Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode penelitian menggambarkan tentang pendekatan, tipe, jenis
suatu penelitian. Terdapat beberapa jenis penelitian kualitatif yang dapat
dilakukan dalam bidang pendidikan, sosial, manajamen, ekonomi, hukum,
politik dan filsafat sesuai dengan masalah yang dikaji, adapun jeis
pendekatan kualitatif, seperti pendekatan fenomenologi, penelitian sejarah,
studi kasus (case study), penelitian grounded teori, penelitian etnografi
dan penelitian tindakan.
Penelitian kualitatif dilakukan dalam bentuk siklus atau melingkar,
bukan linier seperti kuantitatif. Penelitian kualitatif dimulai dari
menentukan atau memilih suatu proyek penelitian, kemudian dilanjutkan
dengan pertanyaan penelitian yang berhubungan dengan masalah
penelitian, setertusnya peneliti mengumpulkan data dengan membuat
catatan lapangan sambil menganalisis data. Proses ini berulang-ulang
beberapa kali sehingga pertanyaan penelitian mendapat jawaban dan dapat
dibuat kesimpulan penelitian.
Menurut Sudjarwo (2001) pendekatan penelitian kualitatif harus
memiliki prinsip yaitu peneliti harus menjadi partisipan yang aktif
bersama objek yang diteliti, Di sini diharapkan peneliti mampu melihat
sesuatu fenomena dilapangan secara struktural dan fungsional. Maksud
struktural disini adalah peneliti harus melihat fenomena sosial dengan
tidak melepaskan diri dari struktur bangun yang ada kaitannya dengan
struktur lainnya. Sedangkan fungsional, adalah peneliti harus mampu
memahami suatu fenomena dari pandangan fungsinya dengan fenomena
lainnya atau responden.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis-jenis penelitian kualitatif?
2. Bagaimana langkah-langkah yang digunakan dalam setiap jenis-jenis
penelitian kualitatif?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui jenis-jenis penelitian kualitatif.
2. Mengetahui penjelasan tentang langkah-langkah yang digunakan
dalam setiap jenis penelitian kualitatif.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Jenis-Jenis Penelitian Kualitatif
1. Studi Kasus (Case Studies)
a. Pengertian
Penelitian kasus adalah suatu proses pengumpulan data dan
informasi secara mendalam, mendetail, intensif, holistik, dan
sistematis tentang orang, kejadian, social setting (latar soaial), atau
kelompok dengan menggunakan bermacam metoda dan teknik serta
banyak sumber informasi untuk memahami secara efektif bagaimana
orang, kejadian, latar alami (social setting) itu beroperasi atau
berfungsi sesuai dengan konteknya.
Sehubungan dengan itu Stake (dalam Denzin, 1994),
mengemukakan tiga tipe penelitian kasus yaitu:
-

Studi kasus intrinsik


Studi kasus intrinsik dilaksanakan apabila penelitian ingin
memahami lebih baik tentang suatu kasus biasa, seperti sifat-sifat,
karakteristik atau masalah individu. Peranan peneliti tidak untuk
mengerti atau menguji abstrak teori atau mengembangkan penjelasanpenjelasn baru secara teoritis. Ini berarti juga bahwa perhatian terfokus
dan ditunjukan untuk mengerti lebih baik sapek-aspek intrinsik dari
suatu kasus, seperti anak-anak, kriminal, pasien dsbnya.

Studi kasus intrumental


Studi kasus intrumental digunakan apabila peneliti ingin
memahami atau menekankan pada pemahaman tentang suatu isu atau
merumuskan kembali (redefine) suatu penjelasan secara teoritis. Studi
kasus tipe ini adalah sebagai instrumen, sebagai penolong untuk
menjelaskan kembali konsep, kejadianatau peristiwa secara teoritis,
dan kejadian aktual bukan sesuatu yang sangat esensial.

