kesalahan yang akan menyudutkan salah satu individu.
Contohnya adanya jumlah yang pasti terkait penelitian mengenai
aspek kehidupan bersama potongan garis dunia daerah yang menjadi
objek kajian. c) perbandingan yang mungkin dan perlu antara apa
yang berkembang sekarang dan hal-hal yang melatarbelakanginya,
sehingga kita dapat memperdalam kekhasan dari keduanya.
Teezzi, Marchettini, dan Rosini (dalam library.witpress.com)
mengatakan bahwa akhir dari sedimentasi kearifan lokal ini akan
mewujud menjadi tradisi atau agama. Dalam masyarakat kita,
kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti,

12

petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku


sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaankebiasaan

hidup

masyarakat

yang

telah

berlangsung

lama.

Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang


berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi
pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi
bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan
perilaku mereka sehari-hari. Proses sedimentasi ini membutuhkan
waktu yang sangat panjang, dari satu generasi ke generasi berikut.
Teezzi, Marchettini, dan Rosini mengatakan bahwa kemunculan
kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses trial and
error dari berbagai macam pengetahuan empiris maupun non-empiris
atau yang estetik maupun intuitif. Kearifan lokal lebih menggambarkan
satu fenomena spesifik yang biasanya akan menjadi ciri khas
komunitas kelompok tersebut, misalnya alonalon asal klakon (masyarakat
Jawa Tengah), rawe-rawe rantas malang-malang putung (masyarakat Jawa
Timur), ikhlas kiai-ne manfaat ilmu-ne, patuh guru-ne barokah urip-e (masyarakat
pesantren), dan sebagainya.
Kearifan lokal yang digali, dipoles, dikemas dan dipelihara dan
dilaksanakan dengan baik bisa berfungsi sebagai alternative pedoman
hidup manusia Indonesia dewasa ini. Nilai-nilai itu dapat digunakan
untuk menyaring nilai-nilai baru atau asing agar tidak bertentangan
dengan kepribadian bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan
manusia dengan Sang Khalik, alam sekitar, dan sesamanya. Dan

13

sebagai bangsa besar pemilik dan pewaris sah kebudayaan, kearifan


lokal dapat menjadi benteng kokoh menanggapi modernitas dengan
tidak kehilangan nilai-nilai tradisi lokal yang telah mengakar.

2.1.5

Ruang Lingkup Kearifan Lokal


Kearifan lokal merupakan fenomena yang luas dan komprehensif. Cakupan

kearifan lokal cukup banyak dan beragam sehingga sulit dibatasi oleh ruang.
Kearifan tradisional dan kearifan kini berbeda dengan kearifan lokal. Kearifan lokal
lebih menekankan pada tempat dan lokalitas dari kearifan tersebutsehingga tidak
harus merupakan sebuah kearifan yang telah diwariskan darigenerasi ke generasi.
Kearifan lokal bisa merupakan kearifan yang belum lama muncul dalam suatu
komunitas sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan alam dan interaksinya
dengan masyarakat serta budaya lain. Oleh karena itu, kearifan lokal tidak selalu
bersifat tradisional karena dia dapat mencakup kearifan masa kini dan karena itu pula
lebih luas maknanya daripada kearifan tradisional. Untuk membedakan kearifan lokal
yang baru saja muncul dengan kearifan lokal yang sudah lama dikenal komunitas
tersebut, dapat digunakan istilah: kearifan kini, kearifan baru, atau kearifan
kontemporer.
Kearifan tradisional dapat disebut kearifan dulu atau kearifan lama. Dilihat
dari keasliannya, kearifan lokal bisa dalam bentuk aslinya maupun dalam bentuk reka
cipta ulang (institutional). Esensi kemajuan yang dicapai berbagai bangsa tersebut
menunjukkan bahwa pengembangan karakter suatu bangsa tidak dapat dilepaskan
dari aspek budaya yang selaras dengan karakteristik masyarakat bangsa itu sendiri.