Studi kasus kolektif


Studi kasus kolektif merupakan studi beberapa kasus
instrumental (bukan melalui sampling) dan menggunakan beberapa
intrumen serta sejumlah peneliti sebagai suatu tim. Hal itu
dimaksudkan untuk lebih mengerti tentang suatu isu atau memperkaya
kemampuan teori tentang sesuatu, dalam konteks yang lebih luas.
Kalau ditinjau dari segi rancangan penelitian, penelitian kasus
dapat pula dibedakan dalam empat klasifikasi, yaitu (1) studi kasus
ekploratori/penjajakan, (2) studi kasus deskriptif, (3) studi kasus yang
bersifat menginterpretasikan, menguji atau menerangkan dan (4) studi
kasus yang bersifat evaluatif; sedangkan Yin (1994) membagi desain
penelitian kasus yang bersifat atas dua klasifikasi, yaitu (1) disain
kasus tunggal (single case design) dan (2) disain multi kasus (multy
case design).
Beberapa ciri utama yang terdapat dalam penelitian kasus:
a) Penelitian kasus merupakan suatu tipe penelitian yang mengkaji
secara mendalam mengenai suatu unit (particularistic).
b) Penelitian kasus membutuhkan waktu yang realif lebih lama
dibandingkan dari penelitian historis.
c) Penelitian kasus bersifat deskriptif.
d) Penelitian kasus bersifat heuristik artinya dengan menggunakan
penelitian kasus dapat menjelaskan alasan-alasan untuk masalah
atau isu (apa yang terjadi, mengapa terjadi dan bagaimanan
kejadiannya).
e) Penelitian kasus berorientasi pada disiplin ilmu.

b. Langkah-langkah dalam Penelitian Kasus


4

Dalam melakukan penelitian kasus ada beberapa langkah utama


yang perlu mendapat perhatian:
a) Tentukan masalah yang akan diteliti dan rumuskan tujuan yang
b)
c)
d)
e)

akan dicapai secara jelas.


Rumusan kasus yang akan dipelajari.
Tetapkan peran teori dalam penelitian kasus.
Tentukan karangka penelitian kasus secara konseptual dan teoritis.
Tetapkan secara jelas, bentuk/tipe penelitian kasus yang akan

dilakukan.
f) Tetapkanlah cara pendekatan yang akan digunakan.
g) Persiapan pengumpulan data.
h) Pengumpulan data dilakukan sesuai dengan rancangan menurut
unit kegiatan yang telah ditetapkan.
i) Data-data yang telah dikumpulkan dievaluasi dan diorganisasikan
menjadi rekontruksi unit studi yang koheren serta dianalisis sejak
awal kegiatan.
j) Susunlah laporan penelitian dengan menghindarkan bias dari
pribadi peneliti.
Pada saat akan memilih metodelogi yang akan digunakan
peneliti perlu memperhatikan: (1) Pertanyaan penelitian, (2) Tujuan
penelitian, (3) Kepercayaan dan nilai-nilai (Beliefs dan values) peneliti,
(4) Keterampilan peneliti serta (5) Waktu dan biaya.
2. Grounded Theory Methodology
a. Pengertian
Grounded Theory Methodology adalah suatu metodologi umum
untuk mengembangkan teori melalui penelitia kualitatif yang
dilakukan secara sistematis dan mendasar. Teori dibangun berdasarkan
data yang dikumpulkan tentang suatu fenomena yang menjadi fokus
penelitian. Para ahli/peneliti membangun teori secara induktif dari
penelitian fenomena yang tampak dilapangan.
Teori perlu disusun berdasarkan logika yang konsisten, jelas
masalah dan rumusannya serta mengikuti pola dan proses yang benar,
dan bukan hasil berpikir deduktif.

Rancangan ini memiliki dua karakteristik utama, yaitu:


1) Perbandingan yang konstan antara data dan kategori-kategori
yang muncul.
2) Pengambilan contoh secara teoretis (teoretical sampling) atas
kelompok-kelompok yang berbeda untuk mamaksimalkan
kesamaan dan perbedaan informasi.
b. Langkah-langkah Grounded Theory Methodology
Langkah-langkah

model

penelitian

Grounded

Theory

Methodology, mengikuti pola kualitatif pada umumnya. Selama


penelitian, konsep teori yang disusu, diuji kembali dan dimana perlu
direvisis atau disempurnakan kembali, melalui bermacam revisi dan
perbaikan atau penyempurnaan dengan menggunakan data yang
akurat, melalui analisis komparatif dan situasi serta kelompok yang
tepat untuk menguji atau menemukan teori.
Secara sederhana langkah-langkah pengembangan adalah
sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Perumusan masalah
Mendeteksi fenomena lapangan
Penurunan/penyusunan konsep teori
Pengembangan teori
Rekonstruksi teori

Analisis komparatif adalah salah satu cara yang strategis dan sering
digunakan para ahli berbagai cabang ilmu-ilmu sosial untuk menemukan
suatu maupun teori, melalui verifikasi dan pengkategorian secara
konseptual sehingga mendapat perhatian, bahwa dalam analisis komparatif
perlu menetapkan keadaan umum suatu fakta, sehingga jelas batasannya.
Dalam

Grounded Theory Methodology, pertanyaan penelitian

merupakan suatu pernyataan ilmiah yang akan terus dikembangkan,


dimodifikasi atau dipertajam selama dilapangan sedangkan sampel
dimaksudkan untuk mengembangkan dan mempertajam rumusan teori.
Oleh karena itu pemilihan sampel bukan dimaksudkan untuk mengadakan
generalisasi, tetapi adalah untuk memperkaya dan memantapkan
6

penemuan teori berdasarkan data tepat dan benar. Karena itu, perlu
diupayakan seminimal mungkin perbedaan kelompok sehingga secara
maksimal dapat menggiring kepada:
(1) pembuktian kegunaan kategori,
(2) menghasilkan sifat-sifat dasar,
(3) menetapkan kategori/kondisi-kondisi

tingkatan

(degree

category).
Dari beberapa pandangan para pakar penelitian grounded theory
ada beberapa langkah-langkah seorang peneliti melakukan penelitian
grounded theory, yaitu:
1) Peneliti harus bisa memahami atau memiliki gambaran sifat-sifat
realitis empiris (lapangan);
2) Permulaan peneliti dimulai dengan suatu pertanyaan dasar mengenai
dunia empiris yang dimasuki di lapangan;
3) Peneliti harus menetapkan data apa yang akan diambil dan dengan
teknik/metode apa peneliti menggelutinya;
4) Peneliti harus eksplorasi (menjelajahi) di dalam proses menjelajahi,
peneliti mengamati dan mewawancarai berbagai tipe orang untuk
memperoleh informasi mengenai segala sesuatu yang berhubungan
dengan masalah yang diteliti;
5) Peneliti harus mampu melakukan Inspection (pemeriksaan) di dalam
proses inspection, pada hakekatnya seseorang peneliti memberi
penjelasan (clarify) artinya kita mengemukakan sifat-sifat (property)
dari kategori-kategori itu dari berbagai segi secara cermat dan
mendalam;
6) Peneliti harus mampu mengadakan analisis dan menyusun secara
sistematis;
7) Peneliti harus mampu merekonstruksi penemuan untuk bangunan baru
hipotesis baru.
3. Penelitian Historis (Historical Research)
a. Pengertian
Penelitian historis merupakan salah satu tipe dan pendekatan
dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk merekonstruksi
kembali secara sistematis, akurat dan objektif kejadian atau peristiwa

yang pernah terjadi dimasa lampau dengan menggunakan pendekatan


normatif dan interpretatif.
Cohen
menggunakan

(1990)
tipe

menyatakan

penelitian

bahwa,

historis

apabila

berarti

ia

seseorang
melakukan

penyelidikan, penilaian, mensintesakan bukti-bukti dan menetapkan


fakta-fakta dan mengambil kesimpulan yang tepat tentang objek yang
telah terjadi di masa lampau.
Tujuan menggunakan tipe penelitian historis, dimaksudkan
agar:
a) seseorang menyadari apa yang terjadi dimasa lampau sehingga
seseorang dapat belajar dari kegagalan dan keberhasilan masa
lampaunya.
b) belajar bagaimana sesuatu dikerjakan dimasa lampau dan
melihat kemungkinan apakah hal itu masih merupakan suatu
kepedulian dan dapat digunakan dewasa ini.
c) membantu seseorang dalam membuat prediksi.
d) menguji hipotesis hubungan kecenderungan-kecenderungan.
Beberapa cici-ciri khusus penelitian historis adalah sebagai
berikut:
a) Penelitian historis lebih banyak tergantung pada data yang
ditulis, dicatat atau diobservasi oleh orang lain dari pada yang
diobservasi oleh peneliti sendiri.
b) Berlainan dengan anggapan populer, peneliti historis haruslah
tertib, ketat, sistematis dan tuntas.
c) Penelitian historis tergantung pada dua macam data: primer dan
sekunder.
d) Untuk menentukan nilai data, biasanya dilakukan dua macam
kritik, yaitu kritik eksternal dan internal.
e) Meskipun penellitian historis mirip dengan penelaahan
kepustakaan, mendahului rancangan penelitian yang lain,
namun pendekatan historis lebih tuntas, mencari informasi dari
sumber yang lebih luas.