14

Budaya yang digali dari kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan dalam era
global, namun justru menjadi penyaring budaya dan kekuatan transformasional yang
luar biasa dalam meraih kejayaan bangsa. Oleh karena itu, menggali nilai-nilai
kearifan lokal merupakan upaya strategis dalam membangun karakter bangsa di era
global.
Kearifan lokal, dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai
kebijaksanaan setempat (local wisdom) atau pengetahuan setempat (local knowledge)
atau kecerdasan setempat (local genious). Ketiganya merujuk pada bentuk
pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud
aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam menjawab berbagai
masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Konsepsi yang disebutkan terakhir
adalah bahasan yang paling sering dijumpai dan dikupas saat ini.
Berdasarkan waktu pemunculan tersebut di atas, akan hadir kearifan dalam
kategori yang beragam. Dalam hal ini terdapat dua jenis kearifan lokal, yaitu: (1)
kearifan lokal klasik, lama, tradisional, dan; dan (2) kearifan lokal baru, masa kini,
kontemporer. Dari sisi filosofi dasarnya, kearifan dapat dikategorikan dalam dua
aspek, yaitu: (1) gagasan, pemikiran, akal budi yang bersifat abstrak; dan (2) kearifan
lokal yang berupa hal-hal konkret, dapat dilihat. Kearifan lokal kategori gagasan
mencakup: berbagai pengetahuan, pandangan, nilai serta praktik- praktik dari sebuah
komunitas baik yang diperoleh dari generasi sebelumnya dari komunitas tersebut
maupun yang didapat oleh komunitas tersebut di masa kini, yang tidak berasal dari
generasi sebelumnya, tetapi dari berbagai pengalaman dimasa kini, termasuk juga
dari kontaknya dengan masyarakat atau budaya lain. Kearifan lokal kategori hal

15

konkret biasanya berupa benda-benda artefak, yang menghiasi hidup manusia, dan
bermakna simbolik.
Di Indonesia, kearifan lokal jelas mempunyai makna positif karena kearifan
selalu dimaknai secara baik atau positif. Pemilihan kata kearifan lokal disadari atau
tidak merupakan sebuah strategi untuk membangun, menciptakan citra yang lebih
baik mengenai pengetahuan lokal yang memang tidak selalu orang lantas bersedia
menghargai pengetahuan tradisional, pengetahuan lokal warisan nenek moyang dan
kemudian bersedia bersusah payah memahaminya untuk bisa memperoleh berbagai
kearifan yang ada dalam suatu komunitas, yang mungkin relevan untuk kehidupan
manusia di masa kini dan di masa yang akan datang.
Dalam setiap jengkal hidup manusia selalu ada kearifan lokal. Kearifan lokal
dapat muncul pada: (1) pemikiran, (2) sikap, dan (3) perilaku (Wagiran, 2012: 331).
Ketiganya hampir tidak dapat dipisahkan. Jika ketiganya ada yang timpang, maka
kearifan lokal tersebut semakin pudar. Dalam pemikiran, sering terdapat akhlak
mulia, berbudi luhur, tetapi kalau mobah mosik, solah bawa, tidak baik juga dianggap
tidak arif, apalagi kalau tindakannya serba tidak terpuji. Apa saja dapat tercakup
dalam kearifan lokal.
Paling tidak cakupan luas kearifan lokal dapat meliputi: (1) pemikiran, sikap,
dan tindakan berbahasa, berolah seni, dan bersastra, misalnya karya-karya sastra
yang bernuansa filsafat dan niti (wulang); (2) pemikiran, sikap, dan tindakan dalam
berbagai artefak budaya, misalnya keris, candi, dekorasi, lukisan,dan sebagainya; dan
(3) pemikiran, sikap, dan tindakan sosial bermasyarakat, seperti unggah- ungguh,
sopan santun, dan uda negara. Secara garis besar, kearifan lokal terdiri dari hal-hal

16

yang tidak kasat mata (intangible) dan hal-hal yang kasat mata (tangible). Kearifan
yang tidak kasat mata berupa gagasan mulia untuk membangun diri, menyiapkan
hidup lebih bijaksana, dan berkarakter mulia. Sebaliknya, kearifan yang berupa halhal fisik dan simbolik patut ditafsirkan kembali agar mudah diimplementasikan ke
dalam kehidupan. Dilihat dari jenisnya, local wisdom dapat diklasifikasikan menjadi
lima kategori, yaitu makanan, pengobatan, teknik produksi, industri rumah
tangga,dan pakaian.
Klasifikasi ini tentu saja tidak tepat sebab masih banyak hal lain yang
mungkin jauh lebih penting. Oleh sebab itu, kearifan lokal tidak dapat dibatasi atau
dikotak-kotak. Kategorisasi lebih kompleks dikemukakan Wagiran (2010) yang
meliputi pertanian, kerajinan tangan, pengobatan herbal, pengelolaan sumberdaya
alam dan lingkungan, perdagangan, seni budaya, bahasa daerah, philosophi, agama
dan budaya serta makanan tradisional.