Beberapa kelemahan penelitian historis yang selalu menjadi


sorotan adalah sebagai berikut:
a) Problem/masalah dinyatakan terlalu luas.
b) Kecenderungan menggunakan cara yang mudah, dengan
mengambil data dari sumber kedua.
c) Kritik Internal maupun eksternal kurang dilakukan secara tajam
dan tepat akan dilakukan.
d) Kegagalan dalam menginterpretasikan kata-kata dan ekspresi
dalam konteks yang diterima sesuai dengan keadaan semula
(periode terdahulu pada saat berlangsungnya kejadian itu).
e) Kegagalan dalam membedakan fakta-fakta yang berarti dalam
satu situasi itu sehingga kadang-kadang menjadi fakta yang
tidak relevan dan tidak penting.
f) Pelaksanaan penelitian dipengaruhi oleh bias pribadi peneliti
tersebut, sehingga menumpulkan interpretasi dari yang
seharusnya.
g) Karena banyaknya fakta yang dikumpulkan, maka laporan yang
disusun hanya merupakan kumpulan fakta-fakta yang banyak
dan bukan menampilkan sintesa ke dalam generalisasi yang
berarti.
h) Sering juga terjadi analisis yang terlalu berlebihan yang kurang
didukung oleh bukti-bukti yang cukup atau terjadinya analogi
yang salah atau konklusi yang dibuat.
Disamping

kelemahan-kelemahan

tersebut

diatas,

penelitian historis mempunyai pula beberapa keuntungan:


a) Topik yang ingin diteliti tidak dapat diungkapkan melalui tipe
penelitian yang lain.
b) Penelitian historis memungkinkan untuk penggunaan cara yang
berbeda-beda dan menunjukkan bukti-bukti yang lebih
bervariasi.
c) Dapat menyadarkan

seseorang

atau

sekurang-kurangnya

membuat seseorang mengetahui tentang kejadian apa yang


terjadi dimas lampau, serta memungkinkan seseorang dapat
belajar dari keberhasilan dan kegagalan masa lampau itu.

d) Dapat membantu dalam memprediksi untuk masa datang.


e) Dapat lebih memahami dan mengerti tentang kebijakasanaan
dan

praktik

kehidupan

yang

sedang

terjadi

dengan

memperhatikan akar kehidupan dan keadaan masa lampau.


Contoh: Penelitian tentang kapan berdirinya sekolah sehingga
dapat menentukan hari ulang tahun, penelitian tenteng bagaimana
manajemen pembuatan kurikulum berbasis kompetensi sehingga tidak
bisa berjalan dengan efektif dan efisien.
b. Langkah-langkah Penelitian Historis
Dalam penelitian historis ada beberapa langkah yang perlu
diikuti. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
a) Definisikan dan rumuskan masalah yang akan diteliti secara
tepat.
b) Pada kegiatan berikutnya pertimbangkanlah apakah penelitian
historis merupakan cara terbaik untuk memecahkan masalah
tersebut.
c) Rumuskan tujuan penelitian dan jika mungkin dirumuskan pula
pertanyaan penelitian yang akan membimbing atau memberi
arah penelitian itu.
d) Tetapkan sumber informasi yang relevan dan sahih.
e) Kumpulkan data dengan selalu mengingat sumber data primer
dan sekunder.
f) Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik internal
dan eksternal.
g) Tuliskan laporan yang mencakup pertanyaan masalah, reviu
sumber materil, pernyataan asumsi, hipotesis, cara mentes
hipotesis, penemuan yang ada, interpretasi dan kesimpulan
serta bibliografi.
Disamping penelitian historis ada pula historiography, yang
bukan hanya sekedar menceritakan kembali fakta-fakta dari masa
lampau, melainkan merekonstruksi masa lampau secara naratif,
benar dan teliti dari beberapa sumber informasi atau data, dan

10

melakukan analisis data secara baik dan benar sehingga


menemukan

bukti-bukti

empiris

yang

representatif

serta

penggambaran masa lampau dalam konteks sosiologis yang


sesungguhnya. Dalam kaitan itu ada 4 cara menemukan bukti-bukti
historis:
Pertama

: sumber primer

Kedua

: sumber sekunder

Ketiga

: catatan-catatan yang sedang berjalan

Keempat

: pengumpulan kembali

4. Fenomenologi (Phenomenology)
a. Pengertian
Phenomenology (Inggris) berasal dari Phainomenon dan
logos (Yunani). Phainomenon berasal dari kata phaenoo yang
berarti membuat kelihatan atau membuat tampak. Secara umum
phaenomenon berarti tampak atau memperlihatkan. Logos adalah ilmu,
atau ucapan. Dengan demikian phenomenologi dapat diartikan ilmuilmu tentang fenomena-fenomena yang menampakkan diri dari
kesadaran peneliti. Dalam arti luas fenomenologi adalah ilmu tentang
gejala-gejala atau hal-hal apa saja yang tampak.
Beberapa karakteristik penelitian fenomenologi adalah sebagai
berikut:
1) Tidak berasumsi mengetahui apa makna sesuatu bagi manusia
yang akan diteliti, mereka mempelajari sesuatu itu (Douglas,
1976).
2) Memulai

penelitian

dengan

keheningan/diam,

untuk

menangkap makna yang sesungguhnya dari apa yang diteliti


(Psathas, 1973).
3) Menekankan aspek-aspek subjektif dari tingkah laku manusia;
penelliti mencoba masuk di dalam dunia konseptual subjek
agar mengerti bagaimana dan apap makna yang mereka

11

konstruk di sekitar peristiwa-peristiwa dalam kehidupan seharihari mereka (Geertz, 1973).


4) Ahli fenomenologi mempercayai bahwa dalam kehidupan
manusia

banyak

cara

yang

dapat

digunakan

untuk

menginterpretasikan pengalaman manusia, melalui interaksi


seseorang dengan orang lain dan ini merupakan makna
pengalaman realita (Greene, 1978). Sebagai konsekuensinya,
realita dikonstruksi secara sosial.
5) Semua cabang penelitian kualitatif menyakini bahwa untuk
memahami subjek adalah dengan melihatnya dari sudut
pandang mereka sendiri. Walaupun demikian fenomenologi
tidak se radikal itu. Mereka menekankan subjektif, tetapi
mereka tidak menyangkal, bahwa realita di luar sana ada
yang mendesak-desak dan menolak manusia, mampu menolak
tindakan ke arah itu (Blunner, 1980). (Dalam Bogdan dan
Biklen, 1982).
Penelitian fenomenologi menggunakan interaksi simbolik
(simbolic interaction) sebagai pilar utama dalam kerja penelitiannya.
Diawali dari kerja John Dewey yang mulai mengembangkan perspektif
ini,

dan

dilanjutkan

oleh

George

Herbart

Smith

yang

memformulasikan salam konstruk : Mind. Self dan Society.


Beberapa konsep dan bentuk kerja

yang perlu menjadi

perhatian dalam mengunakan inteaksi simbolik dalam penelitian


fenomenologi adalah sebagai berikut:
1) Interaksi simbolik berasumsi bahwa pengamalan manusia di
mediasi oleh interpretasi (Blumer, 1969).
2) Objek manusia dan situasi tidak memiliki makna mereka
sendiri lebih dari makna yang dianugrahkan oleh manusia,
objek dan peristiwa-peristiwa itu sendiri.
3) Interprestasi bukan suatu tindakan autonomi, tidak ditentukan
oleh tenaga atau manusia atau sebaliknya, namun seseorang

12

dapat menginterpretasikan sesuatu melalui interaksi dengan


pertolongan orang lain.
4) Dalam fenomenologi, interaksi adalah sesuatu yang esensial.
5) Teori bukan aturan dan regulasi, norma dan sistem kepercayaan
dalam masyarakat.
6) Hal lain yang perlu menjadi perhatian dalam teori interaksi
simbolik adalah kontruk diri (self).
Tiap tipe mempunyai sasaran yang berbeda, walaupun samasama mencari makna dan mendeskripsikan sesuatu. Khusus tipe
fenomenologi dapat menjadi pilihan apabila dipenuhi kriteria-kriteria
sebagai berikut:
1) Ingin memberikan, menggambarkan atau mendeskripsikan
interaksi manusia baik sebagai individu maupun sebagai
kelompok yang menggunakan alat, tanda atau simbol dalam
berkomunikasi.
2) Tujuan penelitian yang akan diungkapkan bersifat mikrosubjektif.
3) Fokus pada hubungan historis, fungsional, teleologis, dialektis
dan religius.
4) Masalah yang ingin diungkapkan berkaitan dengan hubungan
manusia dalam strata psikis, biotis dan human bersifat asli dan
berguna serta bermanfaat untuk pengembangan ilmu dan
pengetahuan dan masyarakat ilmiah.
Contoh: Penelitian untuk mengungkapkan pelaku teroris di
Indonesia, Faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak remaja
mengkonsumsi NARKOBA, penelitian untuk menemukan metode
yang paling efektif untuk anak yang berasal kalangan kelas bawah.
b. Langkah-langkah Penelitian Fenomenologi
Dalam penelitian fenomenologi, seperti juga penelitian
kualitatif yang lain tidaklah selaku penelitian kuantitatif. Disain lebih
fleksibel dan mungkin juga berubah pada waktu di lapangan