2.2 Sastra Anak


2.2.1 Pengertian Sastra Anak
Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga
menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat
sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang
dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak.
Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan,
mempertahankan, serta menyebarluaskannya termasuk kepada anak-anak.
Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam
bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan

17

dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan
kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak
merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra
tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak
sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto,
2008: 2).
Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anakanak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia
antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga
berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta
menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat
tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan
kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi
hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang
membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau
dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga
menuntun kecerdasan emosinya (Wahidin, 2009).
Sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok
untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini
disebut anak ( Hunt dalam Witakania, 2008). Jadi sastra anak adalah buku bacaan
yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan
minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan
intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka.

18

Tarigan (1995: 5) mengatakan bahwa buku anak-anak adalah buku yang


menempatkan mata anak-anak sebagai pengamat utama, mata anak-anak sebagai
fokusnya. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman
anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak.
Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta.
Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus
sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan
bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai
dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan
(Wahidin, 2009).
Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila
disugui bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan dikonsumsikan bagi anak
harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit,
menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada di dunia mereka, tokoh dan
penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami
tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan
imajinasi masih dalam jangkauan anak (Puryanto, 2008: 2).
Sarumpaet (dalam Puryanto, 2008: 3) mengatakan persoalan-persoalan yang
menyangkut masalah seks, cinta yang erotis, kebencian, kekerasan dan prasangka,
serta masalah hidup mati tidak didapati sebagai tema dalam bacaan anak. Begitu pula
pembicaraan mengenai perceraian, penggunaan obat terlarang, ataupun perkosaan
merupakan hal yang dihindari dalam bacaan anak. Artinya, tema-tema yang disebut

19

tidaklah perlu dikonsumsi oleh anak. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu,
tema-tema bacaan anak pun berkembang dan semakin bervariasi.

2.2.2

Ciri-Ciri Sastra Anak


Menurut Sarumpaet (Dalam Santoso, 2003:84), ada 3 ciri yang membedakan

antara sastra anak dengan sastra orang dewasa. 3 Ciri itu yaitu 1) Unsur pantangan,
2) Penyajian dengan gaya secara langsung, 3) Fungsi terapan.
Unsur pantangan merupakan unsur ang secara khusus berkenaan dengan tema
dan amanat. Tema cerita anak-anak ditentukan berdasarkan pertimbangan nilai
edukatif walaupun persoalan-persoalan cinta yang erotis, seks, kebencian,
kekejaman, kekerasan, dan prasangka buruk, kecurangan yang jahat serta masalah
hidup dan mati sering menjadi fokus dalam isi sastra, pantang untuk disajikan
sebagai tema dalam sastra anak.
Tema-tema yang sesuai untuk sastra anak-anak adalah tema-tema yang
menyajikan masalah-masalah yang sesuai dengan kehidupan anak, seperti
kepahlawanan, kepemimpinan, suka duka, pengembaraan, peristiwa sehari-hari,
kisah-kisah perjalanan seperti ruang angkasa, penjelajahan, dan sebagainya
(Sarumpaet, 1976; Huck, 1987; Mithell, 2003). Berkaitan dengan pemecahan
masalah yang disajikan dalam cerita, Sarumpaet (1976) berpendapat bahwa akhir
cerita anak-anak tidak selalu suka ataupun indah. Walaupun cerita dapat berakhir
dengan duka, yang penting bersifat afirmatif (menimbulkan respons yang positif).
Fungsi terapan adalah sajian cerita yang harus bersifat informatif dan
mengandung unsur-unsur yang bermanfaat, baik untuk pengetahuan umum,
keterampilan

khusus,

maupun

untuk

perkembangan

anak.