13

seandainya ditemukan hal=hal baru dan prinsipil. Diantara langkahlangkah yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut:
1) Temukan fenomena penelitian yang wajar diteliti melalui
penelitian kualitatif.
2) Analisis fenomena tersebut apakah cocok diungkap melalui
fenomenologi.
3) Tentukan subjek yang diteliti dan konteks yang sesungguhnya.
4) Pengumpulan data ke lapangan.
5) Pembuatan catatan, termasuk photo.
6) Analisis data.
7) Penulisan laporan.
5. Etnometodologi (Ethnomethodology)
a. Pengertian
Anne Rawls (editor of Grafinkels Nachlass), menyatakan
bahwa kata etnometodologi dapat dirinci menjadi : Ethno, dan Method
serta ology. Ethno menunjuk kepada anggota-anggota kelompok
sosial atau budaya, sedangkan method dapat diartikan sebagai cara
atau metode yang digunakan untuk memahami tindakan sosial dan
praktik social sehingga dapat dikenali. Sedangkan Ology, sebagai
bagian dari kata Sosiologi, yang dapat dimaknai dengan studi
mengenai. Oleh karena itu etnometodologi dapat diartikan sebagai :
studi mengenai cara-cara anggota masyarakat (kumunitas) memahami
kegiatan-kegiatan sosial mereka sehari-hari.
Ethnometodologi dalam strategi penemuan didasarkan pada
keadaan sehari-hari, atau aktivitas dan interaksi sosial yang bersifat
rutin, dengan mengunakan seseorang individu dalam masyarakat
berbuat, bertindak, berkreasi serta memahami hidup keseharian
mereka.
Menurut George Psathas (Psathas:1995:139-155) ada 5 (lima)
tipe studi etnometodologi yang dapat diidentifikasi, yaitu:
1) Pengorganisasian tindakan praktik maupun penalaran praktik.
2) Pengorganisasian percakapan dalam interaksi, seperti analisis
percakapan.

14

3) Interaksi dan percakapan dalam setting lembaga atau organisasi


4) Studi mengenai kegiatan-kegiatan sosial dalam bekerja.
5) Studi tentang apa yang membuat suatu aktivitas/kerja, bekerja
seperti sesuatu tes, mentes.

Beberapa keuntungan ethonomethologi adalah sebagai berikut:


1) Longitudinal
Tipe penelitian ini dapat di disain secara longitudinal, sehingga
memungkinkan untuk menemukan hasil penelitian yang lebih
dipercaya.
2) Mempelajari tingkah laku nonverbal sma baiknya dengan verbal
Ethonomethodologi lebih menekankan pada analisis percakapan
(verbal dan nonverbal) sehingga betul-betul dapat dipahami
bagaimana sumber informasi membuat pengertian tentang suatu
pertanyaan dan mengapa mereka berbuat seperti cara yang mereka
lakukan.
3) Etnomethodologi

menyediakan

suatu

pemahaman

bahwa

konstistensi yang lebih baik dicapai dengan mengikuti akal sehat.


Di samping keuntungan yang telah dikemukakan,
ethometodologi mempunyai pula beberapa kekurangan, yaitu:
1) Produk
Ethometodologi tidak baik dipilih dan digunakan kalau
seseorang tertarik untuk mempelajari beberapa produk sosial
sekaligus.
2) Kurang cocok digunakan untuk mempelajari skala yang lebih
luas
Berhubungan karena ethometodologi menekankan penemuan
makna melalui proses interaksi yang sesungguhnya maka
penelitian ethometodologi tidak dapat dilakukan dalam skala
yang luas, seperti penarikan sampel dan populasi dalam
penelitian kuantitatif.
b. Langkah-langkah Penelitian Etnometodologi
Secara sederhana langkah-langkah penelitian etnometodologi
adalah sebagai berikut:
1) Masalah/fenomena interaksi sosial
15

2) Verifikasi dan pengumpulan data


3) Analisis data
4) Penyusunan laporan
6. Etnografi (Ethnography)
a. Pengertian
Ethnography merupakan gabungan dari dua kata, yaitu ethno
atau graphic. Ethno berarti orang atau anggota-anggota kelompok
sosial atau budaya, sedangkan graphic berarti tulisan atau catatan.
Etnografi merupakan suatu bentuk penelitian yang berfokus pada
makna sosiologis dari individu dan konteks sosial budayanya yang
dihimpun melalui observasi lapangan sesuai dengan fokus penelitian.
Oleh karena itu penelitian Etnografi merupakan penelitian ilmu
sosial dan digunakan:
a) Mengetahui

bagaimana,

apabila

dan

mengapa

orang

berkelakuan seperti itu pada saat mereka berinteraksi dengan


yang lain dalam suatu setting/situasi tertentu, umpama interaksi
sosial.
b) Memahami suatu fenomena yang terjadi dalam setting kejadian
yang alami.
c) Mengetahui mengapa orang berbuat seperti itu pada periode
waktu yang telah berlalu itu.
d) Mengetahui informasi/data yang mendukung pemahaman
orang sehingga mengerti tentang masyarakat lebih kompleks.
e) Mengungkap masalah dengan fokus natural/alami atau kejadian
sesungguhnya dalam natural setting, sehingga dapat memahami
lebih baik tingkahlaku yang tersembunyi (hidden) atau latent
dari pada orang, sikap, maupun perasaannya.
f) Menggunakan cara-cara pengumpulan data yang lebih banyak
dan bervariasi (multimethod).

16

b. Langkah-langkah Penelitian Etnografi


Seperti juga jenis penelitian kualitatif yang lain, langkahlangkah penelitian ethnografi secara umum adalah sebagai berikut:
1) Identifikasi dan pemilihan suatu masalah serta penentuan fokus
2)
3)
4)
5)
6)

etnografi
Mendesain setting dan kegiatan etnografi
Pengumpulan data
Membuat catatn mendetail
Analisis data dan model interaksi
Menulis etnografi

Secara spesifik Sekuen Penelitian Maju Bertahap (Developmental


Research Sequence) Ethnografi dikembangkan Spradley (1979), adalah
sebagai berikut:
1) Menetapkan informan
Banyak orang yang dapat jadi informan, namum tidak
semuanya dapat menjadi informan yang baik. Oleh karena itu peneliti
perlu menentukan informan kunci terlebih dahulu sesuai fokus
penelitian yang telah direncanakan yaitu individu yang mampu
memberikan informasi yang tepat dan benar, serta produktif. Suatu hal
yang perlu diingat bahwa hubungan uyang harmonis, supel dan setara
dengan informan akan membantu kegiatan pada langkah selanjutnya.
2) Melakukan wawancara terhadap informan
Dalam hal melakukan wawancara terhadap informan perlu
disikapi dengan baik, sebab pola wawancara akan menentukan
keterungkapan informasi yang khas sesuai dengan kondisi masingmasing informan, tempat dan kegiatan. Semua peristiwa percakapan
mempunyai aturan budaya:sejak memulai, selama percakapan, maupun
mengakhiri percakapan/ wawaancara.
3) Menbuat catatan etnografis

17

Sebelum melakukan kontak dengan informan, peneliti telah


mempunyai kesan pengamatan tentang informan. Catatlah informan itu
dengan baik yang akan memberikan makna penting pada penulisan
etnografis. Hali ini akan diwarnai oleh bahasa yang digunakan peneliti
dan bahasa informan sendiri. Kemudian dilajutkan dengan membuat
catatan secara harfiah apa yang dikatakan informan dan masyarakat.
Sebaiknya gunakan alat perekam, namun perlu berhati-hatian dalam
penggunaannya sehingga tidak mengganggu percakapan/wawancara.
4) Mengajukan pertanyaan deskriptif
Tujuan melakukan wawancara etnografis dengan mengajukan
berbagai pertanyaan deskriptif untuk memperoleh informan, sejalan
dengan itu juga untuk mengembang hubungan antara peneliti dan
informan. Oleh karena itu bangunlah hubungan yang harmonis dengan
informan dan pada saatnya informasi akan mengelinding pula secara
bebas. Dengan kata lain pengajuan pertanyaan deskriptif hendaklah
berawal dari diri informan sendiri. Sebagai pijakan awal, peneliti dapat
membuat pertanyaan dari jawaban-jawaban informan, pada saat
informan berbicara sesama mereka.
5) Melakukan analisis wawancara etnografis
Seperti disinggung sebelumnya, dalam penelitian kualitatif
tidak ada yang final sejak awalnya, walaupun data itu dikumpulkan
pada waktu akan turun ke lapangan. Data yang sudah terkumpul
sebelumnya melalui wawancara, dianalisis dengan baik. Berdasarkan
hasil nanalisis awal itu dilanjutkan dengan wawancara berikutnya, dan
seterusnya.
6) Membuat analisis domain
Domain merupakan unit analisis pertama dan terpenting dalam
penelitian etrnografi. Andaikan unit analisis pertama (analisis domain)
kurang tepat, maka hasil tersebut akan memberi dampak yang kurang