20

Kebanyakan bacaan anak ditulis oleh orang dewasa sehingga fungsi terapan sering
dimanfaatkan untuk menampung kecenderungan penulisnya untuk menggurui
(Sarumpaet, 1976). Fungsi terapan dalam hal ini untuk menambah pengetahuan
umum baik dalam bidang sosial, bahasa, maupun sain sehingga hal-hal yang
ditampilkan dapat mengajarkan sesuatu.
Fungsi terapan dalam sastra anak ini ditunjukkan oleh unsur-unsur instrinsik
yang terdapat dalam teks karya sastra anka itu sendiri, misalnya dari judul
Petualangan Sinbad akan memberi informasi tokoh asing. Sinbad berasal dari TimurTengah,

selain

memberi

informasi

nama

tokoh,

anak

akan

bertambah

pengetahuannya tentang negeri asal tokoh tersebut, letak negeri itu, apa yang terkenal
dari negeri itu, dan sebagainya.
Menurut Puryanto (2008: 7) secara garis besar, ciri dan syarat sastra anak
adalah:
1) Cerita anak mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelitbelit, menggunakan setting yang ada di sekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan
penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah
dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang
tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak.
2) Puisi anak mengandung tema yang menyentuh, ritme yang meriangkan anak,
tidak terlalu panjang, ada rima dan bunyi yang serasi dan indah, serta isinya bisa
menambah wawasan pikiran anak.
Buku anak-anak biasanya mencerminkan masalah-masalah masa kini. Hal-hal
yang dibaca oleh anak-anak dalam koran, yang ditontonnya dilayar televisi dan di

21

bioskop, cenderung pada masalah-masalah masa kini. Bahkan yang dialaminya di


rumah pun adalah situasi masa kini. (Tarigan, 1995: 5).
Menurut Suyatno (2009), ciri-ciri sastra anak adalah :
1) Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu. Setiap tokoh
yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu,
sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika
cerita sedang berlangsung.
2) Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar
Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari
iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga
anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah
salah satu sarana untuk menarik perhatian.
3) Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami
oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya
sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa.
4) Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian
Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja,
buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang
menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian.
5) Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru,
dan lain lain). Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak,
sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam
bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan
yang dialami anak-anak.
6) Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama.

22

Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada


tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis
dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik.
7) Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).

2.2.3

Genre Sastra Anak


Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam

macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi dan nonfiksi
dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis lagi. Genre drama sengaja tidak
dimasukkan karena menurutnya, drama baru lengkap setelah dipertunjukkan dan
ditonton, dan bukan semata-mata urusan bahasa-sastra (Nurgiyantoro,2005:15).
Enam genre anak tersebut adalah sebagai berikut:
1) Realisme
Karakteristik umum cerita realisme adalah narasi fiksional yang menampilkan
tokoh dengan karakter yang menarik yang dikemas dalam latar tempat dan waktu
yang dimungkinkan. Ada beberapa cerita yang dapat dikategorikan ke dalam
realisme, yaitu cerita realistik, realisme binatang, realisme historis dan ceritaolahraga
(Nurgiyantoro,2005:15). Realisme dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai
berikut.
(1) Cerita Realistik
Cerita realistik (realistic stories) biasanya bercerita tentang masalah-masalah
sosial dengan menampilkan tokoh utamaprotagonis sebagai pelaku cerita. Masalahmasalah yang dihadapi tokoh itulah yang menjadi sumber pengembangan konflik dan
alur cerita. Untuk cerita anak, cerita lebih banyak diselesaikan, tetapi harus tetap
mempertahankan logika cerita. Cerita realistik dapat membawa pembaca anak untuk

23

lebih memahami diri sendiri dan orang lain lewat pengembangan cerita, tokoh, dan
konflik yang dapat dipercaya.
(2) Realisme Binatang
Cerita realisme binatang (animal realism) adalah cerita tentang binatang yang
bersifat nonfiksi. Ia adalah cerita tentang binatang, berbicara tentang binatang, misal
yang berkaitan dengan habitat, cara dan siklus hidup dan lain-lain. Dalam hal ini
fabel berbeda dengan cerita realisme binatang karena seringkali fabel mengandung
personifikasi binatang yang memiliki konflik layaknya seperti manusia.
(3) Realisme Historis
Cerita realisme historis (historical realism) mengisahkan peristiwa yang
terjadi pada masa lampau. Hal itu menentukan latar yang juga harus ber-setting pada
masa lampau lengkap dengan konsekuensi faktual-logisnya. Cerita biasanya
mengambil