18

baik pula terhadap kegiatan-kegiatanyang diambil pada langkahlangkah berikutnya. Analisis domain merupakan peyelidikan terhadap
unit-unit pengetahuan budaya yang lebih besar dan ditunjukan
untukmendapatkan gambaran umum dan menyeluruh dari objek
penelitian etnografi. Analisis domain merupakan percarian makna
budaya, sedangkan makna budaya diciptakan dengan menggunakan
simbol-simbol (termasuk bahasa sebagai simbol), dan simbol-simbol
digunakan dalam wawancara informan dengan peneliti.
7) Mengajukan pertanyaan struktural
Alur kegiatan selanjutnya dalam penelitian etnografi adalah
mengajukan pertanyaan struktural. Hal ini dimaksudkan untuk menguji
kategori-kategori domain serta menemukan istilah-istilah tercakup
(included term) yang lain.
8) Membuat analisis taksonomi
Membuat analisis taksonomi dilakukan dengan menjabarkan domain
yang dipilih menjadi lebih rinci, untuk mengetahui struktural internal
yang terdapat dari domain itu. Analsis taksonomi mendorong
penemuan-penemuan subset-subset dan hubungan diantara subsetsubset tersebut.
9) Mengajukan pertanyaan kontras
Pertanyaan kontras dalam penelitian etnografi dimaksudkan
untun memperoleh perbedaan-perbedaan diantara berbagai istilah asli
dari orang yang diteliti dan juga untuk mendapatkan berbagai
hubungan yang tersembunyi diantara berbagai istilah asli dari orang
diteliti yang telah dikumpulkan. Pertanyaan-pertanyaan kontras
tersebut banyak bentuknya, antara lain: pertanyaan kontras pembuktian
perbedaan, pertanyaan perbedaan langsung, pertanyaan perbedaan
diadik, pertanyaan perbedaan langsung memilih rangkaian kontras,
permainan dua puluh pertanyaan dan pertanyaan rating.

19

10) Membuat analisis komponensial


Analisis

komponensial,

merupakan

pencarian

sistematis

berbagai atribut komponensial, budaya yang berhubungan dengan


simbol-simbol budaya. atau dapat juga dimaknai sebagai cara mencari
ciri-ciri spesifik pada setiap struktural internal dengan cara
mengkontraskan antar elemen.
11) Menentukan tema-tema budaya
Menentukan tema budaya dilakukan degan melebur diri
(peneliti) berjam-jam mendengarkan informan sampai selesai dan
membuat inventarisasi daftar domain budaya yang terindentifikasi
maupun

yang

tidak

terindentifikasikan,

melakukan

analisis

komponensial, mencarikemiripan diantara berbagai kongras, mencari


dan mengidentifikasidomain yang mengatur serta mencari tema-tema
universal.
12) Menulis etnografi
Penulisan etnografi sebagai produk suatu penelitian pada
prinsipnya adalah mengkomunikasikan makna temuan kepada
pembaca. Untuk itu penulisan harus menarik perhatian pembaca
dengan tidak mengabaikan makna temuan yang terdapat dalam
keseluruhan struktural suatu kebudayaan.

BAB III
PENUTUP

20

Kesimpulan:
Beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Studi Kasus (Case Studies)


Grounded Theory Methodology
Penelitian Historis (Historical Research)
Fenomenologi (Phenomenology)
Etnometodologi (Ethnomethodology)
Etnografi (Ethnography)

DAFTAR PUSTAKA

21

Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada (GP


Press)
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R & D. Bandung :
ALFABETA CV
Yusuf, A Muri. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian
Gabungan. Padang : UNP Press

22