satu

atau

beberapa

tokoh

utama

yang

digunakan

sebagai

acuanpengembangan alur.
(4) Realisme Olahraga
Realisme Olahraga (sport stories) adalah cerita tentang berbagai hal yang
berkaitan dengan dunia olahraga. Ia dapat berkaitan dengan jenis dan tim olahraga
juga dapat berkaitan dengan dan dipakai untuk menanamkan karakter fairplay,
kejujuran, kedisiplin, kesederajatan, dan lain-lain yang penting untuk pengembangan
diri. Jika dikemas dengan cara-cara menarik, realisme olahrag tidak kalah menarik
dibandingkan dengan cerita yang lain. Karena tak sedikit anak yang mengidolakan
tokoh-tokoh olahraga.
2) Fiksi Formula

24

Genre ini sengaja disebut sebagai fiksi formula yang karena memiliki polapola tertentu yang membedakannya dengan jenis lain. Jenis sastra anak yang dapat
dikategorikan ke dalam fiksi formula adalah cerita misteri dan detektif, cerita
romantis, dan novel serial (Nurgiyantoro, 2005:18). Jenis sastra anak yang
merupakan sub fiksi formula adalah sebagai berikut.
(1) Cerita Misterius dan Detektif
Jenis fiksi formula yang banyak dikenal orang adalah cerita misterius
(mysteries) dan cerita detektif. Cerita misterius dan detektif biasanya dikemas dalam
suatu waktu, lampau, kini atau mendatang. Cerita misteri menampilkan daya
suspense , rasa penasaran, ingin tahu, lewat peristiwa dan tindakan yang tidak
terjelaskan alias masih misterius namun pada akhirnya hal-hal tersebut pasti
diuraikan.
(2) Cerita Romantis
Cerita romantis (Romantic stories) bukan hal yang baru dalam realisme, dan
kini banyak ditulis untuk pembaca muda. Cerita ini biasanyamenampilkan kisah yang
simplisistis dan sentimentalis hubungan laki-laki permpuan, dan itu seolah-olah
merupakan satu-satunya fokus dalam kehidupan remaja.
(3) Novel Serial
Novel serial dimaksudkan sebagai novel yang diterbitka secara terpisah,
namun novel-novel itu merupakan satu kesatuan unit. Novel-novel jenis ini memiliki
beberapa fokus pengorganisasian walau juga dapat bersifat tumpang tindih. Novel
serial memberi kemudahan kempada anaka yangingin secara cepat memahami dan
menikmati cerita.

25

3) Fantasi
Fantasi dapat dipahami sebagai cerita yang menawarkan sesuatu yang sulit
diterima. Cerita fantasi dikembangkan lewat imajinasi yang lazim dan dapat diterima
sehingga sebagai sebuah cerita dapat diterima oleh pembaca. (Nurgiyantoro,
2005:20). Jenis sastra anak yang menjadi sub fantasi adalah sebagai berikut.
(1) Cerita Fantasi
Cerita fantasi (fantasi stories) dapat dipahami sebagai cerita yang
menampilkan tokoh, alur, atau tema yang derajat kebenarannya diragukan, baok
menyangkut (hampir) seluruh maupun sebagian cerita. Cerita Fantasisebenarnya juga
menampilkan berbagai peristiwa dan aksi yang realistik sebagaiman halnya
dalamcerita relaistik, tetapi di dalamnya juga terdapat sesuatu yang sulit diterima.
(2) Cerita Fantasi Tinggi
Cerita fantasi tinggi sangat terasa konflik cerita yang berupa sisi baik dan sisi
jahatnya. Tokoh yang dimunculkan sangat menarik dan meyakinkan pembaca.
Setting yang digunakan luas dan bervariasi namun sering asing dan berbeda dengan
kehidupan kita karena berangkat dari imajinasi seseorang.
(3) Fiksi Sain
Fiksi sain (science fiction) dapat dipahami dalam beberapa pengertian.
Sebagai bagian dari cerita fantasi, fiksi sain kadang-kadang tidak mudah dibedakan
apakah ia murni fantasi atau sain. Sebagai sebuah cerita yang hadir ke pembaca
sebenarnya pembedaan tersebut tidak terlalu penting. Namun, yang jelas, walau telah
diyakini lewat plausibillitas illmiah, fiksi sain tetap saja mengandung unsur
dipertanyakan kebenarannya.

26

4) Sastra Tradisional
Istilah tradisional dalam kesastraan (traditional literature atau folk
literature) menunjukkan bahwa bentuk itu berasal dari cerita yang telah mentradisi,
tidak diketahui kapan mulainya dan siapa penciptanya, dan kisahkan secara turun
temurun secara lisan. Jenis cerita yang dikelompokkan ke dalam genre ini adalah
fabel, dongeng rakyat, mitologi, legenda dan epos (Nurgiyantoro, 2005:22). Sub
sastra tradisional adalah sebagai berikut.
(1) Fabel
Fabel adalah cerita binatang yang dimaksudkan sebagai personifikasi karakter
manusia. Tokoh cerita dalam fabel adalah binatang-binatang yang dapat berperan
layaknya manusia. Cerita fabel secara umum tidak panjang, di dalamnya terdapat
pesan moral yang secara nyata disampaikan di akhir cerita. Pemilihan tokoh binatang
dalam fabel dimksudkan agar pesan moral yang diasampaikan menjadi lebih konkret
disamping pembaca tidak merasa digurui.
(2) Dongeng Rakyat
Dongeng rakyat atau biasa disebut dongeng rakyat merupakan karya sastra
yang diceritakan secara lisan dan turun-temurun. Dongeng pun memuat kandungan
moral yang sangat terlihat jelas sisi baik dan buruknya. Tokoh dalm dongeng bisa
sesama manusia ataupun divariasi dengan makhluk lain seperti binatang dan makhluk
halus.
(3) Mitos
Mitos merupakan cerita masa lampau yang berhubungan dengan dewa-dewa
maupun kehidupan supernatural yang lain. Dimana diseyiapa negsr memiliki

27

karakteristik mitos yang berbeda. Mitos biasanya menampilkan cerita tentang


kepahlawanan, asla-usul alam, manusia atau bangsa yang dipahami memiliki
kekuatan suci.
(4) Legenda
Legenda sering dirancukan dengan mitologi dengan mitologi. Betapapun
demikian ciri khas legenda adalah terdapat kaitan dengan kebenaran sejarah dan
kurang berkaitan dengan masalah supranatural.
(5) Epos
Epos merupakan sebuah cerita panjang yang berbentuk syair (puisi) dengan
pengarangnya yang tidak pernah diketahui. Iepos menceritakan kisah kepahlawanan
seorang tokoh hero. Cerita epos sarat dengan ajaran morsl ksrena aksi-aksi tokoh
yang hebat, dan berani layakna seebagai pahlawan yang ideal baik fisik maupun
moral.
5) Puisi
Puisi merupakan karya sastra yang mendayakan unsur bahasa untuk mencapai
efek keindahan. Untuk puisi anak, kesederhanaan bahasa haruslah tetap menjadi
perharian tersendiri dan kadang-kadng keindahan puisi justru terletak pada
kesederhanaannya. Genre puisi anak dapat berupa puisi lirik tembang-tembang anak
tradisional, lirik tembang tradisional, atau lirik tembang ninabobo, puisi naratif, dan
puisi personal. (Nurgiyantoro,2005:27).
6) Nonfiksi
Bacaan nonfiksi yang sastra ditulis secara artistik sehingga jika dibaca oleh
anak, anak akan memperoleh pemahaman dan sekaligus kesenangan. Ia akan

28

membangkitkan pada diri anak perasaan keindahan yang berwujud efek emosional
dan intelektual. Bacaan nonfiksi dapat dikelompokkan ke dalam subgenre buku
informasi dan biografi (Nurgiyantoro,2005:28). Buku nonfiksi dikelompokkan
menjadi dua sub, yakni sebagai berikut.
(1) Buku informasi
Buku informasi memuat informasi, fakta, konsep, hubungan antar fakta dan
konsep dan lain-lain yang mampu menstimulan keingintahuan anak atau pembaca.
Dari aspek bahasa buku nonfiksi tetap memperhatikan bahas figurati, diksi, citraan
dan stile yang dihadirkan.
(2) Biografi
Jika buku-buku informasional biasanya memiliki standart yang hampir sama,
biografi lain penulis lain pula bentuk dan isinya. Biografi adalah buku yang berisi
riwayat hidup seseorang , tentu saja tidak senua aspek kehidupan dan peristiwa
dikisahkan, melainkan dibatasi pada hal-hal tertentu yang dipandang perlundan
menarik untuk diketahui orang lain